• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tinjauan Tentang Ombudsman a. Ombudsman

Ombudsman adalah lembaga negara yang memiliki kewenangan mengawasi penyelenggaraan pelayanan publik, baik yang diselenggarakan oleh badan usahan milik negara, badan usaha milik daerah serta badan usaha milik swasta atau perorangan, dan memiliki tugas mendorong terwujudnya penyelenggaraan pemerintah yang baik dan bersih serta bebas dari korupsi, kolusi, nepotisme, penyalahgunaan wewenang. Membantu mendapatkan perlindungan hukum kepada setiap warga masyarakat dan memperoleh pelayanan yang baik serta mendorong terwujudnya etika

usaha yang baik, bersih dan berkelanjutan. Ombudsman bersifat independen dalam menjalankan tugas dan wewenang yang mengandung azas kebenaran, keadilan, non diskriminasi, tidak memihak, akuntabilitas, transparan, keseimbangan dan kerahasiaan22.

Menurut Hossain ombudsmna merupakan posisi yang bergengsi dalam pemerintahan yang bertugas untuk menangani keluhan (complaint) dari warga masyrakat yang tidak senang terhadap perilaku atau tindakan pelayanan administrasi atau pegawai negeri serta menjelaskan bahwa ombudsman haruslah seorang independen dan petugas yang netral secara politik yang meneriman dan menyelidiki berbagai keluhan tentang pelayanan administrasi dan ia memiliki kekuasaan untuk mengkritik dan mempublikasikan. Anggota ombudsman haruslah independen yang dpilih oleh parlemen untuk mengawasi pelayananan administrasi yang menjalankan kepentingan umum. Ia harus seorang yang dihormati, seorang individu yang berada diluar birokrasi yang diberdayakan untuk menyelidiki berbagai keluhan warga masyarakat terhadap pelayanan pemerintah dan merekonmendasikan perbaikan. Ia harus dibekali kekuasaan untuk melakukan investigasi, mengkritik, dan mempublikasikan tindakan-tindakan administrasi tetapi tidak dapat membalikkannya23.

22Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 69 Tahun 2014 tentang Organisasi dan tata kerja Lembaga Ombudsman Daerah

23 Hossain, ombudsman for bangladesh: theory and Reality dalam jurnal Administration and Diplomacy, 1982 (dalam thesis Thalis Noor Cahyadi tentang Signifikansi ombudsman dalam menegakkan bisnis beretika dan berkelanjutan dalam perspektif ekonomi islam studi Lembaga Ombudsan Swasta Daerah Istimewa Yogyakarta (LOS) Yogyakata,UGM,2011. Hlm 37

Wong melihat bahwa ombudsman lebih sebagai jenis investigator publik yang bertugas untuk memperhatikan keluhan-keluhan dari individu masyarakat tentang cara yang diperlakukan oleh institusi pemerintah dan menyelidiki apa yang ditimbulkan dari keluhan masyarakat tentang pelayanan/tindakan resmi atau terhadap sebuah kegagalan pelayanan, untuk kemudian mengambil tindakan dan merekomendasikan berbagai langkah yang menurutnya sesuai dengan ketentuan yang ada24.

Wade juga menyatakan senada bahwa ombudsman berfungsi untuk menyelidiki keluhan-keluhan warga masyarakat tentang administrasi.

Sehingga menurut wong, secara fungsional tugas ombudsman ada dua hal sekaligus, pertama usaha perlindungan secara preventif dan kedua, usaha perbaikan ganti rugi25.

Sementara tujuan dari ombudsman menurut Larry Hill ada enam tujuan utama Ombudsman yaitu untuk mengoreksi kesalahan individu, membuat birokrasi manusiawi, mengurangi alienasi pemerintah, mencegah penyalahgunaan kewenangan dengan berperan sebagai pengawas birokrasi, membela para pegawai negeri dari tuduhan yang tidak adil dan mengenalkan reformasi administrasi26.

24 Ibid hlm. 38

25 Wong, The Birth of an Ombudsman. Ibid 38

26 Bokhari, S.A A Comparative study of Ombudsman Office in Australia Pakistan and United Kingdom, Evolution Effcacy and Challenges. 2004. www.policy.hu (dalam thesis Thalis Noor Cahyadi,tentang Signifikansi ombudsman dalam menegakkan bisnis beretika dan berkelanjutan dalam perspektif ekonomi islam studi Lembaga Ombudsan Swasta Daerah Istimewa Yogyakarta (LOS),Yogyakarta,UGM 2011, hal 38

Dari beberapa definisi yang ada bisa disimpulkan bahwa ombudsman merupakan lembaga independen yang dilindungi konstitusi atau Undang-Undang yang betugas untuk meneriman dan menyelidiki keluhan, aduan, atau kritik dari masyarakat terhadap kinerja suatu pelayanan publik untuk kemudian memberikan rekomendasi koreksi atau perbaikan serta mempublikasikan secara luas kepada masyarakat.

b. Ombudsman Republik Indonesia

Di indonesia keberadaan ombudsman masih relatif baru, lembaga ombudsman terbentuk pada saat kepemimpinan presiden K.H.

