• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian Tumbuha Liana

Liana merupakan tumbuhan yang berakar pada tanah, tetapi batangnya membutuhkan penopang dari tumbuhan lain agar dapat menjulang dan daunnya memperoleh cahaya matahari maksimum (Indriyanto, 2008). Liana atau tumbuhan pemanjat adalah salah satu jenis tumbuhan yang menjadi penciri khas dari ekosistem hutan hujan tropis dan keberadaannya menambah keanekaragaman jenis tumbuhan pada ekosistem hutan tersebut. Contoh liana adalah sirih, rotan, anggur, labu, dan lain-lain (Simamora dkk, 2015).

Liana merupakan spesies tumbuhan merambat. Tumbuhan itu memiliki batang yang tidak beraturan dan lemah, sehingga tidak mampu ,mendukung tajuknya. Menurut Soerianegara dan Indrawan (1982) dalam Indriyanto (2006), adanya liana di hutan merupakan salah satu ciri khas hutan hujan tropis, terutama spesies liana berkayu. Liana berkayu di hutan-hutan merupakan bagian vegetasi yang membentuk lapisan tajuk hutan dan mampu mendesak tajuk-tajuk pohon tempat bertumpu. Tajuk tumbuhan liana juga mengisi lubang-lubang tajuk hutan di antara beberapa pohon dalam tegakan hutan agar mendapatkan sinar matahari sebanyak-banyaknya, sehingga liana akan memperapat dan mempertebal lapisan tajuk pada stratum atas. Contoh spesies tumbuhan liana antara lain Plumbago capensis, Bougenvillea spp.,dan berbagai spesies rotan, misalnya Calamus caesius, Calamus manan, Calamus scipionum, Calamus javensis, Daemonorops draco, dan Daaemonorops melanochaetes

Secara ekologi beberapa jenis liana memiliki peranan yang sangat penting diantaranya adalah sebagai inang dari beberapa tumbuhan parasit yang langka

contohnya Tetrastigma sp. yang merupakan inang dari Rafflesia. Liana juga memiliki peranan mencegah tumbangnya pohon akibat angin kencang, karena pertumbuhannya yang menjalar secara horizontal di antara pohon-pohon dalam hutan, namun dari segi negatifnya, tumbuhan ini dapat menyebabkan kerusakan mekanik pada pohon yang dipanjatnya. Secara ekonomi, kelompok tumbuhan ini dapat bermanfaat sebagai obat-obatan contohnya akar kuning yang biasa digunakan oleh masyarakat sekitar hutan untuk menyembuhkan penyakit, Pusat Penelitian Ilmiah Swiss menemukan satu spesies liana di Kamerun, Ancistocladus korupensis, mengandung alkaloid yang melawan HIV. Selain itu kelompok tumbuhan ini dapat dijadikan sebagai barang kerajinan yang bernilai ekonomi contohnya tas, bakul, keranjang, kursi, meja, bola takraw dan tali pengikat (Asrianny dkk. 2008)..

Liana adalah tumbuhan merambat berkayu yang memanjat tumbuhan lain untuk naik mencapai kanopi hutan, cara hidup dari liana yang tidak mandiri ini telah dianggap sebagai adaptasi evolusioner yang didorong oleh persaingan dalam mendapatkan cahaya matahari untuk fotosintesis. Liana hampir berada di semua hutan akan tetapi liana lebih berlimpah di hutan-hutan yang sudah terganggu dan memiliki intensitas cahaya yang tinggi (Putz, 1984)

Ciri-ciri Tumbuhan Liana

Menurut Vickery (1984) yang dikutip oleh Indriyanto (2008) tetumbuhan lianasangat beranekaragam dan dapat dikelompokkan sebagai berikut.

1. Perambat (leaners), yaitu liana yang tidak mempunyai perlengkapan khususuntuk berpegangan pada tumbuhan penopang, contohnya adalah Plumbagocapensis.

2. Liana berduri (thorn lianas), yaitu liana yang mempunyai duri atau penusukpada batangnya, meskipun duri tersebut tidak secara spesifik dihasilkan denganmaksud membantu liana untuk menjangkau pada tumbuhan penopang. Contohliana berduri adalah Bogainvillea spp.

