Sapi Bali
Sapi bali (Bos-bibos banteng) yang berasal dari domestikasi Banteng dapat beradaptasi dengan baik pada lingkungan setempat. Demikian pula dengan penyebaran pada lingkungan di luar wilayah Indonesia (tropis dan sub tropis), sapi bali tidak mengalami kesulitan dalam arti fungsi reproduksi dan berjalan secara normal sebagaimana pada daerah asalnya (Copland, 1974).
Sampai saat ini penyebaran populasi sapi bali telah meluas yang mencakup seluruh wilayah Indonesia, termasuk di Pulau Jawa kecuali Provinsi DKI Jakarta.
Konsentrasi sapi bali terbesar adalah di Sulawesi Selatan, Pulau Timor, Bali dan Lombok (Tanari, 2001). Jumlah sapi bali di Sulawesi Selatan dan Pulau Timor telah jauh melampaui populasi sapi bali ditempat asalnya Pulau Bali (Soehadji, 1990). Sapi bali juga dapat ditemukan di kebunkebun binatang dan Taman Safari di luar negeri, secara liar dan terpelihara juga dapat dilihat pada hutan-hutan tropis dan negara-negara Asia Tenggara dan Australia Utara (Talib, 1998).
Ditinjau dari sistematika ternak, sapi bali masuk familia Bovidae, Genus bos dan Sub-Genus Bovine, yang termasuk dalam sub-genus tersebut adalah Bibos gaurus, Bibos frontalis dan Bibos sondaicus (Hardjosubroto, 1994), sedangkan Williamson dan Payne (1978) menyatakan bahwa sapi bali (Bos-bibos Banteng) yang spesies liarnya adalah banteng termasuk Famili bovidae, Genus bos dan sub-genus bibos. Sapi bali mempunyai ciri-ciri khusus antara lain: warna bulu merah bata, tetapi yang jantan dewasa berubah menjadi hitam (Hardjosubroto, 1994).
Satu karakter lain yakni perubahan warna sapi jantan kebirian dari warna hitam kembali pada warna semula yakni coklat muda keemasan yang diduga karena
makin tersedianya hormon testosteron sebagai hasil produk testes (Darmadja, 1980).
Karakteristik lain yang harus dipenuhi dari ternak sapi bali murni, yaitu warna putih pada bagian belakang paha, pinggiran bibir atas, dan pada paha kaki bawah mulai tarsus dan carpus sampai batas pinggir atas kuku, bulu pada ujung ekor hitam, bulu pada bagian dalam telinga putih, terdapat garis hitam yang jelas pada bagian atas punggung, bentuk tanduk pada jantan yang paling ideal disebut bentuk tanduk silak congklok yaitu jalannyapertumbuhan tanduk mula-mula dari dasar sedikit keluar lalu membengkok ke atas, kemudian pada ujungnya membengkok sedikit keluar. Pada yang betina bentuk tanduk yang ideal yang disebut manggul gangsa yaitu jalannya pertumbuhan tanduk satu garis dengan dahi arah ke belakang sedikit melengkung ke bawah dan pada ujungnya sedikit mengarah ke bawah dan ke dalam, tanduk ini berwarna hitam (Hardjosubroto, 1994).
Inseminasi Buatan (IB)
Inseminasi buatan (IB) adalah pemasukan semen jantan kedalam saluran reproduksi betina dengan bantuan manusia (Toelihere 1985). Inseminasi buatan (IB) adalah suatu teknologi di bidang reproduksi yang memanfaatkan pejantan unggul semaksimalmungkin. Teknik ini sudah lama berkembang di Indonesia dan teknik ini telah dapatdigunakan untuk berat badan anak, oleh sebab itu perlu dipikirkan pejantan mana yang akan digunakan untuk meningkatkan berat badan anak tersebut. Lokakarya Nasional Sapi Potong 2004.
