2. 1. Perkembangan Kopi Indonesia 2. 1. 1. Budidaya Kopi
Kopi di Indonesia telah dibudidayakan sejak abad ke-16 dan termasuk salah satu komoditi yang sangat berperan dalam ekspor nasional. Dari segi nilai ekspor, kopi menduduki urutan penting setelah produk-produk kayu dan karet. Adapun jenis tanaman kopi di perkebunan rakyat umumnya adalah jenis
kopi Arabika (Coffea Arabica), Robusta (Coffea Canephora), Liberika (Coffea
Liberica) dan hibrida, yaitu hasil persilangan antara 2 varietas kopi unggul. Diantara jenis kopi tersebut, yang terbanyak ditanam dalam perkebunan rakyat Indonesia adalah jenis kopi robusta karena produksinya tinggi namun resiko penanamannya kecil. Jenis kopi ini dominan dengan pangsa sekitar 90 persen dari seluruh jenis kopi yang ada Indonesia. Sisanya adalah kopi Arabika termasuk juga jenis kopi lainnya, yaitu Liberica dan excelso yang belum dibudidayakan secara khusus.
Hampir semua wilayah di Indonesia dapat ditanami kopi dengan syarat-- syarat tanaman yang baik, oleh karena itu budidaya tanaman kopi hampir menyebar di seluruh wilayah tanah air. Tanaman kopi merupakan tanaman tropis dan sangat cocok untuk iklim di Indonesia. Sehingga dapat dikatakan
komoditi kopi Indonesia memiliki keunggulan mutlak (absolute advantage)
karena kondisi alam yang mendukung budidaya kopi. Kawasan tanah subur dengan sifat tanah berpasir dan tanah lempung sangat mendukung budidaya tanaman kopi. Selain itu, tanah yang cukup dengan humus dan keasaman tanah sekitar pH 5.5-6.5 akan memberikan hasil yang baik. Adapun unsur- unsur tanah yang penting bagi pertumbuhan tanaman kopi adalah Nitrogen, Potasium, Asam Phosphor dan Kapur (Mawardi,1988; Siswoputranto, 1993).
Faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap tanaman kopi adalah ketinggian tempat tumbuh, curah hujan, sinar matahari, angin dan tanah (Tabel 2).
Tabel 2. Persyaratan Lahan dan Iklim untuk Tanaman Kopi
Persyaratan Kopi Arabika Kopi Robusta
Iklim: 1. Curah hujan 2. Suhu 3. Ketinggian tempat Tanah: 1. Keasaman 2. Kesuburan tanah 3. Sifat fisik Minimum 1 300 mm/th; tanaman toleran thd curah hujan tinggi; masa bulan kering pendek, maksimum 4 bulan 15 - 24°C 500 -1 800 m dpl pH 5.2 - 6.2 Baik Kapasitas penambatan air tinggi dan kedalaman tanah cukup
Minimum 1 250 mm/th; optimum pada 1 550 - 2 000 mm/th; masa kering minimum 3 bulan atau lebih
24 - 30°C 0 - 400 m dpl
pH > 4.5; tanaman toleran thd kondisi netral dan basa
Baik
Kapasitas penambatan air tinggi dan kedalaman tanah cukup
Sumber : Siswoputranto, 1993.
Tanaman kopi merupakan tanaman tahunan sehingga pohon kopi akan mulai menghasilkan biji kopi pada tahun ke-3. Umur ekonomis pohon kopi bisa sampai 20 tahun dan jika sudah menghasikan, petani dapat memanen biji kopi setiap tahunnya. Sebagian besar produksi kopi Indonesia dihasilkan dari perkebunan rakyat. Luas perkebunan kopi rakyat mencapai lebih dari 90 persen dari total perkebunan kopi nasional (Tabel 3), sehingga jumlah produksi untuk kebutuhan domestik dan ekspor sekitar 90 persen disuplai dari perkebunan rakyat.
Tabel 3. Perkembangan Luas Areal dan Produksi Tanaman Kopi Menurut Jenis Pengusahaannya,Tahun 1995-2004.
