• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.1 Tinjauan Pustaka dan Hipotesis

2.1.1 Pengertian Dividen dan Dividend Payout Ratio

Keuntungan yang diperoleh perusahaan dalam operasinya akan didistribusikan kepada pemegang saham dan sebagian lagi akan ditahan untuk diinvestasikan pada investasi yang menguntungkan.

Terkait dengan keuntungan tersebut maka manajer harus dapat mengambil keputusan mengenai besarnya keuntungan yang harus dibagikan kepada pemegang saham dan berapa yang harus ditahan guna mendanai investasi perusahaan. Besarnya keuntungan yang dibagikan kepada pemegang saham disebut dividen. Umumnya perusahaan membayarkan dividen dalam bentuk kas/tunai dan karena kebijakan ini akan mempengarui pembelanjaan perusahaan, maka keputusannya dilakukan dengan hati-hati dan harus melibatkan para pemegang saham.

Selain dalam bentuk tunai, dividen dapat juga dibayarkan dalam bentuk saham.Walaupun jumlah saham akhirnya berubah tapi porsinya masih tetap tidak berubah. Hal ini disebabkan karena pemegang saham lama menerima saham sebagai pengganti dividen sesuai dengan porsi pemilik sahamnya. Kebijakan ini diambil karena perusahaan mempunyai peluang investasi yang menguntungkan, sementara perusahaan tidak ingin menggunakan dana eksternal oleh beberapa sebab. Dengan pemberian dividen ini perusahaan dapat menahan kas lebih banyak

18

untuk membiayai investasi sehingga tidak perlu menarik dana dari luar perusahaan.

Dividen merupakan nilai pendapatan bersih perusahaan setelah pajak dikurangi dengan laba ditahan (retained earnings) sebagai cadangan perusahaan. Dengan kata lain, dividen dapat juga diartikan pembayaran kepada para pemegang saham oleh pihak perusahaan atas keuntungan yang diperolehnya. Kebijakan dividen menyangkut masalah penggunaan laba yang menjadi hak para pemegang saham, dan laba tersebut bisa dibagi sebagai dividen atau laba yang ditahan untuk diinvestasikan kembali (Husnan 1998: 381). Sedangkan menurut Sartono (2001), dividen merupakan kompensasi yang diterima oleh pemegang saham selain capital gain.

Secara umum tidak ada aturan umum yang secara universal dapat diterapkan pada keputusan pemegang saham dan manajemen tentang dividen. Hal terbaik yang dapat dikatakan adalah bahwa nilai dividen tergantung pada lingkungan pengambil keputusan. Oleh karena lingkungan tersebut berubah sewaktu-waktu, seorang manajer dihadapkan dengan tidak relevannya dividen pada waktu tertentu dan dalam waktu tertentu menjadi sesuatu yang utama atau penting (Ang, 1997).

Dividend Payout Ratio adalah suatu keputusan untuk menentukan berapa besar bagian dari pendapatan perusahaan yang akan dibagikan pada para pemegang saham dan yang akan diinvestasikan kembali (reinvestment) atau ditahan (retained) di dalam perusahaan.

19

Dimana :

DPR : Dividend Payout Ratio DPS : Dividend Per Share EPS : Earning Per Share

2.1.2 Faktor – Faktor yang mempengaruhi Dividend Payout Ratio

Menurut Hanafi (2004), beberapa faktor yanng mempengaruhi kebijakan dividen adalah kesempatan investasi, profitabilitas, likuiditas, akses ke pasar keuangan, stabilitas pendapatan dan pembatasan-pembatasan. Menurut Sartono (2001) ada beberapa pertimbangan manajerial dalam menentukan Dividen Payout Ratio yaitu:

