BAB II KAJIAN PUSTAKA
B. Tinjauan Teori dan Konsep
1. Pragmatik
Pragmatik merupakan kajian atau makna yang muncul dalam penggunaan bahasa. Pragmatik berurusan dengan kajian makna sebagaimana dikomunikasikan oleh seorang penutur atau penulis, dan diinterpretasikan oleh seorang pendengar atau pembaca. (Yule 2014:1) menyebutkan empat bidang yang digarap oleh pragmatik, yakni kajian terhadap makna kontekstual, kajian tentang bagaimana orang-orang tahu lebih banyak hal yang dikomunikasikan dari pada yang dikatakan, dan kajian tentang ekspresi jarak relative.
14
Menurut (Tarigan 2009:31) pragmatik adalah telaah mengenai relasibahasa dan konteks yang merupakan dasar bagi suatu catatan atau laporan pemahaman bahasa dengan kata lain telaah mengenai kemampuan pemakai bahasa menghubungkan serta penyerasian kalimat-kalimat dan konteks-konteks secara tepat. Oleh sebab itu, pragmatik memiliki hubungan antara bahasa dan konteks yang mendasari penjelasan pengertian bahasa.
Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa pragmatik juga mengkaji kondisi-kondisi penggunaan bahasa manusia yang ditentukan oleh konteks kemasyarakatan. Penggunaan bahasa secara langsung yang melibatkan penutur dan mitra turur dalam situasi pemakaian tertentu, serta mengenai hal tertentu. Kondisi penggunaan bahasa itu ditentukan oleh konteks yang terdapat dalam masyarakat, karena konteks ini sangat mempengaruhi makna satuan bahasa, mulai dari kata sampai pada sebuah wacana.
2. Konteks
Menurut (Mulyana 2005:21) konteks ialah situasi atau latar terjadinya suatu komunikasi. Konteks dapat dianggap sebagai sebab dan alasan terjadinya suatu yang berkaitan dengan arti, maksud maupun informasinya sangat tergantung pada konteks yang melatarbelakangi peristiwa tuturan itu. Salah satu unsur konteks yang cukup penting ialah waktu dan tempat. Dalam berbahasa atau berkomunikasi konteks adalah hal yang penting.
15
Selanjutnya menurut Djajasudarma (2010, p.27), konteks memiliki beberapa unsur yaitu, situasi, pembicara, pendengar, waktu, tempat, adegan, topik, peristiwa, bentuk, amanat, kode dan lainnya. Sejalan dengan hal tersebut tedapat beberapa unsur-unsur yaitu:
1. Latar, ini mengacu pada tempat dan waktu atau tempat terjadinya sebuah percakapan.
2. Peserta, peserta mengacu pada peserta percakapan yakni, pembicara dan pendengar atau kawan bicara.
3. Hasil, hasil mengacu pada hasil percakapan dan tujuan percakapan, misalnya seorang pengajar bertujuan memberikan pelajaran yang menarik kepada para pembelajar itu sendiri.
4. Amanat, amanat mengacu pada bentuk dan isi amanat. Bentuk amanat dapat berupa surat, esai, dan lainnya.
5. Cara (key), mengacu pada semangat melaksanakan percakapan, misalnya, dengan cara bersemangat, dan lainnya.
Sedangkan menurut Pranowo (2014, p.144), menyatakan bahwa konteks yaitu segala situasi yang dapat melingkupi suatu ujaran dan dapat menentukan maksud. Apa interpretasi kita bila ada dua orang muda-mudi yang duduk berhimpitan disuatu tempat. Bila kita mengetahui bahwa kedua muda-mudi itu duduknya di dalam bus yang penuh dengan penumpang dan kursi yang ditempati oleh tiga orang maka interpretasi kita menjadi sangat biasa “oh kasihan penumpang bus itu, mereka di jejalkan seperti kayu saja!”. Tetapi apabila mereka
16
berada di tengah taman alun-alun yang sedang sepi orang melihat kejadian muda-mudi yang duduk berhimpitan interpretasi kita menjadi lain lagi. Hal ini karena konteks peristiwanya sangat berbeda meskipun ujarannya sama.
