Menurut International Union for The Conservation of Nature(2011), taksonomi dari landak jawa diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Animalia Filum : Chordata Classis : Mammalia Ordo : Rodentia Familia : Hystricidae Genus : Hystrix
Spesies : Hystrix javanica F. Cuvier, 1823
Landak Jawa atau dalam bahasa Inggris disebut Sunda Porcupine adalah mamalia berwarna coklat kehitaman dengan bulu-bulu keras atau biasa disebut duri yang menutupi tubuh bagian atasyang berfungsi sebagai alat pertahanan diri. Pada umumnya seekor landak mampu berlari kencang untuk menghindari pemangsa dan jika terdesak landak akan berhenti dan mengembangkan bulu-bulunya sehingga tubuhnya terlihat lebih besar. Duri pada landak merupakan rambut yang termodifikasi menjadi besar dan mengeras yang tersusun dari bahan yang sama dengan rambut yaitu keratin, sejenis protein (Sastrapradja, 1996).
Landak Jawa merupakan rodentia yang berukuran besar, panjang tubuhnya 37-47 cm, panjang ekor 23-36 cm.Tubuhnya tertutup oleh mantel rambut yang keras di bagian punggung belakang sampai ekor.Bentuk mata landak terlihat sempit berwarna hitam dengan bentuk telinga seperti kepingan uang logam.Di Penangkaran, landak mampu bertahan hidup hingga 27 tahun (Sukiya, 2005).Bentuk tubuh landak jawa dapat dilihat pada Gambar 1.
Penyebaran Landak
Landak merupakan satwa liar yang memiliki habitat di daerah hutan dan bersarang di lubang-lubang di bagian bawah tanah maupun di bawah akar pepohonan sebagai tempat hidupnya.Penyebaran landak di Indonesia meliputi pulau Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan. Hewan ini hidup di semua tipe hutan, di Kalimantan mereka lebih senang tinggal di semak-semak atau padang rumput yang tinggi,
4
dataran rendah maupun pegunungan, sedangkan di Sumatera hidup di hutan belukar (Suwelo et al., 1978).
(Foto: Septiandi, 2012)
Gambar 1. Landak jawa (Hystrix javanica)
Morfologi
Landak memiliki tubuh yang sangat unik dengan ciri-ciriberduri panjang pada tubuh bagian atas.Duri landak berbentuk pipih termasuk sedikit yang bulat, kasardan berdiri tegak.Landak secara umum memiliki berat antara 5-16 kg, bentuk tubuhnya agak bulat dan bergerak lambat.Landak memiliki tubuh yang tegap, berkepala kecil, telinga kecil, kaki pendek, serta ekor pendek dan tebal.
Landak memiliki sisik pada ekor bagian tengah dan pada bagianujung ekornya terdapat banyak duri yang agak kasar.Pada bagian kepala, kaki dan bawahbadannya terdapat duri-duri yang halus serta lembut.Bagian atas badan landak berwarna kelabugelap dan ujung durinya berwarna putih.Ujung ekornya berwarna putih kuningkehitaman.Ekornya pendek dengan dua tipe duri, pertama adalah duri lancip yang panjang, berwarna hitam putih dan duri bagian ekor yang gemerincing didalamnya berlubang, ujung terbuka dan berbentuk silinder (Suwelo et al., 1978).
Secara morfologi tubuh landak dibedakan menjadi 5 bagian yaitu caput, cervik, thorax, abdomen dan glutea. Pada caput (kepala) terdapat nares (hidung), fibrisae (kumis), organon visus (mata), auriculae (daun telinga), porus acusticus
5
externus (lubang telinga) dan rima oris (mulut) dimana terdapat lingua dan dentes. Gigi (dentes) pada landak memiliki formula 1/1, 0/0, 1/1, 3/3, sehingga berjumlah 20 gigi (Sukiya. 2005).