1) Kebutuhan dana perusahaan

Kebutuhan dana perusahaan dalam kenyataannya merupakan faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan kebijakan dividen yang akan diambil. Aliran kas perusahaan yang diharapkan, pengeluaran modal-modal di masa datang yang diharapkan, pengeluaran modal di masa datang yang diharapkan, kebutuhan tambahan piutang dan persediaan, pola (skedul) pengurangan utang dan masih banyak faktor lain yang mempengaruhi posisi kas perusahaan harus dipertimbangkan dalam analisis kebijakan dividen. 2) Likuiditas

20

Likuiditas perusahaan merupakan pertimbangan utama dalam banyak kebijakan dividen. Karena dividen bagi perusahaan merupakan kas keluar, maka semakin besar posisi kas dan likuiditas perusahaan secara keseluruhan akan semakin besar kemamopuan perusahaan untuk membayar dividen.

Likuiditas perusahaan sangat besar pengaruhnya terhadap investasi perusahaan dan kebijakan pemenuhan kebutuhan dana. Keputusan investasi akan menentukan tingkat ekspansi dan kebutuhan dana perusahaan, sementara itu keputusan pembelanjaan (keputusan pemenuhan kebutuhan dana) akan menentukan pemilihan sumber dana untuk membiayai investasi tersebut.

3) Kemampuan meminjam,

Posisi likuiditas perusahaan dapat diatasi dengan kemampuan perusahaan untuk meminjam dalam jangka pendek. Kemampuan meminjam dalam jangka pendek tersebut akan meningkatkan fleksibilitas likuiditas perusahaan. Selain itu fleksibilitas perusahaan juga dipengaruhi oleh kemampuan perusahaan untuk bergerak di pasar modal dengan mengeluarkan obligasi. Perusahaan yang semakin besar dan telah establish akan memiliki akses yang lebih baik di pasar modal. Kemampuan meminjam yang lebih besar, fleksibilitas yang lebih besar akan memperbesar kemampuan membayar dividen. Dalam menetukan Dividend Payout Ratio banyak perusahaan membandingkannya dengan industri, khususnya dengan perusahaan

21

yang memiliki tingkat pertumbuhan yang sama. Meskipun belum tentu sama, namun akan lebih mudah untuk melihat posisi perusahaan dalam industri. keadaan pemegang saham.

4) Stabilitas dividen

Bagi para investor faktor stabilitas dividen akan lebih menarik daripada dividend Payout Ratio yang tinggi. Stabilitas disini dalam arti tetap memperhatikan tingkat pertumbuhan perusahaan, yang ditunjukkan oleh koefisien arah yang positif. Apabila faktor lain sama, saham yang memberikan dividen yang stabil selama periode tertentu akan mempunyai harga yang lebih tinggi daripada saham yang membayar dividennya dalam persentase tetap terhadap laba.

5) Keadaan Pemegang Saham

Jika perusahaan itu kepemilikan sahamnya relatif tertutup, manajemen biasanya mengetahui dividen yang diharapkan oleh pemegang saham dan dapat bertindak dengan tepat. Jika hampir semua pemegang saham berada dalam golongan high tax dan lebih suka memperoleh capital gains, maka perusahaan dapat mempertahankan dividend payout yang rendah. Dengan dividen payout yang rendah tentunya dapat diperkirakan apakah perusahaan akan menahan laba untuk kesempatan investasi yang profitable. Untuk perusahaan yang jumlah pemegang sahamnbya besar hanya dapat menilai dividen yang diharapkan pemegang saham dalam konteks pasar.

22

Penelitian ini akan memfokuskan pada faktor-faktor yang berpengaruh pada penetapan dividend Payout Ratio antara lain adalah Cash position (CP), Return on Equity, Debt to Equity Ratio, Company’s Growth, dan Collateralizable Asset.

