BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Kerangka teori
1. Tinjauan Tentang Jaminan
Istilah atau sebutan jaminan merupakan terjemahan dari Bahasa Belanda yaitu zekerheid atau cautie yaitu kemampuan debitur untuk memenuhi atau melunasi perhutangannya kepada kreditur, yang dilakukan dengan cara menahan benda tertentu yang bernilai ekonomis sebagai tanggungan atas pinjaman atau utang yang diterima debitur terhadap krediturnya (Rachmadi Usman, 2008:66).
Pengertian jaminan dalam SK Direksi Bank Indonesia No. 23/69/KEP/DIR tanggal 28 Februari 1991 Tentang Jaminan Pemberian Kredit yaitu “Jaminan adalah suatu keyakinan kreditur bank atas kesanggupan debitur untuk melunasi kredit sesuai dengan yang diperjanjikan”. Pengertian jaminan juga tersirat dalam ketentuan Pasal 8 Undang-Undang No.10 1998 Tentang Perbankan yang menyatakan ”jaminan yaitu suatu keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan debitur untuk melunasi hutangnya atau mengembalikan pembiayaan sesuai dengan yang diperjanjikan.”
Pengertian lain tentang jaminan dirumuskan oleh Mariam Darus Badrulzaman dalam sebuah jurnal hukum bisnis yaitu suatu tanggungan yang diberikan oleh seorang debitur dan/atau pihak ketiga kepada kreditur untuk menjamin kewajibannya dalam suatu perikatan (Mariam Darus Badrulzaman, 2000:12).
Bedasarkan Undang-Undang Perbankan, dalam memberikan fasilitas kredit bank diwajibkan untuk mensyaratkan adanya jaminan, hal tersebut tersurat dalam Pasal 8 UU No.10 Tahun 1998 tentang Perubahan UU No.7 Tahun 1992 tentang Perbankan yang menyatakan bahwa
Dalam memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip Syariah, Bank Umum wajib mempunyai keyakinan berdasarkan analisis yang mendalam atas itikad dan kemampuan serta kesanggupan nasabah debitur untuk melunasi hutangnya atau mengembalikan pembiayaan dimaksud sesuai dengan yang diperjanjikan (Pasal 8 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan).
Berdasarkan ketentuan pasal tersebut keharusan adanya jaminan terkandung secara tersirat dalam kalimat “ keyakinan berdasarkan analisis yang mendalam atas itikad dan kemampuan serta kesanggupan nasabah debitur” dan sekaligus mencerminkan 5C yang salah satunya adalah collateral (jaminan) yang harus disediakan debitur (Daeng Naja, 2005:206).
Keharusan adanya jaminan dikarenakan jaminan memiliki peran yang sangat penting di dalam suatu pemberian fasilitas kredit. Hal ini disebutkan dalam sebuah jurnal yang berjudul “Collateral And Credit Rationing : A Review Of Recent Empirical Studies As a Guide For Future Research” yaitu:
The relationship between firms and banks often suffers from uinformational opacity that may result in credit rationing. In theory, providing collateral to the bank can have a mitigating effect on these informational asymmetries and thus solve the credit-rationing problem (Tensie Steijvers and Wim Voordeckers, 2009:9).
Jurnal tersebut menjelaskan bahwa dalam hubungan antara pelaku usaha dan bank sering terjadi tidak adanya kejelasan informasi yang dapat menyebabkan permasalahan di dalam perjanjian kredit. Secara teori adanya jaminan yang diserahkan pada bank dapat meminimalisir adanya akibat dari informasi yang tidak seimbang dan juga dapat menyelesaikan adanya permasalahan di dalam perjanjian kredit. Hal ini merupakan salah satu kegunaan dari jaminan di dalam pemberian fasilitas kredit.
Dalam perspektif hukum perbankan, istilah ”jaminan” ini dibedakan dengan istilah ”agunan”. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1967 Tentang Pokok-Pokok Perbankan tidak mengenal adanya istilah ”agunan” tetapi menggunakan istilah ”jaminan”. Akan tetapi dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 memberikan pengertian yang tidak sama dengan istilah ”jaminan” menurut Undang- Undang Nomor 14 Tahun 1967 Tentang Pokok-Pokok Perbankan (Rachmadi Usman, 2008:66).