Perkebunan Rakyat Perkebunan Negara Perkebunan Swasta Jumlah Tahun Produksi (ton) L. Areal (Ha) Produksi (Ton) L. areal (Ha) Produksi (ton) L. Areal (Ha) Produksi (Ton) L. Areal (Ha) 1995 429 569 1 109 499 16 824 25 616 11 408 32 396 457 801 1 167 511 1996 435 757 1 103 615 13 184 24 169 10 265 31 295 459 206 1 159 079 1997 396 155 1 105 114 21 050 32 232 11 213 32 682 428 418 1 202 291 1998 469 671 1 068 064 25 759 39 139 19 021 46 166 514 451 1 198 149 1999 469 940 1 059 245 26 208 39 316 11 539 28 716 524 687 1 165 024 2000 514 896 1 192 322 29 754 40 645 9 924 27 720 554 574 1 260 687 2001 541 476 1 258 628 18 111 26 954 9 647 27 801 569 234 1 313 383 2002 654 281 1 318 020 18 128 26 954 9 610 27 210 682 019 1 372 184 2003 658 252 1 327 521 18 205 26 954 9 862 27 255 686 319 1 381 730 2004 659 882 1 540 875 18 770 27 850 9 996 27 965 688 648 1 596 690
Sumber : Ditjen Perkebunan, 2005
2.1.2. Tataniaga Kopi
Tataniaga kopi dimulai dari petani produsen hingga pabrik pengolahan kopi dan perusahaan eksportir. Saluran pemasaran kopi di Indonesia belum efisien sehingga hal ini menyebabkan rendahnya tingkat penerimaan petani.
Berdasarkan bagan tataniaga pada Gambar 1, dapat dilihat bahwa petani kopi dapat memasarkan biji kopinya langsung ke pedagang pengumpul atau lewat tengkulak. Biasanya petani yang memiliki mesin kupas (huller) juga berfungsi sebagai pedagang pengumpul di tingkat desa atau tingkat kecamatan. Pada beberapa daerah di Indonesia, petani kopi telah memiliki kelompok tani yang dapat memasarkan kopi hasil kebun petani langsung kepada eksportir. Hal ini sangat menguntungkan petani karena margin keuntungan yang diperolehnya akan lebih besar.
Petani Kopi Tengkulak Pemilik Huller Pedagang Pengumpul Pedagang Kabupaten Agen tingkat Propinsi
Industri
kopi
Eksportir Tujuan Domestik Tujuan Ekspor Sumber: Siswoputranto, 1993Gambar 1. Bagan Saluran Tataniaga Biji Kopi
Sementara, pada perkebunan-perkebunan besar mereka memiliki unit khusus perdagangan ekspor. Perkebunan jenis ini pada umumnya mempunyai hubungan dengan pihak importir dan membina hubungan tersebut dengan baik. Seluruh eksportir kopi di Indonesia terdaftar sebagai anggota Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI). Badan ini mengusahakan agar kopi Indonesia mendapatkan harga optimal di pasar dunia. Asosiasi ini mewakili
Perkebunan Negara/Swasta
lebih dari ribuan eksportir dengan 13 cabang di ibukota propinsi di Indonesia dan memiliki kantor perwakilan di luar negeri, yaitu New York, London dan Tokyo. Asosiasi ini mewakili anggota-anggotanya dalam hal promosi ekspor, koordinasi dan pembinaan kegiatan anggotanya, serta membina komunikasi yang baik antara eksportir dan importir di seluruh dunia.
2.1.3. Produksi dan Ekspor Kopi Indonesia
Pada saat ini, Indonesia dikenal sebagai produsen terbesar kopi robusta dengan pertumbuhan yang relatif pesat. Pada dekade terakhir, areal dan produksi kopi Indonesia masing-masing meningkat dengan laju 1.94 % dan 2.21 % per tahun. Di sisi lain, daya serap pasar domestik masih rendah yaitu hanya sekitar 35% dari produksi. Sebagai konsekuensinya, pasar kopi Indonesia sangat tergantung pada pasar internasional (Herman, 2002). Indonesia merasakan keuntungan dan kerugian dari adanya kuota ekspor kopi yang
ditetapkan oleh Organisasi Kopi Dunia atau International Coffee Organization
(ICO).