Dari pengertian di ataspeneliti menyimpulkan bahwa konteks berhubungan dengan makna dalam kata atau kalimat, namun bagaimana kaitannya dengan partisipan tutur dan bagaimana tuturan tersebut diasumsikan.
“ KOPI RUMAH MANTAN”
Praanggapan yang terdapat dalam nama warung kopi di atas antara lain,
(a) Kopi buatan mantan
(b) Kopi di minum di rumah mantan
Praanggapan tersebut muncul dari nama warung kopi yang dipahami konteks lokasi terjadinya. Adanya penggunaan kata kopi, rumah, dan mantan, menentukan konteks tersebut.
Ketiga unsur di atas merupakan hal penting yang sangat membantu dan saling mendukung dalam kemunculan praanggapan pada suatu nama warung kopi. Pada bagian analisis, ketiga hal tersebut menjadi batasan penelitian dan akan digunakan sebagai penentu munculnya praanggapan dan juga jenis-jenis praanggapan.
17
3. Praanggapan
Praanggapan menurut Dia (2012, p.9) adalah perlakuan filosofis dan linguistik dari kesepakatan praanggapan dengan rentang yang sangat jauh lebih sempit dari fenomena selain yang termasuk dalam pengertian bahasa istilah biasa. Efek pragmatis umum mengedepankan dan melatarbelakangi informasi dalam kalimat dapat dicapai dengan cara yang tidak presupposisional dalam arti sempit, misalnya dengan mengubah urutan kata, memanfaatkan subordinasi sintaksis, penekanan prosodi atau partikel tegas disediakan oleh banyak bahasa. Prasangka tidak benar diperlakukan sebagai kesimpulan terkait dengan unsur-unsur linguistik dari beberapa unsur dalam cara yang tidak dapat diprediksi.
Sedangkan (Nadar 2009:66) menyimpulkan bahwa definisi-definisi mengenai praanggapan pragmatik mengandung dua hal pokok yaitu kesesuaian “appropriateness” atau kepuasan “felicity” dan pemahaman bersama “mutual knowledge” atau “common ground” atau “joint assumption”. Dengan demikian pemahaman bersama “common ground”
dan kesesuaian merupakan hal-hal mendasar dalam berbagai definisi mengenai praanggapan pragmatik.
Hal senada juga di ungkapkan oleh Sari, dkk (2017), bahwa
“presupposition” yang ada dalam bahasa Indonesia berarti praanggapan dimaknai secara berbeda dari tiap-tiap ahli bahasa, sehingga dapat disimpulkan bahwa praanggapan adalah kesimpulan atau asumsi awal
18
penutur sebelum melakukan tuturan bahwa apa yang disampaikan juga dapat dipahami oleh mitra tutur.
Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa Praanggapan merupakan kesimpulan atau asumsi awal penutur sebelum mengetahui makna yang sebenarnya dari hasil interaksi kompleks antara pemberian semantik dan pragmatis, akan tetapi, untuk model interaksi ini, dibutuhkan lebih jauh tentang kedua struktur tersebut. Praanggapan tetapi menjadi pijakan penting bagi studi tentang bagaimana semantik dan pragmatik berinteraksi.
4. Jenis-jenis Praanggapan
Praanggapan sudah diasosiasikan dengan pemakaian sejumlah besar kata, frase, dan struktur (Yule 2014:35) mengklasifikasikan praanggapan ke dalam 6 jenis praanggapan, yaitu praanggapan eksistensial, praanggapan faktif, praanggapan non-faktif, praanggapan leksikal, praanggapan struktural, dan praanggapan konterfaktual sebagai berikut .
