• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA Kebutuhan Nutrien Ikan Lele

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

TINJAUAN PUSTAKA Kebutuhan Nutrien Ikan Lele

Protein adalah merupakan komponen utama jaringan dan organ dari tubuh hewan dan juga senyawa nitrogen lainnya seperti asam nukleat, enzim, hormon dan vitamin, sehingga keberadaannya harus secara terus menerus disuplai dari makanan untuk pertumbuhan dan perbaikan jaringan tubuh (Furuichi 1988). Jumlah protein yang diperlukan dalam pakan secara langsung dipengaruhi oleh komposisi asam amino pakan. Ikan membutuhkan 10 jenis asam amino esensial untuk menghasilkan pertumbuhan yang maksimal yaitu arginin, histidin, metionin, lisin, fenilalanin, isoleusin, treonin, triptofan dan valin. Asam amino esensial adalah asam amino yang tidak dapat disintesis oleh tubuh sehingga harus tersedia dalam pakan (NRC 1983).

Kualitas suatu protein sangat ditentukan oleh kualitas dan kuantitas dari asam amino khususnya bioavailabilitas dari asam amino tersebut. Asam amino yang terserap dalam usus akan digunakan untuk: 1) Mengganti dan memelihara jaringan protein dan senyawa nitrogen; 2) pertumbuhan (peningkatan protein tubuh); dan 3) sebagai sumber energi. Peranan paling penting adalah untuk memelihara jaringan tubuh dan untuk pertumbuhan sedangkan sebagai sumber energi dapat diganti oleh karbohidrat dan lemak (Furuichi 1988).

Jumlah asam amino yang digunakan untuk pertumbuhan akan semakin menurun seiring dengan penurunan tingkat pertumbuhan. Jumlah asam amino yang dapat digunakan untuk pertumbuhan dan maintenance sangat tergantung dari kualitas protein, tingkat asupan protein dan kandungan energi yang dapat dicerna dari pakan serta keadaan fisiologi ikan itu sendiri. Asam amino yang digunakan sebagai sumber energi akan dideaminasi dan dilepaskan sebagai amonia yang akan dikeluarkan melalui insang. Pakan yang mempunyai kualitas protein yang baik akan menghasilkan eskresi nitrogen yang lebih sedikit dari pada pakan yang mempunyai kualitas protein yang buruk (Furuichi 1988).

Protein atau asam amino dibutuhkan secara terus menerus oleh ikan untuk membentuk jaringan baru (pertumbuhan dan reproduksi) atau untuk mengganti protein yang hilang (pemeliharaan). Ketidakcukupan protein dalam makanan akan

menurunkan pertumbuhan atau hilangnya bobot badan karena diambilnya protein dari jaringan yang kurang penting untuk memelihara jaringan yang lebih penting. Disisi lain jika protein terlalu banyak disuplai dari makanan, maka hanya sebagian kecil yang akan digunakan untuk membuat protein baru dan sisanya akan dikonversi menjadi energi (Halver dan Hardy 2002). Hal ini berarti bahwa pemanfaatan protein untuk pertumbuhan menjadi tidak efisien.

Respon biologi yang penting dari organisme akuatik yang diberi pakan yang mengandung bahan pengganti tepung ikan antara lain adalah feed intake, perolehan bobot tubuh, rasio konversi pakan, komposisi tubuh, karakteristik sensory, tingkat kelulusan hidup dan respon imun (Yu 2005).

Ikan, seperti juga dengan hewan lainnya, tidak mempunyai kebutuhan protein yang pasti, tapi membutuhkan komposisi asam amino esensial dan non esensial yang seimbang. Tingkat protein yang optimal dalam pakan untuk ikan dipengaruhi oleh keseimbangan protein dengan energi total pakan, komposisi asam amino dan kecernaan protein. Kebutuhan akan protein dipengaruhi oleh spesies, ukuran dan umur serta suhu air. Kebutuhan akan protein akan menurun seiring dengan peningkatan ukuran dan pertambahan umur dan meningkat seiring dengan peningkatan suhu (Halver dan Hardy 2002).

