BAB II TINJAUAN UMUM FINANCIAL TECHNOLOGY PEER TO PEER
B. Kerangka Teori …
3. Tinjauan Umum Financial Technology
Financial Technology atau dalam bahasa Indonesia Teknologi Finansial (TekFin) adalah inovasi layanan dalam lembaga non bank yang memanfaatkan teknologi informasi sebagai alat untuk menjangkau
3 Ahmad Redi, Hukum Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, … h. 41
4 Ahmad Redi, Hukum Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, … h. 41
5 Ahmad Redi, Hukum Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, … h. 42
konsumennya6, sedangkan menurut Agus Pribadiono, Financial Technology merupakan perpaduan antara teknologi dan fitur keuangan atau dapat juga diartikan inovasi pada sektor finansial dengan sentuhan teknologi modern.7 Teknologi finansial adalah penggunaan teknologi dalam sistem keuangan yang menghasilkan produk, layanan, teknologi, dan/atau model bisnis baru serta dapat berdampak pada stabilitas moneter, stabilitas sistem keuangan, dan/atau efisiensi, kelancaran, keamanan, dan keandalan sistem pembayaran.8 Maka berdasarkan penjelasan yang ada bahwa fintech merupakan inovasi bisnis yang memanfaatkan keadaan berdasarkan perkembangan zaman yaitu teknologi serta keadaan empiris pasar yang mendukung inovasi tersebut.
Inovasi dalam bentuk financial technology yakni sebagai refleksi industri keuangan terhadap dinamisnya perkembangan teknologi yang termasuk dalam era digital yang dalam praktiknya telah memasuki segala sendi kehidupan termasuk ekonomi baik mikro ataupun makro. Dengan labeling bahwa orang atau perusahaan yang bergerak dalam bidang Financial Technology merupakan perusahaan rintisan (startup) yang memungkinkan membuka peluang berinvestasi. Peluang ini didukung dengan adanya survei yang dilakukan oleh Google dan Temasek pada tahun 2018 bahwa pengguna internet di Asia Tenggara meningkat sebanyak lebih dari 350 juta pengguna internet di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam, meningkat 90 juta lebih banyak dari tahun 2015. Hal ini didukung9 secara simultan dengan ketersediaan harga handphone atau
6 I Wayan Bagus Pramana, Peranan Otoritas Jasa Keuangan Dalam Mengawasi Lembaga Keuangan Non Bank Berbasis Financial Technologi Jenis Peer to Peer Lending, Jurnal Hukum:
Kertha Semaya Vol. 06 Nomor 03, h.3
7 Agus Pribadino, Transportasi Online VS Transportasi Tradisional Non-Online Persaingan Tidak Sehat Aspek Pemanfaatan Aplikasi Oleh Penyelenggara Online, Jurnal Hukum : Lex Jurnalica, Vol. 13 Nomor 2, h.5
8 Bank Indonesia, Teknologi Finansial. Diakses pada tanggal 14 Agustus 2019 dari https://www.bi.go.id/id/sistem-pembayaran/fintech/Contents/default.aspx
9 Google dan Temasek, E-conomy SEA 2018: Southeast Asia’s Internet Economy. Diakses
pada tanggal 23 Agustus 2019 dari
https://www.thinkwithgoogle.com/qs/documents/6730/Report_e-Conomy_SEA_2018_by Google _Temasek_v.pdf
smartphone yang terjangkau dan mulai tersedianya kecepatan dan pelayanan telekomunikasi mobile yang dapat diandalkan. Serta survei yang dilakukan oleh APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia), jumlah pengguna internet Indonesia mengalami penambahan, pada tahun 2017 pengguna internet Indonesia sebanyak 143,26 juta jiwa10 dan mengalami peningkatan sebesar 10,12% persen pada tahun 2018 sebanyak 171,17 juta jiwa.11
a. Sejarah Financial Technology
Fintech sebagai pelopor atau inovator atas transformasi terhadap efisiensi dan efektivitas dalam bentuk digital yang merupakan sebuah usaha rintisan atau start up. Start up dalam hal ini sebagai antitesis pelayanan pembiayaan atau keuangan secara tradisional yang menawarkan pelanggan berupa pelayanan yang berpusat pada kemampuan mengintegrasikan kecepatan dan kemudahan yang mendunia.12
Fintech hadir sebagai konsep yang modern yang mana fintech memiliki sejarah yang dapat ditarik ke pertengahan abad 19, dimulai pada telegram pada tahun 1838 dan kemudian atas kesuksesan penemuan kabel translantik (kabel komunikasi bawah laut) pada tahun 1866, yang mana dua inovasi teknologi tersebut sebagai dasar atas globalisasi finansial pada akhir abad 1800.13 Perkembangan jaman yang membuat fintech sebagai sebuah inovasi disruptif yang menantang atau merambat masuk ke pasar dengan mengambil sudut pandang yang berbeda yang berperan menggantikan perusahaan incumbent. Semisal ATM (Automatic Teller Machine) yang merupakan produk perbankan
10 Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, Buletin APJII, (Edisi 33, 2019), h.5.