Teknologi IB menggunakan semen beku pada sapi potongtelah digunakan sejak belasan tahun silam dengan tujuan untukmeningkatkan kualitas dan
kuantitas ternak sapi melaluipenggunaan pejantan pilihan dan menghindari penularanpenyakit atau kawin sedarah. Selama inipelaksanaan teknologi IB di lapangan masih mengalamibeberapa hambatan, antara lain S/C > 2 dan angka kebuntingan60% (Affandhy, 2006), sehingga untuk meningkatkanpopulasi dan mutu sapi potong serta guna memperluaspenyebaran bakalan sapi potong, diperlukan suatu petunjukpraktis tentang manajemen IB mengunakan semen beku mulaidari penanganan ketika straw beku dalam kontener hingga akandisuntikan/Idi-IB-kan ke sapi induk, termasuk cara danwaktu IB; dengan harapan dapat memperbaiki manajemenperkawnan melalui pelaksanaan IB yang selama ini seringmenimbulkan permasalahan di tingkat peternak maupuninseminator. Dengan adanya petunjuk tentang manajemen IBdiharapkan dapat menambah tingkat keterampilan inseminatordan pengalaman peternak sehinggga tingkat kebuntingan ternakdapat dicapai secara optimal dan tahapan teknik ini perludiinformasikan kepada pengguna seperti petani peternak,inseminator dan kelompok peternak.(Deptan 2007)
Tujuan, Keuntungan dan Kerugian Insemiasi Buatan
Yang dimaksud dengan Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik adalah suatu cara atau teknik untuk memasukkan mani (spermatozoa atau semen) yang telah dicairkan dan telah diproses terlebih dahulu yang berasal dari ternak jantan ke dalam saluran alat kelamin betina dengan menggunakan metode dan alat khusus yang disebut ‘insemination gun.
Tujuan Inseminasi Buatan
a) Memperbaiki mutu genetika ternak
b) Tidak mengharuskan pejantan unggul untuk dibawa ketempat yang dibutuhkan sehingga mengurangi biaya
c) Mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul secara lebih luas dalam jangka waktu yang lebih lama
d) Meningkatkan angka kelahiran dengan cepat dan teratur e) Mencegah penularan / penyebaran penyakit kelamin.
Keuntungan IB
a) Menghemat biaya pemeliharaan ternak jantan b) Dapat mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik
c) Mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina (inbreeding)
d) Dengan peralatan dan teknologi yang baik spermatozoa dapat simpan dalam jangka waktu yang lama
e) Semen beku masih dapat dipakai untuk beberapa tahun kemudian walaupun pejantan telah mati
f) Menghindari kecelakaan yang sering terjadi pada saat perkawinan karena fisik pejantan terlalu besar
g) Menghindari ternak dari penularan penyakit terutama penyakit yang ditularkan dengan hubungan kelamin.
Penelitian Terdahulu
(Rustiati, 2013), Evaluasi Efisiensi Reproduksi dan Strategi Pengembangan Ternak Sapi Potong Melalui Inseminasi Buatan dan Kawin Alam di Kabupaten Langkat, dibimbing oleh Sayed Umar dan Ma’ruf Tafsin. Penelitian
ini bertujuan untuk mengevaluasi dan membandingkan hasil kegiatan Inseminasi Buatan dan Kawin Alam ditinjau dari efisiensi reproduksi, dan menganalisis strategi pengembangan ternak sapi potong. Jumlah responden sebanyak 150 orang terdiri dari 75 orang peternak yang mengawinkan ternaknya dengan sistem inseminasi buatan dan 75 orang peternak yang mengawinkan ternaknya dengan sistem kawin alam. Data yang diambil adalah data-data peternak dan data-data efisiensi reproduksi seperti Non Return Rate (NRR), Conception Rate (CR), Service per Conception (S/C) dan Calf Crop (CC). Data dianalisis dengan metode analisis deskriptif, analisis uji t dan analisis SWOT.
