BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN
B. Kajian Teori
4. Tinjauan Tentang Batas Minimal Usia Perkawinan
3) Ketaatan yang bersifat Internalization
Ketaatan Internalization ketaatan ini memang betul-betul bersifat mutlak menerima adanya serta benar-benar cocok dengan nilai intrinsik yang dianutnya, internalisasi mempunyai makna penerimaan oleh aturan perorangan atau perilaku sebab ia temukan isinya yang pada hakekatnya memberi penghargaan. Ketaatan ini kuat akan kesadaran dari dalam diri yang membuatnya menaati hukum dengan baik.
4. Tinjauan Tentang Batas Minimal Usia Perkawinan dalam Sistem
tidak sehat, baik ditinjau dari segi fisik maupun mental yang bersangkutan.48
Hak dalam melangsungkan pernikahan, membentuk keluarga dan menciptakan keturunan sangat diperhatikan oleh ketentuan undang-undang yang ada, namun dalam konteks ini masyarakat terkadang terlena akan batasan usia pernikahan guna mencegah hal yang tidak dinginkan terjadi begitu saja, seperti contohnya perceraian di usia muda perkawinan akibat kurang sanggupnya keluarga yang dibangun dalam segi ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga akibat emosional yang labil seorang yang masih tergolong masih anak-anak. Undang-undang memberikan kebebasan dalam menjamin sebuah pernikahan dilaksanakan oleh pria dan wanita namun tetap berpegang pada ketentuan batasan usia.
Undang-undang Perkawinan Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan , sebagaimana dijelaskan dengan bertujuan untuk mencegah terjadinya perkawinan Anak, dapat terlindunginya hak dana status sebagai anak, agar pemuda-pemudi yang akan menjaalankan perkawinan benar-benar bukan hanya masak jiwa raganya juga matang pemikiran kedewasaannya dalam membentuk keluarga/rumah tangga yang bahagia dan kekal. Begitu pula sistem yang dibangun yang dimaksud bertujuan untuk dapat mencegah
48 Sri Rahmawaty Yunus dan Ahmad Faisal “Analisis Penetapan Dispensasi Kawin Dalam Perspektif Undangundang Perlindungan Anak (Studi Kasus Di Pengadilan Agama Limboto)”, Jurnal Ilmiah Al-Jauhari (JIAJ), Volume 3 No 2 , 2018, 87
terjadinya perceraian muda yang saat ini menjadi problematika besar juga disisi lain agar dapat membenihkan keturunan yang baik dan sehat, serta tidak berakibat laju kelahiran yang lebih tinggi yang pada akhirnya mempercepat pertambahan penduduk.49
Didalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata perkawinan tidak disebutkan secara definisi akan tetapi secara hakikat disebutkan dalam penjelasan Pasal 26 KUHPer bahwa perkawinan pada prinsipnya hanya dapat dilihat dari segi hubungan perdata saja, namun pengertian ataupun penjelasan tentang perkawinan tidak dapat ditemukan secara jeals di dalam KUHPerdata.
Pengertian tentang perkawinan menurut KUHPerdata dapatlah di artikan yakni hubungan hukum antara subyek-subyek serorang pelaksana perkawinan yaitu laki-laki dan perempuan yang dalam hal ini mengikatkan diri dalam sebuah tali perkawinan.
Hubungan itu berdasarkan pada persetujuan diantara laki-laki dan perempuan dan mengikat satu sama lain. Persetujuan yang dimaksud bukan suatu persetujuan yang dimuat dalam buku III Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, walaupun dalam hal ini persetujuan perkawinan dengan persetujuan pada umumnya terdapat unsur kesamaaan yaitu adanya ikatan diantara kedua belah
49 Sri Rahmawaty Yunus dan Ahmad Faisal “Analisis Penetapan Dispensasi Kawin Dalam Perspektif Undangundang Perlindungan Anak (Studi Kasus di Pengadilan Agama Limboto)”, Jurnal Ilmiah Al-Jauhari (JIAJ), Volume 3 No 2 , 2018, 86
pihak, tetapi ada perbedaan dalam hal bentuk dan isi dari persetujuan tersebut.50
Ikatan yang dimaksudkan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata adalah perikatan yang mengandung unsur membangun keluarga hal ini karena sebuah berkawinan mempunyai kesamaan perikatan pada umumnya akan tetapi mengandung makna secara hakikiyah yakni ikatan lahir dan batin Antara seorang perempuan dan laki-laki.
