• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan Penelitian Terkait

Dalam dokumen TUGAS AKHIR DANDI WENLY SILAEN (Halaman 45-49)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.5 Tinjauan Penelitian Terkait

Berikut ini merupakan beberapa penelitian yang telah dilakukan mengenai tanah gambut, dimana hasil dari penelitian akan dijadikan sebagai bahan acuan dalam melakukan tes terhadap nilai kuat geser dan konsolidasi pada tanah gambut yang sudah pernah dilakukan sebelumnya.

Waruwu (2012) melakukan penelitian mengenai pengaruh compaction test terhadap nilai kuat geser pada tanah gambut Bolungkut Kec. Marbau Labuhan Batu Utara. Pada penelitian ini disimpulkan bahwa terdapat pengaruh compaction terhadap sudut geser dalam tanah (𝜙) dan kohesi (c). Hasil test dari kuat geser langsung menunjukkan bahwa kohesi dan nilai sudut geser dalam tanah gambut mengalami peningkatan setelah mengalami compaction. Nilai kohesi dan sudut geser dalam tertinggi didapat pada sampel yang dipadatkan pada nilai kadar air optimum 95% . Hal itu juga menunjukkan bahwa ternyata compaction tidak memberikan dampak yang besar terhadap nilai kohesi dari tanah disturbed. Dari penelitian ini didapat nilai kohesi untuk tanah disturbed adalah 0,031 kg/cm2 berbeda dengan meningkatnya sudut geser dalam tanah yaitu dari 8,920° pada sampel undisturbed menjadi 12,540° pada sampel disturbed lalu meningkat menjadi 30,010° pada pemadatan 95%.

Muslim dkk (2018) melakukan penelitian tentang pengaruh pemampatan terhadap peningkatan kuat geser pada tanah gambut dilakukan pengujian konsolidasi dan pengujian vane shear untuk mendapat metode yang tepat dalm pelaksanaan konstruksi diatas tanah gambut. Penelitian ini menggunakan contoh tanah gambut amorphous yang diambil dari kecamatan Tambang Kabupaten Kampar dalam kondisi disturb (terganggu) yang terdiri dari 2 (dua) variasi sampel yaitu kondisi asli dan kondisi tanpa serat. Alat yang digunakan adalah alat uji konsolidasi modifikasi dengan diameter 15 cm dan tinggi 15 cm dan vane shear.

Beban diberikan secara bertahap sebesar 10 kPa, 20 kPa, 40 kPa, 80 kPa, 160 kPa dan 320 kPa, masing-masing beban dinaikkan setiap ± 14 hari dan sebelum beban dinaikkan dilakukan pengujian kuat geser dengan vane shear. Hasil penelitian menunjukkan nilai kuat geser mengalami peningkatan akibat semakin besarnya pemampatan, begitu juga dengan angka pori, semakin kecil angka pori maka kuat geser semakin meningkat. Dengan meningkatya kuat geser maka daya dukung

tanah gambut meningkat pula.

Roesyanto and Shakila (2019) melakukan penelitian tentang klasifikasi dan uji konsolidasi pada tanah gambut di Kabupaten Asahan. Tujuan dari penelitian tersebut adalah untuk mengetahui sifat fisik dan klasifikasi tanah gambut dan untuk menganalisis indeks pemampatan (Cc) dan koefisien konsolidasi (Cv) tanah gambut, dengan uji konsolidasi pembebanan bertahap dan pembebanan langsung selama 7 hari. Dari hasil penelitian, disimpulkan bahwa tanah gambut Desa Pertahan Kecamatan Sei Kepayang Kabupaten Asahan memiliki kadar air (w) 726,340%, berat jenis (Gs) 1,302, berat isi basah (γw) 0,764 gr/cm3 , berat isi kering (γd) 0,144 gr/cm3, angka pori (e) 8,060, kadar abu 45,032% dan pH 6. Indeks pemampatan (Cc) sebesar 0,659 dan koefisien konsolidasi (Cv) 0,317 cm2/detik. Tanah gambut di Kabupaten Asahan adalah tanah yang buruk untuk konstruksi bangunan karena memiliki kadar air yang tinggi dan tanah berserat dengan indeks pemampatan yang realtif besar.

Roesyanto and Ramayanti (2019) meneliti tentang tinjauan uji konsolidasi tanah gambut di Kabupaten Batubara. Dari hasil penelitian, diketahui bahwa semakin besar pembebanan dan semakin lama waktu yang diberikan, maka kadar air, angka pori dan berat volume basah yang ada didalam tanah akan mengalami penurunan. Adapun hasil dari penelitian tentang tanah gambut tersebut ialah memiliki kadar air (w) 732 %, specific gravity (Gs) 1,533, angka pore (e) 8,235, berat isi basah (γw) 1,008 gr/cm3 , berat isi kering (γd) 0,166 gr/cm3 , kadar abu 22,424 %, kadar organic 77,576 % dan pH 6. Indeks pemampatan (Cc) sebesar 0,693 dan koefisien konsolidasi (Cv) sebesar 0,275 cm2/detik .

