• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

TINJAUAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS A. Telaah Teori

1. Teori Sinyal (Signalling Theory)

Isyarat atau signal adalah suatu tindakan yang diambil manajemen perusahaan yang memberi petunjuk bagi investor tentang bagaimana manajemen memandang prospek perusahaan, (Ross, 1977) dalam (Mulyani 2016). Signalling theory mengemukakan tentang bagaimana seharusnya sebuah perusahaan memberikan sinyal kepada pihak-pihak yang berkepentingan terhadap informasi-informasi yang dimiliki perusahaan. Sinyal ini berupa informasi mengenai apa yang sudah dilakukan oleh manajemen untuk merealisasikan keinginan pemilik. Sinyal dapat berupa promosi atau informasi lain yang menyatakan bahwa perusahaan tersebut lebih baik daripada perusahaan lain.

Menurut Lubis (2017) Integritas informasi laporan keuangan yang mencerminkan nilai perusahaan merupakan sinyal positif yang dapat mempengaruhi opini investor dan kreditor atau pihak-pihak lain yang berkepentingan. Laporan keuangan seharusnya memberikan informasi yang berguna bagi investor dan kreditor untuk membuat keputusan investasi, kredit dan keputusan sejenis. Apabila suatu perusahaan menawarkan penjualan saham baru lebih sering dari biasanya, maka harga sahamnya akan menurun karena menerbitkan

9

saham baru berarti memberi isyarat negatif yang kemudian dapat menekan harga saham, (Mulyani, 2016).

2. Return Saham

Return merupakan tingkat keuntungan dari suatu investasi.

Sedangkan resiko merupakan kemungkinan perbedaan antara return aktual yang diterima dengan return yang diharapkan, (Hendayana, 2016).

Return atau tingkat pengembalian adalah selisih antara jumlah

yang diterima dengan jumlah yang diinvestasikan. Sumber-sumber

return terdiri dari dua komponen utama, yaitu yield dan capital gain

(loss).

a. Yield adalah komponen return atau tingkat pengembalian yang mencerminkan aliran kas perusahaan atau pendapatan yang diperoleh secara periodik dari suatu investasi.

b. Capital gain (loss) adalah kenaikan atau penurunan harga suatu surat berharga (bisa saham maupun surat utang jangka panjang), yang bisa memberikan keuntungan atau kerugian bagi investor. Dalam kata lain, capital gain (loss) bisa juga diartikan sebagai perubahan harga sekuritas.

Investor atau calon investor yang ingin menginvestasikan dananya harus benar-benar menyadari bahwa disamping akan memperoleh keuntungan tidak menutup kemungkinan mereka akan mengalami kerugian. Keuntungan atau kerugian yang dialami investor

hal ini sangat dipengaruhi oleh kemampuan seorang investor dalam menganalisis keadaan pasar dan harga saham.

Menurut Putri (2017), return dibagi dua macam, yaitu return realisasi dan return espektasi. Return realisasi menggunakan data historis sedangkan return espektasi didasarkan pada nilai return historis dan model return espektasian yang ada. Pada penelitian ini menggunakan return realisasi dengan metode relatif return yang dihitung sebagai berikut:

Keterangan:

: Return saham

: Harga saham sekarang : Harga saham periode lalu

: Deviden yang dibayarkan pada periode sekarang

3. Rasio Profitabilitas

Profitabilitas merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba atau keuntungan dari modal saham, tingkat penjualan dan kekayaan (asset). Kinerja perusahaan dikatakan baik bila tingkat profitabilitas tinggi dalam menghasilkan laba. Peneliti menggunkan return on asset (ROA) untuk mengukur profitabilitas. Dimana menurut Kasmir (2016: 204) dapat diformulasikan sebagai berikut:

11

ROA adalah rasio yang mengukur seberapa efisien suatu perusahaan dalam mengelola asetnya untuk menghasilkan laba selama suatu periode. ROA dinyatakan dalam persentase (%). Semakin tinggi

return on asset menunjukkan semakin efektif perusahaan dalam

memanfaatkan aktiva untuk menghasilkan laba bersih setelah pajak. (Sutriani, 2014)

Menurut Aryaningsih (2017), semakin tinggi hasil pengembalian atas aset berarti semakin tinggi pula jumlah laba bersih yang dihasilkan dari setiap rupiah dana yang tertanam dalam total aset. Sebaliknya, semakin rendah hasil pengembalian atas aset berarti semakin rendah pula jumlah laba laba bersih yang dihasilkan dari setiap rupiah dana yang tertanam dalam total asset. Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa semakin meningkatnya ROA maka dividen yang diterima oleh pemegang saham akan meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan dalam mengelola aktiva yang dimiliki untuk menghasilkan keuntungan mempunyai daya tarik dan mampu mempengaruhi investor untuk membeli saham perusahaan yang mengakibatkan harga saham perusahaan meningkat.

4. Rasio Solvabilitas (Leverage)

Leverage merupakan yang digunakan untuk mengukur sejauh

mana aktiva perusahaan dibayai dengan utang, (Kasmir, 2016:112). Artinya , leverage digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar seluruh kewajibannya baik jangka

pendek atau jangka panjang apabila perusahaan di likuidasi (dibubarkan).

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan debt to equity ratio (DER). DER merupakan rasio yang digunakan untuk menilai utang ekuitas. Rasio ini dicari dengan cara membandingkan antara seluruh hutang termasuk hutang lancar dan seluruh ekuitas. Rasio ini berguna untuk mengetahui jumlah dana yang disediakan peminjam (kreditur) dengan pemilik perusahaan, dengan kata lain rasio ini berfungsi untuk mengetahui setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan modal utang, (Kasmir, 2016:124). DER dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

5. Rasio Likuiditas

Rasio likuiditas merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi kewajiban atau hutang jangka pendek. Artinya apabila perusahaan ditagih oleh pihak yang meminjami dana atau kreditur, perusahaan akan mampu melunasi hutang tersebut terutama yang sudah jatuh tempo. Tingkat likuiditas sebuah organisasi perusahaan biasanya dijadikan sebagai salah satu tolak ukur untuk pengambilan keputusan orang-orang yang berkaitan dengan perusahaan.

Penelitian ini memproksikan likuiditas perusahaan dengan

13

mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek atau hutang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan, (Mulyani, 2016). Dengan kata lain, seberapa banyak aset lancar yang tersedia untuk mempunyai kewajiban jangka pendek yang segera jatuh tempo. Current ratio ini menunjukkan tingkat keamanan (margin of safety) kreditor jangka pendek, atau kemampuan perusahaan untuk membayar hutanghutang tersebut. Tetapi suatu perusahaan dengan current ratio yang tinggi belum tentu menjamin akan dapat dibayarnya hutang perusahaan yang sudah jatuh tempo karena proporsi atau distribusi dari aktiva lancar yang tidak menguntungkan, (Fitri, 2015). Curret Ratio dihitung sebagai berikut:

6. Interest rate (Suku Bunga)

Investasi di suatu Negara, baik yang berasal dari investor domestic maupun dari investor asing, khusunya pada jenis investasi portofolio yang umumnya berjangka pendek. Perubahan tingkat

interest rate ini akan berpengaruh pada perubahan jumlah permintaan

dan penawaran di pasar uang domestik.

Kenaikan interest rate akan meningkatkan beban bunga dan biaya modal, sehingga perolehan laba perusahaan menurun. Penuruan laba ini menekan tingkat perubahan tingkat interest rate akan berdampak pada perubahan jumlah return saham karena proyeksi harga saham perusahaan di pasar modal menurun, sebaliknya

penurunan interest rate memicu keinginan masyarakat untuk lebih cenderung menginvestasikan uang mereka di pasar modal yang akan berdampak pada kenaikan return saham.