Arti jaminan menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1967 Tentang Pokok-Pokok Perbankan diberi istilah ”agunan” atau ”tanggungan”, sedangkan ”jaminan” menurut Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan sebagaimana diubah dengan Undang- Undang Nomor 10 Tahun 1998 memiliki arti lain yaitu ”keyakinan atas itikad dan kemampuan serta kesanggupan nasabah debitur untuk melunasi utangnya atau mengembalikan pembiayaan yang dimaksud sesuai dengan yang diperjanjikan” (Rachmadi Usman, 2008:66).
Penjelasan Pasal 8 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan menyebutkan bahwa selain adanya keharusan untuk mensyaratkan jaminan dalam pemberian fasilitas kredit, bank juga diperbolehkan untuk mensyaratkan adanya agunan untuk menjamin pelunasan hutang debitur. Hal tersebut juga diungkapkan oleh Rachmadi Usman dalam bukunya yang berjudul ”Hukum Jaminan Keperdataan” yakni bagaimanapun penting unsur-unsur lainnya selain collateral, hal itu belum menjamin pelunasan atau pinjaman itu seyogyanya diamankan melalui pengikatan agunan (tambahan) dan kalau perlu diamankan lagi dengan personal quaranty dan coporate quaranty (Rachmadi Usman, 2008: 67-68).
Istilah agunan dalam ketentuan Pasal 1 angka 23 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 memiliki pengertian yaitu jaminan tambahan yang diserahkan Nasabah Debitur kepada bank dalam rangka pemberian fasilitas kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah. Istilah agunan ini digunakan baik dalam pemberian fasilitas kredit oleh bank umum atau konvensional maupun dalam pemberian pembiayaan oleh bank syariah atau bank berdasarkan Prinsip Syariah.
Berdasarkan Pasal 1 angka 23 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tersebut diatas maka istilah ”agunan” merupakan terjemahan dari istilah collateral merupakan bagian dari istilah ”jaminan” pemberian kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah. Artinya pengertian ”jaminan” lebih luas daripada pengertian ”agunan”, dimana agunan berkaitan dengan barang sedangkan jaminan tidak hanya berkaitan dengan barang saja tetapi juga berkaitan dengan dan character, capacity,
capitalcondition of economic dari nasabah yang bersngkutan (Rachmadi Usman, 2008:67).
Penjelasan Pasal 8 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 menyatakan sebagai berikut :
Untuk mengurangi resiko tersebut, jaminan pemberian kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah dalam arti keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan Nasabah Debitur untuk melunasi kewajibannya sesuai dengan diperjanjikan merupakan faktor penting yang harus diperhatikan oleh bank. Untuk memperoleh keyakinan tersebut sebelum memberikan kredit, bank harus melakukan penilaian yang seksama terhadap watak, kemampuan, modal, agunan, dan prospek usaha dari Nasabah Debitur.
Lahirnya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1967 Tentang Pokok- Pokok Perbankan lebih bersifat collateral oriented. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 memiliki tujuan untuk mengubah orientasi bank tersebut yakni dengan memberikan kelonggaran kepada nasabah dalam hubungannya dengan kesulitan nasabah untuk dapat menyerahkan agunan (Sutan Remy Sjahdeini, 1999:21-22).
b. Penggolongan Jaminan
Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 1131 dan Pasal 1132 Kitab Undang- Undang Hukum Perdata dapat diketahui pembedaan (lembaga hak) jaminan berdasarkan sifatnya yaitu :
1) Hak jaminan yang bersifat umum
Jaminan yang bersifat umum ditujukan kepada kreditur dan mengenai segala kebendaan debitur. setiap kreditur memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pelunasan hutang dari hasil
pendapatan penjualan segala kebendaan yang dipunyai debitur, dalam hal ini kreditur berkedudukan menjadi kreditur konkuren. Hak jaminan yang bersifat umum ini timbul dari undang-undang, sehingga hak jaminan yang bersifat umum tidak perlu diperjanjikan sebelumnya sehingga kreditur konkuren secara bersamaan memperoleh hak jaminan yang bersifat umum dikarenakan oleh undang-undang.