Kebutuhan protein ikan salah satunya dipengaruhi oleh ukuran dan umur ikan. Kebutuhan protein kasar Clarias batrachus adalah 30% sedangkan untuk Clarias gariepinus adalah 40%, dengan energi total 18,6 kJ/g dan rasio energi protein 21,5 (mg/Kj) (Hasan 2000). Nursyam (1991) yang melakukan penelitian dengan menggunakan Clarias batrachus yang berukuran 1 g mengatakan bahwa bahwa secara umum kadar protein yang paling baik untuk Clarias batrachus adalah 40% dengan menggunakan kasein dan gelatin sebagai sumber protein dengan kandungan energi pakan adalah 3000 kkal/kg pakan. Penelitian yang dilakukan oleh Suhenda (1988) mendapatkan bahwa pakan dengan kadar protein 40% dan energi 3000 kkal/kg dapat digunakan untuk budidaya Clarias batrachus dengan bobot 1,5 g.

Kebutuhan asam amino esensial ikan dapat diperkirakan berdasarkan komposisi asam amino otot ikan (Cho 1983). Pada beberapa penelitian diperoleh bahwa komposisi asam amino ikan tidak jauh berbeda dengan ik an lainnya, seperti pada ikan flat fish (atlantic halibut, yellowtail flounder dan japanese

flounder) (Kim dan Santosh 2000). Lemak berfungsi sebagai sumber energi dan sumber asam lemak esensial yang diperlukan untuk pertumbuhan. Lemak juga dapat membantu penyerapan vitamin yang larut dalam lemak. Ikan lele (Clarias batrachus Linn) memerlukan asam linoleat dan asam linolenat sebesar 1,53 – 1,56 % dan 0,60 – 0,73 % dalam pakannya (bobot kering) (Mokoginta 1986).

Bahan Pakan Sumber Nutrien/Protein

Tepung Bungkil Kedelai (Soybean Meal/SBM)

Komposisi proksimat SBM dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Komposisi proksimat SBM

Komposisi proksimat Kandungan (%) Air Abu 10,57 6,95 Protein 35,21 Lemak Serat kasar BETN 3,12 10,57 33,58 Hasil analisa (2006).

SBM mempunyai profil asam amino yang terbaik dibanding semua sumber protein nabati. Asam amino pembatas pada SBM adalah metionin dan

lisin sedangkan arginin dan phenilalanin mempunyai jumlah yang cukup (Tabel 2). SBM memiliki makromineral dan mikromineral yang rendah termasuk

fosfor jika dibandingkan dengan tepung ikan (NRC 1983). SBM adalah merupakan sumber vitamin B (Hertrampf dan Felicitas 2000; Bureau 2005: Cheng et al. 2003).

Tabel 2. Komposisi asam amino esensial SBM (% protein)

Asam Amino Esensial SBM

Arginin 7,15 Histidin 1,93 Isoleusin 4,66 Leusin 8,22 Lisin 6,28 Metionin 1,29 Phenilalanin 5,33 Threonin 4,09 Tryptophan 0,49 Valin 4,42

Selain itu SBM memiliki kandungan anti nutrien yaitu protease inhibitors, lektin, phytic acid, saponin, phytoestrogen, antivitamin dan allergens. Anti nutrien ini dapat mempengaruhi penggunaan dan pencernaan protein, penggunaan mineral, antivitamin dan bersifat racun (Francis 2001).

Tingkat kecernaan energi SBM oleh ikan pada umumnya berkisar antara 2,572 sampai 3,340 kkal/kg (10,8 sampai 14,0 MJ/kg). Pada ikan channel catfish tingkat kecernaan protein kasar SBM adalah sebesar 81,8%, dan tingkat kecernaan energinya adalah 51,4%. Namun demikian kecernaan protein tidak selalu menunjukkan kecernaan asam amino esensial. Berdasarkan data yang tersedia, kecernaan asam amino dari SBM oleh ikan channel catfish lebih baik dari pada kecernaan proteinnya (Hertrampf dan Felicitas 2000). Tingkat kecernaan nutrien SBM pada ikan- ikan salmon air tawar lebih tinggi dibandingkan ikan salmon yang ada di air laut (Usher et al. 1990).

