• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan Pustaka dan penelitian terdahulu yang relevan

BAB I : PENDAHULUAN

G. Tinjauan Pustaka dan penelitian terdahulu yang relevan

G. Tinjauan pustaka dan penelitian terdahulu yang relevan 1. Tinjauan Pustaka

a. Data Primer

Disertasi ini menggunakan data primer (Primary Resources) sebagai landasan awal. Data yang dimaksud adalah ayat-ayat al-Quran yang memiliki korelasi dengan pembentukan karakter dan living value education. Ayat-ayat tersebut ditafsirkan dengan merujuk kepada kitab-kitab tafsir al-Qur’an baik klasik atau yang kontemporer dan dikorelasikan juga dengan hadis-hadis yang relevan, penulis mengutamakan

mengutipnya dari al- kutub al-Tis’ah.49

Dalam disertasi ini dipilih beberapa tafsir al-Qur’an yang digunakan sebagai bahan rujukan di antaranya, tafsir-tafsir al-Qur’an yang bi al-ma’tsû r seperti al-Tafsîr at-Thabarî (w.310)50, Ibnu katsîr (w. 774 H)51,al-Dur al-Mantsûr as-Suyûthî (w.911 H)52. demikian pula tafsir-tafsir bi al-ra’yi seperti, al-kasysyâf li az-Zamahsyari (w. 538),53 al-Marâghî (w. 1731 H/1952M), al-Qurtubiy (w671 H./1273 M),54 Râsyîd Ridhâ,55 Fath al-Qadîr li ‘Alî as-Syaukâniy (w.1250 H),56 (yang menggabungkan dua metode Tafsir bi ar-Riwâyah dan bi ad-Diroyâh), Tafsir Shafwa at-Tafâsîr li Aliy al-Shâbûniy,57 Tafsir al-Munîr liWahbah az-Zuhailiy,58 Al-futuhât al-Ilâhiyah li Sulaiman al-Ujailiy (w. 1304 H),59 as-Shâwî, asy-Sya’rawî. Dan tafsir imam al-Hafs (w. 880 H).60 Demikian pula dijadikan rujukan Tafsir berbahasa Indonesia seperti Al-Azhar karya Buya Hamka61 dan Tafsir al-Mishbah karya M.Quraish Shihab62 ,

Al-49 Yang dimaksud dari Kutub at-Tis’ah adalah: kitab-kitab hadis yang dimodifikasi oleh sembilan imam pakar hadis, buku-buku tersebut adalah 1. Shahih al-Bukhari, 2. Shahih al-Muslim. 3. Sunan Abu Daud 4. Sunan Tirmidzi 5. Sunan al-Nasa’ie 6.Sunan Ibnu Majah 7. Musnah Imam Ahmad 8.al-Muwatha’ Imam Malik 9.Sunan al-Daarimi.

50 Muhamad Ibnu Jarîr at-Thabariy, Tafsîr at-Thabariy al-Musammâ Jâmi’ al-Bayân fî-at-Ta’wîl al-Qur’ân , Beirut: Dâr al-kutub Ilmiyyah 1420 H/1999 M.

51 Imâm Hâfidz Abî Fidâ Ismaîl Ibn Katsîr Qurasy Dimisqiy, Tafsîr al-Qur’ân al-Adzîm, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, 1407 H/1987 M.

52Jalâl ad-Dîn as-Suyûthi, Ad-Dur al-Mantsûr fî al-Tafsîr bi al-Ma’tsûr, Beirut: Dâr al-Fikr, 1424 H/2003 M.

53Muhamad Ibn ‘Umar Zamakhsyarî, Kasysyâf ‘an Haqâiq Ghawâmidh al-Tanzîl wa ‘Uyun al-Aqâwil fî Wujûh al-Ta’wîl, Beirut: Dâr al-Kutub al-Ilmiyyah, 1415 H/1992 M.

