• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN UMUM TENTANG JAMINAN

A. Pengertian Jaminan Dan Penjamin

1. Pengertian Jaminan

71

70

Victor Situmorang. Loc. Cit., h. 99.

71

Kwik Kian Gie, Loc.Cit , h. 15.

Istilah jaminan merupakan terjemahan dari bahasa Belanda, yaitu zekerheid atau cautie.

Zekerheid atau cautie mencakup secara umum cara-cara kreditur menjamin

dipenuhinya tagihannya, disamping pertanggung jawaban umum debitur terhadap barang-barangnya atau dapat dikatakan pengertian jaminan adalah “menjamin

Anju Ciptani Putri Manik : Peranan Dan Tanggung Jawab Penjamin (Personal Guarantee) Di Dalam Permohonan Perkara Pailit, 2007.

USU Repository © 2009

dipenuhinya kewajiban yang dapat dinilai dengan uang yang timbul dari suatu perikatan hukum”.72

1. Difokuskan pada pemenuhan kewajiban kepada kreditur (bank);

Konstruksi jaminan dalam defenisi ini ada kesamaan dengan yang dikemukakan oleh Hartono Hadisoeprapto dan M. Bahsan, dimana Hartono Hadisoeprapto berpendapat bahwa jaminan adalah sesuatu yang diberikan kepada kreditur untuk menimbulkan keyakinan bahwa debitur akan memenuhi kewajiban yang dapat dinilai dengan uang yang timbul dari suatu perikatan.

Kedua defenisi yang jaminan dipaparkan di atas adalah :

2. Wujud jaminan ini dapat dinilai dengan uang (jaminan materiil);

3. Timbulnya jaminan karena adanya perikatan antara kreditur dengan debitur. Sedangkan M. Bahsan menggunakan istilah jaminan, dimana ia berpendapat bahwa jaminan adalah segala sesuatu yang diterima kreditur dan diserahkan debitur untuk menjamin suatu utang piutang dalam masyarakat.73

Menurut Pasal 2 ayat (1) Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 23/69/KEP/DIR tanggal 28 Februari 1991 tentang jaminan pemberian kredit dikemukakan bahwa Jaminan adalah suatu keyakinan bank atas kesanggupan debitur untuk melunasi kredit sesuai dengan perjanjian.74

Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Indonesia memang tidak secara tegas merumuskan tentang apa yang dimaksudkan dengan jaminan itu.

72

Salim, H.S, Perkembangan Hukum Jaminan di Indonesia (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), h. 21.

73

Ibid.

74

Anju Ciptani Putri Manik : Peranan Dan Tanggung Jawab Penjamin (Personal Guarantee) Di Dalam Permohonan Perkara Pailit, 2007.

USU Repository © 2009

Namun demikian dari ketentuan Pasal 1131 dan Pasal 1132 KUH Perdata dapat diketahui arti dari jaminan tersebut.

Ketentuan Pasal 1131 KUH Perdata menyatakan bahwa :

“Segala kebendaan si berhutang (debitur), baik yang bergerak maupun yang tidak tidak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada dikemudian hari, menjadi jaminan suatu segala perikatan pribadi debitur tersebut”.

Pasal 1131 KUH Perdata tersebut mengandung asas bahwa setiap orang bertanggung jawab terhadap utangnya, tanggung jawab yang mana berupa penyediaan kekayaannya baik benda bergerak maupun benda tak bergerak, jika perlu dijual untuk melunasi utang- utangnya.

Dalam ketentuan Pasal 1132 KUH Perdata menyatakan bahwa :

“Kebendaan tersebut dalam Pasal 1131 menjadi jaminan bersama bagi para kreditur, dan hasil pelelangan kebendaan tersebut dibagi diantara para kreditur seimbang menurut besar kecilnya piutang mereka masing- masing, kecuali alasan- alasan yang sah untuk mendahulukan piutang yang satu daripada piutang yang lain ”.

