KOLESTEROL DAN HORMON PROGESTERON PADA PUYUH
TINJAUAN PUSTAKA
Katuk (Sauropus androgynus L. Merr)
Bahasa lokal tanaman katuk (Sauropus androgynus L. Merr) dikenal dengan nama
katuk (Sunda, Melayu), babing atau katukan (Jawa), simanis (Minangkabau), kerakur
(Madura) (Subekti, 2007).
Gambar 1. Tanaman Katuk
Menurut Yuliani dan Marwati (1997), daun katuk dikenal sebagai sumber vitamin A dalam bentuk karoten (provitamin A). Karoten yang telah banyak diketahui adalah alfa, beta, dan gama karoten. Karoten yang paling penting untuk manusia adalah beta karoten karena memiliki aktivitas provitamin A yang terbesar. Azis dan Muktiningsih (2006), menyatakan bahwa kandungan zat makanan katuk per 100 gram mengandung kalori 59 kal, protein 6,4 g, lemak 1 g, hidrat arang 9,9 g, serat 1,5 g, abu 1,7 g, kalsium 233 mg, phosphor 98 mg, besi 3,5 mg, karoten 10.020 µg, vitamin B dan C 164 mg, air 81 g.
Daun katuk mengandung zat-zat antinutrisi seperti tanin, saponin, alkaloid, dan flavonoid. Level tanin yang optimum perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya respon pertumbuhan yang buruk. Saponin dalam katuk dapat menurunkan permeabilitas membran sel mukosa sehingga mempengaruhi transpor aktif nutrien. Saponin mengakibatkan enzim-enzim yang terdapat dalam membran sel mukosa usus kehilangan aktivitasnya dalam membantu uptake komponen nutrien ke dalam usus. Pada kondisi tertentu flavonoid bersama dengan asam askorbat dapat memiliki aktivitas fungsional yang mendukung pertumbuhan, namun keracunan flavonoid secara farmakologis pada sisi yang lain juga dapat menurunkan penampilan ternak (Suprayogi, 1995).
Menurut Prayogo dan Santa (1997), taksonomi daun katuk adalah sebagai berikut: Divisi : Spermathophyta Sub-divisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonea Sub-Kelas : Monochlamydeae Famili : Euphorbiaceae Genus : Sauropus
Spesies : Sauropus androgynus (L.) Merr
Ciri makroskopis morfologi daun katuk yang dapat membedakan dengan jenis katuk lainnya adalah (a) daun tunggal menyerupai majemuk dengan filotaksis tersebar, (b) stipule persisten, (c) berbau aromatik lemah, (d) helai daunnya bulat telur sampai lonjong, (e) bagian atas berwarna hijau tua bercak putih, (f) bagian bawah hijau muda, (g) ujung dan pangkal daun meruncing serta (h) tulang daun menyirip (Prayogo dan Santa, 1997).
Menurut Sudiarto et al. (1997), budidaya tanaman katuk untuk komoditas komersial telah dilakukan oleh petani di desa Cilebut, Cibadak, dan Kecana, Kecamatan Semplak, Kabupaten Bogor. Budidaya tersebut dilakukan dengan bahan tanam stek berukuran 15- 20 cm pada bedengan selebar 2 m. Jarak tanam yang digunakan adalah 4-5 cm x 20 cm. Pemanenan pertama dapat dilakukan 2,5-3 bulan setelah penanaman dan panen selanjutnya berselang 40-50 hari sekali. Hal tersebut dilakukan dengan pemangkasan bagian tanaman menggunakan ketam mulai pada ketinggian 30-80 cm dari tanah. Pada panen pertama biasanya diperoleh hasil sebesar 4 juta ton/ha dan selanjutnya pada tahun pertama, yaitu setelah 6-7 kali panen dapat mencapai 21-30 ton/ha. Umur produktif tanaman katuk umumnya 5-7 tahun dan maksimal 11-12 tahun.
