LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Tentang Pondok Pesantren
1. Pengertian pondok pesantren
Pondok pesantren menurut M. Arifin dalam Mujamil Qomar berarti: suatu lembaga pendidikan agama Islam yang tumbuh serta diakui masyarakat sekitar, dengan sistem asrama (kelompok) dimana santri-santri menerima pendidikan agama melalui sistem pengajian atau madrasah yang sepenuhnya berada dibawah kedaulatan dari
leadership seorang atau beberapa orang kiai dengan ciri-ciri khas yang bersifat karismatik serta independen dalam segala hal.15
2. Tujuan Pendidikan Pesantren
Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang penyelenggaraan pendidikanya secara umum dengan cara non klasikal, yaitu seorang kiai mengajarkan ilmu agama Islam kepada santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh ulama-ulama Arab abad pertengahan. Para santri biasanya tinggal dalam pondok (asrama) dalam pesantren tersebut. Selama ini memang belum pernah ada rumusan tertulis mengenai tujuan pendidikan pesantren. Minimal para kiai mempersiapkan para santrinya sebagai tenaga siap
15
Mujamil Qomar, Pesantren Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi.
pakai tanpa harus bercita-cita menjadi pegawai negeri. Namun lebih jauh para santri sebagian besar menjadi pemuka masyarakat yang diidam-idamkan oleh masyarakat.
Berdasarkan tujuan pendirianya, pesantren hadir dilandasi sekurang-kurangnya oleh dua alasan: pertama, pesantren dilahirkan untuk memberikan respon terhadap situasi dan kondisi sosial suatu masyarakat yang tengah dihadapakan pada runtuhnya sendi-sendi moral, melalui transformasi nilai yang ditawarkan (amar ma‟ruf nahi
munkar). Kehadiranya dengan demikian dapat disebut sebagai agen perubahan (agen of social changes) yang selalu melakukan kerja-kerja pembebasan (liberation) pada masyarakat dari segala keburukan moral, penindasan politik, dan kemiskinan ekonomi. Mungkin juga seandainya kita tidak pernah dijajah, pesantren-pesantren itu tidaklah begitu jauh terpencil didaerah pedesaan-pedesaan seperti kebanyakan pesantren sekarang ini, melainkan akan berada di kota-kota pusat kekuasaan atau ekonomi, atau sekurang-kurangnya tidak terlalu jauh dari sana, sebagaimana halnya sekolah-sekolah keagamaan dibarat yang kemudia tumbuh menjadi universitas-universiras tersebut.
Kedua, salah satu tujuan didirikanya pesantren adalah untuk menyebar luaskan informasi ajaran tentang universalitas Islam keseluruh pelosok nusantara yang berwatak pluralis, baik dalam dimensi kepercayaan, budaya maupun kondisi sosial masyarakat.
Dari paparan diatas, dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan pesantren adalah menciptakan dan mengembangkan kepribadian muslim, yaitu kepribadian yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan, beraklaq mulia, bermanfaat atau berkhidmat kepada masyarakat dengan jalan menjadi kawula atau abdi masyarakat, mampu berdiri sendiri, bebas dan teguh dalam kepribadian, menyebarkan agama atau menegakkan Islam ditengah-tengah masyarakat dan mencintai ilmu dalam mengembangkan kepribadian yang muhsin tidak hanya sekedar Muslim.16 Adapun metode pembelajaran yang lazim digunakan dipesantren tradisional adalah metode-metode tradisional. Tradisional disini diihat dari sistem metodologi pembelajaran yang diterapkan dunia pesantren. Penyebutan tradisional dalam kontek praktek pembelajaran pesantren, didasarkan pada sistem pembelajaran yang monologis, bukan dialogis-emansipatoris.17
3 Sistem Pendidikan dan Pengajaran Pondok Pesantren
Pola pendidikan dan pengajaran di pondok pesantren erat kaitanya dengan tipologi pondok pesantren maupun ciri-ciri( karekteristik) pondok pesantren itu sendiri. Dalam melaksanakan proses pendidikan sebagian besar pesantren di indonesia pada umumnya menggunakan beberapa sistem pendidikan dan pengajaran yang bersifat tradisional.
16
Binti Maunah, Tradisi Intelektual Santri. (Yogyakarta: Teras, 2009), hal. 26 17
Ahmad El Chumaedy, ‟‟Membongkar Tradisionalisme Pendidikan Pesantren‟‟, dalam
Pemahaman sitem yang bersifat tradisional adalah lawan dari sistem yang moderen. Sistem tradisional adalah sistem yang berangkat dari pola pengajaran yang sangat sederhana, yakni pola pengajaran sorogan, bandongan, wetonan dalam mengkaji kitab-kitab agama yang ditulis oleh para ulama zaman abad pertengahan dan kitab-kitab itu dikenal dengan istilah”kitab kuning”.
