Pengertian Notaris menurut Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris, yaitu :124
“Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat Akta autentik dan memiliki kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini atau berdasarkan undang-undang lainnya.”
Notaris merupakan pejabat umum yang mempunyai tugas dan kewajiban untuk memberikan pelayanan dankonsultasi hukum kepada masyarakat yang membutuhkan. Bantuan hukum yang dapat diberikan dari seorang Notaris adalah dalam bentuk membuat akta autentik ataupun kewenangan lainnya sebagaimana yang dimaksud dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris.
124
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang- Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris, Psl.1 angka 1.
Pada mulanya pengaturan mengenai Notaris diatur dalam Reglement op het Notaris Ambt in Nederlands Indie atau Peraturan Jabatan Notaris Stb. 1860-3 (untuk selanjutnya disebut sebagai PJN). Pasal 1 PJN memuat pengertian tentang Notaris yaitu :
“Notaris itu adalah pejabat umum yang satu-satunya berwenang untuk membuat akta otentik mengenai semua perbuatan, perjanjian dan ketetapan yang diharuskan oleh suatu peraturan umum atau dikehendaki oleh yang berkepentingan agar dinyatakan dalam suatu akta otentik, menjamin kepastian tanggalnya, menyimpan aktanya dan daripada itu memberikan grosse, salinan dan kutipannya kesemua itu sebegitu jauh pembuatanakta itu oleh suatu peraturan umum tidak pula ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat atau orang lain”.125
Dari pengertian Notaris yang terdapat pada pasal tersebut dapat disimpulkan bahwa notaris adalah pejabat umum yang berwenang membuat Akta otentik. Penggunaan kata “satu-satunya” dalam Pasal 1 PJN dimaksudkan untuk memberi pertegasan bahwa notaris adalah satu-satunya pejabat yang mempunyai wewenang “tertentu”, artinya wewenang mereka hanya meliputi pembuatan akta autentik yang secara tegas sudah ditugaskan kepada mereka oleh Undang-Undang. Adapun pejabat lain yang dimaksud antara lain Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT), Pegawai Pencatatan Sipil dan Ketua Pengadilan Negeri.
Menurut Pasal 1868 KUH Perdata, “suatu akta otentik adalah akta yang dibuat dalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang, dibuat oleh atau di hadapan pegawai-pegawai umum (pejabat umum) yang berkuasa (berwenang) untuk itu, ditempat di mana akta itu dibuatnya.”Ketentuan Pasal 1868 KUH Perdata tersebut menjelaskan definisi dari akta otentik, sedangkan apa yang disebut pejabat umum tidak dijelaskan secara rinci.
125
Komar Andasasmita, Notaris Selayang Pandang, Cetakan 2, Bandung Alumni, Bandung, 1983, hlm. 2.
Menurut Pasal 1 angka (1)Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris tersebut, Notaris adalah satu-satunya yang mempunyai kewenangan umum itu, artinya tidak turut para pejabat lainnya. Kewenangan Notaris adalah bersifat umum, sedangkan wewenang pejabat lain adalah pengecualian.126
Di dalam Pasal 1870 dan 1871 KUH Perdata dikemukakan bahwa akta otentik itu adalah alat pembuktian yang sempura bagi kedua belah pihak dan ahli warisnya serta sekalian orang yang mendapat hak darinya tentang apa yang dimuat dalam akta tersebut. Akta otentik yang merupakan bukti yang lengkap (mengikat) berarti kebenaran dari hal-hal yang tertulis dalam akta tersebut dianggap sebagai benar selama kebenarannya itu tidak ada pihak lain yang dapat membuktikan sebaliknya.127 Namun, dengan diundangkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun2004, yang kemudian dirubah dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris, maka Peraturan Jabatan Notaris (PJN) dan
peraturan-peraturan lainnya yangmengatur tentang Notaris dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi, sehingga pengertian Notaris
mengalami sedikit perubahan dari yang lama atau yang telah diatur dalam Peraturan Jabatan Notaris (PJN).
Kewenangan Notaris tersebut diatur lebih lanjut dalam Pasal 15 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris.