54 Abû Abdillah Muhamad bin Ahmad bin Abi Bakar al-Qurthubiy, al-Jami’ li ahkam al-Qur’an, Beirut:

55 Muhamad Rasyîd Ridhâ, Tafsîr Qur’ân Hakîm masyhûr bi Tafsîr al-Manâr, Beirut: Dâr al-Kutub al-Ilmiyyah, 1420 H /1999 M.

56 Muhamad ibn ‘Ali ibn Muhamad asy-Syaukaniy, Fath al-Qadir al-Jâmi’ Baina Fannai ar-Riwayah wa ad-Dirayah Min ‘Ilmi at-Tafsir, Mesir: Musthafa al-Bâbi al-Halabi, 1383 H/1964 M.

57 Muhamad ‘Ali as-Shabûniy, Shafwah at-Tafâsir, Beirut: Dâr al-Fikr, tth.

58 Wahbah az-Zuhailî, Tafsîr al-Munîr fî al-‘Aqîdah wasy- Syarîah, wa al-Manhaj, Damaskus: Dâr al-Fikr, 1424 H/2003 M.

59 Sulaimân bin ‘Umar ‘Ujailî as-Syafi’î as-Syahîr bi Jamâl, Al-Futuhât al-Ilâhiyyah bi taudhîh tafsîr al-Jalalain li al-Daqaiq al-khofiyyah, Beirut: Dâr al-Fikr, 1430 H/2009 M.

60 Abu Hafs ‘Umar bin ‘Alî bin ‘Adil al-Dimisyqiy al-Hambaliy, Al-Lubâb Fî Ulûm al-Kitâb, Makkah: Abbâs Ahmad Al-Bâz, 1419 H/1419 M.

61 Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA),Tafsir al-Azhar( diperkaya dengan pendekatan Sejarah, Sosiologi, Tasawuf, Ilmu Kalam, Sastra, dan Psikologi), Jakarta: Gema Insani, 1438 H /2016 M.

62 M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah (Pesan, Kesan, Dan Keserasian Al-Qur’an, Jakarta: Lentera hati, 1421 H/2000 M.

Qur’an dan Tafsirnya Kementeriaan Agama Republik Indonesia, dan lain-lain.

Untuk rujukan kitab hadis, penulis menggunakan kitab hadis dalam Kutub al-Tis’ah, yaitu Imam Bukhâri63, Muslim64, Tirmidzi65, Nasâ’i66, Daud67, Ibnu Mâjah68, Ahmad69, Mâlik dan al- Darimî.

b. Data Sekunder

Untuk kategori data sekunder (Secondary Resources) yang terkait dengan diskursus Pembangunan karakter dan Living value education penulis dapatkan dari beberapa data, seperti buku-buku, jurnal, majalah, artikel maupun tulisan-tulisan yang mempunyai kesamaan dengan tema yang dibahas. Lebih spesifik dari tema-tema yang mempunyai perhatian menacari solusi dari dampak pendidikan karakter yang belum tercapai secara maksimal.

2. Penelitian Terdahulu yang Relevan.

a. Pembangunan Karakter anak

Pembangunan karakter sudah lama menjadi pembahasan di Indonesia karena dianggap oleh beberapa ahli dan kalangan sebagai pemecah masalah terhadap krisis akhlak yang terjadi utamanya di dalam lingkaran peserta didik. Secara internasional dari barat seperti, Thomas Lickona membahas secara khusus tentang bagaimana sekolah dapat mengajarkan sikap hormat dan tanggung jawab, dapat ditemukan dalam buku karangan yang berjudul “educating for character”.70 Marvin W. Berkowitz dan Fritz Osser menulis tentang pendidikan moral teori dan

63Abî ‘Abdillah Muhammad bin Isma’îl, Sahîh Bukhâri, Riyâd: Bait Afkâr al-Dauliyyah, 1419 H/1998.

64Abî Husain Muslim bin Hajjâj an-Nasabûriy, Sahîh Muslim, Beirut: Dâr al-Fikr, 1414 H/1993 M.