Penggantian tepung ikan sebanyak 50% dengan menggunakan SBM pada pakan rainbow trout menghasilkan pertumbuhan yang tidak berbeda nya ta dengan pakan kontrol (fish meal/FM 32,8%). Penggantian tepung ikan sampai 75% akan menghambat pertumbuhan namun tingkat FCR tidak berbeda secara signifikan dengan pakan yang mengandung FM 32,8%. Penggantian total FM akan menurunkan pertumbuhan dan mempertinggi nilai FCR sedangkan penambahan asam amino metionin hidroxy analog pada pakan ikan rainbow trout yang menggunakan SBM sebagai pengganti FM tidak mempengaruhi pertumbuhan dan FCR (Cheng et al. 2003). Pada ikan red snapper (Lutjanus argentimaculatus) penggunaan SBM untuk mengganti FM juga dapat mencapai 50% (Catacutan dan Pagador 2004). Suprayudi et al. (1999) menyatakan bahwa penggantian tepung ikan dengan defatted soybean meal pada ikan gurami (Osphronemus gouramy) sebesar 50% memberikan palatabilitas yang baik. Peningkatan SBM sebesar 75% akan mereduksi palatabilitas dan acceptabilitas.

Tepung Bungkil Sawit (Palm Kernel Meal/PKM)

Tepung bungkil sawit adalah merupakan produk sampingan dari minyak sawit. PKM lebih tepat disebut sebagai sumber karbohidrat dibanding sebagai sumber protein karena kandungan proteinnya yang rendah sedangkan kandungan karbohidratnya tinggi.

Komposisi proksimat PKM dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Komposisi proksimat PKM

Komposisi proksimat Kandungan (%) Air Abu 4,92 4,95 Protein 14,27 Lemak Serat kasar BETN 9,51 25,19 41,17 Hasil analisa (2006).

PKM mempunyai kandungan protein yang berkisar antara 15 sampai 18% dan mengalami kekurangan lisine dan metionin (Tabel 4). Kandungan serat kasar dari PKM sangat tinggi dan rasio Ca:P adalah 1:2,4. PKM merupakan sumber mangan yang baik (Hertrampf dan Felicitas 2000).

Tabel 4. Komposisi asam amino esensial PKM (% protein)

Asam Amino Esensial PKM

Arginin 2,32 Histidin 0,32 Isoleusin 0,64 Leusin 1,19 Lisin 0,54 Metionin 0,33 Phenilalanin 0,79 Threonin 0,61 Tryptophan 0,20 Valin 0,82

Sumber : PKM (Hertrampf dan Felicitas 2000).

PKM mengandung sedikitnya 60% NSP (non-starch polysaccharides) yang merupakan faktor pembatas utama dalam penggunaannya pada pakan hewan monogastric karena tidak dapat dicerna (Choct 2001; Choi et al. 2004 ). Pada juvenil turbot (Psetta maxima) keberadaan NSP dan faktor anti nutrien lainnya dalam pakan yang menggunakan tepung Lubinus albus sebagai pengganti tepung ikan diduga memperlambat retensi pakan dalam lambung sehingga mempengaruhi

tingkat pengambilan pakan (Fournier 2004). NSP dapat mengganggu pertumbuhan karena NSP akan terikat dalam air dan membentuk semacam gum di dalam intestine, meningkatkan viskositas baha n-bahan yang ada dalam usus dan menghalangi aktifitas enzim pencernaan sehingga berpotensi menjadi antinutrisi jika berada dalam pakan ikan (Francis et al. 2001)

Penggunaan PKM 20% (bobot kering) dalam pakan ikan nila tilapia (Oreocromis sp) tidak menunj ukkan pengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan efisiensi pakan bila dibandingkan dengan pakan kontrol yang menggunakan FM 21,19 dan SBM 30,73% sebagai sumber protein, namun jika PKM diberi perlakuan dengan menggunakan enzim maka penggunaan PKM 40 % akan memberikan pertumbuhan yang lebih baik dari penggunaan PKM tanpa ada perlakuan. Semakin tinggi penggunaan PKM dalam pakan ikan nila tilapia

(Oreochromis sp) akan semakin menurunkan tingkat kecernaan protein, lemak

dan energi (Ng 2002).

