• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II STUDI PUSTAKA

2.1 Tinjauan Objek Perancangan

2.1.3 Tinjauan Arsitektural Objek Perancangan

Rancangan Monumen Pelabuhan Sunda Kelapa ini merupakan tempat masyarakat mengenang dan mengingat kembali memori tentang kejayaan Pelabuhan Sunda Kelapa. Sesuai dengan fungsi-fungsi yang mewadahinya, rancangan Monumen Pelabuhan Sunda Kelapa mempunyai 3 fungsi utama, yaitu konservasi, edukasi, dan rekreasi juga disertai dengan fasilitas-fasilitas penunjang.

a. Fungsi Konservasi

Fungsi konservasi pada rancangan ini adalah tempat untuk melestarikan, melindungi, dan memelihara lokasi bersejarah. Dalam fungsinya sebagai tempat konservasi dari monumen pelabuhan, rancangan Monumen Pelabuhan Sunda Kelapa memiliki fasilitas berupa bangunan monumental yang terdapat galeri ekshibisi dan auditorium di dalamnya.

1. Bangunan Monumental

Bangunan monumental adalah suatu bangunan yang merupakan suatu hasil perwujudan dari fungsi-fungsi tertentu yang mencerminkan kesan-kesan atau nilai-nilai keagungan, kemegahan, kebesaran, kekuasaan, dan sebagainya yang mana ekspresi monumental ditampilkan lewat bentuk bangunan maupun penataan tapak.

Suatu bangunan monumental dapat digambarkan sebagai perwujudan suatu

sculpture. Suatu struktur yang berdiri sendiri cenderung menjadi sculpture. Bila ada

dua struktur maka diantara kedua struktur tersebut timbul daya pengaruh yang saling timbal balik. Bila terdapat banyak struktur dalam satu grup, maka perencanaan menjadi kompleks, dan ruang luar di antara struktur-struktur tersebut cenderung menjadi ruang (Supriyadi, 2004).

Bangunan monumental terbagi dalam 2 jenis, yaitu sebagai berikut: a. Bangunan Monumental Tunggal

Bangunan monumental yang dicapai dengan mengasingkan suatu objek terhadap objek-objek lain. Kesan monumental terjadi karena elemen vertikal. Monumental tersebut terjadi bila antara objek dan ruang tidak saling terjadi penembusan ruang. Selain itu, monumental menjadi semakin unik dan makin tinggi kualitasnya bila terdapat keseimbangan antara objek dan ruangnya. Tetapi bila ada objek lain yang mengganggu (ruang bayangan) disekitar monumen, maka keseimbangan tadi juga akan terganggu dan nilai monumentalnya akan berkurang secara drastis. Monumen jenis ini mempunyai ciri–ciri yang sederhana, bersih dan polos, serta tanpa penembusan ruang (Supriyadi, 2004).

b. Bangunan Monumental Kompleks

Bangunan monumental yang terjadi dari suatu desain bangunan-bangunan yang dikelompokkan membentuk Cluster. Apabila ada dua obyek misalnya X dan Y berdiri membentuk cluster. Maka diantara X dan Y terjadi daya mengeruang yang saling timbal balik, memberi nilai ruang terkait diantara ruang X dan Y, bukan ruang luar saja. Bangunan monumental ini mempunyai ciri-ciri kompleks, permainan tegas dan jelas, menembus ruang, serta menyangkut nilai-nilai kemanusiaan (Supriyadi, 2004).

Skala sudut pandangan mata manusia secara normal pada bidang vertikal adalah 60°, tetapi bila melihat secara intensif maka sudut pandangan berkurang manjadi 1°. Adapun ketentuan sudut pandang manusia saat memandang sebuah bangunan monumental sebagai berikut:

a. Menurut H. Martem, dalam buku Scale in Civic Design, bahwa bila orang melihat lurus ke depan, maka bidang pandangan vertikal di atas bidang pandangan horizontal mempunyai sudut 40° atau 2/3 seluruh pandangan mata. Dan orang dapat melihat keseluruhan bangunan bila sudut pandangannya 27°.

b. Menurut Werner Hegemann dan Albert Peets dalam buku American Vitruvius menyatakan, bahwa orang akan merasa terpisah dari bangunannya apabila melihat dari dari jarak sejauh 2 kali tinggi bangunannya, hal ini berarti sudut pandangannya 27° dan apabila seseorang ingin melihat sekelompok bangunan sekaligus maka diperlukan sudut 18°, ini berarti dia harus melihat dari jarak sejauh pandangan 3 kali tinggi bangunan.

c. Menurut Paul Zucker dalam buku Town and Square, bahwa apabila orang melihat keatas bangunan sudut maksimal adalah 40° dan sudut minimalnya adalah 20°(Supriyadi, 2004).

