• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2. Fungsi Pajak

Terdapat dua fungsi pajak yang dikemukakan Siti Resmi (2017:3) yaitu:

a. Fungsi Budgetair (Sumber Keuangan Negara)

Pajak merupakan salah satu sumber penerimaan pemerintah untuk membiayai pengeluaran, baik rutin maupun pembangunan, sebagai sumber kauangan negara, pemerintah berupaya memasukkan uang sebanyak-banyaknya untuk kas negara.

b. Fungsi Regularend (pengatur)

Pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi serta mencapai tujuan-tujuan diluar bidang keuangan.

Beberapa contoh penerapan pajak sebagai fungsi pengatur adalah:

a. Pajak yang tinggi dikenakan terhadap barang-barang mewah. Pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) dikenakan pada saat terjadi transaksi jual beli barang mewah maka tarif pajaknya semakin tinggi sehingga barang tersebut semakin mahal harganya. Pengenaan pajak ini dimaksud agar rakyat tidak berlomba-lomba untuk mengkonsumsi barang mewah (mengurangi gaya hidup mewah).

b. Tarif pajak progresif dikenakan atas pengalihan dimaksudkan agar pihak yang memperoleh penghasilan tinggi tidak memberikan kontribusi (membayar pajak) yang tinggi pula, sehingga terjadi pemerataan pendapatan.

c. Tarif pajak ekspor 0% (0 persen) dimaksudkan agar para pengusaha terdorong mengekspor hasil produksinya dipasar dunia sehingga dapat memperbesar devisi negara.

d. Pajak penghasilan dikenakan atas penyerahan barang hasil industri tertentu seperti, industri semen, industri rokok, industri baja, dan lain-lain.

Dimaksudkan agar dapat penekanan produksi terhadap industri tersebut karena dapat mengganggu lingkungan atau polusi (membahayakan kesehatan).

c. Ciri-Ciri Pajak

Ciri-ciri pajak menurut mardiasmo (2018) yaitu:

a. Iuran dari rakyat kepada negara

Yang berhak memungut pajak hanyalah negara. Iuran tersebut berupa uang (bukan barang)

b. Berdasarkan undang-undang

Pajak dipungut berdasarkan atas dengan kekuatan undang-undang serta aturan pelaksanaannya.

c. Tanpa jasa timbal atau kontraprestasi dari negara secara langsung dapat ditunjuk. Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontraprestasi secara individual atau pemerintah.

d. Digunakan untuk membiayai rumah tangga negara, yakni pengeluaran pengeluaran yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Menurut Siti Resmi (2017:2), ciri-ciri pajak adalah sebagai berikut:

a. Pajak dipungut berdasarkan atau dengan kekuatan undang-undang serta aturan pelaksanaanya.

b. Dalam pembayarannya pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontraprestasi individual oleh pemerintahan.

c. Pajak dipungut oleh negara baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

d. Pajak peruntukan bagi pengeluaran-pengeluaran pemerintah, yang pemasukannya masih terdapat surplus, dipergunakan untuk membiayai public investment.

d. Tarif Pajak

Tarif pajak menurut mardiasmo (2018), ada 4 yaitu sebagai berikut:

a. Tarif sebanding/proporsional

Tarif berupa persentase yang tetap, terhadap berapapun jumlah yang dikenai pajak sehingga besarnya pajak yang terutang proporsional terhadap besarnya nilai yang dikenakan pajak.

b. Tarif tetap

Tarif berupa jumlah yang tetap (sama) terhadap berapapun jumlah yang dikenai pajak sehingga besarnya pajak yang terutang tetap.

c. Tarif progresif

Persentase tarif yang digunakan semakin besar bila jumlah yang dikenai pajak semakin besar. Contoh: pajak daerah termasuk pajak kendaraan bermotor, yang dimana tarif untuk kepemilikan kendaraan kedua dan seterusnya ditetapkan secara progresif.

d. Tarif degresif

Persentase tarif yang diginakan semakin kecil bila jumlah yang dikenai pajak semakin besar.

e. Pajak Daerah

a. Pengertian Pajak Daerah

Berdasarkan Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah yang selanjutnya disebut pajak, adalah kontribusi wajib kepada daerah yang terutang oleh pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapat imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

1) Jenis dan Objek Pajak Daerah

Pajak daerah terbagi menjadi 2 bagian, yaitu:

a. Pajak Provinsi, terdiri dari:

• Pajak kendaraan bermotor

• Bea balik nama kendaraan bermotor

• Pajak air permukaan

• Pajak rokok

b. Pajak kabupaten/kota

• Pajak hotel

• Pajak restoran

• Pajak hiburan

• Pajak reklame

• Pajak penerangan jalan

• Pajak mineral bukan logam

• Pajak parkir

• Pajak air tanah

• Pajak sarang burung wallet

• Pajak bumi dan bangunan pedesaan dan perkotaan

• Bea perolehan ha katas tanah dan bangunan

f. Pajak Kendaraan Bermotor

Definisi Pajak Kendaraan Bermotor Menurut Peraturan Daerah No 10 Tahun 2010 adalah pajak atas kepemilikan atau penguasaan kendaraan bermotor. Kendaraan bermotor adalah semua kendaraan beroda beserta gandengannya yang digunakan disemua jenis jalan darat, dan digerakkan oleh peralatan teknik berupa motor atau peralatan lainnya yang berfungsi untuk mengubah suatu sumber daya energi tertentu menjadi tenaga gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan, termasuk alat-alat berat dan alat-alat besar yang dalam operasinya menggunakan roda motor dan tidak melekat secara permanen serta kendaraan bermotor yang dioperasikan dalam air.

