• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menurut Simatupang (1991) serta Sudaryanto dan Simatupang (1993) konsep keunggulan komparatif merupakan ukuran daya saing (keunggulan) potensial, daya saing akan dicapai apabila perekonomian tidak mengalami distorsi sama sekali. Komoditas yang memiliki keunggulan komparatif dikatakan juga memiliki efisiensi secara ekonomi. Keunggulan kompetitif merupakan pengukur daya saing suatu kegiatan pada kondisi perekonomian aktual. Terkait dengan konsep keunggulan komparatif adalah kelayakan ekonomi, dan terkait dengan keunggulan kompetitif adalah kelayakan finansial dari suatu aktivitas. Sumber distorsi yang dapat mengganggu tingkat daya saing antara lain adalah (1) kebijakan pemerintah, baik yang bersifat langsung (seperti tarif) maupun tidak langsung (seperti regulasi); dan (2) distorsi pasar, karena adanya ketidaksempurnaan pasar (market imperfection), misalnya adanya monopoli/monopsoni domestik.

Esterhuizen et al. (2008) dalam Saptana (2010) mendefinisikan daya saing (competitiveness) sebagai kemampuan suatu sektor industri, atau perusahaan untuk bersaing dengan sukses dalam mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan di dalam lingkungan global selama biaya imbangannya lebih rendah dari penerimaan sumber daya yang digunakan. Pada tingkat produsen, suatu komoditas dapat memiliki keunggulan komparatif, memiliki biaya oportunitas yang relatif rendah, namun ditingkat konsumen tidak memiliki daya saing (keunggulan kompetitif) karena adanya distorsi pasar dan/atau biaya transaksi yang tinggi. Hal sebaliknya juga dapat terjadi, karena adanya dukungan (campur tangan) kebijakan pemerintah, suatu komoditas memiliki daya saing di tingkat konsumen padahal ia tidak memiliki keunggulan komparatif di tingkat produsen.

Pengukuran status daya saing sektor agribisnis dapat menggunakan Relative Trade Advantage/RTA (Balasa, 1989). RTA merupakan alat pengukur daya saing dan kinerja ekspor/impor melalui data post-trade (Ayala-Garay et al.,2009). Berdasarkan hal tersebut, maka sumber data alat analisis RTA menggunakan pos data perdagangan ekspor dan impor. RTA dihitung sebagai selisih antara Relative Export Advantage (RXA), yang setara dengan indeks Ballasa asli (RCA), dengan Relative Import Advantage (RMA) (Fitriani et al,2014). Perbedaan utama RXA Vollrath dari indeks asli RCA Balassa adalah bahwa hal itu untuk mencegah dari penghitungan ganda (Ferto dan Hubbard, 2003 dalam Fitriani et al, 2014 hal 89). Sedangkan analisis status daya saing terutama dari pandangan pengambil kebijakan dapat dilakukan dengan Agribusiness Executive Survey (AES). Melalui pandangan dari pengambil kebijakan tersebut, dilihat faktor penghambat dan faktor yang dapat meningkatkan daya saing. Tingginya biaya transaksi, kebijakan tenaga kerja yang tidak fleksibel, dan kompetensi sumber daya manusia (SDM) di sektor publik merupakan beberapa faktor yang menghambat daya saing dari suatu sektor. Produksi yang terjangkau, produk yang berkualitas tinggi, kompetisi yang ketat di pasar domestik, dan inovasi yang berkelanjutan merupakan kunci sukses sebagai faktor-faktor dalam meningkatkan daya saing.

Terdapat hubungan yang jelas antara perubahan di lingkungan pengambilan keputusan dan kinerja daya saing suatu sektor. Hubungan ini mempengaruhi keberlanjutan status daya saing suatu sektor. Analisis kualitatif dan kuantitatif pada level kelembagaan agribisnis dapat menggunakan Agribusiness Confidence Index (ACI). Analisis ACI memperlihatkan bahwa tren dalam keyakinan bisnis pada suatu sektor dipengaruhi oleh sejumlah aktifitas kompleks dan ekspektasi yang mencakup kondisi iklim, perubahan pada nilai tukar mata uang dan suku bunga, pertumbuhan ekonomi, perubahan omzet dan pendapatan bersih usaha.

