• Tidak ada hasil yang ditemukan

Adapun penelitian terdahulu yang pernah dikaji sebelumnya adalah penelitian yang dilakukan olehPetra Patria Diah P. (2011) Program Studi Sastra Inggris, Universitas Indonesia dengan judul Analisis Penerjemahan Pronomina Persona Inggris Indonesia dalam Subtitle Film The Little Focker. Dalam penelitiannya, iamenyimpulkan bahwa penerjemahan subtitle dalam film The Little Focker tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Penelitian yang ia lakukan hanya terbatas pada objek pronomina saja, bukan dari keseluruhan dialog. Contoh :Im not, she’s the rock star. She’s a rock star mom and full on rocking person. And Imjust a groupies tryin to carry her amps.Artinya :tidak, dialah yang hebat. Dia orang yang hebat dan aku hanya pengagumnya.Dalam contoh tersebut, pronomina dia digunakan untuk menerjemahkan baik kata she/he yang pertama maupun yang kedua. Pronomina she dalam bahasa Inggris memiliki komponen pembeda jender, sedangkan pronomina dia dalam bahasa Indonesia memiliki sifat netral sehingga dapat digunakan kepada siapa saja.

Adapun penelitian selanjutnya yang pernah diteliti oleh Melli Amalia (2010) Program Studi Tarjamah, UIN Syarif Hidayatullah dengan judul Penerjemahan Dialog Arab Dalam Film Ayat-Ayat Cinta. Melli Amalia menyimpulkan bahwa penerjemahan subtitle dialog Arab dalam film Ayat-Ayat Cinta masih kurang relevan, misalnya ucapan potongan ayat Al-Qur’an, yang dalam penerjemahannya memiliki ketidaksamaan antara penerjemahan subtitle dengan terjemahan Al-Qur’an Departement agama Republik Indonesia (Depag RI) dan juga tidak sesuai dengan metode penerjemahan yang ada. Contoh :

ﺎﺸﺗ ﻦہﻣ ﻚﻠہﻟﺍ ﻉﺰﻨﺗﻭ ءﺎﺸﺗ ﻦﻣ ﻚﻠہﻟﺍ ﻲﺗﺆﺗ ﻚﻠہﻟﺍ ﻚﻟﺎﻣ ﻢﻬﻠﻟﺍ ﻞﻗ

ء

/qul allāhumma mālika al-mulki tu’tī al-mulka man tasyā’u watanzi’u al-mulka mimman tasyā’u/’Katakanlah : wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan. Engkau berikan kerajaan kepada orang yang engkau kehendaki dan engkau cabut kerajaan dari orang yang engkau kehendaki.’( QS : Al-Imran : 26, Depag RI ).

Dalam penelitiannya, ia menjelaskan bahwa terjemahan dalam skenario tidak sesuai dengan terjemahan Departemen Agama. Bahkan ia mengkatagorikannya menjadi penerjemahan yang tidak tepat. Terjemahan dalam skenario yaitu,Jika Allah menghendaki siapapun bisa menjadi jodohmu. Jangan sekali-kali melangkahi kehendaknya.

Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu yang telah disampaikan, bahwa penelitian tentang judul yang peneliti kaji pada saat ini tidak memiliki persamaan atau pun kemiripan dengan kajian-kajian ilmiah yang telah disampaikan atau pun dengan kajian lainnya yang terdapat di Program Studi Sastra Arab Universitas Sumatera Utara (USU) maupun yang ada dilembaga intitusi pendidikan lain.

2.2. Defenisi Penerjemahan

Penerjemahan adalah salah satu aktivitas yang dibuat oleh manusia untuk berkomunikasi antara suatu bahasa dengan bahasa lain dan antara suatu budaya dengan budaya lainnya (A. Muhammad: 1950). Bidang semacam ini menuntut keahlian seorang penerjemah yang bersifat multidisipliner, yaitu kemampuan seorang penerjemah dalam penguasaan bahasa sumber dan bahasa sasaran berikut dengan kebudayaannya secara sempurna dan memahami teori yang dipakai dalam suatu kegiatan terjemahan.Budaya suatu bangsa berbeda dengan bangsa lain, maka bahasa suatu bangsa juga berbeda dengan bangsa yang lainnya. Terjemahan yang baik adalah terjemahan yang benar, jelas dan wajar.Penerjemah dituntut untuk menguasai pokok bahasan tentang pengetahuan bahasa sumber dan bahasa sasaran.

