BAB 4 ANALISIS PERKARA PEMBATALAN PUTUSAN ARBITRASE
4.1. Perkara Pembatalan Putusan Arbitrase BANI Antara Yemen
4.1.2. Tinjauan dari Segi Hukum Perdata Internasional
Segi Hukum Perdata Internasional yang akan dianalisis dalam perkara Yemen Airways melawan PT Comarindo Tama Tour&Travel yaitu status personal badan hukum, pilihan forum, dan pilihan hukum.
4.1.2.1. Status Personal Para Pihak
Perkara pembatalan putusan arbitrase ini merupakan perkara yang termasuk dalam ruang lingkup Hukum Perdata Internasional (HPI) karena di dalamnya terdapat suatu keadaan yang menimbulkan hubungan-hubungan HPI melalui adanya titik-titik pertalian primer. Titik pertalian primer merupakan titik taut pembeda yang menentukan bahwa suatu peristiwa merupakan peristiwa HPI.
Fungsi dari titik pertalian primer adalah untuk menentukan ada atau tidaknya peristiwa HPI.205
204Ibid., MENGADILI, hal.12.
205Sudargo Gautama(d), op.cit., hal. 25.
Titik pertalian primer dalam kasus ini dapat dilihat dari status personal badan hukum para pihak yang terlibat. Pemohon yaitu PT Comarindo Express Tama Tour&Travel, berkedudukan di Jalan Dinoyo Nomor 57, Surabaya merupakan suatu badan hukum Indonesia yang tunduk pada ketentuan hukum Indonesia.206 Di sisi lain, Termohon yaitu Yemen Airways, berkedudukan di Al Hasaba, Airport Road, Sana’a, Republik Yaman merupakan badan hukum Yaman yang tunduk kepada ketentuan hukum Yaman.207
Pemohon yaitu PT Comarindo Express Tama Tour&Travel memiliki badan hukum Perseroan Terbatas (PT). Pengaturan mengenai badan hukum PT di Indonesia terdapat dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UU PT) yang merupakan ketentuan hukum Indonesia. PT Comarindo Express Tama Tour&Travel, berkedudukan di Jalan Dinoyo Nomor 57, Surabaya, sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 5 ayat (1) UU PT yang menyatakan bahwa perseroan mempunyai nama dan tempat kedudukan dalam wilayah Negara Republik Indonesia yang ditentukan dalam anggaran dasar.208 Berdasarkan ketentuan tersebut maka dapat dilihat bahwa penentuan status personal badan hukum PT yang dimiliki oleh PT Comarindo Tama Tour&Travel ditentukan berdasarkan teori kedudukan statutair. Teori kedudukan statutair dalam penentuan status personal badan hukum menyatakan bahwa penentuan status personal suatu badan hukum ditentukan berdasarkan tempat kedudukan dari badan hukum tersebut.209 Oleh sebab itu dapat dikatakan pula bahwa PT Comarindo Express Tama Tour&Travel berdasarkan status personal yang ditentukan atas tempat kedudukannya tunduk pada ketentuan Hukum Indonesia.
Penentuan status personal badan hukum berdasarkan ketentuan Hukum Yaman berdasarkan penelitian penulis tidak diketahui dengan jelas. Namun
206Badan Arbitrase Nasional Indonesia, op.cit., TENTANG DUDUK PERKARA, hal. 2.
207Ibid.
208Indonesia(e), Undang-Undang Tentang Perseroan Terbatas,UU No. 40 Tahun 2007, LN No. 106, TLN No. 4756 Pasal 5 ayat (1).
209Sudargo Gautama(g), op.cit., hal. 217.
demikian, berdasarkan teori-teori penentuan status personal badan hukum dapat dilihat bahwa Yemen Airways memiliki kedudukan di Sana’a, Yaman. Di sisi lain Yemen Airways merupakan perusahaan negara milik Republik Yaman yang didirikan berdasarkan ketentuan Hukum Yaman.210 Oleh sebab itu, dapat diketahui bahwa status personal badan hukum Termohon yaitu Yemen Airways berdasarkan teori kedudukan statutair dan inkorporasi ialah tunduk pada ketentuan Hukum Yaman. Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disaksikan terdapat pertemuan antara dua sistem hukum yang berbeda dalam perkara ini sehingga perkara ini merupakan suatu permasalahan HPI.