1. Praanggapan Eksistensial
Praanggapan Eksistensial merupakan asumsi bahwa seseorang atau sesuatu yang diidentifikasikan dengan menggunakan frasa kata benda, benar-benar ada. Praanggapan eksistensial tidak hanya menjelaskan satu arti, tetapi menjelaskan suatu maksud dengan lebih luas lagi.
19
Contoh:
a. Orang itu berjalan. (Ada orang yang berjalan)
b. Perempuan itu melangkah. (Ada perempuan melangkah) (Yule 2014:35) 2. Praanggapan Faktif
Praanggapan faktif yaitu praanggapan bahwa informasi yang dinyatakan setelah kata-kata tertentu adalah benar, biasanya, informasi yang dipraanggapkan mengikuti kata kerja, sehingga dapat dianggap sebagai kenyataan.
Contoh :
a. Dia tidak menyadari bahwa ia terluka. (Dia terluka)
b. Kami menyesal datang kerumahnya. (Kami datang kerumahnya)
(Yule 2014:35) 3. Praanggapan Leksikal
Praanggapan leksikal yaitu praanggapan yang menggunakan satu kata, penutur dapat bertindak bahwa makna (kata) yang lain akan dipahami. Sehingga, pada praanggapan leksikal suatu kata dapat menimbulkan makna kata lainnya.
Contoh :
a. Dia berhenti merokok. (Dulu dia biasa merokok)
b. Mereka mulai mengeluh. (Sebelumnya mereka tidak mengeluh)
(Yule 2014:35)
20
4. Praanggapan Non-Faktif
Praanggapan Non-Faktif yaitu praanggapan bahwa informasi tertentu, sebagaimana yang disajikan tidak benar.
praanggapan ini menimbulkan makna-makna yang kebenarannya masih perlu di dipertanyakan (ambigu).
Contoh:
a. Saya membayangkan bahwa saya berada di Korea.
(Saya tidak berada di Korea)
b. Kalau saya memiliki banyak perusahaan. (Saya tidak memiliki banyak perusahaan)
(Yule 2014:35) 5. Praanggapan Struktural
Praanggapan struktural yaitu praanggapan yang menyatakan bahwa bagian suatu struktur mengandung informasi yang dianggap telah diketahui. Struktur kalimat tertentu telah dianalisis sebagai praanggapan secara tetap bahwa bagian struktur itu diasumsikan kebenarannya dan mudah dipahami. Hal ini terdapat dalam kalimat tanya sesudah diketahui sebagai suatu masalah.
Contoh :
a. Di mana anda membeli sepeda itu? (Anda membeli sepeda?)
b. Kapan dia datang? (Dia datang?)
(Yule 2014:35)
21
6. Praanggapan Kontrafaktual
Praanggapan kontrafaktual yaitu praanggapan bahwa informasi tertentu, sebagaimana yang disajikan tidak benar.
Praanggapan ini menimbulkan makna-makna yang kebenarannya masih perlu di tanyakan.
Contoh:
a. Seandainya Ibu kota Kalimantan Timur ada di Balikpapan. (Ibu kota Kalimantan Timur bukan di Balikpapan)
b. Kalau saja lelaki dapat hamil, mungkin lelaki biasa mengetahui sakitnya. (Lelaki tidak dapat hamil dan tidak mungkin bias mengetahui sakitnya)
(Yule 2014:35) Dari beberapa definisi dan pemahaman di atas, maka kita bisa menyimpulkan arti dan fungsi dari praanggapan adalah untuk memberikan anggapan yang dianggap sesuai dengan penggunaan yang ada dalam kalimat yang diucapkan tersebut sehingga mampu memberikan kesimpulan atau asumsi awal penutur sebelum melakukan tuturan, bahwa apa yang akan di sampaikan juga dipahami oleh mitra tutur.
