TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Inovasi
Secara umum inovasi sering kali diterjemahkan sebagai penemuan baru, namun sebenarnya aspek “kebaruan” dalam inovasi sangat ditekankan untuk inovasi sektor swasta . sedangkan, inovasi pada sektor publik lebih ditekankan pada aspek “perbaikan” yang dihasilkan dari kegiatan inovasi tersebut, yaitu pemerintah mampu memberikan pelayanan publik secara lebih efektif, efesien dan berkualita, murah dan terjangkau. Angraeny dalam Abdillah (2016).
Inovasi adalah proses kreatif dalam menemukan hal-hal atau cara baru yang berbeda. Memodifikasi hal yang sudah ada juga termasuk dalam bagian inovasi, secara etimologi, Inovasi berawal dari bahasa latin “ innovare” atau “
innovation”. Lalu di adaptasi dalam bahasa inggris dengan kata innovation,
yang mempunyai arti perubahan atau pembaharuan, sedangkan kata kerjanya adalah “innovo” yang mempunyai definisi mengubah dan memperbaharui. Ancok dalam qalbi (2018).
Albury dalam Harakan & Tahir (2018). mendefinisikan inovasi sebagai
new ideas that work. Hal tersebut berarti bahwa inovasi adalah berhubungan
dengan ide-ide baru yang bisa dimanfaatkan. Inovasi dengan sifat kebaruannya harus mempunyai nilai manfaat. Selanjutnya Albury secara rinci menjelaskan ciri dari inovasi yang berhasil adalah ada bentuk penciptaan dan pemanfaatan proses baru, produk baru, jasa baru dan metode penyampaian yang baru, yang
menghasilkan perbaikan yang signifikan dalam hal efisiensi, efektivitas maupun kualitas.
Inovasi adalah suatu gagasan, praktek, atau benda yang dianggap atau dirasabaru oleh individu atau kelompok masyarakat. Inovasi merupakan bagian integralbagi suatu organisasi, karena bukan hanya digunakan sebagai motor penggerakkeberlangsungan organisasi, melainkan juga sebagai bentuk kemampanan dalamberkompetisi dengan organisasi lain. Kurnia (2019).
Definisi dari inovasi itu sendiri menurut West & Far dalam Anggraeny (2013). adalah pengenalan dan penerapan dengan sengaja gagasan, proses, produk, dan prosedur yang baru pada unit yang menerapkannya, yang dirancang untuk memberikan keuntungan bagi individu, kelompok, organisasi dan masyarakat luas.
Menurut Gopalakrishan dan Damanpur dalam Kurnia (2019) mengungkapkan, inovasi padadasarnya menunjukkan pada sesuatu yang baru, apakah berbentuk gagasangagasan baru, produk, metode atau bentuk pelayanan.
Robbins dalam Sudjana (2015). Inovasi adalah suatu gagasan baru yang diterapkan untuk memprakarsai atau memperbaiki suatu produk atau proses dan jasa.
Urabe dalam Sudjana (2015). Inovasi merupakan kegiatan satu kali pukul (one time phenomenon), melainkan suatu proses yang panjang dan kumulatif yang meliputi banyak proses pengambilan keputusan di dan oleh organisasi dari mulai penemuan gagasan sampai implementasinya di pasar.
Inovasi merupakan suatu proses dimana organisasi memanfaatkan keterampilan dan sumber daya mereka untuk mengembangkan barang-barang dan jasa baru, atau untuk mengembangkan produk dan sistem pengoperasian baru, hingga dengan demikian mereka lebih baik dapat bereaksi terhadap kebutuhan pelanggan mereka. Thaha (2016).
Menurut Suwarno dalam Kurnia (2019) terlepas dari perbedaan pemahaman akan inovasi tersebutdapat disimpulkan bahwa inovasi tidak akan terlepas dari :
1. Pengetahuan Baru
Sebuah inovasi hadir sebagai sebuah pengetahuan baru bagi masyarakatdalam sebuah sistem sosial tertentu. Pengetahuan baru ini merupakan faktor penting penentu perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat.
2. Cara Baru
Inovasi juga dapat berupa sebuah cara baru bagi individu atau sekelompok orang untuk memenuhi kebutuhan atau menjawab masalah tertentu. Cara baru ini merupakan pengganti cara lama yang sebelumnya berlaku.
3. Objek Baru
Sebuah inovasi adalah objek baru bagi penggunanya, baik berbentuk fisik(berwujud/tangible), maupun yang tidak berwujud (intangible).
