Masyarakat sebagai lingkup sosial menjadi wadah dari pola pola interaksi sosial yang berkembang mengikuti norma norma dan nilai nilai kehidupan menjadi karakteristik tersendiri bagi masyarakat tradisonal yang tertata dalam struktur sosial (Edwar, 2010). Interaksi sosial antar individu terjadi dalam lingkup masyarakat diatur berdasarkan norma norma dan nilai nilai kehidupan sebagi wujud identitas masyarakat yang memiliki budaya dan cara pandang terhadap kehidupan. Masyarakat memiliki budaya dan cara pandang terhadap kehidupan merupakan karakteristik masyarakat tradisonal. Cara pandang yang sama dalam struktur sosial membentuk tatanan komunitas yang didalamnya terdapat batas batas sosial.
Kriteria pandangan yang sama dalam sistem kekerabatan membentuk pola berulang tetap yaitu masyarakat dengan pola pola perilaku yang sama dimana perilaku tersebut tumbuh dan diwujudkan oleh masyarakat , dari pola tersebut diwujudkan aturan aturan untuk mengatur pergaulan hidup guna pemenuhan kebutuhan bersama (Soerjono Soekanto , 2010). Dalam kehidupan masyarakat, sistem kekerabatan membentuk pola pola perilaku yang sama dalam tatanan sosial suatu kelompok sosial yang diwujudkan dalam aturan untuk mengatur pergaulan hidup dalam batas batas sosial. Aturan tersebut diwujudkan oleh masyarakat yang memiliki perilaku yang sama sebagai upaya pemenuhan kebutuhan hidup secara
dapat dipergunakan untuk menggambarkan struktur sosial dari masyarakat yang bersangkutan (Hermaliza, 2011). Sistem kekerabatan pada masyarakat berfungsi sebagai cara untuk mengetahui struktur sosial yang tersusun berdasarkan kesamaan pandangan yang membentuk aturan aturan sosial dalam masyarakat.
Struktur sosial ialah penyusunan orang orang secara berkesinambungan atas status dan dan peran dalam satu atau lebih sosial grup, dalam sistem stratifikasi tertentu, dimana perilakunya dapat diduga dan dapat dikendalikan oleh nilai dan norma, dan didalam proses berinteraksi antar status ada unsur kekuasaan ( Edi Susilo: 2010). Dapat disimpulkan bahwa sistem kekerabatan sebagai cara atau aturan yang digunakan untuk menentukan identitas seseorang dengan kata lain sistem kekerabatan digunakan dalam pengelompokan masyarakat berdasarkan identitas atau latar belakang.
Kehidupan masyarakat tradisional di Indonesia membagi sistem kekerabatan menjadi 2 bagian berdasarkan faktor yang mempengaruhinya antara lain faktor genealogis dan faktor teritorial (Edwar ; 2010). Sistem kekerabatan yang terbentuk dalam kehidupan masyarakat yang berkembang mengikuti aturan dalam batas batas sosial sebagai upaya pemenuhan kebutuhan hidup secara bersama sama dalam masyarakat indonesia terbagi dalam dua bagian berdasarkan faktor yang mempengaruhi terbentuknya kriteria pandangan yang sama. Faktor tersebut ialah keturunan (geneologi) dan faktor yang bersangkutan dengan wilayah terkait sistem kekerabatan tersebut (teritorial).
Dalam masyarakat tradisional, sistem kekerabatan yang berlandaskan geneologis dikenal 3 macam pertalian keturunan (Soerjono Soekanto, 2010) antara lain Sistem kekerabatan Patrilineal , Sistem Kekerabatan Matrilineal , dan Sistem Kekerabatan Parental
Dari 4 macam sistem kekerabatan yang berdasarkan geneolgi atau faktor keturunan meunjukkan alur dominasi keturunan yang di kaitkan oleh ayah dan ibu. Sistem kekrabatan patrilineal merupakan kesamaan pandangan yang terbentuk mengikuti tradisi atau kebiasaan yang diwariskan berdasarkan garis keturunan ayah. Sedangkan matrilineal membentuk pandangan yang sama berdasarkan tradisi yang diwariskan oleh garis keturunan ibu. Sistem kekerabatan Parental sendiri merupakan campuran antara keduanya
Pada penelitian terhadap masyarakat Tengger ditemukan bahwa rumah anak yang sudah bekeluarga tidak boleh dibangun disamping kiri dan kanan rumah orang tuanya (Ayuninggar : 2013). Sistem kekerabatan berlandaskan geneologi ini berdampak pada perkembangan permukiman dimana setiap individu mempunyai hubungan pertalian sehingga dalam penentuan lokasi bermukim seseorang memilih untuk berdekatan dengan kerabatnya. Dengan kata lain kerabat sekaligus tetangga. Hal ini membantu mengklasifikasikan penduduk berdasarkan latar belakang keturunan dan apa yang diwariskan seperti etnis atau budaya.