Mengenai batasan usia perkawinan disebutkan dalam BAB IV Tentang Perkawinan dalam pasal 29 disebutkan :
“Laki-laki yang belum sampai pada umur delapan belas tahun penuh dan perempuan yang belum mencapai umur lima belas tahun penuh, tidak diperkenankan mengadakan perkawinan.
Namun jika ada alasan-alasan penting, Presiden dapat menghapuskan larangan ini dengan memberikan dispensasi.” 51
Dapat dilihat dari nilai histori KUH perdata sudah memberikan batas secara jelas mengenai usia minimal dalam pelaksanaan perkawinan, hal ini membuktikan bahwa sangatlah penting sebuah pernikahan tetap melihat nilai kedewasaan walaupun di dalam kitab undang-undang hukum perdata batas minimal usia perkawinan untuk wanita 15 tahun dan untuk laki-laki 18 tahun.
50 Soedharyo Soimin, Hukum Orang dan Keluarga, Prespektif Hukum Perdata Barat/BW, Hukum Islam, dan Hukum Adat, (Jakarta: Sinar Grafika, 2004), 8.
51 BAB IV Tentang Perkawinan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Pasal 29.
b. Tinjauan Dispensasi Perkawinan terhadap Batasan Usia Perkawinan Berdasarkan No. 1 Tahun 1974
Perkawinan mempunyai bagi kelangsungan kehidupan manusia mempunyai nilai yang sangat pernting dan berharga, mengapa demikian, karena dengan melangsungkan perkawinan maka manusia mendapati sebuah tujuan hidup meneruskan keturunan dan hal ini merupakan sebuah kebahgiaan karena dapat menumbuhkan rasa cinta terhadap orang yang terkasih, maka kehidupan akan tentram dan damai terlengkapi dan saling melengkapi.
Ditinjau dari aspek peraturan yang ada terkait perkawinan, perkawinan merupakan tindakan yang akan menimbulkan keadaan hukum diantaranya menjalani hidup bersama dari seorang pria dengan seorang wanita yang menenuhi syarat-syarat dan hak yang harus terpenuhi satu sama lain, inilah makna yang melahirkan peraturan hidup bersama.
Pelaksanaan perkawinan tidak dapat dinilai hanya sebuah ikatan biasa-biasa saja akan tetapi sebuah ikatan lahir dan batin yang sakral, mengapa demikian karena menjadi harapan semua orang bilamana dalam seumur hidup memiliki keluarga yang sakinah mawaddah warrohmah.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, dapat juga mendefinisikan bahwa perkawinan ialah
ikatan lahir bathin antara seorang pria dan wanita sebagai suami-isteri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia, baik lahir maupun batin berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, dalam kepustakaan perkawinan ialah suatu akad yang menghalalkan pergaulan dan membatasi hak dan kewajiban serta tolong-menolong antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang antara keduanya bukan muhrim.52
Memaknai pembatasan hak dan kewajiban sebuah perkawinan berdasarkan Undang-Undang Perkawinan maka peraturan yang ada dalam sendi butir Undang-undang perkawinan sangatlah penting untuk dicermati, pembatasan dan hak yang ada salah satunya terdapat dalam koridor batasan minimal dapat dilaksanakannya perkawinan.
Telisik secara histori ketentuan batasan usia perkawinan disebutkan dalam pasal 6 Undang-Undang No. Tahun 1974 yakni :
“Untuk melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21 (duapuluh satu) tahun harus mendapat izin kedua orang tua.”
Terdapat sebuah inkonsistensi dalam peraturan perundang-undangan yang sama dalam pasal 7 ayat 1 disebutkan :
52 Martiman Prodjohamidjojo, Hukum Perkawinan Indonesia, (Jakarta: Indonesia Legal Center Publishing, 2007), halaman 8.
“Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun.”