Dari Pasal 1132 KUH Perdata tersebut dapat diketahui bahwa apabila seorang debitur mempunyai beberapa kreditur maka pada prinsipnya kedudukan para kreditur itu adalah sama (asas paritas creditorum). Dalam pasal ini juga menunjukan bahwa asas keseimbangan ini dapat dikecualikan atau dikesampingkan apabila ada alasan- alasan yang sah. Alasan-alasan yang sah ini dapat berbentuk karena undang-undang atau karena ada perjanjian.75

75

Anju Ciptani Putri Manik : Peranan Dan Tanggung Jawab Penjamin (Personal Guarantee) Di Dalam Permohonan Perkara Pailit, 2007.

USU Repository © 2009

Jaminan atas hutang adalah salah satu model pembayaran, biasanya dibuat bersama sama dengan agreement lainnya seperti loan atau leasing agreement, Pasal 1820 KUH Perdata:76

Menurut H. Salim H.S dalam bukunya Perkembangan Hukum Jaminan di Indonesia menuliskan bahwa Jaminan adalah keseluruhan dari kaidah-kaidah hukum yang mengatur hubungan hukum antara pemberi dan penerima jaminan dalam kaitannya dengan pembebanan jaminan untuk mendapatkan fasilitas kredit.

Pada dasarnya hukum jaminan adalah hukum yang mengatur tentang hak jaminan kebendaan yang mencakup hak jaminan benda tak bergerak dan hak jaminan benda bergerak. Hak jaminan benda tak bergerak dikenal dengan Hak Tanggungan, sedangkan hak jaminan benda bergerak adalah Gadai dan Fidusia.

77

Penjamin adalah debitur dari kewajiban untuk menjamin pembayaran oleh debitur.

2. Pengertian Penjamin

Menurut Rasjim Wiraatmadja seorang advokat senior mengatakan bahwa : “Penjamin adalah pihak yang menjamin dan berjanji serta mengikatkan

diri untuk dan atas permintaan pertama dan kreditur membayar utang secara tanpa syarat apapun dengan seketika dan secara sekaligus lunas kepada kreditur, termasuk bunga, provisi dan biaya-biaya lainnya yang sekarang telah ada dan atau dikemudian hari terutang dan wajib dibayar oleh debitur.”

78

76

Herna Pardede, Guarantee, dikutip dari situs internet

http//www.hernathesis.multiply.com., diakses tanggal 25 April 2007.

77

Salim,H.S, Op.Cit, h. 6.

78

Imran Nating, Op.Cit, h. 33.

Anju Ciptani Putri Manik : Peranan Dan Tanggung Jawab Penjamin (Personal Guarantee) Di Dalam Permohonan Perkara Pailit, 2007.

USU Repository © 2009

kreditur manakala sidebitur lalai atau cidera janji, penjamin baru menjadi debitur atau berkewajiban untuk membayar setelah debitur utama yang utangnya ditanggung cidera janji dan harta benda milik debitur utama atau debitur yang ditanggung telah disita dan dilelang terlebih dahulu tetapi hasilnya tidak cukup untuk membayar utangnya, atau debitur utama lalai atau cidera janji sudah tidak memepunyai harta apapun. Maka berdasarkan ketentuan tersebut penjamin atau penanggung tidak wajib membayar kepada kreditur, kecuali debitur lalai membayar.

Pemberi jaminan adalah orang-orang atau badan hukum yang menyerahkan barang jaminan kepada penerima jaminan, dimana yang bertindak sebagai pemberi jaminan ini adalah orang atau badan hukum yang membutuhkan fasilitas kredit.

Penanggungan utang atau borgtocht adalah suatu persetujuan dimana pihak ketiga guna kepentingan kreditor, mengikatkan dirinya untuk memenuhi kewajiban debitur apabila debitur bersangkutan tidak dapat memenuhi kewajibannya (Pasal 1820 KUH Perdata).79

79

Ibid.

Mengenai pengertian penanggungan ditegaskan dalam Pasal 1820 KUH Perdata, yang menyatakan bahwa :

“Penanggungan adalah suatu persetujuan dengan mana seorang pihak ketiga, guna kepentingan si berutang, mengikatkan diri untuk memenuhi perikatannya si berutang manakala orang ini sendiri tidak memenuhinya”.

Anju Ciptani Putri Manik : Peranan Dan Tanggung Jawab Penjamin (Personal Guarantee) Di Dalam Permohonan Perkara Pailit, 2007.

