• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tidak dipungkiri hukum pidana di Indonesia merupakan produk dari barat. KUHP di Indonesia mempunyai nama asli wetboek van strafrech voor nederlandsch indie (W.v.S), merupakan titah raja atau Koninklijk Besluit (K.B), pada 15 Oktober 1915. Titah raja tersebut berlaku di Indonesia ketika penjajahan Belanda, sehingga dengan titah raja tersebut terjadi dualistis dalam sistem hukum di Indonesia. Dualistis sistem yang terjadi mempunyai pengertian bahwa bagi orang Eropa berlaku satu sistem hukum Belanda, yakni titah raja atau Koninklijk Besluit (K.B), dan bagi orang bumi putra berlaku hukum pidana adat. Hukum yang berlaku bagi orang Eropa tersebut merupakan aturan yang berasaskan hukum Belanda kuno dan hukum Romawi. Kemudian hukum yang berlaku bagi orang bumi putra sendiri merupakan hukum yang tertulis dan tidak tertulis, namun sebagian besar tidak tertulis.5

Pada 10 Februari tahun 1866 merupakan awal pengenalan kodifikasi Kitab Undang-undang Hukum Pidana yang berlaku di Indonesia. Untuk bangsa Eropa menggunakan Het Wetboek Van Srafrecht Voor Europeanen, berlaku mulai 1 januari 1867. Kemudian dari peraturan pemerintah (ordonansi) pada 6 Mei 1872 ditetapkan pula Het Wetboek Van Strafrech Voor Inlands en Daarmede

5

Gelijkgestelde. Ordonansi tersebut merupakan aturan pidana yang diperuntukkan bagi orang bumi putra, dan mulai berlaku pada 1 Januari 1873.

Het Wetboek Van Strafrech Voor Inlands en Daarmede Gelijkgestelde merupakan aturan yang telah disesuaikan dengan agama dan lingkungan hidup bumi putra. Ada perbedaan mengenai kedua aturan tersebut, yakni mengenai sanksi. Jika orang bumi putra melakukan perbuatan pidana sanksinya adalah kerja paksa (rodi), sedangkan orang Eropa hanya dikenakan hukuman penjara atau kurungan.6

Namun dari hasil kodifikasi tersebut tidak sama dengan apa yang berlaku di negara asalnya, karena terdapat penyesuaian menurut kebutuhan dan keadaan tertentu. Terdapat Pasal-Pasal yang dihapus guna menyesuaikan dengan kondisi

Dualistik sistem yang terjadi akhirnya berakhir setelah ditetapkannya Koninklijk Besluit Van Srtafrech Voor Nederlandsh sebagai hukum pidana di Hindia Belanda, dan berlaku pada 1 Januari 1918. Koninklijk Besluit Van Srtafrech Voor Nederlandsh merupakan aturan pidana khusus bagi daerah jajahan yang dibentuk pada tahun 1913. Pada mulanya dualistik hukum akan tetap dipertahankan, yakni dengan membuat aturan bagi orang Belanda dan bumi putra. Ketika kedua aturan tersebut telah diselesaikan, ternyata menteri daerah jajahan ketika itu (Mr. Indenburg) berpendapat lain, bahwa harus ada satu saja hukum pidana di Hindia Belanda.

dan misi kolonialisme. Akan tetapi asas-asas dan dasar filsafatnya tetap sama, yakni dari masa liberal kapitalis.7

Kodifikasi yang dilakukan Belanda ternyata sepenuhnya tidak didukung oleh orang-orang Belanda sendiri, seperti Van Vollenhoven. Ia berpendapat bahwa jika kodifikasi secara sepihak dilakukan maka tatanan masyarakat adat akan hancur. Karena tidak benar pemberian hukum Belanda kepada orang bumi putra akan memperkaya peradaban pribumi. Belanda hanya memberi ruang kepada hukum adat ketika masyarakat adat benar-benar membutuhkannya. Selama ini masyarakat adat telah terbiasa hidup dengan hukum apa adanya, baik tertulis ataupun tidak tertulis8