Notaris adalah pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta autentik sejauh pembuatan akta autentik tidak dikhususkan kepada pejabat umum lainnya. Pembuatan akta autentik ada yang diharuskan
126 G.H.S. Lumban Tobing, Peraturan Jabatan Notaris, Cetakan ke-3, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1983, hlm. 34
127
oleh peraturan perundang-undangan dalam rangka menciptakan kepastian hukum, ketertiban dan perlindungan hukum.
Kedudukan seorang Notaris sebagai suatu fungsionaris dalam masyarakat hingga sekarang dirasakan masih disegani. Seorang Notaris biasanya dianggap sebagai pejabat tempat seseorang dapat memperoleh nasihat yang boleh diandalkan. Segala sesuatu yang ditulis serta ditetapkannya (konstatir) adalah benar, ia adalah pembuat dokumen yang kuat dalam suatu proses hukum.128
Masyarakat mengenal istilah kenotariatan itu lebih kepada profesinya, yaitu profesi Notaris. Profesi ini ada di Indonesia sejak dan merupakan peninggalan zaman penjajahan Hindia Belanda, Kenotariatan merupakan lembaga peninggalan zaman Hindia Belanda yang diatur dengan aturan perundang-undangan Pemerintah Belanda sejak tahun 1860, tetapi karena telah tumbuh dan berkembang di dalam kehidupan hukum masyarakat dan pemerintahan maka selanjutnya sudah menjadi lembaga yang terus menerus dipakai dalam hubungan-hubungan hukum hingga sekarang, diantaranya guna memperoleh jaminan kepastian hukum dengan diterbitkannya akta autentik sebagai alat bukti yang sempurna.129
Akta Otentik atau sekarang disebut juga dengan istilah Akta Autentik merupakan alat bukti bagi para pihak yang mengadakan hubungan hukum perjanjian. Adanya akta ini untuk kepentingan para pihak, dan dibuat oleh para pihak. Sebagai alat bukti, akta demikian mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurnna bagi para pihak yang membuatnya, Sebagai alat bukti yang sempurna maksudnya adalah kebenaran yang dinyatakan di dalam akta Notaris itu tidak perlu dibuktikan dengan dibantu kekuatan pembuktian demikian itu atas akta
128 Tan Thong Kie, Studi Notariat &Serba-Serbi Praktek Notaris, PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2007, hlm. 444.
129
Putri A.R., Perlindungan Hukum Terhadap Notaris Indikator Tugas-Tugas Jabatan Notaris Yang
tersebut karena akta itu dibuat oleh atau di hadapan Notaris sebagai pejabat umum yang diangkat oleh Pemerintah.130
Pemahaman mengenai arti akta Notaris dengan demikian
sangat penting dalam menciptakan ketertiban hubungan hukum di antara para pihak. Alat bukti bagi para pihak itu tentu dimaksudkan
bahwa para pihak itu menghendaki hubungan hukum seperti yang telah mereka sepakati bersama. Hubungan hukum itu terjadi karena atas kehendak mereka bersama.131
Menurut Heryanto, seorang Notaris dalam menjalankan profesinya sebagai notaris dan sebagai pejabat publik, setidak-tidaknya Notaris harus memerankan 4 (empat) fungsi, yakni :
Pertama, Notaris sebagai Pejabat yang membuatkan akta-akta bagi pihak yang datang kepadanya baik itu berupa akta partij maupun akta relaas. Kedua, Notaris sebagai Hakim dalam hal menentukan pembagian warisan. Ketiga, Notaris sebagai penyuluh Hukum dengan memberikan keterangan-keterangan bagi pihak dalam pembuatan suatu akta. Keempat, Notaris berusaha mempertahankan klien atau relasinya agar operasionalisasi kantornya tetap berjalan.132
Sehubungan dengan jabatan Notaris ini, Habib Adjie mengemukakan sebagai berikut :
Jabatan Notaris diadakan atau kehadirannya dikehendaki oleh aturan hukum dengan maksud untuk membantu dan melayani masyarakat yang membutuhkan alat bukti tertulis yang bersifat otentik mengenai keadaan, peristiwa atau perbuatan hukum. Dengan dasar seperti ini mereka yang diangkat sebagai Notaris harus mempunyai semangat untuk melayani masyarakat dan atas pelayanan itu, masyarakat yang telah merasa dilayani oleh Notaris sesuai dengan
tugas jabatannya, dapat memberikan honorarium kepada Notaris.
