UJI STATISTIKA
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Avian Influenza
Flu burung atau yang biasa dikenal dengan istilah avian flu atau avian influenza dalam bahasa inggris, penyakit ini adalah penyaklit menular (contagious) yang disebabkan virus influenza tipe A dengan diameter 90-120 nanometer. Virus tersebut termasuk dalam famili Orthomyxoviridae. Secara normal, virus tersebut hanya menginfeksi ternak unggas seperti, ayam, itik, dan kalkun (Antinoff 2005).
Gambar 1 Morfologi virus Avian Influenza. (http://www.radnc.com) (Anonim 2007).
Virus AI menyerang organ pernafasan, pencernaan, dan sistem saraf unggas (domestik, eksotik, dan tidak mengenal rentan umur). Oleh karena sifatnya yang mematikan virus AI tidak hanya menyerang unggas, tetapi ternak lain seperti babi dan kucing dapat diserang olehnya. Kematian tinggi dan cepatnya perkembangan virus ini dalam tubuh merupakan ciri mematikanya virus ini (Anonim 2007).
Virus influenza terdiri dari beberapa tipe, antara lain tipe A, tipe B, dan tipe C. Virus tipe A hanya menyerang hewan, tetapi dapat menyebabkan epidemik pada manusia. Sementara tipe B dan tipe C hanya menyerang manusia, tidak menyerang hewan. Dalam virus tipe A mempunyai 15 hemaglutinin (H1-H15) dan 9 neuramidase
(N1-N9). Jika keduanya dikombinasikan maka terdapat 135 pasang kemungkinan
subtipe virus yang dapat muncul. Beberapa jenis subtipe (strain) yang sudah dikenal antara lain H1N1, H1N2, H2N2, H3N3, H5N1, H7N7, dan H9N1. Dari sekian subtipe
2.1 Kejadian AI pada Unggas
Peternakan unggas Indonesia sering mengalami pasang surut dalam hal produksi. Terkait dalam hal ini yang mempengaruhi adalah pemberian pakan dan pengendalian penyakit. Penyakit yang menyerang unggas khususnya ayam bermacam-macam seperti Salmonellosis, Marek, dan ND (Newcastle Disease). Flu burung adalah salah satu penyakit yang menggemparkan dunia perunggasan dan negara-negara di Asia Tenggara. Penting bagi peternak dan pemelihara kesehatan ayam di peternakan untuk mengondisikan keadaan ayam semaksimal mungkin agar tidak terpapar penyakit dengan mudah. Usaha-usaha yang termasuk didalamnya antara lain penambahan ekstrak tanaman obat sebagai probiotik dan campuran ke dalam pakan unggas. Peternak melakukan hal ini sebagai tindakan antisipasi terpaparnya hewan dengan pengaplikasian tanaman obat manusia untuk hewan. Konsumsi per kapita dari daging broiler relatif rendah, sektor peternakan broiler Indonesia tetap diharapkan mampu berkembang. Saat ini beberapa masalah terus- menerus mengancam produksi peternakan seperti penyakit, bahan pakan impor, ketersediaan bibit unggul, dan asuransi pemerintah yang tidak konsisten (Setiyono et al. 2008).
Di Indonesia kejadian flu burung pada unggas mengakibatkan kerugian yang sangat besar bagi peternak. Kematian mendadak disertai banyaknya unggas yang mati merupakan dampak penyakit ini. Untuk itu diperlukan vaksinasi untuk meningkatkan antibodi terhadap virus flu burung. Untuk unggas liar vaksinasi belum diperlukan karena akan mengalami kesulitan saat aplikasi dan kontrol terhadap unggas liar yang memiliki kecenderungan berpindah-pindah tempat. Dalam perkembangan berikutnya, dunia mengamati bahwa sifat penyakit flu burung mulai berubah, wabah mulai sering muncul dalam rentang waktu belakangan ini. Sejak penyakit AI diketahui mampu menyerang manusia di Hongkong pada tahun 1997 yang lalu, tercatat ada 20 kali terjadi wabah di dunia termasuk 10 negara di Asia dengan dampak kematian unggas yang tinggi mencapai lebih dari 150 juta ekor. Ini menunjukkan bahwa virus AI telah bermutasi menjadi jauh lebih ganas daripada sebelumnya dan bahkan menjadi potensi ancaman bagi kesehatan manusia (Tim FKH IPB 2007).