Sebagai salah satu komoditas yang didominasi oleh perkebunan rakyat, perkebunan kopi Indonesia berkembang pesat terutama pada tahun 1980-an dengan laju pertumbuhan 7.83% per tahun. Hal ini antara lain berkaitan dengan harga kopi yang cukup tinggi pada periode tersebut. Pertumbuhan tersebut didominasi oleh perkebunan rakyat yang arealnya meningkat dengan 8.26% per tahun. Di sisi lain, perkebunan besar milik negara (PTPN) dan perkebunan besar swasta arealnya berkembang masing- masing dengan laju 1.73% dan 2.27% per tahun. Sentra-sentra perkebunan kopi di Indonesia antara lain Lampung, Sumatera Selatan, Bengkulu, Aceh, Sumatera Utara, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Timor Timur (Direktorat Jenderal Perkebunan, 2005).
Pada dekade terakhir, laju perluasan areal kopi memang menurun yaitu hanya 1.94% per tahun, yang didominasi oleh perkebunan besar swasta. Di samping hal ini berkaitan dengan harga kopi yang mulai melemah sampai dengan tahun 1993, pemerintah juga mulai membatasi program perluasan dan lebih mengarahkan pada program peremajaan.
Sejalan dengan perkembangan areal, produksi kopi Indonesia juga mengalami perkembangan yang relatif tinggi yaitu 3.93% per tahun. Perkembangan paling pesat terutama terjadi pada periode 1976-1986 dengan laju 6.32% per tahun. Pada dekade terakhir, pertumbuhan produksi relatif menurun yaitu 2.21 % per tahun.
Di samping mengandalkan pasar domestik, pasar kopi Indonesia masih sangat mengandalkan pasar ekspor. Bahkan, kopi merupakan salah sata produk perkebunan yang diandalkan untuk meraih devisa. Pada lima tahun terakhir, bagian produksi yang diekspor berkisar antara 64-100% dari total produksi.
Tujuan ekspor kopi Indonesia umumnya masih mengandalkan kelom- pok negara-negara maju. Untuk kopi robusta tujuan utama ekspor Indonesia adalah Jepang, Jerman, Aljazair, Inggris, dan Polandia. Untuk kopi arabika,
tujuan ekspor utama adalah Jepang, Amerika, Jerman, Singapura, Denmark
dan Belanda. Indonesia juga sudah mulai mengekspor kopi bubuk dengan tujuan utama ke Jepang, Singapura, Jerman, Polandia, dan Amerika Serikat.
Ekspor kopi Indonesia tidak bisa terlepas dan ketentuan perdagangan kopi yang ditetapkan oleh ICO. Periode 1962-1972, ICO menetapkan sistem kuota dan pada periode tersebut Indonesia mendapat jatah kuota sebesar 82 420 ton. Dengan variasi antara 65 ribu - 85 ribu ton. Untuk mengatasi masalah ini Indonesia berusaha menembus pasar non-kuota seperti Jepang. Singapura, Oman, Taiwan, Uni Soviet, dan Korea (Siswoputranro 1993). Oleh
karena adanya penyakit kopi dan frost di Brazil, produksi kopi Brazil menurun drastis sehingga harga melonjak tajam. Menghadapi situasi tersebut, ICO tidak memberlakukan sistem kuota sejak Oktober 1972. Ekspor kopi Indonesia melonjak mencapai sekitar 130 ribu ton per tahun. Pada akhir 1970-an, ekspor Indonesia bahkan mencapai sekitar 200 ribu ton.
Pada Periode 1980 - 1985, harga kopi melemah sebagai akibat kelebihan produksi dan resesi ekonomi. ICO kembali melakukan sistem kuota. Jatah kuota ekspor Indonesia adalah sekitar 183 500 ton. Untuk itu, Indonesia kembali berusaha untuk memanfaatkan pasar-pasar di negara non-kuota. Pada tahun 1986, kembali terjadi kekeringan di Brazil sehingga harga kopi melonjak tajam. ICO tidak bisa lagi mempertahankan mekanisme kuota sehingga pasar kopi kembali dibebaskan. Masa bebas kuota ini berlangsung sampai dengan tahun 1990.
Dengan keberhasilan Putaran Uruguay, pasar kopi domestik diperkirakan mengalami persaingan yang semakin tajam. Seperti tercantum pada komitmen Indonesia mengenai kopi, maka Indonesia harus menurunkan tarif impor, termasuk tarif impor kopi. Untuk kopi biji, tarif impor harus diturunkan dari 100% menjadi 40%-50%, tergantung dari jenis kopi dan tingkat pengolahannya. Pemberlakuan tarif tersebut tentunya akan memperlemah daya saing kopi Indonesia di pasar domestik.