Suprayogi (2000) melaporkan bahwa dengan menggunakan alat GCMS daun katuk diperkirakan mengandung 7 senyawa aktif utama yang berperan penting dalam memunculkan daya khasiatnya. Ketujuh senyawa tersebut adalah (a) octadecanoic-acid, (b) 9-eicosine, (c) 5,8,11-heptadecatrienoic acid methyl ester, (d) 9,12,15- octadecatrienoic acid ethyl ester, (e) 11,14,17-eicosatrienoic acid methyl ester, (f)
enylacetatic acid, monomethyl succinate, phenylmalonic acid, cyclopentanol, 2-methyl- acetate, dan methylpyroglutamate terdapat di dalam saluran pencernaan ternak ruminansia maupun monogastrik, dari ketujuh senyawa tersebut yang dapat meningkatkan fungsi hormon reproduksi adalah senyawa androstan-17-one, 3-ethyl- 3hydroxy-5-alpha. Piliang (2002) melaporkan bahwa kandungan tepung daun katuk berbeda dengan serbuk ekstraksi daun katuk. Tepung daun katuk memiliki kandungan gizi yang lebih baik dibandingkan dengan serbuk ekstrak daun katuk kering. Daun katuk memiliki kandungan karotenoid dan provitamin A yang paling tinggi dibandingkan sayuran lain di Indonesia.
Murbei (Morus sp.)
Daun murbei merupakan produk dari tanaman murbei yang banyak dimanfaatkan dalam proses pengembangbiakan ulat sutera. Tanaman murbei dapat tumbuh mulai dari daerah dingin hingga daerah yang panas. Tanaman murbei sangat cocok ditanam pada lahan terbuka karena membutuhkan banyak cahaya untuk dapat tumbuh dengan baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi. Murbei mempunyai banyak nama lokal yaitu
kerta, kitau (Sumatera), murbai, besaran (Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali), gertu
(Sulawesi), kitaoc (Sumatera Selatan).
Tanaman murbei diklasifikasikan sebagai berikut (Samsijah, 1992) : Divisi : Spermathophyta Sub-divisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonea Ordo : Urticales Famili : Moraceae Genus : Morus Spesies : Morus sp
Tanaman murbei termasuk semak atau pohon berukuran kecil sampai sedang dengan tinggi tanaman mencapai 15 m dan diameter batang mencapai 60 cm. Tanaman murbei dapat tumbuh di daerah temperit sampai ke daerah tropik yang kering. Tanaman ini toleran tumbuh pada suhu lingkungan 5,9 sampai 27,50 C dan pH tanah dari 4,9
sampai 8,0. Di India dilaporkan bahwa tanaman murbei dapat tumbuh pada daerah pantai sampai daerah dengan ketinggian 3300 m dpl. Tanaman murbei dapat diperbanyak dengan biji, stek atau okulasi. Perbanyakan dengan biji relatif lebih mahal, tetapi menghasilkan tanaman yang lebih baik dibandingkan dengan perbanyakan melalui stek. Perbanyakan tanaman dengan stek membutuhkan 75000 sampai 120000 stek/ha, sedangkan perbanyakan dengan okulasi membutuhkan 4000 tanaman/ha. Teknik perbanyakan tanaman dengan okulasi secara eksklusif dilakukan di Jepang (Machii et al., 2002).
Gambar 2. Tanaman Murbei
Tanaman murbei mencapai ketinggian 1,3 m pada umur 10 minggu. Pemanenan pertama daun dilakukan pada umur 12 minggu setelah penanaman. Pemanenan dapat dilakukan sebanyak 10 kali/tahun untuk daerah yang beririgasi, sedangkan pada daerah tadah hujan dapat dilakukan pemanenan sebanyak 6 sampai 7 kali. Tanaman murbei dapat berproduksi dengan baik sampai berumur 15 tahun. Setelah itu, tanaman harus diremajakan. Tanaman murbei mempunyai potensi sebagai bahan pakan yang berkualitas karena potensi produksi, kandungan nutrien dan daya adaptasi tumbuhnya yang baik (Singh dan Makkar, 2002). Produksi daun murbei sangat bervariasi, tergantung pada varietas, lahan, ketersediaan air dan pemupukan. Martin et al. (2002) melaporkan produksi biomassa murbei dengan interval defoliasi 90 hari akan mencapai 25 ton BK/ha/thn dan produksi daun murbei sebesar 16 ton BK/ha/thn, sedangkan Boschini (2002) melaporkan bahwa produksi daun murbei sebesar 19 ton BK/ha/tahun.
