A. Pengertian Air
Air merupakan kebutuhan dasar bagi makhluk hidup, baik untuk kebutuhan pokok, sanitasi, ekosistem, pertanian, industry dan lainya. (Mulyanto, 2007) terutama manusia, bagi sumber kehidupan itu sendiri 70% tubuh manusia terdiri dari air (Irwan, 2007) yang kesemuanya memiliki fungsi yang amat penting, terutama untuk fungsi metabolise sel didalam tubuh (Irwan, 2007). Oleh karena kebutuhan yang penting itu, maka kualitas dan kuantitas harus tercukupi demi tetap menjaga kesehatan dan kelangsungan hiduo manusia.
1. Sumber Air
Air yang berada di permukaan bumi ini dapat berasal dari berbagai sumber. Berdasarkan letak sumbernya, air dapat dibagi menjadi air angkasa (hujan), air permukaan dan air tanah (Budiman, 2014) :
a. Air Angkasa (Hujan)
Air angkasa atau hujan merupakan sumber utama air di bumi. Walau pada saat presipitasi merupakan air yang paling bersih, air tersebut cenderung mengalami pencemaran ketika berada di atmosfer. Pencemaran yang berlangsung diatmosfer itu dapat disebabkan oleh partikel debu, mikroorganisme, dan gas, misalnya karbon dioksida, nitrogen, dan aonia.
b. Air Permukaan
Air permukaan yang meliputi badan-badan air semacam sungai, danau, telaga, waduk, rawa, terjun, dan sumur permukaan, sebagian besar berasal dari air hujan yang jatuh ke permukaan bumi. Air hujan tersebut kemudian akan mengalami pencemaran baik oleh tanah, sampah, maupun lainya.
c. Air tanah
Ait tanah (ground water) berasal dari air hujan yang jatuh ke permukaan bumi yang kemudian mengalami perkolasi atau penyerapan ke dalam tanah dan mengalami proses filtrasi secara alamiah. Proses-proses yang telah dialami air hujan tersebut, di dalam perjalananya ke bawah tanah, membuat air tanah menjadi lebih baik dan lebih murni dibandingkan ai permukaan. Air tanah memiliki beberapa kelebihan dibanding sumber air lain. Pertama, air tanah biasanya bebas dari kuan penyakit dan tidak perlu mengalami proses purifikasi atau penyernihan. Persediaan air tanah juga cukup tersedia sepanjang tahun, saat musim kemarau sekalipun. Sementara itu, air tanah juga memiliki beberapa kerugian atau kelemahan dibanding sumber air lainnya. Air tanah mengandung zat-zat mineral semacam magnesium, kalsium, dan logam berat seperti besi dapat menyebabkan kesadahan air. Selain itu, untuk engisap dan mengalirkan air ke atas permukaan, diperlukan pompa.
(Budiman, 2014). 2. Sumber Air Bersih dan Aman
Air yang dipruntukan bagi konsumsi manusia harus berasal dari sumber yang bersih dan aman. Batasan-batasan sumber air yang bersih dan aman tersebut, antara lain :
a. Bebas dari kontaminasi kuman atau bibit penyakit b. Bebas dari substansi kimia yang berbahaya dan beracun c. Tidak berasa dan tidak berbau
d. Dapat dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan domistik dan rumah tangga.
e. Memenuhi standar minimal yang ditentukan oleh WHO atau Departmen Kesehatan RI.
Air dinyatakan tercemar bila mengandung bibit penyakit, parasit, bahan-bahan kimia yang berbahaya dan sampah atau limbah industri (Budiman, 2014).
B. Air Minum Dalam Kemasan
Air minum kemasan atau dengan istilah AMDK (Air Minum Dalam Kemasan), merupakan air minum yang siap di konsumsi secara langsung tanpa harus melalui proses pemanasan terlebih dahulu. Air dalam kemasan mencakup air mineral dan air demineral. Air mineral adalah air minum dalam kemasan yang mengandung mineral dalam jumlah tertentu tanpa menambahkan mineral, sedangkan air demineral merupakan air minum dalam kemasan yang diperoleh melalui proses pemurnian seperti destilasi, reverse osmosis, dan proses setara (BSN, 2006).