USU Repository © 2009

Dalam hal ini dapat dikatakan hakikat dari penanggungan adalah sebagai berikut:

1. Penanggung adalah jaminan perorangan (security right in personam) yang diberikan :

a. Oleh Pihak ketiga dengan sukarela b. Guna kepentingan kreditur

c. Untuk memenuhi kewajiban debitur bila ia tidak memenuhinya (Pasal 1820 KUH Perdata)

2. Penanggung adalah perjanjian asesor (accesoir), oleh karena itu:

a. Tidak ada penanggungan tanpa perjanjian pokok yang sah (Pasal 1821 KUH Perdata)

b. Cakupan penanggungan tidak dapat melebihi kewajiban debitur sebagaimana dimuat dalam perjanjian pokok (pasal 1822 KUH Perdata).

B. Tujuan Adanya Jaminan dalam Kepailitan

Tujuan jaminan yaitu untuk meyakinkan bank atau kreditur, bahwa debitur mempunyai kemampuan untuk mengembalikan atau melunasi kredit yang diberikan kepadanya sesuai dengan persyaratan dan perjanjian kredit yang telah disepakati bersama.80

Dibutuhkannya jaminan dan agunan dalam suatu pemberian fasilitas kredit adalah semata-mata berorientasi untuk melindungi kepentingan kreditur, agar

80

Anju Ciptani Putri Manik : Peranan Dan Tanggung Jawab Penjamin (Personal Guarantee) Di Dalam Permohonan Perkara Pailit, 2007.

USU Repository © 2009

dana yang telah diberikannya kepada debitur dapat dikembalikan sesuai jangka waktu yang ditentukan. Dengan perkataan lain, pihak pemilik dana (kreditur), terutam lembaga perbankan atau lembaga pembiayaan mensyaratkan adanya jaminan bagi pemberian kredit demi keamanan dan dan kepastian hukumnya. Jadi jelaslah bahwa tanpa adanya jaminan dari debitur maka tentu pihak kreditur tidak akan memberikan fasilitas kredit kepadanya. Ini berarti bahwa dalam kegiatan bisnis jaminan mempunyai peranan yang sangat penting.81

Tujuan bersama pembuatan perjanjian penanggungan adalah untuk menjamin pelaksanaan perikatan debitur terhadap kreditur yang ada dalam suatu perjanjian lain yang hendak dijamin pelaksanaannya disebut saja perjanjian pokok, yang melahirkan perikatan-perikatan pokok. Dengan demikian, kausa perjanjijan penanggungan adalah untuk memperkuat perjanjian pokoknya.82

Hal ini dapat diartikan tidak konsisten dimana di satu pihak, ketentuan Pasal 56 tampaknya mengakui Hak Separatis dari Kreditur Preferen, di pihak lain ketentuan Pasal 56 UUK No. 37 Tahun 2004 justru mengingkari hak separatis itu Penjelasan Pasal 56 ayat (2) UUK No. 37 Tahun 2004 yang mengemukakan bahwa penangguhan bertujuan antara lain untuk memperbesar kemungkinan mengoptimalkan harta pailit adalah sama artinya dengan mengemukan bahwa harta Debitur yang sebelum kepailitan telah dibebani dengan Jaminan merupakan harta pailit ketika Debitur itu dinyatakan pailit.

81

Ibid.

82

Anju Ciptani Putri Manik : Peranan Dan Tanggung Jawab Penjamin (Personal Guarantee) Di Dalam Permohonan Perkara Pailit, 2007.

USU Repository © 2009

karena menentukan bahwa barang yang dibebani dengan hak jaminan merupakan harta pailit.

Pasal 56 ayat (3) UUK No. 37 Tahun 2004 menentukan, selama jangka waktu penangguhan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), kurator dapat menggunakan atau menjual harta pailit yang berada dalam pengawasan kurator dalam rangka kelangsungan usaha debitur, sepanjang untuk itu telah diberikan perlindungan yang wajar bagi kepentingan kreditur atau pihak ketiga sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Artinya, Undang-Undang Kepailitan tidak memisahkan benda-benda yang dibebani hak jaminan sebagai benda-benda yang bukan merupakan harta pailit.