Alat ukur daya saing yang juga banyak digunakan adalah Revealed Competitive Advantage (RCA). RCA merupakan rasio atau perbandingan antara share produk yang diekspor suatu negara terhadap perdagangan dunia (Balassa, 1965 dalam Esterhuizen, 2006 hal 116). RCA dapat digunakan untuk menilai potensi ekspor suatu negara. Indeks RCA memberikan informasi yang berguna mengenai kemungkinan potensi perdagangan dengan negara mitra baru. Negara yang memiliki profil RCA yang sama kemungkinan besar tidak ingin menjalin hubungan perdagangan bilateral yang intensitasnya sangat tinggi kecuali terlibat dalam perdagang yang industrinya sama. Berdasarkan Balassa, 1965 dalam Esterhuizen, 2006 hal 116, menyatakan bahwa RCA dapat ditunjukkan oleh kinerja perdagangan dari individu komoditas dan negara dalam pengertian bahwa pola perdagangan komoditas tersebut mencerminkan biaya relatif pasar sama halnya seperti perbedaan pada faktor daya saing non-price, seperti kebijakan pemerintah.

Dalam penelitian ini menggunakan Policy Analysis Matrix (PAM), hasil analisis ini dipakai untuk melihat dua indikator pokok pengukur daya saing, yaitu Private Cost Ratio (PCR) yang merupakan indikator keunggulan kompetitif yang menunjukkan kemampuan sistem untuk membayar biaya sumber daya domestik dan tetap kompetitif pada harga privat, Domestic Resource Cost Ratio (DRCR) merupakan indikator keunggulan komparatif, yang menunjukkan jumlah sumber daya domestik yang dapat dihemat untuk menghasilkan satu unit devisa (Monke and Pearson, 1995). Selain itu dengan PAM juga dapat digunakan untuk melihat dampak efektivitas kebijakan (divergensi) terhadap input, output, serta input-output secara keseluruhan.

Daya Saing Komoditas Pertanian

Penelitian yang berkaitan dengan daya saing telah banyak dilakukan, banyak peneliti terdahulu menggunakan metode PAM. Penelitian mengenai daya saing berkaitan dengan komoditas yang memiliki pengaruh penting terhadap perekonomian suatu negara. Beberapa penelitian mengenai daya saing komoditas pokok disuatu negara diantaranya yaitu kacang-kacangan (Mahmoud, 2014), gandum (Rehman et al,. 2011), padi (Ugochukwu and Ezedinma, 2011; Akramov and Malek, 2012) dan ternak (Bojnec, 2003). Selain penelitian daya saing pada komoditas pokok, penelitian daya saing juga telah dilakukan pada beberapa komoditas perkebunan seperti manggis (Kustiari et al,. 2012; Muslim dan Nurasa, 2011), teh (Suprihatini, 2005) dan kapas (Mohanty et al., 2003). Tujuan dari semua penelitian tersebut adalah mengukur daya saing dan dampak kebijakan pemerintah terhadap komoditas pangan dan perkebunan agar dapat bersaing di pasar global. Dengan mengetahui status daya saing dan dampak kebijakan

pemerintah, diharapkan dapat melihat keunggulan yang dimiliki oleh komoditas tersebut. Sehingga apabila ada kebijakan pemerintah yang kurang mendukung dalam upaya meningkatkan daya saing dapat dievaluasi dan mempertahankan kebijakan yang sudah baik.