4. Teknologi Baru
Inovasi sangat identik dengan kemajuan teknologi. Banyak contoh inovasi yang hadir dari hasil kemajuan teknologi. Indikator kemajuan dari sebuah
produk teknologi yang inovatif biasanya dapat langsung dikenali dari fitur-fitur yang melekat pada produk tersebut.
5. Penemuan Baru
United Nations Departement of Economic and Social Affairs (dalam Sururi, 2017) menganalisis sejumlah prinsip dan strategi utama untuk inovasi dalam pemerintahan yaitu sebagai berikut:
1. Mengintegrasikan layanan,
2. Desebtralisasi pemberian layanan, 3. Memanfaatkan kemitraan,
4. Melibatkan warga negara,dan
5. Mengambil keuntungan dari teknologi informasi dan kmomunikasi. Inovasi Pemerintahan Daerah adalah rangka peningkatan kinerja penyelenggaraan Pemerintahan daerah dapat melakukan inovasi. Menurut Metcalfe dalam Harakan & Tahir(2018). inovasi merupakan sistem yang menghimpun institusi - institusi berbeda yang berkontribusi, secara bersama maupun individu, dalam pengembangandan difusi teknologi - teknologi baru dan menyediakan kerangka kerja (framework) di mana pemerintah membentuk dan mengimplementasikan kebijakan - kebijakan untuk mempengaruhi proses inovasi. Dengan demikian, sistem inovasi merupakan suatu sistem dari lembaga - lembaga yang saling berkaitan untuk menciptakan, menyimpan, dan mengalihkan (mentransfer) pengetahuan, keterampilan yang menentukan teknologi baru. Inovasi tidak akan bisa berkembang dalam kondisi status quo. Inovasi mempunyai satu sifat mendasar yaitu sifat kebaruan.
Manajemen Inovasi merupakan sebuah alat yang dipakai oleh manajer atau lembaga atau perusahaan untuk membangun sebuah produk dan inovasi organisasi atau bahasa lainnya manajemen inovasi adalah pengelolaan dan pengorganisasian sebuah proses. Melalui penelitian dan pengembangan (Research & Development), perusahaan melakukan respon terhadap kesempatan eksternal atau internal dan mengunakan upaya pemikiran kreatif untuk memperkenalkan pemikiran – pemikiran baru, proses, atau produk.Sedangkan inovasi manajemen adalah implementasi dari sebuah aplikasi, proses dan struktur manajemen baru yang mewakili sebuah awal penting bagi perusahaan untuk bertransformasi kearah yang lebih baik.Dhewanto dalam Qalbi (2018).
Albury dalam Oktaviyanin & Nugraha (2018). Secara rinci menjelaskan bahwa ciri inovasi yang berhasil adalah adanya bentuk penciptaan dan pemanfaatan proses baru, yang menghasilkan perbaikan yang signifikan dalam efisiensi, efektivitas maupun kualitas.
Inovasi bisa berarti menggunakan cara kreatif dan cara yang tidak biasa dalam menyelesaikan masalah seperti misalnya dalam pelayanan dengan mengenalkan cara-cara pelayanan baru, merevisi visi misi, membentuk organisasi baru, dan mengembangkan proses-proses baru sebagai bentuk terobosan terhadap kebuntuan penyelesaian persoalan dan pelayanan. Dhewanto dalam Qalbi (2018)
Hampir semua inovasi merupakan hasil penemuan baru sangat jarang ada kasus inovasi hadir sebagai sebuah kebetulan. Inovasi merupakan produk darisebuah proses yang sepenuhnya bekerja dengan kesadaran dan kesengajaan
Secara umum dapat disimpulkan bahwa inovasi mempunyai karakteristik yang dapat dijadikan ukuran untuk menilai pelaksanaan InovasiMenurut Rogers dalam Harakan & Tahir (2018) sebagai berikut:
1. Relative Advantage atau Keuntungan relatif, sebuah inovasi harus mempunyai keunggulan dan nilai lebih dibandingkan dengan inovasi sebelumnya. Selalu ada sebuah nilai kebaruan yang melekat dalam inovasi yang menjadi ciri yang membedakannya dengan yang lain.
2. Compatibility atau Kesesuaian, inovasi juga mempunyai sifat kompatibel atau sesuai dengan inovasi yang digantinya. Hal ini dimaksudkan agar inovasi yang lama tidak serta merta dibuang begitu saja, selain karena alasan faktor biaya yang tidak sedikit, namun juga inovasi yang lama menjadi bagian proses transisi ke inovasi terbaru. Selain itu juga dapat memudahkan proses adaptasi dan proses pembelajaran terhadap inovasi itu secara lebih cepat.