2.2 Paru – Paru Ayam
Sistem respirasi merupakan tempat terjadinya pertukaran gas antara darah dan udara. Sistem respirasi dibagi menjadi dua bagian pokok yaitu : bagian konduksi dan bagian respirasi. Bagian konduksi berperan sebagai pencuci, memanasi atau mendinginkan dan membuat udara lebih lembab. Bagian konduksi merupakan tabung yang menghubungkan dunia luar dan paru-paru, terdiri atas : hidung, faring, laring, trakea, bronkhi dan parabronkhus (Samuelson 2007).
Paru-paru ayam merupakan organ respirasi utama sebagai bagian vital dari traktus respiratorius. Paru-paru ayam yang baik berwarna merah, berukuran kecil, dan menempel di kiri-kanan collumna vertebralis pada septum dorsalis di dalam ruangan
cavum pulmonale. Di bagian ventral facies septalis terdapat hillus pulmonalis, yaitu tempat masuknya pembuluh darah dan bronki primer. Memiliki berat normal sekitar 10 hingga 50 gram, jika paru-paru berukuran terlalu besar maka bisa saja merupakan patologi (bengkak karena berbagai penyakit atau terjadi akumulasi peradangan yang menimbulkan eksudat berlebih). Parabronki berasal dari bronki medioventrales di satu sisi dan bronki mediodorsales serta bronki lateroventrales di sisi lainnya. Tiap parabronkus merupakan pipa-pipa panjang yang berdiameter 0,2-0,5 mm tergantung ukuran unggas. Selanjutnya parabronki dari kedua sisi akan bertemu di suatu tempat dasar yang disebut planum anastomicum (Guyton 2008).
Paru-paru berfungsi sebagai organ respirasi yang utama bagi ayam. Dengan bentuk anatomi yang unik menunjang kinerja fisiologis paru-paru dalam sistem sirkulasi bersama dengan jantung. Ketika udara kotor yang dibawa aliran darah dari jantung, kemudian masuk dalam paru-paru akan ditukar dengan udara kaya oksigen yang diperoleh paru-paru dari lingkungan luar, melalui proses yang disebut bernafas. Lalu darah yang mendapat udara kaya oksigen kembali ke jantung, yang nantinya akan diedarkan ke seluruh tubuh oleh jantung (Cunningham 1994).
Paru-paru ayam berbeda dengan paru-paru mamalia, karena paru-paru ayam tidak memiliki diafragma dan ayam memiliki kantung udara yang berfungsi mendukung respirasi ayam. Bagian dorsal paru-paru ayam menempel pada tulang rusuk di rongga thorax dan susunan tulang rusuk yang terikat kuat. Kemudian paru-
paru ayam tidak berubah volumenya ketika inspirasi maupun ekspirasi, yang berubah hanya kantong hawanya saja. Selain itu, unggas bernafas lebih dalam dan lebih lama dibandingkan mamalia (Guyton 2008).
Gambar 2 Histologi paru-paru ayam normal berupa alveolus (A), parabronchus (PB), dan epitel mukosa (Panah). (Samuelson 2007).
Secara normal histologi paru-paru ayam normal terdiri dari bronkus intrapulmonum, parabronchus, dan alveolus. Bronkus intrapulmonum memiliki mukosa dan adventisia. Tulang rawan jarang sekali tampak, karena sejak di vestibulum tulang rawan sudah tidak ada. Epitel mukosa berbentuk silinder banyak baris bersilia, dengan propria submukosa banyak mengandung pembuluh darah. Kapiler pembuluh darah berfungsi untuk tempat pertukaran gas yang kaya Oksigen dan miskin Oksigen, sistem tersebut dikenal dengan blood air barrier. Epitel parabronkus berbentuk kubus, di bawahnya terdapat jaringan ikat dan otot polos. Lubang-lubang pada dinding parabronkus membentuk atrium atau air vesicles, selanjutnya bercabang-cabang membentuk buluh dan berakhir mirip jari-jari. Di sekitar alveolus juga terdapat sel pertahanan lokal yang biasa disebut sel pneumosit. Sel pneumosit ada dua tipe, yaitu tipe 1 dan tipe 2. Sel pneumosit tipe 1 ditemukan paling dominan, sekitar 95% pada permukaan alveolus. Sel ini berfungsi untuk menjalankan pertukaran udara dalam alveol. Sel pneumosit tipe 2 dengan jumlah yang lebih sedikit berfungsi sebagai penghasil surfaktan. Surfaktan merupakan komponen non spesifik dan dapat menurunkan tegangan permukaan di alveol (Samuelson 2007).