2.1.3 Pola Pembayaran Dividen

Keputusan mengenai dividen payout ratio adalah keputusan yang menyangkut bagaimana cara dan dalam bentuk apa dividen dibayarkan kepada pemegang saham. Ada beberapa pola pembayaran dividen yang dapat dipilih sebagai alternatif dividen payout ratio perusahaan, yaitu : (Ang, 1997)

1. Stable and Occasionally Increasing Dividend per-share

Kebijakan ini menetapkan dividen per saham yang stabil, selama tidak ada peningkatan yang permanen dalam earning power dan kemampuan membayar dividen. Manajemen akan menaikkan dividen , jika ada keyakinan bahwa tingkat yang lebih tinggi tersebut dapat dipertahankan. Hal ini dilandasi adanya psikologi pemegang saham, dimana bila dividen naik maka akan menaikkan juga harga saham dan sebaliknya.

2. Stable Dividend per-share

Dasar pemikirannya adalah bahwa pasar mungkin akan menilai suatu saham lebih tinggi bila dividen yang diharapkan tetap stabil daripada bila dividen berfluktuasi. Perusahaan yang memilih cara ini akan

23

membayar dividen dalam jumlah yang tetap (stable amount) dari tahun ke tahun.

3. Stable Payout Ratio

Dalam pola pembayaran dividen ini, jumlah dividen dihitung berdasar suatu prosentase tetap (constant) dari laba (earnings). Bila laba berfluktuasi, maka jumlah dividen yang dibayarkan kepada pemegang saham pun akan ikut berfluktuasi.

4. Regular Dividend plus Extras

Dalam cara ini, dividen regular ditetapkan dalam jumlah yang diyakini oleh manajemen mampu dipertahankan di masa mendatang tanpa menghiraukan fluktuasi laba dan kebutuhan investasi modal. Bila tambahan kas tersedia, perusahaan memberikan dividen ekstra (bonus) kepada pemegang saham. Pola ini mengakui bahwa dividen mempunyai kandungan informasi, sehingga dengan pemberian dividen ekstra dapat menarik minat pemodal yang pada akhirnya akan dapat meningkatkan harga saham.

5. Fluctuating Dividends and Payout Ratio

Dalam pola pembayaran ini besarnya dividen dan payout ratio disesuaikan dengan perubahan laba dan kebutuhan investasi modal perusahaan untuk setiap periode. Oleh karena itu besar dividen dan payout ratio yang dibayarkan berfluktuasi mengikuti fluktuasi laba dan kebutuhan investasi.

24

Banyak perdebatan yang terkait dengan dividen. Pendapat mereka berbeda-beda satu sama lain, bahkan saling bertentangan. Berikut ini adalah berbagai teori yang muncul seiring dengan penelitian terhadap dividen (Frankfurter, 2003):

a. Dividend relevance theory (Gordon’s Model)

Menurut Gordon, kebijakan dividen adalah relevan terhadap nilai perusahaan. Dalam hal ini, investor akan lebih menyukai pembayaran dividen yang akan diterima saat ini dari pada capital gains yang akan diterima pada masa mendatang. Menurut teori ini, investor akan merasa lebih aman untuk mendapatkan dividen sekarang dari pada capital gains di masa mendatang yang penuh dengan risiko dan ketidak-pastian. Pendapat ini banyak mendapat kritikan dari Modigliani dan Miller (1961). Modigliani dan Miller (1961) berpendapat dan telah dibuktikan secara matematis bahwa investor merasa sama saja apakah menerima dividen saat ini atau menerima capital gains di masa yang akan datang. Dengan kata lain, tingkat keuntungan yang disyaratkan tidak dipengaruhi oleh dividend payout ratio.

b. Dividend irrelevance theory

adalah suatu teori yang menyatakan bahwa kebijakan dividen tidak mempunyai pengaruh terhadap nilai perusahaan. Teori ini merupakan pendapat Modigliani dan Miller (M-M) yang menyatakan bahwa nilai suatu perusahaan tidak ditentukan oleh besar kecilnya Dividend

25

Payout Ratio (DPR) tetapi ditentukan oleh laba bersih sebelum pajak (EBIT) dan risiko bisnis. Dengan demikian kebijakan dividen sebenarnya tidak relevan untuk dipersoalkan.

c. Tax preference theory

Menurut teori ini, individu akan memilih apakah akan menerima distribusi pendapatan perusahaan sebagai dividen atau capital gains. Apabila kewajiban pajak atas distribusi keuntungan modal dari capital gains lebih rendah dari pada pajak terhadap dividen, maka investor akan lebih memilih capital gains.