Penelitian yang dilakukan oleh Lim (2001) pada ikan tilapia (Oreocromis

mossambicus) menunjukkan bahwa penggunaan PKM 30% dalam pakan

memberikan pertumbuhan yang tidak berbeda nyata dengan ikan yang diberi pakan kontrol yang menggunakan tepung ikan 43% dan SBM 20,75% sebagai sumber protein walaupun tingkat kecernaan proteinnya lebih rendah dari pakan kontrol. Semakin tinggi penggunaan PKM dalam pakan akan menurunkan kecernaan bahan kering pakan dan kecernaan proteinnya.

Pada juvenil Labeo senegalensis pemberian pakan yang menga ndung PKM 10% dalam pakan menunjukkan pertumbuhan dan tingkat konversi pakan yang sama dengan pakan kontrol yang hanya menggunakan tepung ikan sebagai sumber protein meskipun tingkat kecernaan pakannya lebih rendah. Penggunaan PKM lebih dari 10% akan menekan pertumbuhan juvenil Labeo senegalensis (Omoregie 2001). Juvenil patin jambal siam (Pangasius djambal) dapat menggunakan PKM sebanyak 27% dalam pakan dengan sumbangan protein dari PKM dapat mencapai 11% (Afifah 2006).

Hertrampf dan Felicitas (2000) menyarankan penggunaan PKM dalam pakan sebanyak 5 sampai 10 % untuk ikan herbivora dan 3 sampai 8 % untuk ikan karnivora.

Tepung Tulang dan Daging (Meat and Bone Meal/MBM)

MBM adalah merupakan suatu sumber protein hewani yang mempunyai komposisi kimia yang sangat bervariasi yang bergantung pada kualitas dari bahan bakunya. Tingginya bagian tulang dan/atau lemak dalam bahan dasar MBM akan menyebabkan tingginya kadar abu dan/atau kandungan lemak yang dapat mereduksi kandungan protein yang dihasilkan (Hertrampf dan Felicitas 2000).

Komposisi proksimat MBM dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Komposisi proksimat MBM

Komposisi Proksimat Kandungan (%) Air Abu 9,36 2,21 Protein 58,06 Lemak Serat kasar BETN 5,36 2,02 22,98 Hasil analisa (2006).

Kisaran komposisi nutrien MBM sangat tinggi, sehingga dalam penggunaannya sebaiknya MBM terlebih dahulu dianalisa pada setiap kali akan menggunakan tepung tersebut. Hal ini disebabkan karena terjadinya perbedaan bahan baku (daging) dan pengolahan yang dilakukan terhadap bahan baku (Hertrampf dan Felicitas 2000; Yu 2005).

Pakan dengan sumber protein hewani yang berasal dari produk sampingan hewan seperti, tepung darah, tepung bulu, dan MBM kemungkinan kekurangan beberapa asam amino karena bahan-bahan ini cenderung mempunyai profile asam amino (Tabel 6) yang tidak sempurna dan pola kecernaan asam amino yang bervariasi (Bureau 2005).

Tabel 6. Komposisi asam amino esensial MBM (% protein)

Asam Amino Esensial MBM

Arginin 7,93 Histidin 1,63 Isoleusin 2,64 Leusin 5,49 Lisin 5,08 Metionin 1,42 Phenilalanin 3,05 Threonin 3,25 Tryptophan 2,24 Valin 4,07

Isoleusin dan metionin+sistein adalah merupakan asam amino pembatas jika dibandingkan dengan komposisi asam amino pada protein telur. Semakin tinggi kandungan abu maka kandungan makromineral juga akan meningkat sedangkan kandungan mikromineral (trace) lebih sedikit karena umumnya mikromineral disimpan dalam daging. Kandungan vitamin MBM sangat rendah (Hertrampf dan Felicitas 2000).