Gambar 2.10 Ketentuan Sudut Pandang Menurut Paul Zucker

(Sumber: https://www.duniaku.net/mengenal-beragam-kelas-kapal-flag/frigate/)

Dalam perancangan bangunan monumental ada beberapa unsur yang berperan, yaitu:

1. Fisik bangunan

• Bentuk bangunan relatif meninggi. • Dominasi unsur-unsur vertikal.

• Penampakan bangunan biasanya dikaitkan dengan makna simbolis & fisiologis. • Skala monumental.

2. Perancangan Tapak

• Kesan yang ditampilkan mencakup nilai-nilai kewibawaan, resmi, terarah dan seimbang.

• Pencapaian biasanya langsung menuju bangunan utama.

• Pola sirkulasi utama cenderung monoton dan statis sehingga menguatkan nilai bangunan utama dan melemahkan bangunan penunjang.

• Pengelompokan ruang dan fungsi berdasarkan hirarki, ditampilkan dengan tegas.

• Tapak cenderung relatif luas (Supriyadi, 2004).

Untuk perancangan Monumen Pelabuhan Sunda Kelapa dibutuhkan suatu bangunan monumental sebagai landmark bagi Pelabuhan Sunda Kelapa yang patut mendapat perhatian dari masyarakat umum, sehingga mampu menambah wawasan masyarakat. Kevin Lynch dalam bukunya yang berjudul The Image of The City menyatakan bahwa image kota dibentuk oleh lima elemen pembentuk wajah kota, salah satunya yaitu landmark.

Landmark merupakan lambang dan simbol untuk menunjukkan suatu bagian kota,

dan bangunan tertentu yang memiliki suatu karakteristik tersendiri yang hanya dimiliki kota tersebut.

Berdasarkan studi Kevin Lynch, landmark merupakan elemen terpenting dari bentuk kota, karena berfungsi untuk membantu orang dalam mengarahkan diri dari titik orientasi untuk mengenal kota itu sendiri secara keseluruhannya dan kota-kota lain. Sebuah landmark yang baik adalah elemen yang harmonis dengan latar belakangnya (Purwantiasning, 2013).

2. Galeri Ekshibisi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) galeri adalah ruangan atau gedung tempat memamerkan benda atau karya seni dan sebagainya. Sementara itu, ekshibisi mempunyai arti tontonan, pameran, atau peragaan. Ekshibisi juga dapat diartikan sebagai penyajian visual dengan benda-benda dua atau tiga dimensi, dengan tujuan menyampaikan ide atau informasi kepada banyak orang (Sulaiman, 2008).

Dalam perancangan Monumen Pelabuhan Sunda Kelapa dibutuhkan suatu galeri ekshibisi sebagai ruangan atau gedung kegiatan penyajian karya bersejarah untuk dikomunikasikan, sehingga dapat diapresiasi oleh masyarakat luas.

Dalam perancangan Monumen Pelabuhan Sunda Kelapa dibutuhkan suatu galeri ekshibisi sebagai gedung yang digunakan sebagai tempat untuk memamerkan benda-benda bersejarah Pelabuhan Sunda Kelapa dan benda bersejarah kemaritiman Indonesia yang patut mendapat perhatian dari masyarakat umum, sehingga mampu menambah wawasan masyarakat. Jadi, Monumen Pelabuhan Sunda Kelapa bukan hanya sekedar area edukasi dan rekreasi saja, melainkan juga sebagai area konservasi. Adapun standar ukuran galeri sebagai berikut:

Gambar 2.11 Standar jarak dan sudut pandang pada display

(Sumber: Neufert, 2002)

Gambar di atas merupakan standar ukuran atau aturan jarak dan sudut pandang manusia dengan objek galeri untuk mencapai kenyamanan pada saat melihat display. Untuk sudut pandang paling minimal adalah 21° dengan jarak pandang 100 cm dengan ketinggian display 90 cm. Sementara itu, untuk sudut

pandang paling maksimal adalah 27° dengan jarak pandang 200 cm dengan ketinggian display 150 cm.