Ini merupakan sikap yang meruntuhkan sendi-sendi sistem hukum hak jaminan. Hal itu lebih lanjut telah membuat tidak ada artinya penciptaan lembaga hak jaminan di dalam hukum perdata dan membuat kaburnya konsep dan tujuan hak jaminan itu.

Menurut Fred B.G. Tumbuan yang menjadi salah satu anggota Tim Penyusun Perpu No. 1 Tahun 1998, keberadaan lembaga baru yaitu lembaga penangguhan hak eksekusi kreditur yang tagihannya dijamin dengan hak jaminan atas hak kebendaan (kreditur separatis) perlu untuk mencegah agar pemberian PKPU tidak menjadi mubazir, hal mana mudah terjadi seandainya kreditur Separatis dapat mengeksekusi hak-hak mereka sebagaimana hal itu dimungkinkan dalam UUK yang lama.

Menurut Peraturan Kepailitan yang lama, yaitu Faillissements

Anju Ciptani Putri Manik : Peranan Dan Tanggung Jawab Penjamin (Personal Guarantee) Di Dalam Permohonan Perkara Pailit, 2007.

USU Repository © 2009

kepailitan. Artinya,ketentuan mengenai penundaan 90 hari sebagaimana yang ditentukan dalam Undang-Undang Kepailitan tidak ada. Dengan kata lain, menurut Peraturan Kepailitan yang lama itu hak separatis dari kreditur preferen benar-benar dihormati.

C. Bentuk-Bentuk Jaminan

Jaminan dapat digolongkan menurut hukum yang berlaku di Indonesia dan yang berlaku di Luar Negeri. Dalam Pasal 24 Undang-UndangU No.14 Tahun 1967 tentang Perbankan ditentukan bahwa “ Bank tidak akan memberikan kredit tanpa adanya jaminan”. Secara umum jaminan dibedakan atas dua macam yaitu: 1. Jaminan Materiil (Kebendaan), Jaminan kebendaan.

Jaminan kebendaan adalah suatu tindakan berupa suatu penjaminan yang dilakukan oleh si berpiutang (kreditur) terhadap debiturnya, atau antara siberpiutang dengan seorang pihak ketiga guna memenuhi kewajiban-kewajibandari si berutang (debitur).83

Hasil Seminar Badan Pembinaan Hukum Nasional yang diselenggarakan di Yogyakarta, pada Juli 1977 yang dikemukakan oleh Sri Soedewi Masjchoen Sofwan mengatakan jaminan materiil (kebendaan) adalah merupakan jaminan yang berupa hak mutlak atas suatu benda, yang memepunyai ciri-ciri mempunyai hubungan langsung atas benda tertentu, dapat dipertahankan terhadap siapapun, selalu mengikuti bendanya dan dapat dialihkan.84

83

Kwik Kian Gie, Op.Cit, h. 19.

84

Anju Ciptani Putri Manik : Peranan Dan Tanggung Jawab Penjamin (Personal Guarantee) Di Dalam Permohonan Perkara Pailit, 2007.

USU Repository © 2009

Jaminan kebendaan mempunyai ciri-ciri “kebendaan” dalam arti memberikan hak mendahului diatas benda-benda tertentu dan mempunyai sifat melekat dan mengikuti benda yang bersangkutan, dimana unsur-unsur yang tercantum pada jaminan materiil yaitu:85

1. Hak mutlak atas suatu benda;

2. Cirinya mempunyai hubungan langsung atas benda tertentu; 3. Dapat dipertahankan terhadap siapapun;

4. Selalu mengikuti bendanya;

5. Dapat dialihkan kepada pihak lainnya.

Jaminan kebendaan dapat digolongkan menjadi 4 macam, yaitu: 1. Gadai (pand), yang diatur didalam Bab 20 buku II KUH Perdata;

2. Hipotek atas kapal laut dan pesawat udara, yang diatur dalam Bab 21 buku II KUH Perdata;

3. Hak Tanggungan, yang diatur didalam UU No. 4 Tahun 1996 ; 4. Jaminan Fiducia, yang diatur di dalam UU No. 42 Tahun 1999.

