• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaturan Hukum Terhadap Pelanggaran Hak Cipta

BAB 3 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAAN

3.2 Pengaturan Hukum dan Sanksi Hukum Terhadap Pelanggaran Hak

3.2.1 Pengaturan Hukum Terhadap Pelanggaran Hak Cipta

Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta

Dasar perlindungan hak cipta di Indonesia adalah Undang-Undang Nomor 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta yang dilindungi oleh Undang-Undang Hak Cipta adalah hak atas karya cipta di bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra yang telah diwujudkan secara nyata dan memiliki unsur orisinalitas. Dalam undang-undang Nomor 28 Tahun 2014 sangat jelas diatur bahwa salah satu hasil karya yang

dilindungi ciptaannya adalah salah satunya karya sinematografi. Perihal itu ada dalam Pasal 40 Ayat (1) yang mengatur bahwa:

Ciptaan yang dilindungi meliputi Ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra, terdiri atas:

a. buku, parnflet, perwajahan karya tulis yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lainnya;

b. ceramah, kuliah, pidato, dan Ciptaan sejenis lainnya;

c. alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan;

d. lagu dan/ atau musik dengan atau tan pa teks;

e. drama, drama musikal, tari, koreografi, pewayangan, dan pantomim;

f. karya seni rupa dalam segala bentuk seperti lukisan , gambar, ukiran, kaligrafi, seni pahat, patung, atau kolase;

g. karya seni terapan;

h. karya arsitektur;

1. peta;

j. karya seni batik atau seni motif lain;

k. karya fotografi;

1. potret;

m. karya sinematografi;

n. terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, basis data, adaptasi, aransernen, modifikasi dan karya lain dari hasil transformasi;

o. terjemahan, adaptasi, aransernen, transformasi, atau modifikasi ekspresi budaya tradisional;

p. kompilasi Ciptaan atau data, baik dalam format yang dapat dibaca dengan Program Komputer maupun media lainnya;

q. kompilasi ekspresi budaya tradisional selama kompilasi tersebut merupakan karya yang asli;

r. permainan video; dan s. program komputer.

Dalam permasalahan ini dengan disiarkannya kembali film tersebut di media sosial merupakan sebuah pelanggaran terhadap hak cipta atas film. Film sebagai salah satu ciptaan yang dilindungi oleh Pasal 40 Ayat (1) Huruf (m).

Sehingga pelaku perekaman dan penyebaran film melalui layanan media sosial

telah melanggar Pasal 9 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 20014 tentang Hak Cipta.

Pasal 9 dalam undang-undang hak cipta mengatur bahwa:

(1) Pencipta atau Pemegang Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 memiliki hak ekonomi untuk melakukan:

a. Penerbitan Ciptaan;

b. Penggandaan Ciptaan dalam segala bentuknya;

c. Penerjemahan Ciptaan;

d. Pengadaptasian, Pengaransemenan, atau Pentransformasian Ciptaan;

e. Pendistribusian Ciptaan atau salinannya;

f. Pertunjukan Ciptaan;

g. Pengumuman Ciptaan;

h. Komunikasi Ciptaan; dan i. Penyewaan Ciptaan.

(2) Setiap Orang yang melaksanakan hak ekonomi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mendapatkan izin Pencipta atau Pemegang Hak Cipta.

(3) Setiap Orang yang tanpa izin Pencipta atau Pemegang Hak Cipta dilarang melakukan Penggandaan dan/ atau Penggunaan Secara Komersial Ciptaan.

Sudah dapat dipastikan bahwa dengan melakukan perekaman dan penanyangan kembali adegan film yang sedang diputar didalam bioskop, pengguna media sosial tersebut tidak memiliki izin dari pemegang hak atas film dan melanggar hak pencipta atau pemegang hak cipta, sehingga perbuatan tersebut merupakan pelanggaran hak cipta atas film.