3. Pembelit (twiner), yaitu liana yang umumnya berupa herba (herbaceous) yangseluruh batangnya membelit mengelilingi batang tumbuhan penopang. Contohtumbuhan pembelit adalah Ipomoea spp.

4. Liana bersulur (tendril lianas), yaitu liana yang mempunyai organ spesialberupa sulur-sulur yang dihasilkan secara khusus untuk membantu lianamemanjat pada tumbuhan penopang. Contoh tumbuhan liana bersulur spesiesanggota Cucurbitaceae dan sebagian dari spesies anggota Leguminosae.

Berdasarkan atas posisinya dalam kanopi atau tajuk hutan, maka liana dapatdikelompokkan menjadi dua yaitu golongan heliophytes dan golongan sciophytes.Liana heliophytes daun-daunnya menyebar di atas kanopi pohon-pohon dan semakyang menopangnya, sedangkan liana sciophytes daun-daunnya tidak pernahmencapai permukaan kanopi pohon atau semak yang menopangnya, apalagi kebagian atas kanopi.Hutan tropis adalah hutan yang terletak di daerah khatulistiwa, yaitu yang dibatasioleh dua garis lintang 23, 5° LS dan 23, 5° LU. Hutan hujan tropik adalah salahsatu tipe hutan tropik yang mempunyai curah hujan sampai 4000 mm/tahun,temperatur rata-rata 25°C dan kelembapan berkisar dari 60 hingga 100% (Vickery,1984 yang dikutip oleh Asrianny dkk. (2008).

Menurut Jacobs (1980) yang dikutip oleh Asrianny dkk. (2008) tumbuhan lianayang batangnya menopang pada tumbuhan berpohon tegak juga

mengisikomunitas hutan. Liana memperoleh cahaya matahari sesuai yang diperlukandapat dilakukan dengan cara memanjat, batangnya berkayu tetapi tidak dapatberdiri tegak tanpa penopang, mempunyai diameter batang mencapai 1 cm danpanjang batangnya mencapai 70 meter. Liana ditemukan hidup 90% di hutantropik dan merupakan tumbuhan khas pada hutan hujan tropik. Kepadatan lianabergantung kepada kehangatan dan kelembapan udara di suatu habitat. Jenis-jenisliana diperkirakan sebanyak 8% dari jumlah jenis tumbuhan yang ada di hutan hujan tropis.

Gambar 1. (a)Habitus Tumbuhan Liana (b). Liana di Hutan Sekunder

Tumbuhan ini yang umum disebut liana, dapat memecahkan masalah untuk mencukupi kebutuhan cahaya matahari adalah dengan cara memanjat atau menopang pada tumbuhan tegak lainnya. Tumbuhan liana ini memanjat pohon lain sebagai penopang sampai mencapai mahkota pohon yang ditumpangi. Kemudian di tempat tersebut dedaunan liana akan cepat berkembang sehingga bisa memanfaatkan cahaya matahari secara efisien (Setia, 2009).

Melihat perilaku yang demikian antara tumbuhan liana dengan tumbuhan pohon lain maka dapat dikatakan liana bersifat komensal, yaitu mengambil keuntungan tetapi tidak merugikan inangnya. Walaupun tidak merugikan tumbuhan inang, tetapi kadang- kadang jika dedaunan liana di kanopi terlalu

banyak, maka akan dapat meredupkan atau menaungi pohon yang ditumpangi dan mengurangi keperluan sinar tumbuhan inang. Batang dari liana, dikatakan sebagai kabel karena : lentur, tidak mudah patah dan penampang melintangnya berbentuk bintang atau seperti pita. Berdasarkan cara memanjat untuk mencapai kanopi dari pohon yang ditumpangi maka tumbuhan liana dapat diklasifikasikan sebagai: a. Leaners (tumbuhan bersanda pada pendukungnya), misalnya:

Plumbagocapensis

b. Thorn Lianas (tumbuhan yang mempunyai duri untuk mengkait tumbuhan pendukungnya) misalnya: Bougenvillea spp

c. Tendril Lianas (tumbuhan liana yang menggunakan sulur untuk memanjat pendukungnya) misalnya: dari suku jenis-jenis Leguminosae.

