• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN TENTANG GRASI DAN TINDAK PIDANA KORUPSI

A. Tinjauan Tentang Grasi 1. Pengertian Grasi

Secara historis istilah terkait pemberian grasi di Negara Amerika Serikat dan Fillipina dikenal dengan istilah pardon yang artinya pengampunan dan istilah clemency atau executive clemency yang artinya pengampunan secara luas.

Selanjutnya, istilah grasi berasal dari bahasa Belanda gratie atau genade yang berarti rahmat.36

Secara normatif pengertian grasi dapat ditemukan dalam Pasal 1 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002 tentang Grasi, yang menyebutkan bahwa, “Grasi adalah pengampunan berupa perubahan, peringanan, pengurangan, atau penghapusan pelaksanaan pidana kepada terpidana yang diberikan oleh Presiden.

Pengertian Grasi dalam arti sempit merupakan tindakan pengampunan berupa perubahan, peringanan, pengurangan, atau penghapusan pelaksanaan pidana atau hukuman yang telah diputuskan oleh hakim. Adapun pengertian Grasi dalam Kamus Hukum merupakan wewenang dari kepala Negara untuk memberi pengampunan terhadap hukuman yang telah dijatuhkan oleh hakim untuk menghapuskan seluruhnya, sebagian, atau merubah sifat atau bentuk hukuman itu.37 Menurut Jimly Asshiddiqie, grasi merupakan kewenangan Presiden yang

36Fajlurrahman Jurdi dan Ahmad Yani, Grasi Sebagai Beschikking, Setara Press, Malang, 2018, Hal. 49.

37JCT Simorangkir, Rudy T Erwin dan JT Prasetyo, Kamus Hukum, Bumi Aksara, Jakarta, 1995, Hal. 58.

bersifat judisial dalam rangka pemulihan keadilan yang terkait dengan putusan pengadilan yaitu untuk mengurangi hukuman, memberikan pengampunan ataupun menghapuskan hukuman yang terkait dengan kewenangan peradilan.38

Istilah pemberian grasi dalam praktiknya di Indonesia memiliki perbedaan dengan amnesti, abolisi, rehabilitasi, dan remisi. Istilah amnesti berasal dari bahasa Yunani amnestia yang artinya melupakan. Pengertian amnesti merupakan pernyataan terhadap banyak orang yang terlibat dalam suatu tindak pidana untuk meniadakan suatu akibat hukum pidana yang timbul dari tindak pidana tersebut.

Sedangkan istilah abolisi berasal dari kata abolition yang berarti tindakan untuk mengakhiri sesuatu atau menghentikan sesuatu. Pengertian abolisi merupakan suatu keputusan untuk mengakhiri pengusutan dan pemeriksaan suatu perkara, di mana pengadilan belum menjatuhkan terhadap perkara tersebut. Sedangkan istilah rehabilitasi berasal dari kata rehabilitation yang artinya pengembalian hak.

Pengertian rehabilitasi merupakan suatu tindakan Presiden dalam rangka mengembalikan hak seseorang yang telah hilang karena suatu putusan hakim yang ternyata dalam waktu berikutnya terbukti bahwa kesalahan yang telah dilakukan seorang tersangka tidak seberapa dibandingkan dengan perkiraan semula atau bahkan ia tidak bersalah. Adapun istilah remisi berasal dari kata remission yang artinya pengurangan, peringanan, pengampunan. Jadi, pengertian remisi adalah pengurangan masa pidana yang diberikan kepada narapidana atau anak pidana yang telah berkelakuan baik selama menjalani pidana.39

38Jimly Asshiddiqie, Konstitusi dan Konstitusionalisme, Sekjen dan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, Jakarta, 2006, Hal. 175-176.

39Fajlurrahman Jurdi dan Ahmad Yani, Loc. Cit.

2. Sejarah Grasi

Pemberian grasi telah dikenal dan diberlakukan sejak lama yaitu sejak abad ke-18 di zaman kerajaan absolut di Eropa. Pada mulanya grasi merupakan hadiah atau anugerah pada raja (Vorstelike Gunst) yang memberikan pengampunan kepada orang yang dijatuhi hukuman. Tindakan pengampunan ini didasarkan kepada kemurahan hati raja yang berkuasa. Raja dipandang sebagai sumber dari kekuasaan termasuk sumber keadilan dan hak mengadili sepenuhnya berada di tangan raja.

