• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sebelum penulis melakukan penelitian ini, sudah ada beberapa penelitian yang memiliki kesamaan dan keterkaitan pembahasan yang serupa dengan penelitian penulis. Adapun persamaan dan perbedaannya meliputi:

Pada penelitian yang dilakukan oleh Nika Rahmawati membahas mengenai Bagaimana praktek ganti rugi (Ta‟widh) pada produk Amanah melalui akad Rahn dan bagaimana kesesuaiannya dengan Fatwa DSN-MUI No. 43 Tahun 2004 Tentang Ganti Rugi (Ta‟widh) di Pegadaian Syariah Unit Kendal Permai.

Pembiayaan produk Amanah di Pegadaian Syariah Kendal Permai menggunakan akad Rahn Tasjily yang merupakan perjanjian menahan barang jaminan yang bersifat materi milik si peminjam (Rahin) sebagai jaminan atau pinjaman yang diterimanya. Akad tersebut digunakan sebagai salah satu dalam kegiatan penyaluran dana. Dimana Pegadaian Syariah Kendal Permai yang menerapkan akad Rahn ke dalam salah satu produk pembiayaannya, yaitu untuk pembiayaan kepemilikan kendaraan bermotor (Produk Amanah).

Rahn merupakan salah satu akad dimana harta yang mempunyai nilai yang dapat dijadikan jaminan dalam pembayaran keseluruhan atau sebagian dengan cara menjual atau memiliki harta tersebut.mekanisme pembayaran yang biasa digunakan dalam akad Rahn yaitu menggunakan pembayaran dengan istilah pembayaran cicil atau angsuran.

Praktik ganti rugi (ta‟widh) di Pegadaian Syariah Kendal Permai belum sesuai dengan Fatwa DSN-MUI No. 43 Tahun 2004 Tentang Ganti Rugi (Ta‟widh). Ketentuan-ketentuan dalam fatwa DSN-MUI yang belum sesuai

di Pegadaian Syariah Kendal Permai yaitu “Kerugian yang dapat dikenakan Ta‟widh adalah kerugian riil yang dapat diperhitungkan dengan jelas.

Kerugian riil yang dimaksud adalah biaya-biaya yang dikeluarkan dalam rangka penagihan hak yang seharusnya dibayarkan. Besar ganti rugi (Ta‟widh) adalah sesuai dengan nilai kerugian riil (real loss) yang pasti dialami (fixed cost) dalam transaksi tersebut dan bukan kerugian yang diperkirakan akan terjadi (potential loss) karena adanya peluang yang hilang (opportunity loss atau al-furshah al-dha-I‟ah). Dalam praktiknya di Pegadaian Syariah Kendal Permai kerugian yang dialami oleh nasabah ketika terlambat membayar angsuran di dasarkan dari angsuran setiap bulannya bukan dari kerugian yang dialami pihak Pegadaian Syariah Kendal Permai.

Sehingga kerugian tersebut bukan kerugian riil tetapi kerugian yang diperkirakan. Seharusnya yang dijelaskan di dalam Fatwa kerugian yang harus dikeluarkan oleh pihak Lembaga Keuangan Syariah seharusnya kerugian riil, karena di dalam Fatwa dijelaskan kerugian yang yang harus dikeluarkan oleh pihak Lembaga Keuangan Syariah seharusnya kerugian riil.25

Persamaan skripsi tersebut dengan penelitian penulis adalah sama-sama membahas terkait praktek pelaksanaan ganti rugi (ta‟widh) pada produk Amanah dan bagaimana kesesuaiannya menurut fatwa yang berlaku, selain itu perbedaannya adalah dalam penelitian penulis menggunakan landasan Fatwa DSN-MUI No. 129 Tahun 2019 Tentang Biaya Riil Sebagai Ta‟widh Akibat Wanprestasi, sedangkan skripsi tersebut menggunakan Fatwa DSN-MUI No. 43 Tentang Ganti Rugi (Ta‟widh), dan didalam skripsi tersebut tidak menjelaskan terkait apakah penetapan ganti rugi (ta‟widh) diperbolehkan dan dapat dilaksanakan praktiknya pada produk Amanah di Pegadaian Syariah yang menjadi objek penelitian penulis.

