• Tidak ada hasil yang ditemukan

2.1 DAUN SIRSAK

Daun sirsak merupakan salah satu keluarga besar tanaman tropis, ditemukan mengandung senyawa alkaloid dan salah satu tanaman yang pernah diteliti adalah Annona squamosa yang telah dipelajari efek inhibisi pada korosi logam (Lebrini, et al., 2010). Sirsak yang memiliki nama latin Annona muricata merupakan keluarga dari Annonaceae yang masih serumpun dengan squamosa. Ia merupakan tanaman berwarna hijau yang tersebar pada daerah tropis dan subtropik. Tanaman ini dilaporkan memiliki potensi yang besar sebagai tanaman antikanker (Minarni, et al, 2107). Menurut Astatin (2014), daun sirsak memiliki kandungan senyawa steroid, terpenoid, flavonoid, kumarin, alkaloid, dan tanin. Kandungan daun sirsak yang lain kalsium, fosfor, karbohidrat, vitamin A, vitamin B, vitamin C, tanin, fitosterol, kalsium oksalat, dan alkaloid murisine.

Gambar 2.1 Gambar Daun Sirsak (Moghadatousi, 2015)

6

2.2 EKSTRAKSI ] DENGAN METODE MASERASI

Metode maserasi merupakan metode ekstraksi yang paling sederhana, murah dan sangat populer (Zaidul Azmir, et al, 2013). Maserasi adalah proses perendaman sampel untuk menarik komponen yang diinginkan dengan kondisi dingin diskontinyu. Pada perendaman sampel tumbuhan akan terjadi pemecahan dinding dan membran sel akibat perbedaan tekanan antara di dalam dan di luar sel, sehingga metabolit sekunder yang ada dalam sitoplasma akan terlarut dalam pelarut. Pelarut yang mengalir ke dalam sel dapat menyebabkan protoplasma membengkak dan bahan kandungan sel akan larut sesuai dengan kelarutannya.

Lamanya waktu ekstraksi menyebabkan terjadinya kontak antara sampel dan pelarut lebih intensif sehingga hasilnya juga bertambah sampai titik jenuh larutan.

Kontak antara sampel dan pelarut dapat ditingkatkan apabila didukung dengan adanya pengocokan agar kontak antara sampel dan pelarut semakin sering terjadi, sehingga proses ekstraksi lebih sempurna (Wiyono, et al. 2008).

Proses ekstraksi dengan teknik maserasi dilakukan dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada suhu ruang. Keuntungan cara ini mudah dan tidak perlu pemanasan sehingga kecil kemungkinan bahan alam menjadi rusak atau terurai. Pemilihan pelarut berdasarkan kelarutan dan polaritasnya memudahkan pemisahan bahan alam dalam sampel. Pengerjaan metode maserasi yang lama dan keadaan diam selama maserasi memungkinkan banyak senyawa yang akan terekstraksi (Susanty dan Fairus, 2016).

2.3 MEKANISME MASERASI

Maserasi berupa serbuk bertujuan untuk memperluas permukaan sehingga interaksi pelarut dengan senyawa yang akan diambil lebih efektif dan senyawa dapat terekstrak sempurna. Semakin kecil ukuran bahan yang digunakan maka semakin luas bidang kontak antara bahan dengan pelarut. Kondisi ini akan menyebabkan kecepatan untuk mencapai kesetimbangan sistem menjadi lebih besar. Jaringan bahan atau simplisia dapat mempengaruhi efektivitas ekstraksi.

Ukuran bahan yang sesuai akan menjadikan proses ekstraksi berlangsung dengan baik dan tidak memakan waktu yang lama. Pengadukan berkala bertujuan untuk menghindari memadatnya serbuk sehingga pelarut sulit menembus bahan dan

kesulitan mengambil senyawasenyawa aktif karena serbuk yang digunakan cukup banyak. Daun sirsak diekstrak menggunakan teknik maserasi dengan metode (Harborne, 1998) yang dimodifikasi secara bertahap dengan beberapa pelarut dengan peningkatan polaritas yaitu berturut-turut n-heksan, kloroform, dan methanol (Ningsih, et al , 2016)