Di Eropa, pada abad pertengahan kekuasaan untuk memberikan pengampunan diselenggarakan oleh berbagai badan, termasuk Gereja Katolik Roma dan penguasa local tertentu, tetapi pada abad keenam belas biasanya kekuasaan ini terkonsentrasi di tangan raja. Dalam pasca reformasi Inggris, hak prerogatif kerajaan sebagai kemurahan hati raja/ratu digunakan untuk tiga tujuan utama:

a. Sebagai pendahuluan pada pembelaan diri yang belum diakui, kegilaan, dan atau minoritas.

b. Untuk mengembangkan metode baru menangani para pelaku yang belum diakui oleh Undang-Undang, dan

c. Untuk menghilangkan atas diskualifikasi kriminal.40

Selama abad kedelapan belas kekuasaan penguasa untuk memberikan pengampunan, menjadi perdebatan antara para sarjana. Dukungan datang dari

40Ibid, Hal.50.

sarjana penganut aliran hukum (natuurrechtelike school) sedangkan kritikan datang dari para ahli filsafat dan ahli ilmu kejahatan.41

Hak penguasa untuk mencampuri pelaksanaan Undang-Undang dianggap sebagai macan bagi konsep pemisahan kekuasaan dalam pengurangan otonomi baik legislative dan yudikatif, meskipun Montesquieu sebagai penggagas konsep pemisahan kekuasaan, tidak menentang kekuasaan untuk memberikan grasi atau memberikan pengampunan. Intervensi tersebut juga terlihat sebagai hal yang merugikan efek jera hukum yang didasarkan pada sifat hukum yang berkekuatan tetap ysang dapat ditawar-tawar pada pelaksanaannya. Akhirnya, pemberian grasi yang meraja lela dipandang sebagai sumber ketidak pastian, korupsi dan penyalahgunaan.

Kritik-kritik ini membuahkan hasil setelah pecahnya revolusi Perancis dengan diterapkannya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana pada tahun 1791, yang menghapuskan semua kekuasaann pengampunan dalam hubungannya dengan pelanggarann yang dapat diuji oleh juri. Namun, kemenangan-kemenangan para kritikus berumur pendek, untuk kekuasaan memberikan grasi atau mengampuni dihidupkan kembali ketika Napoleon Bonaparte menjadi penguasa seumur hidup di tahun 1802. Gema kontroversi abad kedelapan belas itupun masih berkumandang hingga saat ini. 42

41Muhammad Ridhwan Indra dan Satya Arimanto, Kekuasaan Presiden dalam UUD I945, CV Trisula, Jakarta, 1998, Hal. 20.

42Amnesty and pardon “Terminology and Etymologi”. http://law.jrank.org/pages/505/

Amnesty-Pardon-Terminology-etymologi.html/http://en.wikipedia.org/wiki/pardons Diakses Pada Tanggal 24 November 2022 Pukul 21.00.

3. Pengaturan Hukum Pemberian Grasi

Ketentuan mengenai grasi telah diatur di dalam Undang-Undang Dasar 1945 yang terdapat di Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan bahwa Presiden memberi grasi dan rehabilitasi dengan memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung (sebelum memberikan keputusan untuk diterima atau ditolaknya suatu permohonan grasi). Sebagaimana yang diamanatkan kedalam Undang-Undang Dasar 1945 maka pemberian grasi tercantum kedalam berbagai Perundang-Undangan, antara lain:

a. Grasi dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

Ketentuan mengenai grasi juga terdapat didalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yaitu dalam Pasal 33 a yang berbunyi:

“Jika orang yang ditahan sementara dijatuhi pidana penjara atau pidana kurungan, dan kemudian dia sendiri atau dengan orang lain atas persetujuannya mengajukan permohonan ampunan, waktu mulai permohonan diajukan hingga ada putusan Presiden, tidak dihitung dalam menjalani pidana, kecuali jika Presiden, dengan mengingat perkaranya, menentukan bahwa waktu itu seluruhnya atau sebagiannya dihitung sebagai waktu menjalani pidana.”44 b. Grasi dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana

Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana juga mengatur tentang grasi yaitu terdapat di dalam Pasal 196 Ayat (3) yang berbunyi:

“Segera setelah putusan, hakim ketua siding wajib memberikan terdakwa tentang haknya, yaitu:

1) Hak segera menerima atau segera menolak keputusan.

