BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Tinjauan Pustaka
Dalam melakukan penelitian, perlu meninjau penelitian-penelitian yang telah dilakukan terdahulu agar penelitian yang dilakukan memiliki landasan yang kuat.
Sebelum melakukan penelitian, penulis telah menelusuri beberapa penelitian yang berkenaan dengan novel Gadis Pesisir karya Nunuk Y Kusmiana. Sepanjang pengetahuan penulis penelitian yang dilakukan terhadap novel Gadis Pesisir karya
Nunuk Y. Kusmiana pernah dilakukan. Pada penelitian Tesya, Lonica Cairani (2019) dari skripsinya yang berjudul “Struktur Novel Gadis Pesisir Karya Nunuk Y.
Kusmiana (Tinjauan Struktural)” hasil penelitian menyimpulkan bahwa dalam novel Gadis Pesisir, tiap-tiap unsur yang membangun novel tersebut memiliki hubungan keterkaitan dan keterjalinan satu dengan yang lain. Hubungan tiap-tiap unsur adalah hubungan antara tokoh, alur, latar, konflik, sudut pandang, gaya bahasa, dan tema, kesemua unsur-unsur tersebut menjadikan novel Gadis Pesisir sebagai karya yang utuh.
Berdasarkan aspek sosial ekonomi penulis telah menelusuri beberapa penelitian yang berkenaan. Aspek sosial ekonomi sudah pernah diteliti. Berikut tinjauan pustakanya. Miranda, Novita Eka (2019) dari skripsinya yang berjudul
“Potret Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Dalam Novel Si Anak Cahaya Karya Tere Liye” hasil penelitian ini menyimpulkan tentang masalah-masalah sosial yang ada pada novel Si Anak Cahaya seperti adanya kemerosotan hasil panen, kurang adanya sumber daya manusia, solusi masyarakat dalam menangani permasalahan tersebut adalah dengan cara berhemat, tidak menjual beras ke kota, serta mencari pekerjaan sampingan.
Tambunan, Chorry (2017) dari skripsinya yang berjudul “Tinjauan Kondisi Sosial Ekonomi Penarik Becak Di Lingkungan Universitas Sumatera Utara” hasil penelitian ini memberikan kesimpulan mengenai sosial ekonomi penarik becak di lingkungan Universitas Sumatera Utara sebagai berikut: (1) tingkat pendidikan para penarik becak hanya di jenjang pendidikan tingkat dasar (SD dan SMP sederajat) dan pendidikan tingkat menengah (SMA sederajat). (2) pendapatan, tidak semua penarik
becak memiliki pendapatan yang rendah. Hasil analisis data yang dilakukan peneliti membuktikan bahwa dua dari lima informan memiliki penghasilan menengah diantara Rp 1.500.000,00 - Rp 2.500.000,00. (3) kepemilikan kekayaan dalam penelitian ini ialah kepemilikan barang berharga yang memiliki nilai tinggi dalam suatu rumah tangga seperti halnya uang, perhiasan, barang-barang yang bernilai jual tinggi serta kepemilikan lahan sebagai investasi kekayaan dan kendaraan pribadi. (4) tempat tinggal, dua dari lima informan telah menyandang status sosial menengah karena kedua nforman tersebut telah memiliki tempat tinggal sendiri, sedangkan tiga informan lain masih memiliki status sosial ekonomi rendah karena masih tinggal dirumah yang mereka sewa.
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Metode deskriptif adalah metode yang melukiskan suatu keadaan objektif atau peristiwa tertentu berdasarkan fakta-fakta. Sedangkan data kualitatif adalah data yang berhubungan dengan nilai atau kesan dari objek (Tantawi 2017:61). Penelitian kualitatif sering diartikan sebagai penelitian yang tidak mengadakan perhitungan atau tidak dengan angka-angka.
Metode deskriptif kualitatif berarti metode yang menggambarkan atau melukiskan suatu keadaan objektif atau peristiwa tertentu berdasarkan fakta-fakta dengan melihat nilai atau kesan dari objek.