2.3 Tanaman Obat Di Indonesia
Tanaman obat adalah tanaman yang penggunaan utamanya untuk keperluan obat-obatan, dalam hal ini obat tradisional yang khasiatnya secara phytoterapi juga masih harus diteliti (Hasanah 1992). Tanaman obat berkhasiat telah dikenal sebagai bahan pengobatan tradisional atau alternatif. Kegunaan tanaman obat ini juga semakin diperluas aplikasinya dalam penanganan kesehatan maupun peningkatan produksi hewan ternak. Beberapa diantaranya telah dibudidayakan sebagai tanaman bumbu rumah tangga. Perbiakannya juga relatif mudah yaitu dengan rimpang, tumbuh liar di tempat terbuka seperti kebun, tepi sungai, tempat kosong yang tanahnya sedikit lembab atau ditanam di pekarangan rumah.
Sambiloto (Androgaphis paniculata Nees)
Sambiloto adalah suatu tumbuhan yang tegak, tingginya mencapai 80-110 cm, batangnya segi empat, dan banyak cabangnya. Daunnya berhadapan, berupa daun tunggal yang bentuknya memanjang dengan tepi daun rata. Tumbuhan ini berbunga sepanjang tahun. Bunganya berwarna putih atau ungu, tersusun dalam rangkaian berupa tandan yang tumbuh pada ujung-ujung tangkai. Buah yang dihasilkan berbentuk memanjang seperti jorong, terdiri dari dua rongga. Setiap rongga berisi 3-7 biji yang berbentuk gepeng.
Klasifikasi tanaman sambiloto (Andrographis paniculata Nees) menurut Hutapea dan Syamsuhidayat (1991) adalah:
Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae Subkelas : Gamopetalae Bangsa : Solanales Famili : Acanthaceae Subfamili : Acanthoidae Genus : Andrographis
Gambar 3 Tanaman sambiloto (Androgaphis paniculata Nees). (http://www.smecda.com) (Anonim 2003).
Sambiloto dikenal di Indonesia dengan macam-macam nama seperti sambilata atau sandiloto (Jawa), ki oray atau ki peurat (Sunda), dan pepaitan (Maluku). Tempat asal tumbuhan ini belum diketahui secara pasti, diduga berasala dari Asia tropik. Sambiloto merupakan salah satu tanaman yang telah lama digunakan sebagai bahan ramuan obat tradisional di Indonesia maupun di negara lainnya seperti India dan Filipina (Anonim 2003).
Tanaman ini mengandung andrographolide, deoxy-andrographolide, 14- deoxy-11, 12-didehydroandrographolide, homoandrographol-ide, neoandroghapol- ide, keton, andrographin, apigenin-7, 4-dimetil eter, panicolin, aldehid, alkaline, mineral, dan asam kersik pada seluruh bagian tanaman (Dalimartha dan Hembing 2005). Kadarnya dalam daun antara 2,5 sampai 4,8% dari berat kering. Sambiloto terbukti berkhasiat untuk mencegah maupun mengobati beberapa penyakit, seperti tifus, diabetes, radang telinga, radang tenggorokan, amandel, gatal-gatal, kudis, sinusitis, dan desentri (Mulisah 1999). Selain berkhasiat obat, sambiloto juga bermanfaat sebagai penambah nafsu makan (Winarto 2003). Ekstrak daun sambiloto mampu menurunkan kadar histamin serum dan infiltrasi sel-sel radang pada saluran pernafasan.
