BAB II LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
3. Tinjauan Tentang Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
a. Pengertian Model Pembelajaran
Mills dalam Agus Suprijono, (2009: 45) Model adalah bentuk representasi akurat sebagai proes aktual yang memungkinkan seseorang atau sekelompok orang mencoba bertindak berdasarkan model itu.
Model pembelajaran menurut Joice dan Weil dalam Isjoni, (2010: 50) adalah suatu pola atau rencana yang sudah direncanakan sedemikian rupa dan digunakan untuk menyusun kurikulum, mengatur materi pelajaran, dan memberi petunjuk kepada pengajar di kelasnya. Agus Suprijono (2009: 46) mendefinisikan model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar.
Menurut Muhammad Surya Dalam Isjoni, (2010:49) model pembelajaran merupakan suatu proses perubahan yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Model merupakan cara-cara yang ditempuh guru untuk menciptakan situasi pembelajaran yang benar-benar menyenangkan dan mendukung bagi kelancaran proses belajar dan tercapainya prestasi belajar yang memuaskan. Untuk mencapai hal-hal tersebut maka guru harus dapat memilih dan mengembangkan model pembelajaran yang tepat, efisien dan efektif sesuai dengan kebutuhan siswa serta materi yang diajarkan. Pemilihan model pembelajaran yang tepat akan mempengaruhi belajar sehingga siswa benar-benar memahami materi yang diberikan.
commit to user
Dari pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah suatu cara efektif yang digunakan dalam proses belajar mengajar untuk mencapai tujuan pembelajaran.
b. Hakekat Model Pembelajaran Kooperatif
Kooperatif Learning berasal dari kata Cooperative yang artinya
mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim. Kooperatif learning adalah suatu model pembelajaran yang saat ini banyak digunakan untuk mewujudkan kegiatan
belajar mengajar yang berpusat pada siswa (studend oriented), terutama untuk
mengatasi permasalahan yang ditemukan guru dalam mengaktifkan siswa, yang tidak dapat bekerja sama dengan orang lain, siswa yang agresif dan tidak peduli pada yang lain.
Menurut Anita Lie Dalam Isjoni, (2010:16) Pembelajaran kooperatif yaitu sistem pembelajaran yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bekerjasama dengan siswa lain dalam tugas-tugas yang terstruktur.
Agus Suprijono, (2010:54) pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. Secara umum pembelajaran kooperatif dianggap lebih diarahkan oleh guru, di mana guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu peserta didik.
Dalam jurnal internasional yang ditulis oleh Johnson&Johnson (2000: 2,
diakses pada tanggal 27 Desember 2010) menyatakan bahwa ”cooperative
learning exists when students work together to accomplish shared learning goals”. Diartikan bahwa pembelajaran kooperatif ada ketika siswa-siswa bekerja bersama untuk berbagi dalam menyelesaikan tujuan pembelajaran. Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran siswa dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda-beda. (Faiq Dzaki, 2009: http://penelitian tindakankelas.blogspot.com/ diakses pada tanggal 19 Januari 2011). Dalam perbedaan itu siswa-siswa dapat saling asah, asih, dan
commit to user
asuh sehingga tercipta masyarakat belajar (Learning Community) yang saling
mencerdaskan. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling kerja sama dan membantu untuk memahami suatu bahan pelajaran. Robert Slavin
(1984) dalam Sholihatin dan Raharjo (2008:4) mengatakan bahwa ”In
cooperative learning methods, students work together in four member teams to master material initially presented by teacher”. Dapat diartikan bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran di mana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4 sampai 6 orang, dengan struktur kelompoknya yang bersifat heterogen.
Dalam jurnal internasional yang ditulis Jacobs&Hannah (dalam http://www.georgejacobs.net/ cooperative.html, diakses pada tanggal 29
Desember 2010) menyatakan bahwa “cooperative learning, also known as
collaborative learning, is a body of concepts and techniques for helping to maximize the benefits of cooperation among students”. Artinya, pembelajaran
kooperatif yang juga dikenal sebagai pembelajaran kolaboratif, adalah suatu bentuk dari konsep dan tehnik untuk membantu memaksimalkan keuntungan-keuntungan kerjasama diantara siswa.