2) Hak jaminan yang bersifat khusus
Hutang yang diberikan kepada debitur dapat diikat dengan hak jaminan yang bersifat khusus sehingga kreditur memiliki hak preferensi dalam pelunasan piutangnya. Berdasarkan ketentuan Pasal 1133 KUHPerdata, diketahui bahwa hak jaminan yang bersifat khusus itu terjadi karena :
a) diberikan atau ditentukan oleh undang-undang sebagai piutang yang diistimewakan (Pasal 1134 KUHPerdata).
b)diperjanjikan antara debitur dan kreditur sehingga menimbulkan hak preferensi bagi kreditur atas benda tertentu yang diserahkan debitur.
Hak jaminan yang bersifat khusus ini dapat dibedakan atas:
a) Hak jaminan yang bersifat kebendaan (zakelijke zekerheidsrecht).
b) Hak jaminan yang bersifat perorangan (persoonlijke zekerheidsrecht) (Rachmadi Usman, 2008:76).
Hermansyah juga menggolongkan jaminan berdasarkan sifatnya menjadi 2 (dua) yaitu:
1)Jaminan Kebendaan
Jaminan kebendaan merupakan suatu tindakan berupa suatu penjaminan yang dilakukan oleh kreditur terhadap debiturnya, atau
antara kreditur dengan seorang pihak ketiga guna menjamin dipenuhinya kewajiban-kewajiban dari debitur (Hermansyah, 2011:74).
Jaminan materiil atau kebendaan yang masih berlaku dan digunakan sebagai benda jaminan dalam perjanjian kredit perbankan hingga saat ini terdiri dari :
a) Hipotik
Pengertian hipotik di dalam Pasal 1162 BW adalah suatu hak kebendaan atas benda-benda tak bergerak, untuk mengambil penggantian dari padanya bagi pelunasan suatu perikatan misalnya hipotek pesawat terbang dan kapal laut.
b) Hak Tanggungan
Pengertian hak Tanggungan terdapat dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan yaitu hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-Undang No. 15 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria berikut atau tidak berikut benda-benda lain yang merupakan satu kesatuan dengan tanah itu untuk pelunasan hutang tertentu yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditur tertentu dan terhadap kreditur-kreditur lainnya. Ada lima jenis hak atas tanah yang dapat dijaminkan dengan hak tanggungan yaitu hak milik, hak guna bangunan, hak guna usaha, hak pakai, serta hak atas tanah berikut bangunan, tanaman, dan hasil karya yang telah ada atau akan ada merupakan hak milik pemegang hak atas tanah. c) Jaminan Fidusia
Jaminan Fidusia diatur di dalam Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia. Pengertian jaminan fidusia
adalah hak jaminan atas benda bergerak baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud dan benda tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan.
2)Jaminan Perorangan (persoonlijke zekerheidsrecht).
Jaminan perseorangan atau jaminan pribadi adalah jaminan seorang pihak ketiga yang bertindak untuk menjamin dipenuhinya kewajiban-kewajiban dari debitur. Dalam pengertian lain, dikatakan bahwa jaminan perseorangan adalah suatu perjanjian antara seorang berpiutang (kreditur) dengan seorang pihak ketiga, yang menjamin dipenuhinya kewajiban-kewajiban debitur (Hermansyah, 2011:74).
Jaminan perorangan dan garansi, diatur dalam Buku III Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, dalam bentuk:
a) Penanggungan hutang (Borgtoght) Pasal 1820 Kitab Undang- Undang Hukum Perdata.
b) Perjanjian Garansi/indemnity (Surety Ship) Pasal 1316 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
Agunan dibedakan menjadi 2 (dua) macam dimana hal tersebut ditegaskan dalam Penjelasan Pasal 8 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan yaitu:
1)Agunan pokok
Pengertian agunan pokok adalah barang, surat berharga atau garansi yang berkaitan langsung dengan objek yang dibiayai dengan kredit yang bersangkutan, seperti barang-barang atau proyek-proyek yang dibeli dengan kredit yang dijaminkan.