Ad.1 Gadai (pand) :

a. Pengertian gadai

Menurut Undang-Undang dalam Pasal 1150 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Gadai adalah:

“Gadai adalah suatu hak yang diperoleh seorang berpiutang atas suatu barang bergerak, yang diserahkan kepadanya oleh seorang berutang atau orang lain atas namanya, dan yang memberikan kekuasaan kepada si berpiutang untuk mengambil pelunasan dari barang tersebut secara

85

Anju Ciptani Putri Manik : Peranan Dan Tanggung Jawab Penjamin (Personal Guarantee) Di Dalam Permohonan Perkara Pailit, 2007.

USU Repository © 2009

didahulukan daripada orang berpiutang lainnya, dengan pengecualian biaya untuk melelangbarang tersebut dan biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkannya, setelah barang itu digadaikan, biaya-biaya mana harus didahulukan”.

b. Dasar Hukum :

Ketentuan-ketentuan tentang gadai diatur didalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (benda gadai: Pasal 1152 dan hak gadai: Pasal 1150), dengan sedikit perubahan antara lain melalui Stb.1875 – 258, Stb.1917 – 497, Stb.1938 – 276, merupakan ketentuan yang sudah berumur lebih dari 100 tahun.86

c. Subjek dan Objek Gadai

1. Subjek Gadai

Subjek gadai terdiri atas dua pihak, yaitu pemberi gadai (pandgever) dan penerima gadai (pandnemer). Pandgever yaitu orang atau badan hukum yang memberikan jaminan dalam bentuk benda bergerak selaku gadai penerima gadai untuk pinjaman uang yang diberikan kepadanya atau pihak ketiga. Pandnemer yaitu orang atau badan hukum yang menerima gadai sebagai jaminan untuk pinjaman uang yang diberikan kepada penerima gadai.87

2. Objek Gadai

Objek gadai ini adalah benda bergerak. Benda bergerak ini dibagi menjadi dua macam, yaitu benda berwujud dan tidak berwujud. Benda berwujud adalah benda yang dapat berpindah atau dipindahkan. Benda bergerak yang tidak berwujud seperti piutang atas bawah, piutang atas tunjuk, hak memungut hasil atas benda dan atas piutang.

86

J. Satrio, Op.Cit., h. 95.

87

Anju Ciptani Putri Manik : Peranan Dan Tanggung Jawab Penjamin (Personal Guarantee) Di Dalam Permohonan Perkara Pailit, 2007.

USU Repository © 2009

Ad.2 Hipotek atas kapal laut dan pesawat udara :

a. Pengertian hipotek atas kapal laut dan pesawat udara. Menurut Pasal 1162 KUH Perdata Hipotek adalah:

“Suatu hak kebendaan atas benda-benda tak bergerak, untuk mengambil penggantian daripadanya bagi pelunasan bagi suatu perikatan”.

Vollmar mengartikan hipotek adalah:

“ Sebuah hak kebendaan atas benda-benda tak bergerak tidak bermaksud untuk memberikan orang yang berhak (pemegang hipotek) sesuatu nikmat dari suatu benda, tetapi ia bermaksud memberikan jaminan belaka bagi pelunasan sebuah hutang dengan dilebihdahulukan”.

b. Dasar Hukum :

Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang hipotek kapal laut dan pesawat udara dapat dilihat dilihat sebagai berikut:

1. Pasal 1162 sampai dengan Pasal 1232 KUH Perdata. 2. Pasal 314 sampai dengan pasal 316 KUH Dagang.

3. Artikel 1208 sampai dengan Artikel 1268 NBW Belanda. 4. Pasal 49 Undang-undang No. 21 Tahun 1992 tentang pelayaran. c. Subjek dan Objek Hipotek Kapal Laut dan Pesawat Udara.