25 Nika Rahmawati, “Praktek Pelaksanaan Ganti Rugi (Ta‟widh) di Pegadaian Syariah Kendal Permai (Perspektif DSN-MUI No. 43/DSN-MUI/VIII/2004 Tentang Ganti Rugi

(Ta‟widh).” 2019

Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Arianto Saputra membahas mengenai mekanisme pengelolaan Ta‟zir dan Ta‟widh pada nasabah wanprestasi, kemudian kesesuaian penerapan Ta‟zir dan Ta‟widh menurut Fatwa DSN-MUI.

Dalam proses pengenaan ta‟widh di BRI Syariah hanya dikenakan kepada nasabah yang memiliki kolektibilitas macet dan sudah merugikan pihak bank syariah khususnya. Contoh pada kasus pembiayaan Murabahah, apabila nasabah merubah perjanjian mislanya didalam kontrak dikatakan dalam 3 tahun lunas, dan sekarang ternyata harus diperpanjang (Rescheduling) pasti disitu ada biaya notaris, kemudian juga bisa timbul yang tadi seharusnya dana tersebut sudah kembali dan bisa digunakan kedalam bentuk yang lain, atau ada account officer yang seharusnya sudah selesai tugasnya tapi dia harus memantau ini, itu adalah yang menimbulkan over head yang lebih, menjadi 4 tahun, jadi ada over head yang berlebih yang harus dikeluarkan, monitoring costnya itu bertambah, oleh sebab itu bisa kemudian dikatakan nasabah ini bisa dikenakan ta‟widh. Kemudian nasabah yang ingin melakukan -Rescheduling dapat dikenakan ta‟widh.

Adapun ganti rugi yang diterima bank boleh diakui sebagai pendapatan bank syariah sesuai dengan Fatwa DSN-MUI No. 43 Tahun 2004. Kemudian ganti rugi yang diminta oleh bank syariah adalah sesuatu yang riil, dapat dikuantifikasi dan besarannya pun tidak bisa ditentukan diawal kontrak.

Ta‟widh pada bank syariah bukan merupakan tambahan dari pinjaman nasabah melainkan disamping nasabah harus melunasi pokok pembiayaannya dia juga harus membayar Ta‟widh karena dia lalai. Dana Ta‟widh ini boleh dimasukan kedalam pendapatan bank syariah sesuai dengan Fatwa DSN-MUI No. 43 tahun 2004 Tentang Ganti Rugi (Ta‟widh).26

Persamaan skripsi tersebut dengan penelitian penulis adalah sama-sama menganalisis penerapan Ta‟widh. Namun perbedaannya, jika skripsi tersebut membahas dan fokus terkait pengelolaan dana Ta‟zir dan Ta‟widh pada

26 Arianto Saputra, “Analisis Pengelolaan Dana Ta‟zir dan Ta‟widh Bagi Nasabah Wanprestasi pada PT. BRI Syariah.” 2014

nasabah wanprestasi dan kesesuaiannya menurut Fatwa DSN-MUI No. 43 Tahun 2004 Tentang Ganti Rugi (Ta‟widh) maka penelitian yang akan dilakukan penulis akan fokus menganalisis kesesuaian praktik penerapan ganti rugi (ta‟widh) pada produk Amanah di Pegadaian Syariah Cabang Pondok Aren dengan kententuan Fatwa DSN-MUI No. 129 Tahun 2019 Tentang Biaya Riil Sebagai Ta‟widh Akibat Wanprestasi dan menganalisis kebolehan praktik penerapan ganti rugi (ta‟widh) tersebut.

Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Nadia Ananda Elsanti membahasa mengenai penetapan ta‟widh pada pemegang syariah card di BNI Syariah Cabang Makassar.