4.1.2.2. Pilihan Forum
Pilihan Forum menurut HPI merupakan masalah penentuan lembaga apa yang dipilih dan diberi kewenangan untuk menyelesaikan perselisihan yang timbul. Klausul Pilihan Forum adalah salah satu klausul yang cukup penting, sama seperti halnya Pilihan Hukum.211 Sudargo Gautama berpendapat bahwa Pilihan Forum merupakan kebebasan yang diberikan para pihak dalam suatu kontrak untuk menentukan forum penyelesaian sengketa yang akan digunakan untuk menyelesaikan sengketa dalam sebuah perikatan.212
Pasal 23 GSA Passengers dan Pasal 24 GSA Cargo memiliki judul Arbitration. Pemberian judul Arbitration pada Pasal 23 GSA Passengers dan Pasal 24 GSA Cargo menandakan bahwa pasal-pasal tersebut merupakan klausul arbitrase dalam perjanjian GSA Passengers dan GSA Cargo. Berdasarkan klausul arbitrase maka dapat dilihat adanya kehendak para pihak untuk melakukan penyelesaian sengketa yang timbul berkaitan perjanjian-perjanjian tersebut melalui Forum Arbitrase. Hal tersebut sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (3) UU Arbitrase.213 Di sisi lain, ketentuan Pasal 23 GSA Passengers dan Pasal 24
210“Yemen Airways Profile” , http://yemenia.com/DisplaySectionDetail.aspx?ID=85.
211Huala Adolf(a), op.cit., hal. 163.
212Sudargo Gautama(b), op.cit., hal. 233
GSA Cargo tidak mengatur lebih lanjut mengenai bentuk arbitrase dan hukum prosedural apa yang akan digunakan.
Setelah terjadinya sengketa antara Pemohon yaitu PT Comarindo Tama Tour&Travel dengan Termohon yaitu Yemen Airways atas GSA Passengers dan GSA Cargo, Pemohon mengajukan penyelesaian sengketa kepada Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) Perwakilan Surabaya. Majelis Arbitrase BANI Perwakilan Surabaya kemudian memutus perkara tersebut dengan Putusan No. 15/ARB/BANI JATIM/2004.214Pemeriksaan arbitrase berdasarkan perjanjian tersebut tidaklah sesuai apabila dilakukan di BANI Perwakilan Surabaya karena tidak disebutkan dalam perjanjian bahwa BANI Perwakilan Surabaya merupakan forum penyelesaian sengketa yang akan digunakan. Hal tersebut bertentangan dengan ketentuan Pasal 1 angka 3 UU Arbitrase yang menyatakan bahwa perjanjian arbitrase adalah suatu kesepakatan berupa klausul arbitrase yang tercantum dalam suatu perjanjian tertulis yang dibuat para pihak sebelum timbul sengketa, atau suatu perjanjian arbitarse tersendiri yang dibuat para pihak setelah timbul sengketa.215 Oleh karena itu BANI Perwakilan Surabaya tidak memiliki kompetensi absolut dalam memeriksa perkara antara Pemohon dan Termohon.
Dalam kaitannya dengan perkara antara Pemohon melawan Termohon, telah terdapat suatu klausul arbitrase pada perjanjian GSA Passengers dan GSA Cargo. Namun demikian dalam klausul arbitrase tersebut tidak disebutkan bahwa forum arbitrase mana yang disepakati oleh para pihak untuk menyelesaikan sengketa. Oleh sebab itu harus dibuat suatu perjanjian berdasarkan kesepakatan mengenai forum arbitrase mana yang akan menyelesaikan sengketa yang timbul tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa merupakan hal yang tidak tepat apabila Pemohon mengajukan permohonan penyelesaian sengketa kepada
213Indonesia(a), op.cit., Pasal 1 angka (3), ” Perjanjian arbitrase adalah suatu kesepakatan berupa kausual arbitrase yang tercantum dalam suatu perjanjian tertulis yang dibuat para pihak sebelum timbul sengketa, atau suatu perjanjian arbitarse tersendiri yang dibuat para pihak setelah timbul sengketa.”
214 Isi putusan arbitrase BANI Perwakilan Surabaya No. 15/ARB/BANI JATIM/2004 mengabulkan selurus permohonan pemohon arbitrase yaitu PT Comarindo Tama Tour&Travel.
