• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORETIS

C. Tinjauan Umum Tentang Cek Dan Bilyet Giro

Cek adalah metode yang digunakan untuk menarik atau mengambil dana

dari rekening giro. Fungsi lain dari cek adalah sebagai alat pembayaran.59

Pengertian cek adalah perintah tanpa syarat yang dikeluarkan oleh nasabah kepada bank pemegang rekening giro nasabah untuk membayar sejumlah uang kepada pihak atau pemegang cek yang disebut. Artinya bank harus membayar siapapun yang membawa cek ke bank yang memelihara rekening nasabah diuangkan secara tunai atau pembukuan sesuai dengan persyaratan yang

dipersyaratkan.60

Yang dimaksud dengan cek adalah permintaan untuk membayar sebagaimana diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD). Sementara itu di situs Bank Indonesia diperjelas bahwa cek adalah permintaan yang tegas untuk membayar sejumlah dana yang tercatat dalam cek. Penarikan

58

Muhammad Syafi’i Antonio,op.cit h. 155-156

59

Kasmir, Dasar-dasar Perbankan edisi revisi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. , 2014), h. 78

60

cek dapat dilakukan baik “atas nama “ maupun “atas unjuk” dan merupakan surat

berharga yang dapat diperdagangkan(negotioable paper).61

2. Jenis- jenis Cek dan Aturan Penggunaanya

Cek yang dikenal di Indonesia terbagi dalam lima jenis, yaitu : 1) Cek Atas Nama

Cek atas Nama adalah cek yang dibuat untuk perorangan atau badan hukum tertentu, sebagaimana ditunjukkan dengan jelas pada cek. Misalnya, jika perintah cek adalah "Bayar Rp 5.000.000 kepada Saudara Rafi" atau "Bayar Rp 25.000.000 kepada PT Makmur Jaya", cek itu disebut cek atas nama. Namun, ada peringatan, kata "atau pembawa" setelah nama yang disebutkan harus dicoret.

2) Cek Atas Unjuk

Cek atas unjuk merupakan kebalikan dari cek atas nama. Didalam cek atas unjuk, tidak terdapat nama penerima atau badan hukum yang ditunjuk sehingga siapa saja yang membawa cek tersebut dapat menggunakannya. Misalnya, didalam cek tersebut hanya tertulis “bayarlah cash atau tunai” atau tidak ada teks tertulis di cek.

3) Cek Silang

Cek silang merupakan cek yang di bagian pojok kiri atas diberi dua tanda silang. Cek silang atau Cross Cheque ini sengaja diberi tanda silang agar fungsinya berubah dari tunai menjadi nontunai atau pemindahbukuan.

4) Cek Mundur

61

Surat Edaran Bank Indonesia No.2/10/Dasp Tahun 2000 tentang tata usaha penarikan cek/bilyet giro kosong (SEBI/2/10/2000)

Cek Mundur merupakan cek yang diberi tanggal mundur dari tanggal sekarang. Misalnya, hari ini tanggal 7 september 2016, namun didalam cek tersebut tertulis tanggal 12 September 2016. Jenis yang seperti inilah yang disebut sebagai cek mundur. Hal ini terjadi karrena ada kesepakatan antara pemberi dan penerima cek. Yang salah satu sebabnya mungkin belum ada dana pada saat itu.

5) Cek Kosong

Cek Kosong atau Black Cheque merupakan cek yang dananya tidak tersedia didalam rekening giro. Misalnya, Tuan Joko ingin mencairkan cek sejumlah Rp 70 juta. Namun, jumlah uang di dalam rekening gironya hanya Rp 50 juta, ini beraarti ada kekurangan dana sebesar Rp 20 juta apabila ingin menariknya. Sangat jelas bahwaa dana dalam cek jumlahnya kurang dibandingkan dengan jumlah dana yang ada.

Agar cek bisa digunakan untuk transaksi maka cek harus memenuhi persyaratan sesuai dengan Undang-undang Hukum dagang pasal 178. Dilansir dari Bank Indonesia, berikut syarat formal cek :

a. Nama “Cek” harus termuat dalam teks

b. Perintah tidak bersyarat untuk membayar sejumlah uang tertentu c. Nama pihakyang harus membayar (tertarik)

d. Penunjukan tempat dimana pembayaran harus dilakukan e. Pernyataan tanggal beserta tempat cek ditarik

f. Tanda tangan orang yang mengeluarkan cek (penarik).62

3. Pengertian Bilyet Giro

62

Cermati.com, https://www.cermati.com/artikel/cek-dan-bilyet-giro-inilah-persamaan-dan-perbedaannya ,Diakses pada tanggal 31 Oktober 2020

Semula pengaturan bilyet giro diatur dalam SE BI Nomor 4/670/UPPB/PbB tanggal 24 Januari 1972, yang kemudian dicabut dan disempurnakan dengan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 28/32/KEP/DIR dan Surat Edaran Nomor 28/32/UPG masing-masing tanggal 4 Juli 1995 tentang Bilyet Giro.63Bilyet giro juga merupakan salah satu alat penarikan rekening giro yang sering digunakan.

