BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
7. Tinjauan Umum Kepolisian
a. Sejarah Kepolisian Negara Republik Indonesia
Pengertian kata polisi berasal dari bahasa Yunani, yaitu “POLITEIA”, yang mulanya dipergunakan hanya untuk sekedar menyebut orang-orang yang menjadi warga Negara di Athena. Kemudian juga dipergunakan untuk menyebut semua usaha di kota dan kegiatan negara termasuk kegiatan agama.
Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, polisi adalah badan pemerintah yang bertugas memelihara keamanan dan ketertiban umum (menangkap orang yang melanggar undang-undang, dan sebagainya). (Departemen Pendidikan Nasional, 2001 : 693)
Kepolisian seperti yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Pasal 1 angka 1, adalah segala hal ikhwal yang berkaitan dengan fungsi lembaga polisi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Proses pertumbuhan Kepolisian Negara tidak melalui Badan Keamanan Rakyat / BKR sebagaimana Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara karena mereka mempumyai tugas khusus sebagai pemelihara keamanan. Oleh karena itu seteleh Kabinet I dilantik pada tanggal 2 September 1945, Kepolisian Negara secara resmi menjadi aparat pegawai Republik Indonesia dan pemerintah menunjuk S. Sukanto Tjokrodiatmodjo sebagai Kepala Kepolisian Negara.
Namun dalam perkembangannya sejak tahun 1960, khususnya dalam Kabinet Kerja II setelah Dekrit Presiden, Kepala Kepolisian Negara dimasukkan dalam bidang Hankam bersama-sama Kepala Staf Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara. Dengan berdasar Ketetapan MPRS No II/MPRS/1960 Kepolisian Negara ditingkatkan statusnya sebagai unsur Angkatan Bersenjata dan pada tanggal 19 Juni 1961 DPRGR mengesahkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1961 tentang Peraturan Pokok Kepolisian, yang menegaskan bahwa Kepolisian Negara adalah salah satu angkatan dalam Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.
Kemudian setelah 37 tahun POLRI menjadi bagian dalam ABRI, seiring dengan datangnya Era Reformasi pada tahun 1997, dalam rangka meningkatkan profesionalisme Kepolisian dan meningkatkan perannya selaku alat Penegak Hukum maka kedudukan Kepolisian Negara yang selama ini menjadi bagian integral ABRI perlu ditinjau kembali.
Melalui Instruksi Presiden Republik Indonesia No 2 Tahun 1999, tanggal 1 April 1999 tentang langkah-langkah kebijaksanaan dalam rangka pemisahan Kepolisian Negara Republik Indonesia dan ABRI serta 25
Keputusan Menhankam / Pangab No. Kep/ 05 / III / 1999 tanggal 31 Maret 1999, maka mulai 1 April 1999 POLRI secara organisatoris berpisah kembali dengan TNI (http://www.sejarahtni.mil.id. Artikel Sejarah Tentara Nasional Indonesia (9 November 2008 pukul 12.30))
Sedangkan yang dimaksud Visi, Misi, dan Tujuan Polri adalah sebagai berikut :
1) Visi Polri adalah alat negara penegak hukum
Pemeliharaan keamanan dalam negeri yang profesional, dekat dengan masyarakat, bertanggung jawab, dan mempunyai komitmen terhadap masyarakat.
2) Misi Polri adalah:
a) Menegakkan hukum secara adil, bersih, dan menghormati Hak Asasi Manusia.
b) Memelihara keamanan dalam negeri dengan memperhatikan norma-norma dan nilai yang berlaku di masyarakat.
c) Melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat
d) Mendorong meningkatnya kesadaran dan kepatuhan hukum masyarakat.
3) Tujuan Polri adalah terwujudnya keamanan dalam negeri yang mendorong gairah kerja masyarakat untuk mencapai kesejahteraan. b. Tugas dan wewenang Kepolisian Negara Republik Indonesia
1) Tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) Menurut Undang-Undang Nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, tugas pokok dari Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah:
a) Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat; b) Menegakkan hukum; dan
c) Memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan masyarakat (Pasal 13 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002).
