• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

Dalam dokumen Naskah Kuliah Blok 15 Pseudo Croup (Halaman 6-35)

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Perkembangan Laring

Susunan pernapasan mulai berkembang dua sampai empat hari setelah pembentukan sistem saraf dan sistem kardiovaskular. Beberapa ahli embriologi menduga bahwa divertikulum ventral dalam usus depan merupakan primordium paru dan laring, yang merupakan tanda pertama dari susunan pernapasan.

Hari ke-34 dalam uterus, lamina epitel pada laring mulai mengalami rudimenter. Divertikulum pernapasan primitif berubah menjadi pipa laringotrakea yang menghubungkan faring dengan fisura laring. Fisura laring terikat di bagian lateral oleh pembengkakan aritenoid dan lipatan ariepiglotik primitif. Pada garis tengah terdapat eminensia hipofaring (epiglotis primitif). Eminensia ini menonjol ke arah rostral dan kaudal merupakan penyatuan dari perluasan lengkung ke-4 ke anterior dan pasangan ini merupakan asal mula epiglotis.

Selama kehamilan minggu ke-5 sampai ke-8, berbagai tulang rawan berkembang menjadi bentuk khusus dan otot-otot yang besar terlihat dengan jelas. Epiglotis adalah yang terakhir membentuk jaringan tulang rawan.

Epiglotis dan kartilago kuneiformis Wrisberg merupakan derivat dari furkula, yang merupakan derivat dari dasar faring, walaupun lengkung ke-4 yang membentuk plika gloso-epiglotik lateral mungkin berperan dalam pembentukan epiglotis.

Sewaktu lahir batas inferior kartilago krikoid berada setinggi batas atas dari vertebra servikal ke-4 dan ujung epiglotis berhadapan dengan vertebra servikal pertama. Maka, epiglotis dapat dilihat dengan mudah di balik dorsum lidah pada kebanyakan bayi. Laring menurun sedikit pada leher antara waktu lahir dan umur dua tahun, kemudian posisi relatif menetap hingga umur sebelas sampai dua belas tahun. Selama periode ini, krikoid berhadapan dengan diskus intervertebra antara vertebra ke empat dan ke lima, dan epiglotis berada pada ketinggian diskus intervertebra ke dua. Ujung epiglotis hampir menetap berhadapan dengan vertebra servikal ke tiga. Pada bayi, kerangka tulang rawan laring lebih lunak, dan ligamen yang menyangganya lebih longgar, membuat laring lebih mudah mengempis jika mendapat tekanan negatif di bagian dalam. Jaringan subepitel

kurang padat, lebih banyak dan lebih bervaskuler pada bayi, yang cenderung mengakumulasi cairan jaringan. Hal ini merupakan faktor penting penyebab terjadinya obstruksi daerah infraglotik dan supraglotik akibat edema inflamasi pada anak kecil. Beberapa struktur laring mempunyai perbedaan bentuk pada bayi. Epiglotis cenderung berbentuk huruf omega, maka ada kecenderungan lebih besar untuk menutup vestibulum bila terjadi edema. Juga, tepi epiglotis yang berbentuk omega kurang menopang plika ariepiglotik dibandingkan tepi epiglotis yang rata pada orang dewasa yang dapat membantu menahan plika ariepiglotik tersebut pada posisi lateral.

Gambar 2.2. Anatomi Laring pada Bayi dan Dewasa

Keganjilan-keganjilan bentuk laring bayi merupakan faktor penting dalam kecenderungan terjadinya penyakit laring tertentu dan aspirasi benda asing.

2.2 Anatomi Laring

Laring adalah organ khusus yang mempunyai sfingter pelindung pada pintu masuk

jalan napas dan berfungsi dalam pembentukan suara. Di atas membuka ke dalam laringofaring, dan di bawah bersambung dengan trakea.