3. Complexity atau Kerumitan, dengan sifatnya yang baru, maka inovasi mempunyai tingkat kerumitan yang boleh menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan inovasi sebelumnya. Namun demikian, karena sebuah inovasi menawarkan cara yang lebih baru dan lebih baik, maka tingkat kerumitan ini pada umumnya tidak menjadi masalah penting.
4. Triability atau Kemungkinan dicoba, inovasi hanya bisa diterima apabila telah teruji dan terbukti mempunyai keuntungan atau nilai lebih dibandingkan
dengan inovasi yang lama. Sehingga sebuah produk inovasi harus Melewati fase uji coba, dimana setiap orang atau pihak mempunyai kesempatan untuk menguji kualitas dari sebuah inovasi.
5. Observability atau kemudahan diamati, sebuah inovasi harus juga dapat diamati, dari segi bagaimana ia bekerja dan menghasilkan sesuatu yang lebih baik.
Strategi inovasi dalam pemerintahan menurut Sangkala dalam Harakan & Tahir (2018).yaitu:
1. Layanan terintegrasi, dimana sektor publik menawarkan peningkatan sejumlah layanan, warga memiliki harapan yang tidak sederhana dimana warga meminta layanan yang disediakan disertai dengan kenyamanan.
2. Desentralisasi pemberian dan monitoring layanan lebih dekat dengan masyarakat dan biasanya membentuk kepastian tehadap tingkat permintaan yang tinggi sehingga meningkatkan kepuasan masyarakat atau pelaku bisnis. 3. Pemanfaatan kerjasama, bermakna sebagai pemerintahan yang inovatif untuk memenuhi peningkatan pemenuhan agar lebih efisien dalam pemberian layanan publik, lebih kolaboratif antar organisasi dan juga terjadi kerjasama antara publik dan swasta.
4. Pelibatan warga Negara. Kewenangan pemerintah yang Inovatif harus merealisasikan peran peran pentingnya dengan mendorong peran warga untuk berpartisipasi dalam mendorong perubahan.
B. Konsep Pemerintah Daerah
Pemerintah Daerah Adalah penyelenggara urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan dewan perwakilan rakyat daerah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dan tugas otonomi seluas-luasnya dalam system kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Sedangkan yang dimaksud pemerintah daerah adalah kepala daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daearah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi daerah kewenangan otonom. (Rustandi 2017).
Pemerintah daerah menurut undang-undang nomor 32 tahun 2004 pasal 1 menyebutkan penyelenggaraan unsur pemerintahan oleh pemerintah daerah dan DPRD adalah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip negara kesatuan republik indonesia. Dalam menjalankan roda kegiatan, pemerintah daerah dipimpin oleh gubernur, bupati, walikota dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintah daerah. Suwanda (2014).
Dari pengertian diatas secara umum dapat diartikan bahwa pemerintah daerah adalah perangkat daerah yang ditunjukan untuk menjalankan, mengatur dan menyelenggarakan jalannya pemerintah daerah.
Pemerintahan daerah merupakan suatu kegiatan yang sangat terkait dengan kemajuan suatu organisasi untuk mempertahankan keberadaannya. Suatu organisasi yang di dalamnya terdapat sekelompok manusia menunjukkan perilaku yang menggambarkan keterkaitan antara manusia dan organisasi tersebut. Thaha (2016).
Pemerintahan daerah organisasi berarti juga proses merubah, memperluas atau memperkecil organisasi sesuai visi, misi, tujuan dan sasaran yang akan dicapai oleh organisasi agar memberikan kontribusi positif bagi public maupun customers sehingga kepuasan masyarakat dan pelanggan (public and customers satisfaction) yang merupakan salah satu tolak ukur keberhasilan public service dapat terpenuhi. Thaha (2016).
Pemerintah daerah adalah salah satu perangkat dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan, pemerintah daerah ini merujuk atas otoritas yang administratif suatu daerah yang lebih kecil dari sebuah negara yang dimana negara Indonesia tersebut adalah sebuah negara yang wilayahnya terbagi atas daerah-daerah provinsi. Daerah provinsi itu dibagi lagi atas daerah kabupaten serta daerah kota. Setiap daerah provinsi, daerah kabupaten, serta daerah kota mempunyai daerah yang diatur dengan undang-undang. (Thoha, dalam Ramdhani 2017).
