Sejarah dan proses terbentuknya suatu pulau merupakan faktor penting dalam pembahasan biogeografi pulau. Biogegrafi sebagai sebuah cabang ilmu yang mempelajari keanekaragaman hayati berdasarkan ruang dan waktu sangat penting, karena dapat mengungkapkan mengenai kehidupan suatu organisme dan apa yang mempengaruhinya serta menjelaskan tentang distribusinya di permukaan bumi. Menurut Whitaker (1998) faktor penting dalam biogeografi pulau meliputi dispersal biologi (penyebaran biologi), biogeography island (biogeografi pulau), serta adaptive radiations (proses adaptasi dalam perubahan/evolusi). Penyebaran biologi adalah deskripsi tentang bagaimana sifat biota suatu pulau, mengapa biota suatu pulau berbeda antara satu dengan yang lain, bagaimana suksesi dan sifat adaptasi dari biota tersebut, serta bagaimana biota tersebut sampai dan menjelajah pulau tersebut. Faktor yang kedua adalah biogeografi pulau, lebih ditekankan kepada pendeskripsian tentang pengukuran terhadap tiga variabel utama dalam pembahasan tentang ekologi suatu pulau. Adapun faktor penting tersebut adalah indikator dari keberlanjutan, yaitu tingkat imigrasi, tingkat kepunahan, serta jumlah spesies yang ada di suatu pulau. Faktor penting ketiga adalah radiasi adaptasi, yaitu terkait dengan perubahan evolusioner oleh spesies pendatang yang menempati relung ekologi di suatu pulau yang sudah ditempati oleh komunitas atau kelompok lain.
Pembahasan biogeografi pulau sangat terkait dengan hubungan antara keberadaan pulau-pulau kecil dan pulau-pulau atau daratan luas yang menjadi ketergantungan dari pulau kecil. Pengaruh mainland atau daratan utama terhadap keberlanjutan pulau kecil sangat tinggi. Salah satu faktor yang sangat berpengaruh adalah jarak pulau kecil terhadap pulau utama. Kedekatan pulau kecil dengan pulau utama berpengaruh terhadap karakteristik sosial ekologi yang ada, seperti jenis biota yang mirip dengan pulau utama dan kondisi iklim. Faktor jarak ini juga sebaliknya akan terjadi dimana keberadaan pulau kecil akan berpengaruh juga terhadap pulau utama dimana pulau kecil ini menjadi bagiannya, bahkan pulau besar lainnya yang berada di sekitar gugusan pulau tersebut.
Konektivitas Pulau kecil dengan gugusan pulau kecil yang lain menjadi faktor yang penting. Menurut Widmann et al (2012) , bentuk konektivitas biasanya muncul dalam aktifitas migrasi musiman untuk species tertentu dari satu pulau ke pulau yang lain. Migrasi yang dilakukan biasanya dilatarbelakangi oleh kondisi mencari makanan, siklus hidup dan pengaruh wilayah , area atau kawasan yang mempunyai keterkaitan fungsional. Pemahaman terhadap karakteristik ekologi spasial pulau-pulau kecil akan dapat memahami perilaku organisme yang ada di dalamnya.
Triantis and Sfenthourakis (2002) menjelaskan tentang adanya small island effect
(SIE). SIE ini dapat diterapkan dalam pengertian dan sudut pandang yang berbeda. Pengertian SIE pada awalnya adalah pembahasan tentang perbedaan ekologi pada aspek fauna dan populasi yang ada di pulau kecil yang dikaitkan dengan jarak jauh dekatnya suatu pulau kecil dengan masa daratan utamanya. Pengembangan SIE dapat digunakan untuk mengkaji tentang hubungan antara kelimpahan suatu spesies dengan area. Dari konsep ini, maka dapat untuk mengkaji lebih lanjut bagaimana pengaruh pulau kecil atau dalam penelitian mereka disebut dengan SIE ini terhadap penyedia jasa ekologi dari sumberdaya alam yang ada di pulau kecil Salura, khususnya kelimpahan cumi-
cumi terkait dengan keberadaan posisi relatifnya terhadap pulau lain, yang mempunyai jarak yang relatif jauh dengan Salura.