Pada bagian cervik terdapat rambut dan belum ditumbuhi duri.Pada kulit thorak, selain ditumbuhi rambut juga mulai tumbuh duri-duri yang pendek.Pada kulit bagian abdomen, duri-duri cukup panjang dan tebal.Sedangkan pada bagian glutea, duri-duri pendek, tebal dan cenderung patah. Landak memiliki 2 pasang kaki, 4 jari pada kaki depan dan 5 jari pada kaki belakang. Landak memiliki kaki yang relatif pendek seperti marmut. Bagian abdomen terdapat papilla mamae (puting susu) (Vaughan, 1978).
Reproduksi
Kematangan seksual pada landak dicapai pada umur11 bulan untuk betina dan satu tahun untuk pejantan.Menurut Rahm (1962), kebuntingan landak berlangsung antara 100 dan 112 hari. Kelompok landak jantan yang kawin dengan beberapa betina tidak memberikan hasil yang baik selama ini, karena pejantan hanya menunjukkan minat pada satu betinasaja. Namun, kesuburan pada betina sangat tinggi, tingkat kebuntingan lebih dari 80% (Edderai dan Houben, 2000).
Menurut Jori et al. (2002), landak jarang memberikan lebih dari satu anak per kelahiran. Ini merupakan reproduksi yang lemah dan abnormal pada hewan pengerat hystricognath (Weir, 1974). Sistem reproduksi landak betina adalahpolyovular, dan sebagian besar ovummungkin hilang sebelum implantasi (Jori et al, 2002.).Rendahnya produktivitasdikompensasikan dengan rentang umur landak yang panjang.Anak landak sangat aktif sejak satu jam pertama dilahirkan. Waktu menyapih dapat dilakukan pada usiaanak 45 hari.Bobot badan landak pada umur 10 bulan dapat mencapai berat 2,5- 12kg. Pada kelompok hewan mamalia pengerat lain seperti tikus putih, tikus putih dengan pemberian ragi tape pada memiliki tingkat reproduksi yang sangat tinggi dibandingkan dengan landak.Hal ini dapat dilihat pada rataan penampilan sifat reproduksi tikus putih yaitulitter sizesebesar9,60/ekor, bobot lahir 5,70g, bobot sapih 18,02g, dan mortalitas 25,20% (Hidayat, 2005).
Seperti halnya mamalia lain, landak memiliki organ urogenital berupa ren (ginjal), ureter, vesica urinaria, pada jantan (uterus masculine,ductus deferens, testis, epididymis, urethra, dan penis), sedang pada betina (oviduct, ovarium, servic, dan
6
porus genetalia). Kedua ovarium pada landak biasanya fungsional dalam menghasilkan ovum.Waktu yang diperlukan landak selama bunting sekitar 112 hari. Induk landak akan mengasuh anaknya selama 3 bulan dan anak sudah dapat belajar mencari makan (Orr, 1976).
Tingkah Laku
Landak merupakan hewan yang bersifat nokturnal yaitu pada siang hari bersembunyi dalam lubang dan aktif pada malam hari untuk mencari makan.Tingkah laku mengendus-endus tanah dan mengelilingi sarang merupakan kebiasaan landak di alam liar.Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan sumber pakan atau mengantisipasi jika ada bahaya.Menurut Vaughan (1978), landak akan menggunakan rambut seperti duri yang berperan sebagai pelindung atau sebagai senjata apabila dalam keadaan terdesak. Landak merupakan hewan pengerat, sehingga sering kali landak menggerogoti batu untuk mengurangi pertumbuhan giginya.Saat mencari makan, landak menggunakan kaki depannya untuk menggali tanah.Pada saat tidur, landak biasanya berbaring tengkurap dengan posisi keempat kakinya menyamping dan perut diletakkan di tanah dan memejamkan matanya.
Landak merupakan hewan yang sangat lincah.Menurut Wardi (2009), tingkah laku dominan landak raya pada siang hari lebih banyak istirahat sedangkan terendah yaitu defekasi dan minum.Saat sedang kawin landak akan lebih aktif dan agresif, khususnya landak jantan. Ekor landak jantan akan bergerak-gerak dan memutar- mutar ke segala arah di sekitar landak betina. Landak betina cenderung lebih pasif dan jarang bergerak saat kawin, dan hanya sesekali mengikuti gerak landak jantan. Keduanya saling bergerak dan seolah-olah seperti sedang berkelahi.Setelah itu keduanya menjilati tubuh pasangannya, terutama di bagian leher. Setelah itu landak jantan bergerak dari arah belakang landak betina untuk menungganginya (Orr , 1976).