Sedangkan menurut John W.Santrock (2010:1) pembelajaran kooperatif terjadi ketika siswa-siswa bekerja dalam kelompok-kelompok kecil untuk saling membantu dalam belajar, sehingga bisa menjadi strategi yang efektif untuk meningkatkan prestasi, terutama ketika dua kondisi terpenuhi.
Dengan demikian dapat disimpulkan cooperative learning mengandung
pengertian sebagai suatu sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerja sama yang teratur dalam kelompok.
Dalam pembelajaran kooperatif keberhasilan kerja sangat dipengaruhi oleh keterlibatan dari setiap anggota kelompok itu sendiri. Pembelajaran kooperatif mempunyai tiga konsep sentral yang dikemukakan oleh Slavin dalam Winkel (2009 : 26-28), tiga konsep tersebut yaitu:
commit to user
1) Penghargaan Kelompok
Dalam pembelajaran kooperatif menggunakan tujuan-tujuan kelompok untuk memperoleh penghargaan kelompok. Penghargaan kelompok diperoleh jika kelompok mencapai skor di atas kriteria yang ditentukan. Keberhasilan kelompok didasarkan pada perolehan individu sebagai anggota kelompok dalam menciptakan hubungan antar personal yang saling mendukung, saling membantu, dan saling peduli.
2) Pertanggungjawaban Individu
Keberhasilan kelompok tergantung dari pembelajaran individu dari seluruh anggota kelompok untuk saling membantu pada saat belajar dalam kelompok. Adanya pertanggungjawaban individu juga menjadikan setiap anggota bersiap untuk mengerjakan tes individu tanpa bantuan dari anggota kelompoknya.
3) Kesempatan yang Sama untuk Mencapai Keberhasilan
Di dalam pembelajaran kooperatif menggunakan metode skoring yang mencakup nilai perkembangan berdasarkan peningkatan prestasi yang diperoleh siswa pada setiap pertemuan. Dengan menggunakan metode skoring ini setiap siswa baik yang berprestasi rendah, sedang, atau tinggi sama-sama memperoleh kesempatan untuk berhasil dan melakukan yang terbaik bagi kelompoknya.
Berdasarkan tiga konsep dalam model pambelajaran kooperatif tersebut diharapkan para siswa memiliki persepsi bahwa mereka harus bersama-sama, memiliki tanggung jawab diri sendiri dalam mempelajari materi yang dihadapi, berpandangan bahwa mereka semuanya memiliki tujuan yang sama, membagi tugas dan berbagi tanggung jawab sama besarnya diantara anggota kelompok, serta mempertanggungjawabkan secara individu materi yang dipelajari.
c. Tujuan Model Pembelajaran Kooperatif
Pada dasarnya model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran penting. Menurut Ibrahim, et al Dalam Isjoni, (2010:27) ada tiga tujuan pembelajarn kooperatif yaitu :
commit to user
1) Hasil Belajar Akademik
Dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar.
2) Penerimaan terhadap Perbedaan Individu
Penerimaan secara luas dari orang-orang yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan dan ketidakmampuannya. Selain itu akan belajar saling menghargai satu sama lain.
3) Pengembangan Keterampilan Sosial
Mengajarkan kepada siswa keterampilan bekerja sama dan kolaborasi. Keterampilan-keterampilan sosial penting dimiliki siswa, sebab saat ini banyak anak muda masih kurang dalam keterampilan sosial.
d. Keterampilan dalam Model Pembelajaran Kooperatif
Lundgren dalam Agus Suprijono, (2010:34) Dalam model pembelajaran kooperatif tidak hanya mempelajari materi saja, tetapi siswa juga harus mempelajarai keterampilan-keterampilan khusus yang disebut keterampilan kooperatif. Menurut Isjoni, (2009:46) keterampilan kooperatif ini berfungsi untuk melancarkan hubungan kerja dan tugas. Keterampilan-keterampilan tersebut antara lain:
1) Keterampilan kooperatif tingkat awal, meliputi: menggunakan
kesepakatan, menghargai kontribusi, mengambil giliran dan berbagi tugas, berada dalam kelompok, berada dalam tugas, mendorong partisipasi, mengundang orang lain, menyelesaikan tugas dalam waktunya, serta menghormati perbedaan individu.
2) Keterampilan tingkat menengah, meliputi: menunjukkan penghargaan dan
simpati, mengungkapkan pendapat, mendengarkan dengan bijaksana, bertanya, membuat ringkasan dan menafsirkan.