1. Subjek Hipotek

Ada dua pihak yang terkait dalam perjanjian pembebanan hipotek kalal laut dan pesawat udara, yaitu penerima hipotek (hypotheekgever) dan penerima hipotek (hypotheeknemer). Pemberi hipotek adalah mereka yang sebagai jaminan memberikan suatu hak kebendaan, atas benda yang tidak bergerak, biasanya mereka mengadakan suatu utang yang terikat pada hipotek, tetapi hipotek atas

Anju Ciptani Putri Manik : Peranan Dan Tanggung Jawab Penjamin (Personal Guarantee) Di Dalam Permohonan Perkara Pailit, 2007.

USU Repository © 2009

beban ketiga. Penerima hipotek yaiut pihak yang menerima hipotek, pihak yang meminjamkan uang dibawah ikatan hipotek. Biasanya yang menerima hipotek ini adalah lembaga perbankan.

2. Objek Hipotek

Objek hipotek diatur Pasal 1164 KUH Perdata, dimana objek hipotek yaitu:

a) Benda-benda tak bergerak yang dapat dipindah tangankan beserta segala kelengkapannya ;

b) Hak pakai hasil atas benda-benda tersebut berserta segala perlengkapannya ;

c) Hak numpang karang dan hak usaha ;

d) Bunga tanah, baik yang dibayar dengan uang maupun yang harus dibayar dengan hasil tanah ;

e) Bunga seperti semula ;

f) Pasar-pasar yang diakui oleh pemerintah, beserta hak-hak asli merupakan yang melekat padanya.

Ad. 3 Hak Tanggungan :

a. Pengertian Hak Tanggungan

Dalam Kamus Bahasa Indonesia, tanggungan diartikan sebagai barang yang dijadikan jaminan. Dalam Pasal 1 ayat (1) UU No. 4 Tahun 1996 disebutkan pengertian hak tanggungan adalah :

“ Hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana dimaksud dalam UU No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria

Anju Ciptani Putri Manik : Peranan Dan Tanggung Jawab Penjamin (Personal Guarantee) Di Dalam Permohonan Perkara Pailit, 2007.

USU Repository © 2009

berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah itu untuk pelunasan hutang tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditur tertentu terhadap kreditur-kreditur lainnya.

b. Dasar Hukum :

Hak Tanggungan diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1996 tentang “Hak tanggungan atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan dengan tanah” yang disingkat dengan UUHT.

c. Subjek dan Objek Hak Tanggungan 1. Subjek Hak Tanggungan

Subjek hak tanggungan diatur dalam Pasal 8 sampai dengan Pasal 9 UU No. 4 Tahun 1996 tentang hak tanggungan. Dalam kedua pasal itu ditentukan bahwa yang dapat menjadi subjek hukum dalam pembebanan hak tanggungan adalah pemberi hak tanggungan dan pemegang hak tanggungan.

Pemberi hak tanggungan dapat perorangan atau badan hukum, yang mempunyai kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum terhadap objek hak tanggungan. Sedangkan pemegang hak tanggungan terdiri dari perorangan atau badan hukum yang berkedudukan sebagai pihak yang berkepentingan.

2. Objek Hak Tanggungan

Didalam KUH Perdata dan ketentuan mengenai Credietverband dalam

Staatsblad 1908-542 sebagaimana telah diubah dengan Staatsblad1937-190, telah

diatur tentang objek hipotek dan Credietverband meliputi: a. Hak Milik (eigendom) ;

Anju Ciptani Putri Manik : Peranan Dan Tanggung Jawab Penjamin (Personal Guarantee) Di Dalam Permohonan Perkara Pailit, 2007.

USU Repository © 2009

c. Hak Guna Usaha (HGU).

Ad. 4 Jaminan Fidusia :

a. Pengertian Jaminan Fidusia

Istilah fidusia berasal dari bahasa Belanda, yaitu fiducie, sedangkan dalam bahasa Inggris disebut fiduciary transfer of ownership, yang artinya kepercayaan. Didalam Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang No. 42 Tahun 1999 tentang jaminan fidusia kita jumpai pengertian jaminan fidusia adalah:

“Pengalihan hak kepemilikan atas suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya yang diadakan tersebut dalam penguasaan pemilik benda itu”.

b. Dasar Hukum Jaminan Fidusia

Apabila kita mengkaji perkembangan jurisprudensi dari peraturan perundang-undangan, yang menjadi dasar hukum berlakunya fidusia yaitu :