Bahwa mengandung makna apabila seseorang melangsungkan pernikahan diatas usia 19 tahun bagi pria dan 16 tahun bagi seorang wanita,butir inilah yang menjadi aturan atau landasan terkait pembatasan usia minimal dilansgungkannya sebuah perkawinan yang sah menurut peraturan perundang-undangan di Indonesia pada saat itu.
5. Tinjauan Dispensasi Perkawinan berdasarkan Undang-Undang No 16 tahun 2019
Melihat fakta sekarang ini, perkawinan dibawah umur masih terus meningkat undang-undang perkawinan memberikan kelonggaran dan dapat mengajukan dispensasi perkawinan akan tetapi bagi mereka yang kan melangsungkan pernikahan dapat memberi alasan yang tepat dan mendesak
Apakah alasan tersebut dapat diterima dan memenuhi kriteria atau tidak, karena jika semua orang yang mengajukan dispensasi kawin dikabulkan, maka secara otomatis tidak memenuhi apa yang telah ditetapkan oleh Undang-undang No. 1 tahun 1974.
Faktor lain yang melatarbelakangi terjadinya suatu perkawinan dibawah bataas usia anak diantaranya adalah pendidikan yang rendah masyarakat, pelaku nikah dibawah umur sebagian besar terlebih
dahulu telah mengalami putus sekolah. Orang tua sebetulnya adalah orang yang bertanggung jawwab jawab atas pendidikan anaknya, terkadang orang tua sering mengabaikan pendidikan anaknya. Hal tersebut dimungkinkan orang tua yang seharusnya menjadi teladan atau contoh bagi anaknya, justru tidak memiliki tingkat pendidikan yang sesuai, bahkan banyak diantara orang tua yang tidak sama sekali mengenyam pendidikan secara formal.
Pengajuan Dispensasi perkawinan dalam hukum positif masuk pada perkara Voluntair, perkara Voluntair adalah Perkara Voluntair adalah permohonan yang dilakukan oleh seseorang yang tidak didapati unsur sengketa, sehingga tidak mempunyai lawan. Pada perkara permohonan tidak dapat diterima dalam proses Pengadilan, kecuali apabila adanya kepentingan undang-undang sehingga mempunyai tujuan terlaksanannya hukum.53
Pengertian dispensasi kawin menurut kamus bahasa Indonesia, dispensasi merupakan izin pembebasan dari suatu kewajiban atau larangan. Jadi dispensasi merupakan kelonggaran terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak diperbolehkan untuk dilakukan atau dilaksanakan.54
UU Perkawinan yang diberlakukan di Indonesia mempunyai tujuan dan memperhatikan nilai kedewasaan adalah ketika seseorang
53 Sri Rahmawaty Yunus dan Ahmad Faisal, “Analisis Penetapan Dispensasi Kawin Dalam Perspektif Undangundang Perlindungan Anak (Studi Kasus Di Pengadilan Agama Limboto),” Jurnal Ilmiah Al-Jauhari (JIAJ), No. 2 (September 2018), 91
54 Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
telah dipandang sudah siap dan mampu melaksanakan pernikahan dengan memperoleh pernikahan merupakan wadah bagi seseorang yang memiliki kemampuan dan dapat memikul tanggungjawab.
Kedewasaan sebagai paramater cakap menikah tampaknya telah memicu lahirnya silang pendapat yang mewujud pada persoalan perlu dan tidaknya usia perkawinan ditentukan.55 Secara jelas, sebagian isi Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 yang mengatur ketentuan usia perkawinan di Indonesia adalah sebagai berikut:
a. Izin orang tua bagi orang yang akan melangsungkan perkawinan apabila belum mencapai umur 21 tahun (pasal 6 ayat 2).
b. Umur minimal untuk diizinkan melangsungkan perkawinan, yaitu pria 19 tahun dan wanita16 tahun (pasal 7 ayat 1).
c. Anak yang belum mencapai umur 18 tahun atau belum pernah kawin, berada di dalam kekuasaan orang tua (pasal 47ayat 1).
d. Anak yang belum mencapai umur 18 tahun atau belum pernah kawin, yang tidak berada dibawah kekuasaan orang tuanya, berada dibawah kekuasaan wali (pasal 50 ayat 1).
