• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN

TINJAUAN PUSTAKA

Tata Guna Lahan

Lahan (land) adalah suatu daerah di permukaan bumi dengan sifat-sifat tertentu, yaitu dalam hal sifat-sifat atmosfer, geologi, geomorfologi, tanah, hidrologi, vegetasi, dan penggunaan lahan. Sumberdaya lahan (land resources) adalah kondisi dari sumberdaya lahan yang dapat dieksploitasi manusia. Sementara yang dimaksud dengan tanah (soil) adalah bahan mineral cerai berai pada permukaan bumi yang berfungsi sebagai medium tumbuh bagi tanaman atau tumbuhan (So epardi, 1977). Lahan merupakan komoditi ekonomi yang nilainya terus meningkat karena sifat keterbatasannya, apalagi dilihat dari berbagai sudut pandang lahan

mempunyai banyak nilai tambah. la mempunyai nilai keindahan, nilai politik, nilai fisik, nilai sosial, nilai spiritual dan sebagainya. Nilai -nilai ini, dimiliki oleh sumberdaya lahan apabila ia mempunyai manfaat/potensi untuk menghasilkan pendapatan dan kepuasan sementara jumlah yang ditawarkan lebih sedikit daripada pemintaannya serta ia mudah untuk dialihkan penguasaannya (Cahyono, 1982).

Teori Lokasi Von Thunen, Burges dan Homer Hoyt

Teori Von Thunen dikenal sejak abad 19, Teori ini merupakan model guna lahan sederhana, didasarkan pada satu titik permintaan dalam lingkungan ekonomi pedesaan yang mempunyai struktur pasar sempurna baik pasar output maupun pasar input. Selain itu diasumsikan bahwa seluruh wilayah dapat dijangkau tertapi terisolasi, sehingga tidak ada ekspor impor. Berasumsi tersebut maka lahan akan mengikuti pola kawasan komoditi berbentuk lingkaran (Gambar 3) dengan kota sebagai pusatnya sekaligus sebagai tempat permukiman kemudian areal sawah, tegalan, hingga kebun. Bentuk lingkaran tidak mesti simetris, tetapi tergantung akses yang ada. Misalnya melonjong, mengikuti akse s jalan atau sungai.

Sumber: Adisasmita, 1983 (teori-teori lokasi dan pengembangan wilayah)

Gambar 3 : Model Tata Guna Lahan menurut Von Thunen

Analisis serupa Von Tunen yang digunakan di kawasan perkotaan, dilakukan oleh Bur ges (Barlowe, 1978). Burges menganalogikan pusat

pasar dengan pusat kota (Central Business District atau CBD). CBD merupakan tempat yang lebih banyak digunakan untuk gedung kantor, pusat pertokoan, Bank dan perhotelan. Berbeda dengan Von Thunen yang menggambarkan pola kawasan untuk berbagai komoditi, bagi Burges pola

O A A L K D C B D’ M A’ B’ C’ Xi Xm Xj Xn Land rent Pusat Kota Jarak dari Pusat Kota Keterangan :

Xi : Pusat Kota (Permukman) Xj : Areal sawah Xm : Tegalan Xn : Kebun K : Zona Permukman L : Zona Persawahan M : Zona Tegalan A,B,C,D : Nilai Land rent A’,B’,C’D’ jarak dari Pusat Kota

tersebut untuk berbagai kegiatan ekonomi. Asumsi yang dipakai sama, semakin jauh dengan kawasan CBD, nilai land rent ekonomi kawasan

tersebut semakin kecil, tetapi Burges menekankan pada faktor karak komutasi ke tempat kerja dan tempat belanja merupakan faktor utama dalam tata guna lahan di perkotaan. Jadi Burges memusatkan pada tempat

orang bermikim relatip terhadap tempat bekerja dan belanja. Dalam area konsentrasi Burges, pusat area merupakan CBD, dikelilingi kawasan industri, kemudian kawasan transisi termasuk didalamnya kawasan kumuh, tempat bisnis dan pertokoan yang mapan, kemudian kawasan perumahan kelas rendah. Lingkaran selanjutnya, perumahan menengah dan kelas atas. Terakhir kawasan pinggiran tempat penglaju (komuter).Untuk lebih jelasnya lihat Gambar 4.

