• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ekosistem Sungai

Ekosistem ialah suatu unit ekologi yang didalamnya terdapat struktur dan fungsi. Struktur yang dimaksudkan dalam ekosistem tersebut yakni berhubungan dengan keanekaragaman spesies atau species diversity. Pada ekosistem yang strukturnya kompleks, maka akan mempunyai keanekaragaman spesies yang tinggi. Sedangkan fungsi yang dimaksud dalam ekosistem ialah berhubungan dengan siklus materi dan arus energi melalui komponen-komponen ekosistem (Effendi et al., 2018).

Sungai merupakan perairan tawar yang mengalir dari bagian hulu menuju bagian hilir. Ekosistem ini tersusun atas komponen biotik dan abiotik yang saling berkaitan dan saling berinteraksi satu sama lain, sehingga membentuk suatu unit yang fungsional. Sungai juga merupakan habitat air tawar yang tidak dapat terhindar dari perubahan lingkungan akibat aktivitas alam (Purwanti et al. 2015).

Sungai adalah ekosistem lotik yang memiliki peran secara biologis, ekologis maupun ekonomis sangat penting bagi manusia. Air sungai digunakan sebagai bahan baku air minum, mencuci, irigasi, perikanan, peternakan, pembangkit listrik dan pemenuhan kebutuhan lainnya. Masyarakat memanfaatkan keberadaan sungai sebagai alat transportasi, olah raga, mencari ikan dan berburu biota. Air sungai menjadi tempat hidup bagi ikan, udang dan biota lain yang sangat dibutuhkan manusia sebagai sumber protein (Djumanto et al. 2013).

Perairan sungai merupakan salah satu ekosistem yang menjadi salah satu komponen utama dari lingkungan. Kondisi perairan sungai secara tidak langsung

satu sisi membawa dampak positif berupa produk yang bermanfaat bagi masyarakat, akan tetapi di sisi lain juga menghasilkan limbah yang apabila tidak ditangani dengan tepat dapat mengganggu keseimbangan lingkungan. Efek jangka panjang dari degradasi kualitas lingkungan dimungkinkan menjadi efek domino negatif bagi sektor lain diantaranya kesehatan, sosial dan ekonomi (Indrowati et al. 2012).

Kualitas air sungai dipengaruhi oleh kualitas pasokan air yang berasal dari daerah tangkapan sedangkan kualitas pasokan air dari daerah tangkapan berkaitan dengan aktivitas manusia yang ada di dalamnya. Perubahan kondisi kualitas air pada aliran sungai merupakan dampak dari buangan dari penggunaan lahan yang ada. Perubahan pola pemanfaatan lahan menjadi lahan pertanian, tegalan dan permukiman serta meningkatnya aktivitas industri akan memberikan dampak terhadap kondisi hidrologis dalam suatu Daerah Aliran Sungai. Selain itu, berbagai aktivitas manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang berasal dari kegiatan industri, rumah tangga, dan pertanian akan menghasilkan limbah yang memberi sumbangan pada penurunan kualitas air sungai (Agustiningsih et al. 2012).

Aliran DAS adalah satu kesatuan yang di mulai dari hulu, tengah sampai ke hilir. Hulu sungai/DAS adalah bagian alur sungai yang terdekat dengan titik tertinggi dari alur sungai. Secara biogeofisik, bagian hulu dicirikan dengan merupakan daerah konservasi, mempunyai kerapatan drainase lebih tinggi, merupakan daerah dengan kemiringan lereng besar (lebih besar dari 15%) bukan merupakan daerah banjir, pengaturan pemakaian air ditentukan oleh pola drainase dan jenis vegetasi umumnya berupa tegakan hutan serta memiliki nilai debit

relatif kecil, alur sungai relatif sempit dan ukuran material/sedimen relatif besar (Ananta, 2016).