Roesyanto dan Putri (2020) melakukan penelitian mengenai perubahan nilai sudut geser dalam tanah gambut akibat pemadatan. Sampel tanah gambut yang diteliti berasal dari Kabupaten Batubara, Sumatera Utara. Alat yang digunakan untuk menentukan kekuatan geser gambut pada penelitian ini adalah direct shear test dan untuk uji pemadatan dilakukan menggunakan alat penumbuk Proctor Standar. Hasil dari pengujian ini diperoleh nilai kadar air optimum sebesar 37,235%

pada nilai berat isi kering maksimum 0,474 gr/cm3. Untuk pengujian geser langsung diperoleh nilai sudut geser dalam pada sampel undisturbed 0,885° dengan kohesi

sebesar 5,294° dengan kohesi 0,023 MPa. Dapat disimpulkan bahwa tanah gambut Kabupaten Batubara tidak bisa dijadikan sebagai tanah dasar konstruksi sipil karena setelah dilakukan pemadatan nilai sudut geser dalam tetap rendah dan kohesi kecil.

Roesyanto dan Ritonga (2019) menilai bahwa perencanaan pembangunan di atas tanah gambut membutuhkan pemahaman tentang perilaku tanah gambut mengingat besarnya potensi kerusakan yang dapat terjadi pada bangunan di atas gambut. Hal ini dikarenakan pembangunan sarana dan prasarana yang dilaksanakan di atas gambut menghadapi potensi deformasi yang besar dan kestabilan yang rendah selama dan sesudah proses pembangunan. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui besar pengaruh pemadatan pada sampel disturbed terhadap nilai kuat geser tanah gambut. Sampel tanah gambut diambil dari Desa Pertahan, Kecamatan Sei Kepayang, Kabupaten Asahan. Alat yang digunakan untuk menentukan kekuatan geser gambut pada penelitian ini adalah direct shear test. Hasil dari penelitian ini adalah pemadatan tanah gambut dengan Proctor Standar yang dilakukan tidak besar pengaruhnya terhadap nilai kohesi karena tidak ada perubahan unsur-unsur mineral tanah gambut. Tetapi nilai sudut geser dalam mengalami peningkatan yang signifikan dari sampel undisturbed 0,295° menjadi 3,539° pada sampel disturbed 107% Proctor Standar. Ini dikarenakan kepadatan relatif meningkat setelah dilakukan pemadatan pada sampel disturbed 107%.

Khohand dan Fall (2016), menjelaskan secara detail bagaimana buruknya daya dukung dari tanah gambut. Tanah gambut memiliki kekuatan tekan bebas tidak beraturan. Hal ini dapat meningkat secara signifikan yaitu dengan cara penambahan semen pasir-pasir relatif terhadap periode curing yang lebih lama.

Kandungan kelembaban optimum dari bahan berbasis gambut bervariasi dari 64%

hingga 96% sementara rentang kepadatan kering maksimum mulai dari 402 Kg/m3 hingga 1004 Kg/m3.

Nababan (2020) melakukan penelitian tentang klasifikasi dan uji konsolidasi tanah gambut Kabupaten Humbang Hasundutan. Dari hasil penelitian diketahui bahwa kecepatan dilapangan tidak dapat di prediksi secara akurat karena kuantitas sampel yang diuji di laboratorium dan titik-titik pengambilan sampel tidak mewakili seluruh area sampel di lapangan. Kadar air yang dimiliki tanah gambut Desa Nagasaribu juga terbilang cukup besar yaitu sebesar 628,139% dan tanah

gambut cukup berserat, sehingga memiliki pori-pori yang besar pula. Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa akan sangat bahaya jika membangun sebuah kontruksi pada tanah lokasi, dikarenakan daya dukung tanah yang kecil. Oleh karena itu perlu untuk menghindari bahaya mendirikan bangunan pada tanah gambut, perlu dilakukan stabilisasi terhadap tanah gambut tersebut.

Waruwu (2012) melakukan penelitian tentang kajian perilaku konsolidasi tanah gambut dengan oedometer. Pemampatan primer terjadi pada 0,7 – 8,5 menit pertama, pemampatan sekunder paling lama 2200 – 3500 menit, seterusnya dilanjutkan dengan pemampatan tersier. Pemampatan tanah gambut cukup besar setelah beban 1 kg/cm2 dari hubungan tekanan dan angka pori didapatkan nilai indeks pemampatan (𝐶𝑐) dan nilai koefisien konsolidasi (𝐶v). Selain nilai indeks pemampatan (𝐶𝑐) pada konsolidasi dengan beban bertahap didapatkan nilai-nilai parameter konsolidasi lainnya masing-masing nilai M𝑣, dan A𝑣 terlihat sangat berfruktuasi sejak dibebani dengan beban kecil hingga beban besar, namun demikian tetap saja penambahan tekanan yang diberikan akan semakin memperkecil nilai pemampatan. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa, konsolidasi dengan beban bertahap menunjukkan penurunan yang lebih besar pada waktu 10 menit pertama, dengan demikian pemampatan tanah gambut lebih dominan terjadi pada menit-menit awal. Hal yang sama terlihat pada hubungan angka pori dengan waktu di pengujian konsolidasi dengan beban langsung semua variasi beban yang diberikan memperlihatkan proses pemampatan primer yang cukup cepat di menit-menit awal.

BAB III

METODE PENELITIAN

Dalam dokumen TUGAS AKHIR DANDI WENLY SILAEN (Halaman 45-49)

Dokumen terkait