Kerangka laring dibentuk oleh beberapa tulang rawan, yang dihubungkan melalui

membran dan ligamen dan digerakkan oleh otot. Laring juga dilapisi oleh mukosa.

Kartilago tiroid terdiri atas dua lamina tulang rawan hialin yang bertemu di garis

tengah, pada tonjolan V jakun. Tepi posterior tiap lamina tertarik ke atas membentuk kornu superius dan ke bawah membentuk kornu inferius. Pada permukaan luar tiap lamina terdapat linea obliqua sebagai tempat melekat m. sternotiroideus, tirohioideus, dan m. konstriktor faringeus inferior.

Kartilago krikoid dibentuk dari cincin tulang rawan yang utuh. Bentuknya mirip

cincin cap dan terletak di bawah kartilago tiroid. Memiliki arkus anterior sempit dan lamina posterior yang lebar. Pada permukaan lateral terdapat faset sirkular untuk artikulasi dengan kornu inferius kartilago tiroid. Di kiri-kanan tepi atas terdapat faset artikular untuk artikulasi dengan basis kartilaginis aritenoid. Semua sendi ini ialah sendi sinovial.

Kartilago aritenoid merupakan rawan kecil berjumlah dua dan berbentuk piramid.

Keduanya terletak di belakang laring, di lateral tepi atas lamina kartilago krikoid. Masing-masing tulang rawan memiliki apeks di atas dan basis di bawah. Apeks menyangga kartilago kornikulata. Basis berartikulasi dengan kartilago krikoid.

Kartilago kornikulata adalah dua nodulus kecil yang berartikulasi dengan

apeks-apeks kartilago aritenoid dan menjadi tempat melekat plika-plika ariepiglotika.

Kartilago kuneiformis merupakan dua tulang rawan kecil berbentuk batang yang

terletak sedemikian rupa sehingga masing-masing terdapat dalam satu plika ariepiglotika. Berfungsi untuk menyokong plika tersebut.

Epiglotis merupakan tulang rawan yang tipis, fleksibel, berbentuk daun dan

fibroelastik. Petiola merupakan bagian inferior yang sempit melekat pada tulang rawan tiroid tepat di atas komisura anterior. Dekat ujung bawah petiola terdapat penonjolan, tuberkulum epiglotis, yang seringkali menutupi komisura anterior pada pemeriksaan laring tidak langsung. Tulang rawan ditembus oleh beberapa foramen di bawah perlekatan ligamen hioepiglotika. Bagian epiglotis ini membentuk dinding posterior ruang praepiglotika yang merupakan daerah penting pada penyebaran karsinoma laring. Tidak seperti perikondrium tulang rawan hialin, perikondrium epiglotis sangat melekat. Oleh karena itu infeksi cenderung terlokalisasi jika mengenai epiglotis, sedangkan infeksi akan menyebabkan destruksi luas tulang rawan hialin dimanapun, karena terlepasnya perikondrium. Epiglotis dilekatkan pada os hioideum oleh ligamentum hioepiglotikum, dan dilekatkan pada kartilago tiroid oleh ligamentum tiroepiglotikum.

Aditus laringis menghadap ke belakang dan atas, ke dalam laringofaring. Dibatasi di

depan oleh tepi atas epiglotis, di lateral oleh plika ariepiglotika yaitu lipat mukosa yang menghubungkan epiglotis dengan kartilago aritenoid, posterior dan bawah oleh mukosa antara kedua kartilago aritenoid. Kartilago kornikulata yang terletak di puncak kartilago aritenoid dan rawan kecil berbentuk batang, kartilago kuneiformis, menyebabkan tepi atas plika ariepiglotika sedikit meninggi.

