BAB II LANDASAN TEOR
4. Tinjauan Pendidikan Kewarganegaraan
Pendidikan merupakan salah satu alat untuk membangun bangsa Indonesia melalui generasi mudanya, karena pendidikan memberikan arti penting dalam masa perkembangan generasi muda. Khususnya dalam perkembangan sikap dan perilaku guna memberikan arah dan penentuan pandangan hidupnya. Pendidikan memiliki hakikat mengajarkan manusia untuk menjunjung etika, moral, akhlak, budi pekerti serta perilaku manusia yang dapat menciptakan suatu kehidupan yang baik. Salah satu mata pelajaran yang berperan dalam pembentukan moral, akhlak, budi pekerti, dan etika adalah Pendidikan Kewarganegaraan.
Menurut Nils Rosemann (2006: 73) mengatakan bahwa,” Education was
designed in order to make those educated able to act in accordance with their knowledge either to restrain from violations or to claim human right for their protection”. Pendidikan dirancang untuk membuat orang-orang berpendidikan dan mampu bertindak sesuai dengan pengetahuan mereka baik untuk menahan dari pelanggaran atau untuk mengklaim hak-hak manusia untuk perlindungan mereka.
Sedangkan menurut Numan Sumantri (2001) dalam Winarno dan Wijianto (2010: 4) pengertian pendidikan kewarganegaraan untuk konteks Indonesia yaitu :
Pendidikan Kewarganegaraan yang kiranya cocok dengan Indonesia adalah sebagai program pendidikan yang berintikan demokrasi politik yang diperluas dengan sumber-sumber pengetahuan lainnya, pengaruh positif dari pendidikan sekolah, masyarakat dan orang tua yang kesemua itu diproses guna melatih para siswa untuk berfikir kritis, analitis,
commit to user
bersikap dan bertindak demokratis dalam mempersiapkan hidup demokratis yang berdasar Pancasila dan UUD 1945.
Sehingga, dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan kewarganegaraan adalah suatu pendidikan yang mengembangkan semangat kebangsaan dan kesadaran bernegara untuk bela Negara sebab dengan pelajaran PKN siswa akan diajarkan mencintai tanah air yang berdasarkan atas Pancasila. Rasa cinta tanah air sangat dibutuhkan untuk tetap tegaknya NKRI. Kewarganegaraan (citizenship) merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosiokultural, bahasa, usia, dan suku bangsa, untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. Selanjutnya, Winarno dan Wijianto (2010: 7) menambahkan kembali pendapatnya mengenai tujuan PKn sekarang ini adalah membentuk peserta didik agar memiliki kemampuan sebagai berikut:
a. Berpikir secara kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan;
b. Berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab, dan bertindak secara cerdas dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, serta anti-korupsi;
c. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan pada karakter-karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya.
Dalam hal ini pendidikan kewarganegaraan dipersiapkan untuk masa depan generasi muda agar menjadi warga negara yang terdidik dengan etika dan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Selain itu dengan Pendidikan Kewarganegaraan generasi muda akan memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air, sehingga mereka akan menyumbangkan pikirannya dalam dunia pendidikan yang maju dan modern.
Menurut pendapat Rusnaini (2009: 59) yang mengatakan bahwa
UU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 pasal 1 butir 1, sejalan dengan pemikiran “civic education” tentang pendidikan untuk kewarganegaraan atau pendidikan membangun jati diri kewarganegaraan berimplikasi pada
commit to user
pendidikan yang bukan hanya menekankan pada pengetahuan kewarganegaraan, tetapi pada pengembangan nilai, keterampilan dan pengertian.
Oleh karena itu, di dalam pendidikan yang ada di Indonesia harus berimplikasi pada pendidikan kewarganegaraan sebab di Indonesia memiliki beragam kebudayaan dan beragam nilai-nilai yang terkandung di masyarakat. Pembelajaran pendidikan kewarganegaraan yang ada di sekolah dimaksudkan untuk memanfaatkan kebudayaan yang ada di lingkungan sekitar, agar mereka dapat menghargai hasil jerih payah pengorbanan para leluhurnya dalam mempertahankan kebudayaan Indonesia.
