KOMPETENSI PUSTAKAWAN INDONESIA DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0
2. TINJAUAN PUSTAKA 1. Revolusi Industri 4.0
Studi terkait kompetensi pustakawan Indonesia di era revolusi industri 4.0 dilakukan untuk mengetahui kemampuan yang harus dimiliki pustakawan menghadapi revolusi industri 4.0. Kajian terkait kompetensi pustakawan sudah banyak dilakukan sebelumnya. Nurjanah (2017) telah melakukan kajian tentang peningkatan kompetensi pustakawan melalui pendidikan dan pelatihan. Hasildari kajian tersebut pendidikan dan pelatihan dapat meningkatan kompetensi pustakawan. Akan tetapi, pendidikan dan pelatihan harus direncakan dengan sistematis dan terkonsep agar tujuannya dapat tercapai.
Berdasarkan uraian di atas, kajian ini penting dilakukan karena: 1) sumber daya manusia di bidang pustakawan sangat penting dan berpengaruh terhadap perkembangan Indonesia; 2) pemahaman terkait kompetensi yang harus dimiliki oleh pustakawan indonesia dalam menghadapi era revolusi industri keempat dapat dijadikal bekal oleh seluruh profesi pustakawan di berbagai bidang dalam meningkatkan kinerja pengolahan dan manajemen perpustakaan yang tepat serta bermanfaat untuk kepentingan bangsa dan Negara.
Pertanyaan penelitian dalam artikel ini adalah: 1) Bagaimana kompetensi yang harus dimiliki oleh pustakawan Indonesia dalam menghadapi era revolusi industri 4.0?
2.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Revolusi Industri 4.0Revolusi industri 4.0 adalah suatu generasi industri yang melibatkan penerapan perangkat teknologi disertai sensor sehingga mampu berkomunikasi sendiri dengan sistem TIK. Sandiyoko (2017) Industri 4.0 dikenal juga dengan istilah Idustrial Internet ofThings (IIoT) yang memandang bahwa terjadi perubahan mendasar pada teknologi produksi yang ditunjang oleh pengembangan internet yang sangat ekstensif sejak dekade 80-an. Penggunaan komputer dan jariangan internet dimanfaatkan secara masif dan intensif didalam proses produksi. Oleh karena itu, era revolusi industri perlu diperhatikan di lingkungan perpustakaan karena perpustakaan juga selalu bersinggungan dengan teknologi dan internet. Hal ini dilakukan agar perpustakaan dapat menghadapi perubahan-perubahan yang dapat terjadi di era revolusi industri 4.0. Sandiyoko (2017) juga menjelaskan interaksi antara manusia dan mesin menjadi salah satu faktor yang memunculkan era industri 4.0 ini.
MacDougall (2014) menjelaskan lebih detail bahwa smart industrie or Industrie 4.0 refers to the technological evolution from embedded systems to cyber- physical systems. Industrie 4.0 represent to the coming fourth industrial revolution on the way to an internet of things. Industrie 4.0 merupakan suatu transformasi dalam bidang industri yang menerapkan teknologi dalam kegiatannya disertai pengaplikasian sensor sehingga dapat berkomunikasi dengan sistem yang lainnya dengan memanfaatkan arus internet.
Sifat-sifat yang ada pada Industri 4.0 adalah sebagai berikut :
1. Social machine: mesin mampu berkomunikasi sebagaimana manusia pada facebook sehingga mesin mampu untuk bekerjasama, berkoordinasi dan mengatur produksi sesuai jadwal nya.
27
2. Global facility atau virtual production: Mesin-mesin perusahaan yang terhubung dengan sistem penyedia mampu meciptakan suatu solusi jika terjadi suatu peristiwa.
3. Smart products. Setiap produk mampu menyimpan data dalam bentuk RFID chip sehingga produk yang belum diolah dapat memberitahu kepada mesin mengenai apa yang harus dilakukannya.
4. Smart services. Produk yang telah dipasarkan masih dapat dikumpulkan data nya kepada produsen sehingga mampu dilakukan analisis mengenai produk tersebut.
Era revolusi industri 4.0 ini juga tidak lepas dari disruptif. Irawan (2018) menyatakan bahwa disruptif adalah sebuah gangguan yang terjadi di era digital. Gangguan tersebut terjadi dari hasil inovasi berbasis teknologi yang kemunculannya menjadi tantangan. Istilah disruptive technology pertamakali diperkenalkan oleh Clayton M. Christensen pada tahun 1997 mengungkap bahwa perusahaan yang berada pada tahap kedewasaan (mature phase) dalam daur hidupnya (firm life cycle) dengan proses produksi berbasis sustainable technology akan menghadapi dilema.