Nilai rata-rata efisiensi reproduksi untuk Inseminasi Buatan adalah : NRR sebesar 68,17%, CR sebesar 49,85%, S/C sebesar 1,20 dan CC sebesar 63,30%
dan nilai rata-rata untuk Kawin Alam adalah : NRR sebesar 67,30%, CR sebesar 47,46%, S/C sebesar 1,23 dan CC sebesar 60,51%. Kegiatan inseminasi buatan di Kabupaten Langkat menunjukkan bahwa kemampuan inseminator sebanyak 955 dosis/tahun, S/C sebesar 1,76, CR sebesar 56,7%, pelaksanaan selama 10 tahun dengan jumlah akseptor 452 ekor/tahun/inseminator dan cakupan wilayah binaan 27.120 ekor/tahun, sumber dana APBN dan APBD. Dari analisis SWOT didapatkan 10 faktor-faktor internal terdiri dari 5 kekuatan dan 5 kelemahan serta 9 faktor-faktor eksternal terdiri dari 4 peluang dan 5 ancaman. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kegiatan inseminasi buatan dan kawin alam menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata ditinjau dari nilai NRR, CR dan S/C. Kegiatan inseminasi buatan di Kabupaten Langkat dilihat dari nilai CR dan S/C menunjukkan grafik yang cenderung menaik setiap tahunnya dan telah memenuhi beberapa kriteria wilayah tahapan swadaya serta alternatif strategi pengembangan
ternak sapi potong melalui inseminasi buatan dan kawin alam di Kabupaten Langkat adalah strategi SO yaitu memanfaatkan kekuatan untuk meraih peluang yang ada dimana strategi yang digunakan adalah strategi yang mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif.
Penelitian Fajar Trisna Kurniawan, Strategi Pengembangan Agribisnis Peternakan Ayam Petelur di Kabupaten Tabanan Kabupaten Tabanan, menganalisis faktor–faktor kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman pada pengembangan agribisnis peternakan ayam petelur di Kabupaten Tabanan, merumuskan alternatif strategi pengembangan agribisnis peternakan ayam pada petelur di Kabupaten Tabanan, dan menentukan prioritas strategi yang harus dilakukan pengembangan agribisnis peternakan ayam petelur di Kabupaten Tabanan.
Profil peternak melalui usaha peternakan ayam petelur di Kabupaten Tabanan, meliputi:
a) Umur peternak dengan kategori sedang.
b) Tingkat pendidikan peternak dengan kategori rendah.
c) Jumlah anggota keluarga dengan kategori sedang.
d) Pengalaman beternak dengan kategori sedang.
e) Mata pencaharian peternak adalah sebagai mata pencaharian pokok.
f) Populasi ternak dengan kategori sektor 3.
g) Sumber dana peternak dari lembaga keuangan LPD dan Koperasi.
h) Produksi ternak menghasilkan telur ayam dengan kategori rendah.
i) Biaya usaha peternakan yang terdiri dari biaya tetap dan biaya variabelsebesar Rp. 2.964.884.845,74 dengan rata-rata populasi ayam petelur sebanyak 10.460 ekor per tahun.
j) Penerimaan usaha peternakan yang terdiri dari penjualan telur, penjualan ayam afkir, dan penjualan kotoran ayam sebesar Rp 3.111.605.988,00.
k) Pendapatan usaha peternakan yaitu selisih antara penerimaan dan biaya, yaitu sebesar 146.721.142,26, dengan Gross Profit Margin sebesar 5%
Analisis faktor-faktor lingkungan internal menunjukkan bahwa kekuatan utama pengembangan agribisnis peternakan ayam petelur adalah usaha turun-temurun dan tersedianya sarana transportasi, sedangkan kelemahan utama adalah keterbatasan jumlah dana serta minimnya informasi. Secara eksternal faktor yang menjadi peluang utama adalah ketersediaan pasar dan distribusi pendek dan pertumbuhan penduduk. Faktor yang menjadi tantangan utama adalah fluktuasi harga pakan dan penyakit ayam.