Sedangkan, menurut Peraturan menteri Pendidikan Nasional No. 16 Tahun 2007 mengenai Standar Kualifikasi Akademik Dan Kompetensi Guru bahwa kompetensi guru mata pelajaran PKn pada SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK yaitu
a. Memahami materi, struktur, konsep, dan pola piker keilmuan yang mendukung mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan;
b. Memahami substansi Pendidikan Kewarganegaraan yang meliputi pengetahuan kewarganegaraan (civic knowledge), nilai dan sikap kewarganegaraan (civic disposition), dan keterampilan kewarganegaraan (civic skills);
c. Menunjukkan manfaat mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan (Anonim, 2009: 169).
Berawal dari penjelasan di atas, pendidikan kewarganegaraan dapat memberikan dampak yang positif pada kehidupan siswa. Menurut Kokom Komalasari dan Dasim Budimansyah (2008: 77) bahwa “Globalisasi menuntut Pendidikan kewarganegaraan mengembangkan civic competence yang meliputi pengetahuan kewarganegaraan (civic knowledge), keterampilan kewarganegaraan (civic skills), dan watak kewarganegaraan (civic disposition) yang multidimensional”. Adapun yang dimaksud dalam komponen-komponen civic competence adalah
commit to user
a. Pengetahuan Kewarganegaraan (Civic Knowledge)
Pengetahuan kewarganegaraan pada prinsipnya pengetahuan yang harus diketahui oleh warga Negara dan berhubungan dengan hak dan kewajiban sebagai warga negara. Dalam kurikulum 2006 konsep-konsep kunci yang harus dikembangkan melalui Pendidikan Kewarganegaraan meliputi persatuan dan kesatuan, norma, hukum dan peraturan, hak asasi manusia, kebutuhan warga negara, konstitusi negara, kekuasaan dan politik, demokrasi dan sistem politik, Pancasila, dan globalisasi. Menurut Branson (1990) berdasarkan National Standards And Civics Framework For The 1988 National Assesmenst Of Educational Progress (NAEP), komponen pengetahuan kewarganegaraan ini diwujudkan dalam bentuk lima pertanyaan penting yaitu:
1) Apa kehidupan kewarganegaraan, politik dan pemerintahan?; 2) Apa fondasi-fondasi sistem politik?;
3) Bagaimana pemerintah yang dibentuk oleh konstitusi mengejawantahkan tujuan-tujuan, nilai-nilai dan prinsip demokrasi?; 4) Hubungan antara suatu negara dan negara lain dan posisinya dalam
masalah internasional;
5) Apa peran warga negara dalam demokrasi? (Kokom Komalasari dan Dasim Budimansyah, 2008: 84).
Menurut Dasim Budimansyah dan Udin S. Winataputra (2007: 186-188) yang membahas mengenai lima pertanyaan tentang komponen pengetahuan kewarganegaraan, yaitu “1) Apa kehidupan kewarganegaraan, politik dan pemahaman; 2) Apa fondasi-fondasi sistem politik; 3) Bagaimana pemerintahan yang dibentuk oleh konstitusi mengejawantahkan tujuan–tujuan, nilai–nilai dan prinsip-prinsip demokrasi Indonesia?; 4) Bagaimana hubungan antara Indonesia dengan negara-negara lain di dunia?; 5) Apa peran warga negara dalam demokrasi Indonesia?”.
Hal tersebut dapat dijelaskan dengan sebagai berikut : 1) Apa kehidupan kewarganegaraan, politik, pemerintahan?.
Berdasarkan pertanyaan di atas, hendaknya mengembangkan pemahaman lebih besar akan hakikat pentingnya civil society atau jaringan kompleks dari
commit to user
asosiasi-asosiasi politik, sosial dan ekonomi yang dibentuk dengan bebas dan sukarela yang merupakan komponen essensial dari demokrasi konstitusional. Civil society yang telah maju dapat membantu pemerintah untuk mengentaskan penyelewengan kekuasaan yang berlebihan. Organisasi-organisasi civil society pun dapat digunakan sebagai laboratorium publik, yang warga negara dapat belajar sambil praktek.
2) Apa fondasi-fondasi sistem politik?.