Kewenangan dalam pelaksanaan Pemerintah Daerah meliputi kewenangan membuat Peraturan Daerah dan penyelenggaraan Pemerintahan yang di emban secara demokratis. Pelimpahan atau penyerahan wewenang dari Pemerintah Pusat kepada daerah-daerah otonom bukanlah karena hal itu di tetapkan dalam konstitusinya, melainkan di sebabkan oleh hakikat Negara kesatuan itu sendiri. Prinsip Negara kesatuan ialah yang memegang teguh kekuasaan tertinggi atas semua urusan Negara adalah Pemerintah Pusat tidak ada gangguan oleh suatu delegasi atau pelimpahan kekuasaan kepada Pemerintah Daerah (Harakan & Tahir (2018).
Negara Republik Indonesia adalah sebuah negara kesatuan yang menganut asas desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintah, negara memberikan kesempatan serta keleluasaan kepada daerah untuk menyelenggarakan otonomi daerah kabupaten dan kota yaitu daerah provinsi diberikan kewenangan yang secara terbatas yaitu meliputi kewenangan yang tidak atau belum dilaksakan oleh daerah kabupaten serta daerah kota. Melalui otonomi diharapkan akan mandiri untuk menentukan suatu kegiatannya serta pemerintahan pusat diharapakan mampu untuk memainkan perannya dalam membuka peluang mamajukan daerah melakukan identifikasi potensi sumber-sumber pendapatannya serta mampu menetapkan belanja daerah secara ekonomi wajar, efisien, dan efektif termasuk kemampuan perangkat daerah untuk meningkatkan kinerja dan mempertanggungjawabkan kepada pemerintah ini atasannya maupun kepada masyarakat luas. Widjaja dalam Marwi (2016).
Menurut Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Pemerintah Daerah, maka sumber pendapatan daerah untuk membiayai APBD terdiri dari:
1. Pendapatan Asli Daerah (PAD) 2. Dana perimbangan
3. Pinjaman daerah
4. Lain-lain penerimaan daerah yang sah
Selanjutnya di dalam penjelasan atas Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat serta Pemerintah Daerah, yang dimaksud dengan Pendapatan Asli Daerah merupakan penerimaan yang diterima oleh daerah dari sumber-sumber wilayahnya sendiri
yang dipungut berdasarkan peraturan daerah dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang dapat berlaku. Sektor pendapatan daerah memegang peranan ini sangat penting, kerena melalui sektor ini bisa dilihat sejauh mana suatu daerah mampu mrmbiayai kegiatan pemerintah dan pembangunan daerahnya.
Menurut Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang dimaksud dengan Pendapatan Daerah yang merupakan penyelenggara urusan pemerintah daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun 1945. Pemerintah daerah adalah kepala daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintah yang menjadi kewenangan daerah otonom.
Adapun sumber-sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 yaitu:
1. Hasil pajak daerah yaitu, pungutan daerah menurut peraturan yang ditetapkan oleh daerah untuk pembiayaan rumah tangganya sebagai badan hukum publik. Maka dari itu pajak daerah sebagai pungutan yang dapat dilakukan pemerintah daerah yang hasilnya dapat digunakan untuk pengeluaran umum yang balas jasanya tidak langsung begitu saja yang diberikan sedangkan pelaksanaannya bisa dipaksakan.
2. Hasil retribusi daerah yaitu, pungutan yang telah secara sah menjadi suatu pungutan daerah yang sebagai pembayaran pemakaian atau karena dapat memperoleh jasa atau kerena memperoleh jasa pekerjaan, serta usaha atau
milik pemerintah daerah yang bersangkutan. Retribusi daerah mempunyai sifat-sifat seperti pelaksanannya bersifat ekonomis, ada imbalan yang langsung walaupun harus memenuhi persyaratan-persyaratan secara formil atau materil, tetapi ada alternatif untuk mau tidak membayar, merupakan suatu pungutan yang sifatnya budget yang tidak menonjol, dalam hal-hal tertentu retribusi daerah untuk dapat memenuhi permintaan anggota masyarakat yang banyak.
3. Hasil perusahaan milik daerah serta hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan. Hasil perusahaan milik daerah merupakan suatu pendapatan daerah dari keuntungan yang bersih perusahaan daerah yang dapat berupa dana pembangunan daerah serta bagian untuk belanja daerah yang dipisahkan, yang sudah sesuai dengan motif pendirian serta pengelolaan, maka sifat perusahaan daerah merupakan suatu kesatuan produksi yang dapat bersifat menambah pendapatan daerah, member jasa, serta menyelenggarakan kemanfaatan umum, serta mengembangkan perekonomian daerah.