Air minum dalam kemasan secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu kemasan galon (19 liter) dan small/single pack. Kemasan galon biasanya dilakukan pengisisan ulang baik oleh prodeusen bermerek maupun depot air minum isi ulang (tanpa merek), dan lebih banyak dikonsumsi oleh konsumen yang berada di perkantoran, hotel, dan rumah tangga. Sedangkan konsumen utama AMDK kemasan Small/single pack atau kemasan yang dapat dibawa secara praktis seperti kemasan 1500 ml/600 ml (botol), 240 ml/220 ml (gelas) dikonsumsi orang-orang yang sedang melakukan perjalanan (Arif, 2009).
Penyediaan air bersih selain kuantitasnya, kualitasnya pun harus memenuhi standar yang berlaku. Karena air baku belum tentu memenuhi standar, maka dilakukan pengolahan air untuk memenuhi standar air minum. Pengolahan air minum dapat sangat sederhana sampai sangat kompleks tergantung kualitas air bakunya. Apabila air bakunya baik, maka mungkin tidak diperlukan pengolahan sama sekali. Apabila hanya ada kontaminan kuman, maka disinfeksi saja sudah cukup, tetapi apabila air baku semakin jelek kualitasnya maka pengolahan harus lengkap (Budiman, 2014).
Diperlukan empat persyaratan pokok air minum:
a. Persyaratan biologis, berarti air minum itu tidak boleh mengandung mikroorganisme.
b. Persyaratan fisik, kondisi fisik air minum terdiri dari kondisi fisik air pada umumnya, yakni derajat keasaman, suhu, kejernihan, warna, dan bau.
c. Persyaratan kimiawi menjadi penting karena banyak sekali kandungan kimiawi air yang memberi akibat buruk pada kesehatan karena tidak sesuai dengan proses biokimiawi tubuh.
d. Persyaratan radiologis sering juga dimasukkan sebagai persyaratan fisik, pada wilayah tertentu menjadi sangat serius seperti di sekitar reaktor nuklir.
Keempat persyaratan air minum diatas yang paling mudah diatasi adalah masalah pencemaran biologis karena dapat diatasi dengan mendidihkan air agar mikroorganisme mati (Kepmenkes, 2002)
C. Definisi Bakteri Coliform
Bakteri coliform sesuai dengan famili Enterobacteriaceae dan bagian karakter kultur yang hamper sama. Typical genus-genus dijumpai dalam suplai air adalah Citrobacter, Enterobacter, Escherichia, Hafria, Klebsiela, Serratia dan Yersinia. Bakteri coliform didefinisikan sebagai bakteri gram negative, tidak membentuk spora, berbentuk batang yang mampu tumbuh pada kondisi aerobik dan fakultatif aerobik yang ada di garam empedu atau agen permukaan aktif lainya dengan kekhasan penghambat pertumbuhan yang hamper sama. Biasanya fermentasi laktosa pada suhu 37°C dalam 48 jam, proses enzin β galctosidase dan oxsidase-negative (Westwood, 2002)
Karakter proses bakteri fekal Coliform dari bakteri coliform tapi mampu untuk membawa keluar fermentasi laktosa pada suhu 44°C. Istilah fekal colirom adalah tidak terdapat dan digunakan untuk mendeskripsikan bakteri koliform yang disangkakan berasal dari fekal istilah “thermotolerant
coliform” digunakan untuk mendiskripsikan bakteri coliform (Westwood, 2002).
D. Pemeriksaan Coliform Metode MPN (most probable number)
MPN adalah metode estimasi perhitungan jumlah mikroba dalam air berdasarkan statistic. Hasil positif dan negative diperoleh ketika menguji sejumlah tabung dari peningkatan dilusi yang terdokumentasi. Metode MPN dapat digunakan untuk mengestimasikan jumlah coliform atai E. coli di dalam air atau limbah air lima kali lipat atau sepuluh kali lipat dilusi sampel secara turut, jadi beberapa hasil negative. Sampel dari tiga dilusi berturut-turut dimasukan kedalam MacConkey’s broth dan di inkubasi selama 48 jam pada suhu 37°C untuk perhitungan coliform total atau (untuk E. coli) pada suhu 44°C. sebuah tes positif akan terlihat melalui perubahan warna dengan perkembangan gas, terkupul dalam tabung kecil. Hasilnya adalah sebuah presumptive coliform count (Smith & scoot, 2005)
BAB III