• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : KAJIAN PUSTAKA

2. Tinjauan tentang Pembelajaran Tematik Integratif

Pembelajaran yang baik bukan hanya pembelajaran yang mampu memberikan tambahan pengetahuan bagi siswa. Pembelajaran yang baik yaitu pembelajaran yang mampu mengajak siswa untuk memperoleh pengetahuan. Guru juga harus mampu menggali konsep-

konsep yang sudah dimiliki siswa melalui berbagai aktivitas dengan melibatkan lingkungan sekitar, sehingga tercipta kebermaknaan dari pembelajaran yang dilakukan. Untuk memadukan berbagai konsep

15

tersebut, maka dibutuhkan tema agar tercipta kesatuan dalam pembelajaran.

Dalam Permendikbud Nomor 57 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah dijelaskan bahwa pembelajaran tematik terpadu merupakan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam berbagai tema. Pembelajaran dengan pendekatan tematik terpadu ini dilakukan di semua kelas di tingkat SD (kelas I s.d VI), kecuali untuk mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti yang tidak menggunakan pembelajaran tematik terpadu.

Pembelajaran tematik integratif merupakan pembelajaran dimana materi ajar disampaikan dalam bentuk tema-tema yang megintegrasikan seluruh mata pelajaran. Kompetensi dari berbagai mata pelajaran diintegrasikan ke dalam berbagai tema yang mengintegrasikan aspek sikap, keterampilan, dan pengetahuan di dalam pembelajaran (Iif Khoiru Ahmadi dan Sofan Amri, 2014: 191).

Secara lebih rinci, pembelajaran tematik integratif dijelaskan sebagai pembelajaran yang mengintegrasikan beberapa kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam berbagai tema. Integrasi yang dilakukan mencakup dua hal. Yang pertama yaitu integrasi sikap, keterampilan, dan pengetahuan dalam pembelajaran. Sedangkan yang kedua merupakan dengan integrasi berbagai konsep dasar yang berkaitan (Daryanto dan Herry Sudjendro, 2014: 81).

16

Terdapat beragam definisi mengenai pembelajaran tematik integratif seperti yang telah diuraikan di atas. Dari beberapa pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran tematik integratif merupakan pembelajaran yang mengintegrasikan beberapa KD dari berbagai mata pelajaran ke dalam satu tema, serta integrasi aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Pengertian inilah yang digunakan peneliti untuk mendefinisikan pengertian pembelajaran tematik integratif.

Pendekatan yang digunakan untuk mengintegrasikan KD dari berbagai mata pelajaran yaitu intradisipliner, interdisipliner, multidisipliner, dan transdisipliner. Permendikbud Nomor 57 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah menjelaskan pengertian tersebut sebagai berikut:

a. Integrasi intradisipliner dilakukan dengan cara mengintegrasikan dimensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan menjadi satu kesatuan yang utuh di setiap mata pelajaran. Dengan demikian, aspek pengetahuan tidak lagi dominan disampaikan di dalam pembelajaran.

b. Integrasi interdisipliner dilakukan dengan menggabungkan KD beberapa mata pelajaran agar terkait satu dengan yang lainnya, sehingga dapat saling memperkuat, menghindari terjadinya tumpang tindih, dan menjaga keselarasan pembelajaran. Hal ini tergambar pada struktur Kurikulum SD untuk Kelas I-III yang

17

tidak ada mata pelajaran IPA dan IPS. Tetapi, muatan IPA dan IPS terintegrasi ke dalam mata pelajaran lain terutama Bahasa Indonesia.

c. Integrasi multidisipliner dilakukan dengan tanpa menggabungkan Kompetensi Dasar (KD) tiap mata pelajaran, sehingga setiap mata pelajaran masih mempunyai KDnya sendiri. Gambaran tersebut adalah IPA dan IPS yang berdiri sendiri di kelas IV-VI.

d. Integrasi transdisipliner dilakukan dengan mengaitkan berbagai mata pelajaran yang ada dengan berbagai permasalahan yang dijumpai di sekitarnya, sehingga pembelajaran menjadi kontekstual.

Dengan menggunakan tema di dalam pembelajaran tematik integratif, maka diharapkan siswa tidak mempelajari suatu konsep dasar secara terpisah-pisah. Pembelajaran tematik pada Kurikulum 2013 disusun dengan menggunakan berbagai integrasi seperti yang sudah dijelaskan, sehingga pembelajaran tematik ini berbeda dengan pembelajaran tematik yang dilakukan pada kurikulum sebelumnya (KTSP). Perubahan ini merupakan usaha penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya.