diakses pada tanggal 9 Agustus 2019 dari https://apjii.or.id/content/read/104/398/BULETIN-APJII-EDISI-33---Januari-2019
11 Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, Buletin APJII, (Edisi 40, 2019), h.1.
Diakses pada tanggal 9 Agustus 2019 dari
https://apjii.or.id/downfile/file/BULETINAPJIIEDISI40Mei2019.pdf
12 Bernardo Nicoletti, The Future Of Fintech, (Switzerland: Springer Nature, 2017) h.1
13 Bernardo Nicoletti, The Future Of Fintech, … h. 14
sebagai sebuah industri yang mengadopsi lebih dulu komputer untuk penggunaan komersial, komputer digunakan untuk meningkatkan dan mempercepat proses yang telah ada.14 Penggunaan komputer pada dasarnya karena kesadaran atas sektor perbankan yang rentan akan disrupsi.15
Disrupsi menurut Prof. Clayton M. Chistensen, yang merupakan fenomena dimana suatu produk atau layanan yang berinovasi yang berbasis teknologi atau aplikasi yang berupa kemudahan untuk mengakses dan biaya yang lebih murah, serta berkembang tanpa henti menghadapi incumbent atau petahana atau dalam hal ini ialah pemain lama yang telah mapan dalam pasar yang telah ada.16 Rhenal Kasali menggambarkan fenomena bahwa dunia tengah mengalami shifting yang begitu cepat dan mengejutkan yang bila dulu kita menyebutnya sebagai change atau transformasi, kini kita menyebutnya sebagai disruption.17
Pada dasarnya disrupsi terdapat akhir yang berbeda yakni yang terancam kehilangan besar-besaran dan ada yang memaksa masuk dengan pesat. Karena tidak setiap usaha yang berupa inovasi disrupstif membawa kemenangan dan tidak setiap kemenangan pendatang mengikuti alur disrupsi.18 Sebagai refleksi untuk meningkatkan dan mempercepat proses yang telah ada yang dimanifestasikan menjadi ATM dalam sektor perbankan, hal tersebut menunjukan bahwa sektor perbankan mengikuti arus globalisasi disrupsi dengan mengurangi intensitas pertemuan nasabah dengan pihak bank dan hal ini terbukti mempertahankan pasar bersangkutan. Seperti yang dikatakan oleh Paul
14 Bernardo Nicoletti, The Future Of Fintech, … h. 14
15 Susanne Chishti & Janos Barberis, The Fintech Book: The Financial Technology Handbook For Investors, Entrepreneurs and Visionaries, (Cornwal: Great Britain, 2016), h.7
16 Clayton Christensen Institute, Disruptive Innovation. Diakses pada tanggal 21 Agustus 2019 dari https://www.christenseninstitute.org/disruptive-innovations/
17 Prof. Rhenald Kasali, Ph, D., Rumah Perubahan. Diakses pada tanggal 21 Agustus dari http://www.rumahperubahan.co.id/wp-content/uploads/Brosur_Rumah_Perubahan_2016.pdf
18 Clayton M. Christensen, Michael E, Raynor, dkk, What Is Disruptive Innovation, diakses pada tanggal 21 Agustus 2019 dari https://hbr.org/2015/12/what-is-disruptive-innovation
Volcker, “the most important financial innovation that I have seen the past 20 years is the automatic teller machine, that really helps people and prevents visits to the bank and it a rel convenience.”19
Terkait persaingan antara perusahaan fintech dan perusahaan incumbents, World Economic Forum (2017) menganalisis bahwa irisan antara fintech dan perusahaan incumbents membawa ketergantungan diantara keduanya, begitu pula dengan regulator yang harus membuat kerangka kebijakan yang dapat mengatur, baik disisi institusi keuangan incumbent maupun perusahaan fintech,20 yang masing-masing memiliki mandat tersendiri terhadap pembuat regulasi. Maka dari itu Perusahaan incumbents tidak dapat menutup mata terhadap perkembangan teknologi apabila ingin tetap bertahan pada pasar yang telah didapatkan.
