BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
6. Tinjauan Tentang Penelitian Tindakan Kelas
“Penelitian tindakan (action research) termasuk dalam ruang lingkup penelitian terapan (applied research) yang menggunakan antara pengetahuan, penelitian, dan tindakan.” (Endang Mulyatiningsih, 2011: 59). Penelitian tindakan kelas dapat didefinisikan suatu bentuk penelitian yang reflektif dengan melakukan
tindakan-tindakan tertentu untuk memperbaiki dan meningkatkan praktik
pembelajaran di kelas secara lebih berkualitas sehingga siswa dapat memperoleh hasil belajar yang lebih baik, sekaligus dapat digunakan sebagai alat untuk
mengembangkan keahlian mengajar (McNiff dalam Wijaya Kusumah, dkk (2010:8)).
“Kemmis (1982) menjelaskan bahwa penelitian tindakan kelas adalah sebuah bentuk inkuiri refleksi yang dilakukan secara kemitraan mengenai situasi social tertentu (termasuk pendidikan) untuk meningkatkan rasionalitas dan keadilan dari a)kegiatan prakteksosial atau pendidikan mereka b) pemahaman mereka mengenai kegiatan-
kegiatan praktek pendidikan ini, dan c) situasi yang memungkinkan terlaksananya kegiatan praktek ini.” (Rochiati Wiriaatmadja, 2008:12). Menurut Suharsimi Arikunto (2010:8) penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang sangat tepat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, dan yang selanjutnya dapat meningkatkan kualitas pendidikan secara luas.
Berdasarkan kajian mengenai Penelitian Tindakan Kelas diatas, maka yang dimaksid Penelitian Tindakan Kelas adalah penelitian yang dilakukan secara sistematika terhadap tindakan yang dilakukan guru yang disengaja dalam pembelajaran sehingga dapat mengevaluasi dan memperbaiki kondisi pembelajaran yang dilakukan.
b. Desain Penelitian Tindakan Kelas
Sebagai suatu penelitian yang bertujuan untuk mengatasi permasalahan yang ada didalam kelas, menyebabkan terdapatnya beberapa model atau desain yang dapat diterapkan dan telah dikembangkan.
Desain – desain tersebut dijelaskan oleh Endang Mulyatiningsih (2011: 68-73) diantaranya:
1) Model Lewin
Lewin mengembangkan model action research dalam sebuah system yang terdiri dari sub system input, transformation, dan output.
2) Model Riel
Model kedua dikembangkan oleh Riel (2007) yang membagi proses penelitian tindakan menjadi tahap-tahap: (1) studi dan perencanaan; (2) pengambilan tindakan; (3) pengumpulan data dan analisis kejadian; (4) refleksi.
Gambar 2. Kemajuan Pemecahan Masalah dengan Penelitian Tindakan Sumber: Riel, M. (2007)
3) Model Kemmis dan Mc Taggart
Kemmis dan Mc Taggart (1988) membagi prosedur penelitian tindakan dalam empat tahap kegiatan pada satu putaran (siklus) yaitu: perencanaan – tindakan dan observasi – refleksi.
Gambar 3. PTK Model Kemmis & Taggart 4) Model DDAER
Tiga model yang telah dicontohkan di atas memberi gambaran bahwa prosedur PTK sebenarnya sudah lazim dilakukan dalam program pembelajaran. Prosedur PTK akan lebih lengkap apabila diawali dengan kegiatan diagnosis masalah dan dilengkapi dengan evaluasi sebelum dilakukan refleksi. Desain lengkap PTK tersebut disingkat menjadi model DDAER (diagnosis, design, action and observation, evaluation, reflection).
Gambar 4. Desain PTK Model DDAER
Berdasarkan penjelasan diatas terdapat berbagai desain penelitian mulai dari yang basic kemudian dikembangkan menjadi desain penelitian yang diinginkan. Desain penelitian yang mudah dan dapat diterapkan dengan baik pada pembelajaran selama ini yakni Model Kurt Lewin dan Model Kemmis dan Mc Taggart, dikarenakan cukup mudah difahami prosesnya dan mendapatkan hasilnya.
c. Tahapan Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Dalam melaksanakan PTK menurut Wijaya Kusumah,dkk (2010:38) ada beberapa langkah yang harus diikuti oleh peneliti, antara lain:
a) Adanya ide awal
Pada umumnya ide awal yang menggayut di PTK ialah terdapatnya permasalahan yang berlangsung dalam suatu kelas. Ide awal tersebut diantaranya berupa upaya yang dapat ditempuh untuk mengatasi permasalahan. Dalam penerapan PTK itu, dapat diketahui hal-hal yang perlu dilakukan peneliti demi perubahan dan perbaikan dalam kelas.