1. Arrest Hoge Raad 1929, tertanggal 25 januari 1929 tentang Bierbrouwerij Arrest ( negeri Belanda) ;

2. Arrest Hoggerechtshof 18 Agustus 1932 tentang BPM-Clynet Arrest

(Indonesia) ;

3. Undang-Undang No. 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia. c. Subjek dan Objek Jaminan Fidusia

1. Subjek Jaminan Fidusia

Subjek dari jaminan fidusia adalah pemberi dan penerima fidusia. Pemberi fidusia adalah orang perorangan atau korporasi pemilik benda yang menjadi objek

Anju Ciptani Putri Manik : Peranan Dan Tanggung Jawab Penjamin (Personal Guarantee) Di Dalam Permohonan Perkara Pailit, 2007.

USU Repository © 2009

jaminan fidusia, sedangkan penerima fidusia adalah orang perorangan atau korporasi yang mempunyai piutang yang pembayarannya dijamin dengan jaminan fidusia.

2. Objek Jaminan Fidusia

Menurut Undang-Undang N0. 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia, bahwa objek jaminan fidusia dapat dibagi atas 2 macam yaitu :

a. Benda bergerak, baik yang berwujud maupun tidak berwujud, dan

b. Benda tidak bergerak, khususnya bangunan yang tidak dibebani hak tanggungan.

Di Luar Negeri, Lembaga Jaminan dibagi menjadi 2 (dua) macam, yaitu : a. Lembaga jaminan dengan menguasai bendanya (possessory security) dan, b. Lembaga jaminan tanpa menguasai bendanya.

Jaminan yang dijelaskan di atas itu merupakan jaminan kebendaan. Artinya, yang menjadi jaminan adalah bendanya itu sendiri, yaitu benda yang dibebani dengan Hak Jaminan itu.

2. Jaminan Imateriil (perorangan dan badan hukum)

Selain jaminan kebendaan, hukum juga mengenal Jaminan Penjamin atau Penjamin (penanggung) yang diberikan oleh penjamin atau guarantor. Artinya yang menjadi jaminan itu adalah penjaminnya. Dahulu kala, konsekuensi dari orang yang mengajukan dirinya sebagai penjamin utang debitur apabila penjamin tersebut tidak mampu membayar utang debitur dari harta kekayaannya, penjamin tersebut akan menjadi budak dari kreditur. Dalam perkembangannya, jaminan

Anju Ciptani Putri Manik : Peranan Dan Tanggung Jawab Penjamin (Personal Guarantee) Di Dalam Permohonan Perkara Pailit, 2007.

USU Repository © 2009

penjamin tersebut tidak lagi menyangkut jasmani dari penjamin tersebut, tetapi terbatas kepada harta kekayaan penjamin itu saja.88

Jaminan pribadi (personal guarantee) merupakan suatu jaminan yang diberikan oleh seseorang secara pribadi bukan badan hukum untuk menjamin hutang orang/ badan hukum lain kepada seseorang atau beberapa kreditur. Apabila debitur tidak melaksanakan kewajibannya untuk membayar hutang tersebut, merupakan kewajiban pihak garantor untuk membayarnya, sehingga dalam hal seperti itu, kedudukan guarantor berubah, tidak ubahnya seperti debitur pula.

Jaminan perorangan adalah jaminan seorang dari pihak ketiga yang bertindak untuk menjamin dipenuhinya kewajiban-kewajiban dari debitur. Dengan perkataan lain, jaminan perseorang itu adalah suatu perjanjian antara seorang berpiutang (kreditur) dengan seorang ketiga, yang menjamin dipenuhinya kewajiban-kewajiban si berutang (debitur).

89

Dalam jaminan perorangan (bortogcht) itu selalu dimaksudkan bahwa untuk pemenuhan kewajiban-kewajiaban pihak debitur, yang dijamin pemenuhannya seluruhnya atau sampai suatu bagian tertentu, harta benda debitur dapat disita dan dilelang menurut ketentuan-ketentuan perihal pelaksanaan atau eksekusi putusan pengadilan.90

88

Sutan Remy Sjahdeni. Op.Cit., h. 282.

Dokumen terkait