Laring juga disokong oleh jaringan elastik. Di sebelah superior, pada kedua sisi laring terdapat membrana kuadrangularis yang meluas ke belakang dari tepi lateral epiglotis hingga tepi lateral kartilago aritenoid. Dengan demikian, membrana ini membagi dinding antara laring dan sinus piriformis, dan batas superiornya disebut plika ariepiglotika. Pasangan jaringan elastik penting lainnya adalah konus elastikus (membrana krikovokalis). Jaringan ini jauh lebih kuat daripada membrana kuadrangularis, dan meluas ke atas dan medial dari arkus kartilaginis krikoidea untuk bergabung dengan ligamentum vokalis pada masing-masing sisi. Jadi konus elastikus terletak di bawah mukosa di bawah permukaan korda vokalis sejati.

Otot-otot laring dapat dibagi dalam dua kelompok. Otot ekstrinsik yang terutama

bekerja pada laring secara keseluruhan, sementara otot intrinsik menyebabkan gerakan antara berbagai struktur-struktur laring sendiri. Otot ekstrinsik dapat digolongkan berdasarkan fungsinya. Otot depresor atau otot-otot leher (omohioideus, sternohioideus, sternotiroideus) berasal dari bagian inferior. Otot elevator (milohioideus, geniohioideus, genioglosus, hioglosus, digastrikus dan stilohioideus) meluas dari os hioideum ke mandibula, lidah dan prosesus stiloideus pada kranium. Otot tirohioideus walaupun digolongkan sebagai otot-otot leher, terutama berfungsi sebagai elevator. Melekat pada os hioideum dan ujung posterior alae kartilago tiroidea adalah konstriktor medius dan inferior yang melingkari faring di sebelah posterior dan berfungsi pada saat menelan. Serat-serat paling bawah dari otot konstriktor inferior berasal dari krikoid, membentuk krikofaringeus yang kuat, yang berfungsi sebagai sfingter esofagus superior.

Anatomi otot-otot intrinsik laring paling baik dimengerti dengan mengaitkan fungsinya. Serat-serat otot interaritenoideus (aritenoideus) transversus dan oblikus

meluas di antara kedua kartilago aritenoidea. Bila berkontraksi, kartilago aritenoidea akan bergeser ke arah garis tengah, mengaduksi korda vokalis. Otot krikoaritenoideus posterior meluas dari permukaan posterior lamina krikoidea untuk berinsersi ke dalam prosesus muskularis aritenoidea, otot ini menyebabkan rotasi aritenoid ke arah luar dan mengabduksi korda vokalis. Antagonis utama otot ini, yaitu otot krikoaritenoideus lateralis berorigo pada arkus krikoidea lateralis, insersinya juga pada prosesus muskularis dan menyebabkan rotasi aritenoid ke medial, menimbulkan aduksi. Yang membentuk tonjolan korda vokalis adalah otot vokalis dan tiroaritenoideus yang hampir tidak dapat dipisahkan, kedua otot ini ikut berperan dalam membentuk tegangan korda vokalis. Otot-otot laring utama lainnya adalah pasangan Otot-otot krikotiroideus, yaitu Otot-otot yang berbentuk kipas berasal dari arkus krikoidea di sebelah anterior dan berinsersi pada permukaan lateral alae tiroid yang luas. Kontraksi otot ini menarik kartilago tiroidea ke depan, meregang dan menegangkan korda vokalis. Kontraksi ini secara pasif juga memutar aritenoid ke medial, sehingga otot krikotiroideus juga dianggap sebagai otot aduktor. Maka secara ringkas dapat dikatakan terdapat satu otot abduktor, tiga aduktor, dan tiga otot tensor.

Struktur laring dalam. Sebagian besar laring dilapisi oleh mukosa toraks bersilia

yang dikenal sebagai epitel respiratorius. Namun, bagian-bagian laring yang terpapar aliran udara terbesar, misalnya permukaan lingua pada epiglotis, permukaan superior plika ariepiglotika, dan permukaan superior serta tepi bebas korda vokalis sejati, dilapisi epitel gepeng yang lebih keras. Kelenjar penghasil mukus banyak ditemukan dalam epitel respiratorius.