Ada bentuk lain dari liana misalnya yang ditemukan pada beberapa jenis Ficus spp, yaitu: mula-mula tumbuh seperti epifit di kanopi inangnya kemudian akarnya turun ke tanah. Kadang-kadang tipe jenis ini dapat mencekik tumbuhan inangnya sehingga mati. Tipe ini disebut Strangler(Setia, 2008).

Ciri-ciri Tumbuhan Liana

Tumbuhan liana sangat beranekaragam dan dapat dikelompokkan sebagai berikut.

1. Perambat (leaners), yaitu liana yang tidak mempunyai perlengkapan khusus untuk berpegangan pada tumbuhan penopang, contohnya adalah Plumbagocapensis.

2. Liana berduri (thorn lianas), yaitu liana yang mempunyai duri atau penusuk pada batangnya, meskipun duri tersebut tidak secara spesifik dihasilkan dengan

maksud membantu liana untuk menjangkau pada tumbuhan penopang. Contoh liana berduri adalah Bogainvillea spp.

3. Pembelit (twiner), yaitu liana yang umumnya berupa herba (herbaceous) yang seluruh batangnya membelit mengelilingi batang tumbuhan penopang. Contoh tumbuhan pembelit adalah Ipomoea spp.

4. Liana bersulur (tendril lianas), yaitu liana yang mempunyai organ spesial berupa sulur-sulur yang dihasilkan secara khusus untuk membantu liana memanjat pada tumbuhan penopang. Contoh tumbuhan liana bersulur spesies anggota Cucurbitaceae dan sebagian dari spesies anggota Leguminosae. Berdasarkan atas posisinya dalam kanopi atau tajuk hutan, maka liana dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu golongan heliophytes dan golongan sciophytes. Liana heliophytes daun-daunnya menyebar di atas kanopi pohon-pohon dan semak yang menopangnya, sedangkan liana sciophytes daun-daunnya tidak pernah mencapai permukaan kanopi pohon atau semak yang menopangnya, apalagi ke bagian atas kanopi (Setia, 2009).

Jenis-Jenis Tumbuhan Liana

Berdasarkan penelitian Simamora, dkk (2015) bahwa jenis-jenis tumbuhan liana yang telah diidentifikasi di Taman Hutan Raya Wan Abdul Rachaman sebanyak 8 spesies diantaranya yaitu brotowoli, markisa, lada, rotan cacing, rayutan, sirih hutan, suruhan dan vanili. Berdasarkan penelitian Setia (2009) mengenai peran liana dalam kehidupan orangutan telah ditemukan dan diidentifikasi jenis-jenis liana yaitu Tinomiscium phytocrenoides,Pycnarrhenia longifolia,Rourea minor , Acacia pennata Mimosaceae, Brousonnetia kurzii, Maclura amboinensis,Cambretum

latifolium, Aspidopterys sp, Celastrus hindsii,Salacia chinensis, Cissus sp 1, Cissus sp 2, Cissus sp 3, Iodes yatesii,Strychnos ignatii.

Berdasarkan penelitian K, Nurfazliza, dkk (2012) di hutan tanah renda di Negeri Sembilan di temukan beberapa jenis liana yaitu Byttneria maingayi, Combretum nigrescens, Caesalpinia parviflora, Agelaea borneensis, Bauhinia bidentata. Berdasarkan penelitian Asrianny (2008) liana yang ditemukan di Hutan Alam di Universitas Hasanuddin yaitu Personsia sp., Aristolochia sp., Smilax sp., dan Salacia sp.

Hasil penelitian E.G. Foli dan M.A. Pinard (2009) ditemukan tujuh spesies liana di hutan tropis di Ghana. Tumbuhan-tumbuhan liana tersebut adalah Acacia pennataWilld., Combretum smeathmannii G. Don.,Griffonia simplicifolia (Vahl ex D.C.) Baill.,Hippocratea africana (Willd) Loes., Landolphiaowariensis P. Beauv and Stachyanthusoccidentalis (Keay and Miège) Boutique.