Daya saing komoditas perkebunan di Indonesia sudah memiliki daya saing yang cukup baik. Beberapa komoditas perkebunan seperti lada putih (Sudarlin, 2008) dan kopi robusta (Desianti, 2002) memiliki tingkat daya saing yang cukup baik. Keuntungan yang diperoleh dalam pengusahaan komoditas lada putih menunjukkan bahwa pengusahaan komoditas lada putih secara finansial maupun ekonomi sangat menguntungkan dengan nilai keuntungan privat dan sosial masing-masing lebih besar dari nol (positif) untuk setiap tahun produksi. Indikator daya saing komoditas lada putih baik keunggulan kompetitif dan komparatif yang ditunjukkan oleh nilai PCR dan DRCR kurang dari satu untuk masing-masing tahun produksi. Keunggulan kompetitif dan komparatif tertinggi tercapai pada tahun ke-4 dengan nilai PCR dan DRCR yaitu sebesar 0.22 dan 0.18. Hal ini menandakan bahwa pengusahaan komoditas lada putih layak untuk dijalankan dan dikembangkan baik tanpa atau dengan adanya kebijakan pemerintah. Sedangkan dampak kebijakan pemerintah terhadap profitabilitas dan daya saing kopi robusta menunjukkan bahwa profitabilitas perkebunan rakyat secara finansial dan ekonomi menguntungkan. Daya saing per hektar komoditas kopi menunjukkan seluruh wilayah memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif, yang berarti setiap wilayah mampu membiayai sistem produksi kopi lebih murah dengan mendayagunakan sumber daya domestik dibandingkan jika mengimpor kopi.

Bagi Indonesia, padi atau beras merupakan komoditas yang memiliki nilai strategis baik segi ekonomi, sosial maupun politik. Karena karakteristiknya yang unik dan mempunyai peran yang strategis menyebabkan banyak negara di Asia, seperti Bangladesh, Filipina, dan Pakistan menerapkan langkah perlindungan terhadap petani produsennya (Sudaryanto dan Rachman., 2000). Seperti negara lainnya yang menganggap beras sebagai komoditas strategis, Indonesia pun melakukan proteksi terhadap komoditas beras untuk melindungi petani produsen. Petani produsen padi mendapatkan proteksi input,output, maupun input-output dari pemerintah agar dapat berdaya saing (Rachman et al,. 2004; Mantau et al,. 2014). Untuk komoditas pangan lainnya seperti jagung memiliki tingkat daya saing yang baik untuk semua wilayah dan menguntungkan secara finansial maupun ekonomi ( Rusastra et al,. 2004; Mayrita, 2007).

Daya saing di bidang pertanian seperti sektor perkebunan memiliki keunggulan komparatif maupun kompetitif dikarena kondisi iklim dan geografis Indonesia yang mendukung untuk budidaya manggis, kopi dan lada. Sehingga meskipun tidak adanya kebijakan pemerintah, komoditas tersebut tetap memiliki daya saing. Dapat dikatakan bahwa daya saing suatu komoditas dapat dicapai ketika adanya dukungan lingkungan yang baik seperti iklim dan letak geografis. Selain dukungan lingkungan, daya saing juga dapat dicapai ketika pemerintah melakukan intervensi terhadap komoditas yang dianggap memiliki pengaruh terhadap hajat hidup orang banyak.

Daya Saing Komoditas Kedelai

Terkait dengan daya saing kedelai, masih terdapat beragam pendapat mengenai status daya saing kedelai Indonesia. Melalui beberapa penelitian menunjukkan bahwa kedelai domestik tidak memiliki daya saing terhadap kedelai impor (Rosegrant et al., 1987; Simatupang, 1990; Rusastra , 1995). Tetapi pada beberapa penelitian terakhir menunjukkan bahwa usahatani kedelai memiliki daya saing terhadap kedelai impor (Firdaus, 2007; Zakaria et al., 2010; Purwati et al.,2013). Berdasarkan pendapat dari pihak yang menyatakan kedelai domestik tidak memiliki daya saing, berpendapat bahwa usahatani kedelai di Indonesia lebih baik diusahakan diluar Jawa, karena kinerja usahatani kedelai di Jawa sudah mengalami kemunduran. Persaingan dengan komoditas lain yang lebih menguntungkan menjadi salah satu penyebab kinerja usahatani kedelai menurun. Kedelai merupakan salah satu komoditas pangan yang menjadi perhatian pemerintah.