2) Hak mempelajari putusan sebelum menyatakan menerima atau menolak keputusan, dalam tenggang waktu yang telah ditentukan oleh Undang-Undang ini.

3) Hak meminta menangguhkan melaksanakan keputusan dalam tenggang waktu yang telah ditentukan oleh Undang-Undang

44Pasal 33a Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

untuk dapat mengajukan grasi. Dalam hal ini menerima putusan.

4) Hak meminta diperiksa perkaranya dalam tingkat banding dalam tenggang waktu yang ditentukan oleh Undang-Undang.

Dalam hal ini menolak putusan.

5) Hak mencabut pernyataan sebagaimana yang dimaksud di dalam angka 1 dalam tenggang waktu yang ditentukan oleh Undang-Undang ini.45

c. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002 Tentang Grasi

Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002 Tentang Grasi terdiri atas 6 (enam) Bab dan 17 (tujuh belas) Pasal yang mengatur mengenai ketentuan umum, ruang lingkup permohonan dan pemberian grasi, serta tata cara pengajuan dan penyelesaian permohonan grasi, dan mengatur ketentuan-ketentuan lain yang terdapat di dalam Undang-Undang ini.

d. Undang Nomor 5 Tahun 2010 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002 Tentang Grasi

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2010 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002 Tentang Grasi hanya terdiri dari 2 (dua) Pasal. Pasal 1 menyebutkan mengenai beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002 Tentang Grasi yang telah mengalami perubahan dan ketentuan Pasal 2 Ayat (2) dan Ayat (3) diubah, sehingga seluruhnya berbunyi:

1) Terdapat putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, barulah terpidana dapat mengajukan permohonan grasi kepada Presiden.

2) Putusan pemidanaan yang dapat dimohonkan grasi sebagaimana yang dimaksud dalam Ayat (1) adalah pidana mati, pidana penjara seumur hidup, atau pidana paling rendah 2 (dua) tahun.

45Pasal 196 Ayat (3) Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.

3) Permohonan yang dimaksud pada Ayat (1) hanya dapat sdiajukan 1 (satu) kali saja.46

Pembatasan pengajuan pemberian grasi hanya dapat diajukan 1 (satu) kali dimaksudkan untuk memberikan kepastian hukum dalam pelaksanaan pengajuan permohonan grasi dan menghindari pengaturan yang diskriminatif. Perubahan ketentuan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002 lainnya yaitu penyisipan 1 (satu) Pasal diantara Pasal 6 dan Pasal 7 yaitu Pasal 6A yang berbunyi:

1) Demi kepentingan kemanusiaan dan keadilan menteri yang membidangi urusan pemerintahan di bidang hukum dan hak asasi manusia dapat meminta para pihak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 untuk mengajukan permohonan grasi.

2) Menteri sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) berwenang meneliti dan melaksanakan proses pengajuan grasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dan Pasal 6 Ayat (1) dan menyampaikan permohonan dimaksud kepada Presiden.47 Perubahan berikutnya mengenai penetapan jangka paling lama 1 (satu) tahun suatu permohonan grasi dapat diajukan sejak putusan pengadilan memperoleh kekuatan hukum tetap (Pasal 7 Ayat (2)).

Ketentuan Pasal 10 juga diubah mengenai jangka waktu Mahkamah Agung mengirimkan pertimbangan tertulisnya kepada Presiden yang dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 2002 ditentukan paling lambat 3 (tiga) bulan terhitung sejak tanggal diterimanya salinan permohonan dan berkas perkara, kini diubah menjadi paling lambat 30 (tiga puluh) hari

46Pasal 2 Undang Nomor 5 Tahun 2010 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002 Tentang Grasi.