Gambar 2.12 Standar pencahayaan pada galeri

(Sumber: Neufert, 2002)

Gambar 2.13 Pencahayaan dan ukuran ruang yang baik pada galeri

(Sumber: Neufert, 2002)

Gambar di atas menjelaskan tentang sudut pandang yang nyaman bagi pengguna galeri. Ruangan dengan lebar 10 m yang memungkinkan pandangan ke dua sisi ruang, tinggi display yang membuat pandangan nyaman (sudut pandang 27°) adalah sekitar 3,65 m dengan jarak 95 cm dari lantai. Sementara itu, jika hanya memungkinkan pandangan ke salah satu sisi ruang (sudut pandang 27°) ketinggian lukisan adalah sekitar 5.6 m dengan jarak 95 m dari lantai.

Ruangan-ruangan pada galeri haruslah terlindung dari gangguan, pencurian, kelembapan, kering, dan debu karena fungsi utama dari objek rancangan ini adalah fungsi konservasi. Beberapa persyaratan ruang pada galeri antara lain:

1. Pencahayaan dan Penghawaan

Pencahayaan pada galeri haruslah baik, karena galeri yang baik dapat dilihat publik tanpa rasa jenuh dan lelah. Untuk pencahayaan ruangan, galeri membutuhkan pencahayaan alami dan pencahayaan buatan. Kedua pencahayaan ini harus seimbang, karena jarak pantulan cahaya yang jatuh pada ruangan sangat mempengaruhi para pengguna ruangan. Selain itu, pencahayaan ruangan dan penghawaan adalah aspek penting yang perlu diperhatikan untuk membantu

disarankan adalah sebesar 50 lux. Beberapa ketentuan dan contoh penggunaan cahaya pada galeri antara lain:

Gambar 2.14 Standar pencahayaan pada galeri

(Sumber: Neufert, 1996)

Pada gambar di atas terdapat dua jenis lampu, lampu yang pertama adalah jenis pencahayaan simetris atau langsung. Pencahayaan ini diutamakan untuk pencahayaan umum seperti ruang kerja dan ruang rapat. Sedangkan lampu kedua adalah lampu sorot yang menghadap ke bawah atau yang biasa disebut lampu raster. Lampu ini biasa dipasang pada dinding untuk pencahayaan yang merata.

Gambar 2.15 Standar pencahayaan pada galeri

(Sumber: Neufert, 1996)

Lampu ketiga disebut lampu sorot rel aliran. Menghasilkan pencahayaan dinding merata dengan bagian ruang. Kuat penerangan dapat dicapai hingga 500 lx tergantung pada jarak yang dipilih antar lampu. Sedangkan lampu keempat adalah jenis lampu sorot untuk instalasi langit-langit ruangan. Pencahayaan ini membuat dinding terlihat eksklusif pada sebuah ruangan.

Gambar 2.16 Standar pencahayaan pada galeri

(Sumber: Neufert, 1996)

Lampu kelima adalah lampu sorot terarah yang mengarah kebawah. Jika susunan lampu teratur pada langit-langit, pencahayaan yang didapat akan menjadi berbeda sesuai dengan ruangnya. Sedangkan lampu keenam mempunyai jenis pencahayaan tidak langsung. Jika menggunakan teknik pencahayaan ini harus hati-hati dengan penyelarasan langit-langit ruangan. Pencahayaan ini juga memakan energi yang cukup besar dibandingkan pencahayaan simetris atau langsung.