Struktur pertama yang diamati pada pemeriksaan memakai kaca adalah epiglotis. Tiga pita mukosa (satu plika glosoepiglotika mediana dan dua plika glosoepiglotika lateralis) meluas dari epiglotis ke lidah. Di antara pita median dan setiap pita lateral terdapat satu kantung kecil, yaitu valekula. Di bawah tepi bebas epiglotis, dapat terlihat aritenoid sebagai dua gundukan kecil yang dihubungkan oleh otot interaritenoid tipis. Perluasan dari masing-masing aritenoid ke anterolateralis menuju tepi lateral bebas dari epiglotis adalah plika ariepiglotika, merupakan suatu membrana kuadrangularis yang dilapisi mukosa. Di lateral plika ariepiglotika terdapat sinus atau resesus piriformis. Struktur ini bila dilihat dari atas, merupakan suatu kantung berbentuk segitiga di mana tidak memiliki dinding posterior. Dinding medialnya di bagian atas adalah kartilago kuadrangularis dan di bagian bawah kartilago aritenoidea dengan otot-otot lateral yang melekat padanya, dan dinding lateral adalah permukaan dalam alae tiroid. Di sebelah posterior sinus piriformis berlanjut sebagai hipofaring. Sinus piriformis dan faring bergabung ke bagian inferior, ke dalam introitus esofagi yang dikelilingi oleh otot krikofaringeus yang kuat.

Gambar 2.4. Struktur dalam laring

Dalam laring sendiri, terdapat dua pasang pita horizontal yang berasal dari aritenoid dan berinsersi ke dalam kartilago tiroidea bagian anterior. Pita superior adalah korda vokalis palsu atau pita ventrikular, dan lateral terhadap korda vokalis sejati. Korda vokalis palsu terletak tepat di inferior tepi bebas membrana kuadrangularis. Ujung korda vokalis sejati (plika vokalis) adalah batas superior konus elastikus. Otot vokalis dan tiroaritenoideus membentuk massa dari korda vokalis ini. Karena permukaan superior korda vokalis adalah datar, maka mukosa akan memantulkan cahaya dan tampak berwarna putih pada laringoskopi indirek. Korda vokalis palsu dan sejati dipisahkan oleh ventrikulus laringis. Ujung anterior ventrikel meluas ke superior sebagai suatu divertikulum kecil yang dikenal sebagai sakulus laringis, di mana terdapat sejumlah kelenjar mukus yang diduga melumasi korda vokalis. Pembesaran sakulus secara klinis dikenal sebagai laringokel.

2.3 Persarafan, Perdarahan dan Drainase Limfatik Laring

Dua pasangan saraf mengurus laring dengan persarafan sensorik dan motorik. Dua saraf laringeus superior dan dua inferior atau laringeus rekurens, saraf laringeus merupakan cabang-cabang saraf vagus. Saraf laringeus superior meninggalkan trunkus vagalis tepat di bawah ganglion nodosum, melengkung ke anterior dan medial di bawah arteri karotis eksterna dan interna, dan bercabang dua menjadi suatu cabang sensorik interna dan cabang motorik eksterna. Cabang interrna menembus membrana tirohioidea untuk mengurus persarafan sensorik valekula, epiglotis, sinus piriformis, dan seluruh mukosa laring superior interna tepi bebas korda vokalis sejati. Masing-masing cabang eksterna merupakan suplai motorik untuk satu otot saja, yaitu otot krikotiroideus. Di sebelah inferior, saraf rekuens berjalan naik dalam alur di antara trakea dan esofagus, masuk ke dalam laring tepat di belakang artikulasio krikotiroideus, dan mengurus persarafan motorik semua otot intrinsik laring kecuali krikotiroideus. Saraf rekurens juga mengurus sensasi jaringan di bawah korda vokalis sejati (regio subglotis) dan trakea superior. Karena perjalanan saraf inferior kiri yang lebih panjang serta hubungannya dengan aorta, maka saraf ini lebih rentan cedera dibandingkan saraf yang kanan.

