KONSEP LAYANAN EQUITY CROWDFUNDING
A. Kerangka Konseptual 1. Equity Crowdfunding
Equity Crowdfunding (ECF) merupakan bagian dari Crowdfunding. Crowdfunding adalah salah satu alternatif pendanaan dimana sekelompok orang berkontribusi untuk mendanai suatu proyek, hutang, atau donasi. Crowdfunding diyakini mampu mendanai berbagai aktivitas yang sulit dilakukan oleh akses
2. Perusahaan startup
Perusahaan Start-up adalah perusahaan yang belum lama beroperasi atau baru didirikan dan berada dalam fase pengembangan dan penelitian untuk menemukan pasar yang tepat. Diperusahaan inilah para investor Equity Crowdfunding menanamka sahamnya
3. Perlindungan Hukum
Perlindungan hukum adalah suatu perlindungan yang diberikan kepada subyek hukum ke dalam bentuk perangkat baik yang bersifat preventif maupun yang bersifat represif, baik yang lisan maupun yang tertulis. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa perlindungan hukum sebagai suatu gambaran tersendiri dari fungsi hukum itu sendiri, yangmemiliki konsep bahwa hukum memberikan suatu keadilan, ketertiban, kepastian, kemanfaatan dan kedamaian
4. Investor
Pemodal atau Investor adalah Pihak yang melakukan pembelian saham penerbit melalui Penyelenggara ECF.
B. Kerangka Teori 1. Kerangka Teori
a. Teori Kepastian Hukum
Kepastian hukum adalah keadaan dimana suatu peraturan dibuat dan diundangkan secara pasti karena mengatur secara jelas dan logis. Jelas dalam artian tidak terdapat kekaburan norma atau keraguan (multi tafsir) dan logis dalam artian menjadi suatu sistem norma dengan norma lain sehingga tidak berbenturan atau menimbulkan konflik norma. Kepastian hukum menunjuk kepada pemberlakuan hukum yang jelas, tetap, konsisten dan konsekuen, yang pelaksanaannya tidak dapat dipengaruhi oleh keadaan-keadaan yang sifatnya subjektif. Kepastian hukum juga merupakan tujuan dari setiap undang-undang. Kepastian hukum akan tercapai apabila kata dan kalimat undang-undang tersusun sedemikian jelasnya sehingga tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda. Kepastian hukum memiliki kaitan erat dengan penegakan hukum. Penegakan hukum itu sendiri merupakan suatu proses untuk mewujudkan keinginan-keinginan hukum menjadi kenyataan.1
Menurut teori di atas suatu peraturan yang telah diundangkan haruslah jelas sehingga tidak terjadi kekaburan makna, pun ECF merupakan suatu layanan sistem keuangan yang baru saja diatur dalam peraturan OJK dan belum diundangkan dalam bentuk Undang-undang pun dirasa peraturan yang dikeluarkan tidak mendetail seperti tidak dijelaskan secara gamblang perbedaan antara IPO dengan ECF ini bisa terjadi penafsiran yang berbeda-beda pada setiap orang yang membacanya terlebih masyarakat awam. Maka dari itu peneliti melakukan studi komparasi dengan negara Amerika Serikat agar mengetahui pengaturan ECF, sebab sebagaimana Amerika Serikat menjadi salah satu negara yang mempunyai regulasi mengenai ECF ditahun 2012 dan melakukan amandemen dengan menambahkan regulasi
16
terbaru mengenai Equity Crowdfunding yang bernama JOBS Act title III dan berharap dapat menjadi referensi bagai para pembuat peraturan perundang-undangan untuk dapat menciptakan kepastian hukum bagi rakyat Indonesia.
b. Teori Perlindungan Hukum
Teori perlindungan hukum yang dikemukakan oleh Philipus M Hadjon, menyebutkan bahwa perlindungan hukum terbagi atas:2
1. Perlindungan hukum represif, yaitu perlindungan hukum yang dilakukan dengan cara menerapkan sanksi terhadap pelaku agar dapat memulihkan hukum kepada keadaan sebenarnya. Perlindungan jenis ini biasanya dilakukan di Pengadilan.