Dalam perkembangannya dari awal era fintech, dapat dibagi menjadi 3 tahap yang pada dasarnya saling keterkaitan dan saling memperkuat setiap tahapan selanjutnya, yakni:21
1. Dari tahun 1866 sampai tahun 1967, industri jasa keuangan, pada masa ini terikat erat dengan teknologi akan tetapi tetap sebagian besar merupakan industri analog. Dalam persepsi publik yaitu sebuah periode yang disebut sebagai Fintech 1.0. sebagai contoh Pengembangan dari World Wide Web (WWW) dan pergantian dari telegrap dengan mesin fax dan kemudian dengan email/ pesan instan yang meningkatkan komunikasi kesepanjang dunia, yang membuat tahap yang lebih kuat dalam hubungan finansial.22
19 Paul Volcker, The Only Thing useful banks have invented in 20 years is the ATM. Diakses pada tanggal 22 Agustus 2019 dari https://nypost.com/2009/12/13/the-only-thing-useful-banks-have-invented-in-20-years-is-the-atm/
20 Berry A. Harahap, Pakasa Bary Idham, dkk, Perkembangan Financial Technology Terkait Central Bank Digital Currency (CBDC) Terhadap Transmisi Kebijakan Moneter Dan Makroekonomi, BI Institute, h. 32. Di akses pada tanggal 10 September 2019 dari https://www.bi.go.id/id/publikasi/wp/Pages/WP-2-2017.aspx
21 Douglas Arner, J. Barberis, dkk, The Evolution Of Fintech: A New Post-Crisis Paradigm, University of Hongkong Faculty of Law, Research Paper No. 2015/047, h. 6. Diakses pada tanggal
26 Agustus 2019 dari
https://www.researchgate.net/publication/313365410_The_Evolution_of_Fintech_A_New_Post-Crisis_Paradigm
22 Bernardo Nicoletti, The Future Of Fintech, … h. 16
2. Dari tahun 1967, sebuah pengembangan dari teknologi digital untuk komunikasi dan proses transaksi yang meningkat, mentransformasikan keuangan dari sebuah analog menuju sebuah industri digital. Tepat pada akhir tahun 1987, layanan keuangan yang paling tidak berada di negara berkembang, yang tidak hanya sangat mendunia, tapi juga digitalkan. Periode ini kita sebut sebagai Fintech 2.0 yang berlangsung hingga tahun 2008. Selama periode ini, fintech didominasi terutama oleh aturan tradisional industri layanan keuangan yang menggunakan teknologi untuk meningkatkan produk dan lanyanan finansial. Yang menurut Fithri Hadi selaku Direktur Inovasi Keuangan Digital Otoritas Jasa Keuangan, bahwa perusahaan keuangan yang berinovasi menggunakan teknologi digital untuk meningkatkan akses pasarnya yang mana perkembangan teknologi ini dimanfaatkan oleh perusahaan jasa keuangan untuk mengjangkau konsumen dan juga untuk menurunkan biaya operasional mereka.23
3. Sejak 2008 yang kita sebut sebagai Fintech 3.0, perusahaan start up baru dan perusahaan teknologi yang didirikan telah mulai mengirimkan produk dan layanan finansial secara langsung untuk bisnis dan khalayak ramai. Karena perusahaan-perusahaan dan layanan yang ditawarkan belum ada sebelumnya. Menurut Jamie Dimon, “ratusan perusahaan start up menawarkan beragam alternatif ke dalam perbankan tradisional.”24
Pada era sekarang yang kita kenal sebagai revolusi industri 4.0 yang mendorong sistem otomatisasi di dalam semua proses aktivitas yang tidak dapat dihindari. Teknologi internet yang semakin masif tidak hanya menghubungkan jutaan manusia di seluruh dunia tetapi juga telah menjadi basis bagi transaksi perdagangan dan transportasi secara