Andrografolid yang terkandung di dalam sambiloto diantaranya laktone, flavonoid, alkane, keton, dan aldehide (Pravanza dan Lukito 2003). Mardisiswojo dan Harsono (1975) menyatakan bahwa zat aktif pada sambiloto yang berfungsi sebagai obat adalah andrografolid dan neoandragrafolid yang rasanya sangat pahit. Andrografolid yang terkandung dalam lakton berfungsi sebagai zat anti inflamasi dengan cara menstimulasi kelenjar adrenal dalam menghasilkan glukokortikosteroid. Cunningham (1994) menyatakan bahwa hormon glukokortikosteroid mempunyai peranan penting dalam menghambat proses respon peradangan / inflamasi, migrasi leukosit, deposit fibrin, dan pembentukan jaringan ikat (fibrosis). Hormon ini menghambat peradangan dengan cara menghambat media peradangan seperti prostaglandin, thromboxanes, dan leukotriens yang mempengaruhi metabolisme asam arachidonat induk semang.
Sambiloto merupakan salah satu tanaman obat yang sering digunakan masyarakat untuk mengobati berbagai macam penyakit misalnya antipiretik, penyakit kulit, diabetes, diuretika, antialergi, dan anti peradangan. Menurut Mulisah(1999), di Malaysia tanaman ini digunakan sebagai metode baru untuk mengobati beberapa penyakit seperti HIV, AIDS, dan beberapa gejala penyakit yang berhubungan dengan kekebalan tubuh.
Tabel 1 Hasil analisa ekstraksi sambiloto (Androgaphis paniculata Nees) dengan metode Gas Kromatografi Spektrometri Massa (Setyono et al. 2008)
Formula D. Sambiloto Konsentrasi (0,5 % ) 1. Anetol
2. Neopitadiena
3. Asam heksa dekanoat 4. Iso-pitol
5. Asam okta deka dienoat 6. Silan 7. Vitamin E 8. Stigmastenol 2,24 0,93 0,78 0,91 0,86 0,53 0,56 1,38
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2008 sampai Februari 2009 bertempat Bagian Patologi, Departemen Klinik, Reproduksi, dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor dan fasilitas BSL-3 PT Vaksindo Satwa Nusantara, Bogor.
3.2 Bahan dan Alat Penelitian
3.2.1 Bahan dan Alat di Kandang Hewan Laboratorium
Bahan yang digunakan di Kandang Hewan Laboratorium antara lain DOC (Day Old Chick) strain Cobb, pakan konsentrat, air, litter kandang, ekstrak tanaman obat sambiloto (Androgaphis paniculata Nees) 100 ml. Alat yang digunakan antara lain syringe 1 ml, tempat makan dan minum, kandang hewan coba 4 kamar terbuat dari papan kayu, lampu 2 buah, timbangan elektronik, botol ekstrak, lap, spidol, dan stiker label.
3.2.2 Bahan dan Alat di Laboratorium Histopatologi
Bahan yang digunakan di laboratorium antara lain organ paru-paru ayam yang berlabel, zat warna HE (Hematoksilin Eosin), alkohol bertingkat, xylol, paraffin, dan minyak emersi.
Alat yang digunakan antara lain 12 slide, cover glass, mikrotom, container, incubator, tissue cassette, tissue processor, mikroskop cahaya, lap flanel, kamera digital, pulpen, dan buku tulis.
3.3 Metode Penelitian
3.3.1.1 Hewan Percobaan
Hewan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ayam day old chick
atau DOC ras pedaging strain Cobb. Kandang berisi 10 ekor ayam yang dipelihara selama 28 hari. Minggu pertama ayam hanya diberi pakan cukup dan air minum ad libitum. Ekstrak tanaman obat diberikan setiap hari sejumlah 0,5 ml per ekor via oral mulai pada minggu kedua hingga keempat, disamping itu tetap diberi pakan konsentrat dan air ad libitum per kandang pada pagi dan sore hari. Pada kandang diberi penyinaran dengan lampu untuk membantu metabolisme berkembang dengan baik. Alas kandang berupa sekam padi.
Gambar 4 Perlakuan dalam kandang unit hewan bagian Patologi Fakultas Kedokteran Hewan IPB.
3.3.1.2 Ekstrak Tanaman Sambiloto (Androgaphis paniculata Nees)
Ekstrak-ekstrak tanaman obat didapatkan dari BALITRO (Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik) Bogor dalam bentuk larutan dalam botol dan berlabelkan nama tanaman obat yang digunakan (sambiloto). Ekstrak tanaman sambiloto dengan konsentrasi 10%, per botol memiliki volume sebanyak 100 ml untuk diberikan sebanyak 1 ml satu kali sehari pada masing- masing ayam yang tersedia di kandang.