Pertama sorogan; sistem pengajaran dengan pola sorogan
dilaksanakan dengan jalan santri yang biasanya pandai menyorogan sebuah kitab kepada kiai untuk dibaca di hadapan kiai itu. Di pesantren besar sorogan dilakukan oleh dua atau tiga orang santri saja, yang biasa terdiri dari keluarga kiai atau santri-santri yang diharapkan di kemudian hari menjadi orang alim. Dalam sistem pengajaran model ini seorang santri harus betul-betul menguasai ilmu yang dipelajarinya sebelum kemudian mereka dinyatakan lulus, karena sistem pengajaran ini dipantau langsung oleh kiai. Dalam perkembangan selanjudnya sistem ini semakin jarang dipraktekan dan ditemui karena memakan waktu yang lama.
Kedua, wetonan; sitem pengajaran dengan jalan wetonan ini dilaksanakan dengan jalan kiai membaca suatu kitab dalam waktu tertentu dan santri dengan membaca kitab yang sama mendengarkan dan menyimak bacaan kiai. Dalam sistem pengajaran yang semacam ini tidak dikenal adanya absensi (daftar hadir). Santri boleh datang, boleh tidak, dan juga tidak ada ujian. sistem ini biasanya dilaksanakan
dengan belajar secara berkelompok yang diikuti oleh para santri. Mekanismenya, seluruh santri mendengarkan kitab yang dibacakan kiai, setelah itu kiai akan menjelaskan makna yang terkandung didalam kitab yang telah dibacakanya, santri tidak mempunyai hak untuk bertanya, terlepas apakah santri –santri tersebut mengerti atau tidak terhadap apa yang telah di sampaikan kiai. Adapun kelompok-kelompok kelas yang ada dalam sistem pengajaran ini, dikenal dengan sistem halaqoh.
Ketiga, bandongan; sistem pengajaran yang serangkaian dengan sistem sorogan dan wetonan, yang dalam prakteknya dilakukan saling kait-mengait dengan yang sebelumnya. Dalam sistem bandongan ini seorang santri tidak harus menunjukan bahwa ia mengerti terhadap pelajaran yang sedang dihadapi atau disampaikan, para kiai biasanya membaca dan menterjemahkan kata-kata yang mudah.
Ketiga pola pengajaran ini berlangsung semata-mata tergantung kepada kiai sebab segala sesuatunya berhubungan dengan waktu, tempat dan materi. Selain itu, pengajaran (kurikulum) yang dilaksanakan dipesantren terletak pada kiai atau ustadz dan sekaligus yang menentukan keberhasilan proses belajar mengajar di pondok
pesantren. Sebab otoritas kiai sangat dominan didalam pelaksanaan pendidikanya, selain dia sendiri yang memimpin pondok itu.18
4 Elemen-elemen Pondok Pesantren
Elemen-elemen dalam sebuah pesantren antara lain; pondok,
adalah merupakan elemen pertama dari sebuah lembaga pendidikan pesantren. Didalam pondok, santri, ustadz dan kiai mengadakan interaksi yang terus menerus tetap dalam rangka keilmuan, tentu saja, karena sistem pendidikan dalam pesantren bersifat holistik, maka pendidikan yag dilaksanakan dipesantren merupakan kesatu paduan atau lebur dalam totalitas kegiatan hidup sehari-hari.
Masjid, elemen ini adalah elemen pendidikan yang sangat urgen dalam sebuah proses pendidikan. Diantara warisan peradaban Islam dan sekaligus asset bagi pembangunan pendidikan nasional di indonesia adalah pendidikan Islam.
Pengajian kitab-kitab klasik, elemen ini juga menjadi bagian yang penting dalam sebuah pesantren, karena tanpa elemen ini identitas pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam akan kabur dan kemudian lama-kelamaan akan terkikis habis. Pengajaran kitab-kitab klasik ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman terhadap ajaran Islam secara lebih kuat dan mendalam sekaligus membandingkan pemikiran-pemikiran tentang Islam yang berkembang searah dengan
18
kemajuan zaman, untuk kemudian dijadikan acuan berijtihad didalam menjawab berbagai persoalan yang berkembang dimasyarakat.
Santri, elemen ini adalah sebagai obyek dari pelaksanaan pendidikan dipesantren itu sendiri. Santri adalah para murid yang belajar keislaman dari kiai. Elemen ini sangat penting karena tanpa santri, kiai akan seperti raja tanpa rakyat. Santri adalah sumber daya manusia yang tidak saja mendukung keberadaan pesantren, tetapi juga menopang pengaruh kiai dalam masyarakat.
Kiai dan para pembantunya; elemen ini juga sama pentingnya dengan santri karena kiailah yang mendirikan pesantren. Dan pesantren adalah lembaga penting tempat kiai menjalankan kekuasaanya. Memang tidak semua kiai memiliki pesantren, namun yang jelas adalah bahwa kiai yang memiliki pesantren mempunyai pengaruh yang besar dari pada kiai yang tidak memiliki pesantren.19