23 Fintech 2.0 dan 3.0, Apa Bedanya?. Diakses pada tanggal 27 Desember 2019 dari https://ekonomi.kompas.com/read/2017/09/25/183423826/fintech-20-dan-30-apa-bedanya
24 Muliaman D. Hadad, Financial Technology (Fintech) di Indonesia, Presentasi disampaikan pada Indonesia Banking School (IBS), Indonesia 2 Juni 2017, h. 5
online.25 Industi 4.0 yang membuat semua terkoneksi dan membagikan informasi dengan yang lain yang memberikan keuntungan bahwa memang informasi cepat diakses dan permintaan dapat dilakukan dengan segera yang berarti keseluruhan terhubung dengan setiap orang dengan mudah dan pertukaran data yang cepat.26 Maka dalam tahapan ini akan melihat perusahaan fintech dan inisiatif fintech (asosiasi fintech) dalam institusi finansial tradisional terkoneksi lebih intens, yakni sistematisasi dari solusi sebuah teknologi dan integrasi dari asosiasi fintech dalam mendirikan sistem finansial.27 Sedangkan di Indonesia, Pertumbuhan fintech yang semakin pesat ditandai dengan terbentuknya Asosiasi Fintech Indonesia yang telah terdaftar secara sah sebagai badan hukum sejak 10 Maret 2016.28 Asosiasi Fintech Indonesia hadir sebagai wadah yang menghimpun perusahaan dan institusi para pelaku sektor jasa keuangan yang menggunakan kemajuan teknologi dalam menjalankan usahanya.29
b. Jenis-jenis Financial Technology
Fintech menawarkan beberapa jenis usaha atau bidang yang terintegrasi dengan teknologi, seperti payments, pinjaman (lending), kredit, capital market, crowd funding, dan sebagainya.30 Perkembangan teknologi yang sangat cepat yang dimanfaatkan para pengusaha untuk
25 Dr. Slamet Rosyadi, Revolusi Industri, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman. Diakses pada tanggal 26 Agustus 2019 dari https://www.researchgate.net/publication/324220813_REVOLUSI_INDUSTRI_40
26 Jan Schlechtendahl, Matthias Keinert, dkk, Making Existing Production Systems Industry 4.0- ready. Diakses pada tanggal 26 Agustus 2019 dari https://www.researchgate.net/publication/267271828_Making_existing_production_systems_Indu stry_40-ready
27 Bernardo Nicoletti, The Future Of Fintech, … h. 18
28 Berry A. Harahap, Pakasa Bary Idham, dkk, Perkembangan Financial Technology Terkait Central Bank Digital Currency (CBDC) Terhadap Transmisi Kebijakan Moneter Dan Makroekonomi, BI Institute, h. 13. Di akses pada tanggal 26 Agustus 2019 dari https://www.bi.go.id/id/publikasi/wp/Pages/WP-2-2017.aspx
29 Fintech Indonesia. Diakses pada tanggal 28 Agustus 2019 dari https://fintech.id/about-us/
30 KPMG, 2018 Fintech100: Leading Global Fintech Innovators. Diakses pada tanggal 28 Agustus 2019 dari https://h2.vc/wp-content/uploads/2018/11/Fintech100-2018-Report_Final_22-11-18sm.pdf
melakukan perubahan yang mengikuti perkembangan jaman menghasilkan jenis usaha baik inovasi baru ataupun meningkatkan daya saing dengan menggabungkan teknologi ke dalam kegiatan usaha demi menjaga pasar yang telah dikuasai. Dengan melihat jika sebuah teknologi seperti mempunyai potensi untuk membantu konsumen dan membuat hidup konsumen lebih mudah, maka ada kesempatan yang bagus untuk akan diadopsi oleh perusahaan.31 Jenis-jenis Industri fintech diklasfikasikan oleh OJK sebagai berikut32:
1. Deposit & Lending, usaha ini berupa peer to peer lending dan underwriting platform, seperti platform Amartha, Danakita, Crowdo, Investree, Modalku.