Ekosistem pulau-pulau kecil memiliki peran dan fungsi penting dalam penyediaan sumberdaya alam dan jasa lingkungan. Menurut Bengen and Retraubun (2006) menyebutkan bahwa ekosistem pulau-pulau kecil juga berperan dalam pengaturan iklim global, siklus hidrologi, penyerap limbah, sumber plasma nutfah dan sistem penunjang kehidupan laut di daratan. Dengan memperhatikan potensi dan pemanfaatannya sudah seharusnya diimbangi dengan upaya konservasi, sehingga pemanfaatan dapat berlangsung optimal dan berkelanjutan. Menurut Briguglio, 1995 in Adrianto and
Matsuda (2004) menyebutkan bahwa karakteristik khas pulau kecil selain peran ekologis yang dimiliki juga bahwa pulau kecil sangat rentan terhadap bencana alam, seperti angin topan, gempa bumi serta banjir. Dampak kejadian bencana ini terhadap kondisi ekonomi seringkali jauh lebih besar dibandingkan dengan kejadian itu sendiri. Sehingga dapat dikatakan bahwa kejadian bencana di pulau kecil menyebabkan tingginya tingkat resiko yang harus ditanggung. Menurut Nunn, 1994 dalam Adrianto and Matsuda (2004), menyatakan bahwa adanya fenomena tersebut dapat mengingatkan bahwa pendefinisian pulau kecil harus berdasarkan konteks pengelolaan. Pulau- pulau dengan ukuran maksimal 1000 km persegi merupakan pulau yang relatif memiliki kaitan yang signifikan terhadap pentingnya pulau-pulau kecil.
Pembahasan tentang Sistem sosial ekologis pulau-pulau kecil dapat dilihat dari beberapa aspek, seperti sisi sumberdaya alam, karakteristik geografi, kondisi sosial dan ekonominya, serta bagaimana aspek politik dan pertahanan keamanan di Indonesia. Pulau kecil mempunyai karakteristik dan kerentanan yang sifatnya khusus dan berbeda dengan main land atau daratan utamanya dimana secara administratif suatu pulau menjadi bagiannya. Kajian tentang pulau kecil harus mengetahui bagaimana struktur terbentuknya pulau kecil dan definisi yang membatasinya.
Beberapa batasan tentang pulau kecil dapat dikaitkan dengan ukuran dan luas, jumlah penduduk sebagai penghuni pulau serta terkait dengan pengelolaan di atasnya. UNESCO (1991) menetapkan pulau kecil dengan ukuran luas pulau kurang dari atau sama dengan 2000 km persegi. Hal ini ditegaskan kembali oleh pemerintah bahwa pulau dengan ukuran luas kurang atau sama dengan 2000 km persegi pemanfaatan yang dilakukan harus berbasis konservasi, yaitu hanya sekitar 50% dari luas area yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan sosial ekonomi dan demografi. Jumlah penduduk yang menempati harus kurang atau sama dengan 20.000 orang. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau- Pulau Kecil juga membatasi pulau kecil dengan mengacu dari batasan dari UNESCO yang menyatakan bahwa pulau kecil adalah pulau dengan luas pulau lebih kecil atau sama dengan 2000 km persegi beserta seluruh kesatuan ekosistemnya. Sebelumnya dalam Kepmen KP No.40 Tahun 2000 disebutkan bahwa untuk pulau dengan ukuran kurang dari 2000 km persegi terdapat pedoman khusus untuk kegiatan ekonomi yang sesuai dengan ukuran pulau tersebut. Kegiatan ini menyangkut konservasi sumberdaya alam, budidaya kelautan, pariwisata bahari, usaha penangkapan ikan berkelanjutan, industri teknologi tinggi non ekstratif, serta yang terkait dengan pendidikan dan penelitian.