Pada proses pembiayaan syariah card menggunakan tiga jenis akad, yaitu: Kafalah, Qardh, dan Ijarah. Pada akad Kafalah, Bank selaku penerbit kartu bertindak sebagai penjamin bagi pemegang kartu terhadap merchant atas semua kewajiban bayar (dayn) yang timbul. Atas pemberian Kafalah, Bank sebagai penerbit kartu menerima ujrah atau fee. Pada akad Qardh, Bank berfungsi sebagai pemberi pinjaman kepada pemegang kartu melalui penarikan tunai dari Bank atau ATM Bank Penerbit Kartu. Berdasarkan akad Qardh, pemegang kartu wajib mengembalikan sejumlah dana yang ditarik pada waktunya, sedangkan pada akad Ijarah, Bank berfungsi sebagai penyedia jasa sistem pembayaran dan pelayanan terhadap pemegang kartu.

Pada akad Ijarah ini pemegang kartu dikenakan membership fee. Jika menggunakan skema dari ketiga akad tersebut, maka hampir semua layanan pada syariah card dapat diatasi dengan kebebasan dari transaksi dengan prinsip yang mengandung riba.

Sebagaimana dalam penggunaan kartu kredit pada umumnya, seorang nasabah sudah seharusnya memenuhi kewajiban dan kebijakan yang telah diatur oleh Bank selaku penerbit kartu. Sebagaimana halnya dengan penggunaan Syariah Card tentunya ada kewajiban-kewajiban yang harus dipenuhi dan dipatuhi oleh nasabah, seperti halnya menyelesaikan pembayaran atas transaksi yang telah dilakukan. Namun dalam praktiknya tidak menutup kemungkinan nasabah terlambat atau lalai (wanprestasi) dalam

memenuhi kewajibannya untuk menyelesaikan tagihannya, sehingga dapat menimbulkan kerugian yang akan dialami oleh Bank selaku penerbit kartu.

Pencegahan dalam menghadapi risiko nasabah yang wanprestasi salah satu bentuk perlindungan yang terdapat dalam Syariah Islam yaitu adanya mekanisme pemberian ganti rugi (ta‟widh) kepada pihak yang hak-haknya dilanggar. Ta‟widh menurut Fatwa DSN-MUI No. 43/DSN-MUI/VII/2004 tentang Ganti Rugi (Ta‟widh) adalah menutup kerugian yang terjadi akibat pelanggaran atau kekeliruan dengan ketentuan riil yang dapat diperhitungkan dengan jelas dengan upaya untuk memperoleh pembayaran dan bukan kerugian yang diperkirakan akan terjadi karena adanya peluang yang hilang.

Dalam penggunaan syariah card pemberian bunga atau riba sangat diharamkan, oleh karena itu apabila nasabah melakukan wanprestasi maka untuk mencegah kerugian bagi Bank Syariah adalah pemberian ganti rugi (ta‟widh) kepada nasabah yang lalai melaksanakan kewajiban pembayarannya. Mekanisme pemberian Ta‟widh pada Hasanah Card dari BNI Syariah besar nilai ta‟widh telah diketahui di awal akad dan besaran biaya tersebut bersifat tidak tetap. Perhitungan biaya ta‟widh dan besar nominalnya ditentukan berdasarkan jangka waktu keterlambatan pembayaran yang dilakukan oleh pemegang kartu. Sehingga semakin lama waktu keterlambatan pembayarannya akan semakin meningkat juga biaya ta‟widh yang dikenakan. hal ini tentunya bertentangan dengan ketentuan ganti rugi (ta‟widh) menurut Fatwa DSN-MUI No. 43/DSN-MUI/VII/2004 tentang Ganti Rugi (Ta‟widh), karena dalam hal ini Bank Syariah menentukan besar biaya ganti rugi berdasarkan kerugian yang diperkirakan akan terjadi, sedangkan menurut fatwa besaran biaya ta‟widh adalah sesuai dengan nilai kerugian rill (real loss) yang pasti dialami (fixed cost) bukan kerugian yang diperkirakan akan terjadi (potential loss) oleh Bank Syariah.27

Persamaan skripsi dengan penelitian penulis adalah sama-sama membahas terkait ganti rugi (ta‟widh) bagi nasabah yang melakukan

27 Nadia Ananda Elsanti, “Penerapan Ta‟widh pada Pemegang Syariah Card.” 2017

wanprestasi. Selain itu perbedaannya adalah skripsi ini membahas terkait penerapan ta‟widh pada pemegang syariah card yang penelitiannya dilakukan di Bank Syariah, sedangkan penelitian penulis akan membahas penerapan ta‟widh ini pada nasabah yang melakukan pembiayaan Amanah dan menganalisis kebolehan penerapan ganti rugi ini apabila tidak sesuai dengan ketentuan fatwa yang berlaku yang penelitiannya dilakukan di Pegadaian Syariah.

Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Rena Damayanti membahas mengenai pelaksanaan penentuan ganti rugi (ta‟widh) pada produk Arrum Haji Pegadaian Syariah unit Rancaekek. Selain itu pada penelitian ini juga fokus membahas tinjauan hukum Islam dan fatwa terhadap penentuan ta‟widh pada produk Arrum Haji, kemudian juga membahas bagaimana hakikat dan fungsi akad rahn terhadap pembiayaan pada produk Arrum Haji.

Produk Arrum Haji dalam bentuk pembiayaannya akad yang digunakan adalah Qardh, akad ini berupa dana yang dipinjamkan oleh pihak Pegadaian Syariah kepada nasabah untuk mendapatkan porsi haji, dimana nasabah dalam jangka waktu tertentu harus mengembalikan sejumlah dana yang dipinjam dan terdapat biaya ijaroh yang harus dibayarkan nasabah kepada pihak Pegadaian Syariah. Selain adanya akad qardh, pada pembiayaan Arrum Haji juga terdapat akad Rahn. Dimana nasabah berhak memberikan jaminan kepada Pegadaian Syariah sebagai harta yang dititipkan yang dijadikan jaminan untuk melakukan pembiayaan pendaftaran haji. Pendapatan murtahin atau Pegadaian Syariah pada akad rahn terdapat pada ujrah yang tidak dibayarkannya secara tunai. Sedangkan pada akad qardh dalam mengambil keuntungannya yaitu sama dengan akad rahn ada pada ujrahnya. Dalam hukum Islam hal seperti ini diperbolehkan. Namun, dalam pelaksanaan akad rahn di Pegadaian Syariah terdapat pembayaran ganti rugi apabila nasabah melakukan keterlambatan dalam pembayaran pembiayaannya yang dibayarkan secara angsur setiap bulannya. Ganti rugi tersebut pembayarannya dihitung perhari apabila nasabah tersebut wanprestasi dan besaran jumlahnya sudah ditentukan dalam isi perjanjian.

Mekanisme ganti rugi (ta‟widh) di Pegadaian Syariah ini dilakukan untuk mendisiplinkan nasabahnya agar tidak melakukan wanprestasi dalam melakukan pembayaran angsurannya. Dalam praktiknya ganti rugi pada produk Arrum Haji di Pegadaian Syariah unit Rancaekek belum sepenuhnya sesuai dengan ketentuan Fatwa DSN MUI No. 43/DSN-MUI/VIII/2004 tentang ganti rugi (ta‟widh). Dalam Ketentuan Khusus Nomor 3 (tiga) bahwa

“Besarnya ganti rugi ini tidak boleh dicantumkan dalam akad”. Namun pada praktiknya besarnya ganti rugi tersebut sudah ditentukan di awal dan tercamtum dalam isi perjanjian, maka hal ini belum sesuai dengan ketentuan Fatwa yang berlaku.28

Persamaan skripsi dengan penelitian penulis adalah sama-sama membahas terkait mekanisme penentuan ganti rugi (ta‟widh) pada salah satu produk yang terdapat di Pegadaian Syariah yaitu Arrum Haji. Selain itu perbedaannya, penelitian penulis akan membahas mekanisme penentuan ganti rugi (ta‟widh) pada produk yang berbeda yaitu Amanah dan dengan landasan Fatwa DSN-MUI No. 129 Tahun 2019 tentang Biaya Riil Sebagai Ta‟widh Akibat Wanprestasi dan akan menganalis kebolehan pelaksanaan ta‟widh ini.

Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Yesi Purwandari membahas mengenai tinjauan hukum Islam terhadap praktik ta‟widh pada akad murabahah dalam produk KPR BTN Platinum iB di BTN Kantor Cabang Semarang.