Suplai arteri dan drainase venosus dari laring paralel dan suplai sarafnya. Arteri dan vena laringea superior merupakan cabang-cabang arteri dan vena tiroidea superior, dan keduanya bergabung dengan cabang interna saraf laringeus superior untuk membentuk pedikulus neurovaskuler superior. Arteri dan vena laringea inferior berasal dari pembuluh tiroidea inferior dan mask ke laring bersama saraf laringeus rekurens.

Pengetahuan mengenai drainase limfatik pada laring adalah penting pada terapi kanker. Terdapat dua sistem drainase terpisah, superior dan inferior, dimana garis pemisah adalah korda vokalis sejati. Korda vokalis sendiri mempunyai suplai limfatik yang buruk. Di sebelah superior aliran limfe menyertai pedikulus neurovaskular superior untuk bergabung dengan nodi limfatisi superiores dari rangkaian servikalis profunda setinggi os hioideus. Drainase subgotis lebih beragam, yaitu ke nodi limfatisi pretrakeales (satu kelenjar tepat di depan krikoid dan disebut nodi Delphian), kelenjar getah bening servikalis profunda inferior, nodi supraklavikularis dan bahkan nodi mediastinalis superior.

2.4 Fisiologi Laring

Walaupun biasanya laring dianggap sebagai organ penghasil suara, namun ternyata mempunyai tiga fungsi utama, yaitu proteksi jalan napas, respirasi dan fonasi. Kenyataannya secara filogenetik, laring mula-mula berkembang sebagai suatu sfingter yang melindungi saluran pernapasan, sementara perkembangan suara merupakan peristiwa yang terjadi belakangan.

Perlindungan jalan napas selama aksi menelan terjadi melalui berbagai mekanisme berbeda. Aditus laringis sendiri tertutup oleh kerja sfingter dari otot tiroaritenoideus dalam plika ariepiglotika dan korda vokalis palsu, disamping aduksi korda vokalis sejati dan aritenoid yang ditimbulkan oleh otot intrinsik laring lainnya. Elevasi laring di bawah pangkal lidah melindungi laring lebih lanjut dengan mendorong epiglotis dan plika ariepiglotika ke bawah menutup aditus. Struktur ini mengalihkan makanan ke lateral,

menjauhi aditus laringis dan masuk ke sinus piriformis, selanjutnya ke introitus esofagi. Relaksasi otot krikofaringeus yang terjadi bersamaan mempermudah jalan makanan ke dalam esofagus sehingga tidak masuk ke laring. Di samping itu, respirasi juga terhambat selama proses menelan melalui suatu refleks yang diperantarai reseptor pada mukosa daerah supraglotis. Hal ini mencegah inhalasi makanan atau saliva.

Pada bayi, posisi laring yang lebih tinggi memungkinkan kontak antara epiglotis dengan permukaan posterior palatum mole. Maka bayi-bayi dapat bernapas selama laktasi tanpa masuknya makanan ke jalan napas.

Selama respirasi, tekanan intratoraks dikendalikan oleh berbagai derajat penutupan korda vokalis sejati. Perubahan tekanan ini membantu sistem jantung sepeti juga ia mempengaruhi pengisian dan pengosongan jantung dan paru. Pelepasan tekanan secara mendadak menimbulkan batuk yang berguna untuk mempertahankan ekspansi alveoli terminal dari paru dan membersihkan sekret atau partikel makanan yang berakhir dalam aditus laringis, selain semua mekanisme proteksi lain yang disebutkan di atas.

Tiap penyakit yang mempengaruhi kerja otot intrinsik dan ekstrinsik laring (paralisis saraf, trauma, pembedahan), atau massa korda vokalis sejati (misalnya paralisis saraf, trauma, pembedahan) akan mempengaruhi fungsi laring, akibatnya akan terjadi gangguan menelan ataupun perubahan suara.