Berdasarkan penelitian Wahyu dkk (2014) jenis liana yang ditemukan di hutan dataran rendah Taman Nasional Lore Lindu Sulawesi tengah yaitu Dinochloa scandens, Piper decumanu, Tetrastigma papyrifera, Piper gibbilimbum C. DC, Lygodium circinatum, Smilax zeylanica, Ficus sp., Calamus minahassa, Ficus trachypison, Piper amboinens.

Klasifikasi dan Morfologi Orangutan Sumatera (Pongo abelii) Klasifikasi ilmiah orangutan Sumatera menurut Groves (2001)

Kerajaan : Animalia

Filum : Chordata

Subfilum : Vertebrata

Kelas : Mamalia

Keluarga : Homonidae Subkeluarga : Pongoninae

Marga : Pongo

Jenis : Pongo abelii (Lesson, 1827) .

Orangutan hidup di hutan tropik dengan tipe habitat hutan rawa, hutan dataran rendah sampai hutan dataran tinggi lebih kurang 1500 dpl. Hidup orangutan lebih sering di pepohonan (arboreal) dan sering pada ketinggian antara 10 samapi 20 meter di lapisan tengah kanopi hutan. Walau sering di pepohonan, kadangkadang orangutan turun juga ke permukaan tanah untuk memakan tanah, serangga ataupun makanan yang lainnya. Orangutan adalah pemakan buah (frugivorous), tetapi selain itu memakan juga bagian lain dari tumbuh-tumbuhan seperti: daun, kulit batang pohon, batang liana, bunga dan biji. Berdasarkan penelitian Rodman (1977) maka diketahui bahwa proporsi bagian makanan yang dimakan adalah sebagai berikut: 53,8 % terdiri dari buah, 29 % terdiri dari daun, 14,2% terdiri dari kulit kayu, 2,2% bunga dan 0,8% serangga.

Pakan Orangutan dapat berubah-ubah tergantung pada jenis pakan yang sedang tersedia dalam ruang dan waktu. Orangutan pada dasarnya termasuk primata frugivora. Saat sedang musim buah, pakan Orangutan dapat seluruhnya bersumber pada pakan buah, dan saat bukan musim buah, alternatif pakan Orangutan adalah dedaunan (25%), kulit kayu (37%), buah (21%), dan serangga (7%) (Napier dan Napier, 1985). Sumber pakan terpenting adalah buah ara (Ficus spp.) yang berbuah sepanjang tahun. Orangutan juga merupakan pengumpul pakan yang oportunis, yaitu memakan apa saja yang dapat diraihnya, termasuk madu pada sarang lebah. Kegemarannya pada makanan yang tidak biasa ditemui

dan tertebar acak di habitatnya, menyebabkan Orangutan selalu bergerak dalam rangka mencari makanan kegemarannya. Saat bukan musim buah Orangutan akan lebih aktif bergerak dibandingkan pada saat musim buah. Menurut Orangutan memiliki kemampuan luar biasa dalam menemukan sumber makanan yang kecil, jarang, dan tertebar acak. (MacKinnon dkk., 1974).

Foto:(Zendrato, 2008).

Gambar 2. Orangutan Sumatera (Pongo abelii. Lesson, 1827.)

Habitat Orangutan

Habitat merupakan keseluruhan resources (sumberdaya), baik biotik maupun fisik pada suatu area yang digunakan oleh suatu spesies satwaliar untuksurvival dan reproduksi. Habitat dapat menghubungkan kehadiran spesies,populasi atau individu (satwa atau tumbuhan) dengan sebuah kawasan fisik dankarakteristik biologi (Morrison, 2002).