Sistem kekerabatan berdasarkan teritorial ini dapat dirinci menjadi 3 jenis ( Muhammad Bushar 1987 :31) yaitu sistem kekerabatan desa, wilayah dan serikat.
Permukiman di pesisir mempunyai hubungan sosial yang masuk dalam sistem kekerabatan desa wilayah dan serikat. Hubungan antara penghuni dalam permukiman mempunyai sistem kekerabatan desa apabila masyarakatnya memiliki cara pandang hidup yang sama. Pemukim hidup menetap pada suatu tempat berupa kediaman bersama. Tempat kehidupan bersama dibentuk oleh pemukim dalam tatanan yang bermanfaat untuk penghuninya dapat hidup didalamnya.
Hubungan antara penghuni dalam permukiman tergolong dalam sistem kekerabatan wilayan apabila masyarakat yang bermukim pada suatu desa memiliki kesamaaan pandangan dengan masyarakat desa lainnya. Sedangkan jika hubungan antara penghuni terjadi dalam berbagai lapangan menempati segala ruang demi kepentingan bersama termasuk dalam sistem kekerabtan serikat.
Pembagian sistem kekerabatan berdasarkan teritorial ini menunjukkan Semakin besar lingkungannya maka semakin bersifat luas sistem kekerabatan pada suatu wilayah . Sistem kekerabatan berdasarkan teritorial ini mengklasifikasikan berdasarkan identitas suatu wilayah sebagai tempat kediaman individu yang terkait. Identitas suatu wilayah meliputi kondisi dan latar belakang maupun sosial budaya yang berkembang.
Kampung nelayan adalah permukiman yang pada umumnya dikenal dengan masyarakat pesisir sebagai unsur pembentuknya. Masyarakat pesisir secara sosio-kultural merupakan suatu kelompok masyarakat yang akar budayanya pada mulanya dibangun atas paduan antar budaya maritim laut, pantai dan berorientasi pasar (Satria, 2001). Kehidupan masyarakat pesisir secara garis besar dipengaruhi oleh kondisi geografis wilayah yang menjadi identitas dasar kebudayaan dalam pemanfaatan sumber daya laut. Dalam kelangsungan hidup masyarakat pesisir, aspek sosial budaya dan sosial ekonomi sebagian besar bergantung pada sektor kelautan mencakup wilayah pesisir pantai sebagai orientasi pasar .
Fenomena over fishing yang berdampak pada kondisi geografis pada wilayah pesisir yang tidak stabil menimbulkan kompleksitas permasalahan dan tekanan yang dirasakan oleh masyarakat pesisir (Muhsoni , 2006). Penurunan kualitas sumber daya laut secara terus menerus merupakan gambaran kondisi wilayah pesisir yang tidak stabil menyebabkan permasalahan bagi sebagian besar orang yang menggantungkan hidupnya dari pemanfaatan sumber daya laut dengan kemampuan investasi terbatas yang dikenal dengan sebutan nelayan kecil.