Selain adanya ketiga teori tersebut, terdapat beberapa teori lain yang terkait dengan dividen, yaitu :

a. Signaling Theory

Teori ini pertama kali diusulkan oleh Bhattacharya. Perusahaan yang baik akan mendapatkan sinyal keuntungan yang diharapkan melalui penyaluran dividen, biaya pajak yang dipulihkan, dan harga saham yang meningkat. Dengan sinyal pembayaran dividen tersebut, investor beranggapan bahwa perusahaan dalam keadaan yang baik.

Di dalam teori ini M-M berpendapat bahwa suatu kenaikan dividen yang di atas kenaikan normal biasanya merupakan suatu sinyal kepada para investor bahwa manajemen perusahaan meramalkan suatu penghasilan yang baik di masa yang akan datang. Sebaliknya, suatu penurunan atau kenaikan dividen yang dibawah kenaikan normal diyakini investor sebagai suatu sinyal bahwa perusahaan menghadapi

26

masa sulit di masa mendatang. Namun demikian sulit dikatakan apakah kenaikan atau penurunan harga setelah adanya kenaikan atau penurunan dividen semata-mata disebabkan oleh efek sinyal atau mungkin disebabkan oleh efek sinyal dan preferensi terhadap dividen. b. Clientele effect

Yang menyatakan bahwa kelompok pemegang saham yang berbeda akan memiliki preferensi yang berbeda terhadap kebijakan dividen perusahaan. Kelompok investor yang membutuhkan penghasilan saat ini lebih menyukai suatu dividend payout ratio yang tinggi. Sebaliknya, kelompok investor yang tidak begitu membutuhkan uang saat ini lebih senang jika perusahaan menahan sebagian besar laba bersih perusahaan.

Penelitian ini bermaksud untuk menguji teori yang pertama, yaitu dividend relevance theory, karena sesuai dengan kondisi yang ada di Negara Indonesia, investor akan menyukai dividen yang tinggi dibandingkan dengan capital gain yang masih belum jelas. Menurut teori ini, dividen akan berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Proksi yang digunakan adalah Cash position (CP), Return On Equity, Debt to Equity Ratio, Company’s Growth dan Collateralizable Assets. Kelima proksi tersebut akan mencerminkan nilai perusahaan.

27

2.1.5 Pengaruh Cash position (CP) terhadap Dividend Payout Ratio

Likuiditas dalam penelitian ini diproksikan dalam Cash Position (CP). Likuiditas perusahaan yang merupakan pertimbangan utama dalam banyak kebijakan dividen. Karena dividen bagi perusahaan merupakan kas keluar, maka semakin besar posisi kas dan likuiditas perusahaan secara keseluruhan akan semakin besar kemampuan perusahaan untuk membayar dividen (Riyanto, 2001)

Van Horne dan Wachowicz Jr. (1998:501) menyebutkan bahwa salah faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen adalah posisi likuiditas di mana manajemen perusahaan mempertahankan tingkat likuiditas tertentu untuk memberikan perlindungan dan fleksibilitas keuangan terhadap ketidakpastian. Posisi kas dan likuiditas perusahaan yang besar meningkatkan kemampuan perusahaan dalam membayar dividen.

Dalam teori relevan dividen, kebijakan dividen akan berpengaruh terhadap harga saham. Apabila harga saham naik, maka investor akan meningkat dan laba akan naik. Kenaikan laba ini akan menyebabkan peningkatan uang kas yang dimiliki perusahaan sehingga cash position (CP) akan meningkat. Semakin besar cash position (CP) maka perusahaan akan membayarkan dividen yang lebih besar pula.