Untuk itu pemerintah sebagai pihak yang utama bertanggung jawab menegakkan hak cipta perlu mengambil kebijakan-kebijakan, baik dalam rangka mencegah terjadinya pelanggaran (preventif) maupun dalam rangka menindak pelaku pelanggaran (represif). Instrumen penegakkan hukum yang bersifat preventif terdiri dari upaya pembuatan aturan-aturan administratif. Termasuk

dalam lingkup ini adalah pendidikan hukum atau sosialisasi aturan-aturan hukum kepada masyarakat. Untuk dapat menggunakan karya orang lain dengan tujuan mendapat keuntungan ekonomi tanpa merugikan hak eksklusif dari pemegang hak cipta dapat dilakukan dengan lisensi. Sedangkan secara represif menyangkut dengan suatu penetapan yang bersifat penyelesaian suatu perkara dan dapat berupa sanksi atas pelanggaran hukum yang merugikan pihak lain maupun merugikan kepentingan umum.

Untuk di kota Makassar sendiri, belum ada laporan mengenai kasus pelanggaran hak cipta film yang dilakukan menggunakan media sosial. Akan tetapi dalam hal ini penulis mengambil contoh pada kasus yang pernah terjadi di salah satu cinema XXI di Kota Jakarta, yakni pembajakan sebuah film yang berjudul “Warkop DKI Reborn”. Film ini dibajak oleh salah seorang penonton dengan mengunakan layanan aplikasi Bigo Live. Seperti yang dilansir dari Kompas.com "Pelaku merekam dengan smartphone-nya, kemudian disebarkan menggunakan akun Bigo Live dengan nama profil W," tindakan yang dilakukan tersangka sangatlah jelas bahwa pelaku melakukan pelanggaran hak cipta. Dalam hal ini pelaku melakukan penyebaran atas film tersebut tanpa mendapat izin dari pemilik film dan pelaku tidak meminta izin kepada Pemilik film, hal ini jelas merupakan suatu perbuatan yang melanggar hukum, sehingga pelaku melanggar ketentuan dalam Pasal 25 Undang-Undang Hak cipta.

Dalam pasal 25 Undang-Undang Hak Cipta di atur bahwa:

(1) Lembaga Penyiaran mempunyai hak ekonomi.

(2) Hak ekonomi Lembaga Penyiaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi hak melaksanakan sendiri, memberikan izin, atau melarang pihak lain untuk melakukan:

a. Penyiaran ulang siaran;

b. Komunikasi siarari;

c. Fiksasi siaran; dan/atau d. Penggandaan Fiksasi siaran.

(3) Setiap Orang dilarang melakukan penyebaran tanpa izin dengan tujuan komersial atas konten karya siaran Lembaga Penyiaran.

Dari kasus tersebut sangat jelas bahwa pelanggaran yang dilakukan oleh pelaku sangat merugikan hak ekonomi pencipta film. Yang dimana kerugian besar yang didapat oleh pencipta film bukanlah hal yang sepele. Apabila pelaku melakukan pembajakan film menggunakan aplikasi media sosial seperti Bigo Live yang dimana dalam penyebaran rekaman tersebut membuat berkurangnya penonton yang akan datang kebioskop untuk menonton film “Warkop DKI Reborn” sehingga pendapatan pemilik hak ekonomi atas film tersbut menjadi berkurang bahkan bisa menyebabkan kerugian.

Untuk lebih lanjut mengenai pelanggaran yang dilakukan oleh pelaku pembajakan film tersebut, pelaku dapat diancam dengan hukuman pidana seperti yang di atur dalam pasal 113 Undang-Undang Hak cipta, yang mengatur bahwa:

(1). Setiap orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) huruf i untuk penggunaan secara komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

(2). Setiap orang yang dengan tanpa hak dan atau tanpa izin pencipta atau pemegang hak cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi pencipta sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan atau huruf h, untuk penggunaan secara komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)

(3). Setiap orang yang dengan tanpa hak dan atau tanpa izin pencipta atau pemegang hak melakukan pelanggaran hak ekonomi pencipta sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e, dan atau huruf g,

untuk penggunaan secra komesial dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp1.ooo.000.000.00 (satu miliar rupiah)

(4). Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp4.000.000.000.00 (empat miliar rupiah).

3.2.2 Pengaturan Hukum Terhadap Pelanggaran Hak Cipta Pemutaran Film di Bioskop oleh Pengguna Media Sosial Ditinjau dari Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Transaksi Elektronik.

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Transaksi Elektronik, merupakan produk hukum yang mengatur mengenai teknologi infomasi transaksi elektronik apabila melihat pada aplikasi sosial media penyedia layanan broadcasting live tentunya berkaitan tentang teknologi informasi transaksi elektronik. Dalam hasil wawancara, Ahmad Yani Hafid (10 Mei 2018) yaitu Manager Area Cinema XXI Kota Makassar mengatakan bahwa:

“untuk Indonesia pengaturan mengenai sosial media pada umumnya dan layanan broadcasting live pada khususnya masih diatur pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Transaksi Elektronik, namun belum diatur secara spesifik mengenai sosial media”.