Permendikbud Nomor 57 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah menjelaskan bahwa struktur Kurikulum SD/MI terdiri atas mata pelajaran umum kelompok A dan mata pelajaran umum kelompok B. Mata pelajaran umum kelompok

18

A, yaitu Pendidikan Agama dan Budi pekerti, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), merupakan program kurikuler yang bertujuan untuk mengembangkan kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik sebagai dasar penguatan kemampuan dalam mempersiapkan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Mata pelajaran kelompok A ini merupakan kelompok mata pelajaran yang muatan dan acuannya dikembangkan oleh pusat. Akan tetapi ada pengecualian untuk mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, yaitu tidak diajarkan secara terpadu dalam pembelajaran tematik (berdiri sendiri).

Sedangkan mata pelajaran umum kelompok B yang terdiri dari mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya serta Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan merupakan program kurikuler yang bertujuan untuk mengembangkan kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik terkait lingkungan dalam bidang sosial, budaya, dan seni. Khusus untuk MI, dapat ditambah dengan mata pelajaran keagamaan yang diatur oleh Kementrian Agama. Muatan dan acuan dalam mata pelajaran kelompok B ini dikembangkan oleh pusat dan dapat dilengkapi dengan muatan atau konten lokal, misalnya Bahasa Daerah setempat.

Penggunaan tema dalam pembelajaran tematik integratif menjadi satu hal penting sebagai topik utama dalam pembelajaran.

19

Tema disusun dengan mempertimbangkan tingkatan perkembangan belajar dan psikologis siswa SD/MI, dimana anak masih harus belajar secara holistik (keseluruhan), dan dimulai dari hal yang nyata atau konkret, dan berhierarki (bertingkat dari hal yang mudah menuju hal yang sulit). Selain itu, tema haruslah diambil dari kehidupan sekitar siswa, sehingga dapat menggunakan pengalaman siswa, memberikan kebermaknaan dari pembelajaran yang dilakukan. Berikut merupakan daftar tema untuk kelas I dan IV.

Tabel 1. Daftar Tema Kelas I dan IV

KELAS I KELAS IV

1.Diriku 1.Indahnya kebersamaan

2.Kegemaranku 2.Selalu berhemat energi

3.Kegiatanku 3.Peduli terhadap lingkungan

hidup

4.Keluargaku 4.Berbagai pekerjaan

5.Pengalamanku 5.Pahlawanku

6.Lingkungan bersih, sehat, dan asri

6.Indahnya negeriku

7.Benda, hewan, dan tanaman di sekitarku

7.Cita-citaku

8.Peristiwa alam 8.Tempat tinggalku

9.Makananku sehat dan bergizi Sumber: Permendikbud Nomor 57 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah

Tema yang akan diamati di kelas I dalam penelitian ini adalah tema 6, yaitu “Lingkungan Bersih, Sehat, dan Asri. Sedangkan untuk tema kelas IV yang diamati dalam penelitian ini adalah tema 7, yaitu Cita-citaku. Kesiapan guru yang akan diteliti dalam tema 6 (kelas I) dan tema 7 (kelas IV) diharapkan mampu menggambarkan kesiapan

20

guru dalam mengimplementasikan pembelajaran tematik integratif dalam tema yang lainnya.

b. Arti Penting Pembelajaran Tematik Integratif

Pembelajaran tematik sangat penting dilakukan di SD/MI, karena sesuai dengan tahap perkembangan anak usia SD/MI. Beberapa arti penting pembelajaran tematik yang diungkapkan oleh Trianto (2011: 158) adalah sebagai berikut:

1. Dunia anak adalah dunia nyata.

Perkembangan mental anak adalah tahap berpikir nyata. Anak melihat objek yang dipelajari memuat sejumlah konsep atau materi beberapa mata pelajaran. Sebagai contoh, ketika anak berbelanja di pasar, maka anak akan dihadapkan dengan perhitungan (Matematika), percakapan tawar-menawar (Bahasa Indonesia), serta interaksi antara penjual dan pembeli (IPS).

2. Proses pemahaman anak terhadap suatu konsep dalam suatu peristiwa/objek lebih terorganisasi.

Saat berangkat sekolah, setiap anak sudah membawa pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya. Proses pemahaman terhadap mata pelajaran yang diberikan sangat tergantung pada pengetahuan awal siswa. Guru dan orang tua berperan sebagai fasilitator untuk menghubungkan pengetahuan yang sudah dimiliki siswa dengan pengetahuan baru yang akan dipelajari .