2. RegTech merupakan model pengawasan aturan yang dinamis untuk jaringan keuangan.33 Berbeda perspektif dalam regtech di indonesia yang merupakan smart legal tool yang menggunakan teknologi inovatif untuk membantu masyarakat dan bisnis pada umumya memahami dan patuh terhadap peraturan yang berlaku.34 Di Indonesia sudah ada asosiasi yang mewadahi perusahaan regtech dan juga Legaltech yang bernama IRLA (Indonesian Regtech and Legaltech Association). IRLA sendiri memiliki misi untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya kepatuhan hukum melalui berbagai inovasi yang telah dikembangkan oleh perusahaan yang bergerak dalam bidang ini di Indonesia. Usaha berupa audit, risiko dan regulatory compliance software, seperti platform Lawbale.
31 Derek Corcoran, Avoka – An Overnight Success, 13 Years In The Making, dalam Susanne Chishti & Janos Barberis, The Fintech Book: The Financial Technology Handbook For Investors, Entrepreneurs and Visionaries, (Cornwal: Great Britain, 2016), h. 214
32 Dr. Widyo Gunadi, Regulasi Fintech Pada Era Industri 4.0. Presentasi disampaikan pada Politeknik Negeri Surabaya, Indonesia 9 Nopember 2018, h. 7
33 Susanne Chishti & Janos Barberis, The Fintech Book: The Financial Technology Handbook For Investors, Entrepreneurs and Visionaries, … h. 12-13
34 Daily Socialid, Perusahaan Teknologi Bidang Hukum Inisiasi Pendirian Asosiasi Regtech dan Legaltech Indonesia. Diakses pada tanggal 2 September tahun 2019 dari https://dailysocial.id/post/asosiasi-regtech-dan-legaltech-indonesia
3. Personal Finance, fintech jenis ini ingin membuat keuangan pribadi lebih baik, lebih mudah diatur, lebih transparant, lebih berguna dan lebih terjangkau untuk pengguna.35 Hal ini dikarenakan kebutuhan mendesak untuk membuat perencanaan keuangan oleh masyarakat.
Platform ini dibuat untuk mendapatkan informasi yang dicari dengan cepat terkait berapa banyak uang yang telah dikeluarkan pada semua financial account dan langsung dikalkulasikan.36 Konsumen atau pengguna dapat langsung memasukkan transaksi pemasukan/ pengeluaran yang telah dilakukan berupa nominal dan keterangan penggunaan dan bukti transaksi berupa foto, serta konsumen dapat melihat laporan hasil rekapitulasi transaksi keuangan.37 Seperti platform Jojonomic, yang merupakan platform produktivitas bisnis untuk mempermudah mengelola perusahaan dengan gabungan aplikasi HR, Payroll, expense dan business travel management sebagai solusi dalam pengelolaan administrasi HR &
Finance yang akurat, real-time dan mudah digunakan kapanpun dimanapun.38
4. Payments adalah platform pembayaran yang diintegrasikan dengan teknologi dalam bentuk e-money. Payment yang merupakan solusi cashless payment yang mana uang dapat ditransfer melalui sebuah perangkat tanpa kontak seperti telepon seluler, smartphone atau wifi, yang dapat digunakan di restoran atau toko lainnya, yang hanya apabila toko tersebut telah menyediakannya.39 Seperti platform, Gopay, Ovo, Cashlez, Kartuku, Espay, Dana.