Dalam undang-undang ini terdapat beberapa pasal yang mengatur terkait bentuk-bentuk komponen sistem dari aplikasi media sosial yang menyediakan layanan broadcasting live. Pada Pasal 1 butir (1) menyatakan bahwa:

Informasi Elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk, tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, electronic data interchange (EDJ), surat elektronik (electronic mail), telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol, atau perforasi yang telah diolah yang memiliki arti, atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya.

Dalam pasal ini, siaran dari layanan broadcasting live yang terdapat pada aplikasi media sosial dapat dikategorikan sebagai informasi elektronik yang berupa data elektronik, karena pada siaran dari layanan broadcasting live yang terdapat pada aplikasi media sosial terdapat tulisan, suara, gambar, tanda, angka, dan simbol seperti yang diatur dalam Pasal 1 butir 1 undang-undang nomor 11 tahun 2008. Lebih jelas Ahmad Yani Hafid (10 Mei 2018) mengatakan bahwa, siaran dari layanan broadcasting live yang terdapat pada aplikasi media sosial yang dikategorikan sebagai informasi elektronik disederhanakan oleh beliau dengan kata konten. Beliau juga menjelaskan konten yang dimaksud bukan berasal atau dibuat oleh penyedia layanan media sosial, melainkan berasal dari pengguna aplikasi media sosial tersebut.

Selanjutnya, pada Pasal 1 butir 3 diatur bahwa:

Teknologi informasi adalah suatu teknik untuk mengumpulkan, menyiapkan, menyimpan, memproses, mengumumkan, menganalisis, dan/atau menyebarkan informasi.

Dari penjelasan di atas, penyiaran melalui layanan broadcasting live yang terdapat pada aplikasi media sosial dapat dikategorikan sebagai teknologi informasi karena penyiaran melalui layanan broadcasting live yang terdapat pada aplikasi media sosial umumya pengguna layanan tersebut mengumumkan dan menyebarkan siaran yang sebelumnya sudah dikategorikan sebagai informasi elektronik. Pada umumnya teknologi informasi merupakan teknik dasar dari sebuah aplikasi, tidak tertutup hanya pada aplikasi media sosial melainkan juga pada aplikasi-aplikasi jenis lainnya. Karena pada dasarnya sebuah aplikasi dibuat bertujuan untuk mengumpulkan, menyiapkan, menyimpan, memproses,

mengumumkan, menganalisis, dan/atau menyebarkan informasi ataupun konten dari aplikasi.

Selanjutnya pada Pasal 1 butir 5 diatur:

Sistem Elektronik adalah serangkaian perangkat dan prosedur elektronik yang berfungsi mempersiapkan, mengumpulkan, mengolah, menganalisis, menyimpan, menampilkan, mengumumkan, mengirimkan, dan/atau menyebarkan Informasi Elektronik.

Melihat pengaturan diatas, serangkaian perangkat dan prosedur elektronik dapat disederhanakan dalam bentuk kata aplikasi. Fungsi dari sistem elektronik yang diatur pada pasal diatas juga dapat diartikan sebagai rangkaian teknologi informasi. Layanan media sosial broadcasting live dapat dikatakan sebuah sistem elektronik, sebab aplikasi tersebut merupakan sebuah aplikasi sosial media. Fungsi dari aplikasi yang menyediakan layanan broadcasting live yaitu mempersiapkan, mengumpulkan, menampilkan, mengumumkan mengirimkan, dan/atau menyebarkan siaran. Hal yang senada dikatakan oleh Ahmad Yani Hafid (10 Mei 2018), beliau mengatakan “layanan broadcasting live yang terdapat pada aplikasi media sosial merupakan Sistem Elektronik yang berfungsi menampilkan, mengumumkan, dan menyebarkan konten. Konten yang dimaksud yaitu siaran dari layanan broadcasting live pada aplikasi tersebut”. Selanjutnya pada Pasal 1 butir 6a diatur bahwa:

Penyelenggara Sistem Elektronik adalah setiap Orang, penyelenggara negara, Badan Usaha, dan masyarakat yang menyediakan, mengelola, dan/atau mengoperasikan Sistem Elektronik, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama kepada pengguna Sistem Elektronik untuk keperluan dirinya dan/atau keperluan pihak lain.