Berdasarkan alat analisis yang digunakannya, beberapa penelitian telah mengukur mengenai daya saing komoditas kedelai serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Alat analisis yang digunakan mengenai daya saing kedelai di Indonesia diantara yaitu RCA (Sarwono, 2014), R/C rasio (Saraswati et al.,2011) dan PAM (Purwati et al.,2013; Firdaus, 2007;dsb). Pada analisis RCA dilakukan dengan melihat data perdagangan, yaitu dengan melihat share ekspor kedelai Indonesia terhadap perdagangan dunia. Penelitian daya saing yang dilakukan dengan menggunakan RCA, yaitu menunjukkan variabel-variabel apa saja yang berpengaruh secara nyata terhadap daya saing kedelai dengan data time series perdagangan. Variabel-variabel yang berpengaruh secara signifikan terhadap daya saing kedelai yaitu produksi kedelai nasional dan ekspor kedelai. Variabel kebijakan pemerintah dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika tidak berpengaruh secara signifikan terhadap daya saing kedelai Indonesia (Sarwono, 2014).

Pada pernyataan diatas menyatakan bahwa variabel produksi kedelai nasional sangat berpengaruh signifikan terhadap daya saing kedelai. Produksi kedelai nasional saat ini sebesar 800 ribu ton per tahun dan selalu berfluktuasi setiap tahunnya. Produksi tersebut masih rendah dibandingkan dengan permintaan kedelai nasional yang mencapai 2 juta ton per tahun. Rendahnya produksi kedelai nasional disebabnya tingginya tingkat persaingan pola tanam di lahan. Produktivitas rata-rata kedelai Indonesia sebesar 1.5 ton per hektar jika dibandingkan dengan tanaman pangan lain seperti padi dan jagung masih kalah bersaing. Titik impas produktivitas kedelai secara finansial layak diusahakan dan dapat bersaing dengan tanaman padi jika produktivitasnya sebesar 1.79-1.88 ton/ha, sedangkan dengan tanaman jagung sebesar 1.72 -1.84 ton/ha (Sarawati et al.,2011). Harga output juga berpengaruh terhadap partisipasi petani dalam menanam suatu komoditas. Suatu komoditas yang memiliki harga yang baik dan stabil lebih disenangi untuk ditanam oleh petani. Harga kedelai yang berlaku di petani saat ini berkisar antara Rp. 6 000 sampai Rp. 7 200 per kilogramnya. Harga ini cukup bersaing dengan harga komoditas pangan lain seperti padi dan jagung. Tingkat harga minimal kedelai agar dapat bersaing dengan komoditas padi berkisar antara Rp. 4 515 per kilo sampai Rp. 4 929 per kilo, sedangkan dengan komoditas jagung harganya berkisar antara Rp. 4 393 per kilo sampai Rp. 4 722

per kilo (Saraswati et al.,2011). Penjelasan terkait dengan produktivitas dan harga kedelai terhadap komoditas pangan pesaing seperti padi dan jagung dapat terlihat bahwa kendala pada komoditas kedelai yaitu terkait dengan produktivitas. Produktivitas yang rendah inilah yang diupayakan untuk ditingkatkan pemerintah melalui program perbaikan teknologi.

Penelitian lain menunjukkan bahwa komoditas kedelai domestik memiliki daya saing terhadap kedelai meskipun masih rentan terhadap fluktuasi harga input-output (Zakaria et al., 2010; Mutiara et al.,2013; Hermanto et al., 1993). Perbaikan sistem budidaya konvensional menjadi sistem budidaya intensif salah satu pendorong dalam meningkatkan daya saing kedelai domestik (Mutiara et al., 2013). Selain itu adanya kebijakan input dan output yang dilakukan pemerintah terhadap komoditas kedelai berdampak positif terhadap keuntungan usahatani kedelai (Zakaria et al., 2010). Adanya kebijakan pemerintah terhadap input dan output kedelai domestik menyebabkan peningkatan nilai tambah yang diterima petani sebesar 5 sampai 7 persen dari yang sebenarnya.