Apabila dalam suatu negara terjadi peningkatan aliran modal masuk (capital inflows) di luar negeri, hal ini menyebabkan terjadinya perubahan nilai tukar mata uang negara tersebut terhadap mata uang asing di pasar valuta asing. Jika interest rate naik, orang cenderung akan menabung daripada melakukan investasi di pasar modal, karena risiko menabung lebih kecil daripada resiko berinvestasi dalam bentuk saham (Nidianti, 2013).

7. Nilai tukar (Exchange rate)

Nilai tukar (exchange rate) adalah harga sebuah mata uang dari sutu negara yang diukur atau dinyatakan dalam mata uang lainnya. Nilai tukar memainkan peranan penting dalam keputusan-keputusan pembelanjaan, Karena nilai tukar memungkinkan kita menerjemahkan harga-harga dari berbagai negara ke dalam satu bahasa yang sama.

Posisi nilai tukar selalu berfluktuasi setiap saat, dikatakan mata uang mengalami apresiasi jika harga suatu mata uang menjadi semakin mahal terhadap mata uang. Sebaliknya dikatakan depresiasi jika harga dari suatu mata uang turun terhadap mata uang lain. Nilai tukar dari suatu negara sangat penting bagi negara yang bersangkutan. Nilai tukar denga harga-harga barang biaya dari produk suatu negara bagi pembeli di luar negeri maupun dalam negeri, dan karena itu mempengaruhi ekspor dari negara tersebut. Jadi, nilai tukar

15

menentukan biaya dari produk apa saja yang dibeli (diimpor) negara tersebut dari Negara-negara lain di dunia. Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tukar dalam jangka pendek adalah aliran modal,

return, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, dan tingkat bunga.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan nilai tukar sebagai variabel moderasi. Nilai tukar dalam penelitian ini diukur menggunakan nilai tukar tengah BI yang dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Bila Rupiah mengalami depresiasi (melemah) maka untuk mendapatkan satu dolar (usd) membutuhkan lebih banyak rupiah. Bila Perusahaan memiliki kewajiban keungan dalam mata uang asing harus membukukan kewajiban yang lebih besar pada laporan keuangannya. Perubahan nilai tukar dapat mengubah arus kas perusahaan di masa yang akan datang, dan juga menyebabkan struktur hutang perusahaan meningkat. Meningkatnya hutang perusahaan akan menimbulkan risiko.

B. Telaah Penelitian sebelumnya

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

No Judul Penulis Metode Hasil

1 Pengaruh Systematic risk Dan Likuiditas Terhadap Return Saham Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bei Inggit Nugroho Sukhemi Regresi Berganda

1. Risisko Sistematis berpengaruh negatif dan signifikan terhadap return saham

2. likuiditas berpengaruh secara positif terhadap return saham

2 Pengaruh Struktur Modal, Systematic risk, Dan Tingkat Likuiditas Terhadap Return Saham Pada Perusahaan Finance Yang Listing Di Bursa Efek Indonesia Rahmatul Aufa Regresi Berganda

1. Struktur Modal dengan alat ukur debt to equity Ratio (DER) tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham.

2. Systematic risk dengan alat ukur beta (β) tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham

3. Tingkat Likuiditas dengan alat ukur current ratio (CR) tidak

berpengaruh signifikan

terhadap return saham

3 Pengaruh

Profitabilitas, Leverage, Dan Likuiditas Terhadap Return Saham Dengan Nilai Tukar Sebagai Variabel Moderasi Pada Saham Lq-45

Anis Sutriani Regresi linear berganda

1. Return on asset memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap return saham

2. debt to equity ratio memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap return saham,

3. sedangkan cash ratio secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap return saham,

4. nilai tukar tidak mampu memoderasi return on asset dan debt to equity ratio terhadap return saham