Jika sebelumnya telah dibahas mengenai sistem elektronik, sebelum adanya sistem elektronik, penyelenggara sistem elektronik merupakan pembuat dari sistem elektronik tersebut. Hal senada dikatakan Ahmad Yani Hfid (10 Mei 2018) yang menyatakan bahwa, sistem elektronik tentunya membutuhkan sebuah penyelenggaraan sistem elektronik, sistem elektronik yang dimaksud adalah sebuah aplikasi dan penyelenggaran sistem elektronik merupakan pembuat dari aplikasi tersebut. Kemudian, pada Pasal 1 butir 2 diatur bahwa:

Transaksi Elektronik adalah perbuatan hukum yang dilakukan dengan menggunakan Komputer, jaringan Komputer, dan/ atau media elektronik lainnya.

Berdasarkan pengaturan di atas, penggunaan layanan broadcasting live yang terdapat pada aplikasi media sosial dapat dikategorikan sebagai perbuatan hukum karena segala layanan broadcasting live memanfaatkan jaringan media elektronik, yang dimana selanjutnya akan menimbulkan akibat hukum.

Selanjutnya, perlu diketahui bahwa jika seorang pengguna media sosial ingin menggunakan layanan broadcasting live pada aplikasi tersebut, pengguna terlebih dahulu mendaftar untuk mejadi pengguna aplikasi media sosial tersebut. Hal ini juga berlaku pada aplikasi berjenis lainnya yang membutuhkan persetujuan syarat dan ketentuan untuk menjadi seorang pengguna aplikasi. Apabila seorang ingin menjadi pengguna dari aplikasi, mereka perlu mendaftar untuk menjadi pengguna aplikasi tersebut sehingga dapat menggunakan aplikasi sesuai kepentingan pengguna masing-masing. Untuk mendaftar menjadi pengguna aplikasi, seseorang harus mengisi data pribadi yang selanjutnya telah disediakan oleh penyelenggara aplikasi. Setelah informasi tentang data pribadi pengguna telah diisi, langkah

selanjutnya adalah menyetujui syarat dan ketentuan dalam menjadi pengguna aplikasi yang terlebih dahulu dipersiapkan oleh penyelenggara aplikasi. Seringkali di langkah ini, seorang calon pengguna langsung menyetujui syarat dan ketentuan dari aplikasi tersebut tanpa terlebih dahulu membaca syarat dan ketentuan untuk menjadi pengguna dari layanan media sosial. Syarat dan ketentuan itu berbentuk kontrak baku dimana telah dibuat dan ditetapkan oleh pihak penyelenggara aplikasi.

Syarat dan ketentuan ini menegaskan, pengguna harus bertanggung jawab penuh atas segala sesuatu perbuatan yang dilakukannya dengan menggunakan aplikasi tersebut. Ahmad Yani Hafid (10 Mei 2018) menambahkan bahwa aplikasi yang menyediakan layanan broadcasting live harus mempunyai peraturan internal, apabila terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh penggunanya. Pada Pasal 15 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008, diatur bahwa:

(1) Setiap Penyelenggara Sistem Elektronik harus menyelenggarakan Sistem Elektronik secara andal dan aman serta bertanggung jawab terhadap beroperasinya Sistem Elektronik sebagaimana mestinya.

(2) Penyelenggara Sistem Elektronik bertanggung jawab terhadap Penyelenggaraan Sistem Elektroniknya.

(3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku dalam hal dapat dibuktikan terjadinya keadaan memaksa kesalahan, dan/atau kelalaian pihak pengguna Sistem Elektronik.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Ahmad Yani Hafid (10 Mei 2018), beliau menambahkan bahwa:

“Dengan adanya peraturan internal yang dibuat penyelenggara sistem elektronik, tidak membuat perusahaan aplikasi mendapat hukuman pemblokiran oleh Kementerian Komunikasi Dan Informasi apabila pengguna dari aplikasi melakukan perbuatan yang dilarang dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 sehingga Kementerian

Komunikasi Dan Informasi hanya melakukan peneguran kepada penyelenggara sistem elektronik untuk menghukum secara internal pengguna yang melakukan perbuatan yang dilarang”.