Tingkat kecernaan energi MBM secara umum pada ikan lebih rendah 8 sampai 10% dari pada tepung ikan sedangkan kecernaan fosfornya adalah 63 sampai 70%. Kecernaan semu protein MBM pada ikan trout, salmon, Japanese

seabass dan striped bass adalah sebesar 83% sedangkan kecernaan energinya

sebesar 73% (Yu 2005). Pada ikan silver perch (Bidyanus bidyanus) tingkat kecernaan semu proteinnya adalah 71,5%, energi 75,2% dan bahan kering 50,1% (Allan et al. 2000). Kecernaan protein MBM pada berbagai pene litian relatif tinggi namun demikian kecernaan bahan kering MBM relatif rendah (40 sampai 50%) yang disebabkan karena tingginya kadar abu (25 sampai 30% dan fosfor 4 sampai 5 %) (Bureau 2005).

Pada pakan benih ikan nila (Oreochromis niloticus), MBM dapat menggantikan 25% tepung ikan tanpa menimbulkan efek negatif terhadap pertumbuhannya (Tacon et al. 1984). Pada benih tilapia (Oreochromis

mossambicus) penggantian sebagian tepung ikan dengan menggunakan MBM

memperlihatkan pertumbuhan yang sama dengan ikan yang diberi pakan dengan menggunakan 100% tepung ikan, akan tetapi apabila dilakukan penggantian total tepung ikan dengan menggunakan MBM akan memberikan pertumbuhan yang buruk. Pertumbuhan yang tidak baik akan ditunjukkan oleh juvenil ikan common carp jika dalam pakannya digunakan MBM dengan tingkat substitusi FM lebih dari 70% (Hertrampf dan Felicitas 2000). Tepung ikan pada pakan catfish dapat diganti dengan MBM sebanyak 80%, tilapia 70%, eel 30%, juvenil common carp 20%; dan yearling common carp 70% (Yu 2005).

Beberapa literatur menunjukkan bahwa penggunanan MBM dibawah 50% sebagai substitusi protein FM tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap konsumsi pakan, survival rate, komposisi tubuh dan sensor ikan namun efisiensi konversi pakan pada umumnya akan menurun sebanyak 5% yang

kemungkinan disebabkan oleh menurunnya kecernaan pakan, profile asam amino, kandungan energi dan kandungan lemak (Yu 2005).

Kandungan asam amino ensensial pada MBM lebih rendah daripada FM, namun demikian perbedaan kandungan tersebut dapat diperbaiki dengan penggunaan asam amino kristallin atau dengan mencampurnya dengan bahan protein lainnya. MBM tidak mengandung faktor anti nutrien, phytate fosforus, karbohidrat kompleks, non-palatabel dan tidak berbahaya (Yu 2005).

Penggunaan MBM di dalam pakan dibatasi oleh kandungan abunya yang tinggi. Jumlah MBM yang direkomendasikan untuk digunakan dalam pakan budidaya ikan adalah 10,0 sampai 15,0% (Hertrampf dan Felicitas 2000).

BAHAN DAN METODE

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Basah Nutrisi Ikan Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai Juli 2006.

Pakan Uji

Pakan uji berbentuk pelet dan terdiri dari lima jenis pakan dengan komposisi jumlah bahan baku yang berbeda. Kandungan protein pakan berkisar 30% dengan CP ratio yang berkisar 14,28 kkal GE/g protein. Semua pakan menggunakan 20% tepung ikan dalam pakan. Pakan A sebagai kontrol menggunakan 31% SBM dalam pakan tanpa menggunakan PKM. Pakan B, C, D dan E menggunakan PKM sebagai berikut :

Perlakuan A : 0% PKM Perlakuan B : 8 % PKM Perlakuan C : 12% PKM Perlakuan D : 16% PKM Perlakuan E : 18% PKM

Minyak ikan dan minyak kedelai digunakan sebagai sumber lemak dengan perbandingan 0,8:1,4. Komposisi pakan uji dan hasil analisa proksimat pakan uji disajikan pada Tabel 7 dan 8.