Fairbraidge (1968) dalam Adrianto (2004) memberikan definisi pulau dari sisi yang berbeda,yaitu bahwa pulau adalah wilayah daratan laut (ocean basins) yang memiliki karakteristik berbeda dengan daratan kontinen. Dari definisi ini kemudian berkembang definisi tentang oceanic islands (pulau kecil), continental islands (pulau besar) dan continents (benua), dimana ketiganya ini mempunyai karakteristik yang berbeda. Salm (1984) dalam Adrianto (2004) membedakan dua karakteristik pulau yang
berbeda, yaitu pulau-pulau oseanik dan kontinental. Pulau kontinental memiliki karakteristik kontinen sedangkan oseanik tidak. Selain batasan secara ukuran dan jumlah penduduk , definisi pulau kecil dapat juga ditentukan dengan melihat karakteristik geografis, geologi, biologi, sejarah dan secara ekonomi. Dengan mengetahui karakteristik yang khas dari pulau kecil, maka dapat difahami bahwa terdapat perbedaan antara Pulau Kecil jika dibandingkan dengan Pulau Besar dan Benua. Perbedaan ini dapat dilihat pada tabel berikut yang dibedakan dari beberapa aspek karakteristiknya. Berdasarkan karaktersitik kondisi geografi sampai karakteristik ekonomi yang dimiliki oleh pulau kecil, terlihat bahwa pulau kecil mempunyai banyak keterbatasan. Keterbatasan itu adalah karena tingkat insuliritasnya dan karena ukuran fisik yang dimiliki (smallness). Untuk lebih memperjelas perbedaan karakteristik dari pulau kecil dan bentukan pulau yang lain, maka pada Tabel 1 dijelaskan tentang perbandingan umum ciri-ciri Pulau Oseanik (pulau kecil), Pulau Kontinental dan Benua.
Dalam sistem pengelolaan sumberdaya secara terpadu, pembahasan tentang konektivitas sosial ekologi menjadi sangat penting, karena fungsionalitas yang saling tergantung antara domain sosial dan domain ekologi. Semakin disadari bahwa pengelolaan secara terpadu harus membahas aspek sosial dan ekologi secara bersama, meskipun ekologi selalu menjadi dasarnya, sehingga tidak lagi hanya satu aspek ekologi saja atau sosial saja. Hal ini disebabkan karena sistem ekologi selalu terkait dengan manusia di dalamnya.
Untuk mengetahui tingkat konektifitas dari suatu sistem sosial dan ekologi di suatu kawasan, maka diperlukan analisis SES yaitu Social Ecological System. Dengan SES dapat dijelaskan bagaimana menilai konektivitas dalam bentuk sinergis positif dan hubungan potensial dari tindakan kerusakan yang tidak diakui. Kerangka konektifitas sosial ekologi dari sebuah sistem adalah bagaimana menggabungkan aspek sosial ekologi menjadi sebuah sistem dalam pengelolaan sumberdaya di suatu kawasan. Pengelolaan ini dilakukan dengan mengintegrasikan ilmu (sosial, ekonomi, pemerintahan) serta menyatukan pemangku kepentingan (stakeholders) dalam satu sistem pengelolaan suberdaya guna mencapai tujuan keberlanjutan sumberdaya dan keberlanjutan manajemen di suatu kawasan. Menurut Jahn et al (2002) sangat perlu memahami konsep anthropogenic, dimana saling ketergantungan antara proses alam dan soial dapat terjadi pada waktu yang berbeda pada skala temporal dan spasial, Definisi sistem sosial ekologi adalah sebuah sistem sosial ekologis yang terdiri dari unit bio-geo-fisik dan yang terkait dengan sosial aktor dan lembaga. Sistem sosial ekologi merupakan sistem kompleks dan adaptif yang dibatasi oleh batas-batas spasial atau fungsional ekosistem tertentu.