Sumber: Adisasmita, 1983 (teori-teori lokasi dan pengembangan wilayah)

Gambar 4 : Model Tata guna Lahan menurut Burges

Hoyt (Barlow, 1978) mengemukakan gagasan pengganti konsentrasi kawasan berdasarkan kedudukan relative tempat kerja dan belanja terhadap

CBD

Industri

Transisi Perumahan kelas rendah Perumahan menengah & atas

tempat permukiman. Pendekatan sektor menggambarkan jaringan transportasi yang dianggap homogen oleh Burges, diaplikasikan sesuai

dengan keadaan jalan seperti kondisi jalan di amerika serikat pada waktu itu. Hasil analisis Hoyt adalah system jaringan transportasi seperti keadaan sebenarnya, Hoyt menyimpulkan bahwa jaringan transportasi tersebut

mampu memberikan jangkauan yang lebih tinggi dan ongkos yang lebih murah terhadap kawasan lahan tertentu. Kalau digambarkan dalam bentuk lingkaran kawasan, hampir sama dengan bentuk Burges. Bedanya model Hoyt lebih menekankan pada peran jaringan transportasi terhadap suatu lahan. Faktor jaringan transportasi yang baik akan membuat kawasan perumahan kelas atas bersambung dengan kawasan CBD. Sedang lahan yang aksesnya kurang baik, akan dihuni oleh kelompok bawah yang letaknya di luar lingkaran kawasan grosir dan industri (lihat Gambar 5).

Keterangan Gambar :

1. Daerah Pusat Kegiatan (CBD) 2. Zona Industri

3. Zona Permukiman Kelas Rendah 4. Zona Permukiman Kelas Menengah 5. Zona Permukiman Kelas Tinggi

S umber: Adisasmita, 1983 (teori -teori lokasi dan pengembangan wilayah)

Gambar 5 : Model Teori Sektor menurut Hoyt

Teori lain yang dapat menjelaskan mengenai penggunaan lahan kota. adalah teori pusat lipat ganda (Multi Nuclei Theori) yang dikemukakan oleh Harris dan Ulman (Daldjoeni, 1992). Menurut teori ini suatu kota terdiri dari beberapa pusat inti perkembangan dan bukan hanya sat u seperti halnya

menurul teori Burgess maupun Hoyt. Seliap pusat inti cendrung diwarnai oleh satu jenis kegiatan seperti pemerintahan, rekreasi, pendidikan,

perdagangan dan lain-lain. Beberapa pusat/inti mungkin sudah berkembang sejak awal berdirinya kota dan yang lainnya akan muncul dan berkembang kemudian, yang dapat dilihat pada gambar teori pusat lipat ganda berikut ini.

(Sumber: Daldjoeni, 1992)

Keterangan : (1) Pusat kota (2) Kawasan niaga

(3) Kawasan tempat tinggal berkualitas rendah

(4) Kawasan bertempat tinggal berkualitas menengah

(5) Kawasan tempat tinggal berkualitas tinggi

(6) Pusat industri berat

(7) Pusat niaga/perbelanjaan lain dipinggiran

(8) Kawasan madyawisma dan adiwisma (9) Kawasan industri

Gambar 6. Pola Penggunaan Lahan Kota Konsep Teori Pusat Lipat Ganda

Bila dilihat dari segi perkembangan kota, sebenamya ada tiga faktor utama yang sangat menentukan perkembangan dan pertumbuhan kota yaitu manusia, kegiatan manusia dan pola pergerakan antar pusat kegiatan manusia yang satu dengan pusat kegiatan manusia lainya. Menurut Sujarto (1989) ketiga faktor tersebut akan termanifestasikan pada perubahan akan tuntutan kebutuhan lahan. Faktor manusia yang berpengaruh terhadap perubahan tersebut menyangkut perkembangan tenaga kerja, status sosial serta perkembangan kemampuan dan teknologi. Faktor kegiatan manusia meliputi kegiatan kerja, kegiatan fungsional, kegiatan perekonomian kota dan kegiatan hubungan regional yang lebih luas, faktor pola pergerakan adalah akibat dari perkembangan yang disebabkan oleh kedua faktor perkembangan penduduk disertai dengan perkembangan fungsi kegiatannya akan memacu pola hubungan antara pusat-pusat kegiatan tersebut.