Selain dukungan kebijakan terhadap komoditas kedelai, aspek teknis dan infrastruktur perlu juga di tingkatkan oleh pemerintah dalam upaya mendorong berkembangnya usahatani kedelai. Perbaikan infrastruktur transportasi terbukti dapat meningkatkan daya saing komoditas kedelai (Sutton et al., 2005). Selain itu lingkungan yang mendukung seperti kondisi tanah dan iklim juga dapat mendorong daya saing komoditas kedelai (Hermanto et al., 1993; Khai and Yabe, 2013). Sehingga untuk daerah-daerah sentra kedelai seperti Banyuwangi, Pasuruan, dan Lamongan yang memiliki produktivitas di atas rata-rata nasional memiliki potensi keunggulan komparatif dalam usahatani kedelai (Rusastra et al., 1992). Berdasarkan hasil penelitian-penelitian yang ada, dalam pengembangan komoditas kedelai perlu di lakukan di daerah-daerah yang memiliki lingkungan yang mendukung serta perlu pengembangan kedelai di luar Jawa.

Daerah-daerah sentra produksi kedelai terbesar Indonesia tersebar di provinsi Jawa (Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur), Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat,dan Sulawesi Selatan (Kementan, 2005). Terpusatnya produksi kedelai di Pulau Jawa menjadi suatu kendala bagi perkembangan komoditas kedelai karena terbatasnya lahan dan persaingan pola tanam. Oleh karena itu, apabila ingin melihat perkembangan daya saing kedelai di Indonesai salat satunya dapat dilihat dari perkembangan produksi kedelai di Pulau Jawa. Beberapa penelitian mengenai kedelai telah dilakukan di sentra kedelai di Jawa dan telah menunjukkan beberapa kesimpulan mengenai daya saing kedelai. Kondisi daya saing kedelai di Jawa Barat masih memiliki daya saing meskipun masih rentan terhadap fluktuasi harga input dan output (Zakaria et al., 2010). Provinsi Jawa Timur merupakan sentra produksi kedelai nasional dan dapat dikatakan sebagai lumbung kedelai nasional. Daerah-daerah yang menjadi sentra kedelai tersebar di Banyuwangi, Jember, Madura, dan Lamongan. Daerah Banyuwangi dan Jember sebagai sentra produksi kedelai menunjukkan bahwa komoditas kedelai di kedua daerah tersebut memiliki daya saing baik secara komparatif maupun kompetitif (Firdaus, 2007). Penelitian lain juga menunjukkan bahwa usahatani kedelai di Jawa Timur memiliki daya saing komparatif dan kompetitif yaitu di Kabupaten Sumenep, Madura (Purwati et al.,2013). Penelitian ini menunjukkan bahwa provinsi Jawa Timur dari segi lingkungan cocok sebagai lokasi pengembangan kedelai nasional.

Pada beberapa penelitian mengenai daya saing kedelai diatas, beberapa penelitian menggunakan alat analisis PAM (Firdaus, 2007; Purwati et al., 2013; Zakaria et al., 2010). Pada penelitian-penelitian tersebut menganalisis kebijakan pemerintah terkait dengan subsidi pupuk dan benih serta tarif untuk pestisida. Penelitian-penelitian tersebut tidak hanya menganalisis terkait kebijakan tersebut, tetapi dilakukan juga perbandingan daya saing kedelai pada kondisi lahan yang berbeda-beda dalam beberapa musim. Pembeda penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya yaitu menganalisis kebijakan pemerintah selain pada subsidi pupuk dan benih, dimasukan juga kebijakan pemerintah disektor output seperti penetapan HPP dan perbaikan budidaya kedelai melalui SL-PTT.

Kebijakan Kedelai Nasional

Program peningkatan produksi kedelai tahun 2014 menargetkan produksi kedelai sebesar 2.70 juta ton biji kering dengan peningkatan rata-rata produksi per tahun sebesar 20.05 persen per tahun. Program swasembada kedelai tersebut di dukung dengan penyediaan pupuk, subsidi input, perluasan lahan baru, investasi pemerintah dan swasta di bidang pertanian dan dukungan Kementerian atau Lembaga lain (Kementerian Pertanian, 2014). Program ini dirasa sulit untuk dicapai karena tidak adanya insentif bagi petani untuk menanam kedelai. Menurut Sumarno dan Adie (2010) dalam mewujudkan swasembada kedelai secara berkelanjutan diperlukan strategi sebagai berikut: (1) penyediaan lahan khusus untuk kedelai; (2) insentif ekonomi usahatani kedelai; (3) petani usahatani kedelai skala komersial; (4) adopsi teknologi; (5) program peningkatan produksi kedelai secara target hamparan; dan (6) penyediaan benih dan pengembangan sistem.