130 Ibid. 131 Ibid. 132
Oleh karena itu Notaris tidak berarti apa-apa jika masyarakat tidak membutuhkannya.133
Seorang Notaris di dalam menjalankan jabatannya harus dapat bersikap profesional dengan dilandasi kepribadian yang luhur dengan senantiasa melaksanakan Undang-Undang sekaligus menjunjung tinggi Kode Etik profesinya yaitu Kode Etik Notaris. Berdasarkan Pasal 16 huruf a UUJN, seorang Notaris diharapkan dapat bertindak jujur, seksama, mandiri, tidak berpihak, dan menjaga kepentingan pihak yang terkait dalam perbuatan hukum. Selain itu, Notaris sebagai pejabat umum harus dapat mengikuti perkembangan hukum sehingga dalam memberikan jasanya kepada masyarakat, dalam membantu mengatasi dan memenuhi kebutuhan hukum yang terus berkembang
dapat memberikan jalan keluar yang dibenarkan oleh hukum. Oleh karena itu, Notaris dalam melaksanakan tugasnya tunduk dan
terikat dengan peraturan-peraturan yang ada, yakni Undang-Undang jabatan Notaris, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Kode Etik Notaris dan peraturan Hukum lainnya.134
Notaris adalah pejabat yang diberi kewenangan oleh Negara (berdasarkan ketentuan undang-undang) untuk menyatakan terjadinya hubungan hukum (recht verhouding) antara para pihak dalam sebuah akta. Atas dasar hal yang demikian, maka jelas tampak bahwa akta Notaris itu berkaitan secara langsung dengan nilai martabat para pihak yang berjanji. Janji yang telah dinyatakan di dalam akta tentu merupakan cerminan kehendak tulus dari para pihak, satu terhadap yang lain dan juga menunjukkan martabat para pihak yang dilandasi dengan nilai-nilai luhur kehidupan bersama di dalam masyarakat, bangsa, dan negara.135
133 Habib Adjie, Sanksi Perdata dan Administratif Terhadap Notaris Sebagai Pejabat Publik, Cetakan Kedua, PT. Refika Aditama, Bandung, 2009, hlm. 32.
134
Putri A.R., op.cit, hlm. 5.
Anggota masyarakat mempunyai suatu anggapan bahwa dalam pembuatan suatu akta, kalau mereka sebagai para pihak sudah memegang akta Notaris maka semuanya itu yang membuat (perjanjian mereka) adalah Notaris. Hal demikian ini sesungguhnya adalah pemahaman yang keliru, karena sesungguhnya yang berjanji satu sama lain, atau yang membuat (akta) perjanjian itu, adalah mereka para pihak sendiri dan bukan Notaris. Notaris tidaklah terikat dengan hubungan hukum (perjanjian) yang mereka adakan (sepakati). Pelurusan pemahaman yang keliru tersebut perlu terus menerus diupayakan dalam rangka posisi hukum yang benar mengenai hubungan-hubungan hukum yang terjadi, arti akta otentik itu sendiri, serta posisi dari Notaris sebagai pejabat umum yang menyatakan perbuatan hukum para pihak itu ke dalam sebuah akta. Oleh karena itu, akta yang dibuat oleh seorang Notaris harus mengandung syarat-syarat yang diperlukan agar tercapai sifat otentik dari akta itu sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang Jabatan Notaris (UUJN).136
b. Kewenangan Notaris
Notaris dalam menjalankan jabatannya mempunyai kewenangan tersendiri, yang diatur berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pada Bab III Pasal 15 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris, dinyatakan bahwa : 137
(1) Notaris berwenang membuat Akta autentik mengenai semua perbuatan, perjanjian dan ketetapan yang diharuskan oleh peraturan perundang-undangan dan / atau dikehendaki oleh yang berkepentingan untuk dinyatakan dalam Akta autentik, menjamin kepastian tanggal pembuatan Akta, memberikan grosse, salinan dan kutipan
136
Ibid.