Teori Alfred Weber

Teori Weber (Barlow, 1978; Glason, 1977) biasa disebut teori biaya terkecil. Dalam teori tersebut Weber mengasumsikan : (1) Bahwa daerah yang menjadi obyek penelitian adalah daerah yang terisolasi. Konsumennya

terpusat pada pusat-pusat kegiatan. Semua unit perusahaan dapat memasuki pasar yang tidak terbatas dan persaingan sempurna. (2) Semua sumberdaya alam tersedia secara tak terbatas. (3) Barang-barang lainnya seperti minyak bumi dan mineral adalah sporadic tersedia secara terbatas pada sejumlah tempat. (4) Tenaga kerja tidak tersedia secara luas, ada yang menetap tetapi ada juga yang mobilitasnya tinggi.

Menurut Weber ada tiga faktor yang mempengaruhi lokasi industri yang biaya transportasi, biaya tenaga kerja dan kekuatan aglomerasi. Biaya transportasi diasumsikan berbanding lurus terhadap jarak yang ditempuh dan berat barang sehingga titik lokasi yang membuat biaya terkecil adalah bobot total pergerakan pengumpulan berbagai input dan pendistribusian yang minimum. Dipandang dari segi tata guna lahan model Weber berguna untuk

merencanakan lokasi industri dalam rangka mensuplai pasar wilayah, pasar nasional, atau pasar global. Dalam model ini fungsi tujuan biasanya meminimkan ongkos transportasi sebagai fungsi dari jarak dan berat barang yang harus diangkut (input dan output). Kritikan atas model ini terutama pada asumsi biaya transportasi dan biaya produksi yang bersifat konstan, tidak memperhatikan faktor kelembagaan dan terlalu menekankan pada sisi input.

Teori Land Rent

Barlow (1978) menggambarkan hubungan antara nilai land rent dan alokasi sumberdaya lahan diantara berbagai kompetisi penggunaan kegiatan. Sektor -sektor yang komersial dan strategis mempunyai land rent yang tinggi sehingga sektor sektor tersebut berada di kawasan strategis. Sebaliknya sektor -sektor yang kurang mempunyai nilai komersial nilai land rentnya semakin kecil. Land rent disini diartikan sebagai locational rent. Kalau digambarkan secara grafis, sektor-sektor yang strategis fungsinya lebih curam. Sebaliknya sektor yang kurang strategis fungsinya lebih mendatar, seperti tampak dalam Gambar 7.

Sumber : Saefulhakim

Gambar 7. Hubungan antara land rent lokasi pada berbagai sektor ekonomi. Gambar 5 menjelaskan hubungan antara land rent dengan lokasi kegiatan ekonomi. Sebagai contoh sektor A paling komersial maka kurvanya lebih curam, sehingga land rent lebih tinggi yaitu OE. Dalam gambar, lokasi

OP* paling cocok untuk sektor A, sedang daerah lokasi P*P1 bisa saling bersubstitusi dengan sektor B yang relative kurang komersial dibandingkan

A

B

C

D

Jarak dari Lokasi Pusat(d) Land Rent (R) Lokasi Pusat Land use Land use

B Land use C Land use D

Natural Land Cover

O

E P*

sektor A itu sendiri. Diluar OP1 tidak cocok untuk sektor A, sebagai contoh sektor perbankan jelas tidak layak ditempatkan dikawasan yang sepi tetapi

lebih cocok di kawasan komersial dilain pihak didaerah OP* bagi sektor lain selain sektor A jelas kurang optimal penggunaannya ditinjau dari segi lokasi. Ilustrasi di atas bias digambarkan dalam betuk model tata guna lahan

lingkaran konsentris (Anwar, 1993) dimana persaingan antara berbagai kegiatan akan menghasilkan suatu pola tata guna lahan yang berbentuk lingkaran konsentris seperti tampak dalam Gambar 8 berikut :