2. Perlindungan hukum preventif, yaitu perlindungan hukum yang bertujuan untuk mencegah terjadinya suatu sengketa. Perlindungan hukum jenis ini misalnya sebelum pemerintah menetapkan suatu aturan atau keputusan
3. Di dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 37 Thaun 2018 ( POJK 37/2018) Tentang Layanan Urun Dana terdapat beberapa pasal yang dapat dipergunakan untuk melindungi para pengguna ECF yakni terdapat pada bab sembilan yang menjelaskan mengenai sanksi yang akan di dapatkan jika melanggar POJK 37/2018 tersebut. Itu merupakan perlindungan secara represif, namun perlindungan secara preventif pun harus dilakukan agar meningkatkan kepercayaan bagi penggungan layanan ECF merasa aman. Hal ini menurut peneliti kurang dijelaskan seperti mekanisme penyaringan perusahaan yang akan bergabung menjadi penerbit di layanan ECF. Jika penyaringan perusahaan yang nantinya akan menjadi penerbit tidak diatur dengan
ketat maka akibatnya akan dengan mudah terjadi fraud atau perusahaan bodong yang nantinya akan merugikan investor. Maka dari itu perlindungan hukum secara preventif harus dioptimalkan dengan baik dengan cara melihat mekanisme yang dilakukan oleh pengaturan ECF dalam melakukan penyaringan perusahaan penerbit agar fraud dapat dihindarkan.
c. Teori Penegakan Hukum
Menurut teori Lawrence M Friedman, dalam rangka efektifitas penegakan hukum maka akan dibutuhkan tiga unsur pokok, yang salah satunya substansi. Subtansi dari hukum itu adalah berbicara tentang isi dari pada ketentuan-ketentuan tertulis dari hukum itu sendiri, unsur itu termasuk didalamnya mengenai peraturan yang kesemuanya mengatur tentang tingkah laku manusia dan menyangkut esensi dasar peraturan yang dibentuk tersebut. Bagaimana peraturan tersebut nantinya dapat disfungsikan untuk masyarakat luas, serta dampaknya apabila diaplikasikan dalam masyarakat.3
Sistem hukum di Indonesia adalah civil law yang mana berpijak pada undang-undang atau peraturan dimana peraturan adalah hal utama yang harus dibuat jika ingin mengakomodir kebutuhan masyarakat yang menginginkan kepastian hukum. Peraturan OJK mengenai ECF dinilai masih kurang pro terhadap investor dimana langkah preventif dalam melindungi investor seperti kurang menjelaskan kriteria perusahaan yang layak menjadi penerbit di Layanan Equity Crowdfunding.
d. Teori Keadilan
Menurut John Rawls keadilan adalah kebajikan utama dari hadirnya institusi-institusi sosial (social institutions). Akan tetapi, menurutnya, kebaikan bagi seluruh masyarakat tidak dapat mengesampingkan atau
18
menggangu rasa keadilan dari setiap orang yang telah memperoleh rasa keadilan, khususnya masyarakat lemah.4 Dalam konsepsi Rawls, keadilan sosial tersebut dapat ditegakkan melalui koreksi terhadap pencapaian keadilan dengan cara memperbaiki struktur dasar dari institusi-institusi sosial yang utama, seperti misalnya pengadilan, pasar, dan konstitusi negara. Perkembangan teknologi yang cukup massif membuat hukum harus beradaptasi, termasuk dengan munculnya Layanan ECF ini, memudahkan para UMKM untuk mendapatkan modal, namun disisi lain harus memikirkan perlindungan investor agar membentuk rasa aman dalam melakukan investasi sehingga terciptanya suatu sistem hukum berkeadilan. e. Teori Kemanfaatan Hukum
Terkait kemanfaatan hukum ini menurut Jeremy Bentham dengan teori utilistis, ingin menjamin kebahagian yang terkesan bagi manusia dalam jumlah yang sebanyak- banyaknya. Pada hakekatnya menurut teori ini adalah manfaat dalam menghasilkan kesenangan atau kebahagian yang terbesar bagi jumlah orang yang banyak. 5
Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Indonesia Digital Creative Industry Society pada tahun 2018, jumlah perusahaan rintisan teknologi di Indonesia mencapai 992 perusahaan, angka yang cukup tinggi untuk sebuah negara yang masih berkembang. Sudah dipastikan setiap perusahaan startup membutuhkan dana segar untuk mengembangkan bisnisnya, maka dari itu ECF hadir menjadi platform bagi perusahaan start up untuk melakukan fundraising dengan cara menjadi penerbit di layanan ECF dan melakukan penawaran saham agar saham tersebut d ibeli oleh investor. Untuk mewujudkan itu semua tentunya dibutuhkan hukum yang dapat mengatur memberikan kepastian hukum bagi semua pihak yang mana bertujuan untuk
4 Pan Mohamad Faiz, Teori Keadilan Jhon Rawls, ( Jurnal Konstitusi), VoL6, No. 1, April 2009, h. 139
membahagiakan semua pihak sehingga semuanya merasa diuntungkan. Terutama perlindungan investor yang harus di kuatkan sebab jika investor tidak percaya maka perusahaan kesulitan mendapatkan modal yang dibutuhkan untuk mengembangkan perusahaannya.