DAS merupakan daerah yang dibatasi oleh punggung- punggung gunung dimana air hujan yang jatuh pada daerah tersebut dialirkan melalui sungai-sungai kecil ke sungai utama. Dalam kaitannya dengan siklus hidrologi, DAS memiliki karakteristik khusus dan berhubungan erat dengan unsur utamanya yaitu jenis tanah, tata guna lahan, topografi, kemiringan, dan panjang lereng. Dari unsur-unsur penentu sistem hidrologi tersebut, tata guna lahan dan kemiringan lereng masih mampu direkayasa oleh manusia. Dengan demikian dalam pengelolaan DAS, perubahan tata guna lahan dan pengaturan kemiringan menjadi salah satu faktor yang sangat penting. Aktivitas perubahan penggunaan lahan yang dilakukan di daerah hulu DAS tidak hanya akan memberikan dampak di daerah dimana kegiatan tersebut berlangsung, akan tetapi juga menimbulkan dampak di daerah hilir dalam bentuk perubahan fluktuasi debit dan transpor sedimen serta material terlarut dalam sistem aliran air lainnya (Oktarian, 2016).

Bagian tengah DAS memiliki karakteristik diantara hulu dan hilir, dengan kata lain bagian tengah merupakan daerah transisi dari hulu dan hilir. Dengan nilai kelerengan umumnya antara 8-15%. Hilir DAS adalah bagian alur sungai yang terdekat dengan muara sungai. Sedangkan bagian hilir memiliki ciri merupakan daerah pemanfaatan, kerapatan drainase lebih kecil, merupakan daerah dengan kemiringan lereng kecil (kurang dari 8%), pada beberapa tempat merupakan daerah banjir (genangan), pengaturan pemakaian air ditentukan oleh bangunan irigasi, dan jenis vegetasi didominasi tanaman pertanian kecuali daerah

estuaria yang didominasi hutan bakau/gambut; serta memiliki nilai debit relatif besar, sungai relatif lebar dan ukuran material halus (Ananta, 2016).

Nekton

Nekton adalah organisme yang dapat berenang dan bergerak aktif dengan kemauan sendiri, misalkan ikan, amfibi, serangga air besar dan termasuk golongan ini. Banyaknya speises nekton di suatu perairan dapat memberikan gambaran tentang komunitas nekton yang kompleks di perairan tersebut.

Keragaman spesies nekton di perairan, termasuk sungai dapat mendeskripsikan tingkat kompleksitas suatu komunitas nekton di perairan tersebut. Nekton adalah organisme perairan yang dapat bergerak atau berenang sendiri dalam air sehingga tidak bergantung pada arus laut yang kuat atau gerakan air yang disebabkan oleh angin. Contoh nekton adalah aneka ikan-ikan, reptil, mamalia, udang dan lain-lain. Nekton merupakan organisme laut yang bermanfaat bagi manusia terutama untuk perbaikan gizi dan peningkatan ekonomi (Junaidi, 2014).

Biota akuatik merupakan kelompok biota, baik hewan atau tumbuhan yang sebagian atau seluruh hidupnya berada di perairan, misalnya, plankton, nekton, perifiton, benthos dan demersal. Nekton umumnya terdiri atas berbagai jenis biota akuatik yang hidup dan bergerak bebas dalam kolom air, misalnya Cyprinus carpio (ikan mas). Sedangkan biota bentik merupakan kelompok hewan atau tumbuhan yang hidup pada dasar perairan, misalnya tubifex (cacing sutera).

Nekton dapat dicuplik dengan jala, kail, seser, bubu dan peralatan lain yang sering digunakan untuk menangkap ikan (Wardhana, 2006).