65Muhammad ‘Isâ at-Tirmidziy, Sunân at-Tirmidzî, Beirut: Dâr Ibnu Hazm, 1422 H/2002 M.

66‘Abd ar-Rahmân Ahmad bin Shu’aib bin ‘Alî bin Sannân bin Dînâr an-Nasâ’i, Sunan an-Nasâ’I, Beirut: Dâr Ibnu Hazm, 1420 H/1999 M.

67Abî Daud Sulaimân bin Ash’ath as-Sajastaniy, Sunan Abî Daud, Beirut: Dâr al-Fikr, 1421 H/2001 M.

68Abi ‘Abdillah Muhammad Ibnu Yazîd al-Qazwiniy, Sunan Ibnu Mâjah, Beirut: Daar al-Fikr, 1421 H/2001 M.

69Abi ‘Abdillah Ahmad Ibnu Hanbal, Musnad Ahmad Ibnu Hanbal, Riyad: Bait al-Afkar al-Dauliyyah, 1419 H/1998 M.

70 Di dalam bukunya, E. Mulyasa mengutip bahwa seorang polisi China Li Langing menyatakan pentingnya pendidikan karakter sebagai berikut “ Throughout the reform of the education system , it is imperative to bear in mind that reform is for the fundamental purpose of turning every citizen into a man or woman of charachter and cultivating more constructive member of society “ yang diklaim dampak dari upaya pendidikan karakter tersebut Cina mampu bangkit dari ke terpurukan. Hal itu nampak sebagai akibat revolusi kebudayaan Mao.

bagaimana mengaplikasikannya. Tulisan Berkoweitz dan Osser berjudul, “Moral Education: Theory and Application”. Keduanya juga menulis bagaimana caranya mendidik karakter peserta didik, dengan bukunya yang berjudul, “Educating for Character”.

Sementara para pakar pendidikan International dari timur (Islam) memiliki pendapat beragam tentang pendidikan karakter. Imâm al-Ghazâlî menulis tentang “Ayuha al-Waladu”. Kitab dijelaskan dalam sebuah syarah oleh Muhamad Hâdî al-Syamrakhî al-Mardinî, yang di dalamnya membahas tentang metode mendidik karakter anak. Demikian pula Abdullah Nasih Ulwan dengan bukunya yang big seller, “Tarbiyah al-Awlad fi al-Islam” yang membicarakan tanggung jawab para pendidik dalam menjadikan peserta didik yang berkarakter.

Al-Habîb Zain bin Ibrahîm bin Sumaith menulis, tentang mendidik karakter anak agar dapat meneladani keluarga Rasulullah dan keturunannya, Buku tersebut ditulis dengan judul, “al- Manhaj al-Sawi, syarh Tharîqah al-Sa’âdah ‘Ali Ba’lawiy. Abu Bakr Jabir al-Jazâiriy, menulis tentang pedoman-pedoman kehidupan Muslim agar berkarakter yang baik, dalam bukunya, “Minhaj al-Muslim “. Jamal Abdurahman menulis dalam bukunya, “Athfâl al-Muslimîn kaifa Rabbâhum al-Nabiyu al-amîn Sallallâhu ‘alaihi wasallam”.

Dalam lingkup nasional pendidikan karakter banyak sekali dikarang oleh para ahli di antaranya buku yang ditulis oleh E. Mulyasa, yang berjudul “Manajemen pendidikan karakter”, Suyadi, yang berjudul “strategi pembelajaran pendidikan karakter “, Agus Wibowo, Manajemen pendidikan karakter di sekolah, Agus Wibowo, Pendidikan karakter, strategi membangun karakter bangsa berperadaban. Juga buku Doni Koesoema, Pendidikan karakter strategi mendidik anak di Zaman Global. Demikian pula, ada beberapa penelitian terkait dengan pembangunan dan pendikan karakter antara lain:

Nuril Furkan meneliti tentang implementasi pendidikan karakter pada sebuah sekolah menengah atas dalam jurnalnya beliau mengangkat judul, “ The Implementation of character education through the school culture in SMA Negeri 1 Dompu and SMA Negeri Kilo Dompu “. Ricca Vibriyanti dan Puji Yanti Fauziyah,” Implementasi pendidikan karakter di Homescooling Kak Seto Yoyakarta”, Nita Novianti menulis dalam jurnal International Journal of Instuction, dengan judul, “Teaching Character Education to College student Using Bildungsromans”. Arita Marini menulis dengan judul, “Character Building through Teaching Learning process: Lesson in Indonesia”, dalam jurnal International Journal of Sciences and Research.