Undang-undang Perkawinan yang sebelumnya aturan dispensasi perkawinan berbeda dengan rumusan UU terbaru. Jika didalam Undang-Undang sebelumnya Dispensasi adalah pemberian hak kepada seseorang untuk menikah meski belum mencapai batas minimum usia pernikahan dengan kata lain
55 https://pa-kajen.go.id/v3/artikel/menakar-potensi-dispensasi-nikah-pasca-revisi-uu-perkawinan
seseorang boleh menikah diluar ketentuan itu jika dan hanya jika keadaan “menghendaki” dan tidak ada pilhan lain (ultimum remedium). Diddalam UU Perkawinan terbaru disebutkan
“Penyimpangan” dapat dilakukan melalui pengajuan permohonan dispensasi oleh orang tua salah satu atau kedua belah pihak calon mempelai.
Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia menetapkan Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2019 tentang Pedoman Mengadili Permohonan Dispensasi Kawin. Peraturan Mahkamah Agung ini ditetapkan pada tanggal 20 November 2019 dan disahkan pada tanggal 21 November 2019 untuk diberlakukan dan dimaksimalkan untuk diketahui bagi segenap lapisan warga negara dan masyarakat.
1) Disspensasi perkawinan merupakan pemberian izin kawin oleh pengadilan kepada calon suami atau isteri yang belum berusia 19 tahun untuk melangsungkan perkawinan.
Persyaratan administrasi Dispensasi Kawin adalah:
2) Surat permohonan;
3) Fotokopi KTP kedua orang tua/wali;
4) Fotokopi Kartu Keluarga;
5) Fotokopi KTP atau Kartu Identitas Anak dan/atau akta kelahiran anak;
6) Fotokopi KTP atau Kartu Identitas Anak dan/atau akta kelahiran calon suami/isteri; dan Fotokopi ijazah pendidikan terakhir anak dan/atau surat keterangan masih sekolah dari sekolah anak;
7) Jika persyaratan tersebut di atas tidak dapat dipenuhi maka dapat digunakan dokumen lainnya yang menjelaskan tentang identitas dan status pendidikan anak dan identitas orang tua atau wali (Pasal 5 ayat (2) Perma Nomor 5 Tahun 2019).56
Jadi pernikahan dibawah usia dapat sah dilaksanakan apabila telah melalui tahapan-tahapan yang telah ditentukan berdasarkan ketentuan yang peraturan perundang-undangan, pelaksanaan perkawinan dibawah batas usia merupakan pernyimpangan, akan tetapi hal tersebut secara legalitas nya dapat dipertanggungjawabkan melalui tahapan dari proses pengajuan nikah dan juga proses persidangan di pengadilan agama dengan benar.
Pernikahan dibawah batas usia bukanlah persoalan bisa dipandang sebelah mata dan sederhana, disisi ius constitum yang berlaku di Indonesia tidak menghendaki adanya pernikahan dibawah batas usia minimal dan disisi lain Undang-Undang ternyata membuka peluang adanya hal lain diluar itu.
56 Peraturan mahkamah agung Republik indonesia Nomor 5 Tahun 2019 Tentang Pedoman mengadili permohonan Dispensasi Kawin . Pasal 5.
Demikian juga dengan Pengadilan Agama, lembaga peradilan yaitu seorang hakim di sudutkan dengan pertimbangan yang sangat sulit ,bagaimaina tidak kewanangan dalam perkara dispensais nikah (bagi pemeluk agama Islam) dalam mengadili perkara dispensasi nikah dihadapkan pada pertimbangan dua kemudharatan yang ada yakni mudharat akibat menikah diusia dini dan mudharat jika dispensasinya ditolak karena alasan yang mendesak.
Maka dalam sebuah dispensasi perkawinan diperlukan sebuah pertimabangan bagi seorang hakim dalam memberikan keputusan yang terbaik, pelaksanaan undang-undang yang diterapkan juga harus dilihat dan memperhatikan tujuan adanya undang-undang itu untuk dilaksanakan. Efektifitas penerapan undang-undang akan berjalan maksimal jika terdapat kesinambungan antara proses pembuatan undang-undang, pelaksanaan, hingga penegakan hukumnya.