b) Pra survei
Dimaksudkan untuk mengetahui secara detail kondisi yang terdapat didalam kelas yang akan diteliti, dengan tahapan ini peneliti sudah mengetahui kondisi kelas
c) Diagnosis
Dengan diperolehnya hasil diagnosis, peneliti PTK akan dapat menentukan berbagai hal misalnya strategi pengajaran, media pengajaran, dan meteri pengajaran yang tepat dalam kaitannya dengan implementasi PTK. Diagnosis tidak diperlukan bagi guru yang melakukan PTK dikelasnya sendiri.
d) Perencanaan
Penentuan perencanaan dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu perencanaan umum dan perencanaan khusus. Perencanaan umum dimaksudkan untuk menyusun rancangan yang meliputi keseluruhan aspek yang terkait PTK. Sementara itu, perencanaan khusus dimaksudkan untuk menyusun rancangan dari siklus ke siklus. Hal yang direncanakan diantaranya terkit dengan pendekatan pembelajaran, metode pembelajaran, teknik atau strategi pembelajaran, dan sebagainya. Biasanya perencanaan dimasukkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dan juga dapat dimasukkan dalam silabus mata pelajaran yang bersangkutan.
e) Implementasi tindakan
Pada prinsipnya merupakan realisasi dari suatu tindakan yang sudah direncanakan sebelumnya, strategi, materi apa yang akan dibahas, dan sebagainya. PTK mendorong kebebasan guru dalam berrfikir dan berargumentasi dalam bereksperimen, meneliti, dan mengambil keputusan.
f) Pengamatan
Pengamatan atau observasi dapat dilakukan sendiri oleh peneliti. Pada saat monitoring pengamat harusnya mencatat semua peristiwa yang terjadi di kelas penelitian. Metode pengumpulan data yang digunakan tidak menuntut waktu yang
berlebihan dari guru sehingga tidak berpeluang mengganggu proses pembelajaran. Dengan kata lain sejauh mungkin harus menggunakan proses pengumpulan data yang dapat ditangani sendiri oleh guru sementara ia tetap aktif berfungsi sebagai guru yang bertugas secara penuh.
g) Refleksi
Ialah suatu kegiatan memikirkan suatu upaya atau evaluasi yang dilakukan oleh para kolabolator yang terkait dengan suatu PTK yang dilaksanakan. Refleksi ini dilakukan dengan kolaboratif, yaitu adanya diskusi dari berbagai masalah yang terjadi didalam kelas penelitian, dengan demikian refleksi dapat ditentukan dengan adanya implementasi tindakan dan hasil oservasi. Berdasarkan refleksi ini pula suatu perbaikan tindakan seanjutnya ditentukan.
h) Penyusunan laporan PTK
Laporan hasil PTK seperti halnya laporan penelitian lain, karena pada dasarnya PTK yang dilakukan guru atau peneliti lebih bersifat individual. Artinya bahwa tujuan
utama bagi PTK adalah self-improvement melalui self-evaluation dan self-reflection
yang pada akhirnya bermuara pada peningkatan mutu proses dan hasil belajar siswa. Guru atau dosen (tenaga pendidik) dalam PTK dijelaskan oleh Iskandar (2012:9) yakni mampu mengajar sekaligus meneliti sebagai upaya mengejewantahkan profesionalnya bagaimana keberlangsungan proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru/dosen di kelas/ di ruang kuliah berjalan dengan bermutu dan bermakna. Keterlibatan guru dalam berbagai kegiatan kreatif dan inovatif yang bersifat pengembangan mengharuskan guru mampu melakukan PTK di kelasnya. Gurupun mempunyai hak otonom untuk menilai sendiri kinerjanya, metode paling utama adalah
merefleksikan diri dengan tetap mengikuti kaidah penelitian baku bukan tradisional. Karena pada penelitian tradisional terkadang sangat sukar diterapkan untuk memperbaiki pembelajaran disekolah.
Berdasarkan penjelasan di atas pelaksanaan penelitian sacara garis besar terdiri dari empat langkah utama PTK yaitu perencanan, tindakan, pengamatan, dan refleksi yang merupakan satu langkah dalam satu siklus. Dalam PTK siklus selalu berulang, setelah satu siklus selesai yang disebabkan adanya kemungkinan guru menemui masalah baru, memecahkan masalah baru atau masalah lama yang belum tuntas dipecahkan, dilanjutkan ke siklus kedua dan seterusnya dengan langkah yang sama dengan siklus pertama.
7. Tinjauan Tentang Metode Penelitian