Orangutan sangat peka terhadap perubahan kondisi hutan tropik yang menjadi habitatnya. Hutan tropik yang menjadi habitatnya harus menyediakan beragam tumbuhan buah yang menjadi sumber pakan utamanya sehingga primata ini dapat bertahan hidup. Selain buah, orangutan juga memakan bagian lain dari tumbuhan seperti bunga, daun muda, kulit kayu, beberapa tumbuhan yang dihisap getahnya dan berbagai jenis serangga. Dengan demikian pembukaan hutan tropik

sangat berpengaruh terhadap perkembangan populasinya. Di Kalimantan, orangutan kehilangan lebih dari separuh habitatnya, dimana dari areal hutan seluas ± 415.000 km² saat ini tersisa seluas ± 165.000 km² (± 39,76%), sedangkan di Sumatera, dari areal hutan seluas ± 89.000 km² saat ini tersisa seluas ±23.000 km² (± 25,84%) (Supriatna dan Wahyono, 2000).

Diketahui jumlah populasi orangutan liar telah menurun secara terus menerus dalam beberapa dekade terakhir akibat hilangnya hutan dataran rendah , namun pada beberapa dekade tahun terakhir ini kecepatan penurunan populasi orangutan terus meningkat. Prediksi para ahli, jika kondisi ini tidak membaik,maka dalam 10 tahun terakhir kita akan kehilangan hampir 50% dari jumlah populasi yang ada saat ini (Dephut, 2007).

Perilaku Orangutan

Pada dasarnya orangutan adalah frugifora yaitu proporsi waktu untukmakan makanan jenis buah - buahan jauh melebihi untuk jenis makanan lainnya.Dari semua jenis makanan teramati yang dimakan orangutan, buah menempatiproporsi tertinggi dengan rata - rata persentase 63,2 %, daun 26,2 %, kulit kayu8,48 % dan lainnya 4,5 % (Krisdijantoro, 2007). Untuk tetap dapat bertahan hidup, orangutan menggantungkan hidupnya pada habitat dengan komposisi pepohonan dan liana yang menyediakan pakan pada musim produktif (buah) dandapat berlangsung secara terus menerus sepanjang tahun serta tetap berada dalam jarak penjelajahannya (Meijaard dkk, 2001).

Orangutan pada umumnya bersifat individu atau soliter dan pada saat tertentu dapat hidup berdampingan dengan individu yang lain, seperti saat reproduksi antara induk betina dengan anak yang belum mandiri. Orangutan

bersifat arboreal yaitu menghabiskan hidupnya di pepohonan dengan bergelantungan dari dahan satu ke dahan lain dengan menggerakkan anggota tubuhnya dan orangutan selalu membuat sarang untuk tidur menjelang malam (Supriatna dan Wahyono, 2000).

Menurut Basalamah (2006), aktivitas harian dari orangutan berdasarkan pencatatan data untuk aktivitas harian yang dijadikan sebagai Point Sampel dilakukan sesuai dengan batasan yang telah ditentukan adalah :

1. Makan (feeding) yaitu meliputi seluruh waktu yang digunakan untuk memilih, memegang, mengambil dan sebelum memasukkan makanan ke mulut.

2. Istirahat (resting) yaitu meliputi seluruh waktu yang digunakan individu orangutan dengan relatif tidak melakukan kegiatan dalam periode waktu tertentu baik di dalam maupun di luar sarang seperti merebahkan diri, duduk, berdiri maupun menggantung.

3. Bergerak pindah (moving) yaitu meliputi seluruh waktu yang digunakan individu target dalam melakukan gerak berpindah dari satu cabang pohon ke cabang lainnya ataupun dari satu tempat ke tempat lain.

4. Sosial (social) yaitu meliputi seluruh waktu yang digunakan individu target dalam melakukan kontak dengan individu lain. Beberapa kategori yang dimasukkan ke dalam aktivitas sosial antara lain adalah pengusiran (agonistik), bermain (playing), mengutui (grooming) dan reproduksi.

5. Bersarang (nesting) yaitu meliputi seluruh waktu yang digunakan individu target dalam membuat sarang, diantaranya mematahkan daun/dahan, membawa dan menyusun daun/dahan sampai menjadi bentuk sarang.