Daun murbei kaya akan sulfur (Saddul et al., 2005). Daun murbei mengandung protein15,71 – 22,59 %, lemak 3,70 – 6,15 %, dan serat kasar 8 – 16,8 % (Ekastuti et al., 1996). Daun murbei mengandung ekdisteron, inkosteron, lupeol, β-sitosterol, ritin, morakatein, isoquersetin, skopoletin, skopolin, α-heksenal, β-heksenal, cis-β-heksenol, cis-heksanol, benzaldehid, eugenol, linanol, benzil alkohol, butilamin, trigonelin, cholin, adenin, asam amino, vitamin A, vitamin B, vitamin C, karoten, asam fumarat, asam folat, asam formiltetrahidrofili, mionositol, logam, seng, dan tembaga (LIPI, 2009).
Karakteristik Puyuh Jepang
Semua jenis puyuh berasal dari jenis yang sama yaitu Coturnix coturnix, unggas liar yang berpindah-pindah yang berasal dari Eropa, Asia, dan Afrika (Thear, 2005). Coturnix Japonica berasal dari daerah Rusia, Asia Timur, dan India yang telah didomestikasi sejak abad ke-13 (Pappas, 2002).
Puyuh (Cortunix cortunix japonica) atau japanese quail telah tersebar luas di Eropa dan Asia. Puyuh dapat dibedakan jenis kelaminnya pada umur 3 minggu berdasarkan warna kulitnya. Puyuh jantan memiliki warna bulu coklat pada bagian leher dan dada serta mencapai dewasa kelamin pada umur 5-6 minggu dengan bobot badan 100-140 gram. Puyuh betina dapat diidentifikasi dengan melihat bulu pada bagian leher dan dada yang warnanya lebih cerah. Puyuh betina mulai bertelur pada umur 35 hari pada kondisi yang baik dan memproduksi sekitar 200-300 telur per tahun (Varghese, 2007).
Puyuh memiliki kebiasaan hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Sifat reproduksinya cepat, dalam satu tahun mampu menghasilkan 3-4 generasi. Bobot badan puyuh betina dewasa mencapai 143 g/ekor. Bobot telur yang dihasilkan puyuh 10 gram per butir (Randall dan Bolla, 2008).
Puyuh merupakan hewan yang memiliki saluran pencernaan yang dapat menyesuaikan diri terhadap kondisi lingkungan. Gizzard dan usus halus puyuh memberikan respons yang fleksibel terhadap ransum dengan kandungan serat kasar yang tinggi (Starck dan Rahmaan, 2003).
relatif kecil, berkaki pendek, dan dapat diadu. Adapun klasifikasi zoologi burung puyuh menurut Pappas (2002) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia Phylum : Chordata Sub phylum : Vertebrata Class : Aves
Family : Phasianidae Sub family : Phasianidae Genus : Cortunix
Species : Cortunix cortunix japonica
Beberapa keunggulan burung puyuh diantaranya produksi telur dan dagingnya yang mempunyai nilai gizi serta rasanya yang lezat, bulunya dapat dimanfaatkan sebagai bahan aneka kerajinan atau perabot rumah tangga lainnya, termasuk kotorannya yang dapat digunakan sebagai pupuk kandang atau kompos untuk pupuk tanaman (Helsing, 2000). Puyuh akan menghasilkan telur jika kandungan kolesterol di dalam darah tinggi yang kemudian akan diubah dengan bantuan enzim spesifik menjadi hormon progesteron untuk pembentukan telur dalam jumlah yang banyak.