Rendahnya produktivitas nelayan kecil disebabkan oleh semakin banyaknya jumlah nelayan tangkap tidak diimbangi oleh jumlah hasil tangkapan yang berujung pada kemiskinan yang dialami oleh nelayan kecil. Jumlah nelayan tangkap semakin bertambah sementara kualitas sumber daya laut semakin menurun sehingga ketersediaan sumber daya laut tidak mencukupi. Kondisi ini
rumah tangga miskin pedesaan antara lain : 1) melakukan beraneka ragam pekerjaan meskipun dengan upah yang rendah. 2) memanfaatkan ikatan kekerabatan serta pertukaran timbal balik dalam pemberian rasa aman dan perlindungan, dan 3) melakukan migrasi ke daerah lain biasanya migrasi desa kota sebagai alternatif terakhir apabila sudah tidak dapat lagi pilihan sumber nafkah di kampungnya. Sistem kekerabatan merupakan salah satu cara yang ditempuh oleh sebagian masyarakat pesisir yang memliliki pendapatan rendah sebagai upaya mengatasi kondisi buruk kelangsungan hidup masyarakat pesisir. Sistem kekerabatan ini terbentuk dengan sendirinya atas keadaan sosial ekonomi yang mendesak pada wilayah pesisir. Interaksi antar latar belakang perekonomian yang sama membentuk ikatan kekerabatan .Dalam ikatan kekerabatan ini terjadi hubungan timbal balik antar anggotanya. Hubungan timbal balik ini menciptakan rasa aman bagi setiap anggotanya dan merupakan tolak ukur pencapaian sistem kekerabatan.
Sistem kekerabatan biasanya tumbuh dalam kelompok yang cenderung mempunyai perspektif dan kriteria pandangan yang sama (Allen, 1989-178). Pada umumnya sistem kekerabatan berawal dari persamaan pandangan terhadap kehidupan membentuk kelompok sosial. Dalam kehidupan masyarakat pesisir yang memiliki perspektif terhadap cara mencapai kelangsungan hidup yang sama berdasarkan faktor kondisi wilayah akan membentuk sekumpulan orang yang berada pada struktur soaial yang sama. Kondisi wilayah pada permukiman pesisir
kekerabatan dengan batasan batasan sosial.
Permukiman masyarakat pesisir dangan kondisi wilayahnya menyebabkan sebagian besar menggantungkan hidupnya dari menangkap ikan dan bekerja sebagai nelayan. Namun ada ada juga beberapa kelompok lain yang menggantungkan hidup sebagai pedagang dan buruh industri( Budhya, G. &
Benjamin,S 2000: 30). Variasi dalam pemberdayaan sumber daya laut menyebabkan masyarakat pesisir tidak hanya bermata pencaharian sebagai nelayan namun juga sebagai pedagang dan buruh industri. Variasi antar latar belakang pekerjaan tidak hanya terjadi pada jenis pekerjaan yang dilakukan.
Namun, variasi juga terjadi antar nelayan.
Ahmed, dkk (2013) menyatakan profesi nelayan merupakan profesi yang paling banyak dilakukan masyarakat dikawasan pesisir. Profesi nelayan sendiri terbagi atas tiga kategori antara lain nelayan Profesional, nelayan subsisten, dan nelayan musiman. Variasi kriteria nelayan ini berdasarkan konsistensi nelayan terhadapa penangkapan ikan. Dalam keberlangsungan hidupnya nelayan profesional memiliki sistem perekonomian yang bergantung pada mata pencarian nelayan. Nelayan profesional tidak memiliki penghasilan lain selain dari mata pencahariannya sebagi nelayan. Berbeda dengan nelayan musiman yang melakukan penangkapan ikan hanya beberapa kali dalam setahun. Biasanya nelayan musiman ini memiliki penghasilan tambahan diluar dari mata pencaharian utama mereka. Berbeda pula dengan nelayan subsisten yang tidak bergantung
menjual hasil tangkapannya.
Interaksi antar variasi etnis dan identitas dari latar belakang yang dipengaruhi wilayah dalam sistem kekerabatan tersebut menimbulkan hubungan timbal balik yang relatif menimbulkan rasa aman akibat dari batas batas sosial yang dikelilngi oleh kerabat dan rekan etnis (Levine 1979: 52). Sistem kekerabatan tidak hanya terbentuk dari variasi latar belakang yang dipengaruhi kondisi wilayah tersebut namun juga melalui interaksi antar variasi etnis yang mendiami wilayah tersebut.
Variasi etnis pada wilayah tersebut berkaitan erat dengan kehidupan sosial budaya pada masyarakat pesisir.