137
Akta, semuanya itu sepanjang perbuatan Akta itu tidak juga ditugaskan atau dikecualikan kepada pejabat lain atau orang lain atau orang lain yang ditetapkan oleh undang-undang.
(2) Selain kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Notaris berwenang pula :
a. Mengesahkan tanda tangan dan menetapkan kepastian tanggal surat di bawah tangan dengan mendaftar dalam buku khusus ;
b. Membukukan surat di bawah tangan dengan mendaftarkan dalam buku khusus ;
c. Membuat kopi dari surat asli dibawah tangan berupa
salinan yang memuat uraian sebagaimana ditulis dan digambarkan dalam surat yang bersangkutan ;
d. Melakukan pengesahan kecocokan fotokopi dengan surat aslinya;
e. Memberikan penyuluhan hukum sehubungan dengan pembuatan Akta ;
f. Membuat Akta yang berkaitan dengan pertanahan ; g. Membuat Akta risalah lelang.
(3) Selain kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2), Notaris mempunyai kewenangan lain yang diatur dalam perundang-undangan.
Berdasarkan pasal tersebut di atas jelas bahwa Notaris sebagai pejabat umum yang melaksanakan tugas dan jabatan memberikan pelayanan publik atau pelayanaan kepada masyarakat untuk membuat akta autentik, disamping itu Notaris juga bertugas
untuk melakukan pendaftaran dan mengesahkan surat yang dibuat di bawah tangan. Selain itu, Notaris juga bertugas untuk memberikan
nasihat dan penjelasan mengenai undang-undang kepada para pihak yang bersangkutan serta memberikan penyuluhan hukum
sehubungan dengan pembuatan akta.
Kewenangan utama Notaris adalah membuat akta autentik, tapi tidak semua pembuatan akta autentik menjadi kewenangan Notaris, misalnya akta kelahiran, akta kematian, akta perkawinan, dan perceraian yang dibuat oleh pejabat lain selain Notaris. Akta yang dibuat Notaris tersebut hanya akan menjadi akta autentik, apabila
Notaris mempunyai kewenangan yang meliputi 4 (empat) hal, yaitu : 138
1) Notaris harus berwenang sepanjang menyangkut akta yang dibuatnya itu. Hal ini sesuai dengan pasal 15 ayat (1) UUJN, yang memuat ketentuan bahwa Notaris adalah pejabat umum yang dapat membuat akta yang ditugaskan kepadanya berdasarkan peraturan perundang-undangan.
2) Notaris harus berwenang sepanjang mengenai orang untuk kepentingan siapa akta itu dibuat.
Pasal 52 ayat (1) UUJN menyatakan bahwa Notaris tidak diperkenankan membuat akta untuk diri sendiri, istri/suami, atau orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan Notaris baik
karena perkawinan maupun hubungan darah dalam garis lurus ke bawah dan/atau ke atas tanpa pembatasan derajat, serta dalam
garis ke samping dengan derajat ketiga, serta menjadi pihak untuk diri sendiri maupun dalam suatu kedudukan ataupun dengan perantaraan kuasa. Maksud dan tujuan dari ketentuan ini adalah untuk mencegah terjadinya tindakan memihak dan penyalahgunaan jabatan.
3) Notaris harus berwenang sepanjang mengenai tempat dimana akta itu dibuat.
Menurut Pasal 18 UUJN, Notaris mempunyai tempat kedudukan di daerah Kabupaten/Kota. Wilayah Jabatan Notaris meliputi
seluruh wilayah propinsi dari tempat kedudukannya. Akta yang dibuat di luar jabatannya adalah tidak sah.
4) Notaris harus berwenang sepanjang mengenai waktu pembuatan akta itu.
Notaris tidak boleh membuat akta selama ia masih cuti atau dipecat dari jabatannya, demikian juga Notaris tidak boleh membuat akta sebelum ia memangku jabatannya.
Mengenai Kewenangan Notaris yang tersebut dalam pasal 15 ayat (1) sampai dengan ayat (3) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris, dapat dibagi menjadi :
1) Kewenangan Umum Notaris.