Inti dari pertanyaan di atas yang dibahas adalah mengenai nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang ditegaskan dalam Pembukaan dan pasal-pasal UUD 1945. Adapun nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang mendasar dalam demokrasi dikenal sebagai kesepuluh pilar demokrasi, yang mana isi dari sepuluh pilar tersebut adalah (a) Demokrasi berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa; (b) Demokrasi dengan kecerdasan; (c) Demokrasi yang berkedaulatan rakyat; (d) Demokrasi dengan rule of law; (e) Demokrasi dengan pemisahan kekuasaan dan system saling mengawasi dan mengimbangi (checks and ballances); (f) Demokrasi dengan hak asasi manusia; (g) Demokrasi dengan pengadilan yang bebas; (h) demokrasi dengan otonomi daerah; (i) Demokrasi dengan kemakmuran; dan (j) Demokrasi yang berkeadilan sosial. Pendidikan di sekolah haruslah berakar pada semangat cita-cita sebagaimana yang telah terkandung dalam pembukaan pasal-pasal UUD 1945. Segala yang ada dalam UUD 1945 dapat dijadikan sebagai alat ukur untuk cara dan tujuan pemerintah atau kelompok-kelompok yang merupakan bagian dari civil society.
3) Bagaimana pemerintahan yang dibentuk oleh konstitusi mengejawantahkan tujuan–tujuan, nilai–nilai dan prinsip-prinsip demokrasi Indonesia?.
Pertanyaan ini membantu warganegara untuk memahami dan mengevaluasi pemerintahan yang meliputi pembagian kekuasaan dan penyebaran yang dilakukan oleh pemerintah. Maksud dari pembatasan, penyebaran dan pembagian kekuasaan adalah dengan memahami tujuan tersebut maka setiap warganegara akan mengetahui akan hak dan kewajiban warganegara baik di tingkat lokal, daerah maupun nasional. Sehingga, mereka bisa
commit to user
mengembangkannya melalui partisipasi dan pengembangan hukum dalam sistem politik Indonesia.
4) Bagaimana hubungan antara Indonesia dengan negara-negara lain di dunia?. Dengan memahami pertanyaan di atas masyarakat dapat mengukur peran Indonesia saat ini di mata Internasional karena perkembangan teknologi komunikasi dan informasi. Masyarakat pun dapat mengukur peran Indonesia ke arah mana kebijakan politik luar negeri yang harus diarahkan dan elemen- elemen penting hubungan internasional.
5) Apa peran warga negara dalam demokrasi Indonesia?.
Setiap warganegara merupakan anggota yang setara dari suatu komunitas otonom dan memiliki hak-hak fundamental dan tanggung jawab. Keterlibatan wraganegara dalam kehidupan politik dan civil society dapat membantu meningkatkan kualitas hidup di lingkungan sekitar mereka.
Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengetahuan kewarganegaraan (civic knowledge) berkaitan dengan pengetahuan yang harus dikuasai warga negara seperti pengetahuan tentang system politik, pemerintahan, konstitusi, undang-undang, hak dan kewajiban sebagai warga negara, dan sebagainya. Artinya, guru harus mengembangkan pengetahuan siswa melalui pelajaran yang diterangkannya.
b. Keterampilan Kewarganegaraan (Civic Skills)
Civic skills merupakan implementasi yang dikembangkan dari pengetahuan kewarganegaraan agar siswa dapat menyelesaikan masalah-masalah kehidupan berbangsa dan bernegara.
Berdasarkan The National Standards For Civics and Government Dan The Civics Framework For 1988 National Assessment Of Educational Progress (NAEP), Kokom Komalasari dan Dasim Budimansyah (2008: 84-85) menegaskan bahwa “keterampilan berpikir kritis meliputi keterampilan mengidentifikasi,
commit to user
mengagambarkan/mendeskrisikan, menjelaskan, menganalisis, mengevaluasi, menentukan, dan mempertahankan pendapat yang berkenaan dengan masalah- masalah publik”.
Sedangkan menurut Rusnaini (2009: 63) bahwa “kecakapan kewarganegaraan yang dikembangkan dari pengetahuan kewarganegaraan, meliputi kecakapan-kecakapan intelektual (intellectual skills) dan kecakapan partisipasi (participation skills)”. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kecakapan-kecakapan intelektual penting untuk terbentuknya warga negara yang berperpengetahuan, efektif, dan bertanggung jawab. Dalam pembelajaran PKN, siswa diajak untuk pandai dalam menyelesaikan masalah-masalah publik yang akan mereka dihadapi dalam negara, agar mereka dapat berpikir kritis. Kemudian dari situlah akan tumbuh kesadaran dalam diri siswa untuk cinta tanah air.