Dalam Free Cash Flow Theory, aliran kas bebas menggambarkan tingkat fleksibilitas keuangan perusahaan. Jensen (1986) dalam Frankfurter (2003) mendefinisikan aliran kas bebas (free cash flow) sebagai kas yang tersisa setelah seluruh proyek yang menghasilkan net present value positif dilakukan. Perusahaan dengan aliran kas bebas berlebih akan memiliki kinerja yang lebih

28

baik dibandingkan perusahaan lainnya karena mereka dapat memperoleh keuntungan atas berbagai kesempatan yang mungkin tidak dapat diperoleh perusahaan lain. Perusahaan dengan aliran kas bebas tinggi bisa diduga lebih survive dalam situasi yang buruk. Sedangkan aliran kas bebas negatif berarti sumber dana internal tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan investasi perusahaan sehingga memerlukan tambahan dana eksternal baik dalam bentuk hutang maupun penerbitan saham baru. Free cash flow ini sering menjadi pemicu timbulnya perbedaan kepentingan antara pemegang saham dan manajer (Rosdini, 2009).

Cash Position dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :

Semakin besar posisi kas dan likuiditas perusahaan secara keseluruhan akan semakin besar kemampuan perusahaan untuk membayar dividen Dengan semakin meningkatnya cash position juga dapat meningkatkan keyakinan para investor untuk memperoleh dividen tunai (cash dividen) yang diharapkan oleh investor Berdasarkan uraian diatas, maka dapat dirumuskan hipotesis yang pertama yaitu :

H1 : Cash position (CP) berpengaruh positif terhadap Dividend Payout Ratio.

29

2.1.6 Pengaruh Return On Equity terhadap Dividend Payout Ratio

Daya tarik utama bagi pemilik perusahaan (pemegang saham) dan para calon investor dalam suatu perusahaan adalah profitabilitas. Hanafi (2004) menyatakan bahwa profitabilitas mempengaruhi kebijakan pembayaran dividen karena dividen dibagikan dari keuntungan bersih yang diperoleh perusahaan, maka besarnya keuntungan tentu akan mempengaruhi besarnya dividen yang akan dibagikan. Dengan kata lain profitability mempengaruhi hubungan yang positif. Penelitian Suharli (2007) juga menyatakan bahwa profitabilitas mutlak diperlukan untuk perusahaan apabila hendak membayarkan dividen.

Teori relevan dividen menyatakan bahwa kebijakan dividen berpengaruh terhadap nilai perusahaan, hal ini berarti kebijakan dividen akan mempengaruhi harga saham. Apabila harga saham naik, maka banyak investor yang tertarik untuk menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut (investornya meningkat), dengan meningkatnya investor maka kemungkinan memperoleh laba perusahaan juga akan meningkat. Semakin besar laba maka perusahaan cenderung akan membayarkan dividen yang tinggi kepada pemegang saham.

Penelitian ini menggunakan proksi ROE sebagai ukuran profitabilitas perusahaan. Return On Equity merupakan tingkat pengembalian atas ekuitas pemilik perusahaan (Suharli, 2006). Ekuitas pemilik adalah jumlah modal sendiri, sehingga perhitungan ROE sebuah perusahaan dapat diperoleh melalui perbandingan antara laba bersih (EAT) dengan total equity (modal sendiri). Return On Equity (rentabilitas modal sendiri) atau disebut juga rentabilitas usaha menunjukkan kemampuan perusahaan atau emiten dalam menghasilkan laba

30

dengan memanfaatkan modal sendiri yang dimilikinya. Laba yang dimaksud disini adalah laba yang tersedia untuk para pemegang saham (earning for stockholders equity) atau laba setelah pajak (EAT). ROE adalah ukuran yang secara eksplisit mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan bagi investor. Perusahaan hanya akan meningkatkan dividen apabila earnings meningkat. Jadi return on equity berpengaruh positif terhadap dividend payout ratio.