Bentuk lain dari liana misalnya yang ditemukan pada beberapa jenis Ficus spp, yaitu: mula-mula tumbuh seperti epifit di kanopi inangnya kemudian akarnya turun ke tanah. Kadang-kadang tipe jenis ini dapat mencekik tumbuhan inangnya sehingga mati. Tipe ini disebut Strangler. Liana ditemukan hidup 90% di hutan tropikdan merupakan tumbuhan khas pada hutan hujan tropik Kepadatan liana tergantung dari kehangatan dan kelembaban udara di suatu habitat. Jenis liana menyusun 8% dari jenis tumbuhan lain di hutan hujan tropis (Jacobs, 1980).

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Liana atau tumbuhan pemanjat adalah salah satu jenis tumbuhan yang mejadi penciri khas dari ekosistem hutan hujan tropis dan keberadaanya menambah keanekaragaman jenis tumbuhan pada ekosistem hutan tersebut. Tumbuhan liana memanjat dan menopang pada tumbuhan lain hingga mencapai tajuk pohon dengan ketinggian tertentu. Contoh liana adalah sirih, rotan, anggur, labu, dan lain-lain.

Penelitian terhadap tumbuhan liana belum begitu banyak dilakukan, namun dari hasil-hasil kajian yang telah dilakukan banyak peranan liana bagi ekosistem hutan dan perananya bagi masyarakat. Liana mempunyai peranan positif dan negatif untuk hutan dan lingkungannya. Peranan positif antara lain mencegah tumbangnya pohon akibat angin karena pertumbuhannya yang menjalar di antara pohonpohon penopangnya dalam hutan, sebagai sumber pakan, dan sebagai alat pendukung bagi hewan yang melintas di pepohonan (Setia, 2009). Adapun peran negatif dari liana adalah dapat menyebabkan kerusakan pada tempat tertentu pada tumbuhan penopang yang dipanjatnya seperti luka pada batang pohon (Asrianny dkk., 2008).

Keberadaan jenis tumbuhan liana mempunyai manfaat yang besar bagi lingkungan disekitarnya, baik bagi satwa maupun tumbuhan. Termasuk orangutan sumatera ( Pongo abelii ), menggunakan tumbuhan liana sebagai sumber pakan sekunderyang diperoleh dari buah, bunga, kulit muda dan daun. Selain itu juga digunakan sebagai sarana atau jembatan untuk berpindah dari satu pohon ke

pohon lainyang menyebabkan kebertahanan orangutan dalam suatu habitat tertentu. Dan hal ini yang menunjukkan bahwa orangutan sendiri termasuk kategori hewan yang arboreal. Dengan kata lain, keberadaan tumbuhan jenis liana dalam kawasan habitat tertentu mempunyai peran penting dalam keberlangsungan hidup orangutan.

Ketersediaan pakan orangutan di habitat alami menjadi faktor utama yang berpengaruh pada keberlangsungan hidup orangutan. Jenis pohon pakan orangutan beragam, salah satu jenis yang sangat disukai orangutan adalah Ficus spp. Faktor lain yang mempengaruhi preferensi orangutan terhadap Ficus spp. adalah aroma buah Ficus spp. Selain itu, Ficus spp. adalah jenis pohon yang berbuah sepanjang tahun sehingga pohon ini sebagai pohon penyokong ketersediaan pakan orangutan itu sendiri.Ketersediaan Ficus spp . sebagai sumber pakan sekunder bagi orangutan baik orangutan semi liar dan liar.

Orangutan Sumatera (Pongo abelii Lesson, 1827) adalah salah satu jenis kera besar yang hidup di hutan tropika Indonesia dan Malaysia, khususnya di Pulau Kalimantan dan Sumatera. Orangutan merupakan satwa yang dilindungi berdasarkan UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, PP. No. 7 Tahun 1999 Tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa Liar, dan SK. Menhut No. 301/Kpts-II/1991 tanggal 10 Juni 1991. Adapun status konservasi orangutan berdasarkan International Union for Consevation of Nature and Natural Roseurces (IUCN, 2004) masuk dalam kategori endangered species atau jenis terancam punah, sedangkan dalam Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) orangutan sudah termasuk kategori Appendix I.Penelitian ini akan

dilakukan di Resort Sei Betung, wilayah Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang merupakan kerja sama antara TNGL dengan Orangutan Information Center (OIC)

