1. Pasien Sebagai Konsumen dan Pemberi Pelayanan Kesehatan (Dokter) Sebagai Pelaku Usaha
Secara harfiah, konsumen mempunyai pengertian sebagai pemakai barang dan jasa yang dihasilkan produsen, sedangkan produsen diartikan sebagai setiap penghasil barang dan jasa yang dikonsumsi oleh pihak lain atau orang lain (Poerwadarminto, 1980 : 259).
Berdasarkan pada Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.
Adapun pengertian konsumen disini yaitu konsumen akhir, sedangkan produk berupa barang, misal : obat-obatan, suplemen makanan, alat kesehatan, dan produk berupa jasa, misal : jasa pelayanan kesehatan yang diberikan oleh dokter, dokter gigi, jasa asuransi kesehatan. Pengertian jasa itu sendiri berdasar Pasal 1 angka 5 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
adalah setiap layanan yang berbentuk pekerjaan atau prestasi yang disediakan bagi masyarakat untuk dimanfaatkan oleh konsumen.
Konsumen jasa oleh Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen adalah yang dimaksud oleh Pasal 1 ayat (2) sebagai konsumen akhir. Sebagaimana telah diketahui, dalam ekonomi dikenal adanya konsumen antara dan konsumen akhir. Yang dimaksud dengan konsumen akhir adalah konsumen akhir dari suatu produk yang berupa jasa pelayanan kesehatan Rumah Sakit. Dalam hal ini adalah pasien, karena sebagai konsumen jasa pelayanan kesehatan Rumah Sakit pasien tidak menggunakan jasa pelayanan kesehatan yang diperoleh dari Rumah Sakit itu untuk digunakan sebagai bagian dari proses poduksi atau produk lainnya.
Anggota masyarakat sebagai pemakai jasa pelayanan kesehatan (health consuinens) serta pelaku usaha yakni para dokter dan/ atau berbagai sarana pelayanan kesehatan sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan (health providers), maka Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 juga berlaku pada pelayanan kesehatan (health care services). Para konsumen pelayanan kesehatan, yakni para pasien yang datang berobat, memang juga memerlukan perlindungan konsumen.
Untuk mengetahui, apakah profesi pemberi pelayanan kesehatan (dokter) merupakan pelaku usaha atau bukan maka perlu melihat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan, Black Law Dictionary, dan WTO/ GATS bidang kesehatan. Menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang
Kesehatan, yang dimaksud dengan tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. Sedangkan dalam Black Law Dictionary (http://www.Depkes.com/berita/20 Oktober 2004), dinyatakan : Business (kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi) meliputi : employment, occupation, profession, or commercial activy engaged in / or gain or livelihood (segala kegiatan untuk mendapatkan keuntungan atau mata pencaharian).
Selain itu, posisi bidang kesehatan menurut WTO/ GATS menyatakan antara lain bahwa profesi dokter dan dokter gigi pada saat ini termasuk dalam sektor jasa bisnis, diantaranya : (http://www.Depkes.com/berita/ 20 Oktober 2004)
a. Sektor kesehatan, meliputi : hospital services, other human health services, social services, other.
b. Sektor jasa bisnis, meliputi : professional services, medical and dental services, physiotherapist, nurse and midwife.
Sebagaimana uraian tersebut di atas dihubungkan dengan pengertian pelaku usaha menurut Pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 adalah setiap orang perseorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi. Oleh karena itu, doker sebagai pemberi jasa layanan medis tergolong
sebagai pelaku usaha juga, sehingga Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen juga dapat diberlakukan.
Dengan adanya Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 756/MENKES/SK/
VI/2004 tentang Persiapan Liberalisasi Perdagangan dan Jasa di Bidang Kesehatan, berarti Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen juga dapat diberlakukan pada bidang kesehatan. Undang-undang Perlindungan Konsumen yang berlaku diharapkan dapat mensejajarkan posisi antara konsumen dengan pelaku usaha, sehingga dengan demikian anggapan bahwa konsumen merupakan “raja” tidak berlaku lagi mengingat antara konsumen dan pelaku usaha tidak hanya mempunyai hak namun juga kewajiban.
Hak konsumen kesehatan sebagaimana terdapat dalam Pasal 4 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, meliputi :
a. Hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa.
b. Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan.
c. Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa.
d. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan.
e. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut.
f. Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen.
g. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif.
h. Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya.
i. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya.
Sedangkan berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, hak konsumen kesehatan meliputi :
a. Informasi
b. Memberikan persetujuan c. Rahasia kedokteran
d. Pendapat kedua (second opinion)
Selama ini umumnya pasien sebagai pengguna jasa pelayanan kesehatan cenderung lebih banyak bersikap pasrah. Padahal sebagai konsumen kesehatan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, pasien juga mempunyai hak sebagai konsumen kesehatan. Terkait dengan adanya hak maka tidak terlepas adanya kewajiban. Kewajiban konsumen menurut Pasal 5 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen meliputi :
a. Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang dan/atau jasa, demi keamanan dan keselamatan;
b. Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa;
c. Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati;
d. Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa perlindungan konsumen secara patut.
