masa kuliah
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Budidaya Semangka
Semangka merupakan tanaman buah berupa herba yang tumbuh merambat. Semangka berasal dari daerah kering tropis dan subtropics Afrika, kemudian berkembang pesat ke berbagai Negara-negara seperti Afrika Selatan, Cina, Jepang dan Indonesia.
Secara garis besar syarat pertumbuhan semangka terdiri dari iklim, media tanam, dan ketinggian tempat. Faktor iklim yang mempengaruhi pertumbuhan semangka adalah curah hujan, sinar matahari dan suhu. Kondisi tanah yang cocok untuk tanaman semangka adalah tanah yang cukup gembur, kaya bahan organic, bukan tanah asam dan tanah kebun atau persawahan yang telah dikeringkan. Ketinggian tempat yang ideal untuk areal penanaman semangka adalah 100-300 m dpl.
2.2. Pengembangan Agribisnis
Agribisnis berperan sangat penting dalam meningkatkan kesejahteraan petani. Pengembangan agribisnis juga memiliki dampak yang lebih luas dibandingkan dengan kegiatan ekonomi lainnya. Agribisnis sangat erat kaitannya dengan pembangunan ekonomi rakyat, karena pertumbuhan agribisnis sebagian besar akan melibatkan masyarakat secara luas. Hal ini juga berarti menciptakan kesempatan kerja dan menjadi bagian dari usaha pengentasan kemiskinan.
Dalam pengembangan agribisnis membutuhkan kerjasama yang erat semua pihak. Dunia usaha tidak dapat melakukan pengembangan agribisnis jika tidak didukung oleh peran pemerintah yang penuh inisiatif dan antisipatif. Pengembangan agribisnis juga berkaitan dengan pengembangan wilayah serta pemerataan pembangunan antar wilayah.
2.3. Kemitraan Agribisnis
Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu mengenai kemitraan agribisnis ada pelaksanaan kemitraan yang tidak menguntungkan bagi petani yang bermitra. Ini dilihat dari tingkat pendapatan petani yang menurun setelah mengikuti kemitraan. Hal ini disebabkan tingginya harga benih dan pupuk dari perusahaan sehingga menyebabkan biaya produksi petani menjadi lebih besar. Oleh karena itu program kemitraan menjadi tidak bermanfaat, padahal secara teori pelaksnaan kemitraan harus dapat menguntungkan kedua belah pihak yang bermitra.
3.1.1. Pengertian Kemitraan
Kemitraan dalam agribisnis dapat diartikan sebagai jalinan kerjasama yang berorientasi ekonomi (bisnis) yang berkesinambungan antara dua atau lebih pelaku agribisnis.
Sedangkan definisi kemitraan yang terkandung dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1984 adalah suatu bentuk kerjasama yang saling menguntungkan serta bertujuan meningkatkan nilai tambah yang maksimal.
3.1.2. Maksud dan Tujuan Kemitraan
Pada dasarnya maksud dan tujuan dari kemitraan adalah “Win-win solution partnership”. Kesadaran dan saling menguntungkan disini tidak berarti para partisipan dalam kemitraan tersebut harus memiliki kemampuan dan kekuatan yang sama, tetapi yang lebih dipentingkan adalah adanya posisi tawar yang setara berdasarkan peran masing-masing.
Dalam kondisi yang ideal, tujuan yang ingin dicapai dalam pelaksanaan kemitraan secara lebih konkret adalah :
a. Meningkatkan pendapatan usaha kecil dan masyarakat, b. Meningkatkan perolehan nilai tambah bagi pelaku kemitraan,
c. Meningkatkan pemerataan dan pemberdayaan masyarakat dan usaha kecil, d. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi pedesaan, wilayah dan nasional, e. Memperluas lapangan kerja,
f. Meningkatkan ketahanan ekonomi nasional.