Sistem Sosial Ekologi/Social Ecology System (SES)
Pakar ekologi dan ahli sosial seringkali menggunakan sudut pandang yang berbeda dalam menganalisis sistem sosial dan ekologi, baik dalam bahasa, kerangka, teori dan model yang digunakan. Perbedaan ini menyebabkan terjadi kebuntuan komunikasi antar keduanya, sehingga diperlukan kerangka pendekatan untuk menjembatani interaksi kedua sistem ini. Diperlukan juga integrasi pengetahuan dalam membahas kedua sitem tersebut.
Integrated Coastal Zone Management (ICZM) merupakan kerangka berfikir epistimologi yang memperhatikan hubungan sinergi dengan karakteristik wilayah pesisir. Kerangka berfikir ini memperhatikan seluruh aspek dari sistem dinamis yang saling terkait antara sistem manusia/komunitas dengan sistem alam. Kedua sistem yang
bergerak dinamik dalam kesamaan besaran (magnitude) ini lah yang nantinya dapat berjalan dengan harmonis. Integrasi ini dikenal dengan paradigma Social-Ecological System disingkat SES (Anderies, et.al, 2004 dalam Adrianto, 2006). Kerangka hubungan kedua sistem ini dijelaskan seperti pada Gambar 2. Pada gambar ini terlihat bahwa struktur sosial ekologi merupakan irisan yang penting dalam keterkaitan sistem sosial dan ekologi (alam). Salah satu contoh dari SES adalah konsep Coastal Livelihood System Analysis (CLSA) yang dikembangkan dalam kerangka pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan, di mana aspek sistem alam (ekologi/ekosistem) dan sistem manusia tidak dapat dipisahkan.
Gambar 2. Keterkaitan Antara Ekologi dan Sosial di Wilayah Pesisir dan Laut (Anderies, et.al, 2004)
Menurut Glaser et al (2008) sistem sosial ekologi adalah sistem yang terdiri dari unit fisik dari aspek biologi dan geografi yang berasosiasi dengan aktor sosial dan institusi. Sehingga SES merupakan sistem yang kompleks dan adaptif yang dibatasi oleh aspek spasial atau ruang yang mengelilinginya. Pernyataan yang sama juga diutarakan oleh Berkes et al (2003), bahwa secara umum SES adalah pendekatan sistem yang dipengaruhi oleh aspek spasial temporal, yang seringkali sulit dimengerti, namun demikian dapat menjadi solusi untuk pengelolaan yang berbasis sosial dan ekologi secara bersama-sama. Dalam penerapannya konsep SES ini dapat digunakan untuk melakukan analisis terhadap interaksi atau konektivitas dari hubungan sistem yang fungsional. Manusia selalu memanfaatkan jasa ekologi dari ekosistem yang ada di sekitarnya, sehingga dalam hubungan ini, sistem sosial dan ekologi selalu dihubungkan dengan adanya agen atau pelaku yang dapat merespon dan berinteraksi timbal balik dengan kedua sistem ini. Gambar 3(a) menjelaskan bagaimana jasa ekologi dari ekosistem yang ada selalu direspon cepat oleh agen atau manusia untuk berbagai pemanfaatan. Kedua sistem yang masing-masing mempunyai dinamika dan struktur di dalamnya, perlu pengaturan atau regulasi yang berjalan selaras. Struktur atau atribut yang ada dalam sistem sosial dapat berupa nilai, perilaku, tingkat pengetahuan, teknologi serta jumlah individu atau suatu komunitas tertentu. Adapun sistem ekologi adalah semua sumberdaya alam dari jasa ekosistem yang ada yang dapat dimanfaatkan oleh manusia, seperti yang dijelaskan dalam Gambar 3(b). Perlu ada intervensi yang mengatur kedua sistem ini, supaya dalam pemanfaatannya tidak terjadi pemanfaatan yang berlebihan, seperti over fishing ataupun ilegal loging ataupun pemanfaatan sumberdaya alam yang sifatnya merusak lingkungan.