Alternatif strategi yang dianjurkan meliputi:
a. Peningkatan pangsa pasar untuk meraih posisi market leader melalui kebijakan dari pemerintah daerah dan perusahaan yang terkait, seperti melakukan aktivitas yang dapat mendorong pengembangan market chain.
b. Pengendalian dan pengawasan terhadap hama atau penyakit ternak agar usaha peternakan bisa berkelanjutan, seperti melaksanakan pemantauan kondisi kesehatan ternak di lapangan.
c. Memberikan jaminan dalam permodalan dan mengoptimalkan petugas lapangan, seperti membentuk program kredit dengan bunga rendah dan tepat guna.
d. Meningkatkan kemampuan dalam pengembangan agribisnis terkini, seperti mengadakan pelatihan terpadu.
e. Prioritas strategi yang dipilih dan menjadi pilihan utama dalam pengembangan agribisnis peternakan ayam petelur berdasarkan matrik QSPM adalah strategi peningkatan pangsa pasar untuk meraih posisi market leader melalui kebijakan dari pemerintah daerah dan perusahaan yang terkait, seperti melakukan lomba makan telur dan mengedukasi masyarakat untuk membeli Jurnal Manajemen Agribisnis Vol. 1, No. 2, Oktober 2013 ISSN: 2355-0759 Kurniawan, et.al., Strategi Pengembangan Agribisnis telur lokal yang berasal dari Kabupaten Tabanan, sehingga chain market dapat lebih berkembang.
Penelitian Daroini (2013)Strategi Pengembangan Itik Dalam Rangka Peningkatan Pendapatan Peternak di Kabupaten Kediri Penelitian ini merupakan jenis penelitian dengan pendekatan kuantitatif (deskriptif) dengan teknik pengambilan sampel secara random sampling yang dilakukan kepada 15 peternak itik secara acak di tiga kecamatan lokasi penelitian. Data primer diperoleh dengan metode angket, wawancara, dan observasi, sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi yang terkait dengan penelitian ini. Untuk analisis data menggunakan Analisis SWOT.
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : (1) untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan itik di Kabupaten Kediri, dan (2) untuk mengetahui strategi pengembangan itik di Kabupaten Kediri. Sedangkan lokasi penelitian terletak di desa Jagul dan Desa Pandantoyo Kecamatan Ngancar, Desa Seketi Kecamatan Ngadiluwih. Desa Jambean Kecamatan Kras yang dimulai pada bulan Oktober sampai dengan bulan Desember 2012.
Kesimpulan Strategi SO(Strengths Opportunities) adalah strategi dengan menggunakan kekuatan-kekuatan internal untuk memanfaatkan peluang-peluang eksternal merupakan pilihandalam Strategi Pengembangan Itik Dalam Rangka Peningkatan Pendapatan Peternak di Kabupaten Kediri, yaitu meliputi: (a) variasi makanan, (b) peningkatan kualitas tenaga kerja, (c) dukungan dana pembangunan dan kredit bunga lunak, (d) usaha ternak itik berwawasan pasar dan kompetitif, (e) peningkatan kualitas produk dan nilai tambah, (f) optimalisasi SDA, (g) kemitraan lembaga keungan dengan peternak, (h) pemanfaatan teknologi peternakan, (i) pemasaran luas baik lokal, regional dan nasional, (j) pemanfaatan industri pengolahan hasil ternak.
Penelitian yang dilakukan oleh Budi Purwo Widiarso (2008) Identifikasi Faktor-Faktor Penyebab Kegagalan Inseminasi Buatan Pada Sapi Limosin Dalam Mendukung Swasembada Daging di Kecamatan Tegalrejo Kabupaten Magelang.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kegagalan inseminasi buatan pada sapi limosin dalam mendukung program swasembada daging di Kabupaten Magelang. Penelitian dilakukan di enam desa tempat terbanyak akseptor yang membutuhkan jasa pelayanan inseminasi buatan meliputi desa Japan, Kebon Agung, Klopo, Donorojo, Mangunrejo, dan Sidorejo.