Kolesterol
Kolesterol berasal dari kata cholesterine yang berasal dari bahasa Yunani, chole
berarti empedu dan stereos berarti padat. Hal ini disebabkan pada saat pertama kali ditemukan dengan mengisolasinya dari batu empedu. Kolesterol merupakan kelompok sterol yang khas pada hewan. Kolesterol disintesis seperti umumnya asam lemak, yaitu dari asetil-KoA yang mengandung dua buah karbon dan terkondensasi melalui beberapa jalur yang sedikit berbeda. Asetil-KoA merupakan prekursor kecil bagi umumnya asam lemak dalam tubuh (Gurr et al., 2001). Selain sebagai bagian dari membran sel, kolesterol juga merupakan perantara metabolis yang penting sebagai (a) Substrat bagi proses pembentukan empedu (asam dan garamnya), (b) Prekursor hormon-hormon steroid seperti glukokortikoid, aldosteron, estrogen, progesteron, dan androgen dan (c)
membran sel, kolesterol tidak dibutuhkan secara kontinyu dan terjadinya siklus pergantian membran, tetapi dibutuhkan dalam jumlah yang mencukupi untuk menghasilkan empedu di hati. Keseimbangan kolesterol dalam sel dipengaruhi oleh (a)
Uptake lipoprotein langsung melalui reseptor, (b) Uptake kolesterol bebas dari lipoprotein melalui transfer lemak, (c) Sintesis kolesterol, (d) Metabolisme kolesterol, (e) Siklus perubahan kontinyu kolesterol, (f) esterifikasi kolesterol enzim asil-CoA : kolesterol asiltransferase, dan (g) pemecahan ester kolesterol oleh enzim neutral-chole esterase (Gurr et al., 2001).
Kolesterol adalah zat menyerupai lemak yang secara alami terdapat di seluruh tubuh. Kolesterol terdapat pada dinding dan membran setiap sel, termasuk otak, saraf, otot, kulit, hati, usus, dan jantung. Tubuh tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa kolesterol (Laurencio, 2002). Kolesterol merupakan sterol utama dalam lipida hewan dan dapat menghasilkan sejumlah produk oksidasi dibawah kondisi tertentu. Sejumlah kecil produk oksidasi tersebut terdapat pada daging mentah dan yang telah mengalami pemasakan.
Kolesterol merupakan bahan perantara untuk pembentukan sejumlah senyawa penting, seperti vitamin D (untuk membentuk dan mempertahankan tulang yang sehat), hormon seks (contohnya estrogen dan testosteron), dan asam empedu untuk fungsi pencernaan (Smaolin dan Grosvenor, 1997). Selain untuk proses metabolisme, kolesterol berguna untuk membungkus jaringan saraf (mielin), melapisi selaput sel, dan sebagai pelarut vitamin (Dalimartha, 2005).
Menurut Frandson (1993), jumlah kolesterol dalam darah tergantung pada sebagian besar makanan, umur, dan jenis kelamin. Selain itu, juga dipengaruhi oleh konsumsi asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh. Lemak jenuh dalam makanan meningkatkan terbentuknya kolesterol dalam hati sedangkan lemak tidak jenuh menekan tingkat kolesterol darah dalam mekanisme yang belum diketahui.
Semua jaringan tubuh mempunyai kemampuan untuk mensintesis kolesterol, namun yang paling aktif adalah hati. Kolesterol dalam makanan akan mempengaruhi biosintesis kolesterol dalam tubuh. Jika jumlah kolesterol dalam makanan kurang, sintesis kolesterol dalam hati dan usus meningkat untuk memenuhi kebutuhan jaringan dan organ lain. Sebaliknya jika jumlah kolesterol dalam makanan meningkat, sintesis kolesterol dalam hati dan usus akan menurun (Piliang dan Djojosoebagio, 2000).