Bank Tabungan Negara (BTN) Syariah Kantor Cabang Semarang adalah lembaga yang salah satu kegiatan operasionalnya adalah menyalurkan dana dalam bentuk pembiayaan, yaitu produk KPR BTN Platinum iB yang mengenakan ganti rugi (ta‟widh) sebagai bentuk sanksi yang diberikan kepada nasabah yang wanprestasi atau lalai melakukan kewajibannya membayar angsuran dalam rangka mendisiplinkan nasabah agar nasabah tersebut dapat memenuhi kewajibannya tepat pada waktu yang telah disepakati. Pemberian ganti rugi (ta‟widh) ini dikenakan pada transaksi

28 Rena Damayanti, “Pelaksanaan Penentuan Ganti Rugi (Ta‟widh) pada Produk Arrum Haji Pegadaian Syariah Unit Rancaekek.” 2018

(akad) yang menimbulkan utang piutang. Pada produk KPR Platinum iB, akad yang digunakan ialah akad murabahah yaitu akad jual beli dimana bank bertindak sebagai penjual dan nasabah adalah sebagai pembeli yang sistem pembayarannya menggunakan jenis pembayaran secara tangguh atau angsuran (al-bay‟ bitsaman ajil atau muajjal) dan jenis pembayaran secara tangguh seperti inilah yang menjadikan transaksi pada produk KPR Platinum iB menggunakan saksi ganti rugi (ta‟widh) kepada nasabah. Ganti rugi ini dikenakan kepada nasbah yang lalai atau dengan segaja melakukan keterlambatan pembayarannya sehingga menimbulkan kerugian pada bank.

Dalam pelaksanaannya, BTN Syariah mengenakan biaya ta‟widh kepada nasabahnya langsung pada hari pertama nasabah tersebut melakukan keterlambatan pembayarannya tanpa meninjau terlebih dahulu apakah nasabah tersebut benar-benar dengan sengaja tidak menunaikan kewajibannya membayar atau karena adanya hal lain yang mendesak seperti untuk biaya rumah sakit karena terjadinya kecelakaan yang tidak terduga atau dalam istilah lain disebut sebagai kondisi force majeur (overmatch). Karena jika keterlambatan tersebut disebabkan karena adanya kondisi force majeur dan nasabah dapat membuktikan hal tersebut maka bank tidak dapat memberikan sanksi dalam bentuk apapun termasuk biaya ganti rugi (ta‟widh).

Praktik ganti rugi (ta‟widh) di BTN Syariah Kantor Cabang Semarang belum sepenuhnya sesuai dengan tinjauan hukum Islam khususnya peraturan yang terdapat dalam fatwa DSN-MUI 43/DSN-MUI/VIII/2004 tentang Ganti Rugi (ta‟widh). Hal tersebut dikarenakan dalam menerapkan besaran biaya ganti rugi kepada nasabahnya BTN Syariah didasarkan pada rumus perhitungan ganti rugi yang telah menjadi ketetapan baku di BTN Syariah, namun hal tersebut bertentangan dengan fatwa bahwa lembaga keuangan syariah dalam menerapkan ganti rugi harus benar-benar berdasarkan kerugian

riil yang pasti terjadi serta nilai kerugiannya dapat diperhitungkan dengan jelas.29

Persamaan skripsi dengan penelitian penulis adalah sama-sama membahas terkait mekanisme penentuan ganti rugi (ta‟widh) kepada nasabah yang wanprestasi. Selain itu perbedaannya, penelitian penulis akan membahas mekanisme penentuan ganti rugi (ta‟widh) pada objek dan produk pembiayaan yang berbeda, yaitu pada produk Amanah di Pegadaian Syariah Cabang Pondok Aren.

Secara keseluruhan penelitian penulis akan fokus membahas mengenai penerapan ganti rugi (ta‟widh) pada produk Amanah, status hukum penerapan ganti rugi (ta‟widh) yang tidak sesuai dengan fatwa terkait, serta kebijakan Otoritas Jasa Keuangan terhadap praktik pelaksanaan ganti rugi (ta‟widh) di Pegadaian Syariah Cabang Pondok Aren yang tidak sesuai dengan ketentuan fatwa dan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 31/POJK.05/2016 Tentang Usaha Pergadaian.