a. Objek pajak kendaraan bermotor

Objek PKB adalah kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan bermotor kecuali kereta api, kendaraan bermotor yang semata-mata digunakan untuk keperluan pertahanan dan keamanan negara, kendaraan bermotor yang dimiliki dan/atau dikuasai kedutaan, konsulat, perwakilan negara asing, dengan asas timbal balik dan lembaga-lembaga internasional yang memperoleh fasilitas pembebasan pajak dari peremerintah, kendaraan bermotor yang dioperasikan di atas air dengan ukuran isi kotor GT 5 (lima gross tonnage) sampai GT 7 (tujuh gross tonnage).

b. Subjek pajak kendaraan bermotor

Subjek pajak kendaraan bermotor adalah orang pribadi atau badan yang memiliki dan/atau menguasai kendaraan bermotor (pasal 4 ayat (1) UU PDRD).

Makna yang terkandung dalam pengertian memiliki dan/atau menguasai adalah sebagai berikut:

1. Subjek pajak memiliki kendaraan bermotor;

2. Subjek pajak memiliki dan menguasai kendaraan bermotor; atau

3. Subjek pajak hanya menguasai dan tidak memiliki kendaraan bermotor.

c. Wajib pajak kendraan bermotor

Wajib pajak kendaraan bermotor adalah orang pribadi atau badan yang memiliki kendaraan bermotor. Dalam hal wajib pajak, kewajiban perpajakan dimiliki oleh pengurus atau kuasa badan tersebut.

d. Tarif pajak kendaraan bermotor Tarif PKB ditetapkan sebagai berikut:

1. Kendaraan bermotor pribadi

a. Untuk kepemilikan kendaraan bermotor pertama sebesar 1,5%

b. Kepemilikan kendaraan bermotor kedua dan seterusnya ditetapkan secara progresif untuk kendaraan pribadi sebagai berikut:

• Kepemilikan kendaraan bermotor kedua sebesar 2,5%

• Kepemilikan kendaraan bermotor ketiga sebesar 3,5%

• Kepemilikan kendaraan bermotor keempat sebesar 4,5%

• Kepemilikan kendaraan bermotor kelima sebesar 5,5%

c. Kendaraan bermotor angkutan umum sebesar 1%

d. Kendaraan bermotor milik badan sosial/keagamaan, pemerintah/TNI/POLRI,ambulance dan pemadam kebakaran sebesar 0,5%

e. Alat-alat berat dan alat-alat besar 0,2%

g. Pajak progresif

a. Pengertian pajak progresif

Berdasarkan peraturan gubernur tentang tata cara pemungutan pajak progresif, pajak progresif memiliki pengertian yaitu pajak atas kepemilikan dana atau penguasaan kendaraan bermotor lebih dari satu kendaraan bermotor roda empat atau lebih dan sepeda motor 500cc ke atas.

Menurut Koswara (2000:42), pajak progresif adalah pajak diterapkan bagi kendaraan pribadi baik roda dua dan roda empat dengan nama pemilik dan alamat tempat tinggal yang sama. Jika nama pemilik dan alamatnya berbeda, maka tidak dikenakan pajak progresif. Pajak progresif ini tidak berlaku untuk kendaraan dinas pemerintahan dan kendaraan angkutan umum.

Menurut Samudra (2015:104) pajak progresif adalah pajak yang sistem pemungutannya dengan cara menaikkan persentase kena pajak yang harus dibayar sesuai dengan kenaikan objek pajak. Dalam sistem perpajakan di Indonesia, paling tidak terdapat dua jenis pajak yang menerapkan sistem pajak progresif, diantaranya pajak kendaraan bermotor.

b. Ketentuan pemungutan

Ketentuan pemungutan pajak progresif berdasarkan peraturan gubernur Sulawesi Selatan nomor 28 tahun 2011 tentang tata cara pemungutan pajak progresif adalah:

1. Setiap orang pribadi yang memiliki kendaraan bermotor pribadi roda 2 (dua), atau roda 3 (tiga) untuk kepemilikan kedua dan seterusnya dikenaka tarif secara progresif.

2. Jenis kendaraan bermotor pribadi roda 4 (empat) atau lebih meliputi kendaraan penumpang pribadi jenis sedan, jeep, double cabin, minibus dan microbus.

3. Pengenaan tarif pajak progresif dikenakan terhadap kepemilikan kendaraan bermotor kedua dan seterusnya berdasarkan nama dan alamat yang sama, atau nomor pokok wajib pajak daerah (NPWPD) yang sama.

c. Tata cara perhitungan pajak progresif

Berdasarkan peraturan gubernur Sulawesi Selatan nomor 82 tahun 2011 tentang tata cara pemungutan pajak progresif yaitu:

1. Tata cara perhitungan PKB pajak progresif untuk kendaraan bermotor pribadi diuraikan sebagai berikut:

a. Kepemilikan kedua sebesar 2,5% x dasar pengenaan PKB;

b. Kepemilikan ketiga sebesar 3,5% x dasar pengenaan PKB;

c. Kepemilikan keempat sebesar 4,5% x dasar pengenaan PKB;

d. Kepemilikan kelima sebesar 5,5% x dasar pengenaan PKB.

2. Tarif pajak progresif hanya berlaku untuk:

a. Kendaraan bermotor pribadi atas nama pribadi;

b. Kendaraan roda 4 (empat) keatas;

c. Kendaraan roda 2 (dua) dengan kapasitas 500cc ke atas.

Dokumen terkait