Mengenai perbuatan yang dilarang, ketentuan tersebut tertuang pada Pasal 27 Ayat (1) Undang-Undang ITE yang menyatakan bahwa:

Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.

Dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 terdapat pasal yang mengatur tentang perbuatan yang dilarang. Ahmad Yani Hafid (10 Mei 2018) mengatakan bahwa, “dengan adanya pasal tersebut jika pengguna aplikasi melakukan perbuatan yang melanggar asusila seperti melakukan pelanggaran hak cipta seseorang dapat dituntut melalui pasal tersebut dan juga pasal tersebut dapat menghimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati melakukan suatu perbuatan didalam lingkup informasi transaksi elektronik”.

Dalam perekaman dan penyebaran film melalui layanan media sosial merupakan tindakan yang melawan hukum, seperti kasus perekaman film

“Warkop DKI Reborn” yang menggunakan aplikasi Bigo Live melanggar ketentuan dalam Undang-Undang ITE. Pelaku atau pengguna media sosial dalam hal ini melanggar ketentuan Pasal 32 Undang-Undang ITE.

Pasal 32 menyatakan bahwa:

(1) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum dengan cara apa pun mengubah, menambah, mengurangi, melakukan transmisi, merusak, menghilangkan, memindahkan, menyembunyikan suatu Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik milik Orang lain atau milik publik.

(2) Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum dengan cara apa pun memindahkan atau mentransfer Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik kepada Sistem Elektronik Orang lain yang tidak berhak.

(3) Terhadap perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang mengakibatkan terbukanya suatu Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang bersifat rahasia menjadi dapat diakses oleh publik dengan keutuhan data yang tidak sebagaimana mestinya.

Setelah ditinjau dari pelanggaran yang dilakukan oleh pengguna media sosial yakni perekaman dan penyebaran cuplikan film “Warkop DKI Reborn”

melalui media sosial, pelaku secara jelas melanggar ketentuan pasal 32 Undang-Undang ITE dan dapat dijatuhi hukuman pidana sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Pasal 48 Undng-Undang ITE yang menyatakan bahwa:

Pasal 48

(1) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun dan/atau denda paling banyak Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).

(2) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun dan/atau denda paling banyak Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

(3) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

BAB 4

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

1. Berdasarkan analisis terhadap hukum dan perundang-undangan yang telah ada serta dilengkapi dengan sanksinya dan adanya satu contoh kasus aduan seperti film Warkop DKI Reborn, maka ini menunjukkan bahwa penggunaan film dari media sosial hasil penggandaan tanpa hak film merupakan pelanggaran hak cipta pada film. Untuk wilayah Makassar belum ada pelanggaran dikarenakan belum adanya aduan dari pihak produksi film hingga saat ini, akan tetapi aksi-aksi yang berindikasi pelanggaran seringkali terjadi.

2. Terhadap pelanggaran hak cipta pemutaran film di bioskop terdapat produk hukum yaitu Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta terkait dengan jenis ciptaan yang dilindungi termasuk film dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Transaksi Elektronik.

Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 mencantumkan pengaturan terkait dengan pelanggaran hak cipta yakni pelaku dapat dikenakan Pasal 9 Huruf (b) tentang penggandaan ciptaan dalam segala bentuknya dan Pelaku dapat dijatuhi sanksi pidana 10 tahun penjara, dan denda paling banyak 4 milyar sesuai dengan Pasal 113. Kemudian Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Transaksi Elektronik yang mengatur mengenai siaran dari layanan media sosial dan penyiaran melalui broadcasting live. Berdasarkan Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik pelaku melanggar Pasal 32

dan dapat dijatuhi sanki pidana 10 tahun penjara dan denda paling banyak 5 milyar sesuai dengan Pasal 48.

4.2. Saran

1. Untuk mengakomodir pengaturan hukum mengenai media sosial pada umumnya dan penggunaan layanan broadcasting live di media soaial pada khususnya, penulis menyarankan untuk menggunakan Undang-Undang Hak Cipta dan Undang-Undang ITE untuk mengatur siaran yang ditampilkan oleh layanan media sosial.