Teknik yang digunakan dalam ekstraksi sambiloto adalah bahan dikeringkan pada suhu tidak lebih dari 45 C, sampai kadar air 10 %, kemudian digiling dengan ukuran 60 mesh. Bahan yang sudah halus masing- masing direndam dalam alkohol 95% dengan perbandingan 1 : 5. Diaduk dengan pengaduk listrik selama 4 jam, kemudian didiamkan 1 malam. Selanjutnya disaring menggunakan kertas saring. Diambil bagian cairannya, diuapkan dengan alat rotary evaporator sampai alkoholnya habis. Ekstrak pekat yang dihasilkan kemudian dimurnikan dengan etil asetat. Diperoleh ekstrak pekat murni. Kemudian penentuan kandungan zat dalam sambiloto secara kualitatif melalui kombinasi dengan metode gas kromatografi spektrofotometri massa. Kromatografi gas berfungsi sebagai alat pemisah komponen campuran kimia sambiloto, berdasarkan polaritas campuran. Bagian utama dari kromatografi adalah gas pembawa, sistem injeksi, kolom, fase diam, detektor, dan suhu. Spektofotometri massa digunakan untuk identifikasi dan penentuan struktur senyawa kimia, informasi terpenting adalah berat molekul (Setyono et al. 2008).
3.3.2 Pengelompokan Hewan
Hewan dikelompokan atas dasar perlakuan yang dilakukan,yaitu: Tabel 2 Pengelompokan Hewan
No Kelompok Keterangan 1. Perlakuan positif
(P1)
Perlakuan (+); dicekok dengan ekstrak sambiloto dan ditantang dengan virus AI
2. Perlakuan negatif (P2)
Perlakuan (-); dicekok dengan ekstrak sambiloto tetapi tidak ditantang virus AI
3. Kontrol positif (K1)
Kontrol (+); tidak dicekok ekstrak sambiloto dan ditantang virus AI
4. Kontrol negatif (K2)
Kontrol (-); tidak dicekok ekstrak sambiloto dan tidak ditantang virus AI
Gambar 5 Perlakuan di fasilitas BSL 3. Keterangan gambar 5:
A = Keadaan luar fasilitas BSL 3
B = Pengambilan virus AI H5N1 dengan dosis 104.0 EID50/0,1 ml
C&D = Penyuntikan virus intranasal di laboratorium BSL 3 E = Pemeliharaan ayam post infeksi di laboratorium BSL 3
3.3.3 Infeksi AI
Dalam penelitian ini tindakan perlakuan dan pemeliharaan ayam dilakukan di laboratorium Patologi Fakultas Kedokteran Hewan IPB. Infeksi ayam menggunakan virus avian influenza H5N1 dengan dosis 104.0 x EID50 / 0,1 ml
diperoleh dari PT Vaksindo Satwa Nusantara. Infeksi dilakukan dengan rute intranasal pada ayam yang telah berumur 4 minggu di fasilitas BSL 3 bertempat di PT Vaksindo Satwa Nusantara, Gunung Putri, Bogor. Pengamatan dilakukan selama 7 hari pasca infeksi, diamati setiap pagi dan sore, kemudian dicatat jumlah ayam yang mati. Namun, bila terdapat ayam yang belum mati sampai hari ketujuh akan dieuthanasi dengan cara memasukan udara 3-5 ml intracardiac. Setelah itu dinekropsi untuk diambil organ paru-parunya. Spesimen organ disimpan dalam botol plastik yang terendam buffer neutral formalin 10% dan diberi label pada botol tersebut sesuai kelompok perlakuan ayam.