Sri Wening, menulis tentang, “Pembentukan karakater Bangsa Melalui Pendidikan Nilai”, dalam jurnal pendidikan karakter. Marzuki,

mengangkat tema tentang pentingnya pendidikan agama dalam membangun karakter anak dengan judul, “Revitalisasi Pendidikan Agama di Sekolah dalam pembangunan karakter Bangsa di masa depan”. Damanhuri, et. al., menulis tentang, “Implementasi nilai-nilai pancasila sebagai upaya pembangunan karakter bangsa” dalam jurnal Untirta Civic Education Journal. Wahyu, menulis dalam jurnal International Journal of Indonesia Society and Culture, dengan judul, “Masalah dan Usaha membangun jkarakter bangsa”.

b. Kajian Living Value Education

Konsep Pendidikan nilai living value education dalam pembentukan karakter peserta didik sudah mulai banyak digunakan di berbagai negara sebagai pemecahan krisis atau moral bangsa tersebut. Hingga saat ini terdapat komunitas yang menamakan Living Value Education sebagai sarana untuk membantu mengembangkan karakter peserta didik dan bahkan digunakan sebagai sarana pembangunan karakter bagi para korban bencana. Dalam kajian buku Thomas Lickona banyak mengungkapkan dalam bukunya. Lickona, T., & Davidson, M. Smart and good high schools: Integrating excellence and ethics for success in school, work, and beyond. Cortland, N.Y.: Center for the 4th and 5th Rs (Respect and Responsibility)/Washington, DC: Character Education Partnership. 2005, juga terdapat jurnal dari K. Komalasari, “The Living Values Based Contextual Learning to Develop the Students' Character”, Journal of Social Sciences, 8 (2), 2012, 87. Chirstophen Drake, Living Values Education Program- for eight UNESCO, 2002 dan masih banyak lagi.Sementara Diana Tillman menulis beberapa tentang LVE antara lain, “Living Value Education for children Ages 3-7.”, “Living Value Education for Children Ages 8-14”, “The Important of The Living Value Education for Children”. Tillman sangan konsen dalam bidang LVE ini, beliau juga pernah mengatakan, Bahwa program Living Value Education (LVE) ini, sangat efektif dalam mengurangi kekerasan dan intimidasi, dan menciptakan iklim lingkungan sekolah yang aman, dan penuh perhatian yang kondusif untuk pembelajaran yang berkualitas.71

Disamping buku-buku di atas penulis dapatkan beberapa sumber-sumber lain yang terkait dengan Living value education dalam beberapa jurnal atau dalam bentuk makalah-makalah dikusi, baik dari Negara Barat maupun Negara Timur, antara lain:

Kokom Komalasari, et al, menulis dalam International Knowledge Sharing Platform, dengan judul, “Living values education model in

71 Diana Tillman, “The Important of the Living Value Education for Children”, dalam Http://digilib.uin.suka.ac.id/id/eprint/22763, di akses 9 Februari 2019.

learning and extracurricular to construct the students’ character. Dalam jurnal ini, disebutkan bahwa sekolah merupakan tempat untuk membangun karakter siswa melalui kegiatan belajar dan ekstrakurikuler. Dalam kegiatan ini, harus didasarkan pada nilai hidup sehingga nilai-nalai tersebut mudah diinternalisasi dan dilakukan untuk membangun karakter siswa.72

Elisabeth Arweck & Eleanor Nesbit, dalam British Journal of Religious Education, menulis dengan mengangkata tema, “Living Values: an Educational program –from initiative to uptake”. Artikel ini berkaitan dengan hubungan antara agama dan pendidikan.