Maserasi menghancurkan struktur sel daun, memperlihatkan konstituen kimia sel, terutama polifenol, enzim oksidatif dan degradatif, lipid, asam amino, dll., menjadi oksigen. Yang paling penting, katekin bersentuhan dengan polifenol oksidase Enzim, memulai 'oksidasi teh,' yang secara keliru disebut sebagai 'fermentasi.' Beberapa metode digunakan, tetapi yang paling umum adalah ortodoks menggulung, menghancurkan, merobek, dan menggulung.Ada lebih sedikit penghancuran matriks sel dengan penggunaan ortodoks rol dari dua lainnya. Maserasi ortodoks karena itu menyebabkan reaksi oksidatif lebih sedikit, dan fermentasi lambat. Penghancuran matriks sel lebih besar dalam metode maserasi CTC dan LTP, yang mengarah ke oksidasi lebih luas (Trugo, 2003 ).

Maserasi adalah proses transformasi jaringan menjadi suspensi sel utuh, menghasilkan produk pulp yang digunakan sebagai bahan dasar untuk jus daging dan madu, sebagai makanan bayi, dan sebagai bahan untuk produk susu seperti puding dan yoghurt Proses mekanis untuk pembuatan produk semacam itu tidak cocok karena banyak sel yang pasti terganggu dan enzim endogen jadi dilepaskan, merusak rasa, warna, dan asam askorbat. Untuk membatasi aksi enzim ini, panas harus diterapkan dengan bahaya kerusakan yang bersamaan. Degradasi enzimatik pektin setelah perawatan mekanis ringan meningkatkan sifat-sifat produk. Sejak tujuan dari perawatan enzim adalah transformasi jaringan menjadi suspensi sel utuh proses ini disebut disebut maserasi enzimatik. Yang disebut macerases adalah enzim persiapan hanya menggunakan polygalacturonase (Zetelaki-Horvath dan Vas,). Untuk maserasi sayuran, lyase endopectate bakteri lebih disukai karena Ph optimumnya basa

8

2.4 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSTRAKSI Beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi ekstraksi sebagai berikut:

• Pengaruh Perbandingan sampel dan pelarutnya

Perbandingan yang tepat dapat menghasilkan ekstrak yang baik. Bila terlalu banyak zat pelarutnya maka senyawa bioaktif dari suatu sampel hasilnya akan kurang maksimal dan apabila jumlah sampel lebih banyak dari pelarut maka sampel tidak terendam secara merata dalam pelarutnya. Ukuran partikel yang semakin kecil juga membantu lebih mudah terjadinya kontak terhadap pelarutnya sementara apabila ukuran partikelnya besar kemampuan pelarut dalam mendifusi bahan memakan waktu yang cukup lama.

• Pengaruh jenis pelarutnya

Pelarut yang baik mempengaruhi kuantitas dan kualitas zat yang diinginkan.

Pemilihan pelarut menjadi hal yang perlu dipertimbangkan karena melihat kemampuan pelarut dalam menyerap gelombang mikro, interaksi antara pelarut dengan matriks, dan kelarutan sampel dalam pelarut. Pelarut yang baik adalah pelarut yang memiliki selektivitas tinggi terhadap sampel. Jumlah pelarut yang digunakan pada MAE cenderung lebih sedikit antara 10 – 40 mL} (Eskilsson et al., 2000). Tetapi perlu dipastikan bahwa selama proses ekstraksi seluruh sampel dalam keadaan terendam dalam pelarut.

• Pengaruh waktu ekstraksi

Meningkatnya waktu ekstraksi dapat meningkatkan jumlah zat yang terekstraksi namun memiliki resiko terjadinya degradasi pada senyawa yang terekstraksi karena suhu ekstraksi meningkat dan zat tersebut lebih lama terpapar energi panas yang dihasilkan gelombang mikro. Pada umumnya waktu ekstraksi pada proses MAE relatif singkat sekitar 3 – 30 menit sehingga tidak memakan waktu yang sangat lama seperti metode konvensional (Eskilsson et al, 2000). Waktu iradiasi juga dipengaruhi oleh sifat dielektrik pelarutnya. Pelarut seperti air, etanol, dan metanol bisa menjadi sangat panas pada pemaparan yg lebih lama sehingga dapat membahayakan konstituen termolabil.