2.2. Tanaman Kopi Arabika
Pada mulanya tanaman kopi belum dibudidayakan secara sempurna oleh penduduk, melainkan masih tumbuh liar di hutan-hutan dataran tinggi. Minuman kopi sangat digemari oleh bangsa Ethiopia karena berkhasiat menyegarkan badan. Oleh karena itu ketika mereka mengembara ke wilayah-wilayah lain, buah
kopi juga terbawa dan tersebar kemana-mana. Mula-mula penyebarannya ke berbagai wilayah cukup lambat karena minuman kopi pada waktu itu hanya dikenal sebagai minuman berkhasiat menyegarkan badan yang terbuat dari cairan daun dan buah segar yang diseduh dengan air panas. Namun semenjak ditemukan cara-cara pengolahan buah kopi yang lebih baik, ternyata minuman kopi menjadi minuman yang di samping berkhasiat juga mempunyai aroma harum khas dan rasanya nikmat akhirnya kopi arabika menjadi terkenal sehingga tersebar ke berbagai negara di Timur Tengah seperti Yaman, Turki, Ottoman, Syria, Eropa, Asia dan Amerika sebagai komoditi perdagangan (Najiyati dan
Danarti, 1995).
Di Indonesia, tanaman kopi diperkenalkan pertama kali oleh VOC pada tahun 1696. Penanaman tanaman ini mula-mula hanya bersifat coba-coba (penelitian), tetapi karena hasilnya memuaskan dan dipandang oleh VOC cukup menguntungkan sebagai komoditi perdagangan, maka VOC menyebarkan bibit kopi ke berbagai daerah-daerah pegunungan agar penduduk menanamnya, kemudian VOC mengeluarkan peraturan “CuItuur Stesel” yang intinya memaksakan sebagian penduduk khususnya di Jawa untuk menanam kopi. Perkebunan besarpun lalu didirikan dan akhirnya tanaman kopi menyebar ke daerah Lampung, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan dan berbagai daerah lain di Indonesia (AEKI, 2001).
Pada perkembangan selanjutnya, perluasan tanaman kopi arabika
meningkat terutama pada perkebunan rakyat. Wilayah Sulawesi Selatan
sendiri pada awalnya mengenal dua macam kopi yaitu kopi robusta dan kopi arabika. Bibit kopi arabika di bawah oleh Bangsa Belanda kira-kira seratus tahun laIu (abad ke 19), pertama kali ditanam di Kabupaten Enrekang sekitar 30 Km dari Kalosi, kemudian tanaman tersebut menyebar ke wilayah Kabupaten Tanah Toraja dan Mamasa.
Menurut Mawardi dan Hulupi (1998) kopi arabika dapat tumbuh dan berproduksi pada ketinggian 700 – 1 000 meter di atas permukaan laut. Lahan- lahan dengan ketinggian tersebut umumnya ditemukan di daerah-daerah pegunungan wilayah MADUTORA. Pertama kali Belanda menanam bibit kopi arabika bersama petani rakyat di daerah Gunung Sambua yang terIetak di Kabupaten Enrekang Gunung Sambua terIetak di Kabupaten Enrekang. Pada tahun 1920 lambat laun perkebunan kopi arabika mulai hilang menjadi hutan belukar. Pada tahun 1945 petani rakyat mengelola kembali lahan-lahan kopi arabika di daerah-daerah pegunungan untuk produksi. Pada tahun 1976 pemerintah Indonesia membuka kembali perkebunan kopi arabika dengan menunjuk PT. Sulotco untuk menangani sekaligus menghidupkan kembali cita rasa kopi khas Kalosi, sehingga kopi arabika pertama kali dikenal dengan nama “Kopi Kalosi Arabika” (AEKI,2001).
Selain di daerah Gunung Sambua, kopi arabika juga dikembangkan di sekitar Gunung Pararang yang terletak di Kecamatan Pana dan Mambi Kabupaten Mamasa. Sedangkan di Tana Toraja kopi arabika dikenal sejak masa penjajahan Belanda dimana bangsa Belanda sendiri yang menanam bibit kopi tersebut di daerah-daerah pegunungan Pararang sekitar daerah Bittuang dan Panggala (Kecamatan Rinding Allo). Kemudian dikembangkan oleh masyarakat melalui budidaya tradisional. Kebiasaan masyarakat di sekitar pegunungan menanam kopi arabika untuk konsumsi sendiri terutama untuk diminum pada pertemuan-pertemuan adat dan pesta-pesta adat dalam acara sakral.