3.3.4 Tahapan Pembuatan Histopatologi
Sampel dari setiap perlakuan yang disimpan dalam botol berlabel di pilih organ yang diinginkan, dalam hal ini paru-paru. Kemudian dipotong melintang dengan ukuran panjang ±4 mm, lebar 3 mm, dan tebal 3 mm lalu dimasukan ke dalam container. Dicelupkan kedalam botol berisi larutan buffer neutral formalin
10% agar terfiksasi dan organ tidak rusak. Kemudian organ tersebut didehidrasi dengan larutan alkohol bertingkat, mulai dari 70%, 80%, 90%, 95%, absolut 1 dan absolut 2. Masing-masing membutuhkan waktu minimal ±2 menit agar organ terdehidrasi sempurna. Organ direndam di dalam larutan xylol selama 30 menit. Kemudian organ tersebut ditanam dalam parafin cair di lemari pemanas selama 2 jam dan dimasukkan dalam blok pencetaknya. Setelah itu parafin disimpan dalam lemari es hingga menjadi beku. Parafin yang telah berbentuk blok kemudian dipotong dengan mikrotom sesuai ukuran yaitu 5-6 µm (agar potongan tidak mengkerut taruh potongan di atas permukaan air yang bersuhu 45°C). Lalu bilas dengan aquades hangat (38-40°C), kemudian tempel pada gelas objek dan dikeringkan di inkubator dengan suhu 60°C selama satu malam.
Teknik pewarnaan dimulai dengan membilas preparat dengan air mengalir setelah dikeluarkan dari inkubator. Pewarnaan dilakukan dengan memasukkan sediaan ke dalam zat warna hematoksilin eosin selama 2-3 menit. Dibilas dengan air mengalir kemudian dimasukkan kedalam pewarnaan eosin lalu dibilas kembali dengan air mengalir. Preparat dimasukkan kedalam alkohol dengan konsentrasi bertingkat serta alkohol absolut 1 dan 2. Penjernihan preparat dilakukan dengan memasukan kedalam xylol dalam beberapa menit. Lalu preparat dikeringkan di udara terbuka. Kemudian ditutup dengan cover glass yang direkatkan dengan zat perekat entelen. Setelah kering, preparat kemudian diberi label sesuai sampel yang diperoleh (Hartono, 1989).
3.3.5 Pengamatan Histopatologi
Pengamatan histopatologi dilakukan dengan memberikan nilai / skoring berdasarkan derajat perubahan pada paru – paru. Pengamatan dilakukan pada 20 lapang pandang dengan perbesaran 400. untuk penilaian skoring sebagai berikut : Tabel 3 Skoring Histopatologi
No Skor Keterangan 1 2 3 4 5 0 1 2 3 4
normal / tidak ada perubahan kongesti / hiperemi
oedema
hemorhagi dan vaskulitis
infiltrasi sel radang hingga nekrosa
3.3.6 Analisis Data
Data yang telah diperoleh berdasarkan penilaian skoring selanjutnya di analisis dengan uji statistik non parametrik. Pada penelitian ini uji statistika yang digunakan adalah Kruskal Wallis dengan uji Dunn sebagai uji lanjutnya.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil uji tantang virus AI H5N1 pada dosis 104.0 EID50/0,1 ml per ekor secara
intranasal menunjukkan bahwa virus ini menyebabkan mortalitas pada ayam sebagai hewan coba (Tabel 4). Ayam kelompok kontrol positif (K1) mengalami kematian
100% pada hari ke-7 pasca infeksi. Sebanyak 1 dari 8 ayam (12,5%) dalam kelompok P2 mati pada hari ke-6 pasca infeksi dan 4 dari 7 ayam (57,1%) dari kelompok P2
mati di hari ke-7 pasca infeksi virus. Data tersebut menunjukkan bahwa sambiloto mampu dalam menunda kematian ayam. Ekstrak sambiloto diaplikasikan per oral dengan dosis 1 ml per ekor pada ayam umur satu minggu selama tiga minggu sebelum ayam ditantang virus AI. Pada hari ke-7 pasca infeksi virus AI, ayam P2
yang masih hidup kemudian dieuthanasi dengan memasukan udara 3-5 ml
intracardiac dan dinekropsi untuk koleksi sampelnya. Tabel 4 Hasil data kematian setelah uji tantang virus AI
Perlakuan Jumlah Ayam
Jumlah ayam mati pada hari ke- setelah tantangan Virus AI
Persentase kematian 1 2 3 4 5 6 7 Sambiloto + infeksi virus 8 - - - 1 4 62,5 % Infeksi virus 8 - - - 8 100 %
Berdasarkan data kematian diketahui bahwa bahan aktif dalam ekstrak sambiloto tidak mampu menginaktifkan virus AI, tetapi mampu menghambat virus untuk menginfeksi sel. Selanjutnya ayam yang mati sampai hari ke-7 pasca infeksi (tanpa dimatikan) kemungkinan telah terinfeksi virus AI. Kemampuan bahan aktif untuk menghambat infeksi virus dapat terjadi jika zat-zat yang terkandung dalam sambiloto dapat meningkatkan kekebalan tubuh hewan sehingga virus tidak mudah bereplikasi. Hal ini terbukti dengan 3 ekor dari 8 ekor ayam yang diberi ekstrak tanaman dan diuji tantang virus AI bertahan hidup sampai hari ke-7 pasca infeksi.
