• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teoritik dan Empiris

2. Tinjauan Empiris

2. Tinjauan Empiris

Suhendro (2004) dalam Yuniarti (2008) meneliti mengenai analisis kemampuan ekonomi kota dan kabupaten di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2001. Suhendro menganalisa kinerja ekonomi daerah sebagai basis utama mewujudkan otonomi daerah yang nyata dan bertanggungjawab. Kinerja otonomi daerah adalah prestasi dan kondisi ekonomi yang telah dicapai daerah dari pembangunan terdahulu. Tolok ukur kinerja ekonomi menggunakan indikator makro ekonomi regional yakni laju pertumbuhan ekonomi, pendapatan perkapita, struktur ekonomi, sektor unggulan, tabungan masyarakat, investasi, porsi PAD tingkat pendapatan daerah dan PAD perkapita.

1) Pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita merupakan indikator efektif dalam peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat.

2) Investasi merupakan akumulasi modal yang mendorong kemajuan ekonomi, tabungan masyarakat merupakan sumber investasi.

3) Pendapatan daerah (PAD) mencerminkan kemampuan ekonomi pemerintah di daerah.

Metode analisis yang dipakai adalah metode tehnik bench marking yakni membandingkan indikator ekonomi di wilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, hasil yang dipeoleh menunjukkan hasil bahwa kemampuan ekonomi Kota Yogyakarta sebagai bench mark paling tinggi diantara kabupaten-kabupaten lain di Propinsi daerah Istimewa Yogyakarta.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

 

Sasana (2002) dalam Yuniarti (2008) meneliti mengenai pengaruh hubungan fiskal Pemerintah Pusat – Daerah terhadap PDRB Kabupaten Klaten, dengan variabel fiskal berupa Pendapatan Asli Daerah, Penerimaan Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak, Penerimaan sumbangan dan Bantuan serta Tenaga Kerja. Hasilnya variabel penerimaan Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak dan Tenaga Kerja berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi (PDRB) Kabupaten Klaten. Pendapatan Asli Daerah dan penerimaan Sumbangan dan bantuan tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan PDRB. Hubungan fiskal Pemerintah Pusat-Daerah di kabupaten Klaten menunjukkan tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap bantuan Pemerintah Pusat.

Astuti (2001) dalam Yuniarti (2008) meneliti mengenai Kemandirian Kota Surakarta dilihat dari posisi PAD dan kemungkinan pengembangannya selama periode 1995/1996 sampai 1999/2000. Bahwa untuk mengetahui posisi fiskal Kota Surakarta dapat dilakukan perbandingan antara upaya pengumpulan PAD (UPP) dengan tingkat PAD standar (TPS). Apabila UPP lebih besar dari TPS berarti posisi fiskal kuat, tetapi apabila UPP lebih kecil dari TPS berarti posisi fiskal lemah. UPP diperoleh dari perbandingan antara PAD Kota Surakarta dengan PDRB Kota Surakarta. TPS diperoleh dari perbandingan PAD se-Jawa Tengah dengan PDRB se-Jawa Tengah. Dari perbandingan antara UPP dan TPS diperoleh Indeks penampilan PAD (IP PAD) yang merupakan gambaran dari posisi fiskal Kota Surakarta. Hasil

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

 

penelitian menunjukkan bahwa derajat desentralisasi fiskal Kota Surakarta selama periode penelitian termasuk kategori kurang mandiri.

Landiyanto (2005) mengadakan penelitian mengenai kinerja keuangan dan strategi pembangunan kota era otonomi daerah dengan stusi kasus Kota Surabaya. Landiyanto mengemukakan bahwa untuk melihat kinerja keuangan daerah dapat digunakan derajat kemandirian daerah guna mengukur sejauh mana penerimaan yang berasal dari daerah dapat digunakan untuk membiayai kebutuhan daerah. Semakin tinggi derajat kemandirian daerah menunjukkan bahwa daerah tersebut semakin mampu membiayai kebutuhannya sendiri tanpa mengandalkan bantuan dari Pemerintah Pusat. Derajat kemandirian daerah apabila dipadukan dengan derajat desentralisasi fiskal yang digunakan untuk melihat kontribusi PAD terhadap pendapatan daerah secara keseluruhan, maka akan terlihat kinerja keuangan daerah secara utuh.