22
Tabel 1 Indikator Praanggapan
NO Indikator Deskriptor
1. Praanggapan Ekstensial
Praanggapan Eksistensial menunjukkan eksistensi atau keberadaan atau jati diri benda atau orang yang diungkapkan dengan kata yang tertentu
2. Praanggapan Faktif
Praanggapan faktif yaitu praanggapan dimana informasi yang di praanggapkan mengikuti kata kerja dapat dianggap sebagai satu kenyataan.
3. Praanggapan Leksikal
Praanggapan leksikal yaitu praanggapan di mana makna yang dinyatakan secara konvensional ditafsirkan dengan praanggapan bahwa suatu makna lain dipahami.
4. Praanggapan Non-Faktif
Praanggapan Non-Faktif yaitu praanggapan yang diasumsikan tidak benar.
5. Praanggapan Struktural
Praanggapan struktural yaitu praanggapan yang mengacu pada struktur kalimat-kalimat tertentu dan telah dianalisis sebagai praanggapan secara tetap dan konvensional bahwa bagian struktur itu sudah diasumsikan kebenarannya.
6. Praanggapan Kontrafaktual
Praanggapan Kontrafaktual berarti bahwa yang dipraanggapkan tidak hanya tidak benar, tetapi juga merupakan kebalikan (lawan) dari benar atau bertolak belakang dengan kenyataan.
5. Iklan
Iklan atau advertising dapat didefinisikan sebagai “any paid from of non personal communication about an organization, product, service, or idea by an identifiet sponsor” (setiap bentuk komunikasi
23
nonpersonal mengenai suatu organisasi, prodek servis atau ide yang dibayar oleh satu sponsor yang diketahui Morisson (2010 p.17).
Pujiyanto (2013, p.3) menyatakan bahwa iklan merupakan suatu lukisan-lukisan, tulisan, sebagai media komunikasi yang merupakan wakil atau gambaran hasil produk seseorang, yang memerlukan biaya untuk mempromosikan hasil produksinya melalui iklan dengan maksud untuk memengaruhi suatu tujuan dalam bidang perdagangan baik perusahaan maupun pemakai produk tersebut. Hal tersebut bertujuan agar konsumen dapat terpengaruh untuk membeli produk atau jasa yang ditawarkan dari iklan tersebut.
Iklan yang menjadi penelitian ini adalah pada nama warung kopi dengan berbagai macam nama-nama yang unik dan mengandung praanggapan yang ketika seseorang melihat atau mendengar nama tersebut. Kaitan iklan dengan penelitian pada nama warung kopi ini adalah agar pemilik warung kopi memiliki kemampuan untuk membuat nama warung kopi yang lebih menarik, karena jika nama warung kopi nya unik dan menarik akan mendatangkan konsumen baru sekaligus mengikat konsumen lama.
6. Warung Kopi
Menurut Kurniawan (2017), warung kopi merupakan sebuah tempat yang tidak harus besar namun menawarkan banyak hal disana. Siapa yang menyangka keberadaan sebuah warung kopi menjadi sarana bertemunya banyak orang yang awalnya tidak kenal
24
menjadi kenal. Warung-warung kopi sering terlihat di pinggir-pinggir jalan raya, dan memiliki ciri khas masing-masing dilihat dari segi strategis lokasi warung kopi. Sebenarnya tidak hanya beraneka macam kopi yang ditawarkan di sebuah kopi, namun ada juga minuman instan, makanan ringan dan makanan berat. Biasanya makanan-makanan tersebut merupakan titipan dari orang lain untuk dijualkan disana.
Berdasarkan pendapat di atas peneliti menyimpulkan bahwa warung kopi adalah bagian dari kehidupan untuk kaum muda dan tua yang menyukai untuk berkumpul dengan kerabat di warung kopi.
Berkumpul di warung kopi tidak hanya sebagai tempat minum kopi, tetapi juga sebagai pusat untuk mendapatkan berbagai informasi, membuat forum diskusi, dan bisa juga di jadikan sebagai tempat untuk rapat.
