• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan Singkat Perkosaan dan Penyebab Terjadinya Perkosaan;

Dalam dokumen ASPEK HUKUM PERMINYAKAN DAN BIOREMEDIASI (Halaman 158-161)

Law Review

UNDANGAN DI INDONESIA

B. 1. Korban Perkosaan yang Melakukan Tindak Pidana Aborsi Tidak Dapat Dipertanggungjawabkan Secara Pidana

B.1.2. Tinjauan Singkat Perkosaan dan Penyebab Terjadinya Perkosaan;

Menurut hemat penulis, perkosaaan adalah tindakan keji, dan melawan hukum. Pelaku memaksa korban yang lemah untuk melakukan hubungan intim, tidak ada rasa suka sama suka, si korban tidak nyaman dengan perbuatan itu, dan terpaksa melakukan itu karena takut dengan berbagai ancaman. Pasca perkosaan, korban mengalami trauma psikologis yang sangat berat, korban merasa dirinya menjadi tidak berguna lagi, tidak suci, dan pikiran- pikiran lainnya terlebih jika korban mengalami kehamilan, tentu korban akan semakin depresi.

Jika korban adalah perempuan dibawah umur, masih usia sekolah menengah maka korban akan mengalami depresi yang hebat, korban akan merasa malu untuk sekolah lagi, kehilangan masa depan, bahkan akan timbul pikiran untuk bunuh diri. Pilihan untuk menggurkan kandungan (pro choice) ataupun meneruskan kehamilan (pro life) sejatinya adalah hak dari perempuan tersebut. Perempuan memiliki otoritas atas tubuhnya, namun keluarga/psikolog harus tetap mendampingi perempuan tersebut dalam menentukan pilihan.

Tindak pidana perkosaan diatur dalam Pasal 285 Kitab Undang-Undang Hukum

Pidana (KUHP) yakni “barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa

284 Lusia Kus Anna artikel tanggal 7-12-2015 berjudul “Aborsi Tak Aman Memicu Kematian Ibu”, diakses dari

http://lifestyle.kompas.com/read/2015/12/07/143000723/Aborsi.Tak.Aman.Memicu.Kematian.Ibu tanggal 26 Agustus 2017

285 Merry Wahyuningsih artikel tanggal 30-06-2012 berjudul Ini Alasan Perempuan Lakukan Aborsi” diakses

dari https://health.detik.com/read/2012/05/30/102255/1928122/775/ini-alasan-perempuan-lakukan-aborsi

perempuan yang bukan isterinya bersetubuh dengan dia, dihukum, karena memperkosa, dengan hukuman penjara selama-lamanya dua belas tahun”.

Selain dalam KUHP, tindak pidana kesusilaan juga diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, selanjutnya disebut UU Perlindungan Anak. Salah satu Pasal yang mengaturnya terdapat dalam Pasal 76D UU Perlindungan Anak. Demikian isi Pasal tersebut:

Pasal 76 D UU Perlindungan Anak yang mengatur bahwa Setiap orang dilarang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain

Jika Pasal 76 D dilanggar maka akan berlaku sanksi sebagaimana diatur dalam Pasal 81 UU Perlindungan Anak yakni penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp.5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah)286. Sanksi tersebut ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman pidana jika dilakukan oleh orang tua, wali pengasuh anak, pendidik, atau tenaga kependidikan287.

Perkosaan dapat terjadi karena pelbagai faktor, namun menurut hemat penulis, faktor utamanya adalah karena pelaku tidak dapat menahan hawa nafsu, mengandalkan kekuatan, dan kurangya pendidikan seks, serta tidak takut dengan ajaran agama. Penulis berikan contoh bagaimana seorang pria memperkosa seorang wanita yang notabene adalah keluarganya sendiri:

(1). Usman Said (40 tahun, Islam) dijatuhi pidana penjara selama 8 (delapan) tahun karena terbukti melakukan tindak pidana perkosaan sebagaimana yang diatur dalam Pasal 285 KUHP. Usman Said memperkosa Yoan Umar yang notabene masih adik ipar terpidana, Usman memperkosa Yoan secara paksa, dan mengancam dengan pisau badik yang diarahkan ke leher Yoan, Usman melakukanya sebanyak 6 (enam) kali sekitar bulan Okt-Nov 2009 di rumah Usman, di Kota Gorontalo288;