Secara umum, semakin tinggi kontribusi PAD dan semakin tinggi kemampuan daerah untuk membiayai kemampuannya sendiri akan menunjukkan kinerja keuangan daerah yang positif, dalam hal ini, kinerja keuangan positif dapat diartikan sebagai kemandirian keuangan daerah dalam membiayai kebutuhan daerah dan mendukung pelaksanaan otonomi daerah pada daerah tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pemerintah Kota Surabaya memiliki ketergantungan yang tinggi pada Pemerintah Pusat disebabkan belum optimalnya penerimaan dari PAD.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

 

Yuniarti (2008) mengemukakan tentang Pengaruh Pertumbuhan Pendapatan Perkapita, Tingkat Investasi dan Tingkat Industrialisai terhadap Kemandirian Daerah, studi kasus pada Kabupaten dan Kota di Wilayah Soloraya yang menyimpulkan bahwa secara bersama-sama Pertumbuhan Pendapatan perkapita, Tingkat Inestasi dan Tingkat Industrialisasi berpengaruh secara signifikan terhadap besarnya derajat desentralisasi.

Dwirandra (2007) meneliti tentang Efektivitas dan kemandirian keuangan Daerah Otonom Kabupaten/Kota di Propinsi Bali Tahun 2002 – 2006 disimpulkan bahwa pada tahun 2006 ternd efektivitas keuangan daerah otonom kabupaten/kota di Propinsi Bali semakin baik walaupun masih ada yang di bawah 100 % seperti Kabupaten Gianyar, Buleleng dan Denpasar.

Setiaji dan Adi (2007) mengadakan penelitian yang dikemukakan pada Simposium Nasional Akuntasi X Unhas Makasar tanggal 26 – 28 Juli 2007 tentang peta kemampuan keuangan daerah sesudah otonomi daerah dengan kasus apakah mengalami pergeseran studi kasus pada Kabupaten dan Kota se Jawa – Bali. Wirawan Setiaji dan Priyo Hari Adi mengemukakan bahwa terdapat perbedaan Growth (pertumbuhan) PAD yang signifikan antara sebelum dan sesudah otonomi daerah. Pertumbuhan PAD setelah otonomi secara empriris lebih tinggi (lebih baik) dibanding pertumbuhan PAD sebelum otonomi. Perbedaan pertumbuhan ini tidak diikuti dengan kenaikan share (kontribusi) PAD terhadap belanja. Kontribusi PAD terhadap belanja justru lebih rendah dibanding kontribusi

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

 

setelah otonomi. Hal ini menunjukkan dalam era otonomi ketergantungan terhadap pemerintah pusat justru menjadi lebih tinggi.

Mardikasari (2007) mengemukakan mengenai Evaluasi Kinerja Keuangan Daerah Kabupaten Madiun Periode Tahun 2001 – 2005 dikemukakan bahwa kinerja keuangan Pemerintah Kabupaten Madiun pada tahun anggaran 2001 – 2005, tingkat kemandirian masih rendah sekali dan menunjukkan pola hubungan instruktif dimana daerah belum mampu melaksanakan otonomi daerah dan peran dari pemerintah pusat masih sangat besar. Tingkat efektivitas dan efisiensi sudah masuk dalam kategori efektif dan efisien. Hal ini ditunjukkan dari tingkat efektivitas yang selalu diatas 100% dan tingkat efisiensi selalu dibawah 60%. Tingkat keserasian antara belanja rutin dan belanja pembangunan menunjukkan adanya perubahan fokus dari belanja rutin ke belanja pembangunan.

Dokumen terkait