Dalam melaksanakan tugas pokok sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13, Kepolisian Negara Republik Indonesia bertugas:
a) Melaksanakan pengaturan, penjagaan, pengawalan, dan patroli terhadap kegiatan masyarakat dan pemerintah sesuai kebutuhan; b) Menyelenggarakan segala kegiatan dalam menjamin keamanan,
ketertiban, dan kelancaran lalu lintas di jalan;
c) Membina masyarakat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, kesadaran hukum masyarakat serta ketaatan warga masyarakat terhadap hukum dan peraturan perundang-undangan;
d) Turut serta dalam pembinaan hukum nasional;
e) Melakukan koordinasi, pengawasan, dan pembinaan teknis terhadap kepolisian khusus, penyidik pegawai negeri sipil, dan bentuk-bentuk pengamanan swakarsa;
f) Melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap semua tindak pidana sesuai dengan hukum acara pidana dan peraturan perundang-undangan lainnya;
g) Menyelenggarakan identifikasi kepolisian, kedokteran kepolisian, laboratorium forensik, dan psikologi kepolisian untuk kepentingan tugas kepolisian;
h) Melindungi keselamatan jiwa raga, harta benda, masyarakat, dan lingkungan hidup dari gangguan ketertiban dan/atau bencana termasuk memberikan bantuan dan pertolongan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia;
i) Melayani kepentingan warga masyarakat untuk sementara sebelum ditangani oleh instansi dan/atau pihak yang berwenang;
j) Memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan kepentingannya dalam lingkup tugas kepolisian;
k) melaksanakan tugas lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan (Pasal 14 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002).
2) Wewenang Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI),
Wewenang Polri secara umum dalam rangka menyelenggarakan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 dan Pasal 14 Undang-undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah sebagai berikut:
a) Menerima laporan dan pengaduan;
b) Membantu menyelesaikan perselisihan warga masyarakat yang dapat mengganggu ketertiban umum;
c) Mencegah dan menanggulangi tumbuhnya penyakit masyarakat;
d) Mengawasi aliran kepercayaan yang dapat menimbulkan perpecahan atau mengancam persatuan dan kesatuan bangsa;
e) Mengeluarkan peraturan kepolisian dalam lingkup kewenangan administratif kepolisian;
f) Melaksanakan pemeriksaan khusus sebagai bagian dari tindakan kepolisian dalam rangka pencegahan;
g) Melakukan tindakan pertama di tempat kejadian;
h) Mengambil sidik jari dan identitas lainnya serta memotret seseorang;
i) Mencari keterangan dan barang bukti;
j) Menyelenggarakan Pusat Informasi Kriminal Nasional;
keterangan yang diperlukan dalam rangka pelayanan masyarakat; l) Memberikan bantuan pengamanan dalam sidang
dan pelaksanaan putusan pengadilan, kegiatan instansi lain, serta kegiatan masyarakat;
m) Menerima dan menyimpan barang temuan untuk sementara waktu (Pasal 15 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002).
Dalam rangka menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 dan Pasal 14 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 dibidang proses pidana, Kepolisian Negara Republik Indonesia berwenang untuk:
a) Melakukan penangkapan, penahanan, penggeledahan, dan penyitaan;
b) Melarang setiap orang meninggalkan atau memasuki tempat kejadian perkara untuk kepentingan penyidikan; c) Membawa dan menghadapkan orang kepada
penyidik dalam rangka penyidikan;
d) Menyuruh berhenti orang yang dicurigai dan menanyakan serta memeriksa tanda pengenal diri;
e) Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat; f) Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa
sebagai seorang tersangka atau sanksi;
g) Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara;
h) Mengadakan penghentian penyidikan;
i) Menyerahkan berkas perkara kepada penuntut umum;
j) Mengajukan permintaan secara langsung kepada pejabat imigrasi yang berwenang di tempat pemeriksaan imigrasi dalam keadaan mendesak atau mendadak untuk mencegah atau 29
menangkal orang yang disangka melakukan tindak pidana;
k) Memberi petunjuk dan bantuan penyidikan kepada penyidik pegawai negeri sipil serta menerima hasil penyidikan penyidik pegawai negeri sipil untuk diserahkan kepada penuntut umum, dan;
l) Mengadakan tindakan lain menurut hukum yamg bertanggung jawab (Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002).