J.Mark Halstead et al, menulis tentang.” Learning and Teaching about Value: Review of Recent Reserarch”. Dalam jurnal Cambridge journal of Education, volume 30, No.2, 2000.

Zuhdan K Prasetyo Guru Besar FMIPA UNY dalam makalahnya berjudul “Pendidikan Berbasis Nilai Membangun Karakter Siswa Untuk Membangun Karakter Bangsa” Disajikan dalam Seminar Living Values Education diselenggarakan di Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKIS) Yogyakarta pada Kamis, 11 Oktober 2012 di Ros-In Hotel. Dalam makalahnya, Dia menyatakan pentingnya memperhatikan pembangunan karakter siswa. Dalam penelitiannya, penjelasan yang mengatakan tidak berlebihan, jika dikatakan bahwa untuk membangun karakter bangsa bangunlah karakter siswa. Alasannya, karena siswa dianggap sebagai generasi yang menjadi tumpuan harapan bangsa ini.

Oleh karena itu, bagaimana membangun karakter bangsa adalah bagaimana pula membangun karakter siswa. Pembangunan karakter siswa dalam suatu pembelajaran memerlukan pendekatan dan tahapan tertentu. Prasetyo mengatakan bahwa pendekatan pembelajaran untuk membangun karakter siswa. Pendidikan karakter seharusnya terintegrasi dan sekaligus komprehensif. Membangun karakter siswa mssselalui pendekatan terintegrasi yaitu memadukan materi pembelajaran dengan nilai-nilai luhur untuk diinternalisasikan melalui penghayatan yang menjadi acuan perilaku dan diamalkan dalam perbuatan siswa sehari-hari menjadi suatu kebiasaan sehingga membudaya. Membangun karakter siswa dengan pendekatan komprehensif adalah penggunaan perpaduan dua metode tradisional dan metode kontemporer. Perpaduan dua metode tradisional, yaitu inkulkasi (penanaman) nilai-nilai dan keteladanan serta dua metode kontemporer yaitu memfasilitasi siswa berlatih membuat keputusan moral (melalui dilema moral) dan pengembangan keterampilan hidup seperti berpikir kritis dan kreatif, berkomunikasi secara efektif dan mahir

72 Kokom Komalasari, et al, “Living Values Education Model In Learning And Extrakurikular To Construt The Students Character”, dalam Jurnal International Knowledge Sharing Platform, Vol.5, No.7, 2014, h. 166.

mengatasi konflik.73

Muhammad Muzni juga membuat makalah berjudul Pendidikan Nilai (Living Values Education), dalam makalahnya disebutkan Nilai-nilai yang diberikan Living Values Education merupakan nilai-nilai yang wajib dimiliki setiap seorang baik pendidik dan peserta didik, Sehingga LVE merupakan solusi terbaik dalam menanamkan nilai-nilai melalu pendidik dan peserta didik dalam bekerja sama dalam mencapai tujuan pendidikan Indonesia. Dari daftar pustaka yang didapat bahwa penulisnya mengambil beberapa sumber terutama dari Diane Tillman dan Diana Hsu dari bukunya yang berjudul Living Values Activities for Children Ages 3-7. Terbitan PT Gramedia Widiasarana Indonesia di Jakarta pada tahun 2004. Tri Sukitman dan M. Ridwan membuat sebuah jurnal yang berjudul Implementasi Pendidikan Nilai (Living Values Education) Dalam Pembelajaran IPS (Studi Pembentukan Karakter Anak Di SDN Batang-Batang Daya I). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, terdapat beberapa kesimpulan yakni pendidikan nilai sangat penting diterapkan untuk menciptakan character building mengingat perkembangan anak zaman sekarang yang luntur nilai-nilai etika, moral, sopan santun, dan taat beragama. Implementasi pendidikan nilai agar dapat mengembangkan character building di SDN Batang-Batang Daya yakni dengan program pembiasaan rutin, spontan, dan keteladanan. Guna mendukung implementasi pendidikan nilai agar tercipta character building di SDN Batang-Batang Daya I maka diterapkan strategi pengembangan nilai ke dalam implementasi Kurikulum 2013 dan pemaksimalan peran orang tua dalam memonitoring setiap kegiatan anak di lingkungan rumah.