Alat yang diperlukan antara lain : straw limosin dan simental, container yang berisi N2 cair, Inseminasi gun,sarung tangan, plastic sheet dan termos kecil.Bahan –bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner catatan evaluasi, recording perkawinan inseminasi buatan dua tahun terakhir, dan kertas ataupun buku untuk mencatat kegagalan inseminasi buatan
Pengambilan sampel penelitian menggunakan purposive sampling dimana sampel yang diambil adalah 100 orang akseptor yang perkawinan sapinya menggunakan IB, induk betina yang dikawinkan berjenis limosin atau persilangan limosin, IB menggunakan straw limosin atau simental, dan gagal konsepsi setelah perkawinan yang kedua oleh inseminator yang sama atau berlainan .Data dapat dalam dua tahun yaitu tahun 2008 dan tahun 2009 yang mengalami kegagalan perkawinan setelah inseminasi yang kedua. Pengambilan data dilakukan dengan melihat catatan perkawinan seperti lama birahi, status beranak atau dara, catatan inseminasi buatan meliputi jenis straw, jenis sapi yang di IB, waktu birahi, dan waktu yang ditempuh untuk melakukan inseminasi buatan dari lokasi pos sampai proses inseminasi. Data yang diambil lainnya adalah data hasil pemeriksaan ovarium pada sapi yang di IB yang mengalami kegagalan inseminasi setelah 2 kali IB. Data yang terkumpul diidentifikasi dan diolah yang selanjutnya ditampilkan secara deskriptif dengan prosentase penyebab kegagalan inseminasi di lapangan metode analisa data yang digunakan menggunakan regresi linier berganda.
Hasil penelitian diketahui bahwa faktor-faktor yang menjadi penyebab utama kegagalan inseminasi buatan untuk program swasembada daging sapi antara lain :
Ketidaktahuan peternak akan tanda-tanda birahi tidak menyebabkan kegagalan inseminasi buatan.Operator IB dalam melakukan thawing straw menggunakan thawing berjalan sehingga banyak spermatozoa yang akan diinseminasikan sudah berkurang motilitas dan daya hidupnya (teridentifikasi sebanyak 100 %). Estrus sapi limosin yang terlalu panjang, sehingga ketika dilakukan proses IB sesuai prosedur tetap banyak yang gagal (teridentifikasi
65%)dana adanya gangguan pada organ reproduksi sapi betina menyebabkan kegagalan isneminasi buatan (teridentifikasi 26%).
Respons
Menurut Azzaino (1982) respons adalah suatu proses penilaian terhadap suatu objek dari sudut subjektif yaitu berdasarkan pengamatan dari dalam diri individu dan dari sudut objektif yaitu pengaruh lingkungan dimana ia terlibat.
Respons menurut dudung (1985), respons adalah sikap tanggap dan kemampuan seseorang atau kelompok untuk melakukan sesuatu tindakan atau kegiatan. Respons seseorang dalam melakukan suatu tindakan merupakan bagian dari tindakan atau kegiatan masyarakat. Dalam arti lebih luas, respons merupakan kekuatan sosial untuk menimbulkan partisipasi terhadap sesuatu kegiatan yang berasal dari atas sebagai kekuatan sosial. Sikap tanggap dan kemampuan bertindak tersebut adalah hasil dari sesuatu proses sosial tertentu yang terjadi dalam kelompok sebagai sesuatu system.
Respons merupakan reaksi terhadap rangsangan yang diterima oleh panca indra. Biasanya respons diwujudkan dalam bentuk perilaku yang dimunculkan setelah dilakukan perangsangan dari lingkungan. Jika rangsangan dan respons dipasangkan maka akan membentuk tingkah laku baru terhadap rangsangan yang diberikan. Sama halnya dengan persepsi konsumen, yaitu. Menurut Kotler dan Amstrong (1997) persepsi adalah proses, yang dengan proses itu konsumen memilih, mengorganisasi, dan menginterpretasikan stimuli untuk membentuk gambaran dunia yang penuh arti. Stimuli adalah setiap input yang dapat ditangkap oleh indra, seperti produk, kemasan, merk, iklan, dan harga. Stimuli tersebut diterima oleh pancaindra, seperti mata, telinga, mulut, hidung,dan kulit.
Tingkat pendidikan, umur dan jarak tempat tinggal konsumen merupakan faktor yang berperan dalam pembentukan motivasi dan responssif. Manusia yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi, memiliki motivasi dan respons yang lebih besar pula. Hal ini disebabkan karena individu yang memiliki tingkat pendidikan akan lebih agresif terhadap informasi.