3.1.3. Pola Kemitraan
Dalam sistem agribisnis Indonesia, terdapat lima bentuk kemitraan antara petani dengan pengusaha besar. Adapun bentuk-bentuk kemitraan yang dimaksud adalah sebagai beikut : (1) pola kemitraan inti plasma, (2) pola kemitraan subkontrak, (3) pola kemitraan dagang umum, (4) pola kemitraan keagenan, (5) pola kemitraan kerjasama operasional agribisnis (KOA).
3.1.4. Kendala-kendala Dalam Kemitraan
Kegagalan jalinan kemitraan dalam agribisnis disebabkan oleh berbagai kelemahan dari para pelaku agribisnisnya dan juga dikarenakan lemahnya aturan, mekanisme dan manajemen dari kemitraan itu sendiri. Beberapa kelemahan yang menjadi hambatan masih ditemukan antara lain sebagai berikut :
1. Lemahnya posisi petani karena kurangnya kemampuan manajerial, wawasan, dan kemampuan kewirausahaan. Kondisi ini mengakibatkan petani kurang dapat mengelola usahatani secara efisien dan komersial.
2. Keterbatasan petani dalam bidang permodalan, teknologi,informasi, dan akses pasar. Kondisi ini menyebabkan pengelolaan usahatani kurang mandiri sehingga mudah tersubordinasi oleh kepentingan pihak yang lebih kuat.
3. Kurangnya kesadaran pihak perusahaan agribisnis dalam mendukung permodalan petani yang lemah. Hal ini menyebabkan menjadi kesulitan mengembangkan produk usahatani sesuai dengan kebutuhan pasar.
5. Etika bisnis kemitraan yang berprinsip win-win solution di kalangan investor agribisnis di daerah masih belum berkembang sesuai dengan dunia agribisnis.
6. Komitmen dan kesadaran petani terhadap pengendalian mutu masih kurang.
7. Hal tersebut mengakibatkan mutu komoditas yang dihasilkan tidak sesuai dengan kebutuhan pasar.
3.1.5. Peranan Pelaku Kemitraan
Sebagai upaya untuk mewujudkan kemitraan usaha yang mampu memberdayakan ekonomi rakyat sangat dibutuhkan adanya kejelasan peran masing-masing pihak yang terlibat dalam kemitraan tersebut. Dengan demikian diharapkan terukur seberapa jauh pihak-pihak yang terkeit telah menjalankan tugas dan peranannya secara baik. Berbagai peran dari pelaku kemitraan usaha tersebut adalah sebagai berikut (Mohamad Jafar Hafsah, 1996 dan 1997) :
a.Peranan Pengusaha Besar
Pengusaha besar melaksanakan pembinaan dan pengembangan kepada pengusaha kecil / koperasi.
b. Peranan Pengusaha Kecil / Koperasi
Dalam melaksanakan kemitraan usaha, pengusaha kecil / koperasi didorong bersama-sama dengan pengusaha besar mitranya melakukan penyusunan rencana usaha untuk disepakati.
c. Peranan Pembina
Peranan lembaga pembinaan ini pada intinya adalah menciptakan iklim yang kondusif bagi pengembangan kemitraan usaha serta terwujudnya kemitraan usaha yang dapat memberikan manfaat kepada pihak-pihak yang bermitra.
3.2. Sistem Agribisnis
Agribisnis merupakan konsep dari suatu sistem yang integratif yang terdiri dari beberapa subsistem yaitu subsistem pengadaan sarana produksi pertanian, subsistem produksi usahatani, subsistem pengolahan industri hasil pertanian, subsistem pemasaran hasil pertanian dan subsistem kelembagaan penunjang kegiatan pertanian.
Keterkaitan antar usaha dalam sistem mulai dari pengadaan sarana produksi, proses produksi usahatani, pengolahan hasil, industri, distribusi dan pemasaran merupakan syarat keunggulan bisnis yang bersangkutan. Dengan adanya kemitraan diharapkan dapat menghilangkan permasalahan dalam keterkaitan usaha vertikal sistem agribisnis seperti bentuk persaingan yang tidak sehat akibat struktur pasar yang tidak sempurna.