2)Agunan tambahan
Agunan tambahan adalah barang, surat berharga atau garansi yang tidak berkaitan langsung dengan objek yang dibiayai dengan kredit yang bersangkutan.
c. Perjanjian Jaminan
Perjanjian jaminan tidak dapat berdiri sendiri tanpa adanya perjanjian pendahuluan atau pokok yang mendahuluinya. Hal ini dikarenakan perjanjian jaminan merupakan perjanjian asesor (accesoir), tambahan, atau ikutan. Sebagai perjanjian asesor, eksistensi perjanjian jaminan ditentukan oleh ada dan hapusnya perjanjian pokoknya. Pada umumnya perjanjian pendahuluan ini berupa perjanjian hutang piutang, perjanjian pinjam meminjam, perjanjian kredit, dan perjanjian lainnya. Perjanjian hutang piutang atau kredit diperjanjikan pula antara debitur dan kreditur bahwa pinjaman kredit telah dibebani dengan suatu jaminan yang selanjutnya diikuti dengan pengikatan jaminan yang dapat berupa pengikatan jaminan kebendaan maupun perorangan (Rachmadi Usman, 2008:86).
Prinsip dasar jaminan berupa agunan yang bersifat accesoir juga diatur dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan, apabila salah satu jaminan yang digunakan dalam pemberian kredit adalah jaminan hak tanggungan. Perjanjian hak tanggungan lahir dengan adanya pendaftaran setelah disepakatinya perjanjian kredit sebagai perjanjian pokok sehingga sifat perjanjian jaminan hak tanggungan ini adalah tambahan (accesoir). Menurut Pasal 1 angka (5) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak
Tanggungan pengikatan jaminan terhadap hak tanggungan yang merupakan perjanjian accesoir (tambahan) tersebut berupa “Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) yang merupakan akta PPAT yang berisi pemberian hak tanggungan kepada kreditur tertentu sebagai jaminan untuk pelunasan utang”.
d. Bentuk Perjanjian Jaminan
Perjanjian pembebanan jaminan dapat dilakukan dalam bentuk lisan dan tertulis. Perjanjian pembebanan dalam bentuk lisan biasanya dilakukan dalam kehidupan masyarakat pedesaan, masyarakat yang satu membutuhkan pinjaman uang kepada masyarakat yang ekonominya lebih tinggi. Biasanya pinjaman itu cukup dilakukan secara lisan. Adapun perjanjian pembebanan jaminan dalam bentuk tertulis, biasanya dilakukan dalam dunia perbankan, lembaga keuangan non-bank maupun lembaga pegadaian (Salim HS, 2004: 30-31).
Rachmadi Usman mengatakan apabila pembebanan jaminan dilakukan dalam bentuk tertulis, maka bisa dilakukan dengan menggunakan akta dibawah tangan dan akta otentik. Akta dibawah tangan adalah suatu akta yang dibuat dan ditandatangani oleh para pihak saja tanpa bantuan seorang pejabat umum. Akta autentik adalah suatu akta yang dibuat oleh atau di hadapan seorang pejabat umum yang berwenang untuk itu sepeti notaris, dimana bentuk aktanya sudah ditentukan oleh undang-undang (Rachmadi Usman, 2008:87).
Pembebanan perjanjian lembaga hak jaminan lainnya yang diwajibkan dilakukan dengan akta autentik yaitu :
1)Akta Hipotek Kapal untuk pembebanan perjanjian jaminan hipotek atau kapal, yang dibuat oleh Pejabat Pendaftar dan Pencatat Balik nama Kapal;
2)Surat Kuasa Membebankan Hipotek (SMHT) yang dibuat oleh atau di hadapan notaris;
3)Akta Pemberian Hak Tanggunan (APHT), yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah;
4)Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan (SKMHT) yang dibuat oleh Notaris atau Pejabat Pembuat Akta Tanah;
5)Akta Jaminan Fidusia (AJF) yang dibuat oleh Notaris (Rachmadi Usman, 2008:88).