c. Watak-watak Kewarganegaraan (Civic Disposition)
Menurut Quigley, dkk (1991) dalam Kokom Komalasari dan Dasim Budimansyah (2008: 85) merumuskan mengenai civic disposition adalah
Sikap dan kebiasaan berpikir warga negara yang menopang berkembangnya fungsi sosial yang sehat dan jaminan kepentingan umum dari sistem demokrasi. Secara konseptual civic disposition meliputi sejumlah karakteristik kepribadian, yakni: “civility (respect and civil discourse), individual responsibility, self-discipline, civic mindedness, open-mindedness (openness, skepticism, recognition of ambiguity), compromise (conflict of principles, compassion, generosity, and loyalty to the nation and its principles”. Artinya kesopanan yang mencakup penghormatan dan interaksi manusiawi tanggung jawab, disiplin diri, kepedulian terhadap masyarakat, keterbukaan pikiran yang mencakup keterbukaan, skeptisimisme, pengenalan terhadap kemenduaan, sikap kompromi yang mencakup prinsip-prinsip konflik dan batas-batas kompromi, toleransi pada keagamaan, kesabaran dan keajekan, keharuan, kemurahan hati, dan kesetiaan terhadap bangsa dan segala prinsipnya.
commit to user
Karakter privat yang mana seseorang wajib menjaga nama baiknya masing-masing dimanapun ia berada, sedangkan karakter publik yaitu seorang warga negara harus tanggap dengan keadaan sekitar dan peduli dengan masakah yang sedang dihadapi negara. Watak-watak kewarganegaraan yang dibentuk dalam PKN haruslah dapat dikembangkan oleh siswa melalui materi yang diajarkan oleh guru.
Berdasarkan Civic Center Education (CCE) dalam Winarno dan Wijianto (2010: 11) karakter kewarganegaraan (civic disposition) diantaranya yaitu :
1) Menjadi anggota masyarakat yang independen (mandiri).
2) Memenuhi tanggungjawab personal kewarganegaraan di bidang ekonomi dan politik.
3) Menghormati harkat dan martabat kemanusiaan tiap individu.
4) Berpartisipasi dalam urusan-urusan kewarganegaraan secara bijaksana dan efektif.
5) Mengembangkan fungsi demokrasi konstitusional yang sehat.
Berangkat dari pendapat di atas, sehingga dapat dikembangkan dalam pembelajaran PKN untuk membentuk watak-watak kewarganegaraan dalam diri siswa. Pada dasarnya bangsa ini membutuhkan warga negara yang mampu berpartisipasi dalam urusan kewarganegaraan sebab hasil dari pikiran merekalah Indonesia dapat berkembang seperti saat ini. Warga negara yang mandiri dan memiliki tanggung jawab penuh di bidang politik dan ekonomi, dinilai dapat membantu bangsa kita dalam mengentaskan masalah yang ada. Selain itu, setiap warga negara wajib menjaga harga diri mereka dimanapun berada dan wajib menjaga nama baik NKRI di muka Internasional. Pengembangan watak kewarganegaraan tidak hanya berhenti disitu saja, namun dalam hal demokrasi konstitusional juga perlu untuk dikembangkan yang artinya bahwa setiap warga negara wajib mentaati peraturan yang ada.
Berdasarkan uraian di atas civic education yang ada di sekolah perlu dikembangkan melalui motivasi belajar, sebab dalam menumbuhkan watak-watak kewarganegaraan seorang guru perlu memberikan contoh dengan masalah yang ada di sekitarnya. Kemudian, dalam menumbuhkan civic skills dalam diri siswa
commit to user
seorang guru dituntut untuk aktif dengan menyisipkan masalah yang ada ketika menyusun bahan ajar. Selanjutnya, dalam mempertahankan pendapatnya pada soal yang diberikan oleh guru, siswa perlu mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan masalah kewarganegaraan. Oleh sebab itu, dalam meningkatkan kualitas civic education di sekolah tidak pernah lepas dari peran guru yang selalu memberikan motivasi belajar dalam diri siswa dan tidak lepas dari kompetensi yang berhubungan dengan motivasi belajar yaitu kompetensi pedagogik dan kompetensi professional. Kedua kompetensi tersebut dinilai dapat meningkat hasil belajar dari civic education sebab berhubungan dengan cara guru menyampaikan materi atau dengan kata lain berhubungan dengan pengelolaan pembelajaran.