3.3. Pendapatan usahatani
Pendapatan usahatani adalah selisih penerimaan dengan biaya yang dikeluarkan pada suatu periode produksi. Menurut Hernanto (1991), penerimaan usahatani adalah penerimaan dari sumber usahatani yang meliputi : (1) jumlah penambahan inventaris, (2) nilai jual hasil, (3) nilai penggunaan untuk konsumsi keluarga. Pengeluaran usahatani secara umum meliputi biaya tetap dan biaya
melihat seberapa besar likuiditas tunai yang dibutuhkan petani untuk menjalankan kegiatan usahataninya. Sedangkan biaya diperhitungkan digunakan untuk menghitung seberapa sebenarnya pendapatan kerja petani kalau bunga modal dan nilai kerja keluarga diperhitungkan. Selain itu ditinjau juga biaya total yang digunakan untuk melihat seberapa besar jumlah keseluruhan biaya (termasuk biaya proses produksi) yang dikeluarkan / dialokasikan untuk kegiatan usahatani.
= TR-TC
= P.Q – (Biaya Tunai + Biaya Non Tunai) keterangan :
= Besarnya keuntungan / pendapatan (Rp) TC = Total Biaya
TR = Total Penerima (Rp) Q = Jumlah Produksi (Unit/Kg) P = Harga Produksi (Rp/Unit/Kg)
Pendapatan selain diukur dengan nilai mutlak dapat pula diukur nilai efisiensinya. Salah satu alat untuk mengukur efisiensi pendapatan tersebut yaitu penerimaan untuk setiap biaya yang dikeluarkan atau imbangan penerimaan dengan biaya atau revenue and cost ratio (analisis R/C rasio). Perbandingan ini menunjukkan penerimaan kotor untuk setiap rupiah yang dikeluarkan dalam usahatani. Semakin tinggi nilai R/C rasio menunjukkan semakin besar penerimaan yang diperoleh dari setiap rupiah yang dikeluarkan. Sehingga dengan perolehan nilai R/C rasio yang semakin tinggi maka tingkat pendapatan pun semakin baik.
3.4. Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif digunakan untuk melihat karakteristik mitra tani dan mengevaluasi pelaksanaan kemitraan. Data primer yang telah dipeoleh melalui wawancara dan kuisioner ditabulasikan dalam kerangka tabel yang dipersiapkan, kemudian data tersebut dianalisis untuk melihat karakteristik mitra tani meliputi umur, tingkat pendidikan dan pengalaman. Evaluasi pelaksanaan kemitraan meliputi aspek proses manajemen dan aspek manfaat dari kemitraan.
3.5. Uji Mann-Whitney U
Uji Mann-Whitney U merupakan uji dua sampel bebas pada statistik non parametrik yang memiliki tujuan dan mengetahui apakah dua buah sampel bebas dari populasi yang sama. Jika berasal dari populasi yang sama, maka sampel yang diuji akan memiliki karakteristik yang sama. Yang dimaksud dengan sampel bebas adalah sampel yang diambil secara bebas atau random dari dua populasi yang tidak berhubungan satu dengan yang lain dengan jumlah kedua sampel tidak harus sama (Santoso, 2001).
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan uji Mann-Whitney U adalah data berbentuk ordinal dan tidak terdistribusi secara normal.
Dimana : n1 = jumlah variabel n2 = jumlah variabel 2 Rx = jumlah ranking
X = Kode variabel, jika dihitung sampel 1, maka akan menjadi n
3.6. Kerangka Pemikiran Opearsional
Kemitraan antara petani semangka di kabupaten Kebumen dfengan CV. Bimandiri diawali dari program yang dimiliki oleh CV. Bimandiri untuk mengembangkan semangka varietas WD. 1005 atau yang lebih dikenal dengan semangka gandul atau Baby Black. Melalui program kemitraan ini diharapkan dapat memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak yang bermitra.