47Pasal 6A Undang Nomor 5 Tahun 2010 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002 Tentang Grasi.

terhitung sejak tanggal diterimanya salinan permohonan dan berkas perkara.

Undang-undang Nomor 5 Tahun 2010 menetapkan untuk menyisipkan 1 (satu) Pasal yakni Pasal 15A diantara Pasal 15 dan Bab IV yang menyatakan bahwa permohonan grasi yang belum diselesaikan berdasarkan Pasal 15 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002 diselesaikan paling lambat 22 Oktober 2012. Kepada terpidana mati yang belum mengajukan permohonan grasi berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002, jangka waktu 1 (satu) tahun yang dimaksud Pasal 7 Ayat (2) dihitung sejak Undang-Undang ini berlaku. Undang-Undang yang mengatur grasi yang berlaku saat ini yaitu Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002 jo. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2010.

4. Syarat Permohonan grasi

Permohonan grasi harus memenuhi syarat sebelum diajukan ke Presiden sebagai berikut:

a. Diajukan atas suatu putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, terpidana dapat mengajukan permohonan grasi kepada Presiden.

b. Pihak yang dapat mengajukan grasi adalah terpidana, kuasa hukum atau keluarga terpidana. Untuk terpidana mati keluarga dapat mengajukan permohonan grasi tanpa persetujuan terpidana.

c. Putusan pemidanaan yang dapat dimohonkan grasi adalah pidana mati, pidana penjara seumur hidup dan pidana penjara paling rendah 2 (dua) tahun.

d. Grasi hanya dapat diajukan 1 (satu) kali.

e. Permohonan grasi diajukan paling lama dalam jangka waktu 1 (satu) tahun sejak putusan memperoleh kekuatan hukum tetap.

5. Prosedur Permohonan Grasi

Prosedur atau tata cara pengajuan permohonan grasi menurut Pasal 5 sampai dengan Pasal 8 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002 Tentang Grasi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2010 dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Hak untuk mengajukan permohonan grasi diberitahukan kepada terpidana oleh hakim ketua siding yang memutus perkara pada tingkat pertama. Jika pada saat putusan pengadilan dijatuhkan terpidana tidak hadir, maka hak terpidana diberitahukan secara tertulis oleh panitera dari pengadilan yang memutus perkara pada tingkat pertama.

b. Permohonan grasi oleh seorang terpidana atau kuasa hukumnya diajukan kepada Presiden. Permohonan dimaksudkan boleh diajukan oleh keluarga terpidana atas persetujuan terpidana. Dalam hal terpidana dijatuhi pidana mati, permohonan grasi dapat diajukan oleh keluarga terpidana tanpa persetujuan terpidana.

c. Permohonan grasi bisa diajukan saat putusan pengadilan mempunyai kekuatan hukum tetap. Permohonan grasi tidak dibatasi olehh tenggat waktu tertentu.

d. Permohonan grasi diajukan secara tertulis oleh terpidana, kuasa hukumnya, atau keluarganya kepada Presdien. Salinan permohonan grasi

disampaikan kepada pengadilan yang telah memutus perkara pada tingkat pertama untuk diteruskan kepada Mahkamah Agung. Permohonan grasi dan salinannya dapat disampaikan terpidana melalui Kepala Lembaga Pemasyarakatan tempat terpidana menjalani pidana. Perihal permohonan grasi dan salinannya diajukan melalui Kepala Lembaga Pemasyarakatan, Kepala Lembaga Pemasyarakatan menyampaikan permohonan grasi tersebut kepada Presiden dan salinannya dikirimkan kepada pengadilan yang memutus perkara pada tingkat pertama paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak diterimanya permohonan grasi dan salinannya.48

Adapun proses penyelesaian permohonan grasi sebagaimana diatur dalam Pasal 9 sampai dengan Pasal 13 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2002 Tentang Grasi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2010, dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Dalam tenggang waktu paling lambat 20 (dua puluh) hari terhitung sejak tanggal penerimaan salinan permohonan grasi, pengadilan tingkat pertama mengirimkan salinan permohonan dan berkas perkara terpidana kepada Mahkamah Agung. Salinan keputusan disampaikan kepada:

1. Mahkamah Agung;

2. Pengadilan yang memutus perkara pada tingkat pertama;

3. Kejaksaan Negeri yang menuntut perkara terpidana; dan 4. Lembaga Pemasyarakatan tempat terpidana menjalani pidana.

48Nur Khafidhien ,Op.Cit, Hal. 34.

b. Dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) bulan mulaii terhitung sejak tanggal diterimanya salinan permohonan dan berkas perkara, Mahkamah Agung mengirimkan pertimbangan tertulis kepada Presiden.

c. Presiden memberikan keputusan atas permohonan grasi setelah memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung.

d. Keputusan Presiden dapat berupa pemberian atau penolakan grasi.

e. Jangka waktu pemberian atau penolakan grasi, paling lambat 3 (tiga) bulan terhitung sejak diterimanya pertimbangan Mahkamah Agung.

f. Keputusan Presiden disampaikan kepada terpidana dalam jangka waktu paling lambat 14 (empat belas) hari terhitung sejak ditetapkannya Keputusan Presiden.

g. Bagi seorang terpidana mati, kuasa hukum atau keluarga terpidana yang telah mengajukan permohonan grasi, pidana mati tidak dapat dilaksanakan sebelum Keputusan Presiden tentang penolakan permohonan grasi diterima oleh terpidana.

h. Perihal permohonan grasi diajukan dalam waktu bersamaan dengan permohonan peninjauan kembali atau jangka waktu antara kedua permohonan tersebut tidak terlalu lama, maka permohonan peninjauan kembali diputus lebih dahulu.

i. Keputusan permohonan grasi ditetapkan dalam jangka waktu paling lambat 3 (tiga) bulan terhitung sejak salinan putusan peninjauan kembali diterima Presiden.49

49Ibid, Hal. 35.

6. Alasan Pemberian Grasi

Pemberian grasi dapat diberikan dengan alasan bahwa keputusan hukum yang sudah benar menurut hukum positif yang berlaku, tapi dirasakan terlalu berat dan tidak sesuai dengan keadaan masyarakat pada waktu putusan hakim dijalankan, yang mana keadaan ini dapat merubah pada saat putusan hakim dijatuhkan. Ada beberapa alasan sebagai petimbangan dalam memberikan grasi bagi terpidana, yaitu:

a. Permohonan grasi berdasarkan alasan kepentingan keluarga, bahwa terhukum merupakan tulang punggung di dalam keluarganya.

b. Permohonan grasi berdasarkan alasan bahwa terhukum pernah sangat berjasa bagi masyarakat.

c. Permohonan grasi berdasarkan alasan bahwa terhukum menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan.

d. Permohonan grasi berdasarkan alasan bahwa terhukum berkelakuan baik selama di penjara.

B. Tinjaun Tentang Tindak Pidana Korupsi 1. Pengertian Tindak Pidana Korupsi

Istilah korupsi berasal dari kata latin corruptio atau corruptus yang berarti kerusakan atau kebobrokan, atau perbuatan tidak jujur yang dikaitkan dengan keuangan. Ada pula yang berpendapat bahwa dari segi istilah korupsi berasal dari kata corrupteia yang dalam bahasa Latin berarti bribery atau seduction, maka yang diartikan corruptio dalam bahasa latin ialah corrupter atau seducer. Bribery dapat diartikan sebagai memberikan kepada seseorang agar seseorang tersebut

berbuat untuk keuntungan pemberi. Sementara seduction berarti sesuatu yang menarik agar seseorang menyeleweng.50

Dalam Black’s Law Dictionary korupsi adalah perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk memberikan suatu keuntungan yang tidak resmi dengan hak-hak dari pihak lain secara salah menggunakan jabatannya atau karakternya untuk mendapatkan suatu keuntungan untuk dirinya sendiri atau orang lain, berlawanan dengan kewajibannya dan hak-hak dari pihak lain.51

Pengertian tindak pidana korupsi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia korupsi ialah penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan) unruk keuntungan pribadi atau orang lain.52