Tabel 5 Persentase kerusakan jaringan pada paru-paru
Kelompok Perlakuan Skor lesio histopatologi (%)
0 1 2 3 4
K1a Infeksi virus 2 7,06 10,59 40 40,35
K2bd Tanpa perlakuan 40,69 45 11,31 2 0
P1c Ekstrak + Infeksi virus 9,58 30,94 21,02 31,42 8,04
P2d Ekstrak 48,14 32,14 10,93 5,77 3,02
Keterangan :
huruf superskrip yang berbeda pada kolom yang sama adalah berbeda nyata (p<0,05) 0 = normal / tanpa perubahan 3 = hemorhagi dan vaskulitis
1 = kongesti / hiperemi 4 = infiltrasi sel radang hingga nekrosa 2 = edema
Pada organ paru-paru ayam yang diinfeksi virus AI setelah pemberian ekstrak sambiloto (P1) ditemukan kerusakan jaringan yang lebih ringan dengan lesio yang
dominan adalah 31,42% berupa hemorhagi dan vaskulitis dan rataan skoring adalah 2 (Tabel 5). Pada kelompok K1 (infeksi virus) kerusakan paling dominan adalah skor 4
yaitu infiltrasi sel radang hingga nekrosa jaringan. Nekrosa jaringan (Gambar 6) terjadi akibat sel-sel mati setelah ditempati agen, kemudian agen akan berpindah menuju sel normal lain untuk bereplikasi. Untuk itu, ayam dengan perlakuan berupa pemberian ekstrak sambiloto cenderung lebih ringan lesionya. Hal tersebut didukung oleh kelompok tidak ditantang dengan virus AI (K2) didominasi oleh jaringan dengan
lesio berupa kongesti (Gambar 7) sejumlah 45%. Sedangkan ayam pada kelompok yang diberi ekstrak sambiloto (P2) menunjukkan kerusakan yang didominasi oleh sel
normal (48,14%). Gambaran histopatologi paru-paru ayam yang diuji tantang virus AI, terdapat perbedaan yang nyata (P<0,05) antar semua kelompok perlakuan pada ayam berdasarkan analisis statistik non parametrik dengan uji Kruskal-Wallis (Tabel 5). Hanya pada kelompok K2 dan P2 setelah dilakukan uji lanjut tidak terdapat
perbedaan yang nyata. Sedangkan melalui gambaran histopatologi pada kelompok P2
setelah diberi ekstrak sambiloto menunjukkan kerusakan yang paling ringan dan didominasi oleh sel normal (48.14%) (Tabel 5). Kemungkinan dikarenakan pengaruh ekstrak sambiloto yang dapat mengurangi lesio yang terjadi.
Gambar 6 Paru-paru ayam : Infiltrasi sel radang (I) dan nekrosa jaringan (N) pada kelompok ayam yang ditantsang virus AI (K1). Pewarnaan HE.
Pembesaran 400x.
Gambar 7 Paru-paru ayam : Kongesti pembuluh darah (K) pada kelompok ayam diberi ekstrak sambiloto dan ditantang virus AI (P1-8). Pewarnaan HE.
Pembesaran 50x. N K K K I
Gambar 8 Paru-paru ayam : Penimbunan cairan edema ekstravaskuler (E) pada kelompok ayam diberi ekstrak sambiloto dan ditantang virus AI (P1-2).
Pewarnaan HE. Pembesaran 200x.
Gambar 9 Paru-paru ayam : Edema pulmonum (Ep) dan hemorhagi (H) pada kelompok ayam yang ditantang virus AI (K1). Pewarnaan HE.
Pembesaran 200x. E
H
Ep Ep
Imunitas nonspesifik diduga merupakan mekanisme pertahanan terdepan yang