21

3. Pembelajaran akan lebih bermakna

Jika apa yang sudah dipelajari siswa dapat digunakan untuk mempelajari materi selanjutnya, maka pembelajaran yang dilakukan akan lebih bermakna. Sehingga siswa mempelajari sesuatu yang masih saling berhubungan (tidak terpisah-pisah). 4. Memberi peluang siswa guna mengembangkan kemampuan diri.

Melalui pembelajaran tematik, maka aspek sikap, keterampilan, dan pengetahuan lebih dapat dikembangkan.

5. Memperkuat kemampuan yang diperoleh

Kemampuan yang diperoleh siswa dari satu mata pelajaran akan saling memperkuat kemampuan yang diperoleh dari mata pelajaran yang lain.

6. Efisiensi waktu

Dengan penggabungan beberapa mata pelajaran dalam satu tema, maka guru dapat membuat RPP untuk beberapa mata pelajaran sekaligus.

Rusman (2011: 258) juga mengemukakan pentingnya pembelajaran tematik di dilaksanakan di SD/MI, antara lain:

1. Dengan menggabungkan beberapa kompetensi dasar dan indikator serta isi mata pelajaran, maka akan terjadi penghematan karena tumpang tindih materi dapat dikurangi atau bahkan dihilangkan.

22

2. Siswa dapat melihat hubungan yang bermakna, karena isi/materi pembelajaran lebih berperan sebagai sarana atau alat bukan sebagai tujuan akhir pembelajaran.

3. Pembelajaran tidak terkotak-kotak karena siswa dilengkapi dengan pengalaman belajar yang lebih terpadu, sehingga akan mendapat pengertian tentang proses dan materi yang lebih terpadu.

4. Memberikan penerapan-penerapan dari dunia nyata.

5. Penguasaan materi pembelajaran akan semakin baik, dan meningkat karena adanya pemaduan antar mata pelajaran.

Pembelajaran tematik integratif sangat penting dilaksanakan di tingkat SD/MI, karena mengajak siswa untuk aktif mencari pengetahuannya sendiri, sehingga pengetahuan yang diperoleh diharapkan akan lebih bermakna. Pembelajaran dihubungkan dengan peristiwa yang dialami atau dilihat siswa dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, pembelajaran tematik integratif juga sesuai dengan tahap perkembangan anak usia SD/MI yang memandang segala sesuatu masih secara keseluruhan.

c. Prinsip Pembelajaran Tematik Integratif

Prinsip pembelajaran tematik integratif seperti yang tercantum dalam Permendikbud Nomor 57 Tahun 2014 tentang Kurikulum 2013 Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah adalah sebagai berikut:

23

2. Pemisahan antar mata pelajaran tidak begitu nampak. Pembelajaran difokuskan pada kompetensi yang akan dicapai melalui tema. 3. Adanya tema yang menyatukan beberapa KD yang berkaitan

dengan berbagai konsep, sikap, dan keterampilan.

4. Sumber belajar yang lebih bervariasi, tidak terbatas pada buku teks. 5. Siswa dapat belajar secara individu maupun kelompok, sesuai

dengan karakteristik kegiatan yang dilakukan.

6. Guru harus merencanakan dan melaksanakan pembelajaran, sehingga dapat mengakomodasi keberagaman siswa, baik tingkat intelektual, pengalaman, maupun cara belajar.

7. Tidak memaksanakan KD yang tidak dapat dipadukan. KD tersebut dapat diajarkan secara mandiri.

8. Memandang segala sesuatu dari hal-hal yang konkret menuju ke abstrak, serta memberikan pengalaman langsung kepada siswa

(direct experiences).

Pembelajaran tematik integratif, menghendaki guru yang lebih aktif dan kreatif dalam mengembangkan bahan pelajaran, karena dalam buku panduan (buku guru) yang diterbitkan oleh Kemendikbud materi yang disajikan masih dalam standar minimal. Prinsip pembelajaran yang akan dianalisis lebih mendalam dalam penelitian ini adalah prinsip pemisahan antar mata pelajaran tidak begitu nampak, adanya tema yang menyatukan beberapa KD yang berkaitan, serta tidak memaksakan KD yang tidak dapat dipadukan.

24

Dokumen terkait