Menurut Eggi Sudjana, tindak pidana korupsi adalah kebusukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat disuap, penyimpangan dari kesucian, kata-kata bernuansa menghina atau memfitnah, penyapan, niet ambtelijk corruptie atau yang dalam bahasa Indonesia kata korupsi adalah perbuatan buruk, seperti penggelapan uang, penerimaan uang, sogok dan sebagainya.53

Baharuddin Lopa mengemukakan pengertian umum tentang tindak pidana korupsi adalah suatu tindak pidana yang berhubungan dengan perbuatan penyuapan dan manipulasi serta perbuatanperbuatan lain yang merugikan atau

50http://id.shvoong.com/law-and-politics/law/2027081-pengertian-korupsi-dan-tindak- pidana/#ixzz32Qu090CV

51Chaerudin DKK, Strategi Pencegahan dan Penegakan Hukum Tindak Pidana Korupsi,PT Refika Aditama, Bandung, 2008, Hal.2.

52WojoWasito, Kamus Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jogjakarta, 2001, Hal. 597

53Kristian dan Yopi Gunawan, Tindak Pidana Korupsi, PT Refika Aditama, Bandung, 2015, Hal. 19.

dapat merugikan keuangan atau perekonomian negara, merugikan kesejahteraan dan kepentingan rakyat.54

Menurut Pasal 2 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, tindak pidana korupsi diartikan :

“Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau suatu koorporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp.200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp.1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)”.

Pendapat lain dikemukakan Syeh Hussein Alatas dalam bukunya The Sociology of Corruption mengemukakan pengertian korupsi dengan menyebutkan

benang merah yang menjelujuri dalam aktivitas korupsi yaitu subordinasi kepentingan umum di bawah kepentingan tujuan-tujuan pribadi yang mencakup pelanggaran norma-norma, tugas, dan kesejahteraan umum dibarengi dengan kerahasiaan, penghianatan, penipuan dan kemasabodohan yang luar biasa akan akibat yang diderita oleh masyarakat. Menurutnya, “corruption is the abuse of trust in the interest of private gain” yang artinya penyalahgunaan amanah untuk

kepentingan pribadi.55

Lebih lanjut Syeh Hussein Alatas mengungkapkan beberapa ciri dari korupsi, diantaranya yaitu :56

a. Korupsi senantiasa melibatkan lebih dari satu orang.

54Ibid, Hal.23.

55Chaeruddin DKK, Op.Cit, Hal. 2.

56Elwi Danil, Korupsi : Konsep, Tindak Pidana dan Pemberantasannya, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2011, Hal. 7.

b. Korupsi pada umumnya melibatkan keserbarahasiaan, kecuali ia telah begitu merajalela, dan begitu mendalam berurat berakar, sehingga individu- individu yang berkuasa, atau mereka yang berada dalam lingkungannya tidak tergoda untuk menyembunyikan perbuatan mereka.

c. Korupsi melibatkan elemen kewajiban dan keuntungan timbal balik.

d. Mereka yang mempraktikkan cara-cara korupsi biasanya berusaha untuk menyelubungi perbuatannya dengan berlindung dibalik pembenaran hukum.

e. Mereka yang terlibat korupsi adalah mereka yang menginginkan keputusan- keputusan yang tegas, dan mereka yang mampu untuk memengaruhi keputusan-keputusan itu.

f. Setiap tindakan korupsi mengandung penipuan.

g. Setiap bentuk korupsi adalah suatu pengkhianatan kepercayaan.

h. Setiap bentuk korupsi meliputi fungsi ganda yang kontradiktif dari mereka yang melakukan tindakan itu.

i. Suatu perbuatan korupsi melanggar norma-norma tugas dan pertanggungjawaban dalam tatanan masyarakat.

2. Bentuk-Bentuk Korupsi

Dalam buku Komisi Pemberantasan Korupsi, tindak pidana korupsi dikelompokkan menjadi tujuh macam. Adapun penjelasannya ialah sebagai berikut:

a. Korupsi yang terkait dengan kerugian keuangan negara. Perbuatan yang merugikan negara, dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu :

1) Melawan hukum untuk memperkaya diri sendiri dan dapat merugikan keuangan negara. Pada Pasal 2 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi telah dirumuskan jenis korupsi sebagai berikut :

(1) Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau suatu koorporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp .200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

(2) Dalam hal tindak pidana korupsi sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dalam keadaan tertentu, pidana mati dapat dijatuhkan.