Hormon Progesteron
Progesteron merupakan hormon steroid yang memiliki struktur kimia yang mirip dengan kolesterol dan sebagian besar tipe ini berasal dari kolesterol. Progestogen adalah nama umum untuk sekelompok steroid yang terdiri atas 21 rantai atom karbon (Guyton dan Hall, 1997). Progesteron merupakan hormon steroid (tidak bisa disimpan dalam tubuh) yang berasal dari kolesterol. Progesteron merupakan zat penting dalam biosintesis steroid pada semua jaringan yang mensekresi hormon steroid (Ganong, 2001).
Biosintesis progesteron dimulai dengan asetat dari kolesterol dan produk akhir yang utama dari degradasi progesteron adalah pregnanediol (Guyton dan Hall, 1997). Progesteron tidak disimpan di dalam tubuh, progesteron dipakai secara cepat atau diekskresikan, sehingga di dalam jaringan tubuh hanya terdapat dalam kadar yang
rendah. Progesteron dibawa dalam darah dalam wujud berikatan dengan albumin plasma, walaupun ada sejumlah kecil yang juga berikatan dengan globulin khusus yang mengikat progesteron (Guyton dan Hall, 1997). Progesteron dimetabolisme menjadi pregnanediol, terutama pada hati dengan cara dioksidasi, reduksi, dan hidroksilasi.
Gambar 4. Mekanisme Sintesis Hormon Progesteron(Baulieu, 1997)
Menurut Reeves (1987), fungsi progesteron adalah mempersiapkan lingkungan estrus untuk implantasi dan memelihara kebuntingan melalui peningkatan sekresi dari glandula endometrium serta menghambat motilitas miometrium uterus. Progesteron bekerja secara sinergis dengan estrogen untuk menginduksi tingkah laku birahi, merangsang sekresi kelenjar alveoli dan pertumbuhan glandula mamae. Progesteron dalam tingkat tinggi akan menghambat birahi dan ovulasi karena progesteron dapat menekan pelepasan FSH dan LH karena mempengaruhi daya kerja umpan balik negatif terhadap FSH dan LH. Konsentrasi progesteron diperkirakan tergantung pada kematangan seksual yang bisa menimbulkan peningkatan hormon gonadotropin dari kelenjar hipofisa kemudian hormon gonadotropin bisa menstimulasi sintesis progesteron dari folikel ovarium terbesar yang memiliki feedback positif terhadap hipothalamus.
Konsentrasi hormon progesteron meningkat sejalan dengan pertumbuhan folikel. Pada sistem reproduksi, progesteron memacu LH praovulasi sehingga proses ovulasi bisa terjadi, selain itu progesteron bersama estrogen diperlukan juga dalam pembentukan albumin pada saluran reproduksi (Baskt dan Bahr, 1993).
Progesteron sendiri dibentuk dalam ovarium melalui mekanisme kerja : cholesterol
–pregnolone– progesterone dan proses metabolisme progesteron terjadi di hati (Guyton dan Hall, 1997). Konsentrasi progesteron dalam plasma darah turun naik selama siklus ovulasi, apabila distimulasi progesteron yang melepaskan LH dari lobus anterior pituitary maka, akan menyebabkan ovulasi oleh aktivitas saraf pusat yang melibatkan susunan saraf pusat hipothalamus. Konsentrasi hormon progesteron meningkat 4-7 jam sebelum ovulasi (Cunningham dan Senior, 1973).
Fitosterol
Dewanti (2006), fitosterol merupakan sterol yang secara alami didapatkan dari tanaman. Secara kimiawi, fitosterol mirip dengan kolesterol yang didapat dari hewan. Sterol terdiri dari tiga gabungan cincin sikloheksan dengan berbagai macam sterol (lebih dari 40 fitosterol). Fitosterol tanaman merupakan komponen alami dari minyak tumbuhan seperti minyak biji bunga matahari dan beberapa konstituen alami dalam makanan manusia.