Abdulrahman Wahid (Gus Dur) dengan menerbitkan Kepres No 44 tahun 2000 tanggal 20 Maret 2000 tentang pembentukan Komisi Ombudsman Nasional (KON). KON bertugas pokok untuk melakukan pengawasan terhadap proses pelayanan umum oleh penyelenggara negara. Pengawasan tersebut dilakukan untuk mendorong terwujudnya good governance di Indonesia. tujuan dari pembentukan lembaga ini adalah untuk meningkatkan pelayanan dan perlindungan hukum aparat pemerintah dan peradilan kepada masyarakat27.

Pada perkembanganya, di era pemerintahan SBY, keberadaaan Ombudsman memikili legalisasi dan kewenangan kuat dengan disahkann Undang-Undang Nomor 37 tahun 2005 tentang Ombudsman Republik Indonesia. Dalam Undang-Undang tersebut dijelakan bahwan ombudsman

27 Sujata, Antonius dan Surachman, Efektifitas Ombudsman Indonesia, KON, Jakarta, 2003 www.ombudsman .go.id. diakses 20 januari 2015

Republik Indonesia merupakan lembaga negara yang bersifat mandiri dan tidak memiliki hubungan organik dengan lembaga negara dan instansi pemerintah lainnya, serta dalam menjalankan tugas dan wewenangnya bebas dari campur tangan kekuasaan lainnya (pasal 2). Ombudsman RI tidak bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) namun Ombudsman RI wajib menyampaikan laporan tahunan maupun laporan berkala kapada DPR sebagai bentuk pertanggung jawaban kepada publik atas pelaksanaan tugasnya.

c. Dasar Hukum Ombusman Republik Indonesia

Dalam Undang-Undang Nomor 37 tahun 2008 tentang ombudsman Republik Indonesia dijelaskan bahwa Ombudsman merupakan lembaga negara yang mempunyai kewenangan mengawasi penyelenggaraan neagara dan pemerintah termaksud yang diselenggaraka oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN), oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), oleh Badan Hukum Milik Negara (BHMN) serta badan swasta atau perorangan yang diberi tugas menyelenggarakan pelayanan publik tertentu yang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara dan anggaran pendapatan belanja daerah. Sebelumnya Kepres No. 44 Tahun tentang Komisi Ombudsman Nasional merupakan dasar hukum bagi operasionalisasi Ombudsman di Indonesia. Pada kepres ini kewenangan Ombudsman masih sangat terbatas, apalagi komisi ini hanya berada di Ibu kota Jakarta padahal kewenangannya mencakup seluruh wilayah di Indonesia. Dari Kepres No.44 Tahun 2000 komisi

ombudsman menyiapkan sebuah konsep Rancangan Undang-Undang Ombudsman Nasional28. Pasal 2 menyatakan ombudsman Nasional adalah lembaga pengawass masyarakat yang berasaskan pancasila dan bersifat mandiri serta berwenang melakukan klarifikasi, monitoring dan pemeriksaan atas laporan masyarakat mengenai penyelenggaraan negara dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Terobosan sesunggahnya ombudsman bukan sekedar sebuah sistem untuk menyelesaikan keluhan masyarakat kasus demi kasus tetapi mengembil inisiatif untuk memperbaiki tata administrasi dalam upaya meningkatkan mutu pelayana publik.

Ombudsmna telah berkembang menjadi salah satu pilar penting dalam ssisstem demokrasi dan negara hukum modern. Lebih dari 130 negara didunia memiliki lembaga Ombudsman dengan nama yang bervariatif, bahkan lebih 50 negara mencantumkan dalam konstitusi.

Lembaga ombudsman saat ini telah menjadi simbol/identitas negara yang :

a. Bertekad menciptakan pemerintahan yang baik (good governance).

b. Ingin menegakkan demokrasi dengan memberi pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakat.

c. Melindungi Hak Asasi Manusia.

d. Memberantas korupsi29.

28 Kepres No.44 Tahun 2000

29 Antonius Sujata,Ombudsman Indonesia Ditengah Ombudsman Internasional,jakarta,komisi Ombudsman Nasional,2002 hal 72

Undang-Undang RI No.25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik yang disahkan pada tanggal 18 juli 2009, menyatakan bahwa Ombudsman merupakan salah satu lembaga pengawas eksternal selain pengawasan masyarakat dan pengawasan DPR/DPRD yang berhak untuk melakukan pengawasan pelayanan publik. Hal ini terkuat dalam pasal 35 ayat 3 UU RI No. 25 Tahun 2009. Pengawasan eksternal penyelenggaraan pelayanan publik dilakukan melalui :

1) Pengawasan oleh masyarakat berupa laporan atau pengaduan masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan publik.