3) Keterampilan tingkat mahir, meliputi: berkolaborasi, memeriksa dengan
commit to user
e. Observasi dalam Proses Pembelajaran Kooperatif
Menurut Agus Suprijono, (2009: 157) selama proses pembelajaran kooperatif berlangsung, guru hendaknya juga mengamati kegiatan siswa untuk menilai sikap kooperatif siswa dalam berdiskusi. Rubrik yang digunakan dalam observasi kegiatan siswa dapat dalam bentuk sebagai berikut:
Tabel 4. Rubrik dalam observasi kegiatan siswa oleh Suprijono
No. Aspek Skor Bobot Skor
Maksimal Kelompok 1 2 3 1. Keaktifan Sangat Aktif Aktif Pasif 9-10 6-8 < 5 4 45 2. Kerja sama Sangat Baik Baik Kurang 9-10 6-8 < 5 3 40 3. Menghargai pendapat orang lain : Sangat Cukup Kurang 9-10 6-8 < 5 3 35 Total 120
Sumber: Agus Suprijono (2009: 160)
Apabila keaktifan siswa tiap kelompok >40 dan skor maksimal 45 maka termasuk kelompok super sedangkan <40 maka kelompok hebat. Apabila kejasama siswa tiap kelompok >35 dan skor maksimal 35 maka termasuk kelompok super sedangkan <35 maka kelompok hebat. Menghargai pendapat orang lain tiap kelompok >30 dan skor maksimal 35 maka termasuk kelompok super dan <30 maka kelompok hebat.Rubrik observasi keterampilan kooperatif siswa ini dapat dikembangkan sendiri oleh guru disesuaikan dengan pengalaman yang dimiliki guru.
commit to user
f. Kelebihan dan Kekurangan dalam Model Pembelajaran Kooperatif Model pembelajaran kooperatif dapat memotivasi belajar siswa sehingga kekurangan yang mungkin terjadi dapat diminimalisirkan. Namun di samping memiliki kelebihan, model pembelajaran kooperatif juga memiliki beberapa kekurangan (Faiq Dzaki, http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2010/03/: diakses tanggal 19 Januari 2011).
Beberapa kelebihan model pembelajaran kooperatif , antara lain:
1) Meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan sosial
2) Memungkinkan para siswa saling belajar mengenai sikap, keterampilan,
informasi, pandangan-pandangan, dan perilaku sosial.
3) Memudahkan siswa melakukan penyesuaian sosial sehingga
memingkinkan terbentuk dan berkembangnya nilai-nilai sosial dan komitmen bersama.
4) Menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri atau egois.
5) Meningkatkan rasa saling percaya kepada sesama manusia.
6) Meningkatkan kesediaan menggunakan ide orang lain yang dirasa lebih
baik.
7) Mengembangkan hubungan antara pribadi yang positif antara siswa yang
berasal dari latar belakang yang berbeda.
Kelemahan model pembelajaran kooperatif, yaitu:
1) Guru khawatir bila akan terjadi kekacauan di dalam kelas.
2) Perasaan was-was pada anggota kelompok akan hilangnya karakteristik
atau keunikan pribadi karena harus menyesuaikan diri dengan kelompok.
3) Kemungkinan tugas tidak akan terbagi rata atau secara adil.
g. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Bermain Jawaban
Dalam Agus Suprijono, (2009: 118-119) Model Pembelajaran Kooperatif
Tipe Bermain Jawaban adalah salah satu metode pambelajaran yang
dikembangkan oleh Robert Slavin pada tahun 1970. Model pembelajaran ini adalah menekankan pada adanya permainan jawaban diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna
commit to user
mencapai prestasi yang maksimal. Suatu model yang memungkinkan siswa dapat berinteraksi, berdiskusi, bertukar pendapat dan mengekspresikan ide-idenya secara lebih leluasa dengan temannya bahkan kepada guru. Di dalam model ini guru lebih berperan sebagai fasilitator dan pengarah daripada sebagai penguasa dan pemberi materi kepada siswa. Siswa diberi kesempatan untuk berdiskusi dan mencari jawaban dengan teman satu timnya serta guru memberi klarifikasi jawaban atau menambahkan penjelasan yang bersumber pada materi yang ada.