Gambar 2.17 Standar pencahayaan pada galeri

(Sumber: Neufert, 1996)

Lampu ketujuh merupakan jenis pencahayaan tidak langsung-langsung. Pencahayaan ini memberikan kesan ruang yang terang jika pemakaian energinya 70% pencahayaan langsung dan 30% pencahayaan tidak langsung. Teknik ini biasanya digunakan pada ruangan yang tingginya lebih dari tiga meter. Untuk lampu kedelapan merupakan lampu sorot langit-langit. Lampu ini khusus utuk menerangi bagian langit-langit pada ruangan.

Gambar 2.18 Standar pencahayaan pada galeri

(Sumber: Neufert, 1996)

Lampu kesembilan disebut lampu sorot lantai. Lampu ini khusus utuk menerangi bagian lantai ruangan. Untuk lampu kesepuluh terdapat lampu dinding. Lampu ini digunakan untuk pencahayaan dinding guna memberi dekorasi dan efek cahaya dengan menggunakan filter warna dan bentuk. Selain untuk dinding, lampu ini juga dapat digunakan pada bagian langit-langit atau lantai ruangan.

Gambar 2.19 Standar pencahayaan pada galeri

(Sumber: Neufert, 1996)

Lampu kesebelas adalah lampu sorot dinding-rel aliran. Lampu ini biasa dipasang pada ruang pameran dan galeri. Tingkat penerangannya mulai dari 50 lx hingga 300 lx. Untuk lampu kedua belas terdapat lampu sorot rel aliran khusus ruang pameran dan galeri. Sudut penyinaran yang dipakai biasanya mulai dari 10° hingga 90°.

Gambar 2.20 Standar pencahayaan pada galeri

(Sumber: Pickard, 2002)

Untuk pencahayaan, ruangan membutuhkan dua jenis pencahayaan, yaitu alami dan buatan. Antara kedua pencahayaan tersebut harus seimbang. Hal ini disebabkan pantulan cahaya yang jatuh pada ruangan akan sangat memengaruhi pengguna ruangan. Penggunaan refleksi cahaya maupun skylight yang sesuai dapat mencegah terjadinya kelebihan cahaya pada ruangan sehingga membuat nyaman pengguna, tetapi akan berdampak buruk pada mata jika cahaya kelebihan atau kekurangan.

Gambar 2.21 Geometri susunan lampu

(Sumber: Neufert, 1996)

Gambar di atas adalah ketentuan jarak lampu satu dengan yang lainnya dan jarak lampu ke dinding. Gambar juga menunjukan arah masuknya cahaya yang banyak digunakan pada objek yaitu antara 30° dan 40°.

1. wall-washing 2. downlighting 3. uplighting 4. diffused 5. directional spot 6. lighting of pale objects 7. increased illumination for dark objects

Gambar 2.22 Geometri susunan lampu

(Sumber: Neufert, 1996)

Gambar nomor tujuh, delapan, dan sembilan merupakan gambar yang menunjukan arah masuknya cahaya yang baik pada objek dalam ruangan. Sementara itu, gambar nomor sepuluh adalah ukuran sudut cahaya yang menyilaukan.

Selain pencahayaan, penghawaan adalah salah satu aspek penting dalam galeri, di bawah ini adalah standar ventilasi pada galeri.

Gambar 2.23 Standar penghawaan pada galeri

(Sumber: Neufert, 1996)

Kondisi udara di dalam ruang pameran harus memenuhi standar persyaratan yang baik, baik untuk koleksi maupun pengunjung. Jika kondisi udara dalam ruangan galeri buruk, maka dapat menyebabkan kerusakan pada benda-benda

koleksi. Untuk galeri, kelembapan yang disarankan adalah 50% dengan suhu 21°C hingga 26°C.

2. Sirkulasi dan Tata Letak

Guna memudahkan pengunjung dalam berwisata, maka penataan sirkulasi dan penataan koleksi dalam gedung turut berperan. Penataan sirkluasi dalam ruangan merupakan salah satu faktor penting dalam merancang. Hal ini disebabkan agar sirkulasi pengujung dapat teratur dan disiplin. Gambar di bawah ini menjelaskan tentang skema ruang galeri. Di skema ini dapat dilihat bahwa akses masuk pengunjung dan penerimaan barang dibedakan serta ruang khusus yang menyangkut benda seperti ruang pemeliharaan, penyimpanan, dan pengarsipan perlu berhubungan satu sama lain.