Disamping wilayah sekitar Gunung Sambua dan Gunung Pararang, ditemukan juga lahan-lahan yang potensial untuk tanaman kopi arabika dan merupakan mata pencaharian masyarakat yang berdomisili di sekitar daerah pegunungan dan mempunyai kebudayaan yang berbeda pula. Kabupaten Tana Toraja merupakan obyek wisata yang sangat menarik, mempunyai panorama
alam yang sangat indah dengan budaya yang sangat unik dan hasil kerajinan yang menarik membuat turis mancanegara senang berkunjung ke daerah lama Toraja terutama bila diadakan acara sakral atau pesta adat (Dinas Perkebunan Tator, 2002).
Kecamatan Rinding Allo terdapat obyek wisata yang sangat menarik di daerah pegunungan terdapat beberapa villa, disekitar villa dikelilingi tanaman kopi arabika yang sangat subur, sehingga wisatawan mancanegara sangat tertarik dengan daerah yang bernama Batutumonga. Di Batutumonga itulah turis Mancanegara menyaksikan tanaman kopi sejak berproduksi sampai pengolahan menjadi bubuk yang diolah secara tradisionil. Akhirnya lama kelamaan turis mancanegara tidak mengenal lagi Kopi Kalosi Arabika akan tetapi yang dikenal adalah “Kopi Toraja Arabika”.
2.3. Kondisi Tanaman Kopi Arabika di Wilayah MADUTORA
Tanaman kopi di seluruh dunia terdapat sekitar 4.500 jenis yang dapat
dibagi ke dalam empat kelompok besar yakni; Coffee Canephora, yang salah
satu varietasnya menghasilkan kopi dagang robusta, Coffee Arabica
menghasilkan kopi dagang Arabika; Coffee Excelasa menghasilkan kopi dagang
Excelasa; Coffea Leberica menghasilkan kopi dagang Leberika. Dari segi produksi, yang menonjol kualitas dan kuantitasnya adalah jenis arabika, andilnya
dalam perekonomian dunia tidak kurang dari 70 persen. Jenis robusta mutunya
di bawah kopi arabika, dengan pangsa sebanyak 24 persen dari total produksi kopi dunia, sedangkan leberika dan excelasa masing-masing hanya tiga persen. Kopi arabika Iebih baik dari pada robusta karena rasanya lebih enak dan jumlah kafeinnya Iebih rendah sehingga kopi arabika Iebih mahal dari pada kopi robusta (Spillane, 1990).
Perkembangan luas areal, produksi dan produktivitas kopi arabika di kabupaten Enrekang dan Tana Toraja, masing-masing dapat dilihat pada Tabel 4 dan Tabel 5. Dari data pada Tabel 4 dapat dilihat bahwa rata-rata peningkatan luas areal kopi arabika di kabupaten Enrekang dalam kurun waktu 1993 - 2005 adalah 31 persen. Sedangkan rata-rata perkembangan produktivitas pada tahun 1993 - 2005 adalah sebesar 3.51 persen/tahun.
Tabel 4. Luas Areal, Produksi dan Prodiktivitas Kopi Arabika Daerah Enrekang,Tahun 1993-2005 Tahun LuasAreal (ha) Produksi (ton) Produktivitas (kg/ha) 1993 2 132 1 393 653 1994 2 795 1 873 670 1995 3 569 2 426 680 1996 4 200 2 578 614 1997 4 435 2 696 608 1998 4 170 3 170 760 1999 6 618 4 937 746 2000 6 698 3 590 536 2001 6 205 3 143 507 2002 10 354 3 947 673 2003 10 444 5 830 754 2004 10 444 6 231 870 2005 10 721 6 871 951
Sumber : Dinas Perkebunan Kabupaten Enrekang (berbagai seri)
Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa dalam periode 1999 - 2005, luas areal kopi arabika di Tana Toraja terus mengalami peningkatan rata-rata 5.78 persen/tahun, sedangkan produksi dan produktivitas masing-masing hanya meningkat rata-rata 7.93 persen/tahun dan 5.21 persen/tahun.