Tabel 7. Komposisi pakan uji (g/100 g pakan)

Perlakuan (% PKM) Bahan Penyusun

A(0) B(8) C(12) D(16) E(18) Tepung ikan 20,0 20,0 20,0 20,0 20,0 Bungkil kedelai 31,0 24,0 16,0 8,0 0,0 Bungkil kelapa sawit 0,0 8,0 12,0 16,0 18,0 Tepung tulang dan daging 0,0 3,0 7,0 11,0 15,0 Pollard 36,0 32,0 32,0 32,0 34,0 Tapioka 3,0 3,0 3,0 3,0 3,0 Minyak ikan 1,8 1,8 1,8 1,8 1,8 Minyak kedelai 3,2 3,2 3,2 3,2 3,2 Vitamin mix 1,5 1,5 1,5 1,5 1,5 Cholin clorida 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 Mineral mix 3,0 3,0 3,0 3,0 3,0

Tabel 8. Komposisi proksimat pakan (% bobot kering) Perlakuan (% PKM) Komposisi Proksimat A(0) B(8) C(12) D(16) E(18) Protein 30,69 30,74 30,41 30,43 30,65 Lemak 9,37 9,32 9,44 10,65 10,74 BETN1 40,86 41,34 43,81 42,08 42,20 Serat kasar 9,67 9,08 7,96 8,56 8,54 Abu 9,42 9,51 8,32 8,28 7,87 Kadar Air 6,38 7,17 9,08 9,20 8,67 Energi (kkal GE/100g)2 427,42 429,27 438,89 443,05 445,61 Energi/protein

(kkal DE/g protein)

13,93 13,96 14,43 14,56 14,54

1

Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen 2

Total energi tercerna (GE/Gross Energy) dihitung berdasarkan nilai ekuivalen untuk protein 5,6 kkal g-1, lemak 9,4 kkal g-1, dan BETN 4,1 kkal g-1.

Pemeliharaan Ikan dan Pengumpulan Data

Ikan uji yang digunakan adalah ikan lele (Clarias sp) dengan bobot 18,4+0,3 g dengan kepadatan 10 ekor per akuarium. Wadah pemeliharaan menggunakan 15 akuarium yang berukuran 50×40×35 cm dengan volume 60 liter yang dilengkapi dengan sistem aerasi dan sirkulasi air. Ikan yang akan dijadikan sampel diadaptasikan selama 20 hari sebelum diberi pakan uji.

Air yang digunakan untuk pemeliharaan terlebih dahulu diendapkan dan diaerasi minimal selama 24 jam dalam bak penampungan. Pengukuran kualitas air dilakukan tiga kali yaitu pada awal, pertengahan dan akhir penelitian. Hasil pengukuran kualitas air : Suhu 30 sampai 32oC, pH 6,15 sampai 7,2, amonia 0,5 sampai 1,05 mg/l. Kisaran hasil pengukuran kualitas air yang diperoleh masih dalam batas toleransi yang dapat mendukung pertumbuhan ikan lele (Clarias sp).

Pemeliharaan ikan dilakukan selama 60 hari. Selama masa pemeliharaan ikan diberi pakan sesuai perlakuan sampai kenyang (at satiation) sebanyak tiga kali sehari yaitu pada jam 06.00, 12.00 dan 18.00 WIB.

Pengukuran bobot dilakukan pada awal dan akhir penelitian. Bobot yang diukur adalah bobot biomassa yang kemudian dirata-ratakan untuk setiap ekor ikan. Pada saat penimbangan, ikan terlebih dahulu dibius dengan menggunakan

2-phenoxy ethanol 0,5 mg/liter untuk mengurangi stress pada ikan. Sebelum

Pengukuran bobot dilakukan untuk mengetahui tingkat pertumbuhan. Jumlah pakan yang diberikan selama penelitian dihitung untuk mengetahui tingkat konsumsi pakan dan perhitungan efisiensi pakan.

Analisis Kimia

Analisis kimia dilakukan untuk mengetahui komposisi proksimat bahan baku pakan, pakan, tubuh ikan, hati dan feses. Bahan baku pakan diproksimat sebagai dasar penyusunan pakan sedangkan pakan yang telah dibentuk juga diproksimat untuk mengecek komposisi proksimatnya. Analisa proksimat tubuh dan hati dilakukan pada awal dan akhir penelitian yang bertujuan untuk menghitung tingkat retensi protein dan retensi lemak tubuh sedangkan proksimat hati dilakukan untuk mengetahui terjadinya penumpukan lemak pada hati. Analisa proksimat feses dilakukan untuk menghitung kecernaan total pakan dan kecernaan protein pakan. Analisa proksimat yang dilakukan terdiri atas : protein, lemak, sarat kasar, abu, bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) dan kadar air. Khusus untuk hati, analisa proksimatnya hanya menghitung kandungan lemak, protein dan air sedangkan analisa proksimat feses hanya mengukur kandungan protein.