2.5 Obstruksi Saluran Pernapasan Atas Infeksius

Radang akut saluran pernapasan atas jauh lebih penting pada bayi dan anak kecil dibandingkan pada anak yang lebih tua, karena jalan napas yang lebih kecil cenderung menghadapkan anak kecil pada suatu keadaan penyempitan yang relatif lebih berat

daripada yang ditimbulkan oleh tingkat radang yang sama pada anak yang lebih tua. Laring disusun dari empat kartilago (yaitu: tiroid, krikoid, aritenoid, epiglotis) dan jaringan lunak yang menyatukannya. Kartilago krikoid melingkari jalan napas tepat di bawah plika vokalis dan membatasi bagian saluran pernapasan atas anak yang paling sempit.

Radang yang meliputi plika vokalis dan struktur sebelah inferior plika disebut laringitis, laringotrakeitis, atau laringotrakeobronkitis, dan radang struktur sebelah superior plika (yaitu: aritenoid, lipatan ariepiglotis [“plika palsu”], epiglotis) disebut supraglotitis. Croup adalah istilah umum yang meliputi kelompok heterogen keadaan-keadaan yang relatif akut (kebanyakan infeksi) yang ditandai dengan batuk keras dan kasar yang khas atau “croupy”, yang tidak atau dapat disertai oleh stridor inspiratoir, suara parau, dan tanda-tanda kegawatan pernapasan yang disebabkan oleh berbagai tingkat obstruksi laring. Infeksi tersebut pada bayi dan anak kecil jarang terbatas pada satu daerah saluran pernapasan; biasanya mengenai sampai beberapa tingkat laring, trakea, dan bronkus. Bila ada keterlibatan laring yang cukup dapat menimbulkan gejala klinis dari bagian laring mungkin mengaburkan tanda-tanda trakea atau bronkus.

2.5.1 Etiologi dan Epidemiologi

Agen virus menyebabkan obstruksi saluran pernapasan atas infeksius yang paling akut kecuali yang terkait dengan difteria, trakeitis bakteri, dan epiglotitis akut. Virus parainfluenza menyebabkan sekitar 75% kasus; adenovirus, virus sinsisial respiratorik, influenza dan campak menyebabkan kasus virus sisanya. Pada sebuah penelitian Mycoplama pneumonia ditemukan dari 3,6% penderita yang menderita

obstruksi saluran pernapasan akut. Walaupun Haemophilus influenzae tipe b merupakan penyebab biasa epiglotitis akut, Streptococcus pyogenes, Streptococcus

pneumonia, dan Staphilococcus aureus kadang-kadang terlibat.

Gambar 2.5 Haemophilus influenzae

Dengan hampir lenyapnya infeksi yang disebabkan oleh H.influenzae tipe b karena penggunaan vaksin HIB, kejadian epiglotitis telah menurun secara dramatis. Karenanya agen lain telah mulai menyebabkan proporsi kasus epiglotitis yang lebih besar. Epiglotitis virus adalah penyakit yang jarang tetapi lebih ringan. Kebanyakan penderita yang menderita croup virus berumur antara 3 bulan dan 5 tahun, tetapi penyekit yang disebabkan H.influenzae dan Corynebacterium diphteriae lebih lazim ditemukan pada penderita yang berumur 3-7 tahun. Insidens croup lebih tinggi pada orang laki-laki, dan penyakit ini terjadi paling lazim selama musim dingin setiap tahunnya. Sekitar 15% penderita mempunyai riwayat keluarga croup yang kuat dan laringitis cenderung kambuh pada anak yang sama.

Sindrom croup mempunyai manifestasi klinis yang bervariasi dari ringan

sampai berat. Yang termasuk sindrom croup antara lain; laringotrakeobronkitis, epiglotitis, spasmodic croup, dan trakeitis bakteri.