Terdapat persamaan sejarah berlakunya hukum pidana di Belanda dan Indonesia, yakni sama-sama datang dari luar atau hasil dari kolonialisme. Berawal ketika Prancis menjajah Belanda pada Tahun 1811, dengan membawa code penal (kodifikasi hukum pidana) yang dibuat tahun 1810 saat Napoleon Bonaparte menjadi penguasa. Pada tahun 1813 Prancis meninggalkan negeri jajahannya, namun Belanda masih mempertahankan Code Penal Napoleon tersebut sampai tahun 1886. Pada tahun 1886 mulai diberlakukan Wetboek Strfrecht sebagai pengganti Code Penal Napoleon. Sebagaimana diketahui bahwa hukum pidana berasal dari Belanda, maka terjadi ketimpangan dalam aplikasinya, tidak memenuhi aspirasi dan kebutuhan hukum masyarakat, seperti yang paling krusial adalah bahasa. Setelah proklamasi kemerdekaan, sesuai dengan Pasal II aturan

7

Sudarto, Hukum Pidana I, Jakarta: Rineka Cipta 1998 hal15

8

Soetandyo Wignjosoebroto, Dari Hukum Kolonial Ke Hukum Nasional, dinamika sosial

politik dalam perkembangan hukum di Indonesia, Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 1994, hal

peralihan Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia 1945 (selanjutnya dalam tulisan ini disebut UUD 1945) menyatakan bahwa tetap berlakunya Koninklijk Besluit Van Srtafrech Voor Nederlandsh Indie. Kemudian dilahirkannya UU No. 1 tahun 1946, sebagai wahana penyesuaian terhadap situasi dan kondisi masyarakat setempat. Dari Undang-undang tersebut maka nama Wetboek Van Srtafrech Voor Nederlandsh Indie dapat disebut dalam bahasa Indonesia, yakni Kitab Undang-undang Hukum Pidana.

Tidak hanya KUHP, undang-undang mengenai lalu lintas pun berasal dari Belanda. Berawal dari revolusi industri pada abad 19 yang mempengaruhi kondisi automotif dunia. Perusahaan yang berkembang saat itu adalah Benz pada tahun 1986, perusahaan tersebut merupakan pelopor dalam pembuatan mobil dan motor. Oleh pemerintah Hindia Belanda, mobil dan motor tersebut dibawa ke Indonesia. Karena banyaknya mobil dan motor ketika itu, oleh pemerintah Hindia Belanda menilai perlu adanya peraturan yang mengatur guna menertibkan mobil dan motor yang ada. Saat itu mulailah aktivitas lalu lintas di Indonesia.

Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) merupakan hal yang sangat dekat dekat masyarakat. Setiap waktu masyayarkat terus bergulat dengan Angkutan Jalan dengan bermacam-macam kepentingan. Oleh karena itu disini warga negara butuh agar hak-hak mereka dalam berlalulintas di jamin dan dilindungi oleh Negara. Negara sebagai sebuah Organisasi Tertinggi dari masyarakat berkewajiban menjamin dan melindungi hak-hak warga negaranya di Jalan.9

9

Sejarah Lalu lintas dan Angkutan jalan di Indonesia telah melewati berbagai masa sejak dari masa Pemerintahan Belanda sampai pada era refomasi pada saat ini. Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pun telah melewati berbagai kondisi zaman dibarengi dengan berbagai kemajuan di Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sampai perubahan pola tingkah Laku masyarakat.

Lalu lintas dan Angkutan Jalan ketika pada Masa Pemerintahan Hindia Belanda di atur dalam Werverkeersordonnantie” (Staatsblad 1933 Nomor 86). Perkembangan selanjutnya Weverkeersordonnantie tidak sesuai lagi dengan tuntutan dan dirubah lagi dalam Staatsblad 1940 No. 72. Kemudian Weverordinantei dirubah lagi setelah Indonenesia tepatnya pada tahun 1951 dengan UU No. 3 Tahun 1951 Perubahan Dan Tambahan Undang Undang Lalu Lintas Jalan (Wegverkeersordonnantie, Staatsblad 1933 no. 86)

Kemudian Selang 15 Tahun kemudian dari berlakunya UU no 15 Tahun 1951 Pemerintah Indonesia mengatur lagi Lalu Lintas dan Angkutan Jalan kedalam Undang-Undang yang baru serta Mencabut peraturan sebelumnya tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Maka Lahirnya UU No. 3 Tahun 1965 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang pada waktu itu atas persetujuan bersama antara Presiden Soekarno dengan DPR GR (Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong).undang No 3 Tahun 1965 ini bahwa ini adalah Undang-undang pertama yang Mengatur LLAJ di Indonesia setelah Indonesia Merdeka.