Tabel 5. Luas Areal dan Produksi Kopi Arabika Daerah Tator,Tahun 1999 -2005
Tahun Luas Areal
(ha) Produksi (ton) Produktifitas (kg/ha) 1999 11 604 3 555 310 2000 12 764 3 477 320 2001 15 010 3 146 370 2002 15 077 3 301 309 2003 15 980 3 310 370 2004 16 019 3 586 401 2005 16 299 3 837 423
Sumber : Dinas Perkebunan Kabupaten Tana Toraja (berbagai seri)
Sedangkan perkembangan jumlah petani kopi arabika di dua wilayah tersebut dapat dilihat pada Tabel 6. Pada tahun 1993 jumlah petani kopi arabika di Kabupaten Enrekang sebanyak 6.966 KK dan pada tahun 2005 sudah mencapai 16 215 KK. Rata-rata penyerapan tenaga kerja selama sepuluh tahun terakhir sebesar 10.44 persen. Sedangkan untuk daerah Tator, pada tahun 1993 jumlah petani kopi sebanyak 15 300 KK dan pada tahun 2005 tercatat sebanyak 31 094 KK. Rata-rata penyerapan tenaga kerja selama sepuluh tahun terakhir sebesar 24.53 persen. Kontribusi daerah Enrekang dan Tator untuk penyerapan tenaga kerja (KK) kopi arabika terhadap Sulawesi Selatan masing-masing sebesar 14.7 persen (Enrekang) dan 33.2 persen (Tator).
Tanaman kopi arabika di wilayah MADUTORA sebanyak 80 persen adalah tanaman kopi rakyat sebagian besar diusahakan sebagai kebun-kebun tertutup dan berpencar-pencar di daerah yang sangat luas. Banyak juga yang diusahakan sebagai tanaman pekarangan dan ditanam di sekeliling rumah. Tanaman kopi rakyat sebagian besar merupakan tanaman tua, tanaman semaian dari bibit tanaman lokal dan umumnya merupakan kegiatan usaha sampingan
Tabel 6. Jumlah Petani Kopi Arabika di Wilayah MADUTORA,Tahun 1993-2005
Tahun Enrekang (KK) Tator (KK)
1993 6 966 15 300 1994 6 902 24 746 1995 6 599 25 521 1996 7 174 26 242 1997 10 450 27 467 1998 14 637 27 467 1999 15 625 27 467 2000 16 215 29 873 2001 16 772 29 873 2002 16 215 32 250 2003 12 461 32 263 2004 16 215 32 268 2005 16 215 31 094
Sumber : Dinas Perkebunan Sulawesi Selatan, 2006
selain ladang untuk padi dan sayuran. Pemeliharaan kebun-kebun kopi rakyat sangat berbeda di masing-masing daerah sehingga tingkat produktivitas tanaman juga berbeda. Dalam tahun-tahun terakhir ini produktifitas tanaman kopi rakyat hanya sekitar 400-450 ribu ton setiap tahunnya.
Upaya untuk mengembangkan kopi arabika di wilayah MADUTORA dilaksanakan dalam berbagai kegiatan. Dalam jangka pendek pengembangan diarahkan kepada usaha pengembangan kemampuan produksi kebun rakyat dan kegiatan perbaikan mutu hasil produksi agar dapat bersaing di pasaran internasional. Kegiatan ini meliputi kegiatan rehabilitasi dan peremajaan serta
perbaikan mutu yang dihasilkan. Sedangkan dalam jangka panjang pengembangan tanaman kopi diarahkan untuk memperluas pertanaman kopi arabika, termasuk pemilihan lahan yang sesuai dengan tanaman kopi arabika. Dengan pertimbangan tersebut maka pengembangan kopi arabika di wilayah MADUTORA penyebarannya difokuskan pada tiga kabupaten dengan sasaran utama untuk meningkatkan luas areal, produksi dan produktivitas tanaman.
