• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Kajian Teoritis

3. Tinjauan Umum BUMN

Badan Usaha Milik Negara adalah badan usaha yang dimiliki oleh pemerintah Indonesia yang dimulai sejak zaman kemerdekaan. Pengambilalihan semua perusahaan milik Belanda menjadi milik (penguasaan) pemerintah Republik Indonesia (nasionalisasi). Proses pengambilalihan ini dimaksudkan pemerintah untuk melakukan pengaturan berbagai alokasi sumber daya kepada seluruh masyarakat secara merata. Dengan demikian setiap individu mempunyai kesempatan yang sama untuk menikmati hasil dari kekayaan negara, untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Dengan melihat sejarah pembentukannya tersebut, maka tujuan utama didirikan BUMN di Indonesia, pertama kerena merupakan proses nasionalisasi dari perusahaan milik pemerintah Belanda, kedua mengacu pada ketetapan MY RS No. XXIII/MPRS/1966 dalamm rangka pembinaan dan pengendalian usaha negara. Dengan demikian maka berdirinya BUMN pertama kali di Indonesia ini dilandasi oleh alasan politik, karena merupakan proses nasionalisasi.

Melalui peraturan Pemerintah No. 23 tahun 1958 dilakukan nasionalisasi terhadap perusahaan-perusahaan Belanda yang beroperasi di sektor-sektor ekonomi seperti perkebunan, perbankan, perdagangan dan pelayanan jasa. Dalam Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 1960 (PERPU No. 19/1960), kegiatan-kegiatan usaha tersebut disebut sebagai Perusahaan Negara.

Pasal 1 UU No. 19 Prp tahun 1960, merumuskan pengertian Perusahaan Negara adalah semua bentuk perusahaan dalam bentuk apapun yang modalnya untuk seluruhnya merupakan kekayaan Negara Republik Indonesia, kecuali ditentukan oleh Undang-undang.

Dari perumusan pengertian perusahaan negara yang tertuang didalam pasal 1 UU No. 19 Prp tahun 1960 tersebut diatas, maka ciri utama yang digariskan oleh perumus Undang-Undang tersebut bagi perusahaan negara adalah bahwa "modal" perusahaan tersebut seluruhnya adalah modal-pemerintah. Dalam perkembangan ekonomi yang terjadi di Indonesia maka pada tangga 1 Agustus 1969, pemerintah Indonesia mengambil kebijaksanaan bare dalam dunia usaha dengan memberlakukan Undang-undang No. 9 tahun 1969 tentang Bentuk-bentuk Perusahaan Negara mengggantikan Undang-undang No. 19 Prp tahun 1960 yang dirasakan kurang efisien.

Dengan diundangkan UU No. 9 tahun 1969, maka . telah terjadi perombakan sistem permodalan perusahaan negara, dimana pihak swastalmasyarakat umum diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam usaha perusahaan negara dengan melakukan investasi modal melalui kepemilikan saham perusahaan negara yang bersangkutan. Untuk maksud tersebut maka UU No. 9 tahun 1969 mengatur adanya tiga bentuk perusahaan negara yakni:

1. Perusahaan Jawatan atau PERJAN adalah Perusahaan Negara yang didirikan dan diatur menurut ketentuan-ketentuan yang termaktub dalam Indonesische Bedrijvennwet (Stbl.

1927 : 419 sebagaimana yang telah beberapa kali diubah dan ditambah).

2. Perusahaan Umum Negara atau PERUM adalah Perusahaan Negara yang didirikan dan diatur berdasarkan ketentuan-ketentuan yang termaktub dalam Undang-undang No. 19 Prp 1960.

3. Perusahaan Perseroan Negara atau PERSERO adalah perusahaan dalam bentuk perseroan terbatas seperti diatur menurut ketentuan-ketentuan Kitab Undang-undang Hukum Dagang (Stbl. 1847 : 23 sebagaimana yang telah beberapa kali diubah dan ditambah), baik yang saham-sahamnya tmtuk sebagiannya maupun seluruhnya dimiliki oleh Negara.

Sebagai badan usaha yang ditunjuk pemerintah, BUMN selain berfungsi untuk menjaga stabilitas ekonomi juga mempunyai kewajiban untuk menjalankan misi sosial, demi untuk peinerataan dan kemakmuran bangsa. Dengan adanya ketentuan dalam fungsi tersebut, memyebabkan terbatasnya rang gerak usaha BUMN disatu sisi diharapkan dapat menciptakan keuntungan, tetapi disisi lain harus menjalankan fungsi sosial maupun politik pemerintah.