4 Pengaruh Tingkat Keuntungan Pasar, Nilai Tukar Rupiah, Infl asi, Dan Tingkat Interest rate, Terhadap Return Saham Industri Food And Baverage Tahun 2007-2009 Studi Pada Bursa Efek Indonesia

Rina Zulelli Regresi berganda

1. Tingkat keuntungan pasar berpengaruh positif dan tidak signifi kan terhadap return saham

2. Nilai tukar rupiah berpengaruh negatif dan tidak signifi kan terhadap return saham, 3. Tingkat infl asi berpengaruh

positif dan tidak signifi kan, dan

4. tingkat interest rate/BI rate berpengaruh negatif dan signifi kan terhadap return saham. Sumber : Data yang diolah tahun 2018

17

C. Perumusan Hipotesis

Berdasarkan teori yang ada dan beberapa penelitian yang sudah dikembangkan, maka penulis mengajukkan hipotesis yang akan diujikan kebenarannya. Adapun hipotesis yang dijabarkan adalah sebagai berikut : 1. Pengaruh return on asset (ROA) terhadap Return Saham

ROA adalah rasio yang mengukur seberapa efisien suatu perusahaan dalam mengelola asetnya untuk menghasilkan laba selama suatu periode. Semakin tinggi return on asset menunjukkan semakin efektif perusahaan dalam memanfaatkan aktiva untuk menghasilkan laba bersih setelah pajak, (Sutriani, 2014). Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa semakin meningkatnya ROA maka dividen yang diterima oleh pemegang saham akan meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan perusahaan dalam mengelola aktiva yang dimiliki untuk menghasilkan keuntungan mempunyai daya tarik dan mampu mempengaruhi investor untuk membeli saham perusahaan yang mengakibatkan harga saham perusahaan meningkat. Hal ini didukung oleh penelitian Sutriani (2014), Hutomo (2013) yang menyatakan bahwa ROA berpengaruh positif terhadap return saham. Oleh karena itu hipotesis yang diajukan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

H1 : Return on asset (ROA) berpengaruh positif terhadap return saham.

2. Pengaruh Debt equity ratio (DER) terhadap return saham

investasi yang diharapkan akan menghasilkan return yang lebih besar dari pada cost of dept, maka akan dapat menghasilkan keuntungan.

Debt to equity ratio memberikan jaminan tentang seberapa besar

hutang perusahaan dijamin oleh modal sendiri. Penggunaan hutang yang semakin tinggi, yang dicerminkan oleh DER yang semakin besar pada perolehan laba sebelum bunga dan pajak yang sama akan menghasilkan laba per saham yang lebih besar. Jika laba per saham meningkat, maka akan berdampak pada meningkatnya return saham, sehingga secara teoritis DER berpengaruh positif terhadap return saham. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sutriani (2014), Setiyono (2016) yang menyatakan DER berpengaruh positif terhadap

return saham, maka hipotesis yang akan diajukan dalam penelitian ini

adalah sebagai berikut :

H2 : Debt to equity ratio (DER) berpengaruh positif terhadap

return saham.

3. Pengaruh Current Ratio (CR) terhadap return saham

Current ratio (CR) didapatkan dengan membandingkan nilai

aset lancar dengan liabilitas lancar perusahaan, (Wicaksono, 2013).

Current Ratio yang terlalu tinggi menunjukan adanya kelebihan uang

kas atau aktiva lancar lainnya dibandingkan dengan yang dibutuhkan sekarang. Jadi, current Ratio dapat menunjukan sejauh mana aktiva lancar menjamin pembayaran dari kewajiban lancarnya, sehingga hal tersebut dapat mempengaruhi minat para investor untuk menanamkan

19

modalnya pada perusahaan. (Kasmir, 2016:135) apabila rasio lancar (Current Ratio) rendah, dapat dikatakan bahwa perusahaan kurang modal untuk membayar utang. Namun, apabila hasil pengukuran rasio tinggi, belum tentu kondisi perusahaan sedang baik. Hal ini dapat saja terjadi karena aktiva tidak digunakan sebaik mungkin. Sehingga secara teoritis CR berpengaruh positif terhadap return saham. Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Basalama (2017), Saputro (2018), Lubis (2017) yang menyatakan CR berpengaruh positif terhadap return saham, maka hipotesis yang akan diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

H3 : Current ratio (CR) berpengaruh positif terhadap return saham.