25
D. Kerangka Pikir
Kerangka pikir yang peneliti buat bertujuan untuk memberikan gambaran pada Bab II mengenai teori-teori yang menjadi dasar penelitian ini. Kerangka berpikir terlihat pada gambar di bawah ini.
Praanggapan Eksistensial
Praanggapan Faktif
Praanggapan Leksikal
Praanggapan Non-Faktif Praanggapan Struktural Praanggapan
Praanggapan Kontra faktual Pragmatik
Kesimpulan Analisis
Menggunakan teori Pragmatik yaitu Praanggapan Metode
penelitian kualitatif Deskriptif
Kerangka Berpikir
26
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. (Moleong 2018:26) mendefinisikan penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata atau bahasa. Kualitatif deskriptif dalam penelitian ini akan menghasilkan praanggapan merujuk pada bahasa nama warung kopi.
Penelitian ini menganalisis data tertulis yang berupa data iklan nama warung kopi. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Bogdam dan Taylor dalam (Moleong 2018:4) menyatakan penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Menurut mereka, pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara utuh. Penelitian kualitatif yang dimaksud yaitu untuk memahami makna dari iklan nama warung kopi yang mempunyai sebuah praanggapan.
Secara teoretis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan pragmatik. Pragmatik yang mengkaji suatu
27
istilah yang mengesankan namun istilah tersebut tidak mempunyai makna yang jelas, makna dari sebuah bahasa yang berbeda dari makna kata yang sebenarnya.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian yaitu Kalimantan yaitu Kota Balikpapan yaitu meliputi semua warung kopi yang terdapat di kota Balikpapan, seperti warung kopi yang terdapat di mall atau di daerah sekitar wilayah Balikpapan. Peneliti menetap di lokasi penelitian untuk mengumpulkan data yang diperlukan selama dua bulan pada bulan Februari - April 2022.
C. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah langkah yang paling penting dalam penelitian untuk mencapai tujuan utama. (Sugiyono 2018:224) berpendapat bahwa teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dalam penelitian adalah mendapatkan data tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan.
Dalam penelitian ini yang dapat membantu penulis dalam menganalisis dan menguraikan objek penelitian. Kemudian, teknik selanjutnya yaitu teknik simak dan teknik catat, berikut penjelasannya.
28
1. Teknik Simak
Menurut (Mahsun 2012:92), teknik simak digunakan dengan untuk memeroleh data dilakukan dengan menyimak penggunaan bahasa. Istilah menyimak di sini tidak hanya berkaitan dengan penggunaan bahasa secara tertulis. Teknik ini memiliki teknik dasar yang berwujud teknik sadap. Dalam penelitian ini teknik simak yang dilakukan dengan penyadapan. Dalam arti, peneliti dalam upaya mendapatkan data dilakukan dengan melihat dan mendokumentasikan gambar iklan warung kopi atau dari beberapa orang yang menjadi informan terkait dengan lokasi warung kopi untuk memeroleh data yang akurat.
2. Teknik Catat
Setelah dilakukannya teknik simak, dilanjutkan lagi dengan teknik catat. Menurut (Mahsun 2012:93), teknik catat yaitu teknik lanjutan yang dilakukan ketika menerapkan metode simak.
Dalam penelitian ini teknik catat dilakukan dengan mencatat data yang diperoleh dan di catat dalam kartu data. Kemudian kartu data tersebut di kategorikan sesuai jenis-jenis praanggapan.
3. Teknik wawancara
Wawancara Mendalam (In-depth Interviewing) Tujuan utama melakukan wawancara adalah untuk menyajikan kontruksi dalam suatu konteks mengenai para pribadi, peristiwa, aktivitas, organisasi, perasaan, motivasi, tanggapan atau persepsi,
29
tingkat dan bentuk keterlibatan, dan sebagainya dari pengalaman masa lampau, dan memproyeksikan hal- hal itu dikaitkan dengan harapan yang bisa terjadi dimasa yang akan datang.