Pasal 15 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris, menegaskan bahwa salah satu kewenangan Notaris yaitu membuat akta secara umum, hal ini disebut kewenangan umum Notaris dengan batasan sepanjang :
a) Tidak dikecualikan lain kepada pejabat lain yang ditetapkan oleh Undang-Undang.
b) Menyangkut akta yang harus dibuat atau berwenang membuat akta autentik mengenai semua perbuatan, perjanjian, dan ketetapan yang diharuskan oleh aturan hukum atau dikehendaki oleh yang bersangkutan.
c) Mengenai subyek hukum (orang atau badan hukum) untuk kepentingan siapa akta itu dibuat atau dikehendaki oleh yang berkepentingan.
2) Kewenangan khusus Notaris.
Pasal 15 ayat (2) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris, mengatur tentang kewenangan khusus Notaris untuk melakukan tindakan tertentu.
3) Kewenangan Notaris yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.
Pasal 15 ayat (3) Pasal 15 ayat (2) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris, merupakan wewenang yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.
c. Akta Notaris
Pengertian dari Akta Notaris tercantum dalam Bab I Ketentuan Umum, Pasal 1 angka 7 dalam Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris.
Akta Notaris yang selanjutnya disebut Akta adalah Akta autentik yang dibuat oleh atau di hadapan Notaris menurut bentuk dan tata cara yang ditetapkan dalam Undang ini, (maksudnya yaitu Undang Nomor 2 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris.
Mengenai akta Notaris, ada 2 (dua) jenis akta yang dibuat oleh Notaris dalam prakteknya, yaitu : 139
1) Akta yang dibuat oleh (door) Notaris disebut akta relaas atau Akta Berita Acara yang berisi berupa uraian notaris yang dilihat dan disaksikan Notaris sendiri atas permintaan para pihak, agar tindakan atau perbuatan para pihak dituangkan ke dalam bentuk akta notaris.
2) Akta yang dibuat di hadapan (ten overstaan)Notaris, disebut akta pihak (akta partij), yang berisi uraian atau keterangan, pernyataan para pihak yang diberikan atau yang diceritakan di hadapan notaris, di mana para pihak berkeinginan agar uraian atau keterangannya dituangkan ke dalam bentuk akta Notaris.
Sebagaimana fungsi akta pada umumnya, maka akta notaris memiliki dua fungsi yaitu :
1) Fungsi Formil (Formalitas Causa)
Fungsi formil suatu akta berarti bahwa untuk lengkap atau sempurnanya (bukan untuk sahnya) suatu perbuatan hukum, maka harus dibuatkan suatu akta atas perbuatan hukum tersebut. Para
139
pihak yang melakukan suatu perbuatan hukum tersebut. Para pihak yang melakukan suatu perbuatan hukum harus membuatnya dalam bentuk tertulis, baik akta otentik maupun akta di bawah tangan. 2) Fungsi Alat Bukti (Probationis Causa)
Sejak semula para pihak dengan sengaja membuat akta
(autentik ataupun di bawah tangan) untuk suatu pembuktian di kemudian hari. Sifat tertulis suatu perjanjian tidaklah membuat
sahnya suatu perjanjian, akan tetapi agar akta yang dibuat dapat
dipergunakan sebagai alat bukti apabila timbul perselisihan di kemudian hari. Sebagai suatu akta yang otentik maka akta
Notaris itu memiliki kekuatan pembuktian yang lengkap. Bukti lengkap ialah bukti yang sedemikian, sehingga hakim memperoleh kepastian yang cukup (genoegzaam) untuk mengabulkan akibat hukum yang dituntut oleh penggugat, tanpa mengurangi kemungkinan ada bukti tentang kebalikannya.
Akta Notaris sebagai akta autentik mempunyai kekuatan pembuktian lahiriah, formil dan materil, dimana hal tersebut dapat diuraikan sebagai berikut : 140
1) Kekuatan pembuktian lahiriah mengandung arti bahwa akta itu sendiri mempunyai kemampuan untuk membuktikan dirinya sendiri sebagai akta autentik, karena kehadirannya sesuai dan menurut peraturan perundang-undangan yang mengaturnya. Demikian pula akta-akta notaris mempunyai kekuatan pembuktian lahiriah karena akta-akta itu sendiri mempunyai kekuatan untuk membuktikan dirinya sebagai akta autentik yaitu karena kelahirannya ditentukan oleh peraturan perundang-undangan, dari pejabat yang membuatnya, jenis akta yang dibuatnya, kewenangan pembuat aktanya, bentuk aktanya dan sifat aktanya semuanya diatur dalam peraturan perundang-undangan.