Menurut Silalahi (2006), fitosterol adalah steroida (sterol) yang terdapat di dalam tanaman. Kedua senyawa ini mempunyai struktur yang mirip dengan kolesterol, tetapi fitosterol mengandung gugus etil (-CH2-CH3) pada rantai cabang. Sebagaimana pentingnya fungsi kolesterol dalam membran sel tubuh manusia dan hewan, demikian juga fitosterol di dalam tanaman. Pada tanaman terdapat lebih dari 40 senyawa sterol yang didominasi oleh beberapa senyawa dari kelompok fitosterol. Fitosterol terdapat dalam bahan makanan nabati, seperti minyak, serealia, buah-buahan, dan sayur-sayuran dalam jumlah yang hanya sedikit. Oleh kerena itu senyawa fitosterol harus diisolasi dengan jumlah yang efektif untuk menurunkan kolesterol darah.
(5%) dan akan menurunkan kadar kolesterol darah. Konsumsi fitosterol per hari adalah 150-140 mg. Fitosterol utama dalam diet adalah Beta-sitosterol, kampesterol, dan stigmasterol. Fitosterol menghambat absorpsi kolesterol dari usus, meningkatkan ekskresi garam-garam empedu, atau menghindarkan esterifikasi kolesterol dalam mukosa intestinal. Fitosterol dapat menghambat sintesis kolesterol dengan memodifikasi aktivitas enzim hepatic acetyl-coa carboxylase dan cholesterol 7 – hydroxylase (Silalahi, 2006).
MATERI DAN METODE Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2010 sampai bulan Januari 2011. Analisis laboratorium kolesterol dilakukan di Laboratorium Terpadu, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Darmaga dan analisis hormon progesteron dilakukan di Laboratorium Mandapa di Bogor.
Materi Ternak
Penelitian ini menggunakan 36 ekor puyuh betina fase grower umur 7 minggu dan dilanjutkan hingga fase layer umur 11 minggu (Cortunix cortunix japonica) yang dialokasikan ke dalam 4 perlakuan dengan 3 ulangan dan setiap ulangan terdiri atas 3 ekor puyuh. Fase grower adalah puyuh umur 3 sampai dengan 7 minggu dan fase layer
adalah puyuh umur 8 sampai dengan 11 minggu. Setiap serum dari 3 ekor puyuh pada setiap ulangan yang dikomposit, sehingga diperoleh 1 sampel yang dianalisis. Jumlah 12 serum darah puyuh fase grower dan 12 serum darah fase layer siap untuk dianalisis.
Perlakuan
Perlakuan pemberian pakan puyuh yang dilakukan adalah sebagai berikut : Ransum R0 : Ransum kontrol, tanpa tepung daun katuk dan tepung daun murbei Ransum R1 : Ransum yang mengandung 10% tepung daun katuk (TDK) Ransum R2 : Ransum yang mengandung 10% tepung daun murbei (TDM)
Ransum R3 : Ransum yang mengandung 5% tepung daun katuk (TDK) dan 5% tepung daun murbei (TDM)
Susunan ransum puyuh perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 1 dan 2 serta kandungan nutrien ransum perlakuan dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 1. Susunan Ransum Puyuh Grower Bahan Makanan R0 R1 R2 R3 % Dedak Padi 50 40 40 40 Polar 6 5 5 5 Tepung Ikan 10 10 10 10 Bungkil Kedelai 28 28 28 28 Minyak 5 6 6 6 CaCO3 0,5 0,5 0,5 0,5
Tepung Daun Katuk 0 10 0 5
Tepung Daun Murbei 0 0 10 5
Premix 0,5 0,5 0,5 0,5
Jumlah 100 100 100 100
Keterangan : R0 = ransum kontrol; R1= ransum + 10% TDK; R2 = ransum + 10% TDM; R3 = ransum + 5% TDK dan 5% TDM
Tabel 2. Susunan Ransum Puyuh Layer
Bahan Makanan R0 R1 % R2 R3 Dedak Padi 50 40 40 40 Polar 6 6 6 6 Tepung Ikan 7 7 7 7 Bungkil Kedelai 24 23 23 23 Minyak 7 8 8 8 CaCO3 5,5 5,5 5,5 5,5
Tepung Daun Katuk 0 10 0 5
Tepung Daun Murbei 0 0 10 5
Premix 0,5 0,5 0,5 0,5
Jumlah 100 100 100 100
Keterangan : R0 = ransum kontrol; R1= ransum + 10% TDK; R2 = ransum + 10% TDM; R3 = ransum + 5% TDK dan 5% TDM
Tabel 3. Kandungan Nutrien Ransum Perlakuan
Keterangan : R0 = ransum kontrol; R1= ransum + 10% TDK; R2 = ransum + 10% TDM; R3 = ransum + 5% TDK dan 5% TDM
Ransum diatas berdasarkan hasil analisis di laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Metode
Pembuatan Tepung Daun Katuk dan Tepung Daun Murbei
Setelah katuk dan murbei didapatkan, dilakukan pemisahan antara daun dan batang. Kemudian, daun katuk dan daun murbei dilayukan selama 24 jam. Setelah itu, daun katuk dan daun murbei dimasukkan ke dalam oven bersuhu 600 selama 24 jam, lalu setelah kering daun katuk dan murbei digiling.