2. Perlu adanya sistem kordinasi yang erat antara pihak bioskop dan rumah produksi film untuk menyelesaikan masalah pelanggaran hak cipta sehingga jika ada indikasi pelanggaran hak cipta terhadap film yang sedang di putar di dalam bioskop, pihak bioskop segera melaporkan pelanggaran tersebut kepada pihak rumah produksi film untuk segera menindaklanjuti pelanggaran tersebut ke pihak yang berwajib.

DAFTAR PUSTAKA

Buku:

Damian, Eddy. 2004. Hukum Hak Cipta UUHC Nomor 19 Tahun 2002. PT.

Alumni. Jakarta.

Djubaidah dan Muhamad Jumhana, 1997., Hak Milik Intelktual (Sejarah, Teori dan Prekteknya di Indonesia), Citra Adiyta Bhakti. Bandung.

Firmansyah, Muhammad. 2008. Tata Cara Mengurus HAKI. Visi media.

Jakarta.

Hutagalung, Sophar Maru. 2002. Hak Cipta Kedudukan dan Peranannya dalam Pembangunan. Akademika Pressindo. Jakarta.

Isnaini, Yusran. 2009. Hak Cipta dan Tatanannya di Era Cyber Space.

Ghalia Indonesia. Jakarta.

Lewis, Arthur, 2014, Dasar-Dasar Hukum Bisnis. Nusa Media. Bandung.

Makkawaru, Zulkifli, 2016. Hak Kekayaan Intelektual. Indonesia Prime.

Makassar.

Muhammad, Abdulkadir, 2001. Kajian Hukum Ekonomi Hak Kekayaan Intelektual. Citra Aditya Bakti. Bandung.

Paserangi, Hasbir, dan Ahmad Ibrahim. 2011. Hak Kekayaan Intelektual, Hukum Hak Cipta Perangkat Lunak Program Komputer Dalam Hubungannya dengan Prinsip-Prinsip TRIPs di Indonesia. Rabbani Pers. Jakarta.

Jened, Rahmi. 2014. Hukum Hak Cipta (Copyrigts Law). PT Citra Aditya Bakti.

Bandung.

Ramli, Ahmad M., dan Fathurahman, 2004, Film Independen dalam Perspektif Hukum Hak Cipta dan Hukum Perfilmn Indonesia,. Ghalia Indonesia.

Bandung.

Saidin, H. OK. 2010. Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual. Rajawali Pers.

Jakarta.

……….. 2015. Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual (edisi revisi).

Rajawali Pers. Jakarta.

Supramono, Gatot. 2010. Hak Cipta dan Aspek-Aspek Hukumnya. Rineka Cipta.

Jakarta.

Syamsudin, M. 2014. Hak Kekayaan Intelektual dan Budaya Hukum, PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Usman, Rachmadi, 2006. Hukum Hak Atas Kekayaan Intelektual, Perlindungan dan Dimensi Hukumnya di Indonesia, Alumni. Bandung.

Jurnal

Fitri , S., 2017, Dampak Positif Dan Negatif Sosial Media Terhadap Perubahan Sosial Anak, Naturalistic: Jurnal Kajian Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran, 1, 2, 118-123

Syafrinaldi, 2003, Sejarah dan Teori Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual.

Almawarid Edisi IX, 1-14.

Undang – Undang:

Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta.

Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran

Situs Web:

https://id.wikipedia.org/wiki/Media_sosial, diakses 26 Februari 2018.

http://www.menitinfo.com/2016/09/tentang-bigo-live-dan-cara-menggunakan.html, diakses 26 Februari 2018.

Juniman, P., T., 2017, Sebar Cuplikan Film di Medsos Termasuk Pembajakan,

https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20170321034054-220-201581/sebar-cuplikan-film-di-medsos-termasuk-pembajakan, diakses 20 Februari 2018.

Kominfo, pengguna internet di Indonesia Tahaun 2013.

https://kominfo.go.id/index.php/content/detail/3415/Kominfo+%3A+Pengg una+Internet+di+Indonesia+63+Juta+Orang/0/berita_satker. Diakses 26 Februari 2018.

Nibras Nada, N., 2016, Polisi Tetapkan Tersangka Kasus Pembajakan Film

"Warkop DKI Reborn, (Online).

http://megapolitan.kompas.com/read/2016/09/27/15233991/polisi.tetapkan.t ersangka.kasus.pembajakan.film.warkop.dki.reborn. Diakses 26 Februari 2018.

Dokumen terkait