Panen dilakukan satu kali dalam satu tahun, musim pemetikan (panen raya) pada umumnya dimulai pada bulan Juni sampai Agustus, sedangkan pada bulan ApriI biasanya sudah mulai panen tetapi baru dalam jumlah sedikit. Hasil panen pada bulan itu terutama dilakukan dalam rangka usaha pemberantasan hama bubuk pada buah kopi. Untuk bulan September biasanya pemetikan dilakukan secara rajutan atau pemetikan secara massal. Panen dilakukan dengan menggunakan tangan sedangkan alat yang dipakai untuk mengumpulkan buah adalah ember dan karung.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa kegiatan pascapanen itu menyangkut kegiatan pemetikan. Buah kopi yang masak berwarna merah, dipetik satu demi satu secara selektif dari tiap-tiap dompolannya dengan menggunakan tangan. Sistem pemetikan merah ini akan menghasilkan kopi biji bermutu tinggi dengan rendemen yang tinggi sekitar 20-22 persen. Untuk memperoleh hasil buah kopi yang bermutu tinggi, buah kopi harus dipetik setelah betul-betul masak yaitu saat kulit buah kopi sudah berwarna merah. Untuk mencapai tahap matang, kopi robusta memerlukan waktu dari kuncup bunga selama 8 sampai 11 bulan
dan 6 sampai 9 bulan untuk kopi arabika (Najiyati dan Danarti,1995).
Pemetikan buah kopi secara garis besar dibagi menjadi tiga tahap sebagai berikut: (a) pemetikan pendahuluan, biasanya dilakukan pada bulan Februari sampai Maret untuk memetik buah yang terserang hama bubuk. Kopi yang terserang hama bubuk buah biasanya berwarna kuning sebelum berumur 8
bulan, (b) petik merah dan panen raya; biasanya berlangsung 4 sampai 5 bulan yang dimulai pada bulan Mei atau Juni, yaitu untuk memetik buah yang sudah berwama merah, dengan interval atau selang pemetikan 10 sampai 14 hari, dan (c) petik hijau dan petik rancutan; petik hijau dilakukan apabila ada buah tersisa di pohon sekitar 10 persen. Semua buah yang masih tertinggal baik yang berwama merah maupun yang wama hijau dipetik seluruhnya.
Petani rakyat di wilayah MADUTORA tidak melakukan pemetikan buah kopi secara selektif. Jika terdapat 30 sampai 40 persen buah yang berwarna merah dalam tiap dompolan, petani langsung memetik secara racutan. Buah kopi yang masih berwarna hijau dan kuning yang turut terpetik dapat mempengaruhi mutu kopi yang berwarna merah. Akhirnya kopi biji yang dihasilkan oleh rakyat bermutu rendah, harganya murah dan mengakibatkan pendapatan petani rendah. Karena buah kopi berwarna hijau akan menghasilkan kopi biji yang berwama hitam, coklat dan mudah pecah dalam proses pengolahan. Alat yang dipakai petani waktu memetik adalah keranjang, tali plastik, bambu berukuran kecil, ember dan karung. Setelah kopi dipetik, kemudian diangkut dengan tenaga manusia atau kuda.
Berdasarkan hasil uji cita rasa, biji kopi yang berwarna hitam mempunyai aroma sangat tidak menyenangkan, tidak ada sifat kopinya dan rasanya seperti kayu membusuk. Sedangkan kopi yang berwarna coklat rasanya asam dan bau apek seperti keju, sama sekali tidak memberi cita rasa kopi. Kopi gelondong
seperti itu akan memberikan rasa tidak enak pada cup quality dengan rasa tajam
dan rasa tanah. Buah kopi yang berwarna merah dapat menghasilkan mutu yang tinggi sehingga harga jualnya tinggi karena rasa dan aromanya nikmat dan enak. Pemetikan yang dilakukan oleh perkebunan swasta sifatnya selektif, yaitu hanya buah kopi yang berwama merah dan wama kuning yang dipetik satu per satu dengan tangan. Masa pungut buah kopi ini berlangsung 4 sampai 5 bulan.
Setelah buah kopi dipetik langsung ditakar untuk mengetahui berapa kilogram yang dipetik tiap orang dalam satuan kerja. Seorang tenaga yang terampil dapat memetik buah kopi 60 kg per hari atau rata-rata 40 kg tiap hari kerja. Buah kopi hasil petikan yang berwama merah, kuning dan hijau dipisahkan satu dengan Iainnya. Buah warna hijau adalah buah yang terikut pada saat memetik dompolan buah merah dan kuning Setelah selesai penakaran kemudian diangkut ke tempat pengolahan buah kopi.