Pengambilan Sampel Darah
Pengambilan darah puyuh pada fase grower umur 7 minggu dan fase layer umur 11 minggu pada setiap perlakuan yang dimulai pada pukul 9 sampai pukul 10 pagi. Nutrien
Ransum Grower Ransum Layer
R0 R1 R2 R3 R0 R1 R2 R3 BK (%) 81,85 81,06 80,75 80,90 75,77 74,97 74,65 74,81 Abu (%) 16,91 15,01 15,15 15,08 16,22 14,29 14,44 14,37 PK (%) 23,30 25,27 24,30 24,79 19,97 21,64 20,67 21,16 SK (%) 14,57 13,49 13,43 13,46 14,40 13,32 13,26 13,29 LK (%) 3,97 3,87 3,61 3,74 3,76 3,67 3,40 3,53 Beta-N (%) 23,07 22,99 24,22 23,60 21,37 21,61 22,84 22,22 Ca (%) 3,58 3,03 2,99 3,01 5,46 4,91 4,86 4,88 P (%) 1,23 1,12 1,07 1,09 1,19 1,07 1,02 1,04 GE (kkal/kg) 3680,34 3762,27 3712,17 3737,22 3593,02 3675,58 3625,48 3650,53
Sampel darah diambil dari vena jugularis sebanyak 1 ml dengan menggunakan syringe 3 ml. Sampel darah dimasukkan ke dalam tabung tidak berheparin, kemudian disentrifuse dengan kecepatan 2500 rpm lalu serum dipisahkan dari total darah untuk dianalisis. Serum yang didapat dimasukkan ke dalam tabung eppendorf. Setiap serum dari 3 ekor puyuh pada setiap ulangan yang dikomposit sehingga, diperoleh 1 sampel yang dianalisis. Jumlah 12 serum darah puyuh fase grower umur 7 minggu dan 12 serum darah fase layer umur 11 minggu siap untuk dianalisis.
Peubah yang Diukur
Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah : 1. Konsumsi Ransum
2. Kolesterol Serum Darah
Pengukuran kolesterol menggunakan KIT dengan merek Human. Disiapkan tabung blanko berisi 10µl aquades dan 1000µl reagen kit, tabung sampel berisi 10µl serum darah dan 1000µl reagen kit. Campuran kemudian dihomogenkan selama 10 detik lalu diinkubasi selama 10 menit. Absorbansi dibaca pada spektrofotometer dengan panjang gelombang 546 nm.
3. Hormon Progesteron Serum Darah
Konsentrasi progesteron dalam serum diukur dengan radioimmunoassay (RIA) teknik fase padat, tiap sampel diambil 10µl dengan mikropipet dimasukkan ke dalam tabung yang telah dilapisi antibodi progesteron spesifik, kemudian ditambahkan 1000µl radio isotop I-125 dan diinkubasi. Setelah itu larutan dibuang dengan membalikkan tabung dan biarkan selama 3 jam dalam suhu ruang. Radioaktifitas
progesteron yang terikat dalam tabung dihitung dengan “Multi Well Gamma Counter SD 12/16”.