Pendekatan yang digunakan penulis dalam menganalisis data penelitian ini adalah sosiologi sastra. Sosiologi sastra adalah cabang peneitian sastra yang bersifat reflektif, penelitian ini banyak diminati oleh peneliti yang ini melihat sastra sebagai cerminan kehidupan masyarakat (Endraswara, 2008:77). Sosiologi sastra dapat diteliti dengan perspektif teks sastra artinya peneliti menganalisis sebagai sebuah relefksi kehidupan masyarakat dan sebaliknya. Teks bisa dipotong-potong, diklasifikasikan, dan menjelaskan makna sosiologisnya (Endraswara, 2008:80).
Dalam penelitian ini sosiologi sastra digunakan untuk mengelompokkan atau mengkasifikasikan sosial ekonomi masyarakat pesisir berdasarkan sosial ekonomi masyarakat pesisir pada karya sastra. Sosial ekonomi dipengaruhi pendidikan, jenis pekerjaan, pendapatan, pendidikan, keadaan rumah tangga, tempat tinggal, aktivitas ekonomi, dan kepemilikan kekayaan.
3.2 Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer yaitu novel Gadis Pesisir karya Nunuk Y. Kusmiana dan data sekunder yaitu buku-buku pendukung atau berhubungan. Sumber data dalam penelitian ini yaitu novel dengan:
Judul : Gadis Pesisir
Pengarang : Nunuk Y. Kusmiana
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Jumlah Halaman : 321 halaman
Ukuran : 19,7 cm x 13,5 cm
Cetakan : Pertama
Tahun Terbit : 2019
Warna sampul : Abu-abu, hitam, coklat, dan putih.
Gambar sampul : Wajah seorang anak perempuan bermata cantik dengan rambut dikuncir.
3.3 Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data dengan teknik pustaka yaitu membaca, menyimak, mencatat dan memahami. Teknik pustaka dilakukan dengan mengunakan sumber-sumber tertulis untuk memperoleh data. Membaca merupakan langkah awal yang dilakukan untuk mengetahui isi karya sastra karena data-data yang akan dianalisis berupa teks. Pembacaan teks dilakukan secara
berulang-ulang agar keseluruhan inti cerita dapat dipahami. Teknik simak dan catat merupakan teknik yang dilakukan dengan cermat dan terarah dan teliti terhadap sumber data primer sebagai bahan untuk melakukan analisis. Sumber data primer merupakan hasil karya sastra berupa teks novel yang berjudul Gadis Pesisir karya Nunuk Y. Kusmiana dengan menemukan data penelitian berupa aspek sosial ekonomi setiap kelas masyarakat. Hasil penyimakan terhadap sumber data tersebut, kemudian dirangkum, dicatat, dan dipahami untuk digunakan dalam laporan penelitian sesuai dengan maksud dan tujuan yang hendak dicapai.
Cara memperoleh data dalam penelitian ini berdasarkan studi perpustakaan yaitu penelitian menggunakan buku-buka sebagai objek penelitian. Cara memperoleh data dalam penelitian itu berdasarkan studi perpustakaan yaitu yaitu penelitian menggunakan data primer yaitu novel Gadis Pesisir Karya Nunuk Y. Kusmiana dan data sekunder yaitu buku-buku pendukung atau berhubungan.
3.4 Teknik Analisis Data
Data yang terkumpul akan dianalisis dengan metode deskriptif. Menurut Nasir (dalam Tantawi, 2017:66) metode deskriptif yaitu mendeskripsikan tentang situasi atau kejadian, gambaran, lukisan, serta sistematis, faktual, akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara fenomen dengan fenomena pada objek yang diteliti. Metode analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan data-data yang terdapat dalam novel. Data terlebih dahulu dibaca oleh peneliti sehingga dapat dipahami secara keseluruhan. Selanjutnya peneliti akan mencatat data-data yang berkaitan dengan judul penelitian yaitu aspek-aspek sosial ekonomi yang digambarkan pada masyarakat dan bentuk- bentuk kelas masyarakat
yang terdapat dalam novel Gadis Pesisir karya Nunuk Y. Kusmiana sehingga dapat diklasifikasikan . Data yang telah diperoleh, dicatat dan dipilih berdasarkan masalah yang dibahas.