29 Yesi Purwandari, “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Praktik Ta‟widh pada Akad Murabahah (Studi Kasus pada Produk KPR BTN Platinum iB di BTN Syariah Kantor Cabang Semarang.” 2018

BAB III

PROFIL PEGADAIAN SYARIAH A. Deskripsi Pegadaian Syariah

1. Sejarah Perkembangan Pegadaian

Gadai telah ada sejak lampau, yaitu sekitar tahun 1000 M, di Italia.

Keberadaan pegadaian di Asia lebih tua dibanding keberadaan pegadaian yang ada di Eropa. Negara China sebagai pelopor pegadaian di Asia telah memulai usaha gadai sekitar tahun 600 M. pada saat itu usaha gadai tidak bertujuan untuk mencari keuntungan (profit) akan tetapi lebih ditujukan untuk pengembangan karakter keagamaan dalam berderma.30

Sejarah PT Pegadaian (Persero), atau yang disebut juga dengan

“Perseroan” atau “Pegadaian”, dibagi menjadi 2 (dua) era, yaitu era kolonial/penjajahan dan era kemerdekaan. Bisnis gadai sudah melekat sejak lama dalam keseharian masyarakat Indonesia. Hal ini juga dapat dikaitkan dengan tonggak sejarah Pegadaian yang berawal sejak tahun 1746 hingga berdirinya Pegadaian Negara pertama di Sukabumi tanggal 1 April 1901.

a. Era Kolonial

Berdasarkan sejarah pendirian Pegadaian, terlihat bahwa bisnis gadai memang sudah lama dikenal dalam keseharian masyarakat Indonesia, dengan menjadi lembaga formal sejak Pemerintah Kolonial Belanda melalui pendirian Bank Van Leening oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) sebagai lembaga keuangan yang memberikan kredit dengan sistem gadai.

30 Ade Sofyan Mulazid, Kedudukan Sistem Pegadaian Syariah (Jakarta: Prenadamedia Group, 2016, cet. Kesatu), h. 37.

Momentum awal pendirian lembaga Pegadaian di Indonesia itu terjadia pada tanggal 20 Agustus 1746 di Batavia. Ketika Inggris mengambil alih kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1811, Bank Van Leening dibubarkan dan sebagai gantinya, masyarakat mendapat keleluasaan mendirikan usaha Pegadaian sepanjang mendapat lisensi dari Pemerintah daerah setempat (liecentie stelsel).

Dalam perkembangannya, metode tersebut berdampak buruk.

Pemegang lisensi menjalankan praktik rentenir atau lintah darat yang dirasakan kurang menguntungkan Pemerintah berkuasa saat itu. yaitu Inggris.

Inggris kemudian mengganti metode liecentie stelsel menjadi pacth stelsel, yaitu pendirian Pegadaian diberikan kepada masyarakat umum yang mampu membayarkan pajak tinggi kepada Pemerintah. Saat Belanda kembali berkuasa, metode tersebut masih dipertahankan dan menghasilkan dampak yang sama. Pemegang hak banyak melakukan penyelewengan dalam menjalankan bisnisnya.

Tak ingin hal tersebut terus terjadi, Pemerintahan Hindia Belanda mencari jalan keluar dengan menerapkan cultuur stelsel yang kajiannya mengusulkan agar kegiatan Pegadaian tersebut ditangani oleh Pemerintah dengan tujuan untuk memberikan perlindungan dan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat. Kemudian pada tanggal 12 Maret 1901 diterbitkan peraturan staatsblad (stbl) No. 131 yang mengatur bahwa usaha Pegadaian merupakan usaha monopoli Pemerintah sehingga berdirilah lembaga Pegadaian Negara pertama di Sukabumi, Jawa Barat pada tanggal 1 April 1901, dan pada tanggal itulah diperingati sebagai hari ulang tahun Pegadaian.

b. Era Kemerdekaan

Berdasarkan PP No. 21 Tahun 1948 tentang Gaji Pegawai Negeri, bahwa posisi Jawatan Pegadaian berada di bawah Kementerian Keuangan sejak tahun 1948. Melalui aturan ini pula dapat dilihat bahwa dalam setiap kantor terdapat beberapa pegawai-pegawai Rumah

Gadai, penilai, Kepala Muda Rumah Gadai, Calon Penilai, Penilai dan Penilai Kepala, Calon Ajun Kontrolia, Kepala Rumah Gadai.31

Pada awal Pemerintahan Republik Indonesia, kantor Jawatan Pegadaian sempat berpindah keluar Jakarta, yaitu ke Karanganyar, Kebumen, Jawa Tengah karena situasi perang yang semakin memanas.