Kegiatan penerjemahan tidak dapat dipisahkan dari masalah makna, karena makna merupakan pusat perhatian penerjemah. Metode, prosedur dan teknik dikerahkan sepenuhnya dalam proses kegiatan penerjemahan supaya penerjemah mengetahui pesan apa yang tersirat dalam bahasa sumber tersebut. Dalam bahasa Indonesia, istilah terjemah diambil dari bahasa Arab,

ﺔہﺟﺮﺗ

/tarjamah/. Namun bahasa Arab sendiri memungut istilah ini dari bahasa Armenia, yaitu turjuman

mengalihkan suatu tuturan bahasa kedalam suatu tuturan bahasa lainnya. Az-Zarqani dalam (Syihabuddin, 2000:6) mengemukakan bahwa secara etimologi istilah terjemah memiliki empat makna :

(a). Menyampaikan tuturan kepada orang yang tidak menerima tuturan itu. (b). Menjelaskan tuturan dengan bahasa yang sama.

(c). Menafsirkan tuturan bahasa dengan bahasa yang berbeda.

(d). Mengalihkan atau memindahkan suatu bahasa kedalam bahasa lainnya.

Adapun makna secara terminologis, penerjemahan didefenisikan sebagaiberikut :

ﻩﺪﺻﺎﻘﻣﻮﻬﻴﻧﺎﻌﻣ ﻊﻴہﺠﺑ ءﺎﻓﻮﻟﺍ ﻊﻣ ﻱﺮﺧﺍ ﺔﻐﻟ ﻦﻣ ﺮﺧﺍ ﻡﻼﻜﺑ ﺔﻐﻟ ﻲﻓ ﻡﻼﻛ ﻲﻨﻌﻣ ﻦﻋ ﺮﻴﺒﻌﺘﻟﺍ

al-ta’bīru‘an ma’nā kalamin fĭ lughati bikalāmin ākharin min lughatin ukhrā ma’al al-wafā’i bijamī’i m’ānihi wamaqāsidihi/. Maksudnya, mengungkapkan makna tuturan suatu bahasa dalam bahasa lain dengan memenuhi seluruh makna dan maksud tuturan itu’.

Penerjemahan sendiri terbagai menjadi dua macam, yaitu penerjemahan bahasa tulisan dan penerjemahan bahasa lisan.Penerjemahan bahasa tulisan adalah penerjemahan sebuah objek yang sifatnya tertulis seperti penerjemahan sebuah doukumen, buku dan nas-nas kitab suci. Sedangkan penerjemahan bahasa lisan adalah seperti menerjemahkan ucapan yang di ucapkan oleh seseorang atau pun menerjemahkan sebuah dialog tertentu yang diucapkandalam sebuah film dengan merekam dialog tersebut terlebih dahulu.

Menurut Nida dan Taber (1969), penerjemahan adalah memberikan satu defenisi penerjemahan sebagai penyalinan pesan pada bahasa sumber (Bsu) ke dalam bahasa sasaran(Bsa) dengan mencari persamaan bukan kesurupaan. Persamaan itu mesti sejadi, atau persamaan yang paling terdekat dengan mengutamakan makna dan tetap menjaga gaya bahasa asal atau stailnya. Sedangkan Newmark (1981) juga memberikan pengertian penerjemahan sebagai penggantian pesan atau pernyataan tertulis dalam satu bahasa. Pesan dalam bahasa sumber harus sama dengan pesan yang telah dipindahkan kedalam bahasa sasaran

untuk menggantikan pernyataan yang telah ada sebelumnya. Seterusnya Catford (1965), ia mendefinisikan bahwa penerjemahan adalah penggantian bahasa teks, bahasa sumber yang dituliskan ke dalam bahasa sasaran atau mencari persamaan-persamaan dalam bahasa sasaran. Lain halnya dengan Husnan Lubis (2008:09), ia mengatakan bahwa penerjemahanadalahmembungkus atau menyampaikan informasi yang terkandung dalam bahasa sumberdengan menggunakan bahasa sasaran. Berdasarkan pendapat para ahli diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa penerjemahan adalah membuat suatu persamaan kata atau kalimat dari bahasa sumber (Bsa) ke dalam bahasa sasaran (Bsu) atau bahasa penerima, yaitu pesan yang disampaikan dalam bahasa sumber haruslah dicari persamaan katanya dan kemudian pesan tersebut dialihkan ke dalam bahasa sasaran dengan tidak berubah maksuddan tujuan dari pesan bahasa sumber tersebut. Dengan demikian, setiap pesan bahasa sumber yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa sasaran dapat dimengerti oleh penerima pesan tersebut.Untuk itu diperlukannya penerjemahan yang bagus, yaitu penerjemahan dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran.

Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa, penerjemahan dialog bahasa Arab

fuşhā dalam film KCB dapat dikatagorikan menjadi penerjemahan bahasa lisan. Dialog Arabfuşhā yang diterjemahkan oleh Habiburrahman ke dalam bahasa Indonesia sebagai bahasa penerima sudah barang tentu memakai beberapa metode penerjemahan. Jika tidak, maka secara teori penerjemahan yang dihasilkan akan tidak layak digunakan, sehingga pesan yang terkandung dalam bahasa sumber tidak akan bisa terbaca oleh penerima bahasa sumber tersebut. Namun, metode penerjemahan yang ada pada dialog tersebut tidak terlihat adanya.

2.3.Metode Penerjemahan

Penerjemahan tidakakan bisa dilakukan begitu saja tanpa adanya metode penerjemahan tertentu. Kita tidak bisa mengambil sebuah objek, selanjutnya menerjemahkan sesuka hati kita tanpa mengetahui tata cara penerjemahan yang benar dan wajar. Tata cara penerjemahan tersebut harus mengikuti prosedur penerjemahan yang baik. Prosedur itu berupa metode yang di terapkan dalam sebuah penerjemahan. Penerjemah harus menentukan metode apa yang dipakai

terlebih dahulu sebelummenerjemahkan dialog tersebut supaya terjemahan yang dihasilkan konkrit dan benar. Secara harfiah, metode berarti prosedur atau cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan tertentu agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki.

Seorang penerjemah haruslah memiliki metode penerjemahan yang jelas, yaitu melakukan penerjemahan sesuai dengan apa yang telah direncanakan.Dengan kata lain, metode penerjemahan adalah cara tertentu yang dipilih atau dipercayai oleh penerjemah terhadap sebuah penugasan (Molina & Hurtado Albir,2002: 507). Jadi, metode adalah opsi global yang dapat mempengaruhi teks terjemahan secara keseluruhan.Metode yang dipilih penerjemah harus sinergi untuk menghasilkan terjemahan memadai bagi pembaca sasaran.Sebagai contoh, ketika akan menerjemahkan sebuah teks buku untuk anak-anak, penerjemah harus sudah merencanakan apakah akan menghilangkan istilah-istilah sulit yang mungkin akan menimbulkan kesulitan atau kesukaran bagi pembaca sasaran. Pemilihan suatu metode dan disertai dengan pertimbangan-pertimbangan yang matang dan bagus mengenai pembaca sasaran, jenis teks, keinginan serta maksud pengarang teks, dan tujuan penerjemahan teks yang direncanakan tersebut.

Untuk menegetahui metode penerjemahan dialog, peneliti menggunakan teori Catford, House dan L. Forster.Catford, House dan L. Forster dalam Hanafi (1986:54) mengungkapkan adanya beberapa terjemahan yang sangat kompleks dan saling berhubungan. Terjemahan Catford, yaitu full, partial, total dan

restricted. Sedangkan House, Overt dan covert translation. Dan selanjutnya L. Forster mengusulkan ada tiga macam metode penerjemahan, (i) the unit is individual, (ii) the unit is the sentence or phrase, (iii) dan the unit is the whole work. Namun, menurut Hanafi (1986: 54) bila kesemuanya itu ditarik kesimpulan baik apa yang diungkapkan oleh Catford, L. Forster maupun House, mereka semua mengakui adanya macam ragam metode penerjemahan yang dapat dibagi menjadi, penerjemahan kata demi kata, penerjemahan harfiah dan penerjemahan bebas.

1. Terjemahan Kata demi Kata (Word of The Word Translation)

Terjemahan kata demi kata adalah terjemahan yang menerjemahkan kata demi kata dalam sebuah kalimat.Terjemahan ini sering sekali dimanfaatkan oleh penerjemah dalam menerjemahkan nas-nas kitab suci seperti Al-Qur’an, Hadist maupun Alkitab. Penerjemahan kata demi kata dianggap sangat mudah dalam menerjemahkan sebuah teks, karena sesuai dengan namanya yaitu kata demi kata, yaitu penerjemahan langsung dari sebuah kata sumber ke dalam kata sasaran, akan tetapi tidak ada peniruan terhadap susunan tata bahasa sumber.

Contoh I :the fogs comes on little cat feet, Artinya : kabut datang diatas kaki kucing kecil

Contoh II :

ﺭﺪﺑ ﺖﻧﺍ ﺲہﺷ ﺖﻧﺍ

/anta syamsun anta badrun/

engkau matahari, engkau bulan.

Dokumen terkait