4. Lain-lain pendapatan daerah yang sah merupakan pendapatan-pendapatan yang tidak termasuk dalam suatu jenis-jenis pajak daerah, seperti: retribusi daerah, pendapatan dinas-dinas. Lain-lain usaha daerah yang sah mempunyai suatu sifat yang pembuka bagi pemerintah daerah untuk melakukan suatu kegiatan yang dapat menghasilkan baik itu berupa materi dalam kegiatan tersebut bertujuan untuk menunjang, melapangkan, atau memantapkan suatu kebijakan daerah disuatu bidang tertentu.
C. Program Penanaman Hidroponik 1. Latar Belakang
a. Dasar Hukum
Berdasarkan Keputusan Bupati Sinjai Nomor 921 tahun 2019 tentang Pengesahan satuan kerja perangkat daerah dinas ketahanan pangan kabupaten Sinjai tahun anggaran 2020; undang-undang No 18 tahun 2012 tentang pangan; undang-undang No 68 tahun 2002 tentang ketahan pangan; Perpres No 22 Tahun 2009 tentang percepatan penganekaragaman komsumsi pangan berbasis sumberdaya lokal; Permentan No 43 Tahun 2009 tentang gerakan percepatan penganekaragaman komsumsi pangan (P2KP); Peraturan mentri pertanian Nomor 65/permentan/OT.140/12/2010 tentang spm bidang ketahanan pangan Provinsi dan Kabupaten; Peraturan mentri pertanian Nomor 15/permentan/OT.140/2/2013 tentang peningkatan difersifikasi dan ketahanan pangan masayarakat badan ketahan pangan; Perpres No 83 Tahun 2006 tentang dewan ketahanan pangan.
b. Gambaran Umum
Program penanaman hidroponik Tahun 2020 yang berlangsung di Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Sinjai merupakan percontohan untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat mengenai pentingnya penerapan teknologi dan membatasi dampak negatif yang ditimbulkan oleh budidaya kimiawi.
2. Maksud dan tujuan a. maksud
Maksud dari pelaksanaan kegiatan program penanaman hidroponik ini sesuai dengan apa yang telah dicanangkan yang meliputi: aspek perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, monitoring, dan evaluasi, serta pelaporan sehingga dicapai wujud akhir program penanaman hidroponik yang sesuai dengan kerangka acuan kerja (KAK) dan kelancaran penyelesaian administrasi yang berhubungan dengan pekerjaan lapangan.
b. Tujuan
Tujuan dari kegiatan program hidroponik ini yaitu
Melakukan percontohan hidroponik guna mengubah perilaku masyarakat dengan menerapkan aktifitas non kimiawi dalam aktifitas lainnya.
Untuk memberdayakan masyarakat dalam rangka menciptakan masyarakat mandiri sehat dan sejahtera.
3. Sasaran
ASN dan Honorer Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Sinjai Masyarakat di Kabupaten Sinjai
4. Lokasi Kegiatan
Kegiatan dilaksanakan di Kantor Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Sinjai
Bulan Januari sampai bulan Desember 2020 6. Anggaran
Anggaran berasal dari Dana Alokasi Umum (DAU) Dinas ketahanan pangan Sinjai, dengan jumlah anggaran Rp. 14.065.000.
7. Strategi pelaksanaan kegiatan
Kegiatan program penanaman hidroponik dilaksanakan dengan melakukan sosialisasi akan pentingnya program penanaman hidroponik serta melakukan percontohan dilahan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Sinjai, bahan percontohan berupa lahan dan hidroponik.
D. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu ini menjadi salah satu acuan penulis dalam melakukan penelitian sehingga penulis dapat memperkaya teori yang digunakan dalam mengkaji penelitian yang dilakukan dari penelitian terdahulu, penulis tidak menemukan judul penelitian yang sama persis seperti judul penelitian penulis. Namun, penulis mengangkat salah satu referensi dalam memperkaya bahan penelitian itu, yaitu:
Penelitian tentang hidroponik yang dilakukan oleh Nidhom (2012). Menemukan bahwa diperlukan suatu solusi yang kiranya dapat mengatasi atau setidaknya meminimalisir beberapa permasalahn yang ada di wilayah Kabupaten Malang. Pengenalan akan inovasi teknologi baru hidroponik merupakan suatu langkah di bidang pengelolaan lahan yang dirasa paling sesuai untuk mengatasi beberapa permasalahn dan untuk mewadahinya perlu
dibuatkan suatu rancangan Pusat Penelitian dan Budidaya Tanaman secara Hidroponik.