Kehidupan masyarakat pesisir yang komplek akan latar belakang masyarakatnya mempengaruhi sistem kekerabatan yang terjadi di wilayah tersebut. G.P Murdock (1949) menyatakan bahwa terdapat 3 kategori kelompok kekerabatan berdasarkan fungsi fungsi sosialnya yaitu:
1. Kelompok Kekerabatan Korporasi
yaitu kelompok kekerabatan yang jumlah anggota kelompoknya relatif kcil. para anggotanya masih saling mengenal satu sama lain. Melakukan aktivitas bersama secara berulang serta memiliki hakdan kewajiban yang mengatur interaksi mereka berdasarkan sistem norma tertentu.
2. Kelompok Kekerabatan Kadangkala
yaitu kelompok kekerabatan yang bersifat sementara. Memiliki jumlah anggota yang cukup banyak dan tidak selalu berinteraksi secara terus
tertentu.
3. Kelompok Kekerabatan Menurut Adat
yaitu kelompok kekerabatan yang jumla anggota sangat banyak sehingga diantara mereka tidak saling mengenal. Namun para anggota kelompok ini menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari satu kesatuan yang berdasarkan lambang adat tertentu.
Selain itu dapat diketahui bahwa kehidupan sosial ekonomi yang terjadi di masyarakat pesisir terbentuk berdasarkan karakteristik latar belakang ang berbeda beda antar kelompok yang satu dengan yang lainnya. Beragam faktor yang melatarbelakangi identitas masyarakat pesisir menyebabkan sistem kekerabatan yang terbentuk tidak dibatasi dengan hubungan pertalian darah. Schneider (1968) menyatakan bahwa sistem kekerabatan yang berdasarkan hubungan kekeluargaan merupakan ilusi yang dibangun oleh anggota anggotanya. Sehingga, sistem kekerabatan merupakan simbol atau identitas seseorang dalam kelompok berdasarkan fungsi dan peranan yang dibangun oleh masyarakat itu.
2.3 Pengaruh Sistem Kekerabatan Terhadap Pemanfaatan Lahan
Pada pengamatan yang dilakukan oleh Pingkan dan Michael (2015), pemanfaatan lahan pada kawasan pesisir terbagi 3 yaitu:
• Area permukiman : memiliki fungsi sebagai lahan bermukim meliputi rumah penduduk, sebagai sarana berkumpul meliputi ruang publik berupa
berkumpul meliputi pekarangan rumah penduduk.
• Area pesisir : memiliki fungsi sebagai ruang transisi antara wilayah darat dengan wilayah perairan serta area penampungan hasil tangkapan tidak menutup kemungkinan sebagai area berkumpulnya sesama nelayan
• Area pantai: memiliki fungsi sebagai wilayah penyedia sumber daya tangkapan
Pada kehidupan masyarakat pesisir sistem kekerabatan yang terbentuk dari kriteria pandangan yang sama membentuk pola pola perilaku yang sama menempati ruang secara bersama . Dalam pemanfaatan lahan , pemakaian ruang bersama mempengaruhi fungsi lahan dalam mewadahi aktivitas bersama dalam kawasan pesisir meliputi area permukiman , area pesisir, dan area pantai.
Memahami faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan ruang intraspesifik ini penting karena variasi dalam penggunaan ruang berkaitan dengan perbedaan dalam penggunaan sumber daya, kelangsungan hidup, dan reproduksi (Marzluff et al.2004). Dalam penggunaan ruang yang terbentuk dari persamaan pandangan (intraspesifik) terdapat faktor faktor yang mempengaruhinya dikarenakan variasi dalam kehidupan anggota anggota yang terlibat dalam sistem kekerabatan.
Perbedaan dalam kehidupan pesisir dipengaruhi oleh penggunaan sumber daya, kelangsungan hidup, dan reproduksi. Perbedaan dalam pemanfaatan sumber daya ditentukan oleh kondisi dan keberadaan suatu wilayah sebagai tempat
dalam kehidupan anggota anggotanya. Dalam kelangsungan hidup anggota yang terlibat dalam sistem kekerabatan tersebut , variasi terhadap pemanfaatan tanah yang dipengaruhi kondisi eksisting wilayah yang menampung sumber daya yang ada.