Tabel 1. Perbedaan Karakteristik Pulau Kecil, Pulau Besar dan Benua Modifikasi Wace (1982) dalam Adrianto (2004)
Karakteristik Benua Pulau Besar Pulau Kecil
Geografi Suhu udara
bervariasi
Area sangat besar Iklim musiman
Jarak dekat dari Benua , Suhu udara sedikit bervariasi, Area besar, Iklim mirip dengan benua terdekat,dikelilingi sebagian oleh laut yang sempit
Jarak jauh dari Benua Suhu udara stabil Area kecil, Iklim seringkali berbeda dengan pulau besar terdekat, dikelilingi oleh lautan luas
Geologi Terbentuk dari
proses
sedimentasi,metamo rfosis atau igneous. Banyak terkandung mineral, Jenis tanah bervariasi Sedimentasi atau metamorfosis. Mengandung sebagian mineral,
Jenis tanah bervariasi
Volcanik atau Corral, Sedikit mineral, Hanya jenis tanah yang mempuyai sifat
permeable
Biologi Mempunyai
keragaman biotik yang Banyak dan bervariasi ,
Kelimpahan species biasanya sangat rendah, Hanya terdapat sedikit vertebrata laut yang melakukan
pemijahan di darat
Mempunyai sedikit keragaman biotik, Mempunyai kelimpahan species yang rendah, Masih banyak terdapat vertebrata laut yang melakukan pemijahan di darat
Miskin keragaman biotik
Mempunyai kelimpahan species yang tinggi, Merupakan tempat sebagian besar vertebrata laut untuk melakukan pemijahan
Histori Awal penemuan oleh
manusia Permukiman manusia
paling banyak ditemukan oleh manusia
Permukiman yang banyak dihuni oleh manusia
Akhir penemuan oleh manusia
Sedikit yang dapat dijadikan permukiman manusia
Ekonomi Mempunyai sedikit
sumberdaya daratan. sumberdaya laut merupakan
sumberdaya penting, jauh dari pasar utama
Variasi sumberdaya daratan yang banyak, jenis
sumberdaya lautan, dekat dengan pasar utama
Variasi sumberdaya daratan yang banyak, sumberdaya lautan bukan merupakan sumberdaya yang penting, aksesibilitas pasar tersedia sangat baik
Costanza et al (2000) membangun sebuah konsep yang dapat mempresentasikan sistem sosial dan ekologi serta sistem alam secara paralel yang merupakan interaksi dari sistem sosial (human) serta sistem ekologi dan alam. Kesemua unsur ini mempunyai
stocks, flows dan control dari hubungan fungsionalnya seperti yang dijelaskan dalam Gambar 4. Dalam kerangka ini dinyatakan secara jelas bahwa seringkali unsur-unsur dari setiap sistem mempunyai atribut yang serupa, tapi seringkali hanya sebagian yang sama. Stocks diartikan sebagai suatu elemen dalam sebuah sistem yang potensial yang dapat terjadi penambahan atau penurunan. Stocks dapat dideskripsikan sebagai unsur kapital dan aktor.
(a ( b)
Gambar 3 SES dalam kerangka pemanfaatan sumberdaya alam (Berkes et al, 2003) Aset (human made capital) dibentuk dari aspek sumberdaya material yang digunakan olek aktor untuk melakukan aktivitas. Terdapat tiga tipe dari human made capital yang dapat dideskripsi, yaitu fisik (bangunan, alat-alat, pabrik), human/manusia (pendidikan, skill, budaya, pengetahuan), serta sosial (aturan, pemerintah, struktur sosial). Adapun yang disebut dengan flows adalah transaksi atau pertukaran material aset atau informasi dari satu stok ke stok yang lain dalam sistem sosial dan sistem sosial ekologi. Dalam satu stok atau populasi ikan atau komunitas tertentu diidentifisikan dengan hasil atau produksi tahunan. Flows juga dapat diartikan sebagai keberlanjutan dari tahun ke tahun. Aliran keberlanjutan ini adalah natural income atau pendapatan sementara dari stok yang disebut juga dengan natural capital.