Analisis SWOT
Analisis SWOT adalah metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman (threats) dalam suatu proyek atau suatu spekulasi bisnis. Keempat faktor itulah yang membentuk akronim SWOT (strengths, weaknesses, opportunities, dan threats). Proses ini melibatkan penentuan tujuan yang spesifik dari spekulasi bisnis atau proyek dan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang mendukung dan yang tidak dalam mencapai tujuan tersebut. Analisis SWOT dapat diterapkan dengan cara menganalisis dan memilah berbagai hal yang mempengaruhi keempat faktornya, kemudian menerapkannya dalam gambar matrik SWOT, dimana aplikasinya adalah bagaimana kekuatan (strengths) mampu mengambil keuntungan (advantage) dari peluang (opportunities) yang ada, bagaimana cara mengatasi kelemahan (weaknesses) yang mencegah keuntungan (advantage) dari peluang (opportunities)yang ada, selanjutnya bagaimana kekuatan (strengths) mampu menghadapi ancaman (threats) yang ada, dan terakhir adalah bagaimana cara mengatasi kelemahan (weaknesses) yang mampu membuat ancaman (threats) menjadi nyata atau menciptakan sebuah ancaman baru (Rangkuti, 2001).
Analisis SWOT terdiri atas 4 (empat) faktor sebagai berikut:
Strengths
Strengths merupakan kondisi kekuatan yang terdapat dalam organisasi, proyek, atau konsep bisnis yang ada. Kekuatan yang dianalisis merupakan faktor yang terdapat dalam tubuh organisasi, proyek, atau konsep bisnis itu sendiri.
Weakness
Weakness merupakan kondisi kelemahan yang terdapat dalam organisasi, proyek, atau konsep bisnis yang ada. Kelemahan yang dianalisis merupakan faktor yang terdapat dalam tubuh organisasi, proyek, atau konsep bisnis itu sendiri.
Opportunities
Opportunities merupakan kondisi peluang berkembang di masa datang yang akan terjadi. Kondisi yang terjadi merupakan peluang dari organisasi, proyek, atau konsep bisnis itu sendiri misalnya, competitor, kebijakan pemerintah, dan kondisi lingkungan sekitar.
Threat
Threat merupakan kondisi yang mengancam dari luar. Ancaman ini dapat mengganggu organisasi, proyek, atau konsep bisnis itu sendiri
Menurut Freddy Rangkuti (2009) alat yang dipakai untuk menyusun faktor-faktor strategis perusahaan adalah matriks SWOT. Matrik ini dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi perusahaan dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. Matrik ini dapat menghasilkan empat set kemungkinan alternatif strategis. Cara membuat analisis SWOT melalui tiga tahapan yaitu:
a. Tahap pengumpulan data, dimana tidak hanya sekedar kegiatan pengumpulan data dari beberapa faktor internal (kekuatan dan kelemahan) dan faktor eksternal (peluang dan ancaman) tetapi juga menganalisis data tersebut agar dapat diketahui nilai bobot ratingnya dengan menggunakan matrik faktor strategi internal dan eksternal. Untuk matriks faktor strategi internal yaitu:
- Tentukan 5 - 10 faktor-faktor yang menjadi kekuatan serta kelemahan perusahaan .
- Beri bobot masing-masing faktor tersebut dengan skala mulai dari 1,0 (paling penting) sampai 0,0 (tidak penting), berdasarkan pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap posisi strategis perusahaan. (Semua bobot tersebut jumlahnya tidak boleh melebihi skor total 1,00).
- Hitung rating untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 4 sampai dengan 1, berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi perusahaan yang bersangkutan. Variabel yang bersifat positif (semua variabel yang masuk ketegori kekuatan) diberi nilai mulai dari +1 sampai +4 dengan membandingkan dengan rata-rata industri atau dengan pesaing utama. Sedangkan variabel yang bersifat negatif, kebalikannya. Contohnya, jika kelemahan perusahaan besar sekali dibandingkan dengan rata-rata industri, nilainya adalah 1, sedangkan jika kelemahan perusahaan dibawah rata-rata industri, nilainya adalah 4.