Dalam melaksanakan program kemitraan ini banyak sekali kendala yang dihadapi, baik oleh pihak petani maupun perusahaan. Kualitas, kuantitas dan kontinuitas menjadi faktor yang sangat penting dalam melaksanakan program kemitraan ini. Hasil yang diharapkan dari program kemitraan ini bagi petani adlah terjaminnya pasar bagi semangka yang diproduksinya serta dapat meningkatkan pendapatan mereka. Sedangkan bagi prusahaan adalah dapat memenuhi kebutuhan pasar.
IV. PELAKSANAAN KEMITRAAN
CV. Bimandiri telah menjalankan kemitraan dengan kelompok tani Mekar Buah di Kabupaten Kebumen Jawa Tengah sejak bulan April 2003. Kerjasama ini dilatar belakangi oleh CV. Bimandiri yang ingin mengembangkan bibit semangka yang belum banyak dikembangkan oleh para pengusaha agribisnis. Bibit yang akan dikembangkan ini adalah varietas WD.1005 atau yang lebih dikenal dengan nama semangka gandul atau Baby Black.
Untuk menanam semangka Baby Black ini CV. Bimandiri membutuhkan satu kelompok penanam semangka yang dapat diajak untuk bekerja sama, berpikir maju dan mau menanam sesuai dengan kualitas, kuantitas dan kontinyuitas yang diinginkan oleh perusahaan. Untuk itu CV. Bimandiri mencari lokasi yang cocok untuk menanam semangka Baby Black ini. Setelah melakukan survey, maka CV. Bimandiri memutuskan untuk melakukan kerjasama dengan kelompok tani Mekar Buah yang terletak di Kabupaten Kebumen Jawa Tengah.
Pada awalnya, kerjasama antara CV. Bimandiri dengan petani semangka di Kabupaten Kebumen jawa Tengah diawali dengan kerjasama antara CV. Bimandiri dengan Carrefour. Sekitar tahun 1998 Carrefour mulai berkembang di Indonesia. Pertama kali CV. Bimandiri hanya mensuplai sayur-sayuran. Seiring dengan berkembangnya Carrefour di Indonesia, maka CV. Bimandiri juga memerlukan diferensiasi produk. Oleh karena itu maka CV. Bimandiri ingin mengembangkan suatu komoditas yang masih jarang, tetapi produk tersebut dapat diterima oleh konsumen dengan mudah. Akhirnya CV. Bimandiri memutuskan untuk mengembangkan komoditas semangka Baby Black atau semangka gandul yang pada saat itu masih jarang ditemukan oleh masyarakat di pasar tradisional.
terjadi dua kali panen dalam seminggu. Rata-rata produksi yang dicapai oleh petani adalah 5.351 Kg per minggu atau 53% dari permintaan pasar. Ini menunjukkan bahwa hasil produksi petani sudah memenuhi dari target perusahaan.
Selain target dalam jumlah produksi, kualitas juga menjadi target perusahaan yang dibedakan berdasarkan gradenya. Dimana target perusahaan adalah 85% untuk grade A dan 15% untuk grade B. Sedangkan hasil yang dicapai oleh petani adalah grade A 78% dan grade B 22%.
Dalam melaksanakan kemitraan ini banyak sekali kendala-kendala yang dihadapi oleh para petani maupun CV. Bimandiri. Kegagalan panen karena kondisi cuaca tidak dapat terelakkan karena itu merupakan faktor alam yang tidak dapat kita rubah. Munculnya pesaing baru semangka Baby Black dipasaran merupakan salah satu kendala yang harus dihadapi oleh petani dan CV. Bimandiri. Dengan adanya pesaing baru membuat petani harus dapat mempertahankan kualitas semangka yang ditanam. Sedangkan bagi CV. Bimandiri persaingan di pasar menjadi semakin ketat.
Dari latar belakang pendidikan petani pada umumnya menyebabkan keterbatasan petani dalam hal kemampuan system manajerial. Rata-rata tingkat pendidikan petani di Kecamatan Mirit hanya sampai Sekolah Dasar. Dari kondisi seperti inilah yang mengakibatkan para petani belum bisa mengelola usahatani secara efektif, efisien dan komersil.
V. KARAKTERISTIK UMUM RESPONDEN, ANALISIS PENDAPATAN