Kokom Komalasari dan Didin Saripudin membuat karya tulis dalam bentuk buku dengan judul “Pendidikan karakter, Konsep dan aplikasi Living Value Education” Buku ini ditulis berdasarkan serangkaian penelitian sesuai dengan roadmap yang dikembangkan penulis dalam kajian Living Value Education untuk pembentukan karakter. Buku ini membahas secara teoritis dan praktis pendidikan karakter, diikuti dengan Living Value Education, penyajiannya ditulis secara sistematis diawali dengan pembahasan tentang pendidikan karakter secara teoritis, kemudian diikuti dengan pembahasan Living Values Education dalam konteks sekolah, penerapannya dalam pembelajaran, pembudayaan karakter melalui teori habituasi, juga dibahas di dalamnya tentang model pembelajaran berbasis LVE bagi guru di sekolah melalui pelatihan.

73 Staff UNY, http:// www. staffnew. uny. ac. id/ upload/ 131453197/ pengabdian/ makalah- lkis3 .pdf, data diunduh pada tanggal 5 Februari 2018 pada pukul 10.00 WIB.

Penelitian yang penulis lakukan, memiliki kemiripan dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis di atas. Di dalamnya sama-sama membahas tentang pendidikan karakter dan Living Value Education. Penelitian sebelumnya terbatas hanya dalam ruang lingkup kehidupan sosial. Adapun yang membedakan dari penelitian ini adalah bahwa dalam penelitian ini penulis lebih berorientasi pada persoalan yang lebih substantif, yakni menyangkut Pembangunan karakter anak melalui Penerapan Living Value Education berbasiskan al-Quran. Berdasarkan keyakinan akidah, dengan pendalaman akan pemahaman terhadap nilai-nilai yang terdapat dalam ajaran al-Qur’an. Penulis juga mencoba mengintegrasikan pendapat-pendapat diatas baik pendapat ahli dari dunia barat dan timur( termasuk didalamnya ahli dari Indonesia dan ahli agama Islam tentunya) dan menyesuaikannya dengan kultur dan budaya Indonesia dan penulis mencoba menggali hal tersebut menggunakan pendekatan agama dan pedoman umat Islam sebagai way of life yaitu Al-Qur’an.

H. Kerangka teori

Pengukuran terhadap living value education perlu dilakukan secara obyektif. Suatu aktivitas yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain, dapat dinilai sebagai living value education (LVE) atau tidak, perlu dilakukan penilaian berdasarkan indikator-indikator LVE.

Untuk mengukur suatu aktivitas pendidikan dinilai sebagai living value education, penulis mendasarkan pada pemahaman LVE yang dikembangkan oleh ALIVE74. Menurut konsep yang dikembangkan ALIVE,

74 Association for Living Values Education International (ALIVE), sebuah asosiasi nirlaba dari organisasi di seluruh dunia yang peduli dengan pendidikan nilai dan memfasilitasi pelaksanaan program Living Values Education di seluruh dunia.