Penelitian yang dilakukan terhadap wilayah pesisir Desa Kwanyar Barat, antara nelayan Asli Kwanyar Barat dengan nelayan asal Kecamatan Sreseh Kabupaten Sampang terjadi persinggungan terhadap pemanfaatan wilayah penyedia sumber daya tangkapan (Slamet Widodo). Dapat disimpulkan variasi terhadap pemanfaatan sumber daya mempengaruhi pemanfaatan tanah terhadap wilayah Kwanyar Barat yang membetuk batasan batasan sosial yang terwujud dalam bentuk fisik batasan alam sosial antara nelayan asli Kwanyar Barat dengan nelayan asal Kecamatan Sreseh Kabupaten Sampang. Kelangsungan hidup nelayan dalam sistem kekerabatannya membentuk batasan batasan sosial dalam wujud fisik mempengaruhi pemanfaatan tanah pada suatu wilayah. Pada umumnya batasan batasan sosial dalam sistem kekerabatan tumbuh dalam sekumpulan orang orang yang memiliki kesamaan dalam penggunaan sumber daya , proses kelangsungan hidup dan faktor reproduksi atau hasil keturunan.
Kesamaan dalam penggunaan sumber daya dalam sistem kekerabatan menempati ruang yang sama juga dalam pemenfaatan tanah sebagai wujud fisik batasan batasan alam sosial. Begitu pula dengan kesamaan kelangsungan hidup dan faktor
menempati ruang yang sama dalam pemanfaatan tanah dalam batas sosial.
2
.4 Sistem Kekerabatan Dalam Menempati Ruang Luar pada Kawasan Pesisir dan Pengaruhnya .Sistem kekerabatan biasanya tumbuh dalam kelompok yang cenderung mempunyai perspektif dan kriteria pandangan yang sama. Pada umumnya kelompok tersebut berada dalam generasi alternatif yang sama juga. Generasi yang berada pada durasi waktu yang sama biasanya ada dalam batas batas alam semesta sosial yang sama juga (Allen, 1989:178). Sekumpulan orang orang yang memiliki pandangan yang sama pada umumnya berada dalam suatu keadaan sosial yang sama juga. Cara pandang mereka terhadap kehidupan menentukan keberadaan mereka pada struktur sosial. Dalam durasi waktu yang sama sekumpulan orang orang pada sistem kekerabatan membentuk batasan batasan sosial dalam wujud fisik yang disebut dengan batasan alam sosial. Batasan batasan fisik tersebut terwujud dalam bentuk ruang yang menjadi wadah kehidupan bagi anggota yang terlibat didalamnya.
Pada kajian yang dilakukan oleh Pingkan dan Michael (2015) mengenai aktivitas masyarakat pesisir pada ruang luar terbagi dalam 3 zona yaitu :
• Zona pengantar : ruang luar yang terdapat pada kawasan permukiman penduduk
yang merupakan daerah perbatasan antara daratan dan perairan
• Zona pantai : ruang luar berupa lahan penangkapan ikan
Ruang ruang luar yang berada pada kawasan pesisir biasanya menjadi lingkungan yang terpersepsikan oleh batasan batasan alam sosial akibat pengaruh dari sistem kekerabatan yang berada pada kawasan tersebut. Ruang luar yang menjadi lingkungan yang terpersepsikan sebagai ruang bersama antara lain jalan pada kawasan permukiman , ruang terbuka , dan area penangkapan ikan yang digunakan sebagi ruang berkumpul. Menurut Iih Strathern (1975; 289) dalam pemakaian ruang luar sebagai ruang bersama biasanya disertai dengan kekuasaan untuk mempertahankan anggapan pribadi suatu kelompok sehingga interaksi diluar kelompok ditandai dengan konflik. Perbedaan kepentingan satu kelompok kekerabatan dengan kelompok kekerabatan lainnya dapat memicu terjadinya kesenjangan sosial.