2.2. Pustakawan
UU RI No. 43 (2007) pustakawan yang memiliki kompetensi, yakni pustakawan yang memiliki, menguasai, dan mampu mengimplementasikan kompetensi tertentu yang dimilikinya sehingga dapat direalisasikan untuk kepentingan masyarakat. Oleh karena itu, pustakawan dengan bekal kompetensi sangat diperlukan guna menghadapi segala perubahan. Basuki (1991) pustakawan adalah orang yang memberikan dan melaksanakan kegiatan perpustakaan dalam usaha pemberian layanan kepada masyarakat sesuai dengan visi dan misi lembaga. Jika pustakawan yang selalu berperan dalam kegiatan di perpustakaan maka penting bagi seorang pustakawan untuk selalu memberikan pelayanan yang memuaskan. Pelayanan yang memuaskan salah satunya dapat terwujud dengan kompetensi yang maksimal.
Siregar (2015) pustakawan adalah seseorang yang bekerja di perpustakaan dan membantu pengguna mencari informasi yang dibutuhkan. Pernyataan tersebut juga menjelaskan bahwa pustakawan ialah profesi yang sangat dibutuhkan karena membantu pengguna mencari informasi yang sesuai kebutuhan bukanlah hal yang mudah. Pustakawan yang mampu melakukan haltersebut tentu telah memiliki kompetensi yang baik karena kompetensi tersebut juga didapatkan dari pendidikan sebagai seorang pustakawan.
Jika pustakawan ingin menemukan informasi yang dicari pengguna dengan tepat dan efisien maka pustakawan juga perlu memiliki bekal yang lebih. Hal tersebut menjelaskan bahwa pustakawan harus dibekali kompetensi secara terus menerus. Batu bara (2012) pustakawan yang ideal adalah pustakawan yang memiliki sikap yang selalu berusaha mencari pengetahuan secara terus menerus dan menyelaraskan segala tindakan.
28
2.3. KompetensiMenurut UU No. 13 (2003) kompetensi adalah kemampuan kerja individu yang berbasis pada pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang sesuai standar yang diterapkan. Sedangkan siregar (2015) kompetensi adalah kemampuan untuk melaksanakan suatu tugas yang dilandasi dengan pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan sikap (attitude). Menurut Kartini (dalam Siregar, 2015) Kompetensi juga dapat dibedakan menjadi dua meliputi: (1) Soft Compentency yaitu berhubungan dengan kemampuan mengatur pekerjaan dan berinteraksi dengan orang lain; dan (2) hard competency yaitu kemampuan yang berhubungan dengan teknis suatu pekerjaan, contoh melayani pemustaka, penelusuran informasi dan lain-lain. Oleh karena itu, kompetensi adalah keterampilan dan kemampuan yang harus dimiliki oleh setiap tenaga kerja maupun profesi. Salah satunya ialah pustakawan juga perlu memiliki kompetensi. Kompetensi yang dimiliki pustakawan, khususnya di era revolusi industri dapat dijakan sebagai pengetahuan yang digunakan untuk menunjang pelaksanaan pekerjaan dan menjadi tolak ukur guna mengetahui kemampuan yang telah dimiliki.
Siregar (2015) juga membagi kompetensi menjadi tiga bagian meliputi: (1) kompetensi individu merupakan kompetensi sikap dan nilai yang harus dimiliki masing-masing pustakawan agar mampu bekerja secara efisien, menjadi komunikator yang baik, belajar terus-menerus dan mampu menghadapi tantangan; (2) kompetensi Informasi merupakan kemampuan dan ketrampilan mencari, mengumpulkan, mengintegrasikan dan menggunakan informasi berdasarkan situasi sosil tertentu. Kompetensi informasi meliputi aspek-aspek keberaksaraan, informasi, literasi media atau literasi komputer dan literasi jaringan; dan (3) kompetensi jaringan merupakan keahlian dan ketrampilan seseorang dalam memanfaatkan jaringan untuk mengakses, mengumpulkan, dan memanfaatkan informasi untuk meningkatkan kualitas mereka.
3. METODE PENELITIAN
Metode penelitian tentang kompetensi pustakawan indonesia di era revolusi industri 4.0 menggunakan metodologi pendekatan kualitatif dengan jenis metode studi literatur. Teknik pengumpulan data yang dilakukan ialah analisis dokumen atau literatur yang berhubungan dengan topik permasalahan yang dikaji.