2.5 ALKALOID SEBAGAI INHIBITOR KOROSI

Inhibitor organik] dan anorganik merupakan dua jenis dari inhibitor yang utama. Inhibitor organik seperti nitrat, nitrit, kromat, dikromat, dan fosfat digunakan secara meluas dalam cairan dasar dan untuk berbagai logam lainnya.

Inhibitor organik merupakan senyawa yang memiliki satu atau lebih bagian polar yang efektif untuk pencegahan korosi melalui adsorpsi pada permukaan logam.

Jenis jenis dari inhibitor organic meliputi sulfonate, alcohol, eter, amina, garam amina, karboksilat, polimer dan produk alami (Tang, 2019).

Alkaloid adalah senyawa metabolit sekunder terbanyak yang memiliki atom nitrogen, yang ditemukan dalam jaringan tumbuhan dan hewan Alkaloid dapat ditemukan pada berbagai bagian tanaman, seperti bunga, biji, daun, ranting, akar dan kulit batang. Alkaloid umunya ditemukan dalam kadar yang kecil dan harus dipisahkan dari campuran senyawa yang rumit yang berasal dari jaringan tumbuhan. Sebagian besar senyawa alkaloid bersumber pada tumbuh-tumbuhan.

Alkaloid dapat ditemui pada berbagai bagian tanaman seperti akar, batang, daun, dan biji. Alkaloid pada tanaman berfungsi sebagai racun yang dapat melindunginya dari serangga dan herbivora, faktor pengatur pertumbuhan, dan senyawa simpanan yang mampu menyuplai nitrogen dan unsur-unsur lain yang diperlukan tanaman (Ningrum, et al. 2016).

2.6 LAJU KOROSI

Laju korosi adalah kecepatan rambatan atau kecepatan penurunan kualitas bahan terhadap waktu. Dalam perhitungan laju korosi, satuan yang biasa digunakan adalah mm/th (standar internasional) atau mill/year (mpy, standar British). Tingkat ketahanan suatu material terhadap korosi umumnya memiliki niai laju korosi antara 1 – 200 mpy (Afandi dkk, 2015). Corrosion rate (laju korosi) dihitung dengan metode kehilangan berat (weight loss) menggunakan Persamaan 2.1 (Ali, et al, 2016).

dengan : K = Konstanta

CR = Laju korosi (mils/year) W = Massa yang hilang (g) D = Densitas (g/cm3)

10 A = Luas permukaan (cm2)

t = Waktu (year)

Dari perhitungan laju korosi, permukaan yang tertutupi inhibitor karena adsorbsi inhibitor pada permukaan logam menggunakan Persamaan 2.2 (Ali, dkk., 2016):

CR = KW

DAt (2.2)

dengan :

CR𝑖 = laju korosi dengan inhibitor θ = permukaan yang tertutupi inhibitor CR0 = laju korosi tanpa inhibitor

Efisiensi inhibitor dapat dihitung dengan Persamaan 2.3 (Ali dkk, 2016):

2.7 SENG

CR0 − CRi

θ = CR0 (2.3)

Dalam tabel periodik unsur, seng dapat ditemukan pada kelompok II b, bersama dua toksik yaitu logam kadmium dan merkuri. Meskipun demikian, seng dianggap relatif tidak beracun bagi manusia (Plum dkk, 2010). Seng merupakan logam berwarna putih kebiruan dengan titik leleh 419oC dan titik didih 907oC.

Seng memiliki massa jenis 7,14 g/cm3 pada 20oC.

Seng digunakan dalam produksi paduan tahan korosi dan kuningan, dan untuk galvanisasi baja dan besi produk. Seng oksida yang digunakan dalam karet sebagai pigmen putih, misalnya, adalah seng yang paling sering digunakan. Zat peroral terkadang digunakan untuk mengobati defisiensi zinc pada manusia. Seng karbamat digunakan sebagai pestisida (World Health Organization, 2003).

BAB III

Dokumen terkait