2) Kekuatan pembuktian formil itu mempermasalahkan mengenai
benar atau tidaknya ada pernyataan oleh yang bertanda tangan di bawah akta itu, jadi Notaris menyatakan dalam tulisan itu
bahwa apa yang dinyatakan dalam akta itu, sehingga kekuatan pembuktian formil akta autentik menjamin kebenaran tentang tanggal akta, tempat akta tersebut dibuat, komparan dan tanda tangan yang berlaku terhadap setiap orang. Demikian juga pada akta Notaris sebagai akta autentik yang merupakan akta para pihak, bagi siapapun telah pasti bahwa pihak-pihak yang bersangkutan menyatakan seperti apa yang tertulis di atas tanda tangan mereka. Dari hal yang diuraikan di atas, memberikan kepastian bahwa akta Notaris mempunyai kekuatan pembuktian formil.
3) Kekuatan pembuktian materil ini menyangkut pembuktian tentang materi atau isi suatu akta dan memberikan kepastian tentang peristiwa atau kejadian bahwa pejabat dan para pihak melakukan atau melaksanakan seperti apa yang diterangkan dalam akta itu. Terhadap akta yang dibuat oleh Notaris atau akta relaas, sebagai akta autentik, tidak lain hanya membuktikan apa yang disaksikan yakni yang dilihat, didengar dan dilakukan sendiri oleh Notaris itu dalam menjalankan jabatannya. Sedangkan akta para pihak menurut undang-undang merupakan bukti bagi mereka dan ahli warisnya dan sekalian orang-orang yang mendapat hak darinya. Demikian pula pada akta-akta yang dibuat dihadapan Notaris, mempunyai kekuatan pembuktian materil oleh karena peristiwa atau perbuatan hukum yang dinyatakan oleh para pihak dan dikonstatir oleh Notaris dalam akta itu adalah benar-benar terjadi dan akta notaris sebagai akta autentik yang berupa akta para pihak (akta partij), maka isi dan keterangan ataupun perbuatan hukum yang tercantum dalam akta itu berlaku terhadap orang-orang yang
memberikan keterangan itu dan untuk keuntungan serta kepentingan siapa akta itu diberikan.
Menurut Habib Adjie, Akta Notaris itu mempunyai karakter yuridis sebagai berikut : 141
1) Akta Notaris wajib dibuat dalam bentuk yang sudah ditentukan oleh UUJN.
2) Akta Notaris dibuat karena ada permintaan para pihak dan bukan keinginan Notaris.
3) Meskipun dalam Akta Notaris tercantum nama Notaris, tapi dalam hal ini Notaris tidak berkedudukan sebagai pihak bersama-sama para pihak atau penghadap yang namanya tercantum di dalam akta.
4) Mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna. Siapapun terikat dengan akta Notaris serta tidak dapat ditafsirkan lain, selain yang tercantum dalam akta tersebut.
5) Pembatalan daya ikat akta Notaris hanya dapat dilakukan atas
kesepakatan para pihak yang namanya tercantum dalam akta. Jika ada yang tidak setuju, maka pihak yang tidak setuju harus
mengajukan permohonan ke pengadilan umum agar akta yang bersangkutan tidak mengikat lagi dengan alasan-alasan tertentu yang dapat dibuktikan.
d. Kedudukan Hukum Akta Notaris
Kedudukan hukum Akta Notaris adalah sebagai alat bukti yang sempurna. Dalam proses penyidikan, akta notaris dapat digunakan sebagai alat bukti. Suatu akta notaris agar mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna, hendaknya dalam pembuatannya harus memenuhi semua ketentuan prosedur dan tata cara pembuatan akta notaris yang sudah diatur dan sesuai dengan Undang-Undang Jabatan