Hasil interaksi dari sistem sosial dan ekologi dalam aliran ini dapat berupa
harvest (panenan), investasi dari suatu produktifitas, polusi (return of waste products), serta non konsumsi seperti jenis-jenis rekreasi. Dalam sistem ekologi, kondisi fisik dan aturan perilaku merupakan kontrol dari banyak proses yang terjadi, contohnya adalah seleksi alam, aturan pemerintah dan reproduksi dari semua bentuk kehidupan yang akan berinteraksi dengan aturan fisik untuk membatasi kehidupan dan perilaku dari semua komponen dari ekosistem. Bentuk interaksi fisik dan seleksi alam yang terjadi dalam sistem ekologi akan menghasilkan kompetisi, predator dan mutualisme.
Stock •Species organism •Natural Capital Flows Input output Control Keterkaitan ekologi Seleksi alam Atribute Resilience Produktifitas KARAKTERISTIK EKOLOGI BENTUK INTERAKSI KARAKTERISTIK SOSIAL Stock •Pemanfaatan sumberdaya Flows •Pusat administrasi pemerintahan •Pasar Control Aturan/kebijakan Atribute Resilience produktifitas Flows •Harvest •Polusi Control Transformatif Transaction Atribute •Pengetahuan •Sustanibility •Pemerataan •Efficiency
Gambar 4 Kerangka keterkaitan sistem sosial dan ekologi menurut Costanza et al (2000)
Pendekatan Stock, flow, Control dan Atribut (SFCA) dari Costanza et al (2000) adalah framework yang dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana hubungan paralel antara faktor sosial dan sistem ekologi. Kedua sistem ini mempunyai stok, aliran serta kontrol dari sistem aliran yang terjadi. Interaksi antara stocks, flows dan control
dapat mempunyai atribut yang serupa , namun seringkali hanya sebagian yang sama. Dengan adanya kerangka struktur dari sistem sosial dan ekologi, akan dapat diperoleh informasi tentang bentuk interaksi dari keduanya. Stocks dalam penelitian ini dideskripsikan sebagai unsur capital dan aktors. Dimana aset yang muncul adalah
human made capital. Terdapat tiga tipe yaitu fisik (alat-alat yang dapat mendukung efektifitas dalam kegiatan penangkapan nelayan), human (karakteristik pendidikan, pengetahuan, skills dan culture), sosial (fasilitas dan lembaga pemerintah dan sosial yang ada). Dari tiga bentuk human made capital ini dapat membentuk natural capital.
Dalam sistem sosial, kontrol terdiri dari aturan fisik dan perilaku, mekanisme seleksi, serta aturan yang digunakan. Menurut Ostrom et al (1994) behavioral laws atau aturan perilaku terdiri dari determinan atau respon untuk menstimulus attention dan
cognition, serta respon psikologis. Aturan dapat membatasi action (perilaku) dan
outcome (hasilnya). Ketika sistem sosial merupakan satu pemerintahan dengan aturan hukum tertentu, maka dapat diartikan bentuk pemerintahan adalah dalam bentuk de jure
dan de facto, yaitu terdapat dengan jelas tipe aturan dan organisasi nya.
Konsep resiliensi atau ketahanan sangat berbeda dengan kerentanan atau
vulnerability. Menurut Holling dan Gunderson (2002), Folke et.al (2004) dalam Hughes et al (2007) disebutkan bahwa resiliensi adalah kemampuan sistem ekologi sosial untuk menghadapi gangguan, memelihara, melakukan reorganisasi dan pembentukan manajemen adaptasi guna membangun tata kelola ekosistem yang lebih stabil, serta dapat menyediakan umpan balik. Holling (1973) juga menyebutkan bahwa resiliensi dilakukan karena adanya penekanan perbedaan antara dua aspek stabilitas. Hal ini disebabkan karena ada perbedaan aspek antara stabilitas efisiensi dan persistensi. Hal ini dapat diartikan sebagai perbedaan antara kondisi konstan dengan perubahan atau antara kepastian dengan ketidakpastian. Disebutkan juga bahwa yang dimaksud dengan efisiensi adalah kontrol terhadap keadaan konstan, dan kepastian adalah atribut kondisi optimal. Hal ini berarti bahwa kondisi alam yang stabil akan mendekati keseimbangan.