4. Pengaruh Interest rate terhadap return saham

Interest rate yang tinggi akan mendorong orang-orang untuk

menanamkan dananya di bank daripada menginvestasikannya pada pasar modal yang risikonya jauh lebih besar jika dibandingkan dengan menanamkan uang di bank terutama dalam bentuk deposito. Jika

interest rate naik, orang cenderung akan menabung daripada

melakukan investasi di pasar modal, karena risiko menabung lebih kecil daripada resiko berinvestasi dalam bentuk saham, (Nidianti, 2013). Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Zulelli (2013) yang menyatakan Interest rate berpengaruh negatif terhadap return saham, maka hipotesis yang akan diajukan dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut:

H4 : Interest rate berpengaruh negatif terhadap Return Saham

5. Pengaruh return on asset terhadap return saham dengan variabel moderasi nilai tukar

ROA menunjukan kemampuan perusahaan menggunakan seluruh aktiva/aset yang dimiliki untuk menghasilakn profit atau keuntungan berdasarkan tingkat aktiva/aset tertentu. Pengambilan laba bersih dari total aset pada masing-masing perusahaan adalah laba bersih dan total aset setiap akhir tahun setelah laporan keuangan dipublikasikan. Nilai tukar akan memberikan pengaruh terhadap laba-rugi khususnya laba bersih yang didapatkan dari hasil operasional perusahaan. Nilai tukar yang berfluktuatif akan mempengaruhi besarnya ROA, yang pada akhirnya akan berimbas pada return saham. Dengan begitu nilai tukar mempengaruhi hubungan ROA terhadap return saham, (Sulistyo, 2015). Dari studi teoritis dan empiris di atas maka timbul hipotesis sebagai berikut:

H5 : Nilai tukar memoderasi hubungan ROA terhadap return saham

6. Pengaruh debt to equity ratio terhadap return saham dengan variabel moderasi nilai tukar

Posisi nilai tukar selalu berfluktuasi setiap saat. Jika harga suatu mata uang menjadi semakin mahal terhadap mata uang lainnya, maka uang tersebut dikatan berapresiasi (menguat). Sebaliknya jika harga

21

dari suatu mata uang turun terhadap mata uang lain, maka mata uang tersebut dikatakan terdepresiasi (melemah).

Debt to equity ratio memberikan jaminan tentang seberapa besar

hutang perusahaan dijamin oleh modal sendiri. Penggunaan hutang yang semakin tinggi, yang dicerminkan oleh DER yang semakin besar pada perolehan laba sebelum bunga dan pajak yang sama akan menghasilkan laba per saham yang lebih besar. Jika laba per saham meningkat, maka akan berdampak pada meningkatnya return saham, sehingga secara teoritis DER berpengaruh positif terhadap return saham).

Penelitian yang dilakukan oleh Aziz (2018), Nidianti (2013), dan Zulelli (2013) menemukan bahwa DER berpengaruh positif terhadap return saham. Sedangkan menurut Prabowo (2015) bahwa DER berpengaruh negatif terhadap return saham. Menurut Pujawati (2015), nilai tukar merupakan salah satu faktor internal perusahaan yang mempengaruhi besarnya return saham, maka hipotesis yang akan diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut

H6 : Nilai tukar memoderasi hubungan DER terhadap return saham

7. Pengaruh current ratio terhadap return saham dengan variabel moderasi nilai tukar

Likuiditas adalah kesanggupan perusahaan memenuhi kewajiban keuangan yang segera jatuh tempo, atau mengukur

kemampuan membayar utang-utang yang jatuh tempo, (Nugroho, 2015). Semakin likuid maka semakin baik, karena investor akan lebih tertarik pada saham yang likuid. Oleh karena itu, likuiditas saham diartikan sebagai tingkat kecepatan sebuah sarana investasi (asset) untuk dicairkan menjadi dana cash (uang) atau ditukar dengan suatu nilai, (Davesta, 2014).