2) Pengawasan oleh ombudsman sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

3) Pengawasan oleh dewan perwakilan rakyat, dengan perwakilan rakyat daerah provinsi, dewan perwakilan rakyar daerah kabupaten/kota.

d. Tujuan Ombudsman Republik Indonesia

Dalam pasal 4 Undang-Undang Nomor 37 tahun 2008 dijelaskan bahwa ombudsman: pertama, mewujudkan negara hukum yang demokratis, adil dan sejahtera. Kedua, mendorong penyelenggaraan negara dan pemerintah yang efektif dan efisien, jujur, terbuka, besih, serta bebas dari korupsi dan nepotisme. ketiga, meningkatkan mutu pelayanan negara disegala bidang agar setiap warga negara dan penduduk memperoleh keadilan, rasa aman, dan

kesejahtraan yang semakin baik. Keempat, membantu menciptakan dan meningkatkan upaya untuk pemberantasan dan pencegahan praktek-praktek maladministrasi diskriminasi, kolusi, korupsi serta nepotisme. Kelima, meningkatkan budaya hukum nasional, kesadaran hukum masyarakat, dan supremasi hukum yang berintikan kebenaran serta keadilan30.

e. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Ombudsman

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja ombudsman seperti faktor penghambat dan faktor pendukung.

1. Faktor Hambatan atau kendala

Faktor penghambat dibedakan dibedakan menjadi 2 yaitu kendala atau hambatan yang berasal dari pihak ombudsman itu sendiri (internal) dan kendala dari pihak luar (eksternal) dan harapan yang belum dicapai31.

a. Kendala Internal.

Pertama, SDM yang mengundurkan diri dan membutuhkan waktu untuk proses rekruitmen serta penyesuaian dengan sistem kerja Ombudsman. Kedua, terkait sarana prasarana yang masih kurang seperti di LO DIY yang gedungnya belum memfasilitasi bagi penyandang disabilitas.

Ketiga, anggaran perjalanan dinas terbatas yang tidak singkron

30 Undang-Undang Nomor 37 tahun 2008 tentang Ombudsman RI

31 Muhammad arif, tesis Optimasisasi kinerja LO DIY dalam penyadaran hak masyarakat atas pelayanan publik,Yogyakarta,UMY,2015, hal 120

dengan padatnya perjalanan investigasi dan masih banyak kendala teknis lainnya.

b. Kendala eksternal.

Kendala anggaran yang khususnya ombudsman yang berada di daerah yang anggarannya merupakan bagian dari SKPD terkait sehingga sistem keuangan dan pelaporannya pun meski sama persis dilakukan sebagaimana sistem SKPD terkait.

Sehinnga ada kalanya mengalami peenundaan pelaksanaan program serta ketika ada perubahan maka meski menunggu waktu yang telah ditentukan sesuai dengan ketentuan yang ada.

2. Faktor Pendukung

Adapun faktor-faktor pendukung dalam rangka peningkatan kinerja ombudsman yaitu: faktor SDM, faktor sarana prasarana dan, faktor partisifasi masyarakat32.

a. Faktor SDM

Dalam hal sosialisasi semua SDM yang ada menjadi agen-agen sosialisasi yang tidak berbiaya yang dilakukan kepada lingkungan masing-masing personal pegawai. Sosialisasi tidak terstruktur dan tidak nterbiaya mampu berjalan secara massif dan baik. Faktor SDM merupakan faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam melaksanakan optimalisasi yang merupakan bagian dari kinerja ombudsman secara umum. Perpaduan

32 Ibid, hal 124

kemampuan teknis, integritas, dan sikap mental positif. Maka SDM menjadi kekuatan pokok dalam melakukan pekerjaan di ombudsman terutama dalam hal sosialisasi penyadaran hak atas pelayanan publik.

b. Faktor Sarana dan Prasarana

Sarana dan Prasarana adalah kebutuhan yang wajib dimiki oleh ombudsman untuk meningkatkan mutu kinerja seperti kendaran yang biasanya dipakai untuk melakukan sosialisasi, investigasi dan kperluan tugas lainnya. Adapun prasarana yang tidak kalah penting yaitu gedung atau ruang yang cukup menampung pegawai dan dokumen yang ada33.

c. Faktor Partisipasi Masyarakat

Faktor partisipasi masyarakat sangat mempengaruhi pelaksanaan tugas dan fungsi sebuah lembaga ombudsman karena dengan partisipasi masyarakat masyarakat ombudsman dapat menjalankan fungsi dan tugasnya. Dalam fungi pengawasan, membutuhkan partisipasi masyarakat untuk melaporkan jika ada yang melanggar dan dalam tugas sosialisasi peran masyarakat sangat penting untuk ikut dalam sosialisai untuk menjadi tahu. Faktor partisipasi masyarakat menjadi penting karena laporan paling banyak yaitu dari masyarakat baik individu maupun kelompok karena mereka

33 Ibid, hal 126

lebih merasakan maladministrasi yang terjadi di lingkup pemerintahan maupun swasta34.

Dokumen terkait