Analisa proksimat untuk protein kasar dilakukan dengan metode Kjeldhal lemak dengan metode ekstraksi menggunakan alat Soxhlet; abu dengan menggunakan pemanasan dalam tanur pada suhu 400 sampai 600 oC, serat kasar menggunakan metode pelarutan sampel dengan asam dan basa kuat serta pemanasan, dan; kadar air dengan menggunakan metode pemanasan dalam oven pada suhu 105 sampai 110oC. Lemak hati diproksimat dengan menggunakan metode Folch et al. (Takeuchi 1988). Prosedur analisa dapat dilihat pada Lampiran 1.

Histologi Hati

Histologi hati dilakukan untuk melihat terjadinya penumpukan lemak dan perbedaan keadaan hepatosit pada setiap perlakuan. Pengambilan sampel hati dilakukan pada akhir penelitian. Hati langsung diambil sesaat setelah ikan mati dan dimasukkan dalam larutan Bouin. Pembuatan preparat histologi hati

dilakukan dengan metode pewarnaan hematoksilin-eosin. Prosedur histologis hati dapat dilihat pada Lampiran 2. Hasil histologi selanjutnya diamati dengan mikroskop pada pembesaran 1000x.

Uji Kecernaan Pakan

Uji kecernaan pakan dilakukan setelah masa perlakuan untuk respon pertumbuhan selesai (setelah 60 hari). Pakan yang diberikan adalah pakan perlakuan yang telah diberi Cr2O3 0,7%. Sebelum pengambilan feses, ikan diadaptasikan selama 10 hari dengan pakan uji. Pemberian pakan uji dilakukan sampai kenyang dan pengambilan feses dilakukan 2 jam setelah pemberian pakan. Pengambilan feses dilakukan dengan metode penyiponan. Pengumpulan feses dilakukan selama 10 hari.

Pengukuran Eskresi Total Amonia Nitrogen (TAN)

Pengukuran total amonia nitrogen (TAN) dilakukan untuk mengetahui besarnya total amonia nitrogen (NH3-N) yang dieskresikan oleh ikan. Pengukuran TAN dalam air menggunakan metode Phenate. Ikan uji ditimbang kemudian dipuasakan selama 24 jam. Koreksi konsentrasi amonia di air selama pengukuran TAN dilakukan dengan menyediakan akuarium yang diisi air tanpa ikan sebagai kontrol. Pengambilan sampel air dilakukan setelah ikan diberi pakan sampai kenyang (jam ke 0). Pengukuran TAN berikutnya dilakukan setiap jam sampai jam kelima. Selama pengukuran berlangsung, aerasi dan sistem sirkulasi dihentikan. Untuk menghindari terjadinya pengaruh dari luar (difusi oksigen atau lepasnya amonia) maka akuarium ditutup dengan stirofoam.

Analisis Data

Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri atas 5 perlakuan dan 3 ulangan dengan jumlah satuan percobaan 15 yang berupa akuarium. Uji kecernaan dan total eskresi amonia hanya menggunakan 2 ulangan. Parameter yang akan diuji secara statistik adalah tingkat konsumsi pakan, retensi protein, retensi lemak, laju pertumbuhan harian, efisiensi pakan, tingkat kecernaan pakan, kecernaan protein dan TAN. Untuk mengetahui pengaruh pakan uji

terhadap setiap peubah yang diukur digunakan analisis ragam (uji F). Jika terdapat perbedaan antara perlakuan dilanjutkan dengan uji BNT (Duncan test). Histologi hati dianalisa secara deskriptif.