2) Menyalahgunakan kewenangan untuk menguntungkan diri sendiri dan dapat merugikan Negara. Korupsi jenis ini telah diatur dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagai berikut :

“Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 20 tahun dan denda paling sedikit Rp.50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp.1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah)”.

b. Korupsi yang terkait dengan suap-menyuap

Suap-menyuap yaitu suatu tindakan pemberian uang atau menerima uang atau hadiah yang dilakukan oleh pejabat pemerintah untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kewajiban. Jenis korupsi ini diatur dalam Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagai berikut :

a. Pasal 5 Ayat (1).

b. Pasal 5 Ayat (1) huruf b.

c. Pasal 5 Ayat (2).

d. Pasal A ayat (1) huruf a dan b.

e. Pasal 6 Ayat (2).

f. Pasal 11.

g. Pasal 12 huruf a dan b.

h. Pasal 13.

c. Korupsi yang terkait dengan penggelapan dalam jabatan

Yang dimaksud dengan penggelapan dalam jabatan menurut Pasal 8 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi adalah:

“Pegawai negeri atau orang lain yang ditugaskan menjalankan suatu jabatan umum secara terus-menerus atau untuk sementara waktu, dengan sengaja menggelapkan uang atau surat berharga yang disimpan karena jabatannya, atau membiarkan uang atau surat berharga tersebut diambil atau digelapkan oleh orang lain atau membantu dalam melakukan perbuatan tersebut”.

Tindak pidana korupsi yang termasuk dalam kelompok penggelapan dalam jabatan tersebut diatur dalam beberapa pasal dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagai berikut :

1) Pasal 9.

2) Pasal 10 huruf a.

3) Pasal 10 huruf b.

4) Pasal 10 huruf c.

d. Korupsi yang terkait dengan perbuatan pemerasan

Pemerasan yang termasuk dalam tindak pidana korupsi adalah pemerasan yang dilakukan oleh pegawai negeri atau penyelenggara negara yang memenuhi unsur dalam Pasal 12 huruf e, huruf f dan huruf g Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Berdasarkan ketentuan tersebut, tindak pidana korupsi yang berkaitan dengan pemerasan dapat dikelompokkan atau digolongkan menjadi beberapa bentuk, yaitu :57

1) Pemerasan oleh pegawai negeri

2) Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang memeras pegawai negeri atau penyelenggara negara lainnya.

3) Pegawai negeri atau penyelenggara negara yang dalam tugasnya melakukan pemerasan.

57Kristian dan Yopi Gunawan , Op.Cit, Hal. 173.

e. Korupsi yang terkait dengan perbuatan curang

Pengaturan tindak pidana korupsi yang terkait dengan perbuatan curang diatur secara tegas dalam beberapa pasal dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Hal ini diatur dalam berbagai pasal sebagai berikut :58

1) Pasal 7 Ayat (1) huruf a.

2) Pasal 7 Ayat (1) huruf b.

3) Pasal 7 Ayat (1) huruf c.

4) Pasal 7 Ayat (1) huruf d.

5) Pasal 7 Ayat (2).

6) Pasal 12 huruf h.

Berdasarkan ketentuan tersebut, tindak pidana korupsi yang berkaitan dengan perbuatan curang dapat dikelompokkan dalam beberapa bentuk sebagai berikut:59

1) Perbuatan curang yang dilakukan oleh pemborong.

2) Pengawas proyek yang membiarkan perbuatan curang.

3) Rekanan Tentara Nasional Indonesia (TNI) atau Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) yang berbuat curang.

4) Pengawas rekanan Tentara Nasional Indonesia (TNI) atau Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) yang berbuat curang.

58Risalismawatu, “Analisis Penegakan Hukum Terhadap Dugaan Tindak Pidana

Korupsi Pejabat Desa Tayando Yamru Kecamatan Tayando Tam Kota Tual”, Skripsi Jurusan Hukum Pidana Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon, 2021, Hal. 21-23.

59Ibid, Hal. 24.

Dokumen terkait