Moleong (2000: 148) menyatakan bahwa wawancara mendalam adalah percakapan yang dilakukan oleh kedua belah pihak dengan maksud tertentu. Kedua pihak yaitu pewawancara (Interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (Interviewer) yang memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Secara rinci kegiatan wawancara mendalam ini dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
1. Wawancara hanya dilakukan terhadap informan yang telah dipilih.
2. Sebelum melakukan wawancara, peneliti membuat pedoman wawancara agar dapat berjalan dengan produktif.
3. Menghubungi atau mengkonfirmasi kesedian informan untuk diwawancarai.
4. Melakukan wawancara dengan materi yang telah dipersiapkan sebelumnya.
5. Mencatat hasil wawancara tersebut. Dalam masalah mewawancarai ini, peneliti memutuskan mewawancarai kedua belah pihak, yakni pemilik warung kopi dan
30
pengunjung warung kopi ini dilakukan guna mendapatkan data.
D. Teknik Analisis Data
Menurut (Sugiyono 2018:224) teknik analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengoraganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan akan dipelajari dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.
Penelitian ini disusun dan dilaksanakan dengan menggunakan model analisis data kualitatif menurut (Sugiyono 2018:246) yang mengemukakan bahwa langkah-langkah dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas sehingga datanya sudah jenuh. Ukuran kejenuhan data ditandai dengan tidak diperolehnya lagi data.
Langkah-langkah dalam analisis data meliputi reduksi data , sajian data, dan simpulan. Berikut langkah-langkah dalam analisis data :
31
1. Reduksi Data
Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu perlu dicatat secara teliti dan rinci. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok.
Memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari pola dan temanya.
Dalam hal ini peneliti mencari data dan menulis data yang sesuai dengan fokus penelitian, yakni praanggapan pada tempat makan. Data pada penelitian ini adalah kata-kata pada nama tempat warung kopi yang terdapat di kota Balikpapan.
2. Sajian Data
Sajian data merupakan proses pengumpulan informasi yang disusun berdasarkan kategori atau pengelompokkan yang diperlukan. Sajian data dilakukan dengan cara mengumpulkan data secara tersusun, yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Hal ini dilakukan dengan alasan agar peneliti dapat menguasai data dan tidak terpaku pada tumpukan data, serta memudahkan penelitian untuk merencanakan tindakan selanjutnya. Data dalam penelitian ini akan dikelompokan pada bahasa iklan nama warung kopi di Balikpapan berdasarkan ke 6 jenis-jenis praanggapan.
32
3. Simpulan
Simpulan atau verifikasi merupakan proses perumusan makna dari hasil penelitian yang diungkapkan dengan kalimat yang singkat, padat dan mudah dipahami. Simpulan awal yang dimasukkan masih bersifat sementara dan akan berubah apabila ditemukan bukti-bukti yang kuat, sebagai bukti yang mendukung ketahap berikutnya. Data pada penelitian ini, peneliti menyimpulkan dan menganalisis data mengenai praanggapan.
Praanggapan ini disimpulkan menggunakan objek bahasa spanduk iklan warung kopi di Balikpapan. Berikut contoh analisis data mengenai praanggapan pada bahasa spanduk iklan warung kopi di Balikpapan.
E. Keabsahan Data
Uji keabsahan data dalam penelitian kualitatif ini peneliti menggunakan teknik ketekunan atau keajegan dan pemeriksaan sejawat melalui diskusi sebagai berikut.
1. Ketekunan atau Keajegan
Menurut Tohirin (2016, p. 72) menyatakan bahwa ketekunan atau keajegan pengamatan, yaitu mencari secara konsisten interpretasi dengan berbagai cara dalam kaitan dengan proses analisis yang konstan atau tentatif. Dalam penelitian ini peneliti menganalisis foto iklan nama warung kopi yang terdapat di Balikpapan. Kemudian, mempraanggapkan kata-kata dari bahasa
33
iklan nama warung kopi tersebut secara mendalam, dan secara rinci yang dilakukan secara terus menerus hingga memeroleh data yang cukup lalu disesuaikan dengan jenis-jenis praanggapan yang tepat dan sesuai.