Bilyet giro (BG) atau lebih dikenal dengan giro adalah surat perintah yang diterbitkan oleh nasabah kepada bank yang memelihara rekening giro nasabah untuk mentransfer sejumlah uang dari rekening yang bersangkutan kepada penerima yang nama atau nomor rekeningnya sama bank atau bank lain. . Seperti halnya cek, bilyet giro juga dapat ditarik dari bank selain penerbit giro. Proses penarikan juga melalui kliring dalam kota yang sama dan pengambilan di luar kota. Entri akuntansi dari akun yang relevan pemindahbukuan pada rekening yang bersangkutan berarti ditransfer dari akun nasabah penyedia BG ke nasabah yang menerima BG. Sebaliknya jika ditransfer ke rekening bank lain harus melalui proses kliring atau penagihan.64

Sarana atau alat pembayaran lainnya yang juga digunakan untuk menarik uang, dari rekening giro dalah surat perintah kepada bank yang dibuat secara tertulis pada kertas yang ditanda tangani oleh pemegang rekening atau kuasanya untuk membayar sejumlah uang tertentu kepada pihak lain pada bank yang sama atau bank lain. Surat perintah lainnya juga dapat berupa surat kuasa, dimana pemilik rekening memberikan wewenang kepada seseorang untuk menarik uang

63

Muhammad Djumhana, Hukum Perbankan Di Indonesia”, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 1996), h. 459

64

dari rekeningnya. Surat kuasa ini harus memenuhi beberapa persyaratan, seperti tanda tangan kedua belah pihak, surat kuasa dan penerima kuasa, tanda pengenal dan materai. Surat kuasa ini diberikan karena pemberi kuasa tidak dapat

melakukannya karena suatu alasan.65

Menggunakan BG dapat melakukan transaksi hingga Rp. 500 juta. Selain itu keamanan transaksinya juga lebih terjamin dibanding dengan cek. Hal ini karena BG harus dibawa langsung oleh penerima kuasa. Jika seandainya terjadi suatu kesalahan, salah satu instrumen pembayaran non tunai tersebut dapat langsung terblokir. Efeknya transaksi akan otomatis batal berjalan.

4. Sifat Bilyet Giro

a) Bilyet giro tidak bisa dibayar dengan bentuk tunai dan hanya dapat dilakukan melalui pemindah bukuan.

b) Pembayaran bisa dilakukan pada jatuh tempo.

c) Masa berlaku warkatnya ialah 70 (tujuh puluh) hari dari tanggal pembukaan. Bila tidak tercantum tanggal pembukaan, maka tanggal efektif dapat dijadikan sebagai dasar perhitungannya.

d) Bilyet Giro dapat dibatalkan langsung oleh penarik secara sepihak dengan catatan saldo mencukupi. Pada saat jatuh tempo, tidak dapat lagi dibatalkan apabila saldo tidak cukup untuk menutupi nilai yang

tercantum. Pembatalan harus disertai alasan pembatalan yang jelas.66

65

Ibid , h. 80-82

66

Habsyah Lubis, “Analisis Yuridis Terhadap Tindak Pidana Penipuan Bilyet Giro Pasal 378 KUHPidana Juncto Peraturan Bank Indonesia (Bi) Nomor 18/41/Pbi/2016 Tentang Bilyet Giro”, Volume I No. 2, Edisi 2020, h.57-58

5. Persyaratan Transaksi Bilyet Giro

Dalam memenuhi kriteria sebuah transaksi bilyet giro dikatakan sah, harus memenuhi syarat siapa saja pihak yang terlibat dalam transaksi tersebut. Setidaknya ada 3 pihak yang terlibat di dalamnya. Berikut siapa saja pihak yang terlibat dalam transaksi bilyet

a. Penerbit, pihak yang menerbitkan atau mengeluarkan bilyet. Pihak penerbit disyaratkan untuk harus memiliki rekening giro pada suatu bank. b. Bank tertarik atau bisa dikatakan bank yang menerima perintah

pembayaran atau pemindahbukuan BG. Dari sejumlah dana yang dimiliki oleh pemilik rekening. Baik menggunakan cek maupun BG itu sendiri c. Pemegang, yaitu barang siapa yang diberikan wewenang untuk memegang

instrumen pembayaran non tunai tersebut.