Tidak semua jenis ikan memiliki bentuk tubuh dengan satu kategori, namun terdapat pula jenis ikan yang memiliki bentuk kombinasi. Misalnya pada

anggota Ordo Siluriformes, terdapat ikan yang memiliki kepala berbentuk picak, bagian badan berbentuk cerutu, dan bagian ekor berbentuk pipih. Ordo Siluriformes merupakan kelompok ikan berkumis meliputi beberapa familia yang masing-masing memiliki karakter morfologi yang spesifik. Ordo Siluriformes kebanyakan hidup di perairan tawar tetapi beberapa familia (Plotosidae dan Ariidae) dapat ditemukan di muara-muara sungai dan laut. Hampir semua ikan ordo Siluriformes memiliki sungut di sekeliling mulutnya. Ordo Siluriformes terdiri dari 106 spesies yang dikelompokkan ke dalam 35 genus dan 12 familia, yaitu Bagridae, Siluridae, Schilbidae, Pangasiidae, Akysidae, Parakysidae, Sisoridae, Clariidae, Chacidae, Ariidae, Plotosidae, dan Loricariidae (Bhagawati et al. 2013).

Ekologi Ikan

Kondisi perairan sungai akan sangat mempengaruhi kehidupan biota yang hidup didalamnya, salah satu biota tersebut adalah ikan. Secara umum, ikan dapat diartikan sebagai kelompok vertebrata akuatik poikilotermal (berdarah dingin) yang memiliki insang untuk bernapas dan bergerak dalam air dengan bantuan alat berupa sirip. Bentuk tubuh ikan umumnya termodifikasi sedemikian rupa sesuai dengan habitatnya di air. Ikan adalah biota air yang dapat dijadikan sebagai indikator tingkat pencemaran yang terjadi di dalam perairan (Sari et al. 2014).

Jumlah populasi ikan dalam suatu perairan biasanya ditentukan oleh pakan yang ada. Beberapa faktor yang berhubungan dengan populasi ikan, yaitu jumlah dan kualitas pakan yang tersedia dan mudah didapatnya pakan tersebut. Jenis-jenis pakan alami yang dimakan ikan sangat bermacam-macam, bergantung pada jenis ikan dan tingkat umurnya. Benih ikan yang baru mencari makan, pakan

utamanya adalah plankton nabati (fitoplankton) namun sejalan dengan bertambah besarnya ikan berubah pula makanannya. Makanan sebagai komponen lingkungan merupakan faktor ekologis yang memegang peranan penting dalam menentukan tingkat kepadatan populasi, dinamika populasi, pertumbuhan, reproduksi dan kondisi ikan. Jenis makanan suatu spesies ikan biasanya bergantung kepada umur, tempat dan waktu. Kebiasaan makan ikan dapat dilihat dari hubungan ekologi diantara organisme di dalam perairan, misalnya bentuk-bentuk pemangsaan, persaingan dan rantai makanan (Situmorang et al. 2013).

Morfologi Ikan

Morfologi ikan dapat dipelajari melalui metode meristik dan morfometrik.

Meristik dan morfometrik adalah dua metode numeric utama yang digunakan dalam proses deskripsi ilmiah ikan. Secara keseluruhan, karakter-karakter morfometrik ini merupakan hasil ekspresi genotip suatu individu dan

karakter-karakter ini memberikan variasi morfologi pada suatu spesies (Roesma et al. 2018).

Ikan merupakan hewan vertebrata aquatik berdarah dingin dan bernafas dengan insang. Ikan didefinisikan sebagai hewan bertulang belakang (vertebrata) yang hidup di air dan secara sistematik ditempatkan pada filum Chordata dengan karakteristik memiliki insang yang berfungsi untuk mengambil oksigen terlarut dari air dan sirip digunakan untuk berenang. Ikan hampir dapat ditemukan hampir di semua tipe perairan di dunia dengan bentuk dan karakter yang berbeda-beda.

Ciri-ciri umum dari golongan ikan adalah mempunyai rangka bertulang sejati dan bertulang rawan, mempunyai sirip tunggal atau berpasangan dan mempunyai operculum, tubuh ditutupi oleh sisik dan berlendir serta mempunyai bagian tubuh

yang jelas antara kepala, badan, dan ekor. Ukuran ikan bervariasi mulai dari yang kecil sampai yang besar. Kebanyakan ikan berbentuk torpedo, pipih, dan ada yang berbentuk tidak teratur (Fitrah et al. 2016).