Kebijakan pemerintah dalam komoditas kedelai mencakup kebijakan harga, subsidi, dan perdagangan. Tujuan dari kebijakan harga adalah untuk menstabilkan harga, pemerataan pendapatan dan efisiensi (Saliem dan Sudaryanto, 2004). Selain itu kebijakan harga betujuan untuk memberikan insentif secara kepada petani agar dapat mendorong perkembangan komoditas kedelai (Simatupang, 1989). Subsidi terhadap harga input bertujuan untuk mengurangi biaya produksi usahatani kedelai agar dapat meningkatkan pendapatan petani. Subsidi terhadap harga input memiliki efek ganda, selain mengurangi biaya produksi, subsidi harga input juga mengurangi harga jual yang diterima konsumen. Dengan adanya subsidi selain meningkatkan pendapatan petani, disisi lain melindungi konsumen. Harga jual lebih rendah yang diterima oleh konsumen mendorong daya saing kedelai domestik di tingkat pasar jika dibandingkan tanpa ada kebijakan.

Kebijakan selanjutnya yang dilakukan oleh pemerintah yaitu kebijakan perdagangan. Kebijakan perdagangan umumnya berkaitan dengan kebijakan produksi dan pemasaran. Kebijakan di bidang perdagangan umunya berkaitan dengan kebijakan harga (Simatupang, 2003). Kebijakan perdagangan yang diterapkan untuk komoditas kedelai yaitu kebijakan tarif. Kebijakan perdagangan pada umumnya bertujuan untuk memperlancar atau menghambat pemasaran suatu komoditas (Simatupang, 1989). Kebijakan tarif yang diterapkan oleh pemerintah terhadap kedelai saat ini yaitu sebesar nol persen. Kebijakan tarif nol persen membuat kedelai impor dapat masuk ke pasar dalam negeri dengan harga yang lebih rendah dan merugikan petani produsen kedelai domestik. Kebijakan tarif kedelai nol persen dapat menurunkan daya saing kedelai domestik. Selain itu

dalam hal kebijakan tarif, Indonesia telah menandatangani perjanjian pertanian atau Agreement on Agriculture (AoA) sebagai tanda keanggotaannya di WTO (World Trade Organization). Dalam ratifikasi pembentukan WTO yang tertuang dalam UU No. 7 Tahun 1994, yang didalamnya Indonesia berkewajiban mengikuti AoA yang salah satu isinya adalah bagi negara-negara berkembang tidak dapat secara fleksibel melakukan penyesuaian tarif sejalan dengan permasalahan dan perdagangan komoditas pertanian di negaranya (Marlian, 2004). Hal tersebut bersifat disinsentif terhadap kebijakan pembangunan pertanian di Indonesia.

3 KERANGKA PENELITIAN

Teori Daya Saing

Konsep mengenai daya saing umumnya dikaitkan dengan konsep keunggulan komparatif (comparative advantage) dan keunggulan kompetitif (competitive advantage). Menurut Simatupang (1991) serta Sudaryanto dan Simatupang (1993) konsep keunggulan komparatif merupakan ukuran daya saing (keunggulan) potensial, daya saing akan dicapai apabila perekonomian tidak mengalami distorsi sama sekali. Komoditas yang memiliki keunggulan komparatif dikatakan juga memiliki efisiensi secara ekonomi. Keunggulan kompetitif merupakan pengukur daya saing suatu kegiatan pada kondisi perekonomian aktual. Terkait dengan konsep keunggulan komparatif adalah kelayakan ekonomi, dan terkait dengan keunggulan kompetitif adalah kelayakan finansial dari suatu aktivitas ekonomi.