C. Tinjauan (Review) Kajian Terdahulu
1. Rugun Maylinda Simanjuntak dari Fakultas Hukum Universitas Sumatra Utara Medan 2019 dalam Jurnal Skripsinya yang berjudul "Perlindungan Hukum Terhadap Pengguna Layanan Urun Dana Melalui Penawaran Saham Berbasis Teknologi Informasi (Equity Crowdfunding) Berdasarkan POJK Nomor 37/POJK No.4/2018”.6
Penelitian ini mempunyai kesamaan dengan penelitian peneliti yakni sama-sama membahas mengenai perlindungan hukum terhadap pengguna layanan equity crowdfunding. Namun, penelitian ini berfokus pada pengguna yang mana bisa penerbit atau perusahaan dan juga bisa investor, untuk investor penelitian ini fokus kepada data pribadi sedangkan penelitian berfokus kepada perlindungan investor terhadap modal yang di investasikan agar investor tidak mudah tertipu dan tidak kehilangan modal yang di investasikan dikarenkan perlindungan yang lemah. Serta penelitian ini juga melakukan komparasi dengan negara adidaya yakni Amerika Serikat yang mana akan memberikan pengetahuan baru bagi para pembuat hukum untuk selalu bisa memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap hukum terutama di penelitian ini adalah investor.
6 Rugun Maylinda Simanjutak, Perlindungan Hukum Terhadap Pengguna Layanan Urun Dana
Melalui Penawaran Saham Berbasis Teknologi Informasi (Equity Crowdfunding) Berdasarkan POJK Nomor 37/POJK No.4/2018,( Skripsi S-1 Hukum Ekonomi Fakultas Hukum Unversitas Sumatera Utara,
20
2. Lynda Y. de la Vina dan Stephanie Lee Black tahun 2017 dalam jurnal yang berjudul “US Equity Crowfunding : A Review of Current Legislation and A
Conception Model of the Implication fo Equity Funding”7.
Penelitian ini membahas mengenai peraturan Equity Crowfunding di Amerika Serikat dimana Securities and Exchange Comission (SEC) mengeluarkan pedoman peraturan JOBS ACT Title II tahun 2012 dan melegalkan Equity Crowfunding di 18 negara bagian di Amerika Serikat, kemudian mengeluarkan Title III pada tahun 2015 yang mana investor yang tidak terakreditasi diperbolehkan melakukan investasi di perusahaan start up, yhal ini menginspirasi peneliti untuk meneliti pengaturan Equity Crowdfunding di Amerika Serikat dengan mengkomparasikannya dengan pengaturan negara Indonesia. Sebagaimana diketahui bahwa Otoritas Jasa Keuangan mengeluarkan peraturan POJK Nomor 37/POJK No.4/2018 Tentang Layanan Urun Dana pada awal bulan januari 2019. Berarti Indonesia bisa dikatakan sebagai pemain baru dalam hal Layanan Urun Dana atau Layanan Equity Crowdfunding. Maka dari itu peneliti ingin melakukan komparasi terutama dalam hal perlindungan investor diantara kedua negara agar kedepannya dapat dijadikan rujukan dan edukasi bagi pembaca yang tertarik menjadi investor di layanan Equity Crowdfunding. 3. I Kadek Ade Safera dan Ida Bagus Putra Atmadja dari Hukum Bisnis
Fakultas Hukum Universitas Udayana. Artikel yang berjudul “Perlindungan Hukum Terhadap Pemodal dalam Kegiatan Equity Crowdfunding”.8
Penelitian ini bertujuan untuk membuat peraturan ECF yang mengatur mengenai hal-hal yang minimal harus dimuat dalam isi perjanjian penyelenggaraan layanan Urun Dana antara Penyelenggara dengan
7 Stephani Lee Black, US Equity Crowdfunding : A Review of Current Legislation and A Conceptual Model of the Implications fot Equity Funding, …. h. 84.
8 I Kadek Ade Safera, “Perlindungan Hukum Terhadap Pemodal dalam Kegiatan Equity
pemodal dan peraturan ECF yang mengatur mengenai pemberian informasi terkini secara langsung melalui kontak telepon atau email terhadap pemodal yang telah terdaftar. Isu hukum dalam penelitian ini yaitu kekosongan hukum dalam pasal 45 ayat (3) dan pasal 54 ayat ( 2) Peraturan OJK No. 37/POJK.04/2018 tentang Layanan Urun Dana melalui Penawaran Saham Berbasis Teknologi Informasi. Fokus penelitian ini lebih kepada perlindungan hukum terhadap si pemodal dan dimana harusnya peraturan mengenai ECF harus memuat hal-hal yang minimal dari isi perjanjian. Sedangkan penelitian yang saya jadikan skripsi lebih berfokus pada perlindungan hukum terhadap investor agar investor tidak selalu menjadi pihak yang lemah dikarenakan penerbit saham adalah mayoritas perusahaan start-up yang kapanpun bisa mengalami kegagalan maka dari itu saya lebih berfokus kepada perlindungan investor terhadap fraud (penipuan)
22