Teknik analisis data dilakukan dengan langkah-langkah berikut: (a) Peneliti membaca data yang telah dikumpulkan untuk memahami secara keseluruhan, (b) Peneliti akan mengidentifikasikan dan mengklasifikasikan seluruh data berdasarkan masalah yang telah dirumuskan, (c) Peneliti kembali menafsirkan seluruh data untuk menemukan kepaduan dan hubungan antara data, hingga akhirnya diperoleh pengetahuan tentang karya sastra. Hasil yang diperoleh adalah berupa uraian penjelasan penelitian yang sifatnya deskriptif.
BAB IV
TIPOLOGI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT PESISIR DALAM NOVEL GADIS PESISIR KARYA NUNUK. Y KUSMIANA
4.1 Struktur Fiksi Novel Gadis Pesisir Karya Nunuk. Y Kusmiana
4.1.1 Tema
Menurut Lukens secara sederhana tema dapat dipahami sebagai gagasan yang mengikat cerita, mengkiat berbagai unsur intrinsik yang membangun cerita sehingga tampil sebagai sebuah kesatupaduan yang harmonis (Nurgiyantoro 2010:260). Tema berkaitan dengan berbagai permasalahan kehidupan manusia karena sastra berkaitan dengan aspek masalah kemanusiaan.
Tema utama dalam novel Gadis Pesisir karya Nunuk Y. Kusmiana adalah kondisi ekonomi masyarakat miskin pesisir yang bergantung pada laut. Hal tersebut dibuktikan berdasarkan latar belakang masyarakat pendatang pindah ke daerah pesisir kota Jayapura karena kekayaan sumber daya laut dan harga ikan mahal. Mereka mendapat informasi Jayapura adalah pulau harapan melalui buruh kapal sehingga membuat mereka memutuskan untuk pindah ke kota itu. Sesampai di Jayapura para pendatang pun membuktikan bahwa disana benar harga ikan mahal dan nelayan bebas menangkap ikan. Namun kebutuhan hidup juga mahal disana, hal itu membuat para nelayan sadar ternyata kehidupan mereka sama dengan di kampung halaman.
Beberapa tahun terlewati jumlah ikan tak sama lagi, ikan tangkapan semakin sedikit.
Hal yang membuat nelayan sering luput dengan hasil tangkapan yaitu bulan terang
dan angin kencang pada bulan November, Desember, dan Januari. Kondisi tersebut ikan akan menjadi barang langka. Jika ikan langka maka kelurga nelayan akan luput dengan beras.
Tema tambahan dalam novel Gadis Pesisir karya Nunuk Y. Kusmiana adalah pengorbanan. Bentuk pengorbanan dapat ditemukan melalui tokoh Halijah yang mau dinikahkan dengan seorang anggota polisi yang mencintainya demi memperbaiki kehidupan keluarganya.
”“Kalau aku bisa membuat kita tidak lapar dengan menikahi laki-laki itu, tidak ada yang jelek dengan itu. Sama sekali tidak ada yang jelek.”
(Kusmiana, 2019:315)
Kemiskinan membuat Halijah memilih menikah dengan laki-laki yang tidak ia cintai. Usia Halijah 14 tahun belum matang untung menikah. Namun jika ia mengingat bagaimana adiknya Dus dipukul hingga merah-merah karena mencuri makanan dan bagaimana adiknya Ai yang menangis dihina dan dipukul Mamak Nur karena memakai celana dalam bekas Wening, ia merasa sangat sedih. Bahkan ketika ia mengingat keluarga mereka setiap hari makan dengan bubur nasi yang tidak membuat kenyang bayangan itu selalu muncul. Hingga ketika polisi itu menyukai dan melamarnya ia menerimanya meskipun ia tidak mencintai laki-laki itu dan meninggalkan sekolahnya.