Seiring dengan perkembangan zaman dan IPTEK pada 27 Tahun kemudian diatur kembali LLAJ di Indonesia dengan Undang-Undang yang baru yaitu Undang-Undang No 14 Tahun 1992. Ada hal yang menarik dari UU no 14

Tahun 1992 ini bahwa Undang-undang ini sempat ditangguhkan selama setahun melalui PERPU no 1 Tahun 1992 yang disahkan menjadi Undang-undang No 22 Tahun 1992.

Selanjutnya UU mengenai LLAJ terkahir kali ditur di Indonesia dengan Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Jalan dengan semangat reformasi dan semangat perubahan.

Bahwa seiring dengan tujuan yang ingin diwujudkan sebagaimana tersbut diatas, dan setelah mempertimbangkan segela sesuatunya dengan seksama, maka untuk menjaga agar pelaksanaannya dapat berlangsung dengan sebaik-baiknya dipandang perlu untuk menangguhkan berlakunya Undnag-undang tersebut guna memberi waktu yang lebih cukup lagi untuk meningkatkan pemahaman, persiapan dan kesiapan segenap aparatur pemerintah yang bersangkutan serta masyarakat pada umumnya mengenai Undang-Undang tersebut ”

Dengan lahirnya Undang-undang No 22 tahun 1992 makanya UU No 14 tahun 1992 ditangguhkan pelaksanaannya yang direncanakan pada 17 september 1992 menjadi 17 September 1993 karena berbagai pertimbangan dari pemerintah.

10

Pada 11 November 1899 ditetapkanlah peraturan mengenai lalu lintas, dan dinyatakan berlaku pada 1 Januari 1900. Bentuk peraturan ini adalah peraturan pemerintah (reglemen), yang disebut Reglement op Gebruik Van Automobilen (Statblaad 1899 No. 301). Sepuluh tahun kemudian pada tahun 1910 dikeluarkan

lagi peraturan mengenai kendaraan, Motor Reglement (Statblaad 1910 No. 73).11

Kemudian masuk kepada penjelasan mengenai salah satu kejahatan di jalan raya, yang sering kita sebut dengan tabrak lari. Tindakan tidak bermoral tersebut telah meresahkan masyarakat terutama pengguna jalan lain, yakni dengan meninggalkan korban yang seharusnya mendapatkan pertolongan. Sehingga urgensi Pasal tersebut sama dengan Pasal-Pasal lain yang ada dalam UU No. 22 Tahun 2009, yakni sebagai permasalahan sosial dalam bidang lalu lintas. Peristiwa tabrak lari merupakan jenis pelanggaran baru, karena tidak dapat lepas dari perkembangan kendaraan bermotor yang ada. Sehingga kecil kemungkinan Dengan demikian peraturan mengenai lalu lintas telah ada sejak penjajahan.

Begitu pula mengenai polisi lalu lintas, organ kepolisian tersebut telah ada lebih awal sejak zaman VOC. Namun baru dipertegas susunannya pada masa pemerintahan gubernur jenderal Stanford Rafles, pada masa pendudukan Inggris. Polisi lalu lintas sendiri ada untuk mengimbangi perkembangan lalu lintas yang terus meningkat, sehingga perlu diadakan spesifikasi tugas polisi, dalam hal ini adalah di bidang lalu lintas.

Lahirnya UU No. 22 Tahun 2009 merupakan langkah maju di bidang transportasi dan angkutan jalan. Sebelum diundangkannya undang-undang tersebut, Indonesia telah memiliki UU No. 14 Tahun 1992 tentang lalu lintas. Namun seiring dengan zaman yang dinamis, ada tuntutan untuk menyesuaikan peraturan dengan kondisi yang ada. Dengan demikian lahirnya UU No. 22 Tahun 2009 tersebut tidak lepas dari situasi dan kondisi transportasi yang ada.

11

kecelakaan tersebut terjadi pada abad-abad 19, mengingat kendaraan bermotor ketika itu tidak sebanyak sekarang. Peradaban sekarang merupakan peradaban modern yang tidak dapat lepas dari kendaraan bermotor, maka seorang pengguna jalan sangat mungkin terlibat dalam kecelakaan tersebut.12