Salah satu alat ukur dari likuiditas ini adalah dengan menggunakan rasio lancar (current ratio). Current ratio merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka pendek atau hutang yang segera jatuh tempo pada saat ditagih secara keseluruhan, (Khasmir, 2016). Penelitian yang dilakukan oleh Hidayat (2014), menemukan bahwa CR berpengaruh positif terhadap return saham, sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Budialim (2013) menyimpulkan bahwa CR berpengaruh negatif terhadap return saham. Dari perbedaan hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat faktor lain yang mempengaruhi hal tersebut. Menurut Jogiyanto (2013), return saham juga dipengaruhi oleh nilai tukar, maka timbul hipotesis baru yaitu sebagai berikut:

H7 : nilai tukar memoderasi CR terhadap return saham

8. Pengaruh interest rate terhadap return saham dengan variabel moderasi nilai tukar

Interest rate adalah biaya pinjaman atau harga yang dibayarkan

23

Oleh karena itu, bunga juga dapat diartikan sebagai uang yang diperoleh atas pinjaman yang diberikan. Interest rate pada dasarnya mempunyai dua pengertian sesuai dengan peninjauannya yaitu bagi bank dan bagi pengusaha. Bagi bank, bunga adalah suatu pendapatan atau suatu keuntungan atas peminjaman uang oleh pengusaha atau nasabah. Dan bagi pengusaha bunga dianggap sebagai ongkos produksi ataupun biaya modal. Interest rate yang tinggi akan mendorong investor untuk menanamkan dananya di bank daripada menginvestasikannya pada sektor produksi atau industri yang memiliki tingkat risiko lebih besar, dengan kata lain interest rate berpengaruh positif terhadap return saham, (Purnomo, 2013).

H8 : Nilai tukar memodeasi interest rate terhadap return saham D. Model Penelitian

Return saham dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor external perusahaan atau internal perusahaan. Faktor external perusahaan seperti

interest rate deposito, inflasi, nilai tukar, bencana alam, dll. Sedangkan

faktor internal perusahaan yaitu rasio keuangan. Rasio keuangan perusahaan seperti rasio likuiditas, solvabilitas, aktivitas, dan rasio profitabilitas.

Berdasarkan penelitian terdahulu, penggunaan tiga variabel independen yaitu, ROA, DER, dan CR karena ketiga variabel tersebut masih menunjukan kesenjangan atau ketidakkonsistenan hasil penelitian. Serta dua variabel baru yaitu beta dan interest rate, karena pada penlitian sebelumnya pengaruh dari luar perusahaan tidak di masukan dalam variabel

penelitian. Beta tidak dapat dikesampingkan, karena beta selalu berdampingnan dengan keuntungan, dimana semakin besar beta (risiko) akan semakin besar pula keuntungan perusahaan, (High risk, high return). Campur tangan pemerintah dalam dunia bisnis juga berdampak bagi peprputaran bisnis itu sendiri, maka interest rate dipilih untuk dijasdikan variabel independen baru.

Dari hasil pemikiran tersebut maka dapat diperoleh kerangka berpikir sebagai berikut :

Gambar 2.1 Model Penelitian

Sumber: Pengembangan kerangka pikir

Return On Asset (ROA) Debt to Equity Ratio

(DER) Interest rate(Interest rate) Return saham Curerrent Ratio (CR) Nilai tukar H1 H2 H3 H4 H5 H8 H6 H7

25

Dokumen terkait