4.1.2 Alur (Plot)
Dalam kaitannya dengan sebuah teks cerita, alur berhubungan dengan berbagai hal seperti peristiwa, konflik yang terjadi, dan akhirnya mencapai klimaks,
serta bagaimana kisah diselesaikan (Nurgiyantoro 2010:237). Alur adalah rangkaian cerita yang terjadi berdasarkan sebab akibat. Alur yang digunakan dalam novel Gadis Pesisir karya Nunuk Y. Kusmiana dengan pola awal, tengah dan akhir.
Pada Bab awal novel Gadis Pesisir dimulai dengan pengenalan kampung nelayan yang dihuni para pendatang dan munculnya seorang lelaki yang berpenampilan rapi melewati sumur. Lelaki itu Supri seorang anggota polisi yang bertugas di Pusdiklat tepatnya di bukit dekat dengan kampung nelayan. Ia melewati sumur dan segera menjadi pusat perhatian para perempuan yang berada di sumur.
Kedatangan lelaki itu membuat munculnya pertanyaan Halijah mengenai pangkat kepada Mamak Nur. Pertanyaan itu membuat Mamak Nur merasa jengkel karena pertanyaan itu muncul dari anak nelayan miskin. Mamak Nur tidak menganggap Halijah karena ia adalah istri nelayan kaya.
Pertengahan pada novel ini terdapat konflik-konflik yang dialami oleh para pendatang di kampung nelayan. Konflik keluarga Pak Umar yang mendapat hasil tangkapan yang sedikit sehingga setiap hari keluarga ini hanya mampu makan bubur nasi dengan kuah melimpah. Anaknya Dus mencari solusi untuk perutnya yang lapar dengan mencuri. Dus mencuri nasi di rumah Mamak Nur dan mencuri permen di kios Ibu Jawa. Aksinya kedapatan dan mendapatkan pukulan. Konflik keluarga Wa Nona ketika anaknya Wa Izzah ingin menikah namun di kampung nelayan sedang mengalami krisis bawang. Bawang adalah bahan makanan yang wajib untuk setiap masakan. Bawang hanya dimiliki oleh keluarga Ibu Jawa. Wa Nona membeli bawang milik Ibu Jawa dengan harga yang mahal dengan sangat berat hati. Konflik keluarga
Mamak Wa Ida yaitu tidak terpenuhinya kebutuhan pangan keluarga. Kelaparan menyiksa keluarga ini hingga akhirnya keluarga ini menyerah dan memutuskan untuk kembali ke kampung asal mereka.
Penyelesaian yaitu akhir novel ini digambarkan Halijah yang mau menerima Supri menjadi calon suaminya karena ingin memenuhi kebutuhan keluarganya secara materi. Ia juga tidak ingin keluarganya dipadang hina oleh orang lain lagi.
Mengetahui bahwa Halijah akan menduduki posisi sebagai istri polisi Wa Nona pun menjadikan Halijah sebagai gadis penerima tamu di pesta pernikahan anaknya.
Halijah yang selama ini tidak dianggap di kampung nelayan mulai dianggap ada setelah ia bertunangan dengan Supri. Hingga akhirnya Halijah harus berhenti sekolah dan mulai mengurus berkas untuk pernikahannya dengan Supri. Namun tibalah hari pernikahan bukan Halijah yang menjadi pengantin wanita Supri melainkan Haya.
Sebelum hari pernikahan Halijah sudah jujur kepada Supri bahwa tidak ingin menikah. Supri pun tidak memaksa Halijah untuk tetap menikah dengannya.
4.1.3 Tokoh dan penokohan
Dalam novel Gadis Pesisir terdapat tokoh utama Halijah yakni tokoh “dia”
dan terdapat beberapa tokoh yang ditampilkan secara berpindah-pindah dari satu tokoh ke tokoh lain. Hal ini karena novel Gadis Pesisir menceritakan tentang keluarga Halijah dengan menceritakan juga tentang keluarga tokoh-tokoh lain sebagai pembeda dan perbandingan. Pengarang dapat mengisahkan apa yang terjadi di hati dan pikiran tokoh dan apa yang dilakukan secara nyata yang dapat diinderakan, serta
aksi-reaksi yang terjadi diantara para tokoh, seolah-olah pengarang menjadi sumber informasi yang mengetahui segalanya (Nurgiyantoro 2010:272).