Berdasarkan uraian tersebut diatas dapat dirumuskan hipotesis kedua sebagai berikut :

H2 : Terdapat pengaruh positif ROE terhadap Dividend Payout Ratio.

2.1.7 Pengaruh Debt to equity Ratio terhadap Dividend Payout Ratio

Debt to equity ratio dihitung dengan total hutang dibagi dengan total ekuitas (Jensen et al., 1992). Rasio ini mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajibannya, yang ditunjukkan oleh berapa bagian modal sendiri yang digunakan untuk membayar hutang, dimana semakin tinggi nilai rasio ini menggambarkan gejala yang kurang baik bagi perusahaan (Sartono 2001: 66). Semakin besar proporsi hutang yang digunakan untuk struktur modal suatu perusahaan, maka akan semakin besar pula jumlah kewajibannya (Ang, 1997).

Peningkatan hutang pada gilirannya akan mempengaruhi besar kecilnya laba bersih yang tersedia bagi para pemegang saham termasuk dividend yang akan

31

diterima, karena kewajiban tersebut lebih diprioritaskan daripada pembagian dividend.

Teori relevan dividen menyatakan bahwa kebijakan dividen berpengaruh terhadap nilai perusahaan yang berarti kebijakan dividen akan mempengaruhi harga saham. Apabila harga saham naik, maka investor akan bertambah maka kemungkinan memperoleh laba akan bertambah. Peningkatan laba tersebut juga akan menyebabkan pertumbuhan perusahaan meningkat. Apabila pertumbuhan perusahaan meningkat, maka akan dibutuhkan banyak dana untuk membiayai pertumbuhan tersebut. perusahaan bisa memperoleh atau mencari dana dari pihak internal dan eksternal. Dana internal diperoleh dari penerbitan saham, sedangkan dana eksternal bisa diperoleh perusahaan dari pinjaman atau hutang, misalnya dengan menerbitkan obligasi dan hutang bank.

Perusahaan yang memiliki rasio leverage lebih besar seharusnya membagikan dividen lebih kecil karena laba yang diperoleh digunakan untuk melunasi kewajibannya terlebih dahulu. Dengan demikian investor dapat mempelajari kewajiban perusahaan untuk memperkirakan pendapatan dari investasi berupa dividen, di masa yang akan datang ( Suharli, 2006).

Jika beban hutang semakin tinggi, maka kemampuan perusahaan untuk membagi dividend akan semakin rendah, sehingga DER mempunyai pengaruh negatif dengan dividend payout ratio. Hasil penelitian Jensen et.al (1992), Hanafi (2004), Poerwadi (2003) menunjukkan bahwa struktur permodalan yang diproksikan dengan Debt to equity ratio berpengaruh negatif terhadap Dividen

32

Payout Ratio. Berdasarkan uraian tersebut maka dapat dirumuskan hipotesis ketiga yaitu:

H3 : Debt to Equity Ratio berpengaruh negatif terhadap Dividend Payout Ratio.

2.1.8 Pengaruh Company’s Growth terhadap Dividend Payout Ratio

Pertumbuhan perusahaan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen (Riyanto, 2001). Semakin cepat tingkat pertumbuhan suatu perusahaan, maka semakin besar kebutuhan dana untuk waktu mendatang, perusahaan lebih senang untuk menahan labanya daripada membayarkannya sebagai dividen kepada pemegang saham (Riyanto, 2001) mengingat biaya modal dengan menggunakan laba ditahan lebih murah (Easterbrook dalam Marpaung (2009).

Teori relevan dividen menyatakan bahwa kebijakan dividen berpengaruh terhadap nilai perusahaan yang berarti kebijakan dividen akan mempengaruhi harga saham. Apabila harga saham naik, maka investor akan bertambah dan kemunkinan memperoleh laba akan bertambah. Peningkatan laba tersebut juga akan menyebabkan pertumbuhan perusahaan meningkat. Apabila pertumbuhan perusahaan meningkat, maka akan dibutuhkan banyak dana untuk membiayai pertumbuhan tersebut sehingga DPR menjadi kecil.