Jenis Makanan dan Pencernaan
Di habitat aslinya landak Jawa ini memakan bagian-bagian tanaman seperti akar, ubi-ubian, kulit kayu dan buah-buahan dari berbagai jenis. Menurut Wardi (2009),landak memiliki tingkat kesukaan terhadap pakan yang diberikanyaitu jagung manis, ubi jalar, jambu biji, bengkuang dan kangkung.
7
Gigi (dentes) pada landak berfungsi untuk memotong dan mengunyah makanannya.Lidah (lingua) berguna untuk mengatur arah makanan dan juga untuk merasa.Esophagus sebagai saluran penghubung antara rongga mulut dengan lambung.Panjang esophagus tergantung dengan panjang leher.Di ujung dalam saluran esophagus terdapat lambung yang berfungsi untuk mencerna makanan. Setelah melalui proses pencernaan secara kimiawi, makanan yang sudah hancur kemudian melalui intestinum tennue, jejenum, dan ileum untuk di serap sari-sarinya. Selanjutnya sisa kotoran di tampung dalam cecum yang nantinya di buang melalui anus (Sastrapradja, 1996).
Pemanfaatan Landak
Landak merupakan salah satu hewan liar yang sudah mulai dimanfaatkan di beberapa daerah di Indonesia. Salah satu pemanfaatan landak adalah sebagai bahan pangan/ sumber protein hewani.Bagian dari tubuh landak yang banyak dimanfaatkan ialah bagian daging, hati, empedu dan duri landak.Manfaat dari daging landak ini banyak diantaranya untuk obat asma, obat sakit hati, dan ekornya dipercaya untuk meningkatkan vitalitas, kesehatan daya tahan tubuh.Bahkan dikabarkan daging landak mengandung non kolesterol (Anonim, 2011). Sedangkan menurut Anonim (2012), abu duri landak hasil pembakaran memiliki manfaat bagi kesehatan salah satunya untuk mengobati sakit gigi .
Dilaporkan oleh Farida dan Handayani (2010) dari hasil penelitian, daging landak mengandung 59,91%protein, lebih tinggi dibandingkan protein daging satwa lainnya. Kandungan lemak dan kolesterol daging landak juga lebih rendah dibandingkan daging sapi. Kandungan asam lemak omega DHA daging landak lebih tinggi dibandingkan ikan salmon dan hering. Duri dan hati landak mengandung asam aspartat, asam glutamat, histidin, luesin, dan fenilalanin yang lebih tinggi dibandingkan daging anak sapi, bebek, ikan tuna dan hati ayam.
Karkas
Karkas merupakan bagian dari tubuh ternak yang dimanfaatkan oleh konsumen untuk dimakan.Kualitas karkas yang baik dapat dilihat pada penampilan dari karkas setelah dipotong. Menurut Lawrie (1998), karkas adalah bagian tubuh
8
ternak tanpa kepala, kaki, kulit, alat pencernaan, darah dan ginjal. Oleh karena itu komponen yang disebut karkas ialah daging (otot), tulang dan, lemak.
Sifat-sifat Karkas
Menurut Lawrie (1998), karkas adalah bagian tubuh ternak hasil pemotongan setelah dihilangkan kepala, kaki bagian bawah (carpus sampai tarsus), kulit, darah, organ dalam (jantung, hati paru-paru, limpa, saluran pencernaan dan isi, saluran reproduksi). Secara umum bagian yang termasuk karkas adalah daging, tulang, dan, lemak yang sudah siap untuk dijadikan bahan makanan oleh konsumen.
Bobot Karkas
Bobot karkas penting digunakan dalam sistem evaluasi karkas.Penggunaan bobot karkas perlu dikombinasikan dengan indikator-indikator lainnya agar evaluasi karkas menghasilkan penilaian yang akurat.Hal tersebut dikarenakan bobot karkas dipengaruhi oleh variasi tipe, bangsa, nutrisi dan jenis dalam pertumbuhan jaringan.Keragaman tersebut dapat diperkecil dengan mengkombinasikan bobot karkas dengan tebal lemak punggung dan luas urat daging mata rusuk dalam mengevaluasi karkas (Johnson et al., 1992).