35 Oanh Truong, How Fintech Industry Is Changing The World, (Tesis S-2 Program Bisnis Management, Centria University) h. 31
36 Tim Maurer, Level: Can A Budgeting App Change The Way We Bank?. Diakses pada tanggal 4 September 2019 dari https://www.forbes.com/sites/timmaurer/2015/05/22/level-can-a-budgeting-app-change-the-way-we-bank/#7b5a56d27b93
37 OJK, Perlindungan Konsumen Pada Fintech, h. 45. Diakses pada tanggal 11 September
2019 dari
https://konsumen.ojk.go.id/MinisiteDPLK/images/upload/201807131451262.%20Fintech.pdf
38 Diakses tanggal 4 September 2019 dari https://jojonomic.com/
39 Wen Cao, Fintech Acceptance Research in Finland – Case Company Plastc. Thesis S-2, information and Secvice Economy Aalto University, 2016), h.9
5. Insurance, banyak perusahaan asuransi yang masih memegang model bisnis berdasarkan memupuk resiko, menghitung harga rata rata dan menghasilkan pendapatan premi bruto yang mana diancam eksistensinya oleh teknologi digital.40 Asuransi yang memanfaatkan teknologi digital merupakan alternative jaminan, claims, distribusi dan platform pialang yang memotong biaya dalam pelaksanaan dengan mengandalkan platfom sebagai fasilitas modern.
6. Capital Market, yaitu layanan sekuritas pasar modal atau saham yang berbasis internet yang memudahkan dalam melakukan trading saham atau kegiatan lainnya di pasar modal.41
7. Wealth Management, adalah investasi berkelanjutan dari seorang yang ahli yang mana meliputi perencanaan keuangan dan jasa keuangan yang berupa mengelola pendapatan ditambah mengelola gaya hidup.42 Seperti platform Ngaturduit.com, Bareksa.
8. Market Provisioning, yang mana fintech akan berperan sebagai pembanding produk keuangan yang akan mengumpulkan dan mengoleksi data finansial untuk dijadikan referensi oleh pengguna, ini juga dapat disebut sebagai comparison site atau financial aggregator.43 seperti Aturduit.com, Cermati, Cekaja.com, Privyid 9. Capital Raising atau biasa disebut crowd funding (penggalangan
dana), merupakan proses mengumpulkan sejumlah uang untuk suatu proyek atau usaha oleh sejumlah besar orang yang biasanya dilakukan melalui platform online. Terdapat beberapa crowdfunding, reward-based crowdfunding yang berbasis hadiah
40 Accenture, Fintech and The Evolving Landscape: Landing Points For The Industry.
Diakses pada tanggal 2 September 2019 dari https://s24708.pcdn.co/wp-content/uploads/2017/05/Fintech_Evolving_Landscape_2016.pdf
41 Muhammad Yusuf, Perlindungan Hukum Terhadap Debitur Pada Layanan Pinjaman Uang Berbasis Financial Technology. (Skripsi S-1 Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2019) h. 103
42 Peter Garlans Sina, Wealth Management Untuk Pensiun Yang Sejahtera, Jurnal Ekonomi: Economia, Vol. 11 Nomor 2, h. 189
43 Nurul Febriani, Faktor-Faktor Penentu Keberhasilan Perkembangan Financial Technology (Studi pada 3 Perusahaan Financial Technoloogy Di Indonesia). (Skripsi S-1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pasundan Bandung, 2018) h. 33
atau penghargaan, donation-based crowdfunding adalah bentuk crowdfunding tanpa imbalan, equity-based crowdfunding yaitu bentuk crowdfunding dimana penggalang dana akan memberikan imbalan berupa saham keapada crowd investor, revenue sharing crowdfunding yang merupakan bentuk crowdfunding dimana emiten mengajukan kewajiban untuk melunasi kreditur yang bervariasi dari pendapatan atau keuntungan perusahaan.44 seperti Akseleran, Kitabisa.com, WeCare.id
c. Pengertian Peer to Peer Lending
Peer to Peer Lending (P2PL) atau biasa disebut dengan layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi yang merupakan penyelenggaraan layanan jasa keuangan untuk mempertemukan pemberi pinjaman dengan penerima pinjaman dalam rangka melakukan perjanjian Pinjam meminjam dalam mata uang rupiah secara langsung melalui sistem elektronik dengan menggunakan jaringan internet. Peer to Peer Lending diatur di Indonesia dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 77 Tahun 2016 Tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi.