34
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Pada bagian ini, penulis akan menyajikan hasil penelitian dan pembahasan berdasarkan hasil penelitian mengenai praanggapan yang terdapat pada iklan nama warung kopi di kota Balikpapan.
Pada hasil penelitian yang disajikan ini berupa deskripsi jenis praanggapan pada bahasa spanduk iklan warung kopi di kota Balikpapan.
Spanduk iklan warung kopi diidentifikasi berdasarkan jenis praanggapannya. Jenis praanggapan yang ditemukan pada bahasa spanduk iklan di kota Balikpapan ada dua, yaitu praanggapan eksistensial, praanggapan faktif. Data diperoleh melalui teknik dokumentasi berupa foto spanduk iklan kemudian dicatat dan diidentifikasi kata-katanya, dan dimasukkan ke dalam kartu data yang dianalisis dengan teknik kualitatif deskriptif.
1. Praanggapan pada iklan nama warung kopi di kota Balikpapan
Praanggapan adalah untuk memberikan anggapan yang dianggap sesuai dengan penggunaan yang ada dalam kalimat yang diucapkan tersebut sehingga mampu memberikan kesimpulan atau asumsi awal penutur sebelum melakukan tuturan, bahwa apa yang akan di sampaikan juga dipahami oleh mitra tutur. Jenis praanggapan dibagi menjadi menjadi enam yaitu praanggapan eksistensial, praanggapan faktif, praanggapan
35
leksikal, praanggapan nonfaktif, praanggapan structural, dan praanggapan kontrafaktual. Praanggapan eksistensial adalah praanggapan yang menunjukkan eksistensi atau keberadaan atau jati diri benda atau orang yang diungkapkan dengan kata yang tertentu. Praanggapan Faktif adalah praanggapan yang di praanggapkan mengikuti kata kerja dapat dianggap sebagai satu kenyataan. Praanggapan leksikal adalah praanggapan di mana makna yang dinyatakan secara konvensional ditafsirkan dengan praanggapan bahwa suatu makna lain dipahami. Praanggapan Nonfaktif adalah praanggapan yang diasumsikan tidak benar. Praanggapan struktural adalah praanggapan yang mengacu pada struktur kalimat-kalimat tertentu dan telah dianalisis sebagai praanggapan secara tetapi dan konvensional bahwa bagian struktur itu sudah diasumsikan kebenarannya. Praanggapan kontrafaktual berarti bahwa yang dipraanggapkan tidak hanya tidak benar, tetapi juga merupakan kebalikan
leksikal, praanggapan nonfaktif, praanggapan structural, dan praanggapan kontrafaktual. Praanggapan eksistensial adalah praanggapan yang menunjukkan eksistensi atau keberadaan atau jati diri benda atau orang yang diungkapkan dengan kata yang tertentu. Praanggapan Faktif adalah praanggapan yang di praanggapkan mengikuti kata kerja dapat dianggap sebagai satu kenyataan. Praanggapan leksikal adalah praanggapan di mana makna yang dinyatakan secara konvensional ditafsirkan dengan praanggapan bahwa suatu makna lain dipahami. Praanggapan Nonfaktif adalah praanggapan yang diasumsikan tidak benar. Praanggapan struktural adalah praanggapan yang mengacu pada struktur kalimat-kalimat tertentu dan telah dianalisis sebagai praanggapan secara tetapi dan konvensional bahwa bagian struktur itu sudah diasumsikan kebenarannya. Praanggapan kontrafaktual berarti bahwa yang dipraanggapkan tidak hanya tidak benar, tetapi juga merupakan kebalikan