Menurut Zed (dalam Khatibah, 2011) studi literatur membatasi kegiatannya hanya pada bahan-bahan koleksi perpustakaan saja tanpa memerlukan riset lapangan. Dalam penulisan ini, penulis memperoleh informasi dari berbagai sumber referensi buku dan jurnal guna menarik kesimpulan tentang kompetensi yang harus dimiliki pustakawan di era industri 4.0.
Pengumpulan data diperoleh dari beberapa tahap meliputi: (1) pertama ialah dimulai untuk mencari landasan teoritis mengenai kompetensi pustakawan dan perkembangan era revolusi industri 4.0; (2) menyeleksi informasi yang diperoleh; dan (3) informasi yang didapatkan diklasfikasikan menurut pembahasannya. Penarikan kesimpulan dilakukan setelah menganalisis masalah serta mempertimbangkan kajian pustaka yang dapat dijadikan sumber referensi untuk mendapatkan solusi dan rekomendasi.
29
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengembangan perpustakaan dan kepustakawanan di Indonesia sangat diperlukan. Pengembangan tersebut salah satunya dapat ditinjau dari persiapan atau strategi dalam menghadapi perubahan atau revolusi. Revolusi industri 4.0 yang terjadi secara tidak langsung juga dapat mempengaruhi perubahan-perubahan yang akan terjadi di dunia perpustakaan dan dapat juga menjadi tantangan pustakawan karena adanya revolusi kecil juga dapat membawa perubahan. Hal tersebut diperkuat oleh Priyanto (2017) perkembangan sejarah perpustakaan di Indonesia mengalami beberapa perubahan kecil yang disebut revolusi.
Revolusi kecil yang terjadi juga harus diperhatikan. Priyanto (2017) revolusi yang terjadi di dunia perpustakaan dibagi menjadi empat meliputi:
1. Revolusi I: Collection-centric
Revolusi ini merupakan revolusi pertama yang terjadi di perpustakaan. Koleksi cetak mendominasi hampir di seluruh space perpustakaan. Pustakawan sangat fokus pada pengelolaan koleksi karena koleksi merupakan aset besar perpustakaan. Revolusi pertama ini ditandai dengan perhatian utama pustakawan yang lebih terfokus pada koleksi daripada pemustaka. Jadi kompetensi pustakawan yang ditanamkan pada revolusi pertama adalah kompetensi pengelolaan koleksi.
2. Revolusi II: User-centric
Revolusi kedua ini ditandai dengan adanya perubahan yang terjadi diakhir dekade 80-an dan awal 90-an. Pada revolusi kedua ini, perhatian pustakawan dari koleksi menuju ke pemustaka. Hal ini dapat dilihat dari adanya otomasi yang memudahkan layanan perpustakaan untuk pemustaka.
Revolusi kedua ini juga menjadikan pemustaka sebagai perhatian utama yang ditandai dengan adanya layanan jemput bola atas kebutuhan pemustaka. Akan tetapi, perpustakaan pada revolusi kedua ini masih lemah dalam hal pemasaran dan promosi perpustakaan dan meskipun perhatian kepada pemustaka meningkat tetapi standar di Indonesia masih jauh dari standar yang telah digunakan di Internasional.
3. Revolusi III: Digital Shift
Pada revolusi ke tiga ini, perpustakaan mulai menambah fasilitas bagi pemustaka. Salah satunya ialah adanya corner sebagai fasilitas baru yang didesain berbeda dengan area perpustakaan yang konvensional. Perubahan pada revolusi ketiga ini ditandai dengan perhatian terhadap Teknologi Informasi seperti OPAC, website, digital resource dan lain-lain. Katalog yang sebelumnya ialah stand-alone menjadi digital online. Pustakawan pada revolusi ketiga ini juga disibukan dengan program digitasi dan pengembangan visibilitas sumber-sumber pengetahuan.
4. Revolusi IV: Extended roles
30
komunikasi analog yang ditujukan dengan koleksi cetak dan electronic analog ke dunia digital yang sudah pesat. Oleh karena itu, hal penting yang terjadi salah satunya berhubungan dengan digitasi dan digitalisasi. Digitasi adalah proses merubah sumber informasi yang dalam bentuk cetak dan analog menjadi sumber informasi digital. Sedangkan, digitalisasi adalah penggunaan berbagai perangkat digital dalam layanan perpustakaan. Oleh karena itu, pustakawan menambah perannya sebagaia ahli teknologi informasi.