Ikan memiliki keanekaragaman bentuk, ukuran, habitat serta distribusi jenis berdasarkan perbedaan ruang dan waktu sehingga membutuhkan pengetahuan tentang pengelompokan atau pengklasifikasian ikan. Pada umumnya bentuk tubuh ikan berkaitan erat dengan habitat dan cara hidupnya. Secara umum bentuk tubuh ikan adalah simetris bilateral, yang berarti jika ikan tersebut dibelah pada bagian tengah-tengah tubuhnya (potongan sagittal) akan terbagi menjadi dua bagian yang sama antara sisi kanan dan sisi kiri. Selain itu, terdapat beberapa jenis ikan berbentuk non-simetris bilateral, yaitu jika tubuh ikan tersebut dibelah secara melintang (crosssection) maka terdapat perbedaan antara sisi kanan dan sisi kiri tubuh (Bhagawati et al. 2013).

Keanekaragaman Sumberdaya Hayati Nekton

Keanekaragaman hayati adalah suatu ukuran untuk mengetahui keanekaragaman kehidupan yang berhubungan erat dengan jumlah suatu komunitas. Keanekaragaman jenis (H’), keseragaman (E), dan dominansi (C) merupakan indeks yang sering digunakan untuk mengevaluasi keadaan suatu lingkungan perairan berdasarkan kondisi biologi. Suatu lingkungan yang stabil dicirikan oleh kondisi yang seimbang dan mengandung kehidupan yang beranekaragam tanpa ada suatu spesies yang dominan. Ekosistem yang baik mempunyai ciri-ciri keanekaragaman jenis yang tinggi dan penyebaran jenis individu yang hampir merata di setiap perairan. Perairan yang tercemar pada

umumnya kekayaan jenis relatif rendah dan di dominansi oleh jenis tertentu (Gonawi 2009).

Keanekaragaman spesies terdiri atas dua komponen, yaitu jumlah spesies yang ada (umumnya mengarah kekayaan spesies) dan kelimpahan relatif spesies yang mengarah keseragaman. Keanekaragaman pada umumnya diukur dengan memakai pola distribusi beberapa ukuran kelimpahan diantara spesies (Ramananda, 2018).

Berkaitan dengan keanekaragaman hayati ikan, perhatian perlu diarahkan kepada keberadaan ikan endemik dan ikan yang terancam punah di Indonesia.

Ikan endemik adalah ikan yang keberadaannya hanya ada pada satu tempat tertentu, dan tidak ada di tempat lain. Ikan endemik di Indonesia berjumlah sekitar 120 spesies. Sedangkan ikan terancam punah ialah beberapa ikan yang karena mengalami tekanan penangkapan yang intensif ataupun faktor penyebab lain menjadi terancam punah sehingga keberadaan di perairan menjadi kian menipis (Syafei, 2017).

Badan internasional IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) yang kini berubah nama menjadi The World Conservation Union, telah membuat klasifikasi flora-fauna yang perlu dilindungi dalam kategori kelangkaan berdasarkan tingkat/derajat keterancamannya di alam.

Hal ini dapat dipakai sebagai dasar pemerintah suatu negara untuk melindungi jenis-jenis binatang di negara yang bersangkutan, termasuk Indonesia untuk ikan.

Jumlah spesies ikan yang telah dilindungi di dunia dan masuk ke dalam Red Data Book – IUCN sejak 1964 ada 79 spesies dari 20 famili Sclerophages formosus.

Kini jumlah spesies ikan (tawar dan laut) yang tercantum dalam 1990 IUCN Red

List of Threatened Animal adalah 510 spesies dari 56 famili; diantaranya 28 spesies dari 6 ordo ikan tawar Indonesia, kebanyakan dari Sulawesi (Whitten et al. 1987).