Bobot karkas juga sangat dipengaruhi oleh bobot potong, berdasarkan Herman et al. (1983) semakin tinggi bobot potong maka bobot karkas juga akan bertambah. Kauffman (2001) menjelaskan bahwa bobot karkas sebagian besar dipengaruhi oleh bobot otot dan perototan sangat menentukan kondisi tubuh ternak.
Persentase Karkas
Persentase karkas diperoleh dengan cara mengalikan rasio antara bobot karkas per bobot potong dengan 100%. Persentase karkas juga dipengaruhi oleh umur, jenis kelamin dan bangsa (Taylor et al., 1996).Persentase karkas bertambah dengan meningkatnya bobot potong maka persentase nonkarkas dan isi saluran pencernaan akan berkurang dengan meningkatnya bobot potong (Herman et al., 1983).
Bobot Potong
Bobot potong merupakan bobot hewan atau ternak pada saat akan disembelih dan bergantung pada jenis ternak.Waktu untuk mencapai bobot potong sangat
9
berhubungan erat dengan biaya yang akan dikeluarkan oleh petemak dan berdampak pada keuntungan yang akan diperoleh (Siagian et al.,. 2005). Waktu rnencapai bobot potong yang semakin lama akan memperbesar resiko yang dihadapi dan akan menambah pengeluaran tambahan (Devendra andFuller,1979).
Potongan Karkas
Potongan karkas digunakan untuk mempermudah mengetahui distribusi jaringan karkas.Potongan karkas disesuaikan dengan anatomi tubuh dari masing- masing ternak. Jumlah potongan pada ternak sebanding dengan ukuran tubuh, semakin besar ternak maka potongan akan lebih banyak sedangkan semakin kecil ternak potongan yang digunakan semakin sedikit. Potongan karkas kelinci menurutBlasco et al., (1993), terdiri dari bagian kaki depan (shank dan shoulder), bagian dada (rack dan breast), bagian pinggang (loin dan flank) dan bagian kaki belakang (hind leg). Pada potongan karkas domba potongan yang digunakan terdiri atas bagian perempat belakang Leg, Loin, FlankBagian perempat depan Rack, Shoulder, Neck, Shank, Breast (Zubir et al., 2011). Potongan karkas yang digunakan pada ternak sapi terdiri atas bagian depan:Chuck, Blade,Cuberoll, Brisket, Shin,bagian belakang:Striploin, Tenderloin, Rump, Silverside, Topside, Knuckle, Flank, Shank (Hafid&Priyanto, 2005).
Non Karkas
Menurut Lawrie (2003),komponen non karkas terdiri dari kepala, kaki, kulit, darah, saluran pencernaan, kantong urine, intestine, jantung, trakea, paru-paru, ginjal, jaringan lemak, limpa dan hati. Komponen non karkas bukan merupakan bagian utama pada ternak untuk dikonsumsi sebagai bahan makanan. Menurut Soeparno (2005), perlakuan nutrisional memiliki pengaruh terhadap berat non karkas internal seperti paru-paru, jantung dan ginjal, sedangkan berat non karkas eksternal seperti kaki dan kepala tidak dipengaruhi. Persentase bagian-bagian non karkas pada beberapa jenis ternak dapat dilihat pada Tabel 1
10
Tabel 1.Persentase Bagian-bagian Non Karkas Beberapa Jenis Ternak
Non karkas 1Domba 2Sapi
---%--- Kulit 7,00 ±0,35 8.14 Kepala 6,43 ±0,23 5,64 Kaki: 2,77±0,10 2,18 Depan Belakang Hati 2,07±0,20 1,18 Jantung 0,42±0,04 0,36 Paru-paru 1,20±0,09 0,59 Ginjal 0,30±0,04 0,32 Limpa 0,15±0,04 0,15 Pencernaan : 5,38 Usus halus 2,12±0,38 Usus besar 1,29±0,15 Ekor 2,28±0,81 1,59
11
MATERI DAN METODE