Pertemuan antara Pemberi Pinjaman dengan Penerima Pinjaman difasilitasi oleh penyelenggara layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi (penyelenggara P2PL) yang merupakan badan hukum Indonesia yang menyediakan, mengelola, dan mengoperasikan layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi yang termaktub dalam Pasal 1 Angka 6 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 77 Tahun 2016. Penyelenggara dapat disebut juga sebagai intermediator mengingat penyelenggara melakukan usaha dengan cara intermediasi. Dengan memfasilitasi pengguna untuk bertemu
44 Muhammad Afdi Nizar, Teknologi Keuangan (Fintech) : Konsep dan Implementasinya Di Indonesia. Diakses pada tanggal 3 September 2019 dari https://www.researchgate.net/publication/323629323_Teknologi_Keuangan_Fintech_Konsep_dan _Implementasinya_di_Indonesia
menyebabkan timbulnya hubungan hukum. Hubungan hukum memiliki definisihubungan yang terhadapnya hukum meletakkan hak pada satu pihak dan meletakan kewajiban pada pihak lainnya.45 Penyelenggara dalam hal ini memfasilitasi dikarenakan ketertarikan pengguna untuk memiliki akses terhadap kondisi finansial yang lebih baik dengan aman, transparan dan mudah.46 Pengguna P2PL dibagi menjadi dua, yakni47: 1. Pemberi pinjaman.
Pemberi pinjaman biasanya adalah individu yang mencari tingkat pengembalian yang lebih tinggi daripada yang dapat dikumpulkan dari akun berbunga lainnya.
2. Penerima pinjaman.
Penerima Pinjaman hanyalah warga negara indonesia (WNI), mengingat dilakukan dengan mata uang rupiah. Penerima pinjaman sering kali adalah individu yang mencari pinjaman untuk membiayai kembali hutangnya dengan rate yang wajar atau usaha kecil yang kesulitan mendapatkan pinjaman bernilai rendah dari lembaga
tradisional.
Gambar 1 : Model Peer to Peer Lending
45 Titik Triwulan Tutik, Pengantar Hukum Perdata di Indonesia, (Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2006), h. 221
46 Bernardo Nicoletti, The Future of Fintech, … h.39
47 Evan Bakker, Peer to Peer Lending: How Digital Lending Marketplaces Are Disrupting The Predominant Banking Model. Diakses pada tanggal 11 September 2019 dari https://www.businessinsider.com/peer-to-peer-lending-how-digital-lending-marketplaces-are-disrupting-the-predominant-banking-model-2015-5?IR=T
Fintech P2PL merupakan sebuah disrupsi inovasi dari bisnis pinjaman yang tidak efisien, seperti suku bunga yang tidak individual, biaya penjaminan pinjaman yang tinggi, pilihan pinjaman yang mengambil beberapa bulan dan bisnis kecil yang pada dasarnya tidak tersentuh oleh bank.48 Fintech P2PL lebih murah biaya operasinalnya daripada bank dan modal yang diminta juga lebih sedikit dan memfasilitasi orang perseorangan dan/atau small and medium-sized enterprises (SMEs) atau usaha kecil dan menengah (UMKM). Di negara-negara berkembang, perusahaan fintech P2PL membantu menjangkau populasi underbanked yang diharapkan dapat menjangkau populasi unbanked dalam jangka panjang.49
Bill Gates mengatakan:
“The World Needs Banking Secvices But Not Necessarily Bank”
“The World Needs Banking Secvices But Not Necessarily Bank”