2.5.2.1 Croup (Laringorakeobronkitis)

Croup, bentuk obstruksi saluran pernapasan akut yang paling lazim,

terutama disebabkan oleh virus. Tanda-tanda utama yang tampak adalah edema radang, destruksi epitel bersilia, dan eksudat. Infeksi bakteri sekunder jarang terjadi. Kebanyakan penderita menderita infeksi saluran pernapasan atas yang progresif, dan terjadi serangkaian gejala-gejala dan tanda-tanda yang khas. Mula-mula hanya ringan, batuk keras dan kasar dengan stridor inspiratoir yang intermitten. Ketika obstruksi bertambah, stridor menjadi teus-menerus dan disertai dengan penjelekan batuk, pelebaran lubang hidung dan retraksi suprasternal, infrasternal, dan interkostal. Ketika radang meluas ke bronkus dan bronkiolus, kesukaran pernapasan bertambah, dan fase ekspirasi pernapasan juga menjadi berat dan lama. Terjadi berbagai tingkat keterlibatan saluran pernapasan bawah. Suhu tubuh mungkin hanya sedikit naik. Gejala-gejala secara khas memburuk pada malam hari; jarang mencapai 39-40ºC dan sering kambuh dengan intensitas yang menurun selama beberapa hari. Biasanya anak yang lebih tua sakitnya tidak serius. Anggota keluarga yang lain dapat menderita penyakit pernapasan ringan. Lama sakit berkisar dari beberapa hari kadang-kadang beberapa minggu; sering berulang sejak umur 3-6 tahun, berkurang sejalan dengan pertumbuhan jalan napas. Pemburukan pada sebagian

besar penderita croup hanya sejauh stridor dan sedikit dispnea sebelum mereka mulai menyembuh. Pada beberapa kasus ada obstruksi yang lebih jelek. Agitasi dan menangis sangat memperburuk gejala dan tanda-tanda, dan anak lebih suka duduk tegak di tempat tidur atau dipertahankan tegak.

Gambar 2.6. Croup

Mungkin ada pengurangan suara pernapasan bilateral, ronki, dan krepitasi tersebar. Pada gangguan jalan napas lebih lanjut, terjadi kelaparan udara dan kegelisahan, dan kemudian digantikan oleh hipoksemia berat hiperkapnea dan kelemahan, disertai dengan pengurangan pertukaran udara dan stridor, takikardia, dan akhirnya mati karena hipoventilasi. Pada anak hipoksemia yang mungkin sianosis, pucat atau akut, setiap manipulasi faring, termasuk penggunaan penekan lidah, dapat mengakibatkan henti kardiorespirasi. Karenaya pemeriksaan ini harus ditunda, dan oksigen harus diberikan sampai penderita dipindahkan ke tempat di rumah sakit dimana manajemen optimal jalan napas dan syok dimungkinkan. Kadang-kadang pola laringotrakeobronkitis berat mungkin sukar dibedakan dari epiglotitis, walaupun

biasanya epiglotis bermula lebih eksplosif dan perjalanan penyakitnya cepat; ia juga memerlukan tindakan pencegahan yang sama. Pemeriksaan roentgenografi nasofaring dan saluran pernapasan atas dapat membantu.

2.5.2.2 Epiglotitis Akut (Supraglotitis)

Epiglotitis adalah selulitis jaringan yang terdiri dari jalan masuk laring yang meliputi epiglotis, lipatan ariepiglotis, dan kartilago aritenoid. Penyebarannya hampir selalu H. Influenzae tipe b. Epiglotitis yang disebabkan oleh patogen lain sangat jarang. Invasi langsung yang terlibat oleh H. Influenzae tipe b mungkin merupakan pencetus kejadian patofisiologis. Keadaan dramatis

Dalam dokumen Naskah Kuliah Blok 15 Pseudo Croup (Halaman 6-35)

Dokumen terkait