Pertumbuhan perusahaan berhubungan secara terbalik terhadap kebijakan dividen. Koefisien ini menunjukkan jika pertumbuhan meningkat akan berdampak pada penurunan dividen karena untuk membiayai pertumbuhan tersebut

33

diperlukan dana yang besar. Akibatnya dividen yang akan dibagikan akan menurun (Sartono, 2001).

Dalam penelitian ini, pertumbuhan perusahaan diproksi dengan petumbuhan penjualan (sales growth). Berdasarkan uraian diatas maka, dapat dirumuskan hipotesis keempat sebagai berikut :

H4 : Pertumbuhan perusahaan berpengaruh negatif terhadap Dividend Payout Ratio.

2.1.9 Pengaruh Collateralizable Assets terhadap Dividend Payout Ratio Collateralizable Assets (aset perusahaan yang bisa dijaminkan) merupakan rasio total aktiva bersih dibandingkan dengan total aktiva yang dimiliki perusahaan (Handoko, 2002). Variabel ini memiliki hubungan yang positif terhadap dividend payout ratio dengan anggapan bahwa perusahaan yang memiliki aktiva tetap dijaminkan yang lebih banyak akan mengurangi masalah keagenan antara pemegang saham dan pemegang obligasi dengan tingkat pembayaran dividen yang lebih tinggi (Handoko, 2002).

Teori relevan dividen menyatakan bahwa kebijakan dividen berpengaruh terhadap nilai perusahaan yang berarti kebijakan dividen akan mempengaruhi harga saham. Apabila harga saham naik, maka investor akan bertambah dan aset perusahaan akan bertambah. Peningkatan aset dapat dapat berupa aktiva tetap yang bisa dijaminkan (Collateralizable Assets).

Mollah, et al. (2000) dalam Sugeng (2009) berargumen bahwa perusahaan dengan collateralizable assets yang tinggi memiliki agency problem yang kecil

34

antara manajemen dengan pihak kreditor, karena dengan collateralizable assets yang tinggi mereka lebih terjamin dan tidak perlu pembatasan yang lebih ketat terhadap kebijakan dividen perusahaan sehingga perusahaan bisa membayarkan dividen lebih besar.

Sebaliknya semakin rendah collateralizable assets yang dimiliki perusahaaan akan meningkatkan konflik kepentingan antara pemegang saham dengan kreditor, sehingga kreditor akan menghalangi perusahaan untuk membayar dividen dalam jumlah besar kepada pemegang saham karena takut piutang mereka tidak dibayar (Sartono, 2001)

Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat dirumuskan hipotesis kelima, yaitu :

H5 : Collateralizable Assets berpengaruh positif terhadap Dividend Payout Ratio.

2.2 Penelitian Terdahulu

Beberapa penelitian pernah dilakukan untuk menganalisis faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap dividend payout ratio, diantaranya adalah :

1. Marlina & Carla Danica (2009) melakukan penelitian yang berjudul “Analisa Pengaruh Cash Position, DER, ROA Terhadap DPR”. Variabel yang digunakan adalah DPR, Cash position (CP), Debt to Equity Ratio, ROA. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Variabel Cash position (CP) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Dividen Payout Ratio, variabel Debt to Equity Ratio tidak mempunyai

35

pengaruh yang signifikan terhadap Dividen Payout Ratio dan variabel Return on Assets mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap Dividen Payout Ratio.

2. Sudarsi (2002) melakukan penelitian tentang “analisis faktor-faktor yang mempengaruhi dividend payout ratio pada industri perbankan yang listed di BEJ”. Dimana populasi dalam penelitian ini adalah bank-bank yang terdaftar di BEJ dan termasuk kelompok bank yang

Dokumen terkait