Sumber : Yunus, Struktur Tata Ruang Kota, 2001 Gambar 8. Model Tata gunalahan Lingkaran Konsentris Keterangan :

1. kawasan komersial 2. kawasan industri 3. kawasan perumahan 4. kawasan pertanian

Lahan dalam kegiatan produksi merupakan salah satu faktor produksi tetap. Untuk melihat nilai Land Rent dalam teori sumber daya lahan disebut rente (rent). Menurut Barlow (1978), nilai rente sumber daya lahan dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu sewa kontrak (contrac t rent), sewa lahan (land rent) dan nilai rente ekonomi dari lahan (economic rent). Economic rent atau rente ekonomi didefinisikan sebagai surplus ekonomi merupakan kelebihan nilai produksi total di atas biaya total (Barlow, 1978; Suparmoko, 1989) Economic

rent diartikan pula sebagai surplus pendapatan di atas harga suplai terkecil yang terjadi akibat adanya faktor produksi (Robinson, 1933; Boulding, 1966). Sedang menurut Nasution (1990), land rent merupakan pendapatan bersih yang diperoleh suatu pelaku ekonomi melalui kegiatan yang dilakukan pada suatu unti ruang dengan tingkat teknologi dan efisiensi manajemen tertentu dan dalam suatu kurun waktu tertentu secara formal.

Saefulhakim (2003) mendefinisikan Land Rent sebagai nilai ekonomi bersih yang diberikan oleh suatu jenis penggunaan lahan (Land Use) tertentu, pada suatu bidang lahan dengan luasan tertentu, dalam periode waktu tertentu. Secara matematis, rumusan sederhana (dengan pendekatan constant return to scale baik dari sisi input maupun output), definisi land rent ini dapat ditulis sebagai berikut: ij ij ij ij ij ij ij t A X c Q p r ∆ − = (2) atau         ∆ =         ∆ = − = ij ij ij ij ij ij ij ij ij ij ij ij ij t A X x t A Q q x c q p r dan : mana di (3)

Notasi dalam rumus Persamaan (2) dan (3) di atas dapat dideskripsikan sebagai berikut:

rij : nilai land rent yang diberikan bila sebidang lahan be rlokasi di i

dikembangkan dengan jenis penggunaan lahan j; satuan pengukurannya misalnya dinyatakan dalam Rp.ha-1.tahun-1

pij : harga pasar (dengan patokan harga setempat: farm-gate price) per unit

kuantitas output komoditas barang/jasa yang dihasilkan da ri jenis

penggunaan lahan j pada sebidang lahan berlokasi di i; satuan pengukurannya misalnya dinyatakan dalam Rp.ton-1

Qij : total kuantitas output komoditas barang/jasa yang dihasilkan dari jenis

penggunaan lahan j pada sebidang lahan berlokasi di i; satuan pengukurannya misalnya dinyatakan dalam ton

cij : harga pasar (dengan patokan harga setempat: farm-gate price) per unit

kuantitas input yang diperlukan oleh jenis penggunaan lahan j yang dikembangkan pada sebidang lahan berlokasi di i; satuan pengukurannya misalnya dinyatakan dalam Rp.k g-1

Xij : total kuantitas input yang diperlukan oleh jenis penggunaan lahan j yang

dikembangkan pada sebidang lahan berlokasi di i; satuan pengukurannya misalnya dinyatakan dalam k g

Aij : luas areal bidang lahan di lo kasi i yang dikembangkan dengan jenis

penggunaan lahan j; satuan pengukurannya misalnya dinyatakan dalam ha ∆tij : periode waktu yang dibutuhkan oleh jenis penggunaan lahan j di lokasi i

untuk menghasilkan output komoditas barang/jasa seperti yang dimaksud di atas; satuan pengukurannya misalnya dinyatakan dalam tahun

qij : rataan produktifitas (yield) komoditas barang/jasa output dari jenis

penggunaan lahan j pada bidang lahan berlokasi di i; satuan pengukurannya misalnya dinyatakan ton.ha-1.tahun-1

xij : rataan penggunaan input oleh jenis penggunaan lahan j pada bidang lahan

berlokasi di i; satuan pengukurannya misalnya dinyatakan k g.ha-1.tahun-1

Dengan menggunakan asumsi: (1) patokan harga di lokasi pasar, (2) pasar output maupun pasar input berada pada lokasi yang sama, (3) antara lokasi pasar dan lokasi lahan i dengan penggunaan lahan j terpisah sejauh jarak dij, maka dengan menggunakan pendekatan bahwa biaya satuan transportasi komoditas output maupun input proporsional terhadap jarak, rumusan land rent di atas dapat dimodifikasi menjadi sebagai berikut:

(

j j ij

)

ij

(

j j ij

)

ij

ij p t d q c d x

r = − ⋅ ⋅ − +τ ⋅ ⋅ (4)

di mana:

pj : harga satuan kuantitas output komoditas barang/jasa yang dihasilkan dari

jenis penggunaan lahan j di lokasi pasar; satuan pengukurannya misalnya dinyatakan dalam Rp.ton-1

cj : harga satuan kuantitas input untuk jenis penggunaan lahan j, di lokasi pasar;

satuan pengukurannya misalnya dinyatakan dalam Rp.k g-1

dij : jarak antara lokasi pasar dan lokasi sebidang lahan i dengan jenis penggunaan

lahan j; satuan pengukurannya misalnya dinyatakan dalam km

tj : biaya satuan transportasi komoditas output penggunaan lahan j; satuan

τj : biaya satuan transportasi komoditas input penggunaan lahan j; satuan

pengukurannya misa lnya dinyatakan dalam Rp.k g-1.km-1

(

j j ij

)

ij

(

j j ij

)

ij

ij p t d q c d x

r = − ⋅ ⋅ − +τ ⋅ ⋅

Karena pj ≥0, tj ≥0, cj ≥0, τj ≥0, dij ≥0, qij ≥0, dan xij ≥0, maka:

0 ≥ = ∂ ∂ ij j ij q p r

Land Rent meningkat dengan adanya kenaikan harga pasar output (komoditas output menjadi langka di pasar).

0 ≤ ⋅ − = ∂ ∂ ij ij j ij q d t r

Land Rent menurun dengan adanya peningkatan tarif angkutan komoditas output (aksesibilitas transportasi output memburuk).

0 ≤ − = ∂ ∂ ij j ij x c r

Land Rent menurun dengan adanya peningkatan biaya produksi. 0 ≤ ⋅ − = ∂ ∂ ij ij j ij x d r τ

Land rent menurun dengan adanya peningkatan biaya transport input.

(

+

)

≤0 − = ∂ ∂ ij j ij j ij ij x q t d r τ

Land Rent menurun dengan semakin jauhnya jarak lokasi lahan dari pusat pasar. 0 ≥ ⋅ − = ∂ ∂ ij j j ij ij d t p q r

Land Rent meningkat dengan semakin tingginya produktifitas komoditas output.

(

+ ⋅

)

≤0 − = ∂ ∂ ij j j ij ij d c x r τ

Land Rent menurun dengan semakin besarnya kebutuhan input produksi (inefisiensi meningkat).

Kota sebagai Pusat Pertumbuhan dan Konversi Lahan

Kota timbul dan berkembang melalui suatu proses yang oleh Hoteling disebut proses aglomerasi. Mengumpulnya usaha-usaha sejenis

menimbulkan penghematan-penghematan intern dan ekstern yang disebabkan terjadinya keuntungan akibat pertukaran, tersedianya berbagai pasar termasuk pasar capital, tenaga kerja dan sebagainya. Pusat-pusat kawasan tersebut merupakan sumber pertumbuhan bahkan merupakan prasarat bagi suatu transisi perekonomian di kawasan pedesaan (rural) yang umumnya didomonasi sektor pertanian kepada suatu perekonomian yang maju, dimana terdapat produktifitas yang tinggi dan aktifitas-aktifitas yang luas.

Aspek kosmopolitikan kota merupakan tempat strategis berbagai inovasi, input-input vital bahkan merupakan tempat perubahan. Kota merupakan media penghubung (transmitter) masuknya pemikiran-pemikiran maupun tindakan yang berasal dari luar.