Menurut Hisyam Zaini, dkk, (2007:87) mengemukakan bahwa bermain jawaban adalah sebuah permainan yang dapat melibatkan semua siswa dari awal sampai akhir untuk mencari jawaban yang benar dan sekaligus bergantung pada faktor keberuntungan. Dalam permainan ini guru mengajar dengan menggunakan jawaban-jawaban yang ditemukan oleh siswa.
Dalam Mayke S. Tedjasaputra, (2003:15) Johnson et al mengemukakan bahwa bermain merupakan konsep yang tidak mudah untuk dijabarkan, bahkan di
dalam Oxford English Dictionary, tercamtum 116 definisi tentang bermain. Model
pembelajaran kooperatif tipe bermain jawaban ini mencangkup tiga ranah yaitu
kognitif, afektif dan psikomotor. Selain itu dalam pembagian kelompok harus menyeluruh tanpa membeda-bedakan antara yang pintar maupun yang kurang.
Menurut Paul Ginnis (2008:214) menyatakan bahwa bermain jawaban itu secara efektif mengubah dinamika kelas dan biasanya menciptakan kemauan yang lebih besar untuk belajar dan bersikap. Manfaat ini adalah cara untuk menciptakan beberapa aturan serius dengan sedikit kesenangan serius.
Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa bermain jawaban merupakan sebuah
pertanyaan yang memerlukan jawaban ringkas dan dikelompokkan jawaban tersebut kemudian dimasukkan dalam kantong kertas lalu menempelkan jawaban tadi pada papan yang digantung.
1) Persiapan dalam Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Bermain
Jawaban
Menurut Agus Suprijono, (2009 : 118-119) hal-hal yang harus
commit to user
1. Buatlah sejumlah pertanyaan yang memerlukan jawaban ringkas, dan
masing-masing ditulis pada selembar kertas.
2. Tulislah sejumlah kemungkinan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan no 1
diatas. Jumlah jawaban harus lebih banyak dari jumlah pertanyaan.
3. Kelompokkan jawaban-jawaban yang dibuat pada langkah kedua sesuai
dengan kategori tertentu.
4. Masukkan jawaban-jawaban tadi ke dalam kantong-kantong kertas. Setiap
kantong ditulisi nama kategori jawaban.
5. Tempelkan kantong-kantong kertas tadi pada lembar papan.
6. Tempel atau gantungkan kertas karton tadi di depan kelas.
Sedangkan menurut Hisyam Zaini, dkk. (2007:87-88) hal-hal yang harus
dipersiapkan dalam mengembangkan metode pelajaran bermain jawaban adalah :
1. Buatlah sebuah pertanyaan yang memerlukan jawaban ringkas, dan
masing-masing ditulis pada selembar kertas.
2. Tulislah sejumlah kemungkinan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan no 1
diatas. Jumlah jawaban harus lebih banyak dari jumlah pertanyaan.
3. Kelompokkan jawaban-jawaban yang dibuat pada langkah kedua sesuai
dengan kategori tertentu.
4. Masukkan jawaban-jawaban tadi ke dalam kantong-kantong kertas. Setiap
kantong ditulisi nama kategori jawaban.
5. Tempelkan kantong-kantong kertas tadi pada lembar papan.
6. Tempel atau gantungkan kertas karton tadi di depan kelas.
2) Langkah-langkah Pembelajaran dalam Penggunaan Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Bermain Jawaban
Menurut Agus Suprijono (2009:118-119) langkah-langkah permainan bermain jawaban adalah sebagai berikut :
1. Bagilah siswa menjadi beberapa kelompok. Besar kelompok disesuaikan
dengan jumlah siswa. Usahakan jumlah siswa dalam tiap kelompok tidak lebih dari 5 orang.
2. Kepada setiap kelompok diberikan lembar kerja berisi tentang kata-kata
atau kalimat, berikut media tentang tema “Pekerjaan”. Jumlah pertanyaan
yang berupa kata-kata atau kalimat untuk setiap kelompok adalah beda.
3. Mintalah masing-masing kelompok untuk mendiskusikan jawaban dan
mencari kira-kira di kantong yang mana jawaban tersebut berada.
4. Mulai permainan dengan meminta salah satu kelompok untuk
membacakan satu kata-kata atau kalimat dan dimasukkan dalam kantong, kemudian salah satu anggota kelompok mengambil jawaban dari kantong yang ada di depan kelas. Setelah selesai setiap kelompok menyusun kalimat sudah jadi terus diurutkan untuk menjadi sebuah paragraf, kemudian membacakan di depan kelas.