Resiliensi difahami sebagai kecenderungan sistem sosial dan ekologi yang mengalami pengaruh buruk dari keterbukaannya terhadap tekanan eksternal dan
kejutan. Semakin rentan sebuah sistem, maka semakain rendah kapasitas kelembagaan dan masyarakat untuk beradaptasi dan membentuk perubahan. Dengan demikian pengelolaan resilien bukan hanya berhubungan dengan mempertahankan kapasitas dan pilihan bagi pembangunan di masa kini dan yang akan datang, tetapi juga menyangkut permasalahan lingkungan, sosial dan ketahanan ekonomi. Menurut Levin et al, 1998 dalam Holling (2001) menegaskan bahwa pengelolaan resieliensi sosial-ekologi akan memperbesar kemungkinan bagi keberlanjutan pembangunan dalam lingkungan yang berubah, tidak pasti, beserta kemungkinan terjadi kejutan .
Menurut Adrianto (2006), topik kerentanan dan resiliensi biasa dikaitkan dengan topik pembangunan secara berkelanjutan. Hal ini mengandung pengertian bahwa kerentanan dan resiliensi adalah bagian dari batasan ketahanan, contoh konsep adalah tentang standard keamanan minimum, standar mutu, daya-dukung, eco-kapasitas, ketahanan maksimum, MSY, beban kritis, ruang pemanfaatan lingkungan, dan lain lain. Semua konsep seperti itu bermanfaat untuk suatu analisa kebijakan. Kesimpulan dari semuanya adalah bahwa resiliensi memiliki potensi yang besar untuk diaplikasikan dalam pengelolaan sumberdaya pesisir dan lautan. Resiliensi sosial ekologi dapat diukur dengan melihat berbagai tindakan yang membutuhkan agen manusia, sementara keterbukaan terhadap bahaya atau tekanan dapat dikurangi melalui intervensi atau norma dalam pemanfaatan wilayah pesisir dan lautan.
Bioekologi Cumi-Cumi (Loligo edulis, Hoyle,1885)
Cumi-cumi merupakan sumberdaya non ikan yang penting di Indonesia. Dari penelitian Atmaja (2013) menyebutkan bahwa saat ini banyak terjadi perubahan kapal- kapal penangkap ikan (purse seine) menjadi kapal penangkap cumi-cumi. Perubahan ini adalah salah satu bentuk diversifikasi usaha sebagai strategi rotasi eksploitasi, yaitu dengan mengalihkan target operasi dan merubah alat tangkap. Hal ini disebabkan karena terjadinya penurunan biomassa ikan-ikan tertentu dan kenaikan kelimpahan sumberdaya ikan tertentu. Menurut Rodhous, 2005 in Atmaja (2013), berkurangnya hasil tangkapan pada sistem perikanan tradisional mendorong tingginya pemanfaatan potensi spesies non ikan, terutama invertebrata seperti Cephalopoda. Jenis Chepalopoda yang tertangkap di perairan Indonesia biasanya terdiri dari cumi-cumi (squid), (cuttle fish) dan gurita (octopus). 90% tangkapan Chepalopoda adalah cumi-cumi yang terdiri dari lima spesies, yaitu cumi-cumi jarum, the arrow squid-Uroteuthis bartschi, cumi- cumi hiara, The common squid-Loligo edulis, The Siboga squid-Loligo sibogae The hooked squid-Abralia spaerck (Ghofar, 2005 in Atmaja, 2013).
Di perairan Indonesia Timur, hampir sebagian besar hasil tangkapan cumi-cumi adalah jenis Loligo edulis. Cumi-cumi secara taksonomi termasuk kedalam