Sistem transportasi yang dibangun untuk menghubungkan kawasan kota dengan hinterland merupakan faktor pendorong berkembangnya kedua kawasan. Melalui proses waktu semakin berkembangnya kota induk akan mengembangkan kawasan penyangga menjadi kota-kota kecil. Lewat suatu proses aglo-merasi ganda maka antara kota kota induk dan kota-kota kecil tersebut bisa saling menyatu. Hal ini menurut Anwar (1994) terjadi karena faktor transportasi “ketidakmampuan” kota induk memenuhi tuntutan kebutuhan warganya, terutama dalam menyediakan lahan untuk pemukiman tempat tinggal dan tempat mereka bekerja. Sehingga kawasan penyangga menjadi penting baik oleh kemungkinan ketersediaab lahan lingkungan lebih segar dan lahan-lahan dikota induk menjadi langka, sulit dispst dan mahal harganya.

Terjadinya aglomerasi ganda serta bergabungnya dua kota yang didorong oleh perbaikan system transportasi mendodorng terjadinya tata guna lahan terutama perubahan tersebut menyangkut pengalihan lahan- lahan pertnian ke penggunaan non pertanian di pinggiran wilayah urban atau didekat akses transportasi tersebut. Proses terbentuknya kota inti secara berganda tersebut bisa terjadi untuk ukuran kota yang besar seperti

JABOTABEK, hingga kota-kota kecil dengan kawasan penyangga disekitarnya. Proses tersebut sangat penting pengaruhnya terhadap pola

perubahan tata guna lahan termasuk perubahan lahan pertanian menjadi non pertanian. Proses terbentuknya kota ini digambarkan dalam Gambar 9 berikut ;

Sumber: Adisasmita, 1983 (teori-teori lokasi dan pengembangan wilayah)

Gambar 9 : Pembentukan Kota Inti secara Berganda

Proses aglomerasi kota mendorong terjadinya suatu proses yang disebut spread effect dan back wash effect. Spread effect menunjuk pada dampak momentum pembangunan yang merugikan secara sentrifugal dari pusat pengembangan ekonomi ke wilayah-wilayah lainnya. Dorongan tesebut berbentuk pertambahan permintaan dari daerah yang kaya terhadap

produksi barang dan jasa seperti hasil pertanian , industri rumah tangga dan sebagainya dari kawasan hinterland tersebut. Sebaliknya melalui proses

1 2 3

4

Jarak dari pusat Jarak dari pusat

Land Rent Lokasi Pusat Keterangan : 1. Kawasan Komersial/Finansial 2. Kawasan Industri 3. Kawasan Perumahan 4. Kawasan Pertanian

back wash effect justru terjadi proses penyedotan berbagai faktor input seperti tenaga kerja potensial, faktor capital bahkan sumberdaya potensial

lain.

Myrdal berkeyakinan bahwa kawasan maju akan mengalami proses external diseconomics, karena terjadi misorgianisasi, kemacetan lalulintas, kerusakan lingkungan bahkan kriminalitas semakin meningkat karena tekanan penduduk yang tinggi. Akibatnya pemukiman-pemukiman golongan mapan keatas maupun perusahaan membutuhkan kawasan baru yang akan menjadi kawasan pertumbuhan baru pula.

Seluruh rangkaian proses ini memungkinkan terjadinya relokasi lahan termasuk lahan sawah khususnya disekitar kawasan pertumbuhan. Karena lahan-lahan seperti lahan sawah yang land rent persatuan luasnya lebih rendah, dialokasikan ke sektor lain yang nilai land rent per satuan luasnya

lebih tinggi. Tekanan yang semalin besar terhadap lahan khususnya lahan pertanian di sekitar kawasan pertumbuhan walaupun merupakan proses yang wajar tetapi tanpa ada aturan yang jelas tentang siapa memperoleh siapa dan untuk apa jelas akan besar biaya sosialnya..

Sumberdaya Air

Persediaan air hampir seluruhnya didapatkan dalam bentuk hujan sebagai hasil dari penguapan air laut. Proses-proses yang tercakup dalam peralihan uap dari laut ke daratan dan kembali ke laut lagi membentuk apa yang disebut daur hidrologi.