Supaya BUMN dapat menjalankan fungsi-fungsinya tersebut, maka pemerintah banyak melakukan intervensi, diantaranya adalah dengan jalan memberikan proteksi ataupun berbagai fasilitas negara kepada badan usaha tersebut. Dasar pemberian proteksi tersebut mengacu kepada tujuan dasar pembentukan BUMN, yang utamanya adalah untuk kepentingan masyarakat banyak (hal ini diperkuat karena dituangkan dalaw uentuk undang-undang). Dalam melaksanakan fungsi tersebut banyak sekali hambatan dan kendala. Baik itu berupa hambatan politik, ekonomi, maupun sosial budaya.

Sejak tahun 1983, dalam rangka meningkatkan efisiensi organisasi BUMN, pemerintah telah berusaha untuk melakukan beberapa deregulasi, baik dalam hal status pemilikan, fungsi dan tugas, maupun pengelolaan BUMN. Deregulasi yang dituangkan dalam bentuk kebijaksanaan pemerintah ini dimaksudkan supaya BUMN dapat melakukan kegiatannya secara produktif, efektif dan efisien. Meskipun pada kenyataannya beberapa deregulasi dianggap tidak efektif, karena banyak kendala yang dihadapi baik dari segi ekonomi maupun politik.

Tindakan deregulasi ini ditunjukan melalui berbagai kebijaksanaan pemerintah yang dilakukan secara bertingkat, sebagai bagian dari proses penyusunan kebijakan publik (Bromley.

1989). Kronologis proses pembuatan kebijaksanaan-kebijaksanaan ini dimulai dari Keputusan Pemerintah dalam bentuk Undang-Undang (UU) atau Peraturan Pemerintah (PP), Keputusan Presiden (KEPPRES), Instruksi Presiden (INPRES), Keputusan Menteri Keuangan (SK MENKEU), yang diperkuat oleh surat edaran lainnya, baik yang dikeluarkan oleh Menteri Keuangan maupun instansi lainnya yang terlibat sehingga diharapkan BUMN bertambah baik kinerjanya dan dapat menwujudkan semua apa yang telah dicanangkan oleh pemerintah.

a. Perusahaan Go-Public

Perusahaan go public adalah perusahaan yang menjual sahamnya ke masyarakat umum.

Di Indonesia istilah perusahaan go public disebut juga dengan perusahaan terbuka (Tbk).

Beberapa keuntungan dari go public (Pagano dan Roell, 1998) di antaranya:

1. Adanya peraturan bursa yang menuntut transparansi laporan keuangan dalam proses perdagangan yang adil dan wajar membuat pengawasan lebih mudah dilakukan dan biaya modal yang diminta oleh investor akan lebih rendah

2. Dana yang dapat diperoleh untuk kegiatan investasi lebih besar.

3. Efektifitas biaya karena penyebaran informasi dan aktivitas perdagangan saham terpusat.

4. Adanya perlindungan bagi pemegang saham minoritas dari usaha penyuapan pihak manajemen perusahaan terhadap pemegang saham mayoritas untuk mengurangi pengawasan terhadap perusahaan.

Adapun kekurangan go public diantaranya :

1. Timbul biaya pendaftaran (listing) dan go public di pasar modal.

2. Adanya peraturan yang cukup ketat untuk dapat go public

3. Pengungkapan (Disclosure).

Beberapa pihak di dalam perusahaan umumnya keberatan dengan ide pengungkapan.

Manajer enggan mengungkapkan semua informasi yng dimiliki karena dapat digunakan oleh pesaing. Sedang pemilik enggan mengungkapkan informasi tentang saham yang dimilikinya karena publik akan mengetahui besarnya kekayaan yang dipunyai.

4. Ketakutan untuk diambil alih.

Manajer perusahaan yang hanya mempunyai hak veto kecil akan khawatir jika perusahaan go public. Manajer perusahaan dengan hak veto yang rendah umumnya diganti dengan manajer yang baru jika perusahaan diambil alih.

Untuk dapat go public, perusahaan perlu memenuhi semua persyaratan yang ditetapkan diantaranya:

➢ Pemyataan pendaftaran emisi telah dinyatakan efektif oleh Bapepam.

➢ Laporan Keuangan diaudit oleh akuntan yang terdaftar di Bapepam dengan

➢ pendapat Wajar Tanpa Kualifikasi (WTK) untuk tahun buku terakhir.

➢ Minimal jumlah saham yang dicatatkan 1 juta saham.

➢ Julnlah pemegang saham minimal 200 pemodal (1 pemodal memiliki sekurang-kurangnya 500 saham).

➢ Telah berdiri dan beroperasi sekurang-kurangnya 3 tahun.

➢ Secara akuntansi telah mencatat laba/rugi operasional.

➢ Secara ekonomis telah memperoleh pendapatanlbiaya yang berhubungan dengan operasi pokok.

➢ Anggota Direksi dan Komisaris memiliki reputasi yang baik.

Dokumen terkait