- kalikan bobot dengan rating untuk memperoleh faktor pembobotan.
Hasilnya berupa skor pembobotan untuk masing-masing faktor yang nilainya bervariasi mulai dari 4,0 sampai dengan 1,0.
- Jumlahkan skor pembobotan untuk memperoleh total skor pembobotan bagi perusahaan yang bersangkutan.
Matriks faktor strategi eksternal yaitu:
- Susunlah 5 sampai 10 peluang dan ancaman.
- Beri bobot masing-masing faktor tersebut dengan skala mulai dari 1,0 (paling penting) sampai 0,0 (tidak penting). Faktor-faktor tersebut kemungkinan dapat memberikan dampak terhadap faktor strategis.Hitung rating untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 4 sampai dengan 1, berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi perusahaan yang bersangkutan. Pemberian nilai rating untuk faktor peluang yang bersifat positif (peluang yang semakin besar diberi rating +4 tetapi jika peluangnya kecil, diberi rating +1. Pemberian nilai rating ancaman adalah kebalikannya. Misalnya, jika nilai ancamannya sangat besar, ratingnya adalah 1. Sebaliknya, jika nilai ancamannya sedikit ratingnya 4.
- Kalikan bobot dengan rating untuk memperoleh faktor pembobotan.
Hasilnya berupa skor pembobotan untuk masing-masing faktor yang nilainya bervariasi mulai dari 4,0 sampai 1,0.
- Jumlahkan skor pembobotan untuk memperoleh total skor pembobotan bagi perusahaan yang bersangkutan.
b. Tahap analisis, dimana semua informasi yang berpengaruh terhadap kelangsungan perusahaan dapat digambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman yang dihadapi perusahaan dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya.
c. Tahap pengambilan keputusan, dimana semua data yang telah dianalisis akan menghasilkan beberapa alternatif untuk memperbaiki sistem pemasarannya.
Tabel 1. Bentuk Matriks SWOT
Sumber: Freddy Rangkuti, 2009 Keterangan:
a. Strategi SO
Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran perusahaan, yaitu dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya.
b. Strategi ST
Ini adalah strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk mengatasi ancaman.
c. Strategi WO
Strategi ini diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada.
INTERNAL
EKSTERNAL
Strengths (S)
Tentukan 5-10 faktor-faktor kekuatan internal
Weakness (W) Tentukan 5-10 faktor-faktor kelemahan internal
Opportunities (O) Tentukan 5-10 faktor-faktor peluang eksternal
Strategi S-O
Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang
Strategi W-O Ciptakan startegi yang meminimalkan
kelemahan untuk memanfaatkan peluang
Threats (T)
Tentukan 5-10 faktor-faktor ancaman eksternal
Strategi S-T
Ciptakan strategi yang menggunakan kakuatan untuk mengatasi ancaman
Strategi W-T Ciptakan strategi yang meminimalkan dan menghindari ancaman
d. Strategi WT
Strategi ini didasarkan pada kegiatan yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman.Menurut Blocher, Chen, Cokins, Lin (2007) analisis SWOT mengarahkan analisis strategis dengan memfokuskan perhatian pada kekuatan (strengths), kelemahan (weakness), peluang (opportunity), dan ancaman (threat) yang menentukan keberhasilan perusahaan. Analisis SWOT juga merupakan alat untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, dan mungkin juga sebagai konsensus diantara para manajer
Strategi ini didasarkan pada kegiatan yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman.Menurut Blocher, Chen, Cokins, Lin (2007) analisis SWOT mengarahkan analisis strategis dengan memfokuskan perhatian pada kekuatan (strengths), kelemahan (weakness), peluang (opportunity), dan ancaman (threat) yang menentukan keberhasilan perusahaan. Analisis SWOT juga merupakan alat untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, dan mungkin juga sebagai konsensus diantara para manajer