Gambar 2.24 Skema sirkulasi ruang

(Sumber: Neufert, 2002)

Sementara itu untuk jalur sirkulasi di dalam ruang pamer, biasanya ditentukan pada runtutan cerita yang ingin disampaikan. Jalur sirkulasi juga harus bisa menyampaikan informasi, serta membantu pengunjung memahami informasi dari koleksi yang dipamerkan. Berikut beberapa contoh sirkulasi ruang untuk galeri.

Gambar 2.25 Sirkulasi ruang

Penataan koleksi dalam ruang pameran meliputi segala penataan mulai dari posisi koleksi dalam gedung hingga penyajian terhadap pengunjung. Berikut beberapa standar perletakan koleksi di ruang pamer.

Gambar 2.26 Standar perletakan koleksi

(Sumber: Pickard, 2002)

c. Fungsi Edukasi

Fungsi edukasi pada rancangan ini adalah tempat yang menunjang dalam menambah wawasan tentang sejarah Pelabuhan Sunda Kelapa dan sejarah kemaritiman atau kebaharian di Indonesia. Dalam fungsinya sebagai tempat edukasi dari monumen pelabuhan, rancangan Monumen Pelabuhan Sunda Kelapa memiliki fasilitas berupa auditorium dan mini library.

1. Auditorium

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) auditorium adalah bangunan atau ruangan besar yang digunakan untuk mengadakan pertemuan umum, pertunjukan, dan sebagainya. Berasal dari kata audiens, auditorium merupakan bangunan publik yang berfungsi sebagai tempat berkumpul, bertemu secara formal dan nonformal.

Dalam perancangan Monumen Pelabuhan Sunda Kelapa dibutuhkan suatu auditorium sebagai wadah kegiatan komunitas-komunitas pecinta sejarah yang digunakan untuk berdiskusi umum, public talk, serta sarasehan tentang Pelabuhan Sunda Kelapa dan kemaritiman Indonesia.

2. Mini Library

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mini adalah kecil, sedikit, dan sebagainya. Sementara itu, library berarti perpustakaan. Perpustakaan berasal dari kata pustaka yang berarti buku. Perpustakaan adalah suatu ruangan, bagian dari gedung/bangunan atau gedung tersendiri yang berisi buku-buku koleksi yang diatur dan disusun sedemikian rupa, sehingga mudah untuk dicari dan dipergunakan apabila sewaktu-waktu diperlukan oleh pembaca (Sutarno, 2006).

Jadi, mini library merupakan perpustakaan yang berukuran ukuran kecil. Kecil yang dimaksud adalah daya tampung ruangan terhadap pengguna.

d. Fungsi Rekreasi

Fungsi rekreasi pada rancangan ini adalah wadah untuk hiburan dan tempat peristirahatan pengunjung yang mengunjungi monumen pelabuhan ini. Dalam fungsinya sebagai tempat rekreasi dari monumen pelabuhan, rancangan Monumen Pelabuhan Sunda Kelapa memiliki fasilitas berupa dermaga walk track, photospot,

night restaurant, dan café.

e. Fasilitas Penunjang

Fasilitas yang dibutuhkan untuk menunjang aktivitas berwisata berupa musholla, toilet publik, parking area, kantor pengelola, pusat keamanan, pusat kebersihan, dan pusat pemeliharaan.

Utilitas dalam rancangan Monumen Pelabuhan Sunda Kelapa memiliki tujuan kenyamanan, keamanan, dan kelancaran sirkulasi dan komunikasi. Utilitas yang dipertimbangkan sebagai berikut:

a. Transportasi Bangunan

Sistem transportasi bangunan adalah sistem yang digunakan oleh pengguna dalam mengakses suatu ruang menuju ruang lainnya atau mengakses satu tingkat lantai ke tingkat lantai lainnya. Dalam rancangan Monumen Pelabuhan Sunda Kelapa ini, gedung tidak tergolong bangunan tinggi (highrise). Oleh karena itu, terdapat kemungkinan hanya dua jenis sistem transportasi yang akan digunakan, yaitu tangga dan eskalator. b. Air Bersih dan Air Kotor