Sedangkan, hak dan kewajiban tenaga kesehatan berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, antara lain :
a. Hak Tenaga Kesehatan
Memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas sesuai dengan profesinya.
b. Kewajiban Tenaga Kesehatan
Mematuhi standar profesi dan menghormati hak pasien
Hak dan Kewajiban yang telah diatur akan menimbulkan hubungan hukum baik antara pasien dan rumah sakit, hubungan antara pasien dan tenaga kesehatan di rumah sakit, maupun hubungan hukum pasien dan tenaga kesehatan lain (antara lain perawat).
2. Hubungan Hukum Antara Pasien dan Rumah Sakit
Hubungan hukum antara pasien dan Rumah Sakit dapat dibagi menjadi 2 (dua) yaitu : (Wiradharma, 1996 : 113)
a. Perjanjian perawatan, yaitu kesepakatan antara Rumah Sakit dan pasien bahwa pihak Rumah Sakit menyediakan kamar perawatan dan adanya tenaga perawat yang akan melakukan tindakan perawatan.
b. Perjanjian pelayanan medis, yaitu kesepakatan antara Rumah Sakit dan pasien bahwa tenaga medis pada Rumah Sakit akan berupaya secara maksimal untuk menyembuhkan pasien melalui tindakan medis (inspanningsverbintenis).
3. Hubungan Hukum Antara Pasien dan Tenaga Kesehatan
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan, Tenaga Kesehatan terdiri dari :
a. Tenaga Medis b. Tenaga keperawatan c. Tenaga Kefarmasian
d. Tenaga kesehatan masyarakat e. Tenaga gizi
f. Tenaga keterampilan fisik g. Tenaga keteknisan medis
Menurut Pasal 53 ayat (2) Undang-Undang Kedokteran jo Pasal 21 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan, setiap tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya berkewajiban untuk mematuhi standar profesi tenaga kesehatan. Dalam menetapkan standar profesi itu, menteri
kesehatan dapat meminta pertimbangan para ahli di bidang kesehatan dari dan/
atau yang mewakili ikatan profesi tenaga kesehatan.
Sedangkan, hubungan hukum antara pasien dan tenaga kesehatan di rumah sakit meliputi : (http://www.Depkes.com/berita/ 20 Oktober 2004)
1) Hubungan hukum antara pasien dan dokter, merupakan perikatan atau kontrak terapeutik, yaitu pihak dokter berupaya secara maksimal menyembuhkan pasien (inspanningsverbintenis), jarang merupakan
“resultaatsverbintenis”.
Yang dimaksudkan dengan transaksi terapeutik adalah transaksi antara dokter dengan pasien untuk mencari atau menemukan terapi sebagai upaya penyembuhan penyakit pasien oleh dokter (Koeswadji, 1998 : 99).
2) Hubungan hukum antara pasien dan tenaga kesehatan lain merupakan perikatan atau kontrak, yaitu tenaga kesehatan lain itu harus berupaya memberikan pelayanan sesuai dengan kemampuan dan perangkat ilmu yang dimiliki. Kontrak ini dapat berupa inspanningsverbintenis maupun resultaatsverbintenis.
3) Hubungan hukum antara dokter dengan perawat, merupakan hubungan rujukan atau delegasi.
Dalam ilmu hukum dikenal 2 (dua) jenis perjanjian, yaitu : 1) Resultaatsverbintenis, yang berdasarkan hasil kerja.
2) Inspanningverbintenis, yang berdasarkan usaha yang maksimal.
Pada umumnya, secara hukum hubungan antara dokter dengan pasien merupakan hubungan ikhtiar atau usaha maksimal. Dokter tidak menjanjikan kesembuhan, tetapi berusaha sekuatnya agar pasien sembuh.
4. Hubungan antara Tenaga Kesehatan dan Rumah Sakit
Dalam hal ini, hubungan antara tenaga kesehatan dan Rumah Sakit terlihat dalam hubungan pekerjaan. Dimana Rumah Sakit merupakan tempat untuk menyelenggarakan tugas profesi dari tenaga kesehatan. Hubungan yang terjadi disini adalah hubungan antara pengusaha dan karyawan. Dimana Rumah Sakit sebagai pelaku usaha wajib memberikan bayaran kepada dokter atas jasa yang telah diberikan. Hal ini sesuai dengan Pasal 88 ayat (1) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Sedangkan dokter wajib melakukan tindakan profesional dalam pelayanan kepada pasien selaku konsumen kesehatan yang datang ke Rumah Sakit, atau tempat dokter tersebut bekerja.
D. Tinjauan Tentang Tanggung Jawab Dokter Ditinjau Dari Perspektif