2.5 Rangkuman Tinjauan Pustaka
Berdasarkan kajian teori mengenai Sistem Kekerabatan pada Permukiman Pesisir Indonesia dan pengaruhnya terhadap pemanfaatan lahan serta sistem kekerabatan pada ruang luar pada kawasan pesisir maka peneliti merangkum kajian referensi tersebut sebagai berikut: (Tabel 2.1)
Permasalahan Penelitian Landasan Teori Kajian Teori Sistem kekerabatan
pada permukiman pesisir
Kriteria pandangan yang sama dalam sistem kekerabatan membentuk pola berulang tetap yaitu masyarakat dengan pola pola perilaku yang sama dimana perilaku tersebut tumbuh dan diwujudkan oleh masyarakat , dari pola tersebut diwujudkan aturan aturan untuk mengatur pergaulan hidup
guna pemenuhan pesisir dipengaruhi atas dua hal yaitu budaya yang tumbuh secara turun temurun dan faktor kondisi maritim laut.
Kedua hal ini merupakan pembentuk kesamaan latar belakang atau perspektif individu dalam struktur masyarakat pesisir. Sehingga dapat dikelompokkan sistem kekerabatan dalam suatu permukiman berdasarkan
faktor yang
memepengaruhinya antara lain sistem kekerabatan berdasarkan faktor geneologis (keturunan) dan sistem kekerabtan
Kehidupan masyarakat tradisional di Indonesia
membagi sistem
kekerabatan menjadi 2 bagian berdasarkan faktor yang mempengaruhinya antara lain faktor genealogis dan faktor teritorial (Edwar ; 2010).\
(sumber: Edwar, E.
(2010). Pergeseran tanggung jawab mamak kepala waris terhadap anak kemenakan pada masyarakat Pariaman perantauan menurut hukum adat Minangkabau kota Jambi (Doctoral
menyebabkan kondisi di wilayah perairan tidak stabil. Hal ini menyebabkan
kompleksitas terhadap latar belakang masyarakat pesisir yang merupakan unsur pembentuk sistem kekerabatan. Pada umumnya, permukiman pesisir yang dihuni oleh penduduk dengan beragam latar belakang memiliki sistem kekerabatan yang terstruktur berdasarkan hubungan timbal balik antar fungsi dan peranan
Dalam masyarakat Soekanto, 2010) antara lain: Patrilineal, masyarakat tersebut. Dan bukan hanya didasari atas hubunngan pertalian darah (keturunan).
Berdasarkan hal tersebut maka sistem kekerabatan dapat di bagi dalam 3 kelompok yaitu sistem kekerabatan korporasi, sistem kekerabatan kadangkala , dan sistem kekerabatan adat / budaya
Kehidupan
masyarakat pesisir yang komplek akan latar belakang masyarakatnya mempengaruhi sistem kekerabatan yang terjadi di wilayah tersebut. G.P
Murdock menyatakan bahwa terdapat 3 kategori kelompok kekerabatan berdasarkan fungsi fungsi sosialnya yaitu:
1. Kelompok Kekerabatan Korporasi
yaitu kelompok kekerabatan yang jumlah anggota kelompoknya relatif kcil. para anggotanya masih saling mengenal satu sama lain.
Melakukan
aktivitas bersama secara berulang serta memiliki hakdan kewajiban yang mengatur interaksi mereka
berdasarkan sistem norma tertentu.
2. Kelompok Kekerabatan Kadangkala
yaitu kelompok kekerabatan yang bersifat sementara.
Memiliki jumlah anggota yang cukup banyak dan tidak selalu berinteraksi secara terus menerus. Para anggotanya
berkumpul hanya dalam kegiatan kegiatan tertentu.
3. Kelompok Kekerabatan Menurut Adat
yaitu kelompok kekerabatan yang jumla anggota sangat
banyak sehingga diantara mereka tidak saling mengenal.
Namun para anggota
kelompok ini
menyadari bahwa dirinya adalah bagian dari satu kesatuan yang berdasarkan lambang adat tertentu.
(Sumber : Murdock, G. P.
(1949). Social structure.)
Schneider (1968) menyatakan bahwa sistem kekerabatan yang berdasarkan hubungan kekeluargaan merupakan ilusi yang dibangun oleh anggota anggotanya.