Daur Hidrologi

Tahap pertama dari daur hidrologi adalah penguapan air dari laut. Uap ini

dibawa di atas daratan oleh massa udara yang bergerak. Bila didinginkan hingga titik embunnya, maka uap tersebut akan membentuk awan. Dalam

kondisi meteorologis yang sesuai, butiran-butiran air kecil itu akan berkembang menjadi besar untuk dapat jatuh ke permukaan bumi sebagai

hujan.

Pendinginan massa udara yang besar terjadi karena pengangkatan (lifting). Berkurangnya tekanan yang diakibatkan akan disertai dengan turunnya

suhu, sesuai dengan hukum tentang gas. Pengangkatan orografis akan terjadi bila udara dipaksa naik di atas suatu hambatan yang berupa gunung. Oleh sebab itu, maka lereng gunung yang berada pada arah angin biasanya menjadi daerah yang berhujan lebat. Udara mungkin pula naik di atas udara yang lebih dingin. Perbatasan antara massa-massa udara ini disebut permukaan frontal. Dan proses pengangkatannya disebut pengangkatan frontal. Akhirnya udara yang dipanaskan dari bawah mungkin naik keatas dengan berputar menembus udara yang lebih dingin (pengangkatan pusaran/konvektif) yang menjadi sebab adanya badai pusaran setempat yang biasa terjadi pada musim panas.

Sekitar 2/3 (dua pertiga) dari presipitasi yang mencapai permukaan tanah dikembalikan lagi ke udara melalui penguapan dari permukaan air,

tanah dan tumbuh-tumbuhan serta melalui transpirasi oleh tanaman. Sisa presipitasikembali ke laut melalui saluran -saluran di atas atau di bawah tanah. Prosentase yang besar dari presipitasi yang menguap sering menimbulkan bahwa penambahanpenguapan dengan pembangunan waduk atau penambahan pohon-pohon akan meningkatkan jumlah embun di udara yang bisa diperoleh untuk presipitasi. Hanya sebagian kecil dari embun yang melalui suatu titik tertentu dipermukaan bumi yang jatuh sebagai presipitasi. Oleh karenanya air yang diuapkan dari permukaan tanah hanyalah

merupakan bagian kecil dari keseluruhan air di atmosfir. Daur hidrologi dilukiskan dalam bentuk bagan pada Gambar 1.

Presipitasi

Definisi presipitasi adalah curahan atau jatuhnya air dari atmosfet ke

permukaan bumi dan laut dalam bentuk yang berbeda, yaitu curah hujan di derah tropis dan curah hujan serta salju di daerah beriklim sedang (Asdak, 1995). Menurut Linsley dan Franzini, 1979 presipitasi meliputi semua air yang jatuh dari atmosfir ke permukaan bumi. Presipitasi terjadi dalam berbagai bentuk yaitu presipitasi cair (curah hujan) dan presipitasi beku (salju, batu es). Curah hujan yang mengalir segera ke sungai setelah mencapai tanah, dan menjadi sebab dari sebagian besar banjir. Selain curah hujan ada tetesan kabut dan embun yang jatuh ke tanah namun jumlahnya sangat kecil sehingga tidak diperhitungkan.

Tipe Presipitasi

Tipe presipitasi ditentukan atas dasar dua sudut pandang yang berlainan,

yaitu atas dasar genesa (asal mulanya) maupun atas dasar bentuk presipitasi (Linsley dan Franzini, 1979 dan Seyhan, 1977).

Klasifikasi genetic

Klasifikasi ini didasarkan atas timbulnya presipitasi, faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya presipitasi yaitu : suhu udara yang lembab, inti kondensasi (partikel debu, kristal garam, dan lain -lain) dan sarana untuk menaikan udara yang lembab, sehingga kondensasi dapat berlangsung sebagai akibat udara yang mendinginkan. Presipitasi berdasarkan klasifikasi

ini dibedakan dalam 3 jenis, yaitu pendinginan siklonik, orografik dan konvektif.

Klasifikasi bentuk

Presipitasi jenis ini dapat dibedakan dalam dua jenis yait vertikal dan

horizontal.

Presipitasi vertikal terdiri dari :

Dokumen terkait