Tingkat kecelakaan lalu lintas (laka lantas) di wilayah Sumatera Utara (Sumut) terus menurun dalam rentang waktu tiga tahun terakhir. Imbasnya pemberian santunan kepada korban laka lantas yang diberikan PT. Jasa Raharja (Persero) cabang Sumut juga ikut menurun dalam rentang waktu terakhir. Penurunan tingkat kecelakaan disebabkan oleh berhasilnya sosialisasi keselamatan berkendara dan sejumlah kebijakan terobosan yang dikeluarkan oleh Polda Sumut. Menurut data laka lantas yang diberikan Dirlantas Polda Sumatera Utara, Kombes Agus Sukamso, jumlah laka lantas pada tahun 2013 sebanyak 6.329 kasus, atau mengalami penurunan jika dibandingkan pada 2012 yang sebanyak 8.188 kasus laka lantas. Kemudian, lanjut Agus, pada kuartal I 2014 jumlah laka lantas sebanyak 1.929 kasus, atau turun 3,84% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya di periode yang sama yaitu 2.006 jumlah kasus.13

Memperhatikan data-data ini, keselamatan jalan sudah sewajarnya menjadi prioritas utama yang mendesak untuk segera diperbaiki dan menjadi perhatian bersama. Karena permasalahan ini tidak hanya terjadi dalam skala nasional saja. Namun sudah menjadi masalah global. Jika tidak ada langkah-langkah

12

Andrew R. Cecil, et. al., Traffic Law Enforcement, Terj. Hega Angayomi, Penegakan

Hukum Lalu Lintas, panduan bagi para polisi dan pengendara, Bandung: Nuansa, 2011, hal 99

13

penanangan yang segera dan efektif diperkirakan korban kecelakaan akan meningkat dua kali lipat setiap tahunnya.

2. Faktor-faktor terjadinya Pelanggaran Lalu Lintas

Kecelakaan di Indonesia hampir selalu terjadi setiap hari dikarnakan kesalahan pengemudi itu sendiri. Kecelakan juga banyak terjadi karna faktor lain, diantaranya adalah karna pengemudi tidak mematuhi peraturan lalu lintas untuk menjaga keselamatan, keamanan dan juga kelancaran lalu lintasnya juga. Masyarakat Indonesia masih banyak yang belum sadar atas pentingnya peraturan lalu lintas dan hal ini yang harus diperhatikan oleh pihak yang bersangkutan maupun pemerintah.

Faktor-faktor terjadinya pelanggaran lalu lintas yang sering sekali terjadi di Indonesia :14

a. Minimnya pengetahuan masyarakat terhadap peraturan lalu lintas yang berlaku di Indonesia hal tersebut dikarenakan kurangnya kesadaran masyarakat untuk mencari tahu peraturan lalu lintas atau rambu-rambu lalu lintas.

b. Semenjak kecil seorang anak kecil sudah diperbolehkan membawa kendaraan bermotor yang seharusnya umurnya belum mencukupi untuk berkendara sehingga mereka sering melanggar peraturan lalu lintas karna belum mengetahui peraturan-peraturan lalu lintas.

14

c. Hanya patuh ketika ada kabar bahwa akan ada rajia atau saat ada polisi. Ini sudah hal biasa yang sering kita lihat dijalanan bahkan kita sendiri sering melakukan ini.

d. Tidak memikirkan keselamatan pengendara lain atau masyarakat yang ada di sekitar jalan. Contohnya pengendara motor tidak memakai helm, kaca spion dan tidak menyalakan lampu disiang hari.

e. Bisa langsung mengurus pelanggaran lalu lintas di tempat atau kata lain “damai”. Hal ini lah yang sering terjadi di setiap ada rajia polisi atau pelanggaran lalu lintas, hal yang pertama yang dipikirkan oleh pengendara saat terkena tilang karena melakukan pelanggaran lalu lintas adalah jalan “damai”

3. Tujuan pemidanaan dalam Sanksi Pidana

Membicarakan tujuan dari hukum pidana, alangkah baiknya bila terlebih dahulu membahas mengenai fungsi dari hukum pidana itu sendiri. Hal ini dikarenakan, tanpa mengetahui fungsi dari hukum pidana tersebut kita tidak akan mengetahui untuk apa sebenarnya tujuan dari adanya hukum pidana.

Hukum dibuat untuk dilaksanakan, yang berarti hukum itu bekerja di dalam masyarakat. Bekerjanya hukum dalam masyarakat menunjukan bahwa hukum itu mempunyai fungsi, dimana fungsi hukum secara umum adalah untuk mengatur tata kehidupan dalam masyarakat. Hukum pidana yang masuk dalam bagian hukum publik mempunyai fungsi yang sangat penting mengingat hukum pidana mementingkan pada kepentingan masyarakat atau negara.