Variabel yang diuji secara statistik adalah sebagai berikut :

1. Retensi protein dan lemak (Takeuchi 1988)

RP = bobot protein tubuh akhir (g) – bobot protein tubuh awal (g) x 100 % bobot total konsumsi protein (g)

RL = bobot lemak tubuh akhir (g) – bobot lemak tubuh awal (g) x 100 % bobot total konsumsi lemak (g)

Keterangan :

RP = Retensi protein (%) RL = Retensi lemak (%)

2. Laju pertumbuhan (Huisman 1976)

Wt = Wo (1 + 0,01 a )t Keterangan :

a = Laju pertumbuhan harian

Wo = Bobot rata-rata ikan pada awal percobaan (g) Wt = Bobot rata-rata ikan pada akhir percobaan (g) t = Waktu pemeliharaan (hari)

3. Efisiensi pakan (Takeuchi 1988)

( )

[ ]

x100%

F

Bo

Bd

Bt

EP= + −

Keterangan :

Bt = Bobot ikan pada akhir percobaan (g) Bo = Bobot ikan pada awal percobaan (g)

Bd = Jumlah bobot ikan yang mati selama percobaan (g) F = Jumlah pakan yang dikonsumsi selama percobaan (g)

4. Kecernaan pakan (Apparent Digestibility Coeficient/ADC) (Takeuchi 1988)

100 feses dalam oksida Cromium % pakan dalam oksida Cromium % pakan dalam Nutrient % feses dalam Nutrient % -1 (%) ADC ×     × =

5. Eskresi amonia nitrogen/NH3-N Ekskresi NH3-N (mg/g tubuh/jam) =

[ ] [ ]

t

x

g

xV

N

NH

N

NH

t t i 3 0 3

− − −

Keterangan :

[NH3-N]ti = Konsentrasi amonia pada akhir pengamatan (mg/l) [NH3-N]to = Konsentrasi amonia pada awal pengamatan (mg/l) V = Volume air di dalam wadah (liter)

t = Lama pengambilan sampel (jam) g = Bobot ikan (g)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Hasil percobaan penggunaan tepung bungkil kelapa sawit (PKM) dalam pakan dapat mempengaruhi pertumbuhan ikan lele (Clarias sp). Data perubahan bobot rata-rata ikan per ekor dapat dilihat pada Gambar 1. Data selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 3.

0 20 40 60 80 100 120 140 A(0) B(8) C(12) D(16) E(18) Perlakuan Bobot rata-rata (g) Awal Akhir

Gambar 1. Bobot rata-rata ikan lele (Clarias sp) pada awal dan akhir percobaan Penggunaan PKM dalam pakan dapat mempengaruhi (p<0,05) tingkat konsumsi pakan, laju pertumbuhan harian, efisiensi pakan dan retensi protein, sedangkan untuk retensi lemak tidak dipengaruhi (p>0,05) oleh perlakuan (Lampiran 9,10,11,12 dan 13). Data mengenai tingkat konsumsi pakan, laju pertumbuhan harian, efisiensi pakan, retensi protein dan retensi lemak untuk setiap perlakuan disajikan pada Tabel 9 dan data selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 3,4 dan 5.

Tabel 9. Rata-rata Konsumsi Pakan (KP), Laju Pertumbuhan Harian (LPH), Efisiensi Pakan (EP), Retensi Protein (RP) dan Retensi Lemak (RL).

Perlakuan (% PKM) Para-

meter A(0) B(8) C(12) D(16) E(18)

KP (g) 113,71 + 11,54a 1 05,40 + 7,09a 85,00 + 6,63b 62,66 + 2,00c 62,39 + 5,38c

LPH (%) 3,11 + 0,22a 3,01 + 0,13a 2,56 + 0,13b 2,09 + 0,06c 2,00 + 0,19c

EP (%) 79,01 + 4,19ab 82,05 + 2,83a 73,38 + 2,47b 68,39 + 1,50bc 63,34 + 6,81c

RP (%) 34,22 + 2,26a 36,13 + 2,29a 30,59 + 2,23b 31,23 + 1,51b 27,52 + 1,57c

RL (%) 55,42 + 9,49a 58,72 + 6,50a 55,32 + 4,03a 53,42 + 1,01a 50,77 + 16,22a Keterangan: Huruf superskrip dibelakang nilai standar deviasi yang berbeda pada setiap baris

Dokumen terkait