Analisis penokohan di dalam novel Gadis Pesisir bertujuan untuk menganalisis peran para tokoh yang sebenarnya. Tokoh cerita dimaksudkan sebagai pelaku yang dikisahkan perjalanan hidupnya dalam cerita fiksi lewat alur baik sebagai pelaku maupun penderita berbagai peristiwa yang diceritakan (Nurgiyantoro 2010:222).
Tokoh-tokoh yang terdapat dalam novel Gadis Pesisir yaitu:
1. Halijah : Anak sulung Bapak Umar berusia 14 tahun. Ia adalah seorang gadis yang memiliki tubuh kurus kerempeng, kulit bersisik, rambut tumbuh berjarak dan mata bagus. Setiap pagi Halijah membersihakan adik bayinya dan kembali meletakkannya ke sebelah ibunya (Kusmiana, 2019:7).
2. Supri : Seorang polisi yang mendadak terkenal di kampung nelayan karena ingin mencari calon istri. Masyarakat nelayan yang cenderung miskin mencalonkan anak peremuannya untuk dijodohkan dengan Supri karena mereka tau bahwa masa depan anak mereka akan bagus jika dinikahkan dengan seorang polisi (Kusmiana, 2019:9).
3. Mamak Nur : Istri nelayan yang mudah marah. Ia dituakan di kampung
nelayan karena usianya yang cukup dan dia kaya. Ia berasal dari Ambon (Kusmiana, 2019:13).
4. Ibu Jawa : Seorang istri tentara yang berasal dari keturunan ningrat. Ia adalah wanita yang berpikir untuk menambah sumber penghasilan. Ia memilih tinggal di kampung nelayan karena ia sadar jika tinggal di perumahan tentara maka tidak banyak yang kan membeli barang kiosnya. Tinggal di kampung nelayan merupakan pilihan tepat karena akan banyak yang membeli barang yang ia jual. Tidak hanya kios, Ibu jawa juga memiliki sebuah mobil minivan yang ia sewakan. Ia juga mengambil bagian di proyek pembangunan barak tentara di Irian Jaya (Kusmiana, 2019:53).
5. Wening : Putri Ibu Jawa yang cantik, pintar dan sedikit susah disuruh makan. Ia satu kelas dengan Halijah. Ia sering membagi makanannya dengan Halijah bahkan Ibu Jawa memberikan pakaian Wening yang sudah sempit kepada Halijah. Ia dipandang di kampung nelayan karena kekayaan orangtuanya (Kusmiana, 2019:29).
6. Mamak : Istri Bapak Umar. Wanita ini memiliki tubuh kurus dan rambut panjang namun jarang. Ia sedang mengandung 5 bulan namun tubuh kurusnya membuat kehamilannya tak terlihat (Kusmiana, 2019:35).
7. Bapak Umar : Seorang nelayan miskin yang mencari ikan menggunakan
perahu dayung kecil dan peralatan menangkap ikan yang sederhana, hasil tangkapannya sangat sedikit bahkan hasil penjualan ikan tangkapannya tidak cukup untuk membeli beras. Ia mempunyai 6 orang anak, satu diantaranya meninggal karena kekurangan gizi (Kusmiana, 2019:34).
8. Aisyah : Putri bapak umar yang ke-2 berusia 13 tahun. Ia sering
membantu Halijah mengerjakan tugas rumah seperti memasak dan mencuci (Kusmiana, 2019:19).
9. Dus : Satu-satunya anak laki-laki Bapak Umar, ia anak ke-3. Dus adalah anak laki-laki yang sangat aktif, keaktifannya membuatnya mudah lapar. Tidak terpenuhinya pemenuhan kebutuhan pokok keluarga Bapak Umar membuat Dus mencuri (Kusmiana, 2019:49).