Sehingga, sistem
kekerabatan merupakan simbol atau identitas
seseorang dalam
kelompok berdasarkan fungsi dan peranan yang dibangun oleh masyarakat itu.
(Sumber: Schneider, D. M.
(1965). American kin terms and terms for kinsmen: A critique of Goodenough's
componential analysis of
Yankee kinship
terminology. American Anthropologist, 67(5), 288-308.)
Sistem kekerabatan berdasarkan teritorial ini dapat dirinci menjadi 3
jenis ( Muhammad Bushar 1987 :31) yaitu : sistem kekerabatan desa, wilayah dan serikat.
(sumber: Bushar, M.
(1988). Asas-Asas Hukum Adat Suatu Pengantar.
Pradnya Paramita, Jakarta.)
Sistem kekerabatan biasanya tumbuh dalam kelompok yang cenderung mempunyai perspektif dan kriteria pandangan yang sama (Allen, 1989-178).
(Sumber : Allen, N. J.
(1989). The evolution of kinship terminologies.
Lingua, 77(2), 173-185.
Permukiman masyarakat pesisir dangan kondisi wilayahnya menyebabkan
sebagian besar
menggantungkan hidupnya dari menangkap ikan dan bekerja sebagai nelayan.
Namun ada ada juga beberapa kelompok lain yang menggantungkan hidup sebagai pedagang dan buruh industri(
Budhya, G. & Benjamin,S 2000: 30).
(Sumber: Budhya, G., &
Benjamin, S. (2000). The politics of sustainable cities: the case of Bengare, Mangalore in coastal India. Environment and Urbanization, 12(2),
27-36.)
Interaksi antar variasi etnis dan identitas dari latar belakang yang dipengaruhi wilayah dalam sistem kekerabatan tersebut menimbulkan hubungan timbal balik yang relatif menimbulkan rasa aman akibat dari batas batas sosial yang dikelilngi oleh kerabat dan rekan etnis (Levine 1979: 52).
(sumber: Levine, H. B., &
Levine, M. W. (1979).
Urbanization in Papua New Guinea: a study of ambivalent townsmen.
CUP Archive)
Pengaruh sistem Pada pengamatan yang Sistem kekerabatan
kekerabatan terhadap pemanfaatan lahan
dilakukan oleh Pingkan dan Michael (2015), pemanfaatan lahan pada kawasan pesisir terbagi 3 yaitu:
• Area permukiman : memiliki fungsi sebagai lahan bermukim meliputi fungsi sebagai ruang transisi antara wilayah
terbentuk dari kesamaan kriteria pandangan menempati ruang secara bersama di ara bersama dalam kawasan pesisir meliputi area permukiman , area pesisir, dan area pantai.
Penetapan fungsi dalam pemanfaatan lahan ,pada umumnya masyarakat pesisir dipengaruhi oleh sistem kekerabatan pada wilayah tersebut dengan memperhatikan faktor penggunaan sumber daya,
darat dengan wilayah perairan serta area penampungan hasil tangkapan tidak menutup kemungkinan sebagai area berkumpulnya sesama nelayan
• Area pantai: memiliki fungsi sebagai wilayah penyedia sumber daya tangkapan
(sumber :Egam, P. P., &
Rengkung, M. M. (2017).
Kajian Ruang Kawasan Pesisir Pantai Dalam Membentuk Wajah Kota.
Studi Kasus Permukiman Masyarakat LOS di Pesisir Pantai Malalayang.
Daseng: Jurnal Arsitektur, 6(1), 21-31.)
kelangsungan hidup, dan keturunan.
Memahami faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan ruang intraspesifik ini penting karena variasi dalam penggunaan ruang berkaitan dengan
perbedaan dalam
penggunaan sumber daya, kelangsungan hidup, dan reproduksi (Marzluff et al.2004).
Marzluff, J. M., Millspaugh, J. J., Hurvitz, P., & Handcock, M. S.
(2004). Relating resources to a probabilistic measure of space use: forest fragments and Steller’s jays. Ecology, 85(5),
1411-1427.
Sistem kekerabatan menempati ruang luar pada kawasan pesisir dan pengaruhnya
Sistem kekerabatan menempati ruang luar pada kawasan pesisir dan pengaruhnya