Penjelasan di atas menunjukan bahwa pustakawan yang dapat meningkatan kompetensinya dapat memberikan dampak positif bagi kegiatan di perpustakaan. Khususnya kompetensi tersebut disesuaikan dengan perkembangan zaman. Hal ini sesuai dengan pernyataan Siregar (2015) tujuan peningkatan kompetensi pustakawan salah satunya ialah mengikuti perkembangan zaman. Oleh karena itu di era revolusi industri 4.0 pustakawan dituntut untuk meningkatkan kinerja dan kompetensinya. Pustakawan harus memiliki standar kompetensi yang baik agar kualitas kinerja yang dilakukan juga menjadi baik.
Di era revolusi industri 4.0, standar kompetensi yang di perlukan oleh pustakawan dapat disesuaikan sesuai kajian pustaka sebelumnya antara lain:
1. Social machine
Mesin mampu dijadikan sebagai alat dalam proses komunikasi yang lebih efektif dan efiesien. Oleh karena itu, strategi kompentensi di era revolusi industri 4.0 yang dapat di terapkan pustakawan adalah dengan memanfaatkan alat tersebut dengan maksimal. Pemanfaatan tersebut dapat berupa pemanfaatan komputer yang membantu kerja pengelolahan dengan baik. Pustakawan dapat mengintegrasikan seluruh kegiatan di perpustakaan dengan bantuan komputer. Tritularsih dan Sutopo (2017) menyatakan bahwa era revolusi industri 4.0 memungkinkan otomasi ke semua bidang untuk tercapainya produktivitas yang efektif dan efisien. Era revolusi industri 4.0 ini dapat meminimalkan peran sumber daya manusia sebagai operator tapi meningkatkan peran sumber daya manusia untuk memiliki kompetensi yang tinggi.
2. Global facility
Penyediaan fasilitas yang dapat diakses secara global juga perlu untuk diperhatiakan. Pada lingkungan perpustakaan tentu pustakawan sebagai sumber daya manusia di perpustakaan yang sangat berperan penting dalam menyediakan serta meningkatan kualitas fasilitas agar dapat diakses secara luas. Pancarrani, Amroh, dan Noorfitriana (2017) menyatakan di era revolus industri 4.0 atau era digital ini membutuhkan sumber daya manusia yang mempunyai kompetensi, karakter, dan daya literasi yang tinggi. Strategi yang dapat dilakukan pustakawan, khususnya pustakawan perguruan tinggi dalam menghadapi era revolusi industri 4.0 adalah dengan mengintegrasikan informasi yang dimiliki agar dapat diakses secara meluas. Pustakawan dapat bekerjasama dengan perpustakaan dan jasa penyedia informasi lain agar
31
pemustaka dapat mengakses informasi meskipun pemustaka bukan bagian dari perpustakaan tersebut.
Irawan (2018) menyatakan bahwa revolusi industri 4.0 merupakan penyatuan dunia online dengan industri produksi, sehingga merupakan revolusi industri digital. Jadi era ini adalah era yang menggunakan peralatan otomasi dan internet of things (IoT). Fasilitas secara global ini salah satunya dapat diwujudkan dengan menyediakan fasilitas user independent technology (suatu fasilitas dengan manfaatkan teknologi yang dapat membuat pengguna atau pemustaka dapat melakukan transaksi dengan perpustakaan tanpa berinteraksi dengan pustakawan diperpustakaan. Hal ini dapat dilakukan dengan menyediakan fasilitas peminjaman koleksi antar perpustakaan yang lebih dikenal dengan interlibrary loan. Akan tetapi, peminjaman ini berupa koleksi-koleksi perpustakaan yang telah didigitasi sehingga pengguna tidak perlu menunggudan pustakawan juga tidak perlu mengirim koleksi ke perpustakaan tujuan tapi pengguna dapat memanfaatkan koleksi tersebut secara langsung.