10. Samsiah : Putri Bapak Umar yang ke-4 (Kusmiana, 2019:153)..
11. Bayi : Anak bungsu Bapak Umar. Tubuhnya sangat kecil dan
terlihat tidak normal dari wajahnya. ASI bayi sudah lama tidak keluar sebagai pengganti ASI Mamak memberi air beras kepada bayi (Kusmiana, 2019:128).
12. Bapak Nur : Suami Mamak Nur, nelayan yang mempunyai dua perahu bermesin dan pembantu kapal (Kusmiana, 2019:125).
13. Muklis : Putera Mamak Nur. Ia bekerja sebagai kernet taksi.
Pendidikan terkahirnya berakhir di jenjang SMP. Muklis adalah orang yang mudah menemuka topik pembicaraan (Kusmiana, 2019:8).
14. Bapak Jawa : Suami Ibu jawa. Ia adalah seorang tentara yang sering
diundang dalam acara jawa sebagai pembicara. Bapak jawa mempunyai hobi bermain catur. Seminggu sekali ia mengundang temannya untuk bermain catur di rumahnya dan Ibu Jawa diminta untuk membuat makanan (Kusmiana, 2019:176).
15. Farida : Seorang gadis manis bertubuh bagus berusia 16 tahun.
Pendidikan terakhirnya SMP. Gadis ini pernah dikabarkan tidak pulang ke rumah dan Muklis juga sempat melihatnya diantar laki-laki ke taksi, hal itu membuat masyarakat menjadi mencap Farida tidak baik. Farida bekerja sebagai penjual nasi uduk keliling, kalau kapal datang ia berdagang ke pajak Inpres (Kusmiana, 2019:13).
16. Salfiah : Gadis yang dicalonkan ibunya untuk dijodohkan dengan Supri. Ia berusia 17 tahun, berwajah manis, bertubuh bagus dan pendidikan terakhirnya SMP (Kusmiana, 2019:58).
17. Mamak Sal : Perempuan yang sadar kedudukan sosialnya lebih rendah dari pada Mamak Nur dan ingin menyamakan posisi itu dengan menjodohkan anaknya dengan Supri (Kusmiana, 2019:57).
18. Haya : Gadis kecil yang memiliki mimpi bersekolah hingga sarjana.
Salah satu calon yang dijodohhkan Ibunya dengan Supri (Kusmiana, 2019:101).
19. Mamak La Muli : Istri nelayan miskin ia memiliki 3 anak dan 2 diantaranya adalah laki-laki yang sudah bisa membantunya mencari uang.
Mamak La Muli berkepribadian baik, ia suka memberi ubi kepada keluarga Bapak Umar ketika keluarga Bapak Umar sedang kelaparan (Kusmiana, 2019:105).
20. La Muli : Remaja laki-laki berusia 17 tahun. Ia adalah anak laki-laki Mak La Muli. Ia bekerja sebagai kernet taksi (Kusmiana, 2019:101).
21. La Kalla : Remaja laki-laki berusia 19 tahun. Ia adalah anak laki-laki Mak La Muli. Ia bekerja sebagai kernet taksi (Kusmiana, 2019:101).
22. Wa Nona : Istri nelayan yang bekerja menjual jagung rebus. Ia adalah seorang istri yang tidak bisa berdiam diri di rumah saja (Kusmiana, 2019:146).
23. Wa Izzah :Perempuan muda bertubuh gempal, berkulit hitam dan
berhidung bundar. Ia adalah putri Wa Nona yang menikah dengan La Kalla seorang nelayan dari kampung sebelah (Kusmiana, 2019:146).
24. Sakrang : Orang Gowa yang bekerja membantu Ibu Jawa menjaga kios (Kusmiana, 2019:167).
25. Yohana : Seorang gadis yang ditugaskan Ibu Jawa membantunya
mencuci dan menyetrika pakaian (Kusmiana, 2019:226).
26. Dense : Kakak Yohana, ia bekerja membuat kue dan ia titipkan kepada Ibu Jawa namun sayanganya donat buatannya tidak laku karena tidak enak (Kusmiana, 2019:215).