Salah satu tumbuhan yang berada didalam hutan Resort Sei Betung yang memiliki peranan penting sekaligus menjadi penciri khas hutan hujan tropis adalah tumbuhan liana.Orangutan (Pongo sp.) merupakan hewan yang mempunyai gaya hidup soliter dan mempunyai ukuran tubuh yang besar. Saat ini orangutan hanya ditemukan di hutan tropis di pulau Sumatera dan Kalimantan(Bismark, 2005). Hewan ini dalam melakukan aktivitas hariannya seperti makan, lokomosi dan istirahat lebih sering arboreal di pepohonan hutan dengan struktur vertikal hutan yang terdiri antara lain dalam bentuk pohon dan liana dari pada di permukaan tanah (Setia, 2009).

Identifikasi Masalah

Masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah ketersedian pakan orangutan dari segi kelimpahan jenis liana yang dikonsumsi oleh orangutan Sumatera yang juga digunakan sebagai sarana atau jembatan orangutan Sumatera ( Pongo abelli )untuk bepindah tempat. Identifikasi yang dilakukan berupa jenis liana yang tersedia sebagai pakan serta data ini bermanfaat untuk menentukan produktivitas liana sebagai sumber pakan alami orangutan Sumatera (Pongo abelii) di Resort Sei Betung Taman Nasional Gunung Leuser Resort Sei Betung

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi keanekaragaman dan kelimpahan jenis liana yang menjadi pakan orangutan Sumatera ( Pongo abelli ) di Resort Sei Betung Taman Nasional Gunung Leuser Resort Sei Betung dalam kategori mengetahui indeks keanekaragaman, indeks kemerataan, indeks kekayaan, indeks dominansi , Indeks Nilai Penting dan tipe vegetasi , serta indeks kesamaan liana pada antar transek dikawsan hutan sekunder Taman Nasional Gunung Leuser Resort Sei Betung

.Manfaaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat :

a. Sebagai sumber informasi bagi Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser ( BBTNGL ) mengenai jenis – jenis liana yang menjadi pangan Orangutan Sumatera ( Pongo abelli )

b. Sebagai sumber informasibagi para peneliti untuk penelitian lanjutan terkait tumbuhan liana

c. Sebagai sumber informasi bagi Yayasan Sumatera Lestari-Orangutan Information Centre (YOSL-OIC) tentang keberadaan liana yang dapat mendukung kelestarian habitat Orangutan Sumatera (Pongo abelii)

ABSTRACT

RIFAI MUDA HARAHAP :Identification of liana Species as the sumatran

orangutan’s wWoof in Secondary Forest of Gunung Leuser National Park Resort Sei

Betung Besitang Subdistrict Langkat District, North Sumatera. Under Academic Supervised by Muhdi Dan Erni Jumilawaty.

Liana is one species that became a distinctive identifier of a tropical rain forest ecosystem and its presence adds to the diversity of plant species in the forest ecosystem. The purpose of this study is to know the liana diversity as the

sumatran orangutan’s woof, evenness index, richness index, dominance index,

Importance Value Index (INP%), and the similarity index between transects lianas in secondary forest resort Sei Betung Gunung Leuser National Park. This research was conducted in Desember 2015 until March 2016. The method used is the method of least squares with sampling done at the station consists of four transects and 40 plots each observation with the size of the sample plots of 20 m x 20 m. Liana sampling using sampling intensity of 0.6% of 500 Ha. The observed variables include the type and number of individuals as well as the circumference of each individual liana.

The research result there was 15 species of lianas and 622 the total number of individual climbers. Diversity liana of 1.962 categories of medium diversity, evenness liana including low category with a score of 0.376, reachnes of liana of 2.176 included into the category of low, dominance index liana is low category with a value of 0.369, Importance Value Index liana highest Uncaria glabra

Dokumen terkait