3. Smart products
Strategi pustakawan dalam menghadapi era revolusi industri 4.0 dapat dilakukan dengan menyediakan produk berguna bagi pemustaka. Hal ini dapat dilakukan melalui penyediaan sumber informasi digital. Pustakawan dapat melakukan digitasi koleksi perpustakaan. Umumnya perpustakaan hanya menyediakan koleksi digital berupa jurnal, skripsi, tesis, disertasi dan proseding yang dapat diakses secara online. Akan tetapi, pustakawan juga dapat menyediakan koleksi berupa buku-buku yang dapat diakses secara online. Sehingga pemustaka dapat memanfaatkan buku di perpustakaan melalui aplikasi atau fitur yang telah disediakan perpustakaan. Contoh koleksi buku secara digital yang dapat diakses tanpa perlu mengunjungi perpustakaan ialah iPusnas. Perpustakaan-perpustakaan, khususnya perpustakaan perguruan tinggi perlu menyediakan produk seperti aplikasi iPusnas karena hal ini juga dapat mengatasi permasalahan kekurangan lahan atau ruang koleksi perpustakaan. Keberhasilan dalam mengintegrasikan kompetensi pustakawan dengan bantuan teknologi informasi dapat mengembangkan perpustakaan Indonesia ke arah revolusi industri 4.0.
4. Smart services
Pelayanan yang baik (smart service) juga harus menjadi pertimbangan bagi pustakawan di perpustakaan. Pelayanan ini umumnya selalu bersinggungan dengan pemustaka. Perhatian kepada pemustaka sudah terjadi sejak revolusi kedua. Priyanto (2017) menyatakan bahwa revolusi kedua ditandai dengan fokus pustakawan yang tertuju kepada pemustaka. Akan tetapi, pada revolusi kedua pustakawan juga masih mengalami kendala dalam hal pemasaran dan promosi perpustakaan. Oleh karena itu, strategi yang dapat dilakukan oleh pustakawan dalam mengahadapi revolusi 4.0 ini dapat dilakukan melalui beberapa cara meliputi: (1) pustakawan dapat meningkatan penggunaan media sosial sebagai sarana promosi; (2) pustakawan dapat melakukan kemas ulang informasi dengan memanfaatan media sosial perpustakaan; dan (3) pustakawan juga dapat meningkatkan layanan mandiri dengan memanfaatan teknologi
32
informasi. Ketiga hal tersebut dapat dijadikan pertimbangan bagi pustakawan untuk menuju era revolusi industri 4.0 agar perpustakaan mampu meningkatkan kompetensinya. Terutama pada cara kedua, dengan melakukan kemas ulang informasi, pustakawan dapat membantu pemustaka untuk mengetahui isu-isu terkini.
Kemas ulang informasi yang dilakukan dikomunikasikan kembali menjadi informasi yang lebih sederhana tanpa menghilangkan makna informasi yang akan disampaikan. Pustakawan juga dapat melakukan observasi terlebih dahulu ketika akan mengkomunikasikan informasi tersebut. Contohnya di era revolusi keempat ini, pengguna informasi lebih sering mengakses informasi secara digital dan hampir sebagian besar juga menyukai media sosial. Oleh karena itu, pustakawan dapat melakukan kemas ulang informasi dengan memanfaatkan media sosial seperti instagram, twitter, facebook dalam mengkomunikasikan informasi yang telah dikemas.
Berdasarkan kajian yang ada, revolusi industri ini sudah mulai dipersiapkan. Aspek yang paling penting untuk disiapkan adalah Sumber Daya Manusia (SDM) dan kebijakan pemerintah. Pada intinya, di era revolusi industri 4.0, setiap lembaga perlu menggunakan “internet” dan teknologi sebagai penunjang kegiatan operasional lembaga. Pustakawan tentu akan terlibat didalamnya terkhusus dalam memelihara informasi yang berkenaan dengan lembaga. Kompetensi yang harus dimiliki yakni penguasaan media penyimpanan informasi dalam bentuk modern dengan ditunjang oleh kualifikasi pendidikan yang mumpuni. Hal ini dimaksudkan agar informasi di perpustakaan dapat terkelola dengan baik. Selain itu, pustakawan juga harus memahami terkait dunia industri informasi, bukan hanya menjadi konsumen tapi pustakawan juga diharapkan dapat menjadi industri informasi di era revolusi industri 4.0 ini.
Munculnya revolusi industri 4.0 ini juga berhubungan dengan disruptive technology. Pada kajian teori sebelumnya telah dijelaskan bahwa disruptif adalah sebuah gangguan yang terjadi di era digital karena hasil inovasi berbasis teknologi yang kemunculannya menjadi tantangan. Sedangkan era revolusi industri ini juga dapat disebut sebagai era digital. Strategi kompetensi pustakawan dalam menghadapi era digital ini perlu dilakukan karena munculnya disruptive technology ini juga memunculkan teori tentang disruptive innovation (Christensen’s theory of disruption innovation). Disruptive innovation ini pada dasarnya lebih mengingatkan bahwa keputusan-keputusan yang diambil harus melalui analisa kondisi dan sumber- sumber yang unggul. Christensen’s theory of disruption innovation juga menjelasan bahwa melakukan inovasi yang berkelanjutan (sustaining inovation) dan menyediakan produk dan jasa melampaui yang dibutuhkan konsumen merupakan salah satu cara menghadapi disruptive technology (Irawan, 2018).
5. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil kajian dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan bahwa: (1) pustakawan dengan kompetensi tinggi sangat dibutuhkan di era revolusi
33
industri 4.0; (2) pustakawan harus memiliki kompetensi penguasaan media penyimpanan informasi dalam bentuk modern atau dengan kata lain memenuhi tuntutan di era revolusi industri 4.0; (3) pustakawan harus memiliki kualifikasi pendidikan sesuai bidang studi lain yang telah mengikuti pendidikan dan pelatihan. Hal ini dilakukan agar informasi di sebuah perpustakaan terkelola dengan baik. Informasi yang terkelola dengan baik dapat didayagunakan oleh pengambil kebijakan dalam rangka pengambilan keputusan; dan (4) sumber daya manusia yang terampil dan berkompeten serta teknologi informasi yang diitegrasikan dengan internet merupakan elemen penting di era revolusi industri 4.0.
6. SARAN DAN UCAPAN TERIMAKASIH
Penulis mengucapkan terimakasih kepada seluruh partisipan yang telah membantu selama penulisan artikel ini. Penulis berharap adanya saran, masukan maupun sanggahan mengenai kajian diatas guna menjadikan artikel ini lebih baik lagi. Hasil kajian ini juga dapat digunakan bagi pembaca untuk menambah wawasan seputar kompetensi pustakawan dan strategi yang dapat dilakukan dalam menghadapi era revolusi industri 4.0.
DAFTAR PUSTAKA
Batu bara, A.K., Membangun Kreativitas Pustakawan di Perpustakaan. Jurnal Iqra’, vol. 6 (2). 2012 Hartanto, Airlangka. Empat Strategi Indonesia masuk Revolusi Industri Keempat. [s.n], 2017 Era Digital. Orasi Ilmiah, (Online), hlm. 1-30. (http://repository.unpar.ac.id)
Irawan, Judith Felicia Pattiwael. Tantangan Bagi Perguruan Tinggi dalam Menyosong, [s.n], 2018.
Nurjanah, Yuni. Peningkatan Kompetensi Pustakawan melalui Pendidikan dan Pelatihan. Siaran Pers. Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. [pdf]. Tersedia di http://www.kemenperin.go.id/artikel/17565/Empat-Strategi-Indonesia-Masuk- Revolusi-Industri-Keempat. Diakses pada tanggal 26/10/2017, 2017.
Prosiding Seminar Nasional Perpustakaan dan Pustakawan Inovatif Kreativ di Era Digital, hlm. 215-227. Surabaya: Perpustakaan Airlangga.[s.a]
Pancarrani, Berlian, Isma Wakhidatul Amaroh dan Yunita Noorfitriana. Peran Literasi Orang Tua dalam Perkembangan Anak. Bibliotika: Jurnal Kajian Perpustakaan dan Infomasi, (Online), vol.1 (2), hlm. 23-27, (http://journal2.um.ac.id), 2017.
Priyanto, Ida F. Membongkar Mindset Pustakawan: Revolusi ke empat. Prosiding Seminar Nasional Perpustakaan dan Pustakawan Inovatif Kreativ di Era Digital, hlm. 1-4. Surabaya: Perpustakaan Airlangga. 2017.
Pustakawan. Jurnal Iqra’, vol. 8 (2), hlm. 211-222. [s.a]
Siregar, Muhammad Riandy Arsin. Kompetensi yang Harus Dimiliki Seorang, 2015.
Sadiyoko, Ali. Industry 4.0: Ancaman, tantangan atau kesempatan? Sebuah Intropeksi Menyambut Kemajuan Teknologi Saat ini. Orasil Ilmiah, (Online), hlm. (http://repository.unpar.ac.id), 2017. Sulistyo. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka. 1991.
34
Tritularsi, Yustina, Wahyudi Sutopo. Peran Keilmuan Teknik Industri dalam Perkembangan Rantai Pasokan Menuju Era Industri 4.0. Prosiding Seminar dan Konferensi Nasional IDEC, (Online), hal. 507-517, (http://idec.industri.ft.uns.ac.id), 2017.
Undang- undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.
Undang- undang Republik Indonesia No. 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan. Basuki,