5. Langkah no.4 diulang untuk kelompok yang lain sampai kata-kata atau
kalimat habis, atau waktu tidak memungkinkan.
6. Guru memberi klarifikasi jawaban atau menambakan penjelasan yang
commit to user
Menurut Hisyam Zaini, dkk.(2007:87-88) langkah-langkah permainan bermain jawaban adalah sebagai berikut :
1. Bagilah siswa menjadi beberapa kelompok. Besar kelompok disesuaikan
dengan jumlah siswa. Usahakan jumlah siswa dalam tiap kelompok tidak lebih dari 5 orang.
2. Kepada setiap kelompok diberikan lembar kerja berisi tentang kata-kata
atau kalimat, berikut media tentang tema “Pekerjaan”. Jumlah pertanyaan
yang berupa kata-kata atau kalimat untuk setiap kelompok adalah beda.
3. Mintalah masing-masing kelompok untuk mendiskusikan jawaban dan
mencari kira-kira di kantong yang mana jawaban tersebut berada.
4. Mulai permainan dengan meminta salah satu kelompok untuk
membacakan satu kata-kata atau kalimat dan dimasukkan dalam kantong, kemudian salah satu anggota kelompok mengambil jawaban dari kantong yang ada di depan kelas. Setelah selesai setiap kelompok menyusun kalimat sudah jadi terus diurutkan untuk menjadi sebuah paragraf, kemudian membacakan di depan kelas.
5. Langkah no.4 diulang untuk kelompok yang lain sampai kata-kata atau
kalimat habis, atau waktu tidak memungkinkan.
6. Guru memberi klarifikasi jawaban atau menambakan penjelasan yang
bersumber pada materi yang ada dalam permainan tadi.
3) Pembelajaran IPS Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Bermain
Jawaban
Pembelajaran IPS dapat dilaksanakan dengan model pembelajaran
kooperatif tipe Bermain Jawaban, karena di dalam kegiatan tim Bermain
Jawaban terdapat interaksi antar siswa yang dapat melatih siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir, menumbuhkan tanggung jawab, menghargai pendapat orang lain, meningkatkan kepekaan dan kesetiawanan sosial, berinteraksi, berdiskusi, bertukar pendapat dan mengekspresikan ide-idenya secara lebih leluasa dengan temannya bahkan kepada guru.
Menurut Stahl dalam Isjoni, (2010:23) dengan melaksanakan pembelajaran
cooperative learning dapat melatih siswa untuk memiliki keterampilan, baik keterampilan berpikir (thinking skill) maupun keterampilan social (social skill), seperti keterampilan untuk mengemukakan pendapat, bekerja sama, dan setia kawan.
Pembelajaran IPS dengan model pembelajaran kooperatif tipe Bermain
Jawaban, berikut ini adalah langkah-langkah permainan yang digunakan dalam
commit to user
1. Bagilah siswa menjadi beberapa kelompok. Besar kelompok disesuaikan
dengan jumlah siswa. Usahakan jumlah siswa dalam tiap kelompok tidak lebih dari 5 orang.
2. Kepada setiap kelompok diberikan lembar kerja berisi tentang kata-kata
atau kalimat, berikut media tentang tema “Pekerjaan”. Jumlah pertanyaan
yang berupa kata-kata atau kalimat untuk setiap kelompok adalah beda.
3. Mintalah masing-masing kelompok untuk mendiskusikan jawaban dan
mencari kira-kira di kantong yang mana jawaban tersebut berada.
4. Mulai permainan dengan meminta salah satu kelompok untuk
membacakan satu kata-kata atau kalimat dan dimasukkan dalam kantong, kemudian salah satu anggota kelompok mengambil jawaban dari kantong yang ada di depan kelas. Setelah selesai setiap kelompok menyusun kalimat sudah jadi terus diurutkan untuk menjadi sebuah paragraf, kemudian membacakan di depan kelas.
5. Langkah no.4 diulang untuk kelompok yang lain sampai kata-kata atau
kalimat habis, atau waktu tidak memungkinkan.
6. Guru memberi klarifikasi jawaban atau menambakan penjelasan yang
bersumber pada materi yang ada dalam permainan tadi.