E. Kerangka Pikir
Pemerintah daerah saat ini dituntut untuk melakukan pembaharuan diberbagai sektor sebagai langkah untuk mengatasi tuntutan masyarakat yang semakin kompleks. Inovasi menjadi suatu keharusan yang mesti dilakukan pemerintah agar keberadaan pemerintah menjadi bermakna di mata rakyat.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada bagan kerangka pikir berikut: Bagan Kerangka Pikir
Karakteristik Inovasi Pemerintah Daerah Dalam Program Penanaman Hidroponik Di Kabupaten Sinjai
Karakteristik Inovasi Menurut Rogers 1. Relative Advantage atau Keuntungan relatif 2. Compatibility atau Kesesuaian 3. Complexity atau Kerumitan 4. Triability atau Kemungkinan dicoba 5. Observability atau kemudahan diamati
Karakteristik Inovasi Hidroponik Faktor
pendukung:
Faktor penghambat:
F. Fokus Penelitian
Fokus penelitian ini berangkat dari latar belakang masalah kemudian dirumuskan dalam rumusan masalah dan dikaji berdasarkan teori dalam tinjauan pustaka. Adapun fokus penelitian yaitu tentang Karakteristik Inovasi Pemerintah Daerah Dalam Program Penanaman Hidroponik Di Kabupaten Sinjai. Fokus penelitian ini terdiri beberapa hal pokok yang perlu diuraikan yaitu:
1. Untuk mengetahui karakteristik inovasi pemerintah daerah dalam program penanaman hidroponik di Kabupaten Sinjai.
2. Untuk mengetahui faktor pendukung serta faktor penghambat dalam pelaksanaan program penanaman hidroponik di Kabupaten Sinjai
G. Deskripsi Fokus Penelitian
Berdasarkan fokus penelitian yang telah diuraikan penulis, kemudian akan dideskripsikan seperti berikut ini:
1. Relative Advantage atau Keunggulan relatif, sebuah inovasi dipersepsikan lebih baik daripada ide inovasi sebelumnya. Biasanya keuntungan relative diukur dalam terminologi ekonomi, tetapi faktor prestise sosial, kenyamanan, dan kepuasan sering menjadi komponen yang tak kalah penting. Semakin banyak keuntungan relative yang dirasakan sebuah inovasi, maka akan semakin cepat laju tingkat adopsinya
2. Compatibility atau Kesesuaian, yaitu tingkat kesesuaian dengan nilai (values), pengalaman lalu, dan kebutuhan dari penerima. Kesesuaian
adalah derajat dimana inovasi tersebut dianggap konsisten dengan nilai-nilai yang berlaku, pengalaman masa lalu dan kebutuhan pengadopsi. 3. Complexity atau Kerumitan, yaitu tingkat sebuah inovasi dipresepsikan
sulit untuk dipahami atau digunakan. Beberapa inovasi mudah dipahami oleh sebagian besar anggota sistem sosial. Sebagian yang lain inovasi itu lebih rumit sehingga akan lambat diadopsi. Kerumitan diasumsikan berhubungan secara negative terhadap adopsi dan implementasi inovasi. 4. Triability atau Kemungkinan dicoba, kemampuan untuk diuji cobakan
adalah derajat dimana suatu inovasi dapat diuji coba dalam batas tertentu. Suatu inovasi yang dapat diuji cobakan dalam pengaturan setting) sesungguhnya umumnya akan lebih cepat diadopsi.
5. Observability atau kemudahan diamati, sebuah inovasi harus juga dapat diamati, dari segi bagaimana ia bekerja dan menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Kemampuan untuk diamati adalah derajat diamana hasil suatu inovasi dapat terlihat oleh orang lain. Semakin mudah seseorang melihat hasil dari suatu inovasi, semakin besar kemungkinan orang atau sekelompok orang tersebut mengadopsi. Jadi dapat disimpulkan bahwa semakin besar keunggulan relative, kesesuaian, kemampuan untuk diuji cobakan, dan kemampuan untuk diamati serta semakin kecil kerumitannya, maka semakin cepat kemungkinan inovasi tersebut dapat diadopsi.