27. Bambang : Keponakan Ibu Jawa. Ia adalah seorang anggota polisi yang sedang melakukan pelatihan di Irian Jaya (Kusmiana, 2019:181).
28. Mamak Wa Ida : Salah satu masyarakat nelayan yang memutuskan untuk kembali ke kampung asalnya karena menderita kelaparan di kampung nelayan (Kusmiana, 2019:185).
29. Wa Kanni : Seorang guru yang mengajar di kampung nelayan. Ia
merupakan anak nelayan miskin yang berhasil keluar dari kemiskinan karena pendidikan. Sebagai guru ia selalu memberi semangat kepada muridnya untuk bersekolah (Kusmiana, 2019:271).
30. Jusnaeni : Perias pengantin di kampung nelayan (Kusmiana, 2019:189).
31. Mamak Hing : Penjual kue blunder (Kusmiana, 2019:75).
32. Nenek Saparua : Tukang pijat Wening, ia juga menitipkan dagangannya ke kios Ibu Jawa (Kusmiana, 2019:214).
33. Laki-laki Sunda : Penjual keripik pisang (Kusmiana, 2019:218).
34. La Acca : Nelayan yang melempar bom yang mengakibatkan tangannya putus (Kusmiana, 2019:12).
4.1.5 Latar
Latar yang menunjuk pada tempat, yaitu lokasi di mana cerita itu terjadi, waktu, suasana dan lingkungansosial-budaya, keadaan kehidupan bermasyarakat tempat tokoh dan peristiwa terjadi (Nurgiyantoro 2010:249). Deskripsi latar dalam cerita membuat alur cerita terlihat nyata dan mengembangkan imajinasi. Latar terdiri dari tiga unsur yaitu; latar tempat, latar waktu dan latar sosial budaya.
Latar tempat menunjuk pada pengertian tempat dimana cerita yang dikisahkan itu terjadi. Latar tempat dapat dilihat keberadaannya (Nurgiyantoro 2010:251). Lewat deskripsi latar pembaca akan memperoleh pengetahuan dan persepsi baru, hal tersebut merupakan suatu bentuk pengalaman batin yang berharga. Latar tempat yang terdapat dalan novel Gadis Pesisir karya Nunuk Y. Kusmiana yaitu:
1. Irian Jaya, merupakan suatu kota yang rame didatangi masyarakat pada saat awal bergabung dengan NKRI. Emas dan ikan adalah alasan masyarakat Indonesia dari berbagai daerah pindah ke Irian Jaya untuk memperbaiki ekonomi keluarga.
”Ini adalah sepenggal perkampungan yang mendadak muncul hanya dalam waktu enam atau tujuh tahun setelah Irian Jaya namanya sekarang Papua terintegrasi ke dalam wilayah Indonesia (Kusmiana, 2019:1).”
2. Kampung nelayan, merupakan suatu desa yang tiba-tiba rame ditinggali penduduk. Daerah ini awalnya kosong namun seketika berubah menjadi perkampungan yang dipenuhi rumah panggung.
”Tapi, kekosongan ini tak berlangsung lama. Parapendatang yang haus akan tanah menyerbu pantai landai ini dan memenuhinya dengan rumah panggung (Kusmiana, 2019:1).”
3. Sumur, merupakan tempat yang biasa digunakan masyarakat pesisir untuk mandi, mencuci dan mengambil air.
”Laki-laki itu berjalan pelan melewati para perempuan karena sepenggal jalan tanah di dekat sumur terasa licin (Kusmiana, 2019:2).”
4. Rumah Mamak Nur, lokasinya terlihat dari sumur. Rumahnya berbeda dengan rumah panggung nelayan lain, tentunya rumah Mamak Nur ebih bagus dan perabotannya juga lebih lengkap.
”Tidak seperti nelayan lain yang menghamparkan tikar plastik di ruang tamu, sebagai nelayan yang puny sampan bermesin,
”Tidak seperti nelayan lain yang menghamparkan tikar plastik di ruang tamu, sebagai nelayan yang puny sampan bermesin,