Dengan basis relawan yang kuat, kemajuan dan implementasi Living Values Education secara historis didukung oleh UNESCO dan sejumlah organisasi, lembaga, badan pemerintahan, yayasan, kelompok masyarakat dan individu lainnya. Ini adalah bagian dari gerakan global untuk budaya perdamaian dalam kerangka Dekade Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Budaya Perdamaian dan Non-Kekerasan untuk Anak-anak di Dunia (lihat Kerangka Aksi untuk Nilai-Nilai Pendidikan Pendidikan di Anak Usia Dini yang dikembangkan dengan mengintegrasikan Nilai-Nilai dalam Program Internasional Layanan Anak Usia Dini / Lokakarya Internasional, diselenggarakan bersama oleh UNESCO dan Living Values Education, Paris, 20-22 November 2000). ALIVE bersama-sama membentuk badan-badan nasional yang mempromosikan Living Values Education dan merupakan organisasi independen yang tidak memiliki afiliasi atau kepentingan agama, politik atau nasional tertentu atau eksklusif.

ALIVE terdaftar sebagai asosiasi di Swiss. Di beberapa negara asosiasi Pendidikan Nilai Hidup nasional telah dibentuk, biasanya terdiri dari pendidik, pejabat pendidikan, dan

Living values education is a way of conceptualizing education that promotes the development of values-based learning communities and places the search for meaning and purpose at the heart of education. LVE emphasizes the worth and integrity of each person involved in the provision of education, in the home, school and community. In fostering quality education, LVE supports the overall development of the individual and a culture of positive values in each society and throughout the world, believing that education is a purposeful activity designed to help humanity flourish.

Menurut ALIVE, living values education (LVE) adalah cara untuk melakukan konseptualisasi pada pendidikan yang mempromosikan pengembangan komunitas pembelajaran berbasis nilai. LVE menempatkan pencarian makna dan tujuan di jantung pendidikan. LVE menekankan nilai dan integritas setiap orang yang terlibat dalam penyediaan pendidikan, di rumah, sekolah, dan masyarakat. Dalam membina pendidikan yang berkualitas, LVE mendukung pengembangan keseluruhan individu dan budaya nilai-nilai positif di setiap masyarakat dan di seluruh dunia, percaya bahwa pendidikan adalah kegiatan yang bertujuan untuk membantu umat manusia untuk berkembang ke arah yang lebih positif.

Program pendidikan living values tidak hanya diarahkan pada peningkatan perilaku peserta didik dan iklim sekolah. LVE membina potensi alamiah manusia agar berkembang secara baik. Setiap manusia memiliki potensi keterampilan sosial dan emosional yang baik. Oleh karenanya, mengekplorasi dan mengembangkan keduanya akan membantu mereka tumbuh menjadi pribadi mulia, melindungi mereka dari kekerasan dan membantu mereka terlibat dalam komunitas dengan rasa hormat, kepercayaan diri, dan memiliki tujuan hidup jelas. Pelajaran yang diterima oleh peserta didik, baik anak-anak maupun remaja kemudian terjalin ke dalam tatanan masyarakat. LVE menetapkan bahwa pendidikan harus mampu menciptakan tatanan dunia maju yang lebih baik. Tatanan tersebut dapat diupayakan untuk mengintegrasikan pada nilai-nilai positif.

Kerangka teori disertasi seperti yang telah penulis paparkan di atas. Kemudian dipadukan dengan petunjuk al-Qur’an serta beberapa hadits Nabi Muhammad SAW yang berkaitan dengan dan living value education bagi anak.

Teori living value education, juga digunakan oleh Diana Tillman yang mengklasifikasi nilai-nilai kunci pribadi dan sosial diajarkan sebagai nilai kehidupan. Nilai yang dikembangkan dalam Living Value Education adalah nilai-nilai seperti kedamaian, penghargaan, cinta, tanggungawab, kebahagiaan,

perwakilan organisasi dan lembaga yang terlibat dengan pendidikan siswa atau orang tua. (sumber: diterjemahkan secara bebas http://livingvalues.net/about-lve)

kerjasama, kejujuran, kerendahan hati, toleransi, kesederhanaan, kebebasan, dan Persatuan.75

Living Value Education yang dikembangkan oleh ALIVE dan Diana Tillman menjadi landasan dasar menganalisis proses pendidikan dasar yang sedang berjalan saat ini. Alasan utama pendidikan dasar sebagai obyek analisa

Dokumen terkait