Syarat bilyet giro sesuai dengan aturan BI agar bisa digunakan yakni 67

:

1) Nama bilyet giro dan nomor bilyet giro yang bersangkutan a) Nama Tertarik

b) Perintah yang jelas dan tanpa syarat untuk memindahbukukan dana atas beban rekening penarik.

c) Nama dan nomor rekening pemegang d) Nama bank penerima

e) Jumlah dana yang dipindahkan, baik dalam angka maupun dalam huruf selengkap-lengkapnya.

f) Tempat dan tanggal penarikan

67

g) Nama jelas h) Tanda tangan

Dengan terbitnya Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 18/41/PBI/2016 tentang bilyet giro, berbagai alasan ditolaknya bilyet giro yaitu : 68

a. Tidak memenuhi syarat formal

b. Pencantuman tanggal efektif tidak dalam tenggang waktu pengunjukan c. Terdapat koreksi yang tidak sesuai dengan ketentuan

d. Diunjukkan tidak dalam tenggang waktu efektif e. Syarat formal diisi orang lain atau bukan penarik f. Bilyet giro diblokir pembayarannya

g. Tanda tangan tidak sesuai dengan spesimen h. Bilyet giro diduga palsi atau dimanipulasi i. Rekening giro penarik telah ditutup j. Dana yang tersedia tidak cukup 6. Persamaan Cek dan Bilyet Giro

Cek dan bilyet giro merupakan alat pembayaran paling tua yang digunakan oleh masyarakat Indonesia. Cek telah diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD), sementara bilyet giro pertama kali diatur tahun 1972 dalam Surat Edaran Bank Indonesia. Penggunaan cek dan bilyet giro untuk pembayaran umumnya dilakukan oleh pelaku usaha dalam mendukung kelancaran transaksi bisnisnya. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan nasabah individu menggunakan cek dan bilyet giro dalam melakukan pembayaran.

68

Bentuk fisik kedua jenis alat pembayaran ini mirip, dan keduanya memiliki persamaan sebagai berikut :

a. Cek dan bilyet giro sama-sama alat pembayaran giral

b. Cek dan giro memiliki waktu kadaluwarrsa yang sama, yaitu 70 hari

c. Keduanya baik cek maupun bilyet, dapat dijadikan perhitungan pada lembaga kliring

d. keduanya merupakan perintah kepada bank untuk melaksanakan mutasi pembayaran pada rekening nasabah.

Sebagai suatu alat pembayaran, cek dan bilyet giro memiliki beberapa

perbedaan yang akan diterangkan dibawah ini :69

1. Bilyet giro dasar hukumnya adalah Surat Edaran Bank Indonesia (SEBI) No. 28/32/Kep/Dir/1995 tentang bilyet giro, sedangkan dasar hukum pemberlakuan syarat cek adalah Kitab Undang-undang Hukum Dagang dalam pasal 178 sampai dengan pasal 229. Dengan demikian, bilyet giro diatur oleh pertauran perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia dan sama sekali tidak diatur dalam ketentuan-ketentuan yang berada didalam kitab undang-undang hukum dagang. Akan tetapi, beberapa ketentuan bilyet giro sebagaimana tercantum dalam surat edaran bank Indonesia tersebut diatas mengambil persaman dengan ketentuan cek. Misalnya mengenai masa penukaran, kadaluarsa, penarikan kembali dan lain-lain.

69

Situmorang, Kedudukan Bank Mandiri Terhadap Penerbitan Cek Dan Bilyet Giro

2. Bilyet giro merupakan surat perintah pemindahbukuan yang dapat dibatalkan sewaktu-waktu oleh penariknya sepanjang amanat dalam bilyet giro tersebut belum dilaksanakan dimana kadaluarsanya adalah 6 (enam) bulan terhitung mulai akhir tenggang waktu pengunjukan/penawarannya. Sedangkan surat cek merupakan surat perintah membayar yang dapat dibatalkan oleh penariknya setelah berlaku 70 (tujuh puluh) hari dari sejak tanggal peenarikannya.

3. Karena bilyet giro bukan alat pembayaran tunai, bilyet giro merupakan alat pembayaran giral. Sehingga bilyet giro tidak dapat dipindah tangankan melalui endosemen, sebaliknya cek bukan merupakan alat pembayaran tunai, sehingga surat cek setiap saat dapat diunjukkan untuk di pindahbukukan atau boleh dipindahtangankan melalui endosemen.

4. Pada bilyet giro terdapat 2 (dua) jenis tanggal, yaitu taanggal penerbitan dan tanggal efektif. Pelaksanaan perintah pemindahbukuan oleh tertarik (bank) baru bisa dilakukan pada atau setelah tanggal efektif yang dicantumkan di dalam bilyet giro tersebut dapat ditawarkan kepada tertarik (bank), berlainan dengan surat cek yang hanya mengenal satu jenis tanggal yaitu tanggal penerbitan. Pelaksanan perintah membayar oleh tertarik (bank) dilakukan pada dan setelah tanggal penerbitan selama 70 (tujuh puluh) hari.

5. Bilyet giro merupakan jenis surat berharga atas nama sedangkan surat cek dapat diterbitkan sebagai surat berharga atas nama, dan pengganti.

6. Bilyet giro dapat berlaku mundur, sedangkan surat cek tidak dapat berlaku mundur.

42

Dokumen terkait