Rancangan Percobaan
Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) (Steel dan Torrie, 1993). Metode matematiknya adalah :
Yij = µ + Pi + єij
Keterangan:
Yij : Pengamatan perlakuan ke-i dan ulangan ke-j µ : Rataan umum
Pi : Pengaruh perlakuan ke-i
Єij : Galat perlakuan ke-i dan ulangan ke-j
Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis menggunakan sidik ragam analysis of variance
(ANOVA) (Steel dan Torrie, 1993). Jika data yang diperoleh berbeda nyata maka, diuji lanjut dengan uji jarak Duncan.
HASIL DAN PEMBAHASAN Konsumsi Pakan
Rataan konsumsi pakan pada fase grower lebih tinggi dibandingkan dengan fase
layer kecuali, pada perlakuan R3 yaitu ransum yang ditambahkan 5 % tepung daun katuk dan 5 % tepung daun murbei. Hal ini disebabkan pada fase grower lebih banyak membutuhkan asupan makanan untuk proses pertumbuhan dan pembentukan telur, sedangkan pada fase layer puyuh tidak membutuhkan untuk pertumbuhan tetapi hanya untuk memproduksi telur.
Pada perlakuan R3, tingginya konsumsi pakan pada fase layer dibandingkan dengan fase grower disebabkan karena puyuh mengalami keterlambatan dalam bertelur dibandingkan dengan perlakuan yang lainnya. Pada fase layer puyuh masih mengalami pertumbuhan dan pembentukan telur.
14,4546 14,2806 14,8774 13,896 12,3481 12,6473 10,6702 18,09 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 R0=ransum kontrol R1=ransum + 10% TDK R2= ransum + 10% TDM R3 = ransum + 5% TDK dan 5% TDM Perlakuan k on s um s i pa k a n g/ e /hr
Fase Grower Fase Layer
Gambar 5. Rataan Konsumsi Pakan Puyuh
Pengaruh Perlakuan terhadap Kandungan Kolesterol Serum
Berdasarkan hasil sidik ragam, pemberian tepung daun katuk dan tepung daun 19
murbei pada ransum tidak nyata mempengaruhi kadar kolesterol serum pada seluruh perlakuan. Hasil rata-rata pengukuran kadar kolesterol serum darah burung puyuh disajikan pada Gambar 6.
113 93 96 95 116 100 100 118 2 7 4 22 0 20 40 60 80 100 120 140 R0= kontrol R1= ransum + 10% TDK R2= ransum + 10% TDM R3= ransum + 5% TDK dan 5% TDM Perlakuan k ol e s te rol m g/ 1 0 0 m l
Fase Grower Fase Layer Selisih Fase Grower dan Fase Layer
Gambar 6. Hasil Rata-Rata Pengukuran Kolesterol Serum Darah Puyuh
Selisih kadar kolesterol serum darah puyuh fase grower dan fase layer pada perlakuan kontrol (R0) lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan yang lainnya. Puyuh yang mendapat perlakuan ransum + 10% tepung daun katuk (R1) meningkat 2,4 kali dibandingkan dengan ransum yang tidak diberi tepung daun katuk dan murbei (R0). Puyuh yang mendapat perlakuan ransum + 10% tepung daun murbei (R2) meningkat 0,7 kali dibandingkan dengan R0. Puyuh yang mendapat perlakuan ransum + 5% tepung daun katuk dan 5% tepung daun murbei (R3) meningkat 9 kali dibandingkan dengan R0. Hal ini membuktikan bahwa kombinasi tepung daun katuk dan tepung daun murbei meningkatkan kolesterol serum darah puyuh.
Kolesterol merupakan prekursor hormon progesteron. Kolesterol dibentuk melalui