215Indonesia(a), op.cit., Pasal 1 angka (3).
BANI Perwakilan Surabaya tanpa adanya kesepakatan dengan pihak Yemen Airways.
Termohon dalam pemeriksaan arbitrase yaitu Yemen Airways menolak untuk menyelesaikan sengketa di BANI Perwakilan Surabaya. Hal tersebut dapat dilihat pada upaya Termohon mengirimkan surat penolakan berarbitrase di BANI Perwakilan Surabaya yang dikirimkan pada tanggal 23 Juni 2004, 15 Juli 2004, dan 26 Juli 2004. Oleh sebab itu, tidak tepat pula BANI Perwakilan Surabaya mengadili perkara ini dan kemudian memutus perkara dengan putusan BANI Perwakilan Surabaya No. 15/ARB/BANI JATIM/2004.
4.1.2.3. Pilihan Hukum
Titik pertalian sekunder adalah hal-hal atau keadaan-keadaan yang menentukan berlakunya suatu sistem hukum tertentu di dalam hubungan HPI.
Titik pertalian sekunder ini menentukan hukum apa yang harus diberlakukan di dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan HPI.216 Titik pertalian sekunder dari kasus tersebut dapat dilihat dari adanya Pilihan Hukum yang dilakukan oleh para pihak dalam perjanjian GSA Passengers tanggal 29 Oktober 2001 dan GSA Cargo tanggal 5 November 2001 yang didasari oleh asas kebebasan berkontrak. Pasal 23 GSA Passengers dan Pasal 24 GSA Cargo menyatakan:
”Arbitration
This Agreement shall in all respect be interpreted in accordance with the law of the Republic of Yemen”.
Isi dari ketentuan Pasal 23 GSA Passengers dan Pasal 24 GSA Cargo berbicara mengenai Pilihan Hukum terkait perjanjian tersebut ialah hukum dari Negara Republik Yaman.
Pemilihan Hukum Republik Yaman pada perjanjian GSA Passengers dan GSA Cargo hakikatnya merupakan pilihan yang tepat. Perjanjian-perjanjian
216Sudargo Gautama (d), op.cit., hal.25.
tersebut pada intinya ialah perjanjian keagenan dimana Termohon yaitu Yemen Airways sebagai principal dan Pemohon yaitu PT Comarindo Tama Tour&Travel sebagai agent. Dalam perjanjian keagenan dapat dilihat bahwa peranan principal lebih karakteristik atau menonjol dibandingkan dengan agen dimana principal bertanggung jawab atas tindakan agen yang melaksanakan pekerjaan bagi pihak lain yaitu pemberi perintah atau principal.217 Dalam hal perjanjian keagenan dilakukan oleh pihak yang berbeda negara, maka hukum dari principal merupakan hukum yang paling sesuai untuk digunakan dalam perjanjian keagenan tersebut.218 Majelis Arbitrase BANI Perwakilan Surabaya baik dalam pemeriksaan perkara sampai dengan dikeluarkannya putusan arbitrase tidak menggunakan ketentuan Hukum Republik Yaman. Majelis Arbitrase perkara tersebut mendalilkan pertimbangan hukum untuk memutus perkara menggunakan ketentuan-ketentuan Hukum Indonesia. Hal tersebut bertentangan dengan apa yang telah disepakati oleh para pihak untuk menggunakan ketentuan Hukum Republik Yaman dalam perjanjian GSA Passengers dan GSA Cargo. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pula berpendapat bahwa pada dasarnya Pasal 23 GSA Passengers dan Pasal 24 GSA Cargo merupakan Pilihan Hukum yang disepakati oleh para pihak untuk mengatur materi dari perjanjian. Dengan demikian Majelis Arbitrase BANI Perwakilan Surabaya telah salah dalam menerapkan hukum dengan mengabaikan ketentuan Hukum Republik Yaman dalam menyelesaikan sengketa. Hal tersebut dibenarkan pula oleh Majelis Hakim Mahkamah Agung baik dalam tingkat Banding maupun Peninjauan Kembali kasus ini.
217 H.M.N. Purwosutjipto, S.H. Pengertian Pokok Hukum Dagang Indonesia, Buku 3 Hukum Pengangkutan, (Jakarta: Djambatan, 1995), hal.35.
218Ibid.