Keanekaragam hayati yang berlimpah pada setiap ekosistem tentu saja dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat yang berada di wilayah berbagai eksosistem. Akan tetapi dengan penggunaan sumber daya hayati yang melebihi batas, maka tidak akan menutup kemungkinan bahwa pada suatu saat nanti keanekaragaman hayati yang ada akan mengalami suatu permasalahan yang besar yaitu mengalami tingkat kepunahan. Oleh karena itu sudah selayaknya masyarakat sebagai warga yang sangat berhubungan dengan keanekaragaman hayati tersebut dapat memikirkan bagaimana cara untuk menyelamatkan kenaekaragaman hayati tersebut (Enersy et al. 2017).

Keheterogenan habitat dan kualitas air juga diperhitungkan sebagai penyebab keanekaragaman nekton di sungai. Secara ekologi diasumsikan bahwa keanekaragaman spesies yang tinggi menunjukkan keseimbangan ekosistem yang lebih baik dan memiliki elastisitas terhadap berbagai bencana, seperti penyakit, predator, dan lainnya. Sebaiknya keanekaragaman yang rendah (jumlah spesies sedikit) menunjukkan sistem yang stress atau sistem yang sedang mengalami kerusakan, misalnya bencana alam, polusi, dan lain-lain. Dalam ekologi biasanya digunakan indeks keanekaragaman sebagai ukuran kondisi suatu ekosistem yang mungkin dipengaruhi oleh berbagai gangguan lingkungan. Hal ini berdasarkan asumsi bahwa populasi dari spesies-spesies terbentuk secara bersama-sama, berinteraksi suatu dengan lainnya, juga terhadap lingkungan dalam berbagai cara

dimana hal tersebut menentukan jumlah spesies yang ada serta kelimpahan relatifnya (Gonawi, 2009).

Parameter Fisika Kimia Perairan

Parameter fisika kimia perairan yang akan diukur dalam penelitian ini adalah: suhu, kecerahan, kedalaman, kecepatan arus, derajat keasaman (pH), oksigen terlarut (dissolved oxygen/DO) dan biochemical oxygen demand (BOD).

Dalam Baku mutu air ini ditetapkan pemerintah berdasarkan peraturan undang-undang dengan mencantumkan pembatasan konsentrasi dari berbagai parameter kualitas air. Pasal 8 PP nomor 82 tahun 2001, menggolongkan air berdasarkan 4 (empat ) kelas yaitu:

a. Kelas satu, air yang diperuntukkannya dapat digunakan untuk air baku air minum, dan atau peruntukkan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

b. Kelas dua, air yang diperuntukkannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

c. Kelas tiga, air yang diperuntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

d. Kelas empat, air yang diperuntukannya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

Suhu

Suhu merupakan parameter fisika yang sangat penting bagi proses metabolisme organisme di daerah perairan. Suhu dapat bervariasi dipengaruhi oleh musim, letak berdasarkan lintang dan garis edar matahari, waktu pengukuran, kedalaman air serta tinggi terhadap permukaan laut. Perubahan suhu mempengaruhi proses fisika, kimia dan biologi pada badan air. Kenaikan suhu menyebabkan metabolise organisme meningkat sehingga kebutuhan oksigen meningkat. Naiknya suhu 1°C menyebabkan konsumsi oksigen meningkat 10%

(Novilyansa, 2017).

Suhu dapat memengaruhi fotosintesis di perairan baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh secara langsung yakni suhu berperan untuk mengontrol reaksi kimia enzimatik dalam proses fotosintesis. Tinggi suhu dapat menaikkan laju maksimum fotosintesis, sedangkan pengaruh secara tidak langsung yakni dalam merubah struktur hidrologi kolom perairan yang dapat memengaruhi distribusi fitoplankton. Peningkatan suhu mengakibatkan peningkatan viskositas, reaksi kimia, evaporasi, volatilisasi, serta menyebabkan penurunan kelarutan gas dalam air (gas O2, CO2, N2, CH4). Kisaran suhu optimum bagi pertumbuhan nekton di perairan adalah 20˚C - 30˚C (Sagala, 2019).