Agresi Militer Belanda kedua memaksa kantor Jawatan Pegadaian kembali berpindah, yaitu ke Magelang, Jawa Tengah. Kemudian pasca perang, kantor Jawatan Pegadaian kembali berkantor pusat di Jakarta dan dikelola oleh Pemerintah Republik Indonesia. Sejak dikelola oleh Pemerintah, Pegadaian telah mengalami banyak pergantian status, mulai dari Perusahaan Negara (PN) pada 1 Januari 1961, dan menjadi Perusahaan Jawatan (PERJAN) pada tahun 1969 berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 7 tahun 1969.32

c. Pegadaian Saat Ini

Pegadaian saat ini telah berkembang pesat menjadi perusahaan gadai milik Pemerintah yang tersebar di Indonesia. Saat ini Perseroan memiliki 4 (empat) entitas anak sebagai pilar bisnis Perseroan, yaitu PT Balai Lelang Artha Gaisa yang bergerak di bidang jasa lelang, PT Pesona Optima Jasa yang bergerak di bidang pelayanan jasa umum (general service), PT Pesona Indonesia Jaya yang bergerak di bidang pengelolaan hotel dan bisnis property lainnya. kemudian yang terbaru, Perseroan mendirikan satu entitas anak lagi, yaitu PT Pegadaian Galeri Dua Empat pada pertengahan tahun 2018, yang bergerak di bidang perdagangan emas batangan, perdagangan perhiasan dan perdagangan batu mulia. Selain itu, Perseroan juga memiliki 1 (satu) entitas asosiasi yaitu PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) yang bergerak di bidang biro kredit swasta.

31 Ade Sofyan Mulazid, Kedudukan Sistem Pegadaian Syariah (Jakarta: Prenadamedia Group, 2016, cet. Kesatu), h. 44.

32 Pegadaian, “Laporan Tahunan 2019 PT Pegadaian (Persero)”, h. 46.

Pegadaian terus memperluas pangsa pasar melalui jaringan Perseroan yang telah tersebar di hampir seluruh Indonesia. Per 31 Desember 2019, telah tercatat Perseroan telah memiliki 12 Kantor Wilayah, 61 Kantor Area, 642 Kantor Cabang, 3.481 Kantor Unit Pelayanan Cabang, dan 4.123 outlet.

d. Perkembangan Unit Pegadaian Syariah dalam PT Pegadaian (Persero)

Gagasan mendirikan Pegadaian Syariah berawal pada saat beberapa General Manager melakukan studi banding ke Malaysia.

Pada tahun 1993, mulai dilakukan rencana pendirian Pegadaian Syariah oleh para pimpinan Perum Pegadaian. Namun dalam perjalanannya menemukan sedikit kendala. Salah satu kendalanya ialah Perum Pegadaian (pada saat itu masih berbentuk badan hukum perum) belum memiliki pedoman operasional unit layanan gadai syariah dan tidak adanya dukungan modal dari pemerintah. Meskipun pada awalnya gagasan tersebut kurang mendapat respon yang baik dari masyarakat dan pemerintah saat itu, namun seiring dengan berjalannya waktu dan semakin berkembangnya lembaga keuangan seperti perbankan syariah, asuransi syariah dan pasar modal syariah di Indonesia, maka hal tersebut yang mendorong lahirnya Pegadaian Syariah.33

2. Perubahan Nama dan Status Pegadaian

Sejak dikelola Pemerintah Republik Indonesia, Pegadaian mengalami beberapa kali perubahan status, perubahan itu adalah:

a. Perusahaan Negara (PN) berdasarkan Peraturan Pemerintah

a. Perusahaan Negara (PN) berdasarkan Peraturan Pemerintah

Dokumen terkait