Untuk mengukur daya saing suatu komoditas dapat dilakukan dengan menganalisis empat aktivitas yang terdapat dalam sistem komoditas yang dapat dipengaruhi, hal tersebut terdiri dari tingkat usahatani, distribusi dari tingkat usahatani ke industri pengolahan, dan setelah itu aktivitas pemasaran (Pearson,et.al, 2005). Ada dua indikator pokok pengukur daya saing, yaitu Private Cost Ratio (PCR) yang merupakan indikator keunggulan kompetitif yang menunjukkan kemampuan sistem untuk membayar biaya sumber daya domestik dan tetap kompetitif pada harga privat, Domestic Resource Cost Ratio (DRCR) merupakan indikator keunggulan komparatif, yang menunjukkan jumlah sumber daya domestik yang dapat dihemat untuk menghasilkan satu unit devisa (Monke and Pearson, 1995).

Menurut pendapat Gray, et al. (1992) daya saing merupakan kemampuan produsen untuk memproduksi suatu komoditas dengan mutu cukup baik dan ongkos produksi yang cukup rendah, sehingga pada harga-harga yang terjadi dipasar internasional dapat diproduksi dan dipasarkan produsen dengan memperoleh laba yang mencukupi untuk dapat mempertahankan kelanjutan kegiatan produksi. Ongkos produksi yang rendah dapat didukung dengan adanya sistem pemasaran yang efisien, infrastruktur yang baik dan informasi harga yang simetris. Pengembangan produk pertanian di tingkat on-farm (farm gate levels), permasalahan mengenai produktivitas dan efisiensi pemasaran perlu diperbaiki agar komoditas pertanian dapat bersaing, terutama terhadap produk impor (Sharples, et al., 1990).

Konsep mengenai daya saing telah banyak dikemukakan oleh para pakar ekonomi (seperti Adam Smith, Ricardo, Heckscher-Ohlin, Krugman, Michael Porter). Konsep daya saing (competitiveness) berasal dari konsep perdagangan internasional, konsep yang dikembangkan oleh para pakar ekonomi daya saing bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui perdagangan. Untuk memahami konsep daya saing, maka akan dijelaskan mengenai perkembangannya mulai dari awal hingga saat ini yang dijadikan pijakan dalam mengukur daya saing.

Konsep pertama daya saing (competitiveness) yaitu konsep keunggulan absolut. Keunggulan absolut, mengukur kemampuan suatu negara dalam menghasilkan sesuatu lebih banyak per unit input dan lebih murah dibandingkan negara lain (Adam Smith, 1776) dalam (Lindert dan Kindleberger, 1993; Esterhuizen, 2006). Adanya keunggulan absolut, suatu negara dapat berspesialisasi pada sesuatu yang memiliki keunggulan absolut dan membeli dari luar (impor) sesuatu yang tidak memiliki keunggulan absolut. Dalam konsep keunggulan absolut, suatu negara dapat meningkatkan kesejahteraannya melalui perdagangan jika memiliki keunggulan absolut. Jika suatu negara tidak memiliki keunggulan absolut, peningkatan kesejahteraan masih dapat tercapai. Apabila rasio harga antar negara masih berbeda jika dibandingkan tidak ada perdagangan, negara yang tidak memiliki keunggulan absolut tetap bisa mendapatkan keuntungan dari adanya perdagangan, disebut keunggulan komparatif (comparative advantage) Ricardo (Lindert dan Kindleberger, 1993; Esterhuizen, 2006).

Dalam konsep keunggulan komparatif Ricardo, hanya satu faktor produksi yang dianggap penting yang mempengaruhi nilai suatu komoditas yaitu tenaga kerja. Berbeda halnya dengan teori yang dikemukakan oleh Heckscher-Ohlin, bahwa komoditas yang produksinya melimpah diekspor dan komoditas yang produksinya sedikit atau langka diimpor (Ohlin, 1933, dalam Lindert dan Kindleberger, 1993; Krugman, 1994). Seperti yang telah dijelaskan oleh Ricardo dan Heckscher-Ohlin, bahwa daya saing dipengaruhi oleh faktor tenaga kerja dan

Dokumen terkait