Fungsi hukum pidana dapat dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu fungsi yang umum dan fungsi yang khusus. Fungsi yang umum dan khusus dari hukum pidana ini oleh Sudarto dalam buku Hukum Pidana Jilid 1 A-B dijelaskan sebagai berikut:

a. Fungsi umum :

Fungsi umum dari hukum pidana sama dengan fungsi hukum pada umumnya, karena hukum pidana merupakan sebagian keseluruhan lapangan hukum, yaitu mengatur hidup atau menyelenggarakan tata dalam masyarakat. Dalam kehidupan masyarakat terjadi hubungan sosial diantara para anggota masyarakat itu sendiri. Setiap anggota masyarakat mempunyai kepentingan yang sering kali berlawanan dengan kepentingan anggota masyarakat yang lainnya, sehingga sering menimbulkan konflik dan terjadi ketidakharmonisan dalam masyarakat, hukum pidanalah sarana yang diterapkan dalam menyelesaikan konflik tersebut.

b. Fungsi khusus :

Fungsi yang khusus dari hukum pidana adalah melindungi kepentingan hukum terhadap perbuatan yang hendak memperkosanya dengan sanksi yang berupa pidana yang sifatnya lebih tajam jika dibandingkan dengan sanksi yang terdapat dalam cabang-cabang hukum lainnya. Kepentingan-kepentingan hukum (benda-benda hukum) ini boleh dari orang seorang dari badan atau dari kolektiva, misalnya masyarakat atau negara. Sanksi yang tajam itu dapat mengenai harta benda, kehormatan, badan dan kadang-kadang nyawa seseorang yang

memperkosa benda-benda hukum itu. Dapat dikatakan, bahwa hukum pidana itu memberi aturan-aturan untuk menanggulangi perbuatan jahat.15

“Sanksi hukum pidana mempunyai pengaruh preventif (pencegahan) terhadap terjadinya pelanggaran-pelanggaran norma hukum. Pengaruh ini tidak hanya ada apabila sanksi pidana itu benar-benar diterapkan terhadap pelanggaran yang konkrit, akan tetapi sudah ada, karena sudah tercantum dalam peraturan hukum (Theorie des psychischen Zwanges = ajaran paksaan pyschis). Sebagai alat “social control” fungsi hukum pidana adalah subsidier, artinya hukum pidana hendaknya baru diadakan, apabila usaha-usaha lain kurang memadai. Selain dari pada itu, karena sanksi hukum pidana adalah tajam, sehingga berbeda dengan sanksi yang terdapat pada cabang hukum lainnya, maka hukum pidana harus dianggap sebagai “ultimum remidium” (obat terakhir) apabila upaya pada cabang hukum lainnya tidak mempan atau dianggap tidak mempan, oleh karena itu penggunaannya harus dibatasi, kalau masih ada jalan lain janganlah menggunakan hukum pidana”.

Bentuk-bentuk dari adanya fungsi umum dan khusus dari hukum pidana adalah dengan adanya penjatuhan sanksi. Mengenai penjatuhan sanksi ini Sudarto menjelaskan lebih lanjut :

16

Berdasarkan apa yang ada diatas dalam perkembangannya dapat kita lihat bermunculan pendapat dari para sarjana tentang apa yang menjadi tujuan dari hukum pidana tersebut. Menurut Wirjono Prodjodikoro tujuan dari hukum pidana adalah untuk memenuhi rasa keadilan.

17

Menurut Tirtaamidjaja yang dikutip oleh Bambang Poernomo, dalam bukunya Asas-Asas Hukum Pidana, maksud dari hukum pidana ialah melindungi masyarakat.18

15 Sudarto, Op.Cit. 16 Ibid. 17

Wirjono Prodjodikoro, 2002, Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia, Bandung, Refika Aditama, hal. 18

18

Pada umumnya di dalam membuat suatu uraian tentang tujuan hukum pidana, sebagian besar penulis hukum pidana tidak mengadakan pemisahan antara tujuan hukum pidana itu sendiri dengan tujuan diadakannya hukuman atau pidana. Di antara para sarjana hukum, diutarakan bahwa tujuan hukum pidana adalah :19

1) Untuk menakut-nakuti orang jangan sampai melakukan kejahatan, baik secara menakut-nakuti orang banyak (generale preventie) maupun secra menakut-nakuti orang tertentu yang sudah menjalankan kejahatan, agar dikemudian hari tidak melakukan kejahatan lagi (speciale preventie);

2) Untuk mendidik atau memperbaiki orang-orang yang sudah menandakan suka melakukan kejahatan, agar menjadi orang yang baik tabiatnya, sehingga bermanfaat bagi masyarakat.

M.Metode Penelitian