Kecerahan

Kecerahan air tergantung pada warna dan kekeruhan. Kecerahan merupakan ukuran transparasi yang ditentukan secara visual dengan menggunakan secchi disk, dimana nilai kecerahan dinyatakan dalam satuan meter.

Nilai ini sangat dipengaruhi oleh keadaan cuaca, waktu pengukuran, kekeruhan,

dan padatan tersuspensi, serta ketelitian orang yang melakukan pengukuran.

Pengukuran kecerahan sebaiknya dilakukan saat cuaca cerah (Gonawi, 2009).

Semakin tinggi kecerahan atau semakin rendah kekeruhan maka semakin tinggi penetrasi cahaya matahari masuk ke perairan. Dengan demikian proses fotosintesis di air tersebut dapat berlangsung dan memudahkan interaksi mikroorganisme yang membutuhkan oksigen. Indikasi yang sering digunakan suatu perairan adanya mikroba ditandai masih ada pertumbuhan alga di perairan tersebut. Hal tersebut dapat diukur secara dengan mengetahui tingkat kompensasi.

Tingkat kompensasi dapat ditentukan dengan cara kultur alga dalam botol selama 24 jam (Mudatsir, 2007).

Kedalaman

Kedalaman merupakan salah satu parameter fisika, dimana semakin dalam perairan maka intensitas cahaya yang masuk semakin berkurang. Kedalaman merupakan wadah penyebaran atau faktor fisik yang berhubungan dengan banyak air yang masuk kedalam suatu sistem perairan. Pengukuran kedalaman dilakukan dengan paralon berskala. Paralon berskala ini dimasukan ke dalam perairan dengan posisi tegak sampai menyentuh dasar perairan. Batas yang ditunjukan pada paralon adalah kedalaman dari perairan tersebut (Gonawi, 2009).

Kedalaman sungai harus selalu diukur secara periodik, karena kedalaman sungai berperan penting untuk menampung air hujan dalam jumlah besar sehingga dapat mengurangi terjadinya banjir. Pada saat ini pengukuran kedalaman sungai sering kali hanya menggunakan sebuah galah yang cukup panjang yang dimasukkan ke dalam sungai dan harus dilakukan pengukuran diberbagai tempat agar mendapatkan data untuk membandingkan bagian-bagian terdalam pada

sungai, hasil pengukuran menggunakan cara ini tidak akurat dan sangat berbahaya karena kita harus menyeberangi sungai dimana terdapat bagian-bagian sungai yang sangat dalam yang belum kita ketahui dan juga harus melawan arus sungai yang sangat deras (Susilo et al. 2015).

Kecepatan Arus

Arus air merupakan salah satu fakor yang cukup besar pengaruhnya terhadap kualitas air, khususnya terhadap proses difusi oksigen dari udara dan penimbunan bahan organik. Kekuatan besarnya kecepatan arus air dapat menimbulkan riak atau gelombang pada permukaan air, yang akan mengakibatkan proses difusi oksigen dari udara ke dalam air. Arus air juga dapat mengakibatkan pengadukan air dari permukaan ke dasar air sehingga akan menghilangkan kemungkinan terjadinya pelapisan temperatur air, menghindari kondisi anaerob di dasar air serta dapat mengencerkan senyawa-senyawa hasil metabolisme. Secara tidak langsung arus air juga mencegah tertimbunnya bahanbahan organik di tempat-tempat tertentu pada bagian sungai atau kolam (Mudatsir, 2007).