Pasokan utama air bersih didapat dari air PDAM ataupun air sumur, kemudian ditampung oleh bak penampungan, setelah itu dipompa dan disebarkan ke seluruh bangunan. Sedangkan untuk saluran air kotor dan air bekas, akan disalurkan ke dalam bak penampungan air kotor terlebih dahulu untuk diendapkan, lalu dibuang ke riol kota.

c. Mekanikal dan Elektrikal

Sistem mekanikal dan elektrikal pada rancangan Monumen Pelabuhan Sunda Kelapa terdiri dari sistem pasokan listrik dan sistem komunikasi. Pada sistem pasokan listrik, listrik bersumber dari PLN yang akan disalurkan ke panel listrik lalu mendistribusikan listrik ke seluruh bangunan. Untuk mengantisipasi gangguan listrik, gedung biasanya menggunakan genset (generator set) untuk mendapatkan pasokan listrik kembali.

Pada sistem komunikasi, gedung memerlukan saluran dari Telkom yang mempunyai fasilitas hubungan keluar lokal (dalam kota), hubungan keluar interlokal (domestic direct dialling), dan hubungan internasional (internasional direct dialling). Kemudian dari Telkom melalui kabel distribusi (distribution cable), jaringan telepon disebarkan ke kotak terminal (junction box) yang ada pada setiap lantai bangunan. Dari

d. Penanggulangan Kebakaran

Bahaya kebakaran merupakan salah satu resiko dalam perancangan bangunan. Bahaya ini dapat ditanggulangi dengan dua cara, yaitu menggunakan hydrant dan

splinkler (penyembur gas/air). Pada sistem perpipaan hydrant, pasokan air utama akan

ditampung di tangki air, kemudian dihubungkan dengan pompa bertekanan tinggi (booster pump) dan selanjutnya dihubungkan ke hydrant, lalu disemprotkan pada bagian yang terdapat api. Gedung yang bukan tergolong bangunan tinggi diperbolehkan hanya menggunakan hydrant untuk menanggulangi bahaya kebakaran, menurut buku sistem bangunan tinggi.

e. Lansekap

Presiden belum lama ini tepatnya tanggal 14 Juni 2016 telah menandatangani Peraturan Presiden Nomor 51 Tahun 2016 tentang Batas Sempadan Pantai. Peraturan Presiden ini memuat norma pengaturan tentang kriteria penetapan batas sempadan pantai yang menjadi dasar acuan bagi Pemerintah Daerah yang wilayahnya memiliki sempadan pantai untuk menetapkan batas sempadan pantainya.

Penetapan batas sempadan pantai dilakukan dengan tujuan untuk melindungi dan menjaga kelestarian fungsi ekosistem serta segenap sumber daya di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Selain itu, menjaga dan melindungi kehidupan masyarakat di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dari ancaman bencana alam. Menurut buku Pedoman Konstruksi dan Bangunan milik Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah tahun 2004 ketentuan garis sempadan pantai (GSP) untuk kawasan pariwisata adalah sebagai berikut:

Tabel 2.1 Garis Sepadan Pantai

Jenis Kawasan KDB KLB KDH GSB GSS/GSP

d. Kawasan Peruntukan Pariwisata

darat & laut

= maks. 40% • KLB di darat & laut = maks. 2 atau ketinggian bangunan = maks. 4 lantai • KLB untuk hotel = maks. 10 atau ketinggian bangunan = maks. 12 lantai min. 60% a) GSB depan bangunan tiap unit bangunan = ½ ROW jalan umum di depan bangunan, dimanfaatkan untuk taman b) GSB samping

bangunan tiap unit bangunan resort = min. 5 meter, sedangkan hotel = min. 1/10 tinggi bangunan c) GSB belakang

bangunan tiap unit resort = min. 5 meter, sedangkan hotel = min. 1/10 tinggi bangunan a) GSS = ½ lebar badan sungai, dimanfaatkan untuk jalan inspeksi atau jalur hijau

b) GSP = 30 meter-50 meter dari titik pasang tertinggi, atau GSP = 0 (penanganan rekayasa teknis/engineering harus profesional) c) GSP yang besar bisa dimanfaatkan untuk ruang wisata pantai dan atau green belt area (Sumber: Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah, 2004)

Dokumen terkait