(2). Seorang bapak bernama Adi Pranoto (38tahun, Islam, Kabupaten Ngawi) yang telah dijatuhi pidana penjara selama 13 (tiga belas) tahun, dan denda sebesar Rp.100.000.000 (seratus juta rupiah) subsider pidana kurungan selama 1 (satu) tahun Pasal 81 ayat (1)

286 Pasal 81 ayat (1) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo. Undang-Undang

Nomor 35 Tahun 2014

287 Pasal 81 ayat (3) Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo. Undang-Undang

Nomor 35 Tahun 2014

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Adi Pranoto telah terbukti memperkosa korban Ike Wahyu yang notabene adalah anak kandungya sendiri

selama “5 (lima) tahun” mulai usia 11 tahun (kelas 5 SD) sampai korban berusia 16 (enam

belas) tahun (Kelas 1 SMK) hingga hamil dengan usia 24 minggu kehamilan pada waktu visum et repertum dikeluarkan pada tanggal 11 Maret 2013.289 Korban diperkosa dengan cara

diancam tidak akan dibiayai lagi sekolahnya jika tidak mau bersetubuh, dan korban takut, tidak berani melaporkan kejadian tidak manusiawi tersebut kepada siapapun selama 5 (lima) tahun itu.

Penyebab perkosaan dapat terjadi karena berbagai faktor, dan perempuan adalah korban perkosaan karena dianggap lemah. Berikut penulis sarikan penyebab-penyebab perkosaan:

1. Menurut Sani Hermawan, Psikolog dari Klinik Daya Insani sebagaimana dikutip oleh redaksi kompas.com290, penyebab perkosaan terjadi di kalangan remaja adalah karena anger aggression atau agresi yang disebabkan oleh amarah, amarah karena terjadinya penolakan di pergaulan;

2. Pola pikir yang menyatakan bahwa korbanlah yang salah. Menurut Elizabeth Santosa291, Psikolog dan juga Komisioner Komnas Anak berpendapat bahwa terjadinya tindak pidana perkosaan secara beramai-ramai (gang rape) adalah karena pelaku menyalahkan cara berpakaian si korban atau karena perilaku korban yang dianggap menggoda, dan memancing pelaku untuk melakukan tindak pidana, padahal nyatanya adalah tidak sama sekali, perempuan berpakaian sopan, tertutup, dan berperilaku biasa.

3. Kebutuhan akan kekuasaan. Menurut Alissa Wahid292, Psikolog. Perkosaan dipicu oleh adanya kebutuhan berkuasa/need of power. Pria yang tidak dewasa akan menunjukan bahwa dirinya berkuasa dengan berbagai cara, termasuk perkosaan.

289 Putusan Pengadilan Negeri Ngawi Nomor 120/Pid.B/2013/PN.NGW atas nama Adi Pranoto bin Mitro

Suwarno

290Michael M artikel tanggal 23 Mei 2016 berjudul ”Ini Pemicu Remaja Lakukan Perkosaan”, diakses dari http://lfestyle.kompas.com/read/2016/05/22/195714723/ini.pemicu.remaja.lakukan.perkosaan diakases tanggal 25 Agustus 2017

291 Zika Zakiya, artikel tanggal 18 November 2016 berjudul “ Penyebab Terjadinya Perkosaan Beramai-Ramai

(Gang Rape) diakses dari https://www.vemale.com/keluarga/99495-penyebab-terjadinya-perkosaan-beramai-

ramai-gang-rape.html tanggal 25 Agustus 2017.

292 Tim VIVA, artikel tanggal 16 Januari 2013 berjudul “Lima Pemicu Maraknya Tindak Pemerkosan” http://www.viva.co.id/gaya-hidup/kesehatan-intim/382565-lima-pemicu-maraknya-tindak-perkosaan diakses tanggal 25 Agustus 2017

Dalam dokumen ASPEK HUKUM PERMINYAKAN DAN BIOREMEDIASI (Halaman 158-161)

Dokumen terkait