Arus mempunyai peranan yang sangat penting terutama pada perairan mengalir (lotik). Hal ini berhubungan dengan penyebaran organisme air, gas-gas terlarut dan mineral yang terdapat di dalam air. Kecepatan aliran air yang mengalir akan bervariasi secara vertikal Arus air akan semakin lambat bila semakin dekat ke bagian dasar sungai. Kecepatan aliran air yang mengalir beragam dari permukaan dasar, meskipun berada dalam saluran buatan yang dasarnya halus tanpa rintangan apapun. Perubahan air seperti itu tercermin dalam modifikasi yang diperlihatkan oleh organisme yang hidup di dalam air yang mengalir, yang kedalamannya berbeda (Siregar, 2009).

Kecepatan arus merupakan faktor penting di perairan. Sungai berdasarkan kecepatan arusnya yaitu: arus yang sangat cepat (>1 m/detik), arus yang cepat (0.5-1 m/detik), arus yang sedang (0,25-0,5 m/detik), arus yang lambat (0,1-0,25 m/detik), dan arus yang sangat lambat (<0,1 m/detik). Arus dalam perairan mengalir merupakan faktor pembatas karena plankton-plankton yang merupakan makanan bagi nekton tidak dapat bertahan dan cendrung untuk terbawa arus. Hal ini merupakan factor pembatas bagi jenis nekton untuk memperoleh makanan (Gonawi, 2009).

Derajat keasaman (pH)

Derajat keasaman (pH) merupakan salah satu parameter penentu produtivitas suatu perairan. Perubahan pH sedikit saja dari pH alami akan memberikan petunjuk terganggunya sistem penyangga. Hal ini dapat menimbulkan perubahan dan ketidakseimbangan kadar CO2 yang dapat membahayakan kehidupan biota perairan (Anwar, 2008).

pH merupakan aktivitas relatif ion hidrogen dalam larutan dan merupakan ukuran keasaman atau basa suatu larutan. Besarnya nilai pH antara 0 – 14 dimana pH dibawah 7 bersifat asam dan diatas 7 bersifat basa dan nilai pH 7 adalah netral.

pH dengan nilai 6,5-8,2 merupakan kondisi optimum untuk mahluk hidup. pH yang terlalu asam atau terlalu basa akan mematikan makhluk hidup . Air hujan sebagai sumber air sungai secara alami bersifat asam (pH di bawah 7,0) biasanya sekitar 5,6 tetapi di beberapa daerah meningkat ke tingkat berbahaya antara 4,0 dan 5,0 pH akibat polutan di atmosfer yang diakibatkan oleh karbon hasil pembakaran fosil di udara. Berubahnya nilai pH dimungkinkan oleh pencemaran

yang dihasilkan oleh industri, domestik atau kondisi alam. Air sungai di Indonesia umumnya memiliki nilai pH antara 2 – 10 (Novilyansa, 2017).

Pengukuran pH air dapat dilakukan dengan cara kalorimeter, dengan kertas pH dan dengan pH meter. Pengukurannya tidak begitu berbeda dengan pengukuran pH tanah. Hanya saja yang perlu diperhatikan adalah cara pengambilan sampelnya yang benar sehingga nilai pH yang diperoleh benar. Nilai pH air yang normal adalah netral, yaitu antara 6 sampai 8, sedangkan pH air yang tercemar, misalnya oleh limbah cair berbeda-beda nilainya tergantung jenis limbahnya dan pengolahannya sebelum dibuang (Siregar, 2009).

Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen/ DO)

Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen/DO) yaitu jumlah mg/l gas oksigen yang telarut dalam air. Kadar oksigen yang terlarut di perairan alami bervariasi, tergantung pada suhu, salinitas, turbulensi air, dan tekanan atmosfer. Semakin

Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen/DO) yaitu jumlah mg/l gas oksigen yang telarut dalam air. Kadar oksigen yang terlarut di perairan alami bervariasi